Eunhee’s Diary –EunHae ‘dating’ Moment- [Second]

-Second-

The Roses

 

 

—————————————–

 

“Kita akan ke mana?” Eunhee menggerutu ketika Donghae tak juga berhenti menariknya sesuka hati.

“Ke tempat di mana kita bisa menghabiskan waktu berdua,” balas Donghae sambil terus berjalan menuju sebuah taman luas yang kini ramai dipadati pengunjung. Walau cuaca terasa amat dingin di musim gugur seperti saat ini, tak menghentikan niat orang-orang itu untuk menikmati suasana merah yang kini menghiasi tempat itu.

Donghae menghentikan langkahnya tepat di depan danau buatan yang airnya tampak sangat tenang lalu mengajak Eunhee duduk di salah satu kursi taman panjang di pinggir danau.

“Kau sudah pernah ke mari?”  tanya Donghae dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya.

“Sudah. Di hari kedua aku di sini.”

“Ah, sayang sekali. Aku bukan orang pertama yang membawamu ke mari.”

Eunhee mengalihkan perhatiannya dari danau dan menatap Donghae bingung. “Kenapa kau harus jadi yang pertama?”

“Karena aku ingin jadi yang pertama di hatimu.”

Eunhee tertegun. Tak pernah menyangka bahwa Donghae akan mengatakan hal semacam itu. Selama ini ia selalu berpikir bahwa Donghae tak lagi menginginkannya karena selama tiga tahun terakhir, lelaki itu tak pernah menghubunginya.

“Hae, jangan membuatku berharap terlalu banyak bila pada akhirnya kau tak bisa menepatinya,” balas Eunhee muram.

Donghae meraih tangan Eunhee yang terasa dingin di tengah terpaan angin musim gugur yang membekukan. “Maaf,” lirih pria tampan itu tulus, “Aku tahu kau kesal karena selama ini aku tak pernah mengabarimu. Tapi aku punya alasan kuat berbuat seperti itu.”

“Alasan?” Eunhee mengangkat wajahnya menatap Donghae.

“Yeah, dan mulai hari ini. Aku ingin kau tahu bahwa… kaulah orang terpenting dalam hidupku.”

Eunhee mendengus, “Bila aku tak pernah datang ke Seoul, apa kau masih bisa mengatakan hal ini?”

Di luar dugaan, Donghae justru menyeringai mendengar protesan Eunhee. “Oh… yeah, aku tahu kau begitu mencintaiku hingga rela mengejarku ke mari bukan hanya sebatas di bandara Mokpo seperti malam itu.”

“Hey! Siapa bilang aku ke mari untuk mengejarmu?” gerutu Eunhee sewot.

Donghae terkekeh geli. “Ayolah Hee… akui saja! Kau bahkan memilih universitas yang sama denganku. Apa kau masih bisa mengelak?”

Eunhee berjengit mundur ketika tiba-tiba Donghae mendekatkan wajahnya, “Aiishh… dasar narsis! Bukan begitu ceritanya!” keluh Eunhee sembari menoyor kepala Donghae agar lelaki itu menjauh karena kini, ia tak kuasa menahan hentakan kuat di dadanya.

Masih tak ingin berhenti menggoda Eunhee, Donghae terus saja bertanya. “Lalu… untuk apa Nona galak sepertimu yang tak pernah bisa jauh dari orang tua, tiba-tiba datang ke Seoul seorang diri, huh?”

Untuk sejenak Eunhee tampak bingung hingga seringai puas di wajah Donghae semakin lebar. “Memangnya hanya kau yang bisa kutemui di Seoul?” Eunhee menggerutu. “Aku ke mari karena Donghwa Oppa pernah mengatakan bahwa… bila aku tetap di Mokpo, maka impianku tak akan pernah tercapai. Karena itulah aku berjuang agar mendapat kesempatan berkuliah di sini.”

“Donghwa Hyeong?” raut muka Donghae yang sebelumnya ceria berganti muram.

“Yeah, begitulah!” balas Eunhee puas, karena berhasil membuat Donghae cemburu. “Kenapa?”

“Kau… masih berhubungan dengannya?”

“Hey! Kenapa aku harus berhenti berhubungan dengannya? Bahkan dialah yang membuka jalanku menuju Seoul. Dia yang mencarikanku rumah untuk kutinggali, dia pula yang—“

“Jangan terlalu dekat dengannya!” potong Donghae cepat.

“Kenapa?”

“Karena… aku tak suka!”

“Tsk, kau bahkan bukan kekasihku… punya hak apa kau melarangku Lee Donghae?” Donghae terhenyak mendengar pernyataan Eunhee. Apa yang dikatakan gadis itu benar. Dia memang bukan kekasihnya. Bahkan selama tiga tahun ini dirinya dengan seenaknya menelantarkan perasaan gadis itu setelah penembakannya di bandara Mokpo.

“Sekarang memang bukan. Tapi mulai detik ini dan ke depannya… kau akan jadi milikku,” balas Donghae dengan mimik serius yang membuat laju aliran darah Eunhee berdesir hebat.

Semoga semua ini bukan hanya mimpiku semata, batin Eunhee penuh harap.

———————————————–

 

-Hangang Park-

Donghae menggenggam tangan Eunhee erat-erat tanpa melepaskannya sedikit pun semenjak mereka tiba di taman terluas di ibu kota Korea Selatan itu. Senyum terus terkembang di bibir Donghae walau kini senyum itu tak tampak karena tertutup masker hitam yang dipakainya.

Berbeda dengan Donghae, sampai kini Eunhee masih diliputi rasa bingung. Ada yang aneh dengan sikap Donghae sejak ia pulang tadi. Dan yang membuatnya sedikit takut, Donghae melakukan semua ini hanya untuk menutupi kesalahan besar yang mungkin sedang dibuatnya. Seperti artikel-artikel di majalah yang sering dibacanya tentang kebiasaan yang ditunjukkan suami apabila memiliki affair dengan wanita lain.

Berhenti tepat di depan danau buatan yang terdapat di tengah-tengah Hangang Park, keduanya duduk di salah satu kursi taman panjang tepat di bawah pohon maple yang tampak mengering di musim panas ini.

Masih heran dengan sikap Donghae, Eunhee sengaja membuka mulutnya untuk bertanya. “Hae, siang ini sangat panas. Kena—“

“Oh, kau ingin es krim? Rasa vanilla dengan taburan biskuit coklat di atasnya? Baiklah… akan kubelikan!”

“Hey!” Eunhee menghela nafas kesal ketika ia hanya bisa melihat punggung lebar Donghae yang menjauh. “Sebenarnya ada apa dengannya? Aku bahkan tak meminta es krim itu. Jangan bilang ia melakukannya untuk menutupi suatu kesalahan yang sedang dibuatnya.”

Setengah jam berlalu setelahnya, Eunhee masih diliputi kebingungan dengan sikap Donghae yang terlihat aneh. Sementara lelaki itu masih tampak tenang-tenang saja dan mengoceh tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya. Kini es krim cone vanilla di tangannya sudah tandas  dan Eunhee berniat kembali bertanya pada Donghae.

“Hae, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?”

Donghae mengalihkan perhatiannya dari danau indah di depannya pada Eunhee. “Tentu, ada apa?”

“Sebenarnya… apa maksudmu membawaku ke mari—“

“Ah, itu—“

“Pertanyaanku belum selesai,” sela Eunhee cepat, “Kau bertingkah aneh hari ini. Bahkan kau membelikanku es krim yang bahkan tidak kuminta. Apa kau melakukan semua ini karena kau merasa bersalah padaku?”

Eunhee mengerutkan kening heran ketika tiba-tiba Donghae terkekeh pelan. “Ya ampun Hee… bisakah kau tak mencurigai suamimu ini?” balas Donghae masih sambil tertawa. Dirangkulnya pundak Eunhee dan meminta wanita itu menatap danau indah di hadapannya. “Tidak ingatkah kau dengan tempat ini?” Eunhee bergeming dan mencoba berpikir ke mana arah pembicaraan Donghae saat ini. “Apakah ingatanmu seburuk itu?” tanya Donghae lagi ketika tak mendengar jawaban apapun dari Eunhee. “Tempat ini… sangat bersejarah bagi kita. Karena di sinilah, kita menghabiskan waktu untuk pertama kalinya setelah sekian lama terpisah. Apa kau sudah ingat?”

Eunhee mendengus, “Jadi hanya karena itu kau membawaku ke mari?”

Donghae melepaskan rangkulannya dan mengunci tatapan Eunhee. “Apa kau tak percaya?”

“Hari ini bahkan bukan hari spesial atau apapun… tentu saja aku curiga kau membawaku ke mari dengan alasan seperti itu,” cibir Eunhee.

Sekali lagi Donghae terkekeh, “Apakah harus menunggu hari spesial untuk melakukan sesuatu yang spesial? Bagiku, selama ada kau di sisiku. Kapan pun bisa menjadi hari spesial.”

“Tsk, dasar perayu ulung!” gerutu Eunhee setengah tergelak, “kalau kau memang ingin mengenang tempat pertama kita bertemu bukan di sini. Tapi di Hangang cafѐ.”

“Ah, tentu saja. Tempat itu juga,” Donghae tersenyum lebar. “Apa kau sudah lapar? Bagaimana kalau kita ke sana sekarang?”

“Hah… entah aku harus berkata apa? Sepertinya kepalamu baru saja terantuk batu.”

Donghae tertawa lebar, “Terantuk batu cintamu Hee.”

“Aiiishh… berhenti merayuku!” Eunhee memukul lengan Donghae hingga lelaki itu meringis dan pura-pura merengek kesakitan. “Dasar cassanova! Apa kau juga melancarkan setiap rayuan manismu ini pada semua gadis yang kau temui?”

“Hey… tentu saja tidak! Kalaupun iya, aku tak akan memakai perasaan saat mengutarakannya. Karena perasaanku telah tertawan olehmu.”

“Tsk, sebaiknya kita ke Hangang cafѐ saja. Mendadak perutku mual mendengar bualanmu!” Tanpa menunggu persetujuan Donghae, Eunhee beranjak dari kursi panjang itu dan mulai melangkah lebar-lebar.

Untuk sesaat Donghae hanya berdiri diam sembari menatap punggung Eunhee yang menjauh. Senyum pria tampan itu terukir di balik masker hitam yang dipakainya.

Aku sama sekali tak membual Hee… aku memang tergila-gila padamu, batin Donghae menerawang.

Sadar, Eunhee sudah cukup jauh di depan. Donghae melangkah hingga berlari kecil menyusul sang istri. “Jangan terlalu cepat berjalan. Kau sedang membawa buah hatiku dalam dirimu. Jangan sampai terjadi sesuatu padanya,” bisik Donghae tepat di  telinga Eunhee setibanya ia di sisi wanita itu.

“Oh, jadi kau hanya peduli pada keselamatan anakmu? Sedangkan aku tidak?” Eunhee menggerutu sambil meneruskan langkahnya.

“Ah, berhentilah marah-marah. Ternyata menghadapi Ibu hamil memang menyusahkan!” balas Donghae sembari merangkulkan lengannya di pinggang Eunhee. “Anak kita belum lahir saja, masa kau sudah cemburu padanya?”

“Hey! Apa kau bilang?”

-Tra Palace Apartment-

Donghae memandangi wajah polos Eunhee yang tertidur lelap di sampingnya. Rupanya wanita itu kelelahan setelah seharian menghabiskan waktu di Hangang Park dan Hangang cafѐ bersamanya. Banyak kejadian menyenangkan yang membuat Donghae ingin tertawa ketika mengenangnya. Dengan ujung jarinya, Donghae menyingkirkan beberapa helai anak rambut Eunhee yang menutupi keningnya dan mengecup kening wanita itu lembut.

“Tidurlah, kau pasti lelah,” lirih Donghae sembari tersenyum hangat. “Terima kasih untuk hari ini, karena membuatku merasakan kembali bagaimana bahagianya masa-masa berpacaran kita dulu.”

Teringat pada Diary mungil yang belum tuntas dibacanya siang tadi, perlahan Donghae beranjak dari tempatnya. Berusaha setenang mungkin agar Eunhee tak terbangun dan membuka laci nakas dengan hati-hati.

-16 Oktober 2009-

Hae… kau tahu? Hari ini tak kalah membahagiakan dari kemarin. Ya Tuhan! Aku bahkan masih bisa merasakan sesaknya nafasku karena jantungku bekerja terlalu cepat. Dia benar-benar membuatku kelimpungan Hae! Entah apa yang dimilikinya hingga aku bertingkah seperti orang gila begini.

Oke, kau pasti bingung dengan apa yang kubicarakan bukan?

Begini, pagi tadi… ah tidak… bahkan bukan pagi, tapi menjelang pagi karena saat kulirik jam di nakas masih menunjukkan pukul empat. Kau pasti heran apa yang terjadi di jam sepagi itu.

Dia! Dia menepati janjinya menghubungiku. Saat kutanya ‘apa tak ada waktu yang lebih baik dari jam empat pagi dan mengganggu orang tidur?’

Dia malah menjawab dengan tenangnya. ‘Karena aku tak ingin mengabaikanmu lagi. Sudah cukup waktu tiga tahun. Sekarang, aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkan hatimu kembali.’

Oh, kurasa dia memang sudah gila! Bukan Cuma sampai di sana kegilaannya. Selang beberapa jam kemudian, setelah sebelumnya ia sukses membuatku terjaga karena ucapannya di telepon itu. Dia kembali membuat jantungku bergemuruh dengan sebuket bunga mawar merah yang dikirimnya.

Apalagi setelah membaca kartu kiriman darinya ini…

Pagi Bungaku… agar tak kesepian, aku sengaja mengirimimu teman. Walau aku yakin, pada akhirnya mereka akan merasa iri karena kau jauh lebih cantik.

                                                                                                                                                                                                        -Pangeranmu ‘Sea’-

Wanita mana yang tak akan senang mendapat kiriman bunga dari seseorang yang paling spesial di hatinya? Bahkan saat matamu belum sepenuhnya terbuka. Yeah, walau saat itu aku menyangkal habis-habisan dengan berdalih bahwa aku tak terlalu suka bunga saat ia bertanya apakah aku suka dengan kejutan kecil darinya itu. Hal itu kulakukan agar ia tak merasa senang dulu. Setidaknya, ia harus merasakan bagaimana rasanya tak dipedulikan selama tiga tahun.

Donghae berhenti membaca dan membelai kartu ucapan yang tertempel di diary itu. Kartu kecil berwarna biru langit yang ia ingat pernah diberikannya pada Eunhee. Bahkan, ada setangkai mawar yang juga tertempel di sana. Mawar merah yang kini sudah berubah warna menjadi hitam.

Di bagian bawah bunga itu terdapat tulisan Eunhee yang berbunyi…

Aku benar-benar naif… mengatakan padanya bahwa aku tak menyukai bunga, tapi secara diam-diam tetap menyimpan mawar-mawar itu di sisi tempat tidur untuk kupandangi tiap hari hingga warnanya menguning lalu mati. Dan setidaknya, masih ada satu tangkai yang bertahan di sini. Mungkin sejak saat ini, ia tak akan pernah lagi mengirimiku bunga. Heuuuh… kau menyedihkan Lee Eunhee!

“Ah, dasar gadis bodoh!” maki Donghae pelan sembari menghampiri Eunhee yang kini masih terlelap dalam tidurnya. “Kenapa kau tak jujur saja padaku? Aku tak akan keberatan hanya untuk mengirimimu mawar setiap harinya. Agar kau tak perlu lagi menyimpan mawar kering ini di sini. Atau jangan-jangan… selama ini kau sebenarnya juga menyukai setiap rayuan-rayuan yang kulontarkan?” Donghae membelai lembut pipi Eunhee dengan punggung tangannya. “Hah… wanita memang membingungkan!”

————————————

Eunhee menghentikan kegiatannya menggulung kimbab, ketika mendengar bel pintu berbunyi. Hari ini ia sedang sibuk mempersiapkan bekal untuk perjalanannya ke Mokpo. Besok adalah hari peringatan kematian Ayah Donghae dan malam nanti ia dan Donghae berencana untuk berangkat ke Mokpo.

“Ah, siapa yang mengganggu siang-siang begini?” gerutu Eunhee sembari mencuci tangannya di wastafel.

Tepat ketika pintu terbuka, Eunhee terhenyak mendapati seorang kurir bertopi baseball abu-abu membawa sebuket bunga mawar merah yang masih segar. Mendadak, kenangan masa lalunya berputar begitu saja.

Tidak mungkin! Kurir ini pasti salah kirim, sangkal Eunhee dalam hati.

“Apa benar ini apartemen Nyonya Lee Eunhee?”

“Ne?” Eunhee membelalak lebar namun kemudian berdeham untuk menjaga wibawanya. “Ah, benar. Ini saya sendiri.”

“Kiriman buat anda. Silakan tanda tangani ini.”

Sepeninggal kurir itu, Eunhee masih terdiam di ambang pintu. Memandangi buket bunga mawar yang teronggok di hadapannya. Sadar hanya memandangi mawar itu tak akan membuatnya tahu apa yang terjadi, Eunhee meraih kartu ucapan yang tertempel di sana.

Pasti bukan dari Donghae… ya, pasti! Eunhee mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

  

Siang Bungaku… apakah kau senang aku mengirim teman untukmu? Tenang saja… kau lah yang paling cantik di antara mereka.

 

                                                              -Pengagummu ‘Sea’-

Lee Donghae… apa yang sebenarnya terjadi padamu? Pikir Eunhee bingung.

———————————————

Donghae merasa sedikit salah tingkah saat ia sampai di apartemen dan mendapati Eunhee menatapnya penuh selidik. “Hey, ada apa denganmu?” tanya Donghae berusaha terdengar santai sembari menyuap sepotong Kimbab ke dalam mulutnya.

“Harusnya aku yang bertanya padamu ada apa?” Eunhee menunjuk sebuket bunga mawar merah yang terpajang di sisi ruangan menggunakan gerakan kepalanya.

“Ah, bunga itu,” Donghae menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal. “Apa kau suka?”

“Lee Donghae, jangan mengalihkan pembicaraan!” desis Eunhee kesal.

“Aku tak mengalihkan pembicaraan,” bantah Donghae cepat, “Justru aku masih membahas masalah bunga itu.”

“Tapi kau belum menjawab pertanyaanku,” Eunhee berkeras dan menatap Donghae lurus-lurus.

Donghae meraih bahu Eunhee dan tersenyum hangat. “Apakah ada larangan seorang suami tak boleh mengirim bunga untuk istrinya?”

Eunhee mendengus, “Ini di luar kebiasaan Hae… kau tahu aku tak—“

“Ah, kau tak suka bunga?” Ada nada tak percaya saat Donghae mengungkapkannya. “Ayolah Hee… wanita mana yang tak menyukai bunga? Apalagi bunga itu dikirim khusus oleh seseorang yang sangat spesial,” Donghae mencubit hidung Eunhee lalu melangkah meninggalkan sang istri yang masih tertegun memikirkan ucapannya.

Baru beberapa langkah Donghae berjalan, lelaki itu berhenti dan memutar tubuhnya menghadap Eunhee yang masih diam di tempatnya. “Mulai sekarang, aku tak akan pernah absent mengirimimu bunga,” katanya riang, “Oh iya… jangan terlalu dipikirkan. Cepat berbenah saja, bukankah sebentar lagi kita akan berangkat ke Mokpo?”

Lee Donghae… hanya ada dua alasan kau berbuat aneh seperti ini. Yang pertama, kau memiliki affair dengan gadis lain hingga untuk menutupinya… kau berlaku seolah-olah sangat mencintaiku. Kedua, kau memang benar-benar tulus melakukannya… tapi yang membuatku heran… dari mana ia tahu kalau sebenarnya aku menyukai bunga pemberiannya?, pikir Eunhee bingung.

————————————-

Sementara sang istri sibuk mempersiapkan makanan untuk keberangkatan mereka ke Mokpo, Donghae yang masih penasaran dengan isi Diary Eunhee mengunci pintu kamar dan cepat-cepat menghampiri nakas.

“Aku yakin kau pasti kebingungan saat ini Lee Eunhee…” gumam Donghae geli sembari meraih Diary merah itu dan membawanya ke kursi santai yang terletak di dekat tempat tidur mereka. Kini, membaca Diary itu… menjadi sebuah candu tersendiri bagi Donghae.

-17 Oktober 2009-

Hallo Hae… karena ‘Dia’, aku hampir lupa mencurahkan isi hatiku padamu hari ini. Bayangkan saja… sejak pagi tadi, ia datang tanpa permisi ke Flatku dan membuat hari-hariku menjadi semakin indah. Oh, kau tahu? Aku sampai-sampai harus berlari ke kamar dan menyembunyikan mawar-mawar yang kemarin dikirimkannya agar ia tak menyadari kebohonganku kemarin.

Sebenarnya aku sedikit heran kenapa seharian ini ia bebas menghabiskan waktunya di tempatku. Dan saat aku bertanya, ia kembali membuat hatiku berbunga-bunga dengan kata rayuan yang diungkapkannya. Bahkan hingga kini, aku masih ingat betul isi pembicaraanku dengannya siang tadi, saat aku dan dia tengah asyik menonton DVD film terbaru yang sengaja disewanya sebelum ke mari.

Aku      : “Hae… aku heran. Kenapa seorang superstar sepertimu rela    membuang waktu percuma di Flatku di tengah hari sibuk begini. Sementara yang kutahu, jadwal pekerjaanmu sangat padat. Bahkan, kau sampai tak bisa memberiku kabar selama tiga tahun terakhir.”

Donghae : “Siapa bilang aku membuang waktu percuma? Aku di sini karena suatu hal yang sangat penting untuk masa depanku.”

Aku       : “Masa depanmu?”

Donghae : “Yeah, masa depanku. Aku tak ingin menyia-nyiakan waktu lagi. Impianku dan Appa sudah tercapai. Sekarang, saatnya bagiku untuk menggapai masa depanku.”

Aku       : “Jangan membuatku bingung dengan semua perumpamaan yang kau pakai.”

Donghae : “Itu bukan sekedar perumpamaan. Karena kau… adalah masa depanku! Dan aku tak mau kehilangan kesempatan mendapatkan masa depanku lagi dengan menyia-nyiakanmu!”

Oh… kau tahu Hae? Bagaimana perasaanku saat mendengarnya berkata begitu dengan mimik wajah serius yang membuatku ingin pingsan? Aku bisa gila! Bila saja ia tak di sana, mungkin aku sudah melompat kegirangan bagai anak kecil yang baru saja mendapat mainan yang diinginkan. Rasanya ada sesuatu yang hangat mengaliri jantungku. Bila aku sebatang lilin, pasti seluruh tubuhku meleleh saat itu juga karena kobaran api cinta darinya yang terus membakarku.

Yang bisa kuharapkan saat ini adalah, apa yang dikatakannya tadi bukanlah angin lalu yang hanya akan melambungkan harapanku tanpa bukti. Tapi setelah kuketahui belakangan bahwa seharian ini ia sengaja membolos dari latihan ‘Koreo’nya hanya demi menghabiskan waktu bersamaku, kurasa… ucapannya tadi bukanlah harapan kosong semata. Yeah, semoga saja harapanku benar!

Hmm… baiklah, ini sudah malam. Tak terasa, sudah dua lembar kertas aku habiskan untuk menceritakan kejadian hari ini. Oh ya… untuk membalas semua kebaikannya hari ini, aku berencana untuk mampir ke apartemennya besok. Dan aku sudah memesan beberapa cupcake sebagai buah tangan pada Bongsoo Ahjusshie—koki roti di toko tempatku bekerja.

Ah, doakan saja semoga esok hari menjadi hari yang tak kalah…

Belum selesai Donghae membaca, ketukan di pintu membuatnya terlonjak kaget dan dengan cepat ia menyimpan Diary mungil itu kembali di laci nakas.

“Hae… cepat buka! Apa yang kau lakukan di dalam? Kita harus segera berangkat ke Mokpo!” terdengar suara Eunhee dari balik pintu dan Donghae cepat-cepat membukanya. “Apa yang membuatmu begitu lama bersiap-siap?” gerutu Eunhee setelah pintu kamar terbuka lebar.

“Oh… aku… aku lupa di mana kuletakkan kunci mobilku,” dusta Donghae sembari memasang tampang dungu andalannya.

“Tapi kau tak perlu mengunci pintu hanya untuk hal semacam itu bukan?” lagi-lagi Eunhee menggerutu kesal.

“Maaf, tadi aku lupa membuka kunci setelah berganti pakaian,” balas Donghae sembari melirik arloji hitam yang kini melingkar di lengannya.

Sejenak Eunhee menatap Donghae heran tak biasanya sang suami mengunci pintu hanya untuk mengganti pakaiannya, tapi detik berikutnya wanita itu memilih untuk tak membahasnya lagi. “Apa kau sudah menemukan kunci mobilmu?”

“Sayangnya belum. Aku sudah—“

“Aigoo… kurasa kau yang perlu memeriksakan ingatanmu!” dengus Eunhee. “Aku ingat kemarin kau menyimpannya di laci meja kerja—“

“Omo! Kau benar!” potong Donghae yang sebenarnya tak melupakan tempat kunci mobilnya berada. “Kalau begitu, apa kita akan berangkat sekarang?” Donghae menghampiri sang istri dan merangkulkan lengannya di pinggang Eunhee. Mesra.

“Kau mau menunggu apa lagi?” Eunhee balas bertanya.

“Ya Tuhan! Jangan sewot begitu! Semenjak hamil, kau jadi semakin galak begini. Apa kau tidak takut anakmu juga akan sama galaknya denganmu?” goda Donghae yang mengundang dengusan keras Eunhee.

“Sudahlah! Sebaiknya cepat ambil kuncinya, kasihan Donghwa Oppa sudah menunggu terlalu lama.”

“APA?”

“Kau tidak dengar? Apa kau juga perlu memeriksakan telingamu?” balas Eunhee tenang walau sebenarnya ia sedang menyembunyikan seringainya di balik topeng tanpa ekspresinya.

“Kau bilang… hanya kita berdua yang…”

“Hey… tak bisakah kalian lebih cepat! Hari sudah mulai malam! Aku tak ingin Eomma khawatir karena kita tak kunjung sampai di rumah.” Donghae terkesiap mendengar suara sang kakak yang meneriakinya dari luar kamar.

“Ayo! Kita cepat per—“

“Lee Eunhee… apa kau beniat membuatku terbakar?” desis Donghae sembari menahan lengan Eunhee yang baru akan ke luar kamarnya.

“Oh, ayolah Hae… biar bagaimana pun dia kakakmu. Sampai kapan kau akan terus cemburu padanya?” balas Eunhee dingin lalu meninggalkan Donghae yang masih terpaku seorang diri di tempatnya.

Sial. Aku tahu dia kakakku. Tapi aku juga tahu bahwa dia juga mencintaimu sama besarnya seperti aku mencintaimu Lee Eunhee! Batin Donghae gusar.

TBC

Hueeeee… maapkan saya klo bagian ini gak menarik!! Aku udah kehabisan Ide! Tapi malah bikin ginian heuuuhh… Donghaaaaeeee!!! ><
Mohon komentarnya yahhh🙂

42 thoughts on “Eunhee’s Diary –EunHae ‘dating’ Moment- [Second]

  1. hohoho hae lucu bgt lo lg cmbru,q sk bgt eonni,tp malu jg lo bc diary na hee,jd ktahuan dh bo’ongnya,hahaha

    dtngu part slnjtny eon,fighting!!!!!

  2. kya!!! saeng… part ini sukses bikin aku senyam- senyum, cengar- cengir ga jelas tau (mulut kebuka lebar- lebar, gigi kering, untung nggak ada lalet masuk– ini apaan sih???)
    lucu, romantis.. aigoo so sweettt
    kkk ‘tampang dungu andalannya’ huahahahahaha
    waduh donghwa oppa dateng lagi, bete de ah..kenapa ga diem aja sih tu orang di Amrik, kalo gak salah terakhir di Amrik kan?? (reader gak penting -.-)
    ditunggu lanjutannya ya ssaeng.. gak sabar euy baca lanjutannya
    GO GO!!🙂

  3. seeng baca yg part ini…
    ecieee… eunhee ‘gk suka’ bunga yg dikasih Donghae, tp ttp dsimpen bunganya…. gengsi ya, bu??? hehehehe

    tu si Hae ngerjain bgt sih… seenanknya baca diary, yg merupakan barang paling pribadi bagi seseorang… gimana reaksi Hee klo tau selama ini diary dia dibaca Hae? apakah akan ngamuk2? we’ll see… hehehehe

  4. wah,, ampun deh, snyum2 geli bc part ini..keke
    eunhee jelas kebingungan tuh liat si Hae brskap tdk biasa..wkwk
    pnasaran lanjutnya, pnsaran jg liat skap eunhee kalo kthuan Hae bc diarynya..hehe
    lanjut Unn..!!:D

  5. wah eunhae couple muncul lgi.. *yeay qu aja yg telat*
    -___-
    couple ini sll menarik2 mataku tk sll ngikuti kisah mrk *lebeyy
    next story don’t so long..
    Lanjutkan!! *alapreside
    wk wk wk

  6. kyaaaa,,,,donghae-ah aq juga mau jadi yg pertama dihatimu*plak*
    bener” ya si hae,gombalnya ga ketulungan,cassanova sejati tuh orang,ckck,,,

    baca part ini bikin senyum” gaje sendirian kaya orang gila,,,
    si eunhee juga gengsian nih ye,,,*drajamhee*kkkk

    klo udah ada donghwa pasti bakal ada perang dunia ke 3*soktaubangetdeh*
    jadi penasaran nih,liat hae terbakar api cemburu karna hyungnya sendiri,,,

    aarrgghhh,,,pokoknya tiap part punya sensasi tersendiri deh,jadi ikut ngerasain deg”an nya si hae pas baca diary eunhee,takut ketauan,xixixixi

    ayo saeng,,,lanjutkan*ala pak beye*

  7. Huaaaaa…… *cium Hae* *d tabok Hee* Donghae mkin romantis >,<
    Aigoo… Eunhee bner'' naif, bilangnya ngak suka bunga eh… tpi bunga pemberian Donghae d simpen smp layu gitu
    4 jempol buat Eunhee, Hee paling jago buat Hae cemburu #prok prok prok

  8. unnie ini bagus kok, menarik, dan feelnya dapet

    part ini romantis banget >< bikin senyum ngembang mulu ditambah lagi Donghae yang suka banget ngegombal sama Eunhee kkk
    ah aku paling suka sama adegan kirim-kiriman bunga itu, andaikan Taemin mau ngirimin bunga juga *ngarep banget*

    dari tadi juga Eunheenya curigaan mulu sama Donghae, untung aja Donghaenya selalu punya cara buat ngeles dan kayanya tiap ada EunHae si Donghwa selalu muncul ya, tapi aku salut sama Donghwa dia selalu bisa bikin Donghae panas kk

  9. eeaa , hae cassanova tgkat atas , bsa meleleh tuh yeoja” kalo di gtuin ,
    tpi ntar ceritain yah gmana hae kebakaran di mbil wktu ke Mokpo ,😄

  10. ya ampun ya ampun..sukaaaaaaaaaaa banget sama ide ceritanya >,<
    apapun ide tentang ikan pasti suiiiiiit kke gula batu*plakk*
    bakar ajja noh si ikan dengan kemunculah hwa oppa,dia juga seenaknya membakar hati istri(?) nya dengan skinship dan piku2 dramanya*lempargranat*

  11. Aduh hae oppa udah mau punya aegi tetep z cemburu ma hyungnya sendiri.gimana reaksi hee yah klw tau hae oppa baca diarynya?

  12. Ci hae bner2 casanova tukang gombal!..
    Tpi kren bget dh gombalan’y?

    Klo aq digombalin kya gtu?
    Lsung klepek2 kali yh?

    Aigooo hae cemburu ko sama kakak sendiri?..
    Tpi penasarn sama cemburu’y hae?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s