Memories of Youth -Book 3-

-Book 3-

Revealing Something

 

 

 

 

-Cho’s House-

Saehyun membolak-balik halaman buku tebal berjudul “Rekayasa Genetika” di tangannya namun tak ada satu kalimat pun yang berhasil ia baca. Tatapannya memang tertuju pada buku tebal itu, tapi pikirannya jelas-jelas melayang memikirkan sang pemilik yang pagi tadi meminta Saehyun membaca buku itu.

Berbagai pertanyaan muncul dalam benak Saehyun. Memikirkan berbagai macam kemungkinan Kibum meminjamkan dan memintanya mempelajari buku itu. Sedangkan bila dirunut dari kejadian sebelumnya, Kibum tahu bahwa Saehyun sengaja memata-matai dirinya hanya agar gadis itu tak kalah bersaing dengannya.

Jangan-jangan… ia sengaja meminjamiku buku ini untuk meledekku secara samar? “Ashh… sial!” Saehyun menutup buku tebal itu kasar, hingga menimbulkan bunyi berdebum yang agak keras. Gadis itu lalu beranjak dari meja belajarnya dan melemparkan tubuh pada ranjang berhias sprei katun biru pekat di sampingnya.

Untuk sejenak, Saehyun terdiam. Menatap kosong langit-langit kamarnya. Namun sejurus kemudian, Saehyun bangkit sambil mengacak-acak rambutnya ketika tiba-tiba saja ia melihat bayangan wajah Kibum lengkap dengan senyum misteriusnya di atas sana.

————————————-

“Sudah membaca ini? Pelajarailah!” Saehyun hanya bisa melongo memandangi buku “Rekayasa Genetika” yang disodorkan Kibum padanya, sementara lelaki itu menunjukkan senyum khas-nya yang tanpa sadar membuat sesuatu dalam diri Saehyun berdesir.

“Ke-kenapa kau… meminjamkannya padaku?” Saehyun menyumpah dalam hati. Ia kesal ketika merasakan kemampuan verbalnya menciut hanya karena melihat senyum menawan itu.

“Baca saja!” balas Kibum singkat lalu mengeluarkan buku lain dari dalam tas-nya.

“Kau tidak bermaksud meledekku?” Gadis itu kemudian berdiri tepat di samping meja Kibum membuat lelaki itu mengangkat wajahnya dari buku yang sebelumnya ia baca.

Lelaki itu kembali tersenyum hingga degup jantung Saehyun lagi-lagi memuncak. “Kalau kau merasa begitu, lebih baik tidak—“

“Baiklah!” Saehyun menahan buku yang akan ditarik kembali itu dan memasukkannya ke dalam tas. “Kuharap kau tak salah paham dengan maksudku,” tambah Saehyun yang lagi-lagi mengundang senyum pria itu. 

Apa dia bisu? Kerjanya hanya tersenyum… tersenyum dan tersenyum. Menyebalkan!, keluh Saehyun dalam hati.

——————————————–

Saehyun melirik kembali buku tebal yang masih setia di atas meja belajarnya setelah mengulang memori-nya tentang kejadian pagi tadi. Wajah gadis itu mendadak menjadi cerah ketika kemungkinan lain melintas di pikirannya.

Atau jangan-jangan… lelaki itu sengaja melakukannya agar ia bisa lebih dekat denganku?

Saehyun cepat-cepat kembali ke depan meja belajarnya. Meraih dan membuka secara acak buku tebal itu sambil sesekali mengguncangnya seolah sedang mencari sesuatu yang terselip di dalamnya. Rona kecewa kembali terbentuk di wajah cantiknya, kala ia tak berhasil menemukan yang dicarinya.

“Saehyun bodoh! Mana mungkin kau berpikir ia memberimu surat cinta seperti jalan cerita di drama-drama Romantis-cengeng yang sering ditonton Eomma itu?” Gadis itu menggerutu sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.

“Sepertinya kau mulai gila karena berbicara pada buku!”

Saehyun terlonjak kaget dan seketika melompat dari kursinya ketika mendengar suara Kyuhyun dari ambang pintu. “Oppa, bisakah kau mengetuk pintu dulu sebelum masuk?” keluh Saehyun kesal.

“Aku sudah mengetuknya sampai jariku lecet, tapi kau tak juga membukanya,” sungut Kyuhyun berlebihan yang mengundang dengusan keras sang adik.

“Apa maumu? Aku mau belajar!”

“Aku baru tahu kalau cara belajarmu dengan mengomel sendiri,” sindir Kyuhyun lagi hingga detik itu juga sebuah bantal Hello Kitty melayang dan telak mengenai wajahnya.

“Katakan saja apa maumu!” perintah Saehyun tak sabar. Ia benar-benar malas menanggapi keisengan saudara kembarnya itu.

“Ini!” Kyuhyun melemparkan gantungan ponsel berbentuk bintang ke ranjang. “Kembalikan itu pada temanmu! Tadi terjatuh saat di mobil.”

“Tunggu!” Kyuhyun mengurungkan niatnya menutup pintu kamar ketika mendengar teriakan Saehyun. “Apa yang kau maksud itu… Jiae Eonnie?”

Saehyun bisa melihat ekspresi Kyuhyun mengeras. “Siapa lagi yang menumpang di mobil kita selain dia?”

“Oppa! Sampai kapan kau akan terus marah padanya?” Saehyun menahan pergelangan tangan Kyuhyun sebelum lelaki itu sempat mengelak.

“Itu bukan urusanmu!” balas Kyuhyun datar lalu menepis cekalan Saehyun di lengannya.

“Tapi Oppa—“

BLAMM!!! Pintu tertutup keras hingga Saehyun tak sempat menyelesaikan bantahannya. Gadis itu lantas duduk di ranjang. Meraih gantungan ponsel berupa bintang itu dan menghela nafasnya berat.

“Padahal, dulu mereka begitu dekat…” lirih Saehyun pilu.

-Ka Night Club & Bar, Hongdae-

Alunan musik menghentak juga bau alkohol yang menyengat tak membuat Eunhee mengurungkan niatnya masuk. Gadis itu seolah tak peduli dan menggunakan hak priogritasnya sebagai putri pemilik Bar untuk dapat masuk walau jelas-jelas usia-nya belum memenuhi syarat yang ditetapkan. Eunhee sengaja memilih sofa terjauh dari meja bartender karena tak ingin Eric memergokinya. Berbeda dengan malam sebelumnya, kali ini Eunhee tak memiliki kepentingan yang bisa dijadikannya alasan pada sang Ayah bila lelaki itu bertanya, hingga ia memilih untuk bersembunyi di tengah hiruk-pikuk pengunjung bar.

Senyum gadis itu terkembang kala menemukan sebuah sofa yang menurutnya sangat strategis. Cukup jauh dari jangkauan bartender seperti Eric, namun cukup dekat untuk dapat menyaksikan aksi Donghae di kerajaan DJ-nya. Yeah, memang alasan utamanya datang malam ini adalah demi melihat aksi memukau Donghae. Namun gadis itu tetap tak mau mengakui bahwa dirinya mulai tertarik pada lelaki misterius itu.

Duduk dengan menyilangkan kakinya, Eunhee tak mengalihkan pandangannya dari Donghae. Gadis itu seolah tersihir dengan kemampuan Donghae memainkan piringan hitam itu membentuk alunan musik menghentak yang menyenangkan. Sejauh mata memandang, pengunjung Bar tampak asyik menari di tengah hentakan musik yang dimainkan Donghae.

Ini tak bisa dipercaya, dari mana dia mempelajarinya? Sementara bila dilihat dari prestasinya di sekolah, sungguh sangat bertolak belakang, pikir Eunhee bingung.

Gadis itu mendesah kecewa ketika lagu berakhir, Donghae digantikan oleh seorang temannya. Sementara lelaki itu pergi entah ke mana. Mungkin istirahat sejenak, begitu pikir Eunhee.

“Sendirian saja, cantik?” Eunhee tersentak merasakan sebuah tangan menyentuh pahanya yang hanya tertutup mini skirt berwarna pink pucat dan cepat-cepat menggeser tubuhnya ke sisi sofa yang lain ketika didapatinya seorang pria besar tengah melayangkan senyum menggoda padanya. Pria besar dengan rambut cepak itu ikut menggeser tubuhnya mendekati Eunhee. “Jangan takut, cantik. Aku hanya ingin menemanimu.”

“Lepaskan!” jerit Eunhee panik ketika tangan pria itu dirangkulkan pada pundaknya. Ekspresi datarnya mendadak pecah menyadari lelaki hidung belang tengah mencoba merayunya. Detik itu pula, Eunhee menyesali keputusannya sendiri yang tak pernah memikirkan bahayanya pergi ke Bar seorang diri.

“Ayolah! Oh, bagaimana mungkin kau datang ke Bar tanpa meminum apa pun,” lelaki hidung belang itu melancarkan rayuannya sembari melambaikan tangannya pada pelayan yang lalu-lalang di sekitar sana.

Eunhee mendesis frustasi, berulang kali mencoba melepaskan diri dari pria itu. Awas saja kau Lee Donghae, kalau bukan karena kau… aku tak akan begini, makinya dalam hati. “Lepaskan aku! Aku bukan gadis murahan seperti yang kau kira!” desis Eunhee frustasi lalu melayangkan tas tangannya telak mengenai wajah si pria besar itu.

“Sial! Kau mencari masalah denganku gadis kecil?” erang pria itu lantas merengkuh tubuh Eunhee hingga gadis itu meronta tapi kerasnya musik di ruangan itu seolah-olah meredam teriakan Eunhee.

“Lepas! Hey, aku akan menga—“

“Lepaskan dia!” Eunhee menegang mendengar suara lantang itu.

Donghae?!

“Oh, kau kekasihnya?” lelaki bertubuh besar itu membalas dengan seringai mengejek, sementara Eunhee cepat-cepat menyembunyikan wajahnya di balik rambut hitam panjangnya yang malam ini ia biarkan tergerai. Takut kalau-kalau Donghae atau pegawai sang Ayah yang lain mengenalinya. “Sayang sekali cantik, kau mengajak lelaki lembek tak berguna ini ke mari,” olok lelaki itu.

“Apa katamu?” protes Donghae. “Lepaskan dia! Lawan aku kalau kau mau. Jangan menggoda gadis tak berdaya sepertinya.”

Lelaki besar itu mendengus. “Baiklah! Siapa takut pemuda bodoh!”

“Hey, hentikan!”

Jeritan Eunhee sama sekali tak berguna karena saat itu juga kedua lelaki itu saling menyerang hingga keributan pun tak dapat dihindari. Beberapa pengunjung menjerit histeris ketika lelaki besar itu berhasil menjatuhkan Donghae dengan satu hantaman keras di wajahnya. Tak terkecuali Eunhee, gadis itu bahkan sudah beranjak dari tempatnya untuk membantu Donghae berdiri tapi pria itu sudah lebih dulu bangkit dan berhasil memiting lengan pria besar itu lalu mendorongnya ke sisi ruangan. Sekali lagi gadis itu dibuat terperangah dengan kemampuan Donghae. Walaupun tubuh Donghae kalah besar dengan lelaki itu, tapi Eunhee bisa melihat kelincahan teman sekelasnya itu dalam mengelak setiap pukulan demi pukulan yang dilancarkan lelaki hidung belang itu padanya.

“Hey, hey… ada apa ini?” Eunhee mendadak merasa lega ketika mendengar suara Eric yang berhasil menggagalkan serangan lelaki besar itu pada Donghae.

“Eric!” jerit Eunhee lega, namun berbeda dengan pria itu. Ia tampak terkejut melihat Eunhee di sana.

“Hee? Kau—“

“Cepat bantu dia!” potong Eunhee cemas. Tanpa berkata apapun lagi Eric memanggil beberapa security untuk melerai keduanya.

————————————-

“Apa yang kau lakukan di sini Hee? Jangan bilang kau ingin menjemput Ayahmu lagi. Karena setahuku, Tuan Lee sedang tidak di tempat,” Eric langsung memberondong Eunhee dengan berbagai macam pertanyaan ketika dirinya kini berada di kantor sang Ayah.

Eunhee meringis bersalah, ekspresi yang jarang sekali diperlihatkan gadis itu. “Oppa,” Eric terkejut ketika tiba-tiba gadis itu merangkul lengannya. “Kau janji… tak akan mengadukannya pada Appa bukan?”

“Tsk, jadi benar… kau ke mari atas kemauanmu sendiri?” Eric mendesis.

Eunhee merengut lantas melepaskan rengkuhannya di lengan Eric. “Ayolah! Please! Kau yang terbaik,” bujuk Eunhee tak mau menyerah.

“Hmmm… baiklah,” Eric tampak menimbang-nimbang. “Tapi ada satu syarat yang harus kau turuti.”

Senyum yang terkembang di bibir Eunhee seketika menghilang mendengar gumaman Eric. “Apa? Jangan coba-coba memerasku! Aku bukan Appa, jadi aku tak punya banyak uang.”

Eric terkekeh pelan. “Untuk apa aku memeras gadis ingusan sepertimu!”

“Hey!” Eunhee mendelik sewot. “Katakan saja apa syaratnya?”

“Syaratnya adalah… katakan padaku, apa alasanmu ke mari malam ini?”

-Shin’s House-

Jiae merutuk kesal. Matanya tak lepas memandangi ponsel flip-nya yang kini seolah kehilangan sesuatu yang paling berharga di sana. Ya, gantungan berbentuk bintang yang sejak bertahun-tahun selalu menghiasinya. Memang bukan benda mahal bila dibandingkan dengan harga ponsel canggih itu. Tapi kenangan yang tersimpan dari gantungan bintang itulah yang tak dapat dibelinya di toko mana pun.

Sudah berkali-kali Jiae membongkar isi tas sekolahnya, saku seragam sekolah juga tak luput dari sasarannya. Namun nihil. Benda kecil itu tak juga ditemukan. Jiae menghela nafas frustasi.

Harusnya aku lebih berhati-hati lagi, keluhnya kesal.

———————————–

“Kau bintang, aku bulan!” Jiae yang tengah melihat-lihat gantungan ponsel di sebuah toko pernak-pernik mengangkat dua buah benda kecil berwarna silver itu dan memamerkannya pada Kyuhyun. “Lihat, bagus bukan?” tanya Jiae ceria.

“Jelek!” balas Kyuhyun pendek.

“Aiishh… harusnya aku tak mengajakmu jalan,” gerutu Jiae lalu kembali meletakkan dua benda itu di tempatnya. Mood-nya memburuk mendengar komentar Kyuhyun tadi, hingga gadis itu kehilangan selera belanjanya saat itu juga. “Ayo! Sebaiknya kita pulang saja!”

“Ah, begitu saja kau marah,” protes Kyuhyun.

“Bagaimana aku tidak marah kalau kau terus bertingkah seperti itu?” Jiae berbalik namun belum sempat gadis itu kembali melancarkan omelannya, ia tertegun mendapati Kyuhyun sedang membayar kedua gantungan ponsel tadi di meja kasir. “Kyu, kau…” Gadis itu hampir memeluk Kyuhyun namun sang sahabat mengelak cepat.

Tanpa banyak bicara, Kyuhyun menyerahkan gantungan berbentuk bintang pada Jiae sedangkan gantungan bulan ia pakaikan di ponselnya sendiri.

“Hey, tapi kan… aku bulan kau—“

“Kau memilikiku dan aku memilikimu.” Jiae tertegun. Sejenak merasakan desiran hangat membanjiri dadanya. Kalimat sederhana yang diungkapkan Kyuhyun tadi membuat sesuatu di dalam dirinya tergelitik.

“Kyu—“

“Ayo cepat pulang! Aku sudah lapar!” Kyuhyun menyela ucapan gadis itu, lalu melangkah lebar-lebar meninggalkan Jiae yang masih termangu seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa sebelumnya.

——————————————-

Eunhee melayangkan delikan tajam ketika untuk yang kesekian kalinya Eric terkikik geli terlebih ketika Donghae baru saja masuk ke ruangan itu setelah sesaat sebelumnya diperiksa di kantor Security. Lelaki itu baru saja mendengar penuturan Eunhee tentang tujuannya datang ke mari dan tak dapat menghentikan tawanya ketika tahu putri atasannya itu sedang ‘penasaran’ dengan sosok Donghae. DJ yang baru beberapa bulan bekerja di sana.

Eunhee meringis bersalah ketika memar di sudut bibir Donghae tampak semakin jelas di tengah penerangan lampu kantor sang Ayah. Gadis itu melangkah mendekati Donghae seolah belum puas melihatnya dari jarak jauh. “Kau… tidak apa-apa?” tanyanya khawatir. “Bibirmu…”

Donghae menggeleng, “Tidak apa. Aku baik-baik saja.”

“Aku akan mengambilkan kompres air hangat,” Eric mengedipkan sebelah matanya pada Eunhee dan sengaja meninggalkan keduanya di ruangan itu.

“Duduklah!” Eunhee berusaha terlihat tenang lalu memposisikan dirinya di salah satu sofa empuk favorit Ayahnya. Walau kini hatinya berdebar-debar. Takut, kalau-kalau teman sekelasnya ini mengadukannya pada pihak sekolah.

“Kau… putri Tuan Lee Jaehee?” Donghae mengabaikan ucapan Eunhee. Ekspresi khawatir kini tampak jelas di wajah tampannya.

Sejenak Eunhee mengerutkan kening bingung, namun ekspresi itu berubah sejurus kemudian ketika ia sadar akan arah pembicaraan Donghae. “Hmm… begitulah!” balas Eunhee santai. Kepercayaan dirinya kembali meningkat mengetahui kekhawatiran Donghae yang sama sekali tak terfikirkan olehnya. Keadaan kini berbalik. Eunhee seolah kembali memegang kartu As akan permainan ini. “Kenapa?” katanya pura-pura tak mengerti.

“K-kau… tak akan mengadukanku—“ Eunhee terbahak hingga Donghae semakin melongo heran. “Hey! Kenapa kau malah tertawa?” protesnya sebal.

“Mana mungkin aku mengadukan seseorang yang telah membantuku. Kau pikir, aku sekejam itu?” balas Eunhee geli dan Donghae menghela nafas lega setelahnya.

Ternyata gadis ini tak sekejam yang kukira, batin Donghae sembari tersenyum lebar.

“Syukur—“

“Tapi ada satu syarat yang harus kau penuhi!” Seketika ekspresi tenang Donghae sirna mendengar ucapan gadis itu. Bergaul dengan Eric, membuat Eunhee semakin lihai memanfaatkan situasi.

“Sya-syarat?” balas Donghae bingung.

Eunhee menyeringai puas. “Yeah, syarat. Dan aku berjanji tak akan mengadukanmu pada Appa juga pihak sekolah bahwa kau bekerja di klub malam.”

“Katakan padaku, apa syaratnya!”

-SM High School-

Haerin mengendap ke sisi locker Siwon. Karena hari masih pagi, tak banyak siswa yang berlalu-lalang di sana. Namun tetap saja, Haerin merasakan jantungnya berdegup cepat seolah-olah akan melompat dari sarangnya ketika dirinya tinggal selangkah lagi sampai di sisi locker. Tangan kanannya menggenggam sebungkus cokelat Godiva yang hampir selalu diberikannya pada Siwon sementara tangan kirinya meraih handle pintu locker dan berniat membukanya.

“Permisi!” Haerin menegang. Suara berat yang berasal dari belakangnya menghentikan kegiatan gadis itu seolah baru saja ada tombol pause yang ditekan. “Nona?”

“Uh, oh…” Haerin berputar dan menyembunyikan cokelat itu ke belakang tubuhnya.

“Kau… Han Haerin bukan?” Choi Siwon. Lelaki itu tersenyum hangat membuat jantung Haerin kembali menyentak-nyentak seenaknya. Bahkan kini, semburat merah muda mewarnai seluruh wajahnya.

“Y-yeah, begitulah!” balas Haerin kikuk. Titik-titik keringat kini mulai membanjir di kening dan telapak tangannya. “M-mian, aku salah menghampiri locker. Kupikir… locker ini milik… Yeonrin,” Haerin berbohong dan entah mengapa, ekspresi tertarik di wajah Siwon berubah datar saat itu juga.

Walau heran dengan alasan yang diberikan Haerin, Siwon memilih menahan pertanyaannya karena tak ingin gadis di depannya semakin merasa terancam. “Oh, kalau tidak salah. Locker teman-temanmu ada di sebelah sana!” Siwon menunjuk ke sebelah kanannya, di mana locker-locker murid perempuan berada. “Kulihat beberapa hari yang lalu, Eunhee dan Yeonrin membuka locker itu.”

 Jelas Haerin tahu. Tapi gadis itu sama sekali tak bisa memikirkan alasan lain di benaknya. Dalam hati Haerin menyumpahi diri sendiri karena otaknya tiba-tiba buntu setiap kali berhadapan dengan Choi Siwon. Lelaki yang sudah dua tahun ini dikaguminya. “Emm… begitu. Ya sudah, aku ke sana dulu.” Haerin menundukkan kepalanya sopan lalu cepat-cepat pergi dari hadapan Siwon yang masih menatapnya penuh selidik.

Haerin hampir saja menabrak Sungmin tepat di depan pintu kelas II.E ketika dengan kecepatan yang ia bisa menghindar dari situasi menegangkan itu. “Oh, Mianhae…” Sungmin membantu Haerin berdiri dan memungut sebungkus coklat yang tadi akan diberikan Haerin pada Siwon.

“Aku yang harusnya minta maaf Sungmin-ssi, aku berjalan terlalu cepat.”

Sungmin tersenyum hangat, “Sudahlah! Aku juga salah karena tak melihat-lihat. Oh, apakah sekarang Valentine? Kenapa kau membawa coklat?”

Haerin cepat-cepat menggeleng. “A-ani, aku hanya… ah, ambil saja untukmu!” Haerin mengangsurkan coklat itu ke tangan Sungmin. “Anggap saja sebagai permintaan maafku.”

Sungmin terkekeh pelan, “Benarkah? Oh, kau tak perlu melakukan itu Haerin-ssi. Tapi… karena aku penggemar coklat. Aku tak akan menolaknya.”

Haerin tersenyum kecil. “Kalau begitu kita sama. Aku juga penggemar coklat.”

“Wah… bagus sekali! Coklat memang makanan yang sangat baik untuk memperbaiki mood. Sepertinya kita bisa jadi sahabat dekat,” Sungmin tersenyum lebar dan mengangkat coklat itu tepat di depan dadanya. “Terima kasih untuk ini. Kapan-kapan, aku akan membelikan sebungkus coklat Macadamia untukmu. Coklat itu sangat enak dan terkenal di Jepang.”

“Yeah, tidak perlu repot Sungmin-ssi,” balas Haerin malu-malu.

“Oh, ayolah! Tak perlu sekaku itu padaku. Panggil saja aku Minnie, teman-temanku selalu memanggilku begitu.”

“Baiklah, Minnie.” Haerin mendadak tegang ketika ekor matanya berhasil menangkap kehadiran Siwon di sisi kiri lorong. Gadis itu tak bisa mendengar lagi apa yang diceritakan Sungmin tentang berbagai macam jenis coklat yang disukainya, karena kini pikirannya terfokus pada Siwon. Gadis itu benar-benar takut Siwon curiga padanya atas kejadian di depan locker tadi.

“Haerin-a, kau… tidak apa-apa?” Sungmin bertanya karena merasakan ekspresi gadis itu yang tiba-tiba memucat.

“Tidak ada. Aku tidak apa-apa.” Haerin menggeleng tegas dan pura-pura mengabaikan Siwon yang kini sudah melangkah melewatinya dan Sungmin. “Kalau begitu, aku ke bangkuku dulu.”

“Baiklah! Sampai jumpa nanti. Sekali lagi, terima kasih banyak untuk coklatnya!” Haerin mengangguk dan tersenyum tipis lalu menghela nafasnya berat. Gadis itu menahan nafas ketika melewati bangku Siwon yang berada tepat di depan bangkunya. Berharap, lelaki itu tak bertanya lagi tentang kejadian tadi.

Tapi rupanya, hal itu hanya harapan kosong Haerin. Karena tepat ketika gadis itu duduk di bangkunya, ia bisa mendengar Siwon bergumam, “Sepertinya coklat yang kau berikan pada Minnie itu enak. Salah seorang yang sangat spesial sering memberikannnya padaku dulu. Tapi entah mengapa, ia tak pernah memberikannya lagi. Kuharap, bukan karena ia marah padaku.”

Seketika itu juga, wajah Haerin merah padam. Mata sipitnya membelalak lebar mendengar penuturan Siwon yang walaupun terkesan santai, tapi memiliki arti yang sangat luar biasa bagi Haerin. “K-kau… merindukannya?” tanpa bisa dicegah, pertanyaan itu muncul begitu saja dari mulut Haerin.

Siwon menoleh dan mengunci tatapan gadis itu. “Sangat,” katanya tegas yang saat itu juga membuat jantung Haerin menyentak hebat. “Jadi, apa kau… masih punya coklat seperti itu di tasmu?”

“Apa?”

——————————————

Yeonrin menggerutu pelan hingga buku kimia di tangannya menjadi korban kemarahan gadis itu. Untuk kesekian kalinya Yeonrin melirik Hyukjae yang tersenyum puas di bangku sebelahnya. Lelaki itu berhasil bertukar tempat dengan Eunhee sebagai partner praktikum kimia yang akan dilaksanakan mulai minggu depan, setelah sebelumnya memohon-mohon dan merendahkan harga dirinya di depan Eunhee yang terkenal agak sulit diajak kompromi itu.

Sial. Apa jadinya kalau aku satu kelompok dengannya? Eunhee sialan!, maki Yeonrin dalam hati sembari melirik sahabat baiknya itu yang kini tengah sibuk membaca Novel di bangku nomer dua dari belakang. Gadis itu tak habis pikir dengan Hyukjae.

Sudah berkali-kali dirinya berusaha menjelaskan pada teman sekelasnya itu, bahwa ia tak tertarik padanya. Bahkan dengan cara baik-baik karena tak ingin lelaki itu kecewa dan marah atas sikapnya. Tapi rupanya Hyukjae tak juga menyerah. Lelaki itu bahkan mengabaikan kenyataan bahwa kini Yeonrin masih berstatus kekasih Choi Minho dengan terang-terangan merayunya di depan umum.

“Kau jangan khawatir Yeonrin-a, aku tak akan membiarkanmu terkena bahaya bahan kimia saat praktikum nanti.” Yeonrin mendengus keras mendengar gumaman Hyukjae yang diucapkan lelaki itu dengan penuh percaya diri. “Aku tak akan membiarkan calon istriku di masa depan mendapat resiko yang besar hanya karena sering berurusan dengan bahan kimia berbahaya.”

“Apa?” Yeonrin saat itu juga beranjak dari kursinya. Menatap Hyukjae dengan tatapan yang menyiratkan Apa-kau-sudah-gila. “Kau bilang aku apa Lee Hyukjae?”

Hyukjae meringis, “Calon istri—“

“Lee eunhee!!! Aku tak mau tahu, kau harus membatalkan kesepakatanmu dengan orang aneh ini!” Yeonrin menjerit frustasi hingga menarik perhatian semua yang ada di kelas itu karena suara cemprengnya yang luar biasa nyaring. Kesal karena sepertinya Eunhee tetap tak mendengarnya, gadis itu cepat-cepat menghampiri sang sahabat yang kini masih sibuk dengan novel di tangannya. Lalu tanpa permisi menarik novel di tangan gadis itu. “Kau ini membaca apa melamun?” bentak Yeonrin kesal.

“Wae?” dengan santainya Eunhee bertanya sementara perhatian seluruh kelas tertuju pada mereka berdua.

“Kau masih bertanya kenapa? Apa kau tidak dengar apa yang kukatakan tadi?” sungut Yeonrin kesal.

Eunhee yang memang tak mendengar apapun karena terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri mengerutkan kening bingung. “Jangan marah dulu. Ada apa dengan—“

“Batalkan kesepakatanmu dengan Hyukjae. Kau tetap menjadi partnerku dalam praktikum dan Hyukjae tetap bersama Donghae.”

“Eh? Tapi—“

“Hey, Lee Eunhee. Kau tak bisa membatalkan kesepakatan kita!” Hyukjae menyela bantahan Eunhee sembari mengedikkan sebelah bahunya. “Sudahlah Yeonrin-a, sebaiknya kau terima saja. Lagipula, kau tak akan rugi bila satu kelompok denganku. Aku ini kan seorang gentleman—”

“Semoga aku bisa memegang ucapanmu!” desis Yeonrin lalu melangkah lebar-lebar ke luar kelas tanpa mempedulikan pandangan heran teman sekelasnya atas keributan yang dibuatnya sesaat lalu.

TBC

 

Hyaaaa… MianHAE!! Setelah sekian lama vakum dan gak post FF ini. Jangan2 dah pada lupa ama jalan ceritanya yah?? Haduh.. maapkan aku. Apalagi makin kesini ceritanya makin GaJe ekekek…
Buat cast’a… jangan demo aku yah say… Cuma sebatas ini yg bisa kuberikan pada kalian. Semoga sukaa ^^

17 thoughts on “Memories of Youth -Book 3-

  1. jenjeng,… saeng datang,..
    Hua keren keren, saeng selalu ska cara penyampaian FF eon,..

    Gila part ini bikin senyum gaje trs,..
    -EunHee
    Jiah, di tolongin hae smpe bibir si ikan yg seksi luka,…#plakk
    huaaaa, syarat apa sih bikin penasaran sma penasarannya sma Hee smpe nongkrongin bar yg jelas” bukun utk ank kecil,..
    -KiHyun
    cie cie, yg lge kasmaran,..#plakk
    masa bca buku lyt.a muka bumie,..hohoho
    -JiKyu oh my Couple
    aaaaaaaa~
    Eonni kau berhasil membuatku berbunga-bunga, fly..
    “Kau memilikiku dan aku memilikimu.”
    Cho kyuhyun, tumben kata lu manis bgd di FF ne,..#kiss
    Saeng penasaran tingkat akut apa sih masalahnya kami,.. U.U apa ada Changmin,..hahaha ngarep
    -WonRin
    hahahahaha, hayo yg dh kayak penjahat yg ketahuan,..
    ngaku aj napa, dh jelas bgd tuh lo siwon tau spa yg ngasi dy coklat yg merindukan,..kekekeke
    -YeonHyuk
    Buhahaha, pasangan yg lucu n ngegemesin,..
    heran dh sma hyuk, selalu jd org yg mengejar” Yeonrin,..malangnya nasibmu hyuk
    Ayolah, berusaha lebih keras,..#wink

    Gmna? dh sepanjang kereta api neh,..
    Poko.a harus lanjut,.. ^0^ saeng tgu,..

    • Hahaha…. udah panjang kok saeng ekekke ^^
      Gomawooooo *hugss*
      Aduh, suka yah?? syukur deh… aku takut ajah ceritanya gak sesuai ama maumu. Tau ndiri kan aku gak bisa klo bikin yg romantis2 kayak Jikyu biasanya hahaha😄

      penasaran yah?? ditunggu aja deh tahun depan lanjutannya #geplaaaakkk

      • hihihihi, mau.a lbih panjang cma kapasitas.a ntar kyk FF,..
        Sesuai bgd kow,..kekekeke
        Ah, bysa, FF JiKyu buatan saeng tu g romantis kow,..ehm mungkin Quotes.a yg bikin romantis,..#plakk

        Yaaaaaa,…
        ayolah saeng dh penasaran, kyu smpe segitu.a g ska ma jiae,..hue

  2. Kibum mulai tertarik sma Saehyun yayaya >.< ???
    Huaaaa….. ternyata si evil Kyu bsa berubah jdi romantis ya
    Aigooo Eunhee malu'' tpi mau tuh sma Donghae, Hae keren dah bsa jdi DJ bsa berantem jga pula meskipun sdikit payah ^^v
    Yah… jgn'' Siwon ngeliat Haerin ngasih coklat buat Sungmin lgi, trus dia slah paham trus dia cemburu???
    Dah Yeonin tinggalin ja Minhoo, terima Eunhyuk kesian kan dia ngejar'' mulu

  3. aku suka aku suka aku suka bagian Ki-Hyun… wajah bummie selalu terbayang setiap baca buku… wah daebak!! Kayaknya Kibum suka ma Saehyun nih,,, ih senengnya,, cz aku jg suka…

    Wew Eunhee nekat… berani bgt masuk club tanpa alasan sprti biasa… saking penasaran nih… Hae keren bgt,,, nge DJ and jago berantem… asyik!

    Kyu!! knp kmu bisa berubah jd kasar? pdhl dulu kata-katamu ke Jiae selalu romantis… ada apa dgn kalian? aku sudah lelah jd media komunikasi untuk kalian….

    Ayo loh! ketauan deh,,, Siwon ngeliat gk ya, Haerin ngasih cokelat k Sungmin? ngaku aja deh,, klo slma ni Haerin peberi cokelat… siwon kangen cokelatnya tuh…

    Yeonrin! biasa ja kali… gk usah sampai marah2 gitu ke Hyuk.. kaisan kn dia? liat ja, ntr km bakal klepek2 ma Hyuk….

    lama menunggu FF ini dan akhirnya publish jg… aku puas bgt bacanya…. *bagian Kihyun bnyk sih*… hehehehe….

    • hoahahhaha… gomawooo saeng, dah komen panjang!!! *hugss Saehyun*
      Aduh, mian banget kelamaan bikin lanjutannya. Part berikutnya juga terancam lama inih haha…😄
      Selamat menunggu aja yah… syukur dee klo suka.Padahal si Ki-Hyun belon ada scene2 yg aneh2 udah suka ajah hahaha

  4. cie cie makin keren aja eon ceritanya. penasaran ama kyu jiae . wah siwon cemburu tuh . . .eunhee sama donghae dikit banget deh prasaan. hehe
    daebak eon! ditunggu next partnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s