Please, Don’t go! -Oneshot-

 

-Lee Donghae, Banpo Bridge-

Lelah. Aku bisa merasakan kepalaku semakin berat dihimpit berbagai macam masalah yang menimpaku. Aku benar-benar putus asa. Semangat hidupku lenyap seketika. Benar bila orang Roma mengatakan bahwa bencana itu tak pernah datang sendiri, karena akan ada dua atau tiga bencana lain yang akan mengikutinya. Semenjak kepergian Appa beberapa bulan yang lalu, Eomma mulai sakit-sakitan. Ia bahkan tak peduli lagi pada kondisi anak-anaknya. Setiap hari yang dilakukan Eomma hanya berdiam diri meratapi kepergian Appa. Adikku Yonghae, mulai kehilangan kasih sayang. Ia jadi jarang pulang. Belakangan kudengar Yonghae putus sekolah dan terlibat berbagai macam perkelahian dengan beberapa geng SMU lainnya.

Aku gagal. Sebagai seorang anak aku gagal. Sebagai seorang kakak aku juga gagal. Tapi aku sudah berusaha. Menahan segala letih, bekerja membanting tulang mencari sesuap nasi demi kelangsungan hidup kami. Tapi apa yang kini kudapatkan? Kekasihku Minhee yang sejak dulu mengatakan takkan pernah meninggalkanku dan akan selalu mencintaiku, kini tak lagi menepati janjinya. Dengan alasan aku yang tak pernah lagi peduli padanya dan lebih banyak memikirkan pekerjaan, ia pergi meninggalkanku. Beberapa hari terakhir kuketahui, ia pergi bersama Hyukjae, sahabat baikku sendiri. Miris memang, tapi entah mengapa… aku sama sekali tak menangis mendengar kabar itu. Rasanya, air mataku sudah kering untuk menangisi seseorang yang benar-benar tak pantas untuk kutangisi.

Namun malam ini, bencana kembali menimpaku. Satu-satunya harapanku untuk tetap berguna dalam hidup, kini terenggut. Aku dipecat. Seorang temanku menuduhku mencuri jam tangan mahalnya. Entah apa maksudnya melakukan itu, yang kusesali hanyalah atasanku yang percaya begitu saja pada tuduhan tak berdasar itu. Benar aku sedang kesulitan ekonomi, tapi aku akan berpikir seribu kali untuk melakukan cara-cara menjijikkan semacam itu.

Tak ada yang bisa menggambarkan apa yang kurasakan saat ini. Aku sudah lelah menangis. Kurasa air mata saja takkan cukup untuk meredakan beban pikiranku. Sejak tadi aku hanya mengikuti langkah kakiku yang berjalan tanpa arah di tengah keramaian kota Seoul. Menatap ke kejauhan dari atas jembatan Banpo mengingatkanku pada masa kecilku. Appa selalu membawaku ke mari dan mengajarkanku bagaimana cara bernyanyi dan menari. Sungguh saat-saat yang indah bila mengingatnya.

“Appa, pasti akan sangat menyenangkan bila aku bisa menyusulmu ke surga.” Ya, kurasa itu pilihan terbaik. Aku sudah tak sanggup lagi menjalani semua ini. Aku akan menemui Appa. Bernyanyi dan menari lagi bersamanya di surga.

Aku melangkah mendekati pembatas jembatan. Kuangkat salah satu kakiku dan menapak pada besi penyangganya. Sungai Han tampak begitu dingin dari atas sini. Alirannya yang cukup deras memungkinkan jasadku tak akan mudah ditemukan. Aku tak peduli. Tak ada lagi yang bisa kulakukan selain ini. Aku menarik nafasku dalam-dalam lalu menyapukan pandanganku pada seluruh penjuru kota. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa menatap bulan dan bintang di atas sana. Appa, aku akan menemuimu…

“Apakah kau pikir dengan membuang nyawamu sendiri dapat menyelesaikan semua masalah yang kau hadapi?”

 

Aku membeku. Suara itu terdengar marah tapi juga tegas tak terbantahkan. Siapa gadis yang berani mengganggu acara bunuh diriku? Sebentar, seorang gadis? Kualihkan perhatianku ke sumber suara. Benar. Gadis bergaun putih selutut berdiri diam di depanku, rambut hitam sepunggungnya hanya dijepit asal-asalan tapi sama sekali tak mengurangi kadar kecantikannya. Mata bulat jernihnya mengunci tatapanku dengan rona marah seperti ucapannya tadi. Apa yang dia lakukan di sini? Kurasa, tadi aku tak melihat siapa pun di tempat ini. Kuakui, gadis ini memang cantik. Dan entah mengapa, aku suka sekali menatap mata bulat bening itu.

“Kau pikir dengan bunuh diri semua masalah akan lenyap?” Kudengar gadis itu kembali bersuara. Hey, apa urusannya? Ia tak berhak melarangku. Gadis ini bahkan tak kukenal dan jelas tak tahu beban apa yang kini kutanggung.

“Itu bukan urusanmu Nona!” Kuberanikan diri membalas namun ekspresi marah itu tak juga pudar dari wajahnya.

“Ya, memang bukan urusanku,” gumamnya dengan nada lebih lirih dari sebelumnya. “Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa membuang nyawa bukanlah cara yang tepat untuk menghadapi semua masalah. Itu artinya kau pengecut! Melarikan diri dari masalah dengan memilih mengakhiri hidupmu. Tak tahukah kau bahwa banyak sekali orang di dunia ini yang memohon-mohon untuk memiliki kesempatan hidup. Tapi kau… kau justru ingin membuang kesempatan berharga itu hanya karena ingin lari dari masalah.” Aku terhenyak, sama sekali tak mampu membalas ucapannya. Gadis ini memang terlihat muda. Tapi pemikirannya bahkan jauh lebih dewasa dari aku. “Aku memang tak tahu masalah apa yang kau hadapi. Tapi pikirkanlah dulu sebelum kau membuang nyawamu sia-sia. Bagaimana nasib orang-orang yang kau tinggalkan? Keluargamu, temanmu, atau bahkan… kekasihmu. Sudahkah kau memikirkan mereka?”

Aku mendengus. Keluargaku? Temanku? Kekasihku? Semuanya bahkan tak peduli lagi padaku. “Aku tak perlu mengkhawatirkan mereka.”

“Kalau begitu, lakukan saja apa maumu!” Eh? Kulihat gadis itu mulai melangkahkan kakinya meninggalkanku.

“Hey, tunggu!”

“Ada apa lagi?”

Kukerutkan kening heran. Bukankah tadi ia memaksaku untuk tak bunuh diri. Tapi kenapa sekarang ia malah pergi? “Kau… tak ingin menghalangiku?”

Gadis cantik itu mendesis, “Aku tak pernah bilang begitu. Aku hanya ingin mengingatkanmu, itu yang kukatakan tadi. Bila kau memang ingin meneruskannya, lakukan saja. Itu hakmu!”

Aku melongo. Dia pergi begitu saja setelah mengucapkan kalimat itu. Ini gila! Aku tak pernah bertemu gadis itu sebelumnya. Tiba-tiba ia datang dan marah-marah karena aku ingin bunuh diri. Tapi sekarang, ia pergi seolah tak peduli telah menggagalkan semuanya. Benar-benar gadis aneh!

-Hangang Park-

Aku bisa gila. Seminggu telah berlalu semenjak kejadian di jembatan Banpo. Seminggu pula aku gila-gilaan mencari informasi tentang gadis cantik bergaun putih selutut yang malam itu telah menyelamatkan nyawaku. Aku bersyukur malam itu tak jadi bunuh diri. Karena siapa sangka malam itu menjadi tolak balik semua masalah yang kuhadapi. Adikku Yonghae pulang dalam keadaan sakit setelah dipukuli beberapa orang karena ketahuan mencuri. Hal itu membuat Eomma sadar bahwa tak seharusnya ia terus meratapi kepergian Appa dan menyia-nyiakan putra-putranya. Mulai hari itu, Eomma kembali pada pribadinya yang dulu. Penuh kasih sayang.

Dan dua hari kemudian, aku mendengar temanku yang telah memfitnahku ditangkap polisi setelah tertangkap basah mengedarkan obat-obatan terlarang. Kini aku sudah mendapatkan pekerjaanku kembali. Bahkan dipromosikan sebagai manajer toko roti tersebut. Tapi yang membuatku resah, hingga kini aku tak juga menemukan keberadaan gadis itu. Gadis yang telah membuatku sadar bahwa kehidupan lebih berarti dari segalanya. Karena dengan tetap hidup, kita bisa menyelesaikan masalah yang dimiliki, bukannya menjadi pengecut dan lari dari himpitan masalah.

Aku hampir putus asa mencari gadis itu. Tapi aku tak boleh menyerah. Setidaknya, aku ingin mengucapkan terima kasih padanya. Jujur, sejak malam itu aku tak pernah berhenti memikirkannya. Tatapan dingin yang dilayangkannya padaku terus terbayang di kepalaku.

Aku berjalan menyusuri pinggiran Sungai Han. Di kejauhan tampak beberapa anak kecil sedang berlarian dengan tawa yang tak lepas dari bibirnya. Appa, maafkan anakmu ini karena sempat melemah. Tapi aku bersyukur kau telah mengirimkan malaikatmu untuk mengingatku dan mencegahku melakukan hal terbodoh di dunia ini.

“Hey, jangan terlalu cepat berlari! Aku bisa jatuh.”

Aku tertegun. Suara itu. Cepat, kuputar kepalaku. Di sana, di bawah rimbunan pohon maple yang daun merahnya berguguran. Dia! Gadis itu berdiri bersama beberapa orang bocah kecil. Tampak tersenyum bahagia dengan raut wajah cerah, sungguh berbeda dengan malam itu. Mendadak, perasaan hangat menyelubungi relung hatiku.

Appa, terima kasih kau kembali mengutusnya untuk bertemu denganku. Aku janji tak akan melepasnya lagi. Dia. Aku akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya.

————————————-

Entah bagaimana caranya, aku tak pernah ingat telah berjalan menyusuri padang rumput untuk sampai di sini. Yang kutahu sekarang, aku sudah duduk di sisi gadis yang baru kuketahui bernama Eunhee. “Apa aku mengenalmu?”

Aku mengalihkan tatapanku padanya. Gadis itu sama sekali tak menatapku. Mata bulat beningnya memandang lurus ke depan. Yeah, wajar bila ia tak mengingatku. Kami hanya bertemu beberapa menit malam itu, bahkan sama sekali tak sempat berkenalan. “Kurasa tidak. Tapi aku ingin kita saling mengenal.”

“Maaf, aku tak punya waktu. Adik-adikku sudah menunggu.” Kulihat gadis itu beranjak dari duduknya.

“Hati-hati!” Aku cepat-cepat berdiri saat kulihat ia hampir saja menabrak batu besar yang berada di samping kursi tempat kami duduk dan menahan tubuhnya yang limbung dengan kedua tanganku. Bisa kurasakan gadis itu menegang. Kulit tangannya yang lembut terasa dingin di pergelangan tanganku.

“Maaf,” bisiknya lirih lalu merapikan gaun santai berwarna biru pekat yang dipakainya, walau sebenarnya gaun itu sama sekali tidak kusut.

“Apa kau tak bisa melihat batu sebesar itu?” Aku mencoba berkelakar untuk menghidupkan suasana tapi ia sama sekali tak tersenyum menanggapinya. Apakah gurauanku tidak lucu? “Eunhee-ssi.” Kulihat gadis itu menghentikan langkahnya. “Bolehkah aku tahu di mana kau tinggal?”

“Maaf, aku sedang terburu-buru. Jaein, Hyesong… ayo pulang!” Dua orang bocah berumur sepuluh tahunan yang diakui gadis itu sebagai adiknya datang dan menggiring Eunhee bersamanya. Tunggu! Sepertinya ada yang aneh dengan tingkah gadis itu. Dia… Astaga! Kenapa aku tak menyadarinya?

Dengan satu manuver cepat, aku menghadang jalan gadis itu dan seperti dugaanku, Eunhee tak ‘melihat’ kehadiranku hingga kurasakan bagian depan tubuhnya menabrak tubuhku. Dua orang bocah yang tadi menggiringnya menjerit kaget, sementara Eunhee masih diam sekaku patung dalam dekapanku. Aroma vanilla yang lembut menguasai indera penciumanku. Untuk sesaat aku hanya bisa diam menatap wajah cantiknya yang berada tepat di depan mataku. Memuji kebesaran Tuhan karena telah menciptakan makhluknya sesempurna ini. Tapi satu yang membuatku tercekat. Mata bulat itu seolah kehilangan sinarnya. Kosong. Berbeda dengan tatapannya malam itu.

“Lepaskan!” Aku terkesiap dan cepat-cepat melepaskan tubuh gadis itu. Jantungku masih berpacu cepat seolah baru saja berlari ratusan kilometer jauhnya. “Sebenarnya apa yang kau inginkan Tuan?”

“K-kau… buta?”

-Lee Eunhee-

Kusandarkan punggung pada gerbang pagar yang bahkan aku tak tahu siapa pemiliknya. Kepalaku berdenyut sakit. Bahkan lelehan air mataku pun sama sekali tak kusadari telah membanjir di kedua pipiku. Lelaki itu memaksa untuk mengantarku pulang, bahkan ia membayar taxi saat tahu aku tak bisa melihat. “Eonnie, kau tidak apa-apa?” Bisa kudengar suara Jaein dan juga tangan gadis itu yang menyentuh lenganku.

“Noona, kau terlihat pucat!” Hyesong menimpali ketika aku tak juga membalas, “Apa kepalamu sakit lagi?”

Aku berjongkok ketika kurasakan kakiku sudah tak mampu lagi menahan berat tubuhku. Aku tahu kedua adikku itu sangat mengkhawatirkanku walau kini aku tak bisa lagi melihat wajah mereka dengan jelas. Tiga hari yang lalu penglihatanku semakin kabur, dan kini… aku benar-benar sudah tak dapat melihat keindahan dunia lagi. Penyakit mengerikan itu sudah merenggut paksa penglihatanku secara keseluruhan. “Aku tidak apa-apa,” balasku, walau jujur, aku jauh dari kata baik-baik saja. “Apa kalian benar-benar menuruti perintahku dan tak membiarkan ahjusshie itu tahu di mana tempat kita tinggal?”

“Ne!” kudengar Hyesong dan Jaein menjawab kompak.

Aku mendesah lega. Setidaknya, kedua adikku melakukan instruksiku dengan benar. “Gomawo,” balasku pada mereka berdua. “Sebaiknya kita kembali ke panti.”

Lelaki itu. Mana mungkin aku tak mengenalnya. Lee Donghae. Seorang lelaki tampan sederhana yang kuketahui memiliki tekad kuat untuk membantu keluarganya. Lelaki penyayang dengan mata teduhnya yang bersinar itu sudah sejak lama menjadi penghuni tetap di hatiku.

Lima bulan yang lalu, aku bertemu lelaki paruh baya di sebuah rumah sakit di Seoul. Lelaki itu sangat baik dengan tatapan hangat dan peduli yang mampu membuat seseorang yang bersitatap dengannya merasa tenang. Namun sayang, orang baik sepertinya memiliki umur pendek. Setelah hari itu, ia menceritakan semuanya padaku. Ahjusshie bernama lengkap Lee Dongwoo itu meninggal seminggu kemudian setelah berbulan-bulan melawan penyakit kanker yang menggerogoti otaknya. Penyakit yang secara keterlaluan juga tengah menggerogoti seluruh tubuhku.

Aku belajar banyak darinya tentang perjuangan hidup. Hidup ini terlalu berharga untuk disia-siakan. “Apapun yang terjadi dalam hidup ini, adalah rencana-Nya yang mungkin terbaik untuk kita,” begitu nasihatnya saat itu. Sejak hari itu, aku memiliki tekad kuat untuk melawan penyakitku sendiri. Menerima saran dokter untuk menjalani pengobatan intensif. Satu lagi alasanku untuk terus melakukan kemoterapi walau aku tahu hasilnya tak selalu berhasil. Keberadaan Lee Donghae, putera sulung dari Dongwoo Ahjusshie. Hampir setiap pagi aku melihatnya datang ke rumah sakit walau hanya sekedar untuk menyapa sang Ayah. Menemaninya jalan-jalan di taman rumah sakit. Lelaki itu tampak begitu mencintai dan menyayangi Ayahnya. Aku bahkan melihatnya menangis hebat saat sang Ayah pergi hari itu.

Berbulan-bulan aku selalu menyempatkan waktuku menatapnya dari jauh. Namun aku sama sekali tak memiliki keberanian untuk berkenalan dengannya, karena aku sadar… hidupku tak akan lama lagi. Yang bisa kulakukan hanyalah… melihat bagaimana perjuangan lelaki itu mempertahankan keberadaan keluarganya di tengah himpitan masalah yang terus berdatangan. Dongwoo Ahjusshie benar, Lee Donghae memang pekerja keras dan anak yang berbakti pada kedua orang tuanya. Aku bahkan bisa merasakan bagaimana letihnya ia bekerja siang dan malam hanya dengan menatap wajah tampannya setiap malam sepulang ia bekerja.

Tapi malam itu, aku tak sanggup menahan kakiku dan bagian tubuhku yang lain untuk tak menghentikannya melakukan hal terkutuk itu. Dia. Lelaki yang sangat kukagumi, akan melakukan perbuatan yang bahkan Tuhan pun membencinya. Dengan keterlaluan dia ingin membuang nyawanya sia-sia, sedangkan aku sendiri terus berjuang untuk mempertahankannya. Jujur, aku marah padanya. Aku kecewa karena ternyata… ia tak sekuat yang kukira. Tapi aku lebih marah lagi pada diriku sendiri, karena kini… aku membiarkannya tahu tentang diriku. Aku terkejut, ia bahkan mencariku dan ingin tahu tentang keberadaanku. Lee Donghae, seharusnya aku tak melakukan ini! Mulai hari ini, aku tak akan membiarkannya menemukan keberadaanku.

-Lee Donghae, Hospital-

Aku tak pernah menyangka bahwa aku akan menginjakkan kakiku lagi di tempat ini. Setelah dengan seenak hati menipuku hari itu, aku berhasil menemukan di mana keberadaannya. Perasaan sesak menghimpitku ketika tahu bahwa gadis itu menderita penyakit yang sama dengan Appa. Bahkan kini keberadaannya sedang kritis. Keterlaluan! Ia bahkan ingin meninggalkanku setelah berhasil membuatku gagal bunuh diri.

Jantungku rasanya berhenti berdetak mendapati gadis itu terlelap di antara berbagai macam alat kedokteran yang menginvasi tubuh tak berdayanya. Aku mendekat. Meraih lengan pucatnya yang terbebas dari selang infus. Tangan itu masih hangat, membuatku yakin bahwa nyawanya masih bersarang dalam raga tak berdaya itu. “Eunhee-ssi, bisakah kau mendengarku?” Aku bahkan tak mengenali suaraku sendiri yang bergetar karena sesak itu terus menusuk-nusuk kerongkongan. Kueratkan genggamanku pada tangan mungil itu dan menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya melalui tangan itu. “Jangan pergi. Malam itu kau memintaku untuk terus hidup, tapi mengapa sekarang… kau akan pergi meninggalkanku.” Aku menggigit bibir bawahku ketika kurasakan sesak itu kembali memuncak, berikutnya kurasakan sesuatu yang hangat meleleh di kedua pipiku. Aku menangis. Setelah sekian lama kukira air mataku mengering. Kutangkupkan tangannya di salah satu pipiku, merasakan hangat dan lembutnya tangan itu di sana. “Eunhee-ssi, setidaknya… kau biarkan aku membahagiakanmu dan berterima kasih karena telah membuatku sadar akan arti kehidupan.” Walau bola mata itu terpejam, aku bisa melihat air mata mengalir di sudut matanya. Dia mendengarku! Ia mendengar semua ucapanku!

-Lee Eunhee-

Aku ingin memaki siapapun yang berani membocorkan tentang diriku pada lelaki ini. Walau jujur, aku seolah mampu melupakan rasa sakit di seluruh tubuhku saat tangan hangat dan kuat miliknya menyentuh permukaan kulitku. Lee Donghae, kenapa kau ke mari? Seharusnya kau sedang bekerja untuk keluargamu di toko roti itu. Bukannya di sini bersama gadis penyakitan dan tak berguna sepertiku.

“Bukalah matamu Hee, aku tahu kau mendengarku! Setidaknya, jawablah aku.” Hee? Mendengar suaranya menyebutku begitu, membuat sesuatu dalam diriku tergelitik. Aku tak pernah menyangka bahwa aku juga bisa merasakan hal semacam itu di akhir hidupku. “Kumohon Hee!” Aku membuka mataku walau sudah jelas aku tak bisa menatap wajah tampannya. “Terima kasih!” Aku bisa merasakan bibirnya kembali menyentuh kulit tanganku, hingga aku begidik merasakan sentuhan intim itu untuk yang kedua kalinya hari ini.

“Apa yang kau lakukan di sini Donghae-ssi?”

“Kau… bukankah kau bilang tak mengenalku?” Bodoh! Apa yang barusaja kau lakukan Hee? Membuka segalanya sendiri?

“Aku… bohong!” Ya, lebih baik aku jujur padanya. Rasanya percuma menyimpan semua ini, bila nanti dia juga akan mengetahuinya. “Ah…” Mendadak kepalaku sakit. Telingaku berdengung-dengung serasa ada ribuan palu memukul kepalaku di saat bersamaan. Aku juga tak dapat lagi merasakan kaki dan tanganku. Rasanya semua kebas. Nyeri tak terkira itu membuat mataku berair. Kurasa… waktuku akan segera tiba hingga apapun obat yang diberikan Dokter tak mampu lagi meredakannya. Bila boleh memilih, aku lebih baik mati sekarang juga daripada harus merasakan sakit yang begitu menyiksa seperti ini. Eomma, Appa… aku akan menyusul kalian secepatnya!

“Hee, kau tidak apa-apa? Dokter! Siapapun yang ada di situ, kumohon datanglah!” Sayup-sayup kudengar teriakan Donghae sebelum akhirnya… semuanya menjadi hening…

-Lee Donghae-

“Dia tidak apa-apa. Bersabarlah!” Dokter bergaris wajah tegas itu menepuk pundakku pelan. Syukurlah! Eunhee tidak apa-apa. Gadis itu sedang terlelap setelah Dokter Kim menginstruksikan pada beberapa perawat untuk menyuntikan obat yang aku yakini sebagai penetral rasa sakit. Setidaknya, gadis itu masih bernafas… walau aku sadar, harapannya untuk sembuh sangatlah tipis.

Appa, haruskah aku merasakan sakitnya kehilangan untuk yang kedua kalinya?

——————————-

Aku terkesiap ketika kurasakan sentuhan tangan lembut menyisir rambutku. Tangan ini. Eunhee? Tak tahu bagaimana ceritanya, aku terlelap di kursi di samping tempat tidurnya. Ketika kuangkat wajahku, kudapati wajah cantik itu tersenyum lembut. Senyum pertama yang ditujukannya padaku. Bisa kurasakan desiran hangat menggelitik di jantungku.

“Kenapa kau masih di sini?” kudengar suara leembut gadis itu. Walau tatapannya tak terfokus ke padaku, aku tetap senang menatap mata itu kembali terbuka seperti sedia kala.

“Aku tak akan meninggalkanmu lagi.”

“Tidak. Kau masih punya keluarga yang harus kau hidupi,” gadis itu membantah.

“Sudah kukatakan aku tak akan meninggalkanmu. Aku yakin kau akan pergi bila sedetik saja aku tak di sini bersamamu.”

Aku bisa melihat gadis itu menghela nafasnya cepat. “Apa yang harus kulakukan agar kau mau meinggalkanku?”

“Tidak akan ada cara untukmu bisa menyingkirkanku Lee Eunhee-ssi.” Kugenggam erat tangannya yang terasa bergetar di tanganku.

“Baiklah, kau boleh terus bersamaku. Asal kau… mau melakukan sesuatu untukku.” Apakah dia sedang melakukan negosiasi denganku?

“Apapun yang kau inginkan. Akan kulakukan!” Untuk kedua kalinya, senyum manis itu terkembang di antara wajah pucat polosnya.

“Bawa aku pergi dari tempat menakutkan ini!”

-Hangang Park-

Aku mungkin sudah gila karena menuruti permintaan gadis ini. Tapi aku tak bisa menolak karena ia berkeras akan terus mengusirku bila aku tak menuruti permintaannya. Setidaknya, kini aku bisa untuk yang kesekian kalinya menatap wajah cantik itu tersenyum senang. “Lee Donghae-ssi—“

“Hae,” koreksiku cepat dan ia mengangguk pelan.

“Baiklah, Hae… bisakah kau ceritakan padaku. Bagaimana warna langit sore ini? Aku ingin membayangkannya.”

Entah mengapa air mataku kembali meleleh mendengarnya bicara begitu. Perlahan, kuraih pundaknya dan menyandarkan kepalanya di dadaku. Sesaat kuhirup dalam-dalam aroma vanilla lembut yang menguar dari rambut sekelam malam milik gadis itu dan mengalihkan tatapanku pada langit jinggadi atas sana. “Sore ini langit sangat cerah. Matahari mulai sembunyi di balik awan merah di sisi barat. Beberapa burung juga terlihat terbang menghiasinya. Aku juga bisa melihat bulan sabit mulai muncul di langit yang perlahan-lahan berubah menjadi biru pekat.” Aku diam sejenak lalu mengalihkan tatapanku kembali pada ciptaan Tuhan yang jauh lebih indah dari yang kugambarkan tadi. “Hee, apa kau… sudah bisa membayangkannya? Jujur, aku tak terlalu pandai bercerita.” Kurasakan pandanganku buram ketika kulihat gadis itu diam saja dengan mata terpejam. Kepalanya yang masih bersandar di dadaku terkulai lemas saat kugeser tubuhku sedikit. Tidak! Dia tak boleh pergi secepat ini! Ia bahkan tak membiarkanku mengungkapkan perasaanku padanya.

“Hee, jangan bercanda!” Aku mengguncang tubuhnya yang mulai terasa dingin di kulitku. Tidak! Jangan sekarang. Ya Tuhan! Lee Eunhee… aku yakin kau mendengarku. “Aku mohon bangunlah! Hee… kumohon!”

Tidak ada jawaban darinya. Bodoh kau Lee Donghae! Tentu saja ia tak akan mendengarmu, sekalipun kau berteriak seperti orang gila. Nafasnya sudah lenyap. Ia sudah pergi. Sudah tenang meninggalkan segala sakit yang menggerogoti raganya. Tapi tahukah kau Hee, kini aku yang sakit. Jantungku bagai diremas kuat melihat raga ini tak lagi bernyawa. Oksigenku telah pergi. Rasanya… aku tak sanggup lagi bernafas.

———————————————-

Kudekap erat diary mungil pemberian Jaein—gadis kecil penghuni panti asuhan tempat Eunhee tinggal—beberapa waktu lalu. Air mataku seolah terkuras habis setelah semalaman aku membaca bukti cinta yang diberikan Eunhee untukku. Teganya kau Lee Eunhee… tak membiarkanku tahu tentang perasaanmu selama ini padaku. Ke mana saja aku hingga tak menyadari kehadiran malaikat kecil ini di dekatku. Padahal setiap hari ia selalu menyempatkan diri mengamatiku dan senantiasa mendoakanku.

Gadis bodoh! Bila aku tak mencoba bunuh diri… mungkin aku tak akan pernah tahu ada seorang gadis baik yang merelakan waktu berharganya hanya demi mendoakan dan mencintaiku dari jauh. Kau egois Lee Eunhee!

Kubuka lembar terakhir buku itu, tulisannya semakin berantakan membuatku agak kesulitan membacanya…

Syukurlah! Tuhan berpihak padaku… di tengah kesehatanku yang semakin memburuk. Aku bisa melihatnya tersenyum lagi, walau pandanganku semakin buram dan tak fokus. Lee Donghae… aku tak akan pernah memaafkanmu bila malam itu kau meneruskan niatmu bunuh diri. Tapi aku sadar… lelaki yang kucintai bukan orang seperti itu. Dia lelaki baik yang akan memikirkan kondisi keluarganya dibandingkan dirinya sendiri.

 

Bila aku mampu memeluknya… aku akan berterima kasih pada Tuhan. Namun aku harus mengubur jauh-jauh harapan itu… karena kini, sepertinya Tuhan pun akan merenggut satu-satunya alasanku untuk terus tersenyum. Ya, penglihatanku… mungkin beberapa hari ke depan… aku tak akan dapat lagi memandang wajah tampan itu. Lee Donghae… aku lelah dengan perasaan ini. Namun sama sekali tak mampu membuangnya begitu saja. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdoa. Berdoa untuk keselamatanmu dan keluargamu. Membayangkanmu hidup bahagia dari gelapnya duniaku. Hanya itu yang bisa kulakukan… Satu yang kutahu, aku tak pernah menyesal mencintaimu…

Saranghae… Lee Donghae… Gomawo… Dongwoo Ahjusshie…

Aku mendekap erat buku mungil itu, seolah-olah buku itu adalah dirinya. Lee Eunhee… kau benar-benar tega padaku. Membiarkanku tersenyum di atas segala penderitaanmu. Aku bersumpah pada diriku sendiri. Selamanya, kau akan memiliki tempat terbesar di hatiku… Lee Eunhee… malaikatku…

FIN

 

 

Gyaaahh… Efek galau!!! FF Gaje inilah jadinya… Hikss TT____TT

Mian klo feelnya gak dapet!! ><

15 thoughts on “Please, Don’t go! -Oneshot-

  1. kyaaaa,,,saengie,,,,annyeong🙂 lama g update ff,jadi kangen*peluk eunhee*

    tapi lama g nongol,kenapa malah bikin yg sedih”an gini sih,hikssss,,,
    kirain hae bakal hidup bahagia,ternyata dugaan oen salah,,,
    bener” nih saeng,galaunya ber’efek’ k oen juga nih T…T
    tapi tetep DAEBAK,,,

  2. hhuuaaa…….mnydihkan eon…T.T
    knp hee hrs mninggal…kshn hae khilngan utk kdua kalinya…:(
    tp mnyntuh bngt eon,mmbrikn pljran utk lbh mnghrgai khdupan…^^

  3. wahh seneng dong ada tulisan terbarunya unnie😀

    seperti biasa unnie ffnya bagus🙂
    tapi kok ya sedih T^T
    nyesek banget unnie, sampe berasa diaku nyeseknya
    kasian atuh si donghaenya T^T
    kenapa eunheenya harus meninggal u,u

    kalo boleh jujur ni ya, sebenernya sih aku kurang suka sama yg sad-sad ending gitu hehe
    soalnya nyeseknya suka kebawa unnie T^T tapi bukan berarti anti buat bacanya lho
    tapi ya tu ff kan punyanya unnie, jadi terserah unnie dong ya mau bikin kayak apa😀
    ya gak?? *apaansi*abaikan*

    pokoknya ffnya baguss, keren, feelnya dapet banget unnie

  4. Eonniyaaaa,..
    Saeng CL disini aj ya, sekalian,..hehehe

    Hue, eonni kenpa kau pinter bgd lo dh buat FF ANgst,.
    Gila nyakitin,..

    Astga Hee, malang bgd nasibmu baru jg bsa ngeliat donghae dri jarak deket tpi setelah tu,..
    Hae ya baboya bner tu kata Hee msa mau bunuh diri gtu,..#geleng” kpla

    eonniii, bca ini ngikut nge galau dh jd.a,.. sumpah kasian bgd,..
    Hae, lo Hee g ad Jiae masih bsa kow nampung selingkuhan,..#dijitak kyu

  5. Disini donghae harus kehilangan eunhee,,😥
    sedih bgt sihh
    hbis d ptusin pcar tnpa mkirin prasa’n haeppa malah d akhir harus lebih menyedihkan karna d tinggal mati,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s