Eunhee’s Diary –EunHae ‘dating’ Moment- [First]

-1’st-

Long Time No See

 

Saat tengah mencari passport dan visa yang lupa ia letakkan di mana, Donghae tak sengaja menemukan sebuah buku diary mungil bersampul merah dengan pita satin putih yang tersimpan rapi di laci nakas. Penasaran dengan isi dalam diary mungil itu, Donghae sejenak melupakan tujuan awalnya mencari passport dan visa lalu membuka simpul pita putih penutupnya dan mulai membaca halaman awal diary—yang ternyata milik Eunhee—itu.

 

-1 Oktober 2009-  

Hai Hae…

Hari ini aku baru saja sampai di Seoul. Tak kusangka, udara di sini jauh lebih dingin dari yang kukira. Begitu kakiku melangkah keluar dari KTX, aku langsung menggigil. Kurasa, udara di sini lima derajat celcius lebih rendah dari Mokpo. Aku menyesal tak menuruti pesan Eomma untuk memakai sweater hijau pemberian Appa saat ulang tahunku dulu. Padahal, sweater itu sangat hangat dan aku yakin tak akan menggigil begini bila memakainya.

Yeah, tapi syukurlah saat ini aku sudah tak kedinginan lagi. Flat sederhana yang dicarikan Donghwa Oppa kondisinya cukup baik untuk kutinggali, dengan sebuah kamar tidur dan ruangan lain berupa dapur juga ruang tamu yang menjadi satu. Flat ini juga cukup rapi dengan dinding berwarna broken white dan lantai parquet coklat tua. Kondisinya juga nyaman, walau jelas-jelas lebih nyaman bila berada di rumah sendiri. Huh… sekarang aku bisa merasakan bagaimana susahnya tinggal sendiri tanpa orang tua.

Tapi tenanglah Hae, aku tak akan menyerah begitu saja. Bisa kau bayangkan, hampir setahun aku berjuang agar dapat beasiswa dan mendapat kesempatan transfer kuliah dari universitas Mokpo ke Myeongji. Sudah pasti halangan kecil ini tak akan menggoyahkan tekadku. Yeah, aku sudah terlampau rindu pada seseorang yang hingga kini hanya bisa kulihat dari layar televisi. Dia jahat sekali padaku… setelah malam itu menyatakan cintanya di Airport—walau harus aku dulu yang mengungkapkannya—dia jarang sekali memberiku kabar. Hanya hari itu, tepatnya seminggu setelah kepulangannya ke Seoul. Dia meminta pendapatku tentang kesediaan seorang gadis untuk menanti. Kupikir saat itu ia hanya bercanda, jadi… kujawab saja sekenanya. Tak kusangka, setelahnya… ia tak pernah mengabariku lagi.

Kini aku lelah menantinya. Dia terlampau sibuk dengan semua kegiatan Super Junior-nya. Keraguan itu tak dapat dihindari. Hatiku pun sering bertanya-tanya, Apakah dia masih mengingatku atau mungkin sudah tak ada lagi diriku di hatinya. Hanya sesekali bila ia pulang ke Mokpo, aku bisa bertemu dengannya. Dan bodohnya aku, tak pernah sekalipun aku meminta kejelasan tentang hubunganku dengannya. Begitu pula dirinya, yang sama sekali tak menyinggung tentang hubungan kami.

Tiga tahun berlalu begitu saja. Apa menurutmu aku bodoh karena masih menantinya? Bahkan aku memanggilmu dengan namanya, berharap aku juga bisa sejujur ini padanya. Sementara ia sendiri, mungkin sudah melupakan pernyataan cinta bodohnya malam itu. Apalagi kini Super Junior sedang berada di puncak karir bernyanyinya setelah tahun 2007 lalu boyband itu sukses dengan single berjudul Sorry-sorry. Well, yeah… sepertinya aku memang harus menerima kenyataan bahwa ia memang tak lagi menginginkan gadis kampung sepertiku sebagai gadisnya. Tapi, tak bolehkah aku tetap berharap?

Hmm… membahas ini semua membuatku lelah. Kurasa aku benar-benar butuh istirahat karena mataku berat dan terasa sedikit panas. Aku berharap besok seluruh kegiatanku di kota ini berjalan dengan lancar. Selamat malam Hae… doakan aku mimpi indah!

Donghae mengangkat kepalanya dari buku itu. Sungguh tak terpikirkan olehnya bahwa keputusannya hari itu membuat Eunhee sengsara. Tanpa bisa dicegah, kenangan beberapa tahun silam melintas di otaknya.

——————————————–

“Hyeong! Akhirnya… Eunhee menerima cintaku! Dia juga mencintaiku Hyeong! Bahkan, ia dulu yang menyatakan cintanya padaku,” cerita Donghae penuh semangat pada Leeteuk sepulang dirinya dari Mokpo. Senyum ceria di wajah pria itu menunjukkan kebahagiaan yang kini dirasakannya.

“Kau tidak malu karena dia dulu yang menyatakannya?” Heechul yang baru muncul dari dapur ikut menimpali.

“Aiishh… aku hanya tak ingin menyakiti Donghwa Hyeong,” sungut Donghae kesal.

“Oh yeah, baiklah-baiklah… terserah padamu saja kalau begitu. Asal jangan sampai hubunganmu itu diketahui publik. Kalau kau tak ingin mendapat masalah,” Heechul memperingatkan sembari memakan coklat bar di tangannya.

“Iya, aku tahu,” balas Donghae lalu meraih ponselnya untuk menghubungi Eunhee. “Ah, Hyeong! Menurutmu… aku harus memberinya mawar merah atau putih?” tanya Donghae pada Leeteuk yang tampak sibuk menonton acara televisi yang menampilkan dirinya sebagai bintang tamu.

“Entahlah Hae, kalau kau tanya padaku. Aku akan memberi mawar putih, karena aku suka putih. Tapi itu tergantung keputusanmu, karena bukan aku yang berpacaran dengan Eunhee.”

“Siapa yang berpacaran?” seketika semua mata tertuju pada seseorang yang kini berdiri di ambang pintu.

“Oh, Hyeong! Ti—“

“Aku kan sudah bilang. Kalian baru setahun debut. Jangan membuat masalah dengan menjalin hubungan bersama wanita. Apa kalian tak ingat pernah menandatangani kontrak yang mengharuskan kalian terlihat sebagai pria lajang?” Semua terdiam mendengar perkataan Lee Jongjun salah seorang dari sepuluh manajer Super Junior. Tak terkecuali Donghae, lelaki itu bahkan menundukkan kepalanya dalam-dalam dan sama sekali tak berani menatap sang manajer. “Sudahlah, siapa pun dari kalian yang berpacaran. Sebaiknya pikirkan masak-masak, karena hal itu bukan hanya menyangkut dirimu secara pribadi. Tapi juga kelangsungan karir super junior di dunia hiburan. Kalian tak ingin bukan kalau grup yang baru kalian rintis hancur gara-gara kecerobohan kalian sendiri? Lagipula, jadwal kalian akan sangat padat sampai akhir tahun ini. Jadi, jangan harap kalian memiliki waktu untuk berkencan.”

Setelah mengungkap semua itu, manajer Super Junior itu pun pergi dari sana. Meninggalkan tiga orang lelaki yang masih terdiam tanpa kata. Termasuk Donghae yang kini mulai resah. Ia baru saja menyatakan cintanya pada gadis yang selama ini dicintainya. Mana mungkin ia bisa menghancurkan hubungan yang bahkan belum berjalan itu?

Donghae merasakan seseorang menepuk pundaknya. “Tenanglah Hae… jangan terlalu diambil hati. Kalau kau yakin kalian saling mencintai. Beri Eunhee pemahaman agar ia mau menunggumu hingga kau benar-benar bebas berhubungan.”

“Mana ada seorang gadis yang rela menunggu selama itu? Bahkan, jangka waktunya pun masih belum jelas.” Donghae terhenyak mendengar komentar sinis Heechul. Sedikit banyak apa yang dikatakan lelaki yang pernah tinggal serumah bersamanya itu ada benarnya.

“Lalu… aku harus bagaimana Hyeong?” rengek Donghae frustasi.

“Keputusannya ada padamu Hae. Terserah… kau tinggal memilih Super Junior… atau kekasihmu itu.”

“Heechul-a! Jangan bicara begitu!” protes Leeteuk sementara Heechul hanya mengangkat bahu cuek. “Aku hanya bicara kenyataan.”

Donghae menunduk dalam-dalam. Matanya mulai berair karena tiba-tiba rasa sesak melandanya. Tanpa bisa dicegah, Donghae kembali teringat pada mendiang sang Ayah. Bagaimana besarnya keinginan pria itu untuk dapat melihat Donghae sukses sebagai penyanyi. Cita-citanya yang sempat gagal beberapa tahun silam.

Appa… aku akan memenuhi mimpimu. Hee, kuharap… kau mau mengerti, batin Donghae pasrah.

————————————————-

Donghae menghapus titik bening yang berhasil lolos di kedua pipinya. Kenangan pahit yang sempat membuat Donghae goyah. Tapi ia bersyukur mampu melewatinya dengan baik. Penasaran dengan apa yang terjadi pada Eunhee selanjutnya, Donghae meraih diary mungil itu lagi dan membuka halaman berikutnya.

-2 Oktober 2009-

Ah, Hae… hari ini benar-benar melelahkan. Kau bayangkan saja, aku harus berjalan bolak-balik kampus Myeongji yang sangat luas itu hanya karena salah tempat herregistrasi. Menyebalkan! Bahkan tak ada seorang pun yang mengingatkanku akan hal itu. Yeah, harapanku untuk dapat menjalani hari ini dengan lancar sia-sia saja. Tapi syukurlah… semuanya terbayar karena kini aku sudah resmi tercatat sebagai mahasiswi transfer di departemen manajemen bisnis Myeongji.

Bukan tanpa alasan aku memilih kampus itu sebagai tempat kuliahku sekarang. Tentu saja karena aku dengar Dia kuliah di sana. Oh, aku bahkan mengikutinya sejauh ini. Tapi aku sadar, tak akan semudah itu bertemu dengannya. Aku juga sudah dengar kalau ia jarang kuliah karena kesibukan menggunung yang dijalani Super Junior saat ini. Bahkan aku pernah mendengar, ia nyaris keluar dari universitas itu. Aku berharap semua itu tidak benar!

Ah, sudahlah! Aku lelah terus membahas tentangnya. Sementara aku yakin, ia tak akan mungkin mengingatku setelah sekian lama terpisah. Hae, aku menyedihkan bukan? Aku bahkan masih berharap bisa bertemu dengannya lagi. Well, walau aku yakin bila kukatakan hal itu pada Donghwa Oppa, ia akan membantuku tanpa meminta balasan apapun. Tapi aku merasa tak enak padanya. Biar bagaimanapun… Donghwa Oppa juga memiliki perasaan yang wajib kuhormati.

Hmm… sepertinya sampai di sini dulu untuk hari ini. Aku sudah sangat lelah dan mengantuk. Sampai jumpa besok Hae… ^^

-3 Oktober 2009-

Ugh… hari ini benar-benar hari yang memalukan untukku. Bagaimana bisa aku berangkat ke Mall pada jam 7 pagi. Jelas sekali Mall itu belum buka. Rupanya kebiasaan belanja di pasar tradisional membuatku terbiasa bangun sepagi ini untuk berbelanja. Huh… aku harus lebih membiasakan diri dengan ritme kehidupan di kota besar. Tapi syukurlah aku berangkat sepagi itu, karena aku akhirnya bisa menghabiskan waktu di Hangang Park. Sebuah taman luas yang berada tepat di pinggir sungai Han. Taman itu tampak indah dengan guguran daun maple di musim gugur ini.

Seandainya aku bisa menikmati suasana seperti ini bersamanya…

Ah, tunggu dulu! bukankah sekarang musim gugur… Ya Tuhan! Beberapa hari lagi dia berulang tahun. Hae… aku harus memberikan apa untuknya? Baju? Tas? Sepatu? Topi?

Oh, tidak… kurasa dia tak butuh semua barang itu sekarang. Dia sudah punya banyak uang untuk membeli semua itu. Lagipula, dia tak akan pernah peduli aku masih ingat atau tidak pada hari ulang tahunnya.

Huh… baiklah. Berhenti membahasnya lagi… sebaiknya kita lanjutkan pembahasan tentang perjalananku di Hangang Park pagi tadi. Oh, kurasa kau akan senang mendengar ceritaku Hae. Karena kau tahu? Aku bertemu seseorang di sana. Yeah, walau bukan orang yang sangat ingin kutemui saat ini. Tapi dia cukup berarti untukku.

Ilwoo… sahabatku semasa SMA. Aku tak tahu dia juga melanjutkan study-nya di Seoul. Semenjak lulus SMA, aku jarang sekali berhubungan dengannya. Syukurlah kami bisa bertemu lagi. Kudengar dia sedang menjalani masa Trainee untuk menjadi seorang aktor di salah satu manajemen artis terkenal. Aigoo… kenapa semua orang di sekitarku sangat tergila-gila dengan dunia hiburan? Kurasa, dunia itu sama sekali tak ada bagusnya. Selain karena kita kehilangan privasi… hidup kita juga tak akan pernah tenang karena jadwal yang selalu tersedia sepanjang waktu.

Hmm… lagi-lagi pikiranku kembali padanya. Sudahlah… sebelum aku semakin mengeluh tentangnya yang tak kunjung ada kabar. Lebih baik aku tidur saja. Malam Hae…

Donghae menghentikan sejenak kegiatannya membaca. Dengan tak sabar, lelaki itu langsung melompati beberapa bagian curahan hati Eunhee yang dianggapnya tidak terlalu berarti. Sampai pada sebuah halaman yang membuat dirinya terbelalak menatap foto kecil yang sengaja ditempelkan Eunhee di sana.

-14 Oktober 2009-

Oh Tuhan! Aku bahkan masih menyimpan foto ini. Saat sedang membereskan lemari sore tadi, tak sengaja aku menemukan dompet lamaku yang terselip di antara berbagai berkas tak penting dalam laci. Kupikir, masih ada sisa uang yang lupa kuambil di sana. Karena kondisi keuanganku sedang memburuk, kiriman dari Eomma terlambat, juga upah yang kudapat dari bekerja paruh waktu di sebuah toko roti tak cukup untuk menghidupiku. Tapi ternyata, justru foto ini yang kutemukan.

Haha… dia lucu kan Hae?? Apa kau tahu ini hewan apa? Keledai? Tapi kenapa buntutnya seperti rakun?

Oh, kurasa tak akan ada yang bisa menebaknya. Dia sendiri juga tak tahu saat kutanya itu kostum apa? huh… dia memang bodoh! Tapi sialnya, aku menyukainya.

Ssstt… kau jangan bilang-bilang. Hari itu aku sengaja membawa foto ini tanpa sepengetahuannya… Bahkan, ia sama sekali tak menyadari kalau salah satu foto masa kecilnya hilang. Yeah, kurasa dia memang benar-benar bodoh! Lee Donghae bodoh! Dan aku bodoh telah menyukainya…

Donghae terkekeh pelan sembari menyentuh foto dirinya semasa kecil yang tengah menggunakan baju boneka lucu. Entah ia juga tak tahu itu hewan apa. Yang ia tahu, saat itu sedang ada pesta kostum di sekolahnya.

Sial kau Lee Eunhee. Ternyata kau yang menyimpan foto ini. Pantas saja kucari kemana pun tak bisa kutemukan, batin Donghae geli lalu membuka lembar berikutnya diary itu.

Omo! Aigoo… apakah ini tanggal 14 Oktober? Besok dia berulang tahun! Bagaimana aku bisa lupa? Hmm… baiklah. Sudah kuputuskan. Walaupun ia tak lagi mengingatku… aku akan mencoba mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Yeah, sepertinya aku harus menahan ego-ku sendiri. Setidaknya, ia tahu kalau aku masih ada dan mengingatnya.

Donghae sekali lagi berhenti membaca karena tiba-tiba ia teringat saat pertama kali bertemu kembali dengan Eunhee setelah sekian lama terpisah. Hari itu, hari ulang tahunnya tiga tahun silam.

———————————

Donghae menggerutu pelan. Hari ini tepat ulang tahunnya yang ke 24, tapi tak ada satupun teman-temannya yang mengucapkan selamat padanya. Walaupun kini fanbase-nya sudah ramai mengungkapkan suka citanya atas hari special sang idola. Tapi semua itu belum lengkap bagi Donghae selama orang terdekatnya belum mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan Leeteuk yang satu kamar dengannya hanya mengucapkan selamat pagi sebelum pergi menghadiri suatu acara.

Duduk sembari menopangkan dagu pada kedua tangan yang terlipat di atas lututnya, Donghae sama sekali tidak memperhatikan acara TV yang sedang ditonton Kangin. Pikirannya melayang pada sosok gadis yang hingga kini masih mengisi bagian terdalam di hatinya.

Bila aku diberi kesempatan untuk meminta suatu permohonan. Ada dua hal yang ingin sekali kulakukan saat ini. Pertama, dapat melihat Appa dan berbicara berdua lagi dengannya. Kedua, menghabiskan waktu bersama Eunhee, walau hanya sekedar duduk berdua di sebuah taman kota atau mengobrol di sebuah danau yang hanya ada kita berdua.

Ditengah-tengah lamunan panjangnya, Donghae dikejutkan oleh getaran ponselnya yang ia letakkan di sisi kiri sofa. Sebuah panggilan dari Kim Heechul. Mendadak raut wajah Donghae berganti ceria. Berharap, Heechul akan mengucapkan selamat padanya.

Kau memang Hyeong terbaikku! Batin Donghae senang.

“Yeobose—“

“Hae, bisakah kau ke Hangang cafѐ? Aku lupa membawa dompet. Padahal sudah dua donat dan satu coklat panas kuhabiskan. Aku tahu kau sedang tak ada kegiatan hari ini. Jadi, kau pasti mau membantu Hyeong kesayanganmu ini kan?”

Donghae mendengus. Seketika ekspresi bahagia itu hilang dari raut wajah Donghae.

“Hae, kau masih mendengar—“

“Ne, arasseo! Aku akan ke sana beberapa menit lagi,” balasnya lalu tanpa menunggu Heechul menjawab lelaki tampan itu menekan tombol off.

Sial! Aku terlalu banyak berharap, batin Donghae frustasi.

 

Langkah Donghae terhenti tepat di depan pintu cafѐ ketika alih-alih bertemu Kim Heechul, dirinya justru mendapati seorang gadis bergaun putih pastel dan syal merah maroon yang sudah tak asing lagi baginya. Rambut hitam gadis itu diikat membentuk ekor kuda dan hanya menyisakan helaian-helaian pendek di kedua sisi telinganya.

“Eunhee?!” sebut Donghae pelan. Terlalu terkejut untuk bereaksi. Matanya tak lepas meneliti sosok gadis di depannya. Takut kalau-kalau hal ini hanya khayalannya semata.

Gadis itu tersenyum melihat ekspresi terkejut Donghae. Senyum yang selama ini sangat dirindukan lelaki itu. Satu tahun lebih ia tak bertemu semenjak terakhir kali dirinya pulang ke Mokpo. Dan selama itu pula Donghae mencoba menahan rasa rindunya dengan menyibukkan diri dalam berbagai macam pekerjaan. Walau sangat menyiksa, Donghae berusaha tetap bertahan demi mencapai semua mimpinya… yang juga merupakan mimpi Ayah tercintanya.

“Kurasa kau memang sudah melupakanku.”

“Huh?” Donghae tersentak dan baru sadar bahwa ia sudah terpaku cukup lama. Kehadiran gadis di depannya seolah menarik seluruh perhatian Donghae. “Mian… mana mungkin aku melupakanmu Hee?”

Gadis itu lagi-lagi tersenyum, menimbulkan desiran hangat di sudut hati Donghae. Ya, tentu saja ia masih sangat mencintai Eunhee. Hanya karena dirinya takut mengecewakan sang Ayah, member Super Junior, penggemarnya juga Eunhee sendiri, Donghae berusaha menahan hasrat cintanya untuk gadis itu.

“Apa yang kau lakukan di sini? Di mana Heechul Hyeong?” Donghae berhasil bertanya setelah meminta Eunhee untuk memilih sebuah meja yang terletak dekat dengan jendela besar di bagian depan cafѐ.

“Apa kau kecewa karena yang kau temui bukan Heechul Oppa?”

Cepat, Donghae menggeleng. “Tentu tidak!” Bagaimana aku bisa kecewa bila orang yang paling ingin kutemui justru berada di depanku, batin Donghae senang.

“Hmm… syukurlah kalau begitu.” Hening. Donghae sama sekali bingung untuk bereaksi. Keterkejutannya bahkan masih belum hilang. Ia sama sekali tak menyangka bahwa salah satu dari dua harapan terbesarnya hari ini langsung dikabulkan Tuhan.

Donghae merekam banyak-banyak setiap detail di wajah gadis itu, seolah-olah ia tak akan bisa bertemu lagi dengannya. “Kau belum menjawab pertanyaanku,” Donghae bersuara dan Eunhee mengangkat wajahnya menatap Donghae. “Apa yang kau lakukan di Seoul?”

“Aku… kuliah di sini.”

“Apa?” Donghae membelalak lebar. “Tapi… kenapa kau tak pernah bilang bahwa kau berada di kota yang sama denganku?”

Eunhee terkekeh pelan hingga Donghae semakin kesal. “Bagaimana aku bisa memberitahumu kalau kau selalu sibuk?”

Donghae terdiam. Apa yang dikatakan Eunhee memang benar. Ia terlalu sibuk untuk dapat mengurusi hal semacam ini. Beruntung, saat ulang tahunnya… ia mendapat jatah libur sehari. “Tapi setidaknya… kau menghubungiku.”

“Apa kau pernah menghubungiku?”

Sekali lagi Donghae tertegun. Eunhee memukulnya telak dua kali dalam satu serangan. “Mianhae…” gumam Donghae penuh sesal.

“Sudahlah, tak usah membahas itu,” sergah Eunhee cepat. Gadis itu pun merasa tak nyaman setiap kali pembicaraan mencapai pada hal sensitif itu. “Sekarang aku menemuimu untuk merayakan ulang tahunmu. Jadi, apapun yang kau inginkan. Akan kuturuti.”

Seketika aura cerah tergambar jelas di wajah Donghae. “Jinja?” 

Eunhee mengangguk. “Katakan apa yang kau inginkan. Tapi jangan memintaku membelikanmu sesuatu yang sangat mahal. Aku bukan gadis kaya yang—“

“Temani aku seharian ini!” potong Donghae cepat lalu meraih lengan Eunhee dan menariknya ke luar cafѐ setelah sebelumnya meletakkan beberapa lembar won untuk membayar makanan dan minuman mereka.

———————————–

Donghae tersenyum lebar. Pertemuan pertama yang begitu indah, begitu pikirnya. Perhatian lelaki itu kembali pada diary kecil di pangkuannya. Membelai lembut permukaan kertas berisikan tulisan tangan Eunhee dan membacanya.

 

-15 Oktober 2009-

Hae!!! Oh, aku kelewat bahagia hingga aku bingung harus menceritakannya dari mana. Hari ini adalah hari terindah dalam hidupku. Setelah sekian lama terpisah. Akhirnya aku bisa bertemu lagi dengannya. ‘Dia’ semakin tampan! Aku nyaris saja tak mengenalinya. Rambut hitam lurusnya agak sedikit panjang dan bergelombang. Aku tak pernah berpikir ia bisa semempesona ini. Sepertinya aku mulai gila!

Ah ya… yang terpenting dari semua itu adalah… DIA SAMA SEKALI TAK MELUPAKANKU!!! Lelaki bodoh itu masih mengingatku! Hae… aku bahagia sekali.

Dan yeah, sepertinya aku harus berterima kasih pada Heechul Oppa… tadi, saat aku akan naik ke dorm Super Junior untuk melaksanakan tujuanku semula… aku bertemu dengannya di Lobby. Dan dia memberiku penawaran untuk mempertemukan aku dengan Donghae di sebuah cafѐ yang letaknya tak jauh dari Hangang Park. Entah apa alasannya berbuat sebaik itu padaku. Yang jelas, ia sama sekali tak meminta imbalan. Syukurlah ‘Dia’ memiliki orang-orang sebaik itu di sekelilingnya.

Hmm… hari ini benar-benar indah! Cukup lama aku menghabiskan waktu berdua dengannya di pinggir sebuah danau buatan di tengah-tengah Hangang Park… walau cuaca sangat dingin di pertengahan musim gugur ini… aku sama sekali tak merasa kedinginan. Karena… aku sudah menemukan kehangatanku kembali. Yeah, sepertinya aku sudah pantas menjadi seorang pujangga.

Aku dan ‘Dia’ banyak bercerita. Tentang semua yang kujalani dan dijalaninya selama ini. Dari semua yang diceritakannya… aku jadi tahu bahwa ia tak memiliki pilihan lain selain bekerja keras untuk mewujudkan mimpinya dan sang Ayah. Aku bangga padanya Hae… pada usia semuda itu, dia sudah menemukan tujuan hidupnya. Berbeda denganku yang masih bingung menentukan jalan hidupku sendiri.

Oh ya… satu lagi yang membuatku tak kalah bahagia hari ini. Besok, ia berjanji untuk menghubungiku lagi, setelah tadi kami saling bertukar nomor ponsel terbaru. Huh… aku berharap, penantian panjangku sama sekali tidak sia-sia.

Baiklah Hae… ini sudah malam. Aku benar-benar lelah. Lelaki bodoh itu sama sekali tak mengijinkanku beristirahat seharian ini. Ia terus merengek, merajuk dan memohon seperti anak kecil. Terkadang bila bersamanya… aku jadi lupa siapa yang lebih tua di antara kami. Itulah sebabnya aku tak pernah menyebutnya ‘Oppa’, walau usianya jelas lebih tua dariku.

Sekali lagi… selamat malam Hae~~

Donghae tersentak ketika mendengar decit pintu kamarnya dan saat itu juga member Super Junior itu menyembunyikan kembali Diary yang ada di pangkuannya ke dalam laci nakas. Benar dugaannya… Eunhee baru saja pulang dari kantor dan istrinya itu terlihat mengerutkan kening heran mendapati Donghae di sana.

“Hae, bukankah kau seharusnya sedang latihan?”

“Uh, oh… yeah… begitulah! Aku tadi melupakan tempatku menyimpan visa dan passport-ku, padahal bulan depan keduanya mati. Jadi, Nona Jung memintaku membawanya ke kantor.”

Aigoo… kau ini bagaimana sih? Bukannya kau sendiri yang meletakkan passport dan visa-mu dalam lemari pakaian,” Donghae mendengar Eunhee mengomel dan berjalan mendekati lemari kayu berwarna coklat tua yang terletak di sudut ruangan lalu membuka lebar-lebar pintunya. “Lihat! Kau meletakkan visa dan pass—“ Eunhee menghentikan omelannya ketika merasakan dua tangan hangat kini melingkar di pinggangnya. Desir hangat mengaliri jantungnya seketika itu juga.

“Itu hanya alasanku agar tak pergi dari rumah,” Eunhee begidik ketika merasakan desah hangat nafas Donghae saat lelaki itu berbicara tepat di dekat tengkuknya.

“Ayolah Hae, udara sangat panas siang ini. Aku akan mengganti pakaianku dulu,” balas Eunhee lalu meraih lengan Donghae yang masih setia melingkar di pinggangnya.

Tapi Donghae berkeras, lelaki itu justru semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Eunhee, membuat wanita itu semakin heran dengan tingkah sang suami.

“Apa kau salah makan sesuatu?”

Eunhee bisa merasakan kepala Donghae menggeleng. “Hee, bagaimana kalau kita berjalan-jalan ke Hangang Park sore ini?”

“Apa?”

TBC

Hiyaaaa…. Otte?? Jelek kah?? Aku bingung ngeMix masa lalu ama masa sekarangnya hehe… MianHAE klo hasilnya GaJe.
Oiyaa… yg tulisan warna biru itu tulisan di Diary-nya Eunhee yah🙂
Mohon komentarnya ^^

40 thoughts on “Eunhee’s Diary –EunHae ‘dating’ Moment- [First]

  1. Daebaaakkk saeng..tp koq cepet banget yaa kurang panjang aahh kkk~~

    Sedih baca diary nya Eunhee..Donghae waktu itu bener2 jahat sm Eunhee gak ksh kabar sm sekali😥

    Ditunggu kelanjutannya yaa saeng ^^

  2. keren unn..:)
    ih, ank kcil yg pke kstum hwan bnran donghae Unn? imutnya..:D
    critany eunhee manis, krg pnjg emang, tp ckup puas deh..:D

  3. kangen Donghae! *inikomenapa*

    eonnie…. scene terakhir bikin aku envy :3 yaTuhan! btw, EunHae moment yg pertama ya mana sih eon? ahiya satu lagi, kurang panjang haha..

  4. Ommooo saeng ini enak bgt dibacanya..
    Aku suka banget ngebaca tiap moment maupun cerita2nya eunhee ma hae.. baca ini bikin tau perasaannya hee yg mesti sabar nungguin hae.. so sweeettt

    bonus poto imut hae kecil,,,ampunn (MAU!!!)
    ditunggu lanjutannya ya saeng
    Salam,eonni imut-ga penting🙂

  5. daebak eon!!!!!knp rsanya kyk bca crta ttg khidupn aslinya donghae oppa ya…hehehehe
    crtnya mnyatu bngt eon,,g sbr pngn bca Diary na hee slnjtnya….^^
    Eonni FIGHTING!!!!!!

  6. eonniyaaaaa,….hehehe
    Saeng bca,..hihihihi
    Hua, memori neh cerita.a, FF JiKyu yg memories wktu mrk pcran blom jg liris malah eon duluan yg jadi,..kekekeke

    hihihi, kyk.a ad yg jd pujangga cinta,..ehm
    keren”, hee dri sikap cuek.mu ternyata kau sangat” mencintai hae,…buhahaha

    • hahaha… begitulah!! abisnya ada yg minta masa pacarannya EunHae… jadilah aku muter otak dan ketemu cara ‘jitu’ biar ceritanya tetep lanjut dan nyambung ekkekek

      ayolah bikin buruan Jikyu Moment-nya ^^

  7. Aaaaaaa as usual, bikin perasaan campur aduk.
    Terharu waktu baca segitunya perjuangan eonni di seoul.
    Seneng waktu akhirnya mereka ketemu lg.
    Ih mengenang masa lalu memang indah.. Huaaaaaa

  8. saengie,,,,,,,*teriak histeris*
    ini keren banget,,,
    dari awal oen ngikutin smua ff kamu,menurut oen kemampuan menulis kamu makin lama makin bagus,bahasanya juga makin mudah di pahami,,,simple tapi semua inti cerita tersampaikan k reader dgn baik,,,
    maklum oen kadang suka bingung klo baca ff yg penuh dgn perumpamaan dan istilah,jadi oen suka ff kamu yg ringan tapi tetep daebak🙂

    lanjut lagi saeng,,,oen setia menanti kelanjutannya nih😉

    • Aigooo Eonnie!!! satu lagi nih Eonnie-ku yg pinter banget bikin kepalaku gede haha😄
      Makasii Eon!! justru semangat abis baca komen2 kalian yg bikin aku punya semangat belajar nulis lebih baik lagi🙂

      Aku juga bingung Eon klo disuru ngerangkai kata2 indah gitu… suka lelot di otak..jadilah bikinnya yg ada apanya.. eh, apa adanya ajah ^^

  9. kerreeeen unniee..

    unnie bisa banget bikin perasaan campur aduk hua sedihnya sih yang berasa pas ngebaca diary Eunhee

    ngebaca tiap-tiap usaha yang dia lakuin buat ngejar Donghae sampe dibela-belain ke Seoul tapi namanya kerja keras pasti berbuah manis. Eunhee & Donghae akhirnya bisa ketemu lagi ^^

  10. Diary Eunhee bner” ngena(?) bngt T.T
    Aaaahh… foto Hae waktu kecil lucu bngt, Hae bleh bawa pulang ngak??? #d rajang Hee
    Hiyaaaaa yeobo-ku baik hati, mempertemukan Donghae dan Eunhee kembali aaaahhh >,< #cium Heechul

  11. meski telat banget..banget bacanya tp lbh baik telat kan drpd kaga sama sekali..kekeke

    no comment saeng.. aku bnr2 nikmatin baca FFmu… alur ceritanya ga rumit… ngalir gthu ajah ky air mengalir di sungai Han*ngaco*
    berasa nonton drama… hihihi

    aku akan menjelajahi WPmu brg si Bolang..
    beranggggkkkaaaaatttttt….!!!!

  12. Kasian ma eunhee,harus merasakan 1thn tanpa dapat kabar dari hae oppa.tapi apa boleh buat aku ngerti ko klw hae oppa melakukan ini juga untuk eunhee juga.

  13. itu crtanya nama diarynya eunhee ‘hae’ yaa??
    agak bingung,, tp overall keren kok eon, kalimatnya tertata dgn rapi n enak d baca
    btw,, fotonya kyeoptaaaa😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s