Eunhee’s Diary –EunHae ‘dating’ Moment- [Third]

-3rd-

A Little Jealousy

 

-Tra Palace Apartment-

Donghae menyeruak di antara Donghwa dan Eunhee lalu dengan seenaknya merangkulkan lengannya di bahu wanita itu. Sama sekali tak peduli pada keterkejutan Donghwa. Ia bahkan tak menyapa sang kakak dan langsung menggiring Eunhee ke pintu keluar.

“Ayo! Bukankah kau takut kemalaman sampai di Mokpo!” tukasnya santai.

“Aigoo… Hae, setidaknya. Kau sapa dulu kakakmu,” gerutu Eunhee sembari memaksa Donghae menghentikan langkahnya.

Donghwa terkekeh pelan melihat tingkah sang adik lalu memilih untuk berjalan di samping mereka. “Sudahlah! Donghae benar. Eomma akan khawatir kalau kita tak segera sampai di Mokpo,” gumamnya bijak.

“Nah, lihat! Hyeong saja tak ambil pusing, kenapa justru kau yang marah?” sambung Donghae puas lalu kembali merangkulkan lengannya di pinggang Eunhee.

 

Setibanya di tempat parkir, Donghae langsung menghambur ke Audi A5 putihnya dan membuka bagasi sedan itu. Dengan cepat lelaki tampan itu memasukkan beberapa barang yang dibawanya. “Hyeong, kau yang menyetir!” katanya lalu melempar kunci mobil pada sang kakak.

“Tentu saja. Aku masih belum bosan hidup,” gurau Donghwa sembari membuka pintu pengemudi.

“Yak!” Donghae merengut dan mengundang kekehan geli Donghwa. “Aku sudah bisa menyetir,” protesnya kesal. “Tanyakan saja pada Eunhee kalau tidak percaya. Bahkan dia terus memujiku saat itu. Katanya, gaya menyetirku sangat halus dan tidak ugal-ugalan. Apalagi saat kami pergi berkencan ke—“

“Mau sampai kapan kau akan terus membual Lee Donghae?” potong Eunhee masam. “Ayo cepat masuk! Ini sudah jam 5 sore.”

Donghwa kembali terkikik geli lalu memutuskan untuk masuk ke dalam mobil sebelum menerima akibat kemarahan sang adik. Sementara Donghae yang masih kesal, membuka pintu belakang mobilnya dengan mulut mengerucut marah.

“Hae, kenapa tidak di depan saja?” Eunhee memprotes saat melihat sang suami justru duduk bersamanya di jok belakang sedangkan ia tahu jok depan—samping pengemudi—belum terisi.

“Kau tidak suka duduk bersama suamimu?” gerutu Donghae sengaja menekankan pada kata terakhirnya. “Ayo Hyeong, berangkat saja!” tambahnya pada sang kakak, seolah-olah Donghwa adalah supir pribadi mereka.Eunhee mendesis melihat kelakuan Donghae yang menurutnya terlalu kekanak-kanakan. Tapi wanita itu memilih tak memperpanjang masalah ini.

Yang membuat Eunhee terkejut, tiba-tiba Donghae mendekat dan merangkulkan lengannya di bahu Eunhee. “Bagaimana mawar yang kuberikan tadi? Kau sudah menyimpannya dengan baik?” tanyanya dengan sengaja memperbesar volume suaranya agar didengar Donghwa.

Eunhee mendengus, “Sudah kubilang aku tak suka bunga!”

“Ah, jangan bohong Yeobo. Kau menyukai bunga itu, kan? Apalagi acara kecan kita kemarin.”

“Hey, Lee Donghae! Berhenti bersikap aneh! Sekarang menyingkirlah! Aku ingin istirahat,” perintah Eunhee membuat Donghae merengut kesal.

“Jangan cemberut! Kau sama sekali tidak tampan kalau begitu,” komentar Eunhee datar.

Donghae menyeringai saat itu juga, “Kalau kau memang tak ingin aku cemberut. Sekarang…” Tanpa mendengar kelanjutan kalimat Donghae, Eunhee mengerti dengan maksud sang suami ketika melihat tangan pria itu menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri. Dengan cepat wanita itu mengecup bibir Donghae singkat. Hanya sekilas, namun membuat wajah member Super Junior yang terkenal cengeng itu berbinar-binar senang. “Lihatlah Hyeong, dia memang yang terbaik!” pamernya senang. “Tapi akan lebih baik lagi kalau—”

“Hentikan Hae! Kubilang aku lelah…” potong Eunhee cepat ketika Donghae sudah mendekatkan wajahnya pada wajah Eunhee lalu mengalihkan pandangannya ke kaca jendela. Diam-diam Donghae melirik puas ke jok depan, di mana Donghwa sedang berkonsentrasi mengemudi. Seolah-olah, ia baru saja memenangkan persaingan tak kentara di antara mereka.

Setelah sekian lama berlalu dalam keheningan, Eunhee teringat akan sesuatu. “Oppa,” katanya tiba-tiba, membuat kedua kakak beradik itu menyahut bersamaan. “Tsk, aku tidak memanggilmu Hae. Lagipula, sejak kapan aku memanggilmu Oppa?” protes Eunhee yang mengundang dengusan keras Donghae.

“Ada apa?” tanya Donghwa tenang dari kursi pengemudi, walau jelas-jelas lelaki itu sedang menahan seringai puasnya.

“Bukankah kau baru pulang dari New York, mana oleh-oleh yang kau janjikan untukku?” Melalui ekor matanya, Eunhee dapat melihat ekspresi terkejut Donghae.

“Ah, benar. Oleh-oleh untukmu dan Donghae ada di ranselku. Ambil saja,” katanya sembari menunjuk ransel besar yang diletakkan di samping kursi pengemudi.

Tersenyum lebar, Eunhee meraih ransel itu dan membukanya. Sekali lagi Eunhee dapat melihat ekspresi kesal di wajah Donghae. Tapi dengan sengaja, ia tak mempedulikannya. “Omo!” Eunhee menjerit histeris ketika mengeluarkan Oakley berframe putih dan lensa kecoklatan dari ransel itu. “Kau benar-benar membelikannya untukku Oppa.”

“Yeah, kebetulan saat itu aku sedang jalan-jalan di pusat kota dan menemukan Oakley putih itu. Aku ingat kau selalu menyukai warna putih. Makanya aku langsung teringat padamu,” cerita Donghwa tenang.

“Ah, gomawoyo Oppa.” gumam Eunhee penuh syukur lalu memakai kacamata berbingkai putih itu seolah ingin memamerkannya pada Donghae.

“Hanya karena kacamata jelek itu kau sudah sebahagia ini Lee Eunhee?” cibir Donghae sebal.

Mwo? Jelek katamu? Apa kau—“

“Hee, aku juga punya versi pria dari Oakley putih itu,” Donghwa menyela protesan Eunhee sembari memamerkan kacamata berbingkai putih yang persis sama dengan milik Eunhee, hanya saja… modelnya lebih untuk pria. Tentu saja hal itu semakin membakar api cemburu Donghae.

“Omo! Jadi kita punya kacamata couple—“

“Hey! Hyeong, mana oleh-oleh untukku?” potong Donghae cepat dengan wajah merah padam. Hatinya terasa terbakar menyaksikan keakraban dua orang di depannya. Aku ini yang suamimu Lee Eunhee, kenapa kau harus sesenang itu memiliki barang yang sama dengan lelaki lain? gerutu Donghae dalam hati.

“Tentu ada.” Donghwa tak dapat menahan kekehannya melihat ekspresi kesal Donghae. “Hee, ambilkan Beanie biru di ransel—“

“Beanie?” Donghae sekali lagi menyela, membuat ucapan Donghwa menggantung tak terselesaikan.

“Ne, bukankah kau menyukai topi? Jadi aku membelikan barang kesukaanmu itu.”

“Shireo!” tolak Donghae tegas membuat Donghwa terkejut. “Aku mau Oakley putih milikmu saja!” tambahnya cepat.

“Omo! Hae, apa yang kau lakukan?” protes Eunhee. “Bukankah kau sendiri yang bilang kacamata itu jelek?” cibirnya sembari melirik Donghae masam.

“Aku berubah pikiran!” tukas Donghae tak peduli. “Hyeong, berikan padaku saja!”

“Dasar kekanakan!” maki Eunhee pelan.

-Jeollanam-do, Mokpo-

Semenjak kedatangannya ke Mokpo semalam, mood Donghae sama sekali belum membaik. Apalagi melihat keakraban yang ditunjukkan Eunhee dan Donghwa pagi tadi di dapur saat menyiapkan makanan untuk sarapan. Keduanya tampak begitu nyaman satu sama lain, bahkan saling bertukar cerita tentang perjalanan Donghwa di New York. Dan sama sekali tak peduli saat Donghae merengek meminta perhatian.

Semalam ia memang berhasil merebut Oakley putih milik Donghwa, yang itu artinya, tak ada barang ‘couple’ bagi kedua orang itu. Tapi semalaman juga ia terpaksa menutup telinga mendengar ocehan Eunhee tentang kelakuannya yang dianggap terlalu kekanak-kanakan.

Sial. Aku bukannya kekanakan! Lagipula, suami mana yang tak akan cemburu melihat keakraban istrinya dengan orang lain? Apalagi orang lain itu masih jelas-jelas menyimpan perasaan untuknya, gerutu Donghae dalam hati.

“Hae, mau sampai kapan kau berdiri di situ? Ayo cepat kita berangkat.” Suara Kim Hyangsook sang Ibu menyadarkan Donghae dari lamunannya.

“Ah, Ne Eomma,” balasnya lalu berjalan di sisi wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu.

“Kau bertengkar dengan istrimu?” di luar dugaan Donghae, sang Ibu bertanya.

“Emm… ani, hanya ribut kecil saja,” elak Donghae sembari meringis. “Kalau bukan dia yang mulai duluan, aku tak akan terpancing,” tambah Donghae akhirnya.

Kim Hyangsook mendecak, “Istrimu sedang hamil, jangan bertengkar saja. Bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan kandungannya?”

“Ah, Eomma. Sebenarnya kau Ibuku atau Ibu Eunhee sih?” protes Donghae manja membuat Hyangsook terkekeh geli.

“Sudahlah! Ayo cepat keluar, Hyeong-mu dan Eunhee sudah menunggu di mobil.”

“Lihatlah! Dia yang jelas-jelas berselingkuh dengan Hyeong. Kenapa kau malah memarahiku—Aww!!!” Donghae mengelus puncak kepalanya yang mendapat pukulan telak dari sang Ibu.

“Mereka saudara ipar, berani-beraninya kau menuduhnya begitu!”

“Eomma!”

————————————————–

Seusai mendoakan mendiang sang Ayah di makam. Donghae beserta keluarganya memutuskan untuk menikmati liburan sejenak di pinggir pantai yang terletak tepat di depan makam sang Ayah.

“Ahh… akhirnya bisa merasakan liburan musim panas juga,” seru Donghwa sembari merentangkan kedua tangannya.

“Kau pasti terlalu sibuk dengan kegiatan di kampusmu Oppa. Jangan terlalu lelah. Sekali-sekali, ambillah liburan,” timpal Eunhee dari belakangnya.

“Suamimu jauh lebih sibuk daripada Donghwa Hyeong,” gerutu Donghae tak terima.

“Oh, ayolah Hae. Jadi kau masih marah gara-gara semalam?” balas Eunhee jengah sementara Ibu Donghae menggeleng-geleng melihat tingkah putra bungsunya.

“Hwa, Eomma ingin bicara denganmu,” tukas Kim Hyangsook, lalu menggandeng lengan putra sulungnya menjauh dari suami istri tersebut, dengan sengaja agar keduanya dapat menyelesaikan masalah berdua saja.

“Kau tidak malu pada Eommonim bersikap kekanak-kanakan begitu?” protes Eunhee sepeninggal mereka berdua.

“Kenapa aku harus malu, bila aku benar!”

“Tsk, kau sebut itu benar Hae?” Eunhee tertawa tanpa rasa humor.

“Apakah salah bila seorang suami takut kehilangan istrinya?”

Eunhee membelalak lebar, “Apa yang kau takutkan Hae? Aku ini istrimu. Kenapa kau harus merasa takut?”

“Tapi Donghwa Hyeong—“

“Ya Tuhan! Sudah kubilang, aku hanya menganggapnya sebagai kakakku. Tidak lebih. Ketakutanmu benar-benar tidak beralasan Hae,” keluh Eunhee frustasi lalu melangkahkan kakinya yang telanjang di pasir putih yang terhampar di sepanjang pantai, sementara Donghae mengekor di belakangnya.

“Aku tahu. Tapi Donghwa Hyeong juga mencinta—“

“Itu masa lalu Hae… kurasa kau juga tahu hal itu,” potong Eunhee cepat.

Eunhee menegang ketika merasakan lengan Donghae melingkar di seputar lehernya. Lelaki itu menghirup dalam-dalam aroma vanilla bercampur peach yang menguar dari rambut hitam Eunhee. “Baiklah. Buktikan padaku kalau kau memang tak akan pernah meninggalkanku,” bisiknya.

“Apa yang harus kulakukan? Tapi tolong, jangan suruh aku menjauhi Donghwa Oppa hanya untuk membuktikan teori konyolmu itu.”

Donghae memutar tubuh Eunhee menghadapnya. Mengunci tatapan wanita itu dengan tatapan teduhnya. “Aku tidak menyuruhmu menjauhinya. Hanya saja… jangan terlalu dekat dengannya. Aku masih trauma dengan kejadian beberapa bulan lalu,” katanya mengingatkan pada masa-masa sulit mereka dulu. “Saat kau mengancam akan meninggalkanku bila aku tak keluar dari acara reality show itu.”

Eunhee terkekeh pelan, “Ya Tuhan! Jadi karena itu? Semuanya sudah lewat Hae, kau juga tahu saat itu aku sedang marah… tapi bukankah hari itu aku juga lebih memilih menjagamu daripada mengejar Donghwa Oppa. Apa semua itu belum cukup untuk membuktikan semuanya?” Eunhee membenarkan kerah kemeja Donghae. “Selama ini, aku dan Donghwa Oppa masih sering berhubungan juga karena dia sering bercerita tentang gadis cantik yang kini tengah dekat dengan—hmmmphh”

Eunhee merasakan kakinya melemas ketika tanpa disangka Donghae mengunci bibirnya dengan ciuman dalam dan menuntut. Wanita itu tanpa sadar telah melingkarkan lengannya pada tengkuk Donghae, membiarkan sang suami mengeksplorasi lebih dalam rongga mulutnya yang menimbulkan sensasi menggelikan hingga ke sekujur tubuhnya. Matanya terpejam. Menikmati setiap sensasi menyenangkan yang timbul setiap kali lidah mereka bertemu dan saling bertaut. Eunhee menggigil resah ketika merasakan gigi-gigi Donghae menggigiti pelan bibirnya. Memperlakukan bibirnya, seolah-olah makanan paling lezat di muka bumi ini. “Hee, akui saja kalau kau menyukai bunga pemberianku,” bisik Donghae di sela-sela ciuman panjangnya, membuat Eunhee seketika membuka kedua matanya untuk menatap Donghae.

“Apa?” Kecurigaan Eunhee kembali ketika melihat seringai lebar yang ditunjukkan lelaki itu. “Katakan Lee Donghae, dari mana kau tahu semua itu?”

-Tra Palace Apartment-

Setelah menempuh perjalanan panjang dari Mokpo, Donghae merasa senang karena akhirnya bisa kembali mengistirahatkan diri. Lelaki itu tersenyum sembari melirik Eunhee yang kini sedang tertidur pulas di sampingnya. Ia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, karena kini… ia tak perlu khawatir lagi sang kakak akan merebut Eunhee dari sisinya. Karena seperti yang Eunhee katakan saat di pantai siang tadi, selama berlibur di New York… Donghwa bertemu seorang gadis asal Korea yang berkuliah di sana. Dan kini, kakak sulungnya itu sedang dekat dengan wanita itu.

Teringat pada benda merah yang selama ini menjadi rahasianya mengetahui segala isi hati Eunhee—kendati dirinya harus berusaha mencari alasan-alasan sulit untuk menjawab kecurigaan Eunhee padanya—Donghae berjingkat untuk mengambil diary itu di nakas dan memfokuskan diri membacanya.

Tapi tak disangka, ketika membuka halaman di mana terakhir kali ia membacanya… Donghae mendapati halaman itu kusut dan ada bekas air mata menetes di lembarannya, hingga menimulkan noda kekuningan karena usang dimakan waktu. Kening pria itu berkerut. Rasa penasarannya meningkat dua kali dari sebelumnya.

-18 Oktober 2009-

Menyebalkan!!! Aku menyesal datang ke apartemennya hari ini. BENAR_BENAR MENYESAL!!! DASAR LELAKI SIALANNN!!!

Hae… dadaku sesak. Coba kau bayangkan… dia, dia yang mengaku hanya mencintaiku sehari sebelumnya… kini… kini…

Oh, Tuhan! Aku bahkan tak sanggup untuk menceritakan kejadian menyakitkan yang kulihat dengan mata kepalaku sendiri siang tadi.

Harusnya… harusnya aku sadar siapa diriku, dan tidak memaksakan kehendakku untuk terus mengharapkan cintanya. Dia sudah berubah Hae! Berubah menjadi cassanova yang hanya menganggap kosong ‘rayuan’ yang dilontarkannya… mulai hari ini aku bersumpah! Tak akan pernah lagi percaya pada setiap kata rayuan yang dilontarkannya… karena semua itu terbukti OMONG KOSONG!!! BULSHIT!!!

Donghae menghentikan kegiatannya membaca, hatinya sakit hanya dengan mengenang kejadian itu. Jadi, karena ini… kau tak suka kurayu lagi Hee?

————————————————-

Donghae sedang berlatih di ruang latihan seorang diri. Tanpa kenal lelah, terus mencoba manuver-manuver terbaru yang diajarkan Eunhyuk semalam padanya. Selain karena merasa bersalah telah meninggalkan jadwal latihannya kemarin, lelaki yang terkenal sebagai pekerja keras di SM Entertainment itu juga merasa memiliki kewajiban untuk menguasainya.

Kendati keringatnya mulai mengucur di sekujur tubuhnya, Donghae tak berhenti. Tubuh rampingnya terus bergerak dan bergerak lincah sesuai irama lagu yang diputarnya. Gerakan lelaki itu hanya terhenti ketika lagu berakhir dan sontak Donghae mengalihkan perhatiannya ketika mendengar tepukan seseorang dari ambang pintu.

“Kau hebat Oppa. Aku benar-benar iri denganmu,” puji seorang gadis cantik bertubuh nyaris sempurna sembari menghampirinya.

“Oh, Sica?” sebut Donghae malu-malu ketika gadis itu mendekat. “Biasa saja… aku berlatih karena kemarin aku tak sempat berlatih bersama yang lainnya.”

“Kau selalu merendah Oppa,” komentar Jessica kagum.

Donghae terkekeh pelan. “Apa yang kau lakukan di sini seorang diri?” Donghae mencoba mengalihkan pembicaraan. 

“Emm… sebenarnya aku juga sedang berlatih di ruang latihan SNSD. Tapi memilih istirahat sebentar karena  frustasi tak juga menguasai gerakan baru tadi,” cerita Jessica, “ketika mendengar suara musik dari ruang ini, aku langsung ke mari. Dan ternyata aku benar, itu kau Oppa.”

“Ah, begitu!” Donghae menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Oppa, maukah kau membantuku?” 

“Eh?” Donghae terkejut ketika tiba-tiba Jessica mendekat. “Kalau aku bisa membantu… akan kubantu.” Lelaki itu menyanggupi, hingga senyum puas terukir di wajah gadis cantik itu. 

“Syukurlah!” katanya senang.

“Apa yang bisa kubantu?” 

“Emm… ajarkan aku salah satu gerakan dance Super Girl. Kau sudah dengar bukan kalau aku akan menjadi model Video Klip kalian?” 

“Ah… itu. Benar!” Donghae terkekeh pelan. “Kajja! Kau mau kuajarkan bagian yang mana?” 

“Saat reffrence saja.” 

“Oke, bisa kita mulai sekarang?” tanyanya dan mulai memposisikan tubuh di depan gadis itu ketika melihat Jessica mengangguk. Lelaki itu mulai menari dengan gerakan seperti sedang mengayuh sepeda dengan hitungan dan secara perlahan-lahan, sementara Jessica memperhatikan di belakangnya. “Bagaimana? Sekarang coba kau peragakan?”

Jessica maju ke depan, melebarkan kedua kakinya ke samping dan memposisikan kedua tangannya di depan dada. Gadis itu mulai mengangkat kakinya dan menghitung sesuai instruksi Donghae tadi. “Satu… dua… tiga…”

“Tanganmu terlalu ke bawah…” Donghae membenarkan letak tangan Jessica. “Tubuhmu juga agak direndahkan sedikit. Oke… begitu! Coba lagi… satu… dua… tiga… angkat tangan kirimu… ah, tidak bukan begitu…” member Super Junior itu kembali mendekati Jessica dan bermaksud membenarkan gerakan tangan gadis itu ketika mendengar bunyi bergeletak keras dari ambang pintu. Detik berikutnya suara pintu dibanting bergema ke seluruh studio. “Eunhee?” desis Donghae cepat lalu tanpa menunggu lama pria itu berlari ke luar ruangan. Donghae bahkan bisa melihat cupcake berserakan di lantai tepat di mana gadis itu menjatuhkan kotak bekal yang dibawanya. “Eunhee… kumohon dengarkan aku dulu. Hee!”

“Apa yang kau lakukan dengan Sica?” Heechul berkomentar sinis ketika Donghae sampai di luar ruangan dan tak berhasil mengejar Eunhee, karena gadis itu sudah lebih dulu turun menggunakan lift.

“Hyeong, kenapa kau tak memberitahuku kalau Eunhee ke mari?” keluh Donghae frustasi sama sekali mengabaikan pertanyaan Heechul sebelumnya. Pikirannya sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan menakutkan yang tentu akan terjadi setelah ini. “Sialan! Aku harus berjuang lebih keras lagi untuk mendapatkannya.”

—————————————————-

Tanpa sadar Donghae meremas bantal yang dipeluknya. Kejadian yang membuat dirinya harus bersusah payah untuk kembali membuat Eunhee percaya padanya. Bahkan, waktu yang dibutuhkannya untuk kembali medapat kepercayaan Eunhee bukan waktu yang singkat. Di tambah dengan munculnya gosip lama yang menunjukkan foto-foto mesranya dengan Jessica SNSD. Tentu saja Eunhee marah besar dan sempat meminta Donghae untuk tak pernah menemuinya lagi.

Donghwa bahkan sempat memarahinya karena membuat Eunhee kecewa dengan mengkhianati gadis itu bersama wanita lain.

Mianhae Hee-a, kau datang di saat yang tidak tepat hari itu, batinnya muram sembari menatap wajah polos sang istri yang tengah terlelap.

Donghae kembali memfokuskan dirinya pada Diary di depannya. Tenggelam dalam curahan hati Eunhee di saat-saat krisis itu melanda.

-1 November 2009-

Tak terasa… hampir setengah bulan berlalu setelah kejadian itu. Rasanya sesak itu masih ada Hae… aku pun sudah beberapa kali mengabaikan telepon dan pesan masuk darinya. Mencoba meyakinkan diriku untuk berhenti memikirkannya. Tapi semakin aku mencoba menghindar… bayangannya semakin sering muncul di kepalaku. Cinta ini benar-benar menyiksa Hae… apalagi saat hari itu… Seminggu setelah aku memergokinya sedang bermesraan dengan gadis itu…

Foto-foto terkutuk itu beredar… sialan! Tak cukupkah ia membuatku menangis hari itu? Palsukah semua permintaan maafnya saat itu? Aku benar-benar hancur… foto-sialan itu menjelaskan semuanya…

Aku bahkan tak bisa lagi menahan air mataku saat Donghwa Oppa datang dan menawarkan bahunya untuk tempatku menangis. Selama beberapa hari setelahnya, aku bersyukur Donghwa Oppa selalu hadir di sisiku untuk menguatkan aku. Mungkin aku akan gila bila tak ada dia yang selalu menenangkanku.

Hae… salahkah aku bila begini? Membuat Donghwa Oppa terus menghiburku tapi sama sekali tak bisa memberikan sedikit saja hatiku untuknya?

Rasanya… cinta itu tak adil. Bukankah seharusnya aku memberikan hatiku untuk Donghwa Oppa… yang senantiasa menemaniku dan memberiku dukungan saat aku sedang sedih, bukannya memberikan seluruh cintaku untuk cassanova menyebalkan itu!

Tapi sekuat apapun aku mencoba melupakan dan membencinya… hasilnya tetap sama. Bahkan… rasa itu semakin dalam untuknya… Seolah menarikku semakin masuk ke dalam jerat-jerat cintanya. Aku benar-benar menyedihkan! Mengapa cinta bisa menjadi semenyakitkan ini? Bila aku boleh memilih, aku tak akan sudi untuk jatuh cinta. 

Hari ini, setelah selama tiga hari tak ada lagi kabar darinya. Ia datang ke mari. Aku tahu, selama beberapa hari terakhir… ia memang disibukkan dengan promosi album barunya bersama Super Junior M.

Aku sudah berusaha mengabaikan ketukan keras di pintu itu Hae… bahkan aku mencoba mengabaikan pesan darinya yang menyatakan bahwa ia tak akan pergi sampai aku mau membuka pintu untuknya.

Sungguh picisan yang dilakukannya… tapi anehnya… aku selalu saja terbujuk pada setiap kata yang diberikannya. Seolah-olah… ia berhasil menghipnotisku hanya dengan setiap tingkah lakunya. Bodoh! tapi seperti yang kutahu… CINTA MEMANG BODOH! dan tak ada yang bisa memungkirinya… 

Hari ini aku kembali membiarkannya masuk… hanya karena rasa rindu yang telah lama kupendam… hanya karena seolah Tuhan menyetujui untukku kembali padanya dengan menurunkan hujan lebat yang membuatku semakin tak tega meninggalkannya di luar. Dengan bodohnya… aku mempersilakannya masuk sekali lagi… bukan hanya ke rumahku… tapi juga ke hatiku… yang sejatinya, ia memang tak pernah meninggalkan hatiku. 

Dengan ciumannya… ia berhasil membuat otot-ototku melemas… di tengah hujan lebat di akhir musim gugur yang dingin ini… ciumannya seolah memberi nafas baru untukku Hae… menghangatkan setiap jengkal tubuhku dengan cintanya… 

Aku gila… mungkin bila….

“Euunghh…” Donghae tersentak mendengar lenguhan Eunhee dan sebelum sempat sang istri memergokinya tengah membaca benda paling pribadi itu, Donghae segera melompat dari kursi malas dan meletakkan kembali benda itu di tempatnya.

Waeyo Hee?” bisiknya berusaha terdengar serak lalu melingkarkan lengannya di pinggang Eunhee, setelah ia berhasil kembali ke sisi wanita itu.

Beruntung, aku pandai berakting, batin Donghae geli.

Eunhee membuka kelopak matanya. Memutar tubuhnya menghadap Donghae dan membelaikan tangan lembutnya di pipi sang suami. “Entah… tiba-tiba saja aku tersentak dan terbangun.”

Donghae mendekap semakin erat tubuh wanita itu. Mencium lembut perut buncit Eunhee yang terasa mendesak ke tubuhnya. “Apakah anak kita yang membuatmu terbangun?”

Eunhee tersenyum. “Mungkin,” katanya geli lalu menyisirkan tangannya di rambut coklat gelap Donghae yang berantakan. “Mungkin juga… karena aku merindukanmu,” tambahnya dengan pipi memerah ketika mengingat ciuman panas mereka di pantai siang tadi.

“Begitukah?” Donghae mendekatkan wajahnya pada wajah Eunhee. Menatap sang istri dengan tatapan seduktif yang membuat wanita itu semakin merona. “Mungkinkah karena ciuman itu… kau sekarang menginginkanku?” dengkur Donghae menggoda.

Di luar dugaan, Eunhee mengangguk menjawab pertanyaan Donghae. Bahkan, wanita itu mengecup bibir Donghae sekilas dan membiarkan Donghae kembali menciumnya dengan cara yang lebih dari siang tadi. “Aku merindukanmu Hae..” bisik Eunhee lirih.

“Kau pikir aku tidak? Sialan!” desis Donghae sambil terus memagut bibir Eunhee lahap. Enam bulan lebih ia menahan dirinya untuk tak menyentuh sang istri hanya karena takut terjadi sesuatu yang buruk dengan kandungan istrinya. Tapi malam ini, ia tak mampu menahan diri lebih lama lagi. Terlebih karena Eunhee berhasil memancing hasrat yang sejak lama susah payah dipendamnya. “Hee, aku me—Sial!“

Noona, buka pintunya!”

Donghae melepaskan pagutannya mendengar pintu kamarnya diketuk. Berikutnya terdengar seruan bocah berumur 7 tahunan yang cukup keras dan memekakkan telinga. Ia baru ingat, seorang ‘pengganggu’ kecil bernama Lee Jonghee… adik bungsu Eunhee, siang tadi memohon untuk membawanya serta ke Seoul untuk menikmati liburan sekolahnya selama satu minggu ke depan.

Mian,” desis Eunhee tak nyaman lalu beranjak dari tempat tidur berukuran King Size itu.

Donghae menggerutu sembari menutup telinganya dengan bantal. Mencoba menahan diri untuk tak membunuh seseorang yang telah mengganggu kesenangannya sendiri.

Eunhee membuka pintu kamar dan menemukan adik bungsunya itu menghambur ke pelukannya. “Noona! Aku takut!” jerit bocah lelaki kecil itu sambil menangis.

“Waeyo Jongie-a?” tanya Eunhee lembut dan menunduk untuk menyamakan tinggi tubuhnya.

“Aku… aku mimpi buruk! Aku takut tidur sendirian,” isak Jonghee keras.

Eunhee memeluk adiknya dan membelai punggungnya hingga ia berhenti terisak. “Tapi kau sudah besar. Tadi kau juga bilang tak akan lagi takut tidur sendirian,” Eunhee berusaha membujuk sang adik.

“Shireo! Aku takut. Petirnya keras sekali… hikss… Tadi aku mimpi buruk… aku takut Noona,” Namun dengan keras kepala, Jonghee terus menangis dan sama sekali tak mau melepas Eunhee.

Wanita itu menghela nafas pelan, melalui ekor matanya… ia bisa melihat sang suami sudah duduk di tempat tidur. “Baiklah. Kau tidur di sini bersama Noona!”

Mwo?” seketika itu juga Donghae menjerit kaget. Sialan, makinya frustasi.

TBC

Howahahaha… Otte??? Bikinnya Ngebut nih?? Jelek kah??
Mian yah harus diSTOP!! klo mau marah… marahin si Jonghee :p

51 thoughts on “Eunhee’s Diary –EunHae ‘dating’ Moment- [Third]

  1. Ahahahahaha ampun deh sikapnya hae konyol bgt deh. Udh sini hwa sm aku aja biar aman semua. Eh ngarang…

    Ihihihiihi 6 bulan? Hahahahha kasian amat.
    Hee eonni msh punya adik kecil to? Lucu

  2. kereeennn buanget eon,,hahaha
    sneng bgt dh pkoky lo liat hae cmbru,jd tmbh syng ma hee..part ne romntis bgt eon,syng da jonghee jd trgngu dh,wkwkwk
    dtngu lnjtnny eon,FIGHTING!^^

  3. si hae konyol banget sih,,,paling ngakak yg pas dia minta kacamata si hwa,childish bgt deh,kkkkk
    makin byk kisah yg terungkap di masa” mereka pacaran dari diary nya eunhee,,,,

    daaaaaannnn,,,,itu,,,kenapa di stop adegannya?????*plak*
    adegan kissingnya aja bikin melting apalagi yg ehmm,,,ehmm*buakakakak*
    #readeryadong

    makasih udah tag ya saeng,,,
    oen tunggu lagi ffnya🙂

    • Iya tuh Eon, HAE emang Childish-nya kebangetan! #Plokk
      Hwakakak… aku juga sebel tuh ama si Jonghee, maen ganggu ajah :p

      Sama2 Eonnie… dtunggu aja Part selanjutnya… tapi mungkin ngelanjutin It’s You dulu ^^

  4. mau nyoba komen d blog ni eon😀
    Cie yg cemburu buta, ciecie.. hae jadi ky anak kecil kalo jeolus ya ampun hae, hae itu kakak lo kali #geleng2 kepala
    huwaa kasian eunhee eonni harus slah paham😦 semangat eon, aku slalu mendukungmu😀
    btw, itu usia kandungannya udah 6 bulan y? bentar lg lahir dums :3
    asik dapet baby kecil😄
    kasihan kau donge, urusan ”itu” harus d tunda lg wkakaka
    it’s me eon >> Reneesme Nani Cullen😀

    • eh?? Reneesme?? hahaha *ribet amat aku manggil namanya* :p
      Berhasil yah akhirnya komen di Blog ^^
      Makasii say dah baca n komen🙂
      Iyaa udah 6 bulan, doain cepet lahiran yah #Nguuukk

  5. akhirnya publish jg saeng
    aku sudah menantikannya begitu lama.. (lebay)
    nah kan gagal lg d nie..
    jonghee-a kau tsk.. (mo marah ga tega)
    kutunggu part lanjutannya ya saeng.. semoga makin banyak adegan cium- ciumnya hehehe (apaan sih o_O)
    kkkk annyeong!!🙂

    • hahaha… lama kah Eon?? aku sibuk lebaran ini Eonnie ^^
      wkwkwk… banyak yg yadong nih ah di sini… klo ni FF NC, gak bakal kupost ke publik lah… pasti ada PWnya hahaha

  6. ehem ada yg lg d lnda cmbru nie kya’y #lirik donghae
    eon aku ngakak ngbyangin gmna wajah’y donghae klo lg cmbru pasti lcu bgt tuhh,,
    hehehe
    aduh donghae udh bnyak bca crhantan eunhee’y tuhh,,
    kra2 gmna y raksi eunhee klo tao??? #mkirrrr
    awawaw,,
    apa yg mrka lakukan??? #ttp cndla(?)
    spa tuh yg ktok pntu gnggu z pdhal kn lg nnggung,,,
    hahaha

    eon over all kren bgt fell’y dpt bgt ^^
    d tnggu klnjutan’y ^~^

    • Huahahah… ngapain tutup jendela segala?? ekekekk
      Bunuh aja bunuh yg ngetok pintu!! *kakak durhaka*😄

      Makasii-makasii dah baca n komen… BTW, Salam kenal yah ^^ *baru pertama kan?*

  7. hihi aku ketawa sendiri sama tingkah Donghae-Donghwa
    sama-sama saling manasin+narik perhatian Eunhee tapi untung deh Donghwa udah punya gebetan

    eh itu 6 bulan? huaaa udah 6 bulan aja!! kyaaa 3 bulan lagi lahiran dong, ah penasaraaaaaan mukanya anak EunHae gimana pasti kece dong ya B-)
    aku excited banget lo pas baca itu, bener deh ini seriusan😀
    unnieee yang itu kenapa gak diterusin?? padahal lagi asik(?) si Jonghee ganggu aja nih

    • hihiihi… aku juga geli2 gemes gimanaaa gitu ama tuh kakak-beradik dong2 #Plakk
      Sabar… sabar!! jangan lupa ntar ngasii kado yah buat adek kecil… ekkek #Plokk
      marahin aja tuh si Jonghee, ngapain dia ganggu2… padahal lagi PW ama Hae :p

  8. yaampun itu si hae cemburunya uda tingkat akut -___- padahal lagi dikit lagi dikit *apanya coba* (?) ditunggu ya kelanjutannya ^^

  9. omona, unnie.. ceritanya bkin aku ketwa geli, sdih, trz ktwa geli lg..keke~
    iya, aku slahin adiknya eunhee tuh, gnggu aja org lg mesra2n..wkwk
    lnjut ya unn, kalo bs sih jgan lma2..xD
    fighting unnie.. ^^

  10. yakk!! eonnie!!apa2an noh si tuyul bertanduk (re.adik eunhee)*digampar* pake muncul segala !!
    padahalkan tinggal dikiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit lagi bakalan ada adegan *tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit*sensor*yadong mode : on*

    huaahahahaaha donge pasti geram banget noh ma tuh bocah,,sini ikan aku angetin pake kompor*ngok*

  11. eonnie, ini saat pas eunhee lagi sakit hati ya ma hae….
    haduh haduh sbara ya hee..
    dan itu, si pengganggu kcil dtang pda wktu yg g tepaaattt…
    kali ini hae yg hrus sbar.. hahaha😄

  12. penasaran sama adik kecilnya hee… yg kalo kata hae setan pangganggu. wkwkwk

    knp ga di share sekalian photo adik kecil itu.. yaa biar kita ngga repot2 bayangin wajah lucunya tp menyebalkan bagi Hae..
    sosoknya sering muncul di FF eunhae dan sering bikin hae oppa geregetan karena keseLLL…

  13. Aduh kasian baru z mau mesra2an eh ada yg ganggu kebayang deh gimana keselnya hae oppa ‘kegiatan’nya diganggu hehe…eunhee ternyata agresif juga yah hehe…

  14. Lagi seru serunya juga >.< .. jonghee ganggu aja nih … ̸̷̸̐hha ̷̸ ̷̷̸̸̷̸̐̐ ̸̷̸̐hha ̷̸ ̷̷̸̸̷̸̐̐ ̸̷̸̐hha ̷̸ ̷̷̸̸̷̸̐̐ ̸̷̸̐=))😀 hae oppa yg sabar yah …😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s