It’s You -Part 2-

Part 2

 

 

Author: EunheeHAE

Cast: Donghae (Aidѐn), Eunhee (OC), Cassia (OC), Adѐlle (OC), etc (selebihnya cari sendiri)

Genre: Fantasy, Romance, Family

Lenght: Chaptered

———————————-

Laut biru yang luas dengan ikan-ikan dan terumbu karang indah, menyambut Aidѐn ketika pria itu baru saja keluar dari lorong gelap yang menghubungkan dunianya—Aegeia—dengan dasar samudera. Bagian bawah tubuhnya menjelma menjadi separuh ekor ikan hingga pria itu dapat dengan leluasa berenang mengarungi laut lepas. Senyum Aidѐn tetap terkembang. Keyakinan untuk menemukan ‘Belahan Jiwa’-nya terus melekat di otaknya. Dielusnya lembut permukaan Merѐnia yang baru saja ia keluarkan dari kantung hingga kristal biru safir itu memendarkan cahaya indah kebiruan yang membuat ikan-ikan di sekitar sana tertarik. Kilau kebiruan itu bahkan mampu menghidupkan kembali terumbu karang yang sebelumnya akan mati hingga beribu-ribu ikan kecil bergerombol menempati rumah barunya. Kagum pada kehebatan kristal itu, Aidѐn memutuskan kembali menyimpan Merѐnia dalam kantung dan meneruskan perjalanannya. 

Entah apa yang mendorongnya, hingga Aidѐn terus berenang dengan lincah ke arah tenggara. Aidѐn merasa yakin kalau ‘Belahan jiwa’-nya ada di tempat itu. Sekali lagi karena pesan Gethѐ—sang penyihir hebat—yang mengatakan bahwa ia hanya perlu berenang sekehendak hatinya. Maka, Merѐnia akan menemukan sendiri di mana ‘Belahan jiwa’-nya berada.

“Yang Mulia, kau membolos lagi?” seekor lumba-lumba cantik yang biasa menemaninya bermain menyapa ketika melihat Aidѐn melintas. 

Lelaki itu tertawa lebar, “Delfios, aku sedang dalam misi penting,” balas Aidѐn sembari melambaikan tangannya riang.

“Semoga berhasil Yang Mulia!” tambah Delfios lalu berenang melewati Aidѐn. 

Tak memerlukan waktu lama bagi Aidѐn untuk sampai pada sisi laut yang lebih tinggi. Pria bertubuh separuh ikan itu terkejut mendapati seekor penyu raksasa tengah merintih karena terjerat jala nelayan beberapa meter di depannya. 

Berenang cepat ke tempat Pegallos—penyu raksasa yang sudah hidup ratusan tahun itu—berada, Aidѐn berusaha melepas kaitan jala besar yang kini menjeratnya. “Tenanglah sobat, aku akan menyelamatkanmu!” desis Aidѐn pelan dan tangannya terus menarik jala yang ternyata lebih kuat dari yang ia kira. Sebelum jala itu diangkat ke permukaan oleh si nelayan, Aidѐn cepat-cepat mengeluarkan taring-taringnya dan merobek jala itu hingga dirinya berhasil mengeluarkan Pegallos dari sana dengan selamat. Namun nahas, tanpa disadarinya, kantung berisi Merѐnia yang tadi digenggam Aidѐn tersangkut pada jala milik nelayan itu dan terlambat untuk diselamatkan.

“Terima kasih banyak Yang Mulia. Aku akan membalas semua kebaikanmu,” Pegallos bergumam penuh syukur lalu berenang pergi meninggalkan Aidѐn

Sadar, kantung yang sejak tadi disimpannya sudah tak ada, Aiden merutuk kesal tanpa dapat berbuat apa-apa, “Sial! Ayahanda akan marah besar.”

——————————————–

 

-Donghae Beach-

Teriknya matahari di Pantai Donghae mulai berkurang. Begitu pula dengan jumlah wisatawan pengunjung pantai yang terletak di bagian timur Semenanjung Korea itu. Membawa beberapa bungkus Samgyetang yang tadi diberikan Jubong—sebagai bonus—padanya, Eunhee melangkah riang sembari bersenandung kecil. Kikikan tawa seorang gadis yang berasal dari dalam rumah, membuat kaki gadis itu berhenti melangkah. Kening Eunhee berkerut bingung. Mendadak perasaan resah melandanya. Jangan bilang gadis itu adalah kekasih Donghae yang sengaja datang menjemput ke mari. Bukankah memang aneh jika lelaki setampan dan segagah Donghae belum memiliki kekasih?, batin Eunhee cemas.

“Ya! Kenapa tidak masuk?” Eunhee tersentak. Kesadarannya kembali. Kerutan di keningnya semakin bertambah dalam, ketika mendapati Donghae berdiri bersama dua orang gadis cantik berpakaian minim di hadapannya. Setahu Eunhee, Donghae tak pernah membawa pulang wanita bersamanya. Jadi, mungkinkah benar dugaanku?, pikir Eunhee takut. Ada rasa tak rela yang kini bersarang di hatinya.

“Oh, jadi inikah gadis bernama Eunhee itu… Oppa,” salah seorang dari kedua gadis itu maju dan menghampiri Eunhee yang berdiri sekaku patung di ambang pintu. Gadis yang tampak lebih muda darinya dan memiliki rambut coklat indah itu, mengamati penampilan Eunhee dari atas hingga bawah. “Apa ba… ah, Oppa! Apa yang kau lakukan?” rutuk gadis itu saat tiba-tiba Donghae maju dan mendorong tubuhnya menjauh dari hadapan Eunhee.

Sadar akan kecurigaan Eunhee, Donghae buru-buru bergumam, “Mianhae Hee… masuklah dulu. Biar kujelaskan semuanya di dalam.” Tanpa menunggu persetujuan Eunhee, lelaki itu menggiringnya ke ruang tamu dan membiarkan gadis itu duduk di salah satu kursi kayu antik kesayangan sang Ayah.

“Apakah… kau sudah mengingat masa lalumu?” Eunhee memberanikan diri bertanya pada Donghae. Meskipun tidak rela, tapi gadis itu sadar bahwa cepat atau lambat Donghae akan kembali pada keluarganya.

“Masa lalu?” Gadis yang tadi menghampiri Eunhee berseru bingung. Jelas tak mengerti dengan apa yang Eunhee bicarakan.

“Ah, bukan Hee-a… mereka—“

“Tadi aku dan adik sepupuku Neora sedang berselancar di pantai. Namun tiba-tiba ombak besar datang, Neora hampir saja hanyut terbawa arus. Untunglah Donghae-sshi datang, dan menyelamatkannya.” Gadis berambut hitam panjang yang sejak tadi hanya diam, akhirnya ambil suara. Gadis itu begitu cantik, hingga siapa pun yang melihatnya akan merasa iri karena memiliki kecantikan bak bidadari kahyangan. “Aku sudah takut terjadi sesuatu padanya. Tapi syukurlah, dia akhirnya selamat. Bukan begitu Donghae-sshi?” lanjut gadis itu sembari meminta persetujuan Donghae.

“Ah, ya. Benar.” Hanya itu yang bisa diucapkan Donghae. Sementara Eunhee menatap bergantian-Donghae-gadis berambut hitam panjang-dan gadis muda yang satu lagi dengan pandangan bingung.

“Tapi—“

“Kami di sini sekarang, karena kemalangan belum berhenti menimpaku dan adik sepupuku,” potong gadis cantik berkulit putih mulus itu lagi sebelum Eunhee sempat melanjutkan pertanyaannya, “Karena terlalu asyik berselancar, kami melupakan tas dan dompet kami yang ditinggalkan di pinggir pantai. Dan bisa kau bayangkan, semua barang kami lenyap seketika.” Eunhee hanya bisa mengangguk-anggukan kepalanya. Mulai paham dengan apa yang terjadi. Perasaan lega bercampur bangga kini dirasakannya. Lega karena Donghae tak jadi pergi dari sisinya, dan bangga karena lelaki itu telah berbuat baik dengan menyelamatkan kedua gadis tadi. “Syukurlah, sekali lagi Donghae-sshi membantu kami dan menawarkan untuk tinggal di rumahnya. Maaf kalau seandainya kami—“

“Tidak, tentu saja tidak. Nona…?” Eunhee menyela dan sengaja menggantung kalimatnya.

“Park Daera,” gumam gadis itu lalu menunjuk gadis muda lain yang kini berdiri diam di sampingnya. “Dan dia, adik sepupuku. Cho Neora.”

“Ah, Annyeong! Daera-sshi… Neora-sshi… Bangaweoyo!” Eunhee menarik sudut bibirnya membentuk senyum. “Kebetulan, tadi Jubong Ahjusshie membawakanku makanan. Kalian pasti belum makan. Tunggu di sini dulu. Aku akan ke dapur untuk menghangatkannya,” tambah Eunhee ramah, lalu tanpa perasaan curiga sedikit pun melempar tatapan penuh arti pada Donghae sebelum akhirnya masuk ke ruangan lain di rumah itu.

“Kau perlu berterima kasih padaku Yang Mulia,” desis gadis cantik yang mengaku bernama Park Daera itu tepat di telinga Donghae setelah yakin Eunhee sudah tak mendengarnya. Seringai licik tergambar jelas di sudut bibirnya.

Donghae tersenyum lebar, “Yeah, kuakui. Kemampuanmu membuat cerita, malam ini memang menyelamatkanku Cassia.”

“Kalian aneh!” desis Adѐlle kesal sedangkan Donghae dan Cassia hanya saling melempar senyum.

Sungguh sulit menyimpan semua ini

Sesulit perjalanan cintaku untukmu

Tak tahu apa yang akan terjadi nanti

Hanya satu yang kutahu kini…

Aku… mencintaimu!

 

Donghae_

—————————————

“Maaf, hanya kamar ini yang aku punya. Untuk sementara, biar Donghae tidur di luar saja.” Eunhee menjelaskan pada Cassia dan Adѐlle yang kini dikenalnya dengan nama Daera dan Neora, selepas makan malam. “Kau tidak apa-apa kan Hae?” Eunhee meminta persetujuan Donghae.

Pria itu mengangguk. “Yeah, lelaki memang harus mengalah.”

“Ah, jangan!” Tiba-tiba Adѐlle maju ke tengah-tengah mereka, “Bagaimana kalau Donghae Oppa masuk angin? Rumah ini kan hanya berdinding kayu? Sementara angin di luar sangat keras. Sebaiknya kau tidur dengan Daera Eonnie, sedangkan aku dengan Donghae Oppa… aww!!” gadis itu menjerit ketika merasakan pinggangnya dicubit. “Eonnie, sakit!” keluhnya berlebihan.

Cassia tersenyum kecil melihat ekspresi heran bercampur kesal Eunhee. Diakui Eunhee, dirinya terganggu melihat kedekatan Donghae dengan gadis-gadis itu. Terlebih sikap Adѐlle yang cenderung manja pada Donghae. Seolah-olah gadis itu sudah mengenal Donghae cukup lama. “Eunhee-sshi, kau tidur saja dengan Neora. Dan Donghae-sshi, kau juga tidur saja di kamarmu. Sepertinya, malam ini aku tak akan bisa tidur,” jelas gadis itu lalu tanpa menunggu persetujuan yang lainnya, langsung pergi meninggalkan rumah.

—————————————–

Debur ombak dan angin yang cukup keras, mewarnai suasana pantai malam itu. Hiruk-pikuk yang siang tadi diperlihatkan, berganti sunyi seiring larutnya malam. Merapatkan jaket coklat tua yang tadi dipinjamnya dari Eunhee, Cassia melangkah melewati pasir putih yang mencetak jejak kakinya dengan jelas. Rambut hitam panjangnya berantakan tersapu angin. Dengan alasan yang sengaja dibuatnya, Cassia memilih pergi dari rumah kayu sederhana milik Eunhee. Alasan itu dibuatnya karena dirinya tak terbiasa berbagi kamar dengan gadis lain. Apalagi kamar tidurnya tak terlalu besar dibandingkan kamar tidur miliknya ketika di Aegeia dulu. Lebih baik aku mencari mangsa baru, batin Cassia senang dengan seringai licik khas miliknya.

“AAAAAAAAAHHHHH!!!” Sontak, Cassia memutar kepalanya ketika mendengar teriakan keras seorang pria dari arah Utara. Matanya menyipit untuk memperjelas sosok pria dengan kemeja putih dan celana hitam panjang yang sedang berdiri membelakanginya.

“Sepertinya lelaki itu membutuhkan bantuanku,” gumam Cassia yakin, lalu dengan langkah tegas menghampiri sosok pria yang masih menatap pantai dengan sesekali berteriak seperti sebelumnya. “Neirdos memang aneh. Kenapa harus berteriak begitu hanya untuk menumpahkan emosinya?” desis Cassia sekali lagi dengan nada meremehkan. Tapi tak apa, lelaki ini kelihatannya cukup berada. Setidaknya, aku bisa memanfaatkannya untuk memberiku tempat tinggal malam ini, batin Cassia senang dan memuji dirinya sendiri karena sangat pandai memanfaatkan keadaan.

“AAA—“

“Ehm… Apakah dengan begitu, bebanmu bisa berkurang Tuan?” Cassia berkomentar dan lelaki itu lantas memutar tubuhnya karena terkejut. Namun di luar dugaan, Cassia—yang terbiasa menggoda kaum Adam dan kaum itu pun tak pernah bisa menolak pesonanya yang begitu mematikan—sempat tertegun. Lelaki bertinggi 183 cm di depannya tampak begitu tampan dan sempurna di mata gadis itu. Walau kini, penampilannya terlihat berantakan dengan kemeja putih yang kancingnya terlepas hingga sebatas dada dan lengan tergulung hingga siku. Mata lelaki itu terlihat lelah dengan kedua cekungan hitam di bawahnya.

Refleks, Cassia mundur selangkah dan memasukkan kedua tangannya pada saku jaket. Sekali lagi Cassia tertegun, merasakan jari-jarinya menyentuh permukaan halus kristal yang diyakininya adalah Merѐnia. Rupanya, Eunhee lupa menyimpan kembali kristal yang kini menjadi bandul liontin silver itu setelah sore tadi memasukkannya ke dalam saku. Tidak mungkin. Lelaki ini tak mungkin menjadi pasangan takdirku!, bantah Cassia dalam hati.

—————————-

Eunhee mengumpat pelan. Berulang kali membongkar lemari pakaiannya tapi tak juga menemukan liontin miliknya. Eunhee ingat tadi pagi masih memakainya. Tapi kini, liontin itu lenyap tanpa bekas.

“Bisakah kau tak berisik? Aku tak bisa tidur?” Adѐlle yang terpaksa harus satu kamar dengan Eunhee mengeluh kesal. Gadis muda itu bangkit dari tempat tidur dan menatap Eunhee heran. “Sebenarnya apa yang kau cari?”

“Liontinku. Aku ingat, pagi tadi aku masih memakainya,” balas Eunhee kalut sambil tak mengalihkan tatapannya dari barang-barangnya yang berserakan di lantai. Takut kalau-kalau liontin dan kristal biru safir pemberian sang Ayah, hilang dicuri orang. Selama ini, entah bagaimana, Eunhee merasa kesedihannya lenyap begitu saja setiap kali dirinya memakai dan membawa kristal itu bersamanya. Gadis itu merasa yakin kalau kristal pemberian Ayahnya, memiliki daya magis yang luar biasa besar hingga mampu menghilangkan sedih hatinya.

“Kehilangan liontin saja kau sudah belingsatan begini? Bagaimana kalau kehilangan nyawa?” rutuk Adѐlle kesal lantas memilih merebahkan tubuhnya kembali di atas kasur.

Eunhee menghela nafas berat, “Tapi bandul liontin itu sangat berharga. Pemberian Appa-ku satu-satunya,” bantah Eunhee dengan pandangan menerawang. “Appa bilang, Dewa laut yang sengaja memberikan kristal itu—“

“APAAA??!” Sontak Eunhee terlonjak kaget saat tiba-tiba Adѐlle bangkit dan membentak.

“Ke-kenapa kau—“

“Ada apa ini?” Mata hitam Adѐlle yang sebelumnya akan berubah biru, kembali ke warna semula—hitam—setelah kedatangan Donghae ke kamar itu.

“Hae,” sebut Eunhee lega dan memilih menghampiri pria itu di ambang pintu. Gadis itu bisa merasakan aura menakutkan ketika mendengar bentakan Adѐlle tadi. Sekujur tubuhnya bergetar dengan cara yang aneh.

“Ada apa?” Donghae menurunkan nada bicaranya dan menatap Eunhee cemas.

“Gadis ceroboh itu meng—“

“Neora!” Donghae menyela cepat dan buru-buru menarik Eunhee ke luar kamar, sebelum Eunhee semakin curiga pada adiknya yang sudah siap berubah menjadi monster.

“Katakan padaku ada apa Hee?” Eunhee menunduk, tak berani menatap mata teduh pria di depannya. “Hee…”

“Aku… aku takut Hae-a!” Eunhee terisak, gumamannya tak lebih dari sekedar bisikan. Tak tega melihat gadis yang dicintainya ketakutan, Donghae lantas menarik tubuh gadis itu dalam dekapannya.

“Tenanglah! Tidak ada yang perlu kau takutkan selama ada aku di sisimu,” Donghae mencoba menenangkan Eunhee sembari mengeratkan dekapannya di tubuh gadis itu. Tak akan kubiarkan seorang pun menyakitimu!

———————————-

Kedai mie seafood itu sudah sepi. Hanya beberapa gelintir orang yang masih setia mengobrol dan bermain kartu. Cassia bersama lelaki yang tadi dihampirinya ikut meramaikan kedai itu. Keduanya duduk di salah satu meja yang letaknya lebih dekat ke pantai. Hingga pemandangan indah pantai Donghae saat malam, masih dapat terlihat dengan jelas. “Jadi, kau tak mengenalku?”

“Haruskah aku mengenalmu?” balas Cassia angkuh sembari mengunyah mie pesanananya.

“Tidak. Tentu saja tidak,” Lelaki tampan itu membalas terlalu cepat lantas meneguk segelas Soju yang baru saja dituangnya.

“Kurasa kau sudah cukup mabuk Tuan. Jangan diteruskan!” Cassia mengingatkan sembari menahan pergelangan tangan pria itu yang hendak menuangkan soju lagi ke dalam gelas.

“Aku tidak mabuk,” bantah lelaki itu cepat lalu menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan di atas meja. Tampak sangat frustasi dengan segala masalah yang menghimpitnya.

“Kalau kau berkenan, ceritakan semuanya padaku. Mungkin akan membuat bebanmu lebih ringan,” Cassia menawarkan dengan senyum terbaik yang mampu membuat kaum Adam yang melihatnya terpesona.

Lelaki itu mengangkat wajah, memijat pelipisnya yang tegang lalu bergumam, “Aku tidak biasa mencurahkan perasaanku pada orang asing. Tapi setidaknya, kau bukan fans-ku yang menjerit histeris saat melihatku. Hal itu terasa lebih baik.” Cassia mengerutkan keningnya, tak mengerti dengan racauan pria itu.

“Kau… punya fans?”

“Sebenarnya apa yang kau lakukan tengah malam begini Nona? Kenapa gadis secantik dirimu masih berkeliaran? Tidakkah orang tuamu mengkhawatirkanmu?” cerocos lelaki itu tanpa menjawab pertanyaan Cassia.

Terlalu kolot!, batin Cassia sembari tersenyum sinis. Sekalipun dia orang terkenal, tak mungkin kalau dia adalah pasangan takdirku, pikirnya yakin.

“Nona—“

“Aku tak punya rumah. Apalagi keluarga.” Lelaki itu membelalakkan matanya lebar-lebar. Menatap Cassia dengan sorot mata tak percaya. “Maksudku… aku kabur dari rumah karena tak setuju dengan perjodohan yang direncanakan kedua orang tuaku.” Cassia melanjutkan kisah yang sengaja dikarangnya—yang tak sepenuhnya kebohongan—ketika lelaki di depannya hanya diam. “Sudahlah! Sebaiknya aku…” Cassia berhenti bergumam ketika merasakan lelaki itu menahan lengannya. Ia baru saja menjalankan rencananya—berpura-pura akan pergi.

“Kau mau ke mana? Tidak baik bagi gadis sepertimu di luar sendirian. Ada banyak orang jahat yang bisa membahayakanmu!” Lelaki itu berkomentar, membuat Cassia tak tahan untuk menahan seringainya.

“Aku tak mau mengganggu lelaki yang sedang frustasi,” Cassia sengaja menjawab dengan nada muram dan hal itu berhasil membuat lelaki itu merasa bersalah.

“Tinggallah di hotel tempatku menginap.” Cassia menghentikan langkahnya dan menyeringai senang mendengar penawaran lelaki itu. “Setidaknya untuk malam ini.”

Bagus, batin Cassia puas. “Kita orang asing, Bisakah kau menjamin—“

“Namaku Choi Siwon. Seorang aktor yang sedang menjalankan syuting di tempat ini. Bagaimana denganmu?”

Cassia memutar tubuhnya dan menatap Siwon lekat-lekat. Merasa senang karena ‘mangsa’nya berhasil dijerat dengan mudah. Ternyata kehebatanku membuat pria-pria bertekuk lutut tak pernah berkurang, batin Cassia bangga. “Park Daera. Itu namaku.”

—————————————-

“Coba kau ingat-ingat kembali. Di mana tadi kau meletakkannya?” Donghae mengusap bahu Eunhee yang kini sudah berhasil menghalau rasa takutnya karena gertakan Adѐlle tadi.

“Aku tidak tau. Aku lupa,” keluh Eunhee muram lalu menangkupkan kedua tangan menutupi wajahnya.

Donghae menghela nafas pelan, “Ya sudah. Jangan dipaksakan. Sepertinya kau butuh istirahat. Mencari di saat panik begini, tidak akan membuahkan hasil. Coba kau ingat-ingat dulu, di mana terakhir kali kau meletakkan liontin itu.”

Eunhee mengangguk. Menyadari kebenaran dalam kata-kata Donghae. “Yeah, kau benar,” setujunya lalu beranjak dari sofa. “Sebaiknya aku memang tidur dulu,” putus Eunhee akhirnya.

“Tidak. Kau tidur di kamarku saja. Biar aku tidur di luar,” tahan Donghae ketika melihat Eunhee akan melangkah ke kamarnya. Khawatir kemarahan Adѐlle belum sepenuhnya hilang. Donghae tak ingin adiknya itu kembali menakuti Eunhee dengan kemarahannya. Hal itu akan membongkar jati diri mereka yang sebenarnya.

Eunhee memutar tubuhnya dan terdiam cukup lama. Matanya tak lepas menatap Donghae dari atas hingga bawah dengan pandangan menyelidik. Seolah-olah dapat membongkar rahasia terdalam pria itu dengan tatapannya. “Sebenarnya, kau dan gadis itu. Ada hubungan apa?”

Donghae terhenyak. Untuk sesaat dirinya hanya bisa menatap Eunhee dengan mulut terbuka dan menutup berulang kali tanpa suara. “Bukankah tadi Daera—“

“Ah, ya. Kau menyelamatkan kedua gadis itu,” sela Eunhee. Namun jelas terlihat ekspresi tak percaya di wajahnya.

“Hee, biar kujelas…” Donghae berhenti bicara ketika dilihatnya tubuh Eunhee limbung dan hampir jatuh membentur dinding kayu di sampingnya. “Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae khawatir sembari menggiring gadis itu ke sofa terdekat.

“Entahlah. Mendadak kepalaku pening dan kakiku tak memiliki kekuatan sama sekali,” balas Eunhee lemah dan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa.

Donghae bangkit, mengambil air minum dan mengangsurkannya pada Eunhee. “Minumlah!” Eunhee menurut dan meneguk air dalam gelas itu hingga tinggal separuh. “Apa perlu kubawa kau ke dokter?” tawar Donghae, takut terjadi sesuatu yang serius pada gadis itu.

Eunhee menggeleng. “Tidak usah. Mungkin hanya kelelahan karena hingga larut begini belum juga tidur,” Gadis itu berasumsi dan Donghae mengangguk setuju.

“Yeah, kalau begitu. Sebaiknya kau tidur saja,” katanya lalu tanpa meminta persetujuan Eunhee, Donghae membopong tubuh ramping gadis itu ke kamar. Bersamaan dengan itu, Eunhee merasakan jantungnya berdegup melebihi kecepatan normal, tapi sama sekali tak memiliki kekuatan untuk menolak.

Sorot mata teduh itu

Membiarkanku terhanyut semakin dalam

Kehangatan yang kau tawarkan

Tak pernah dapat kutolak dengan mudah

Sekalipun berbagai pertanyaan menghantuiku

Aku tetap tak peduli

Selama kau, tetap di sisiku…

 

Eunhee_

———————————-

Langit berubah cerah seiring dengan munculnya mentari di ufuk timur. Donghae menggeliat merasakan kilauan sinar matahari yang menelusup masuk melalui tirai-tirai bambu yang menghiasi jendela besar rumah kayu tersebut. Semilir angin dan debur ombak mewarnai suasana pagi itu. “Aku tak menyangka kau begitu mencintai Neirdos-ceroboh itu. Hingga rela kedinginan di sofa seperti ini,” Donghae tersentak dan buru-buru bangkit dari sofa usang yang semalaman ditempatinya.

Mendapati Adѐlle tengah bersedekap di sisi meja kecil dekat sofa. “Pelankan suaramu!” desis Donghae cepat sembari melirik ke arah kamarnya—di mana Eunhee berada.

“Kenapa? Kau takut gadis itu mendengarnya?” ejek Adѐlle lalu memilih duduk di sisi pria itu.

“Sebaiknya kau pulang. Biar aku yang mengurusnya sendiri.”

Adѐlle mendengus keras, “Kau mengusirku?” protesnya kesal. “Bagaimana kau bisa mengurus semua ini sendirian sementara rasa cintamu untuk Neirdos itu jauh lebih mendominasi daripada misi yang diberikan Ayah padamu?”

Donghae menunduk lesu. Apa yang dikatakan Adѐlle ada benarnya. Tapi dirinya pun tak bisa menolak perasaan yang kini bersarang di hatinya.  “Adѐlle. Aku tahu kekhawatiranmu, tapi—“

“Aku tak mau Ayahanda menghukummu hanya karena egoisme-mu sendiri Kakak,” potong Adѐlle cepat. Gadis itu menatap mata teduh Donghae lekat-lekat. “Sebaiknya kau serius. Ini menyangkut masa depan Aegeia. Mana bisa seorang putera mahkota sepertimu dihukum hanya karena tak becus mengemban misi mendapatkan Merѐnia kembali?”

Donghae menghela nafas frustasi dan sekali lagi menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat. “Tenanglah. Aku akan mendapatkan Merѐnia kembali,” janji Donghae yakin.

“Tapi bagaimana caranya? Batu itu sudah tak di sini lagi?” Adѐlle bertanya dan Donghae membelalak lebar.

“Bagaimana kau bisa tahu Merѐnia sudah tak di sini lagi?”

Adѐlle mencibir, “Bukankah Neirdos kesayanganmu itu sudah menghilangkannya. Semoga saja Merѐnia tidak jatuh ke tangan orang jahat. Atau keselamatan Aegeia akan terancam,” desis Adѐlle kesal.

“Tapi bisa saja Eunhee hanya lupa meletakkannya di mana?” bela Donghae cepat.

“Tsk, aku bisa merasakannya Kakak. Merѐnia sudah tak berada di rumah ini lagi.” Adѐlle beranjak dari sofa yang ditempatinya. “Lihat saja bagaimana akibat yang ditimbulkannya pada Neirdos-kesayanganmu itu! Sudahlah sebaiknya kau ikut pergi bersama—“

“Tunggu!” Donghae cepat-cepat menahan lengan Adѐlle dan menatap gadis itu dengan ekspresi bingung.

“Apa maksudmu? Akibat yang ditimbulkan Merѐnia pada Eunhee?” tanyanya khawatir. Jelas sama sekali tak mengerti dengan maksud Adѐlle.

“Tsk, makanya jangan sering membolos saat sekolah,” cibir Adѐlle kesal, “Kau jadi tak tahu apa akibat yang akan ditimbulkan pada Neirdos yang pernah menyimpan Merѐnia.”

Donghae tertegun. Ia sadar, dirinya memang sering membolos setiap kali sekolah istana berlangsung. Dan lebih memilih bermain di laut lepas bersama ikan-ikan sahabatnya. Hingga saat ujian kenaikan tingkat, Donghae harus mengakui dirinya kalah pada adiknya. Bahkan, salah satu kehebatan Merѐnia dalam menemukan belahan jiwa seseorang, juga baru diketahuinya dari Gethѐ. “Apa? Apa yang akan terjadi?” desak Donghae khawatir.

“Sudahlah, itu tak penting. Sebaiknya kau—“

“Itu penting!” sela Donghae tajam hingga Adѐlle beringsut mundur ketika merasakan aura kemarahan sang kakak. Sorot mata teduh lelaki itu berganti kilatan biru yang berhasil membuat siapapun membeku untuk sesaat. Jika sudah begini, gadis muda itu tak bisa lagi membantah.

Sedikit ragu, Adѐlle mulai menjelaskan, “Neirdos yang menyimpan Merѐnia dalam waktu lama, akan terserap energinya secara keseluruhan. Hingga ia menjadi ketergantungan pada batu itu. Bila Merѐnia tak lagi di tangannya. Maka bisa dipastikan, Neirdos itu akan mati perlahan-lahan karena kehabisan energi.”

Donghae tertegun. Seketika terduduk pada sofa di belakangnya. Mata birunya menerawang jauh dan kedua tangannya terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. “Tidak mungkin!” desis Donghae tajam. “Seandainya aku tahu… Seandainya aku tak pernah membolos… Seandainya hari itu aku langsung membawanya… seandainya…”

“Tak ada yang perlu disesalkan!” sergah Adѐlle tak sabar. “Sebaiknya sekarang kau cari saja keberadaan Merѐ—“

“Tidak, sebelum aku menyelamatkan Eunhee!” potong Donghae cepat lantas beranjak dari sofa beledu putih usang itu. “Katakan padaku! Apa cara yang kau ketahui untuk menyelamatkan Eunhee?”

Adѐlle membuang muka sebal. “Apakah Neirdos itu jauh lebih penting daripada keselamatanmu dan negerimu sendiri?”

“Aku akan melakukan apa saja untuk Eunhee,” bantah Donghae keras kepala. “Katakan padaku Adѐlle, apa yang bisa kulakukan untuk menyelamatkannya?” Donghae meraih kedua bahu sang adik lantas mengguncangnya. “KATAKAN!!!”

“Setahuku… tidak ada cara—“

“Pasti ada!” raung Donghae frustasi lalu melepaskan cengkramannya di bahu gadis itu dan menghambur ke dalam kamar untuk memastikan kondisi Eunhee baik-baik saja.

Adѐlle hanya bisa menatap punggung Donghae miris. Sekalipun ada, aku tak akan mengatakannya padamu Kak, gumamnya dalam hati.

Mungkin terdengar picisan…

Mungkin terlihat konyol…

Atau mungkin juga aku yang bodoh

Tak peduli semua orang menertawakanku

Tak peduli seluruh alam mengejekku

Tak peduli aku hanya dapat menatapmu dari kejauhan

Kini, hanya satu keinginan terbesarku..

Membuatmu tetap bernafas

 

Donghae_

 

 

TBC

Kyakyakya!!! *ala2 wookie* Haduuhh… sekali lagi jantungku berpacu cepat sebelum ngepostin FF ini. Takut kalau-kalau membuat readers sekalian kecewa dengan jalan cerita yang sangat mengada-ada =,=
MianHAE!!! klo hasilnya jelek. Mohon komentar dan masukannya. Dan tolong dimaklumin karena ini FF Fantasy perdana saya *ngumpet dalem selimut Hae* #ehhh
Sekali lagi, jangan kapok yah baca FF ini ><

32 thoughts on “It’s You -Part 2-

  1. first????
    howaaaaaaaaaaa eonnie apa2an tuh TBC mejeng disono ><

    donghae~ssi bodoh!pake acara bolos2an segala jadi ga tau cara buat selametin eunhee kan..hwaiting ikan tampan!
    *hug eonnie*

  2. Ceritanya keren kok author, karena fantasy jd jelas mengada2 tp beneran bagus ^^
    Apa cara yg bisa dilakuin blm nyelametin Eunhee? penasaran
    Ditunggu part selanjutnya ^^

  3. hhuuaaa….keren bngt eon,,,g nygka cnta na hae ma hee bsr bngt,so sweet bngt,,tp sbel jg ma si adelle,jgn smpe dh eunhee mnggl,hrs happy ending y eon,hehehe……

  4. kyakyakya,,,,*ikutan histeris*
    akhirnya,part 2 nya nongol juga🙂
    makin seru makin daebak,,,
    istilah” yg ada d ff ini keren”, nama”nya juga bagus” saeng,,,,

    hae semakin lama tinggal d daratan semakin cinta ma eunhee,,trus ntar gimana klo hae balik k laut,,,siapa yg bakal ikut k dunia salah satunya????

    tertarik juga nih ma kisahnya cassie n siwon,,,,
    aarrgghh,,,pokoknya ceritanya daebak deh dan bikin penasaran,,,
    dtunggu next partnya y saeng,,,
    hwaiting🙂

  5. eonni, kau berpacu cepat krna tkut mngcewkan.. kalau aku, jntungku brpacu cpat karna baca ni ff….

    aahh.. tiu si eunhee jngan dibiarin mati ya…?? g tega sma hae…

    bagus kok eon ff nya, smngat buat lanjutnnya ya eon.. ^^

  6. wow adelle kayanya sayang bgt tu sama kakaknya, tapi kalo marah serem ya..

    saeng itu si peri laut nanti sama siwon ya?(sok tau)
    dia tu jahat apa nggak sih??

    pengen liat hae sama hee nie
    makannya aku kecewa tiba2 muncul ‘tbc’ (lagi seru2nya juga..^^)
    hehe ditunggu part selanjutnya yaw
    figthing dongsaeng-a!!🙂

    • iyah… saking sayangnya ampe begitu si Adelle ekekek
      Hmmm… dilihat nanti saja Eon. Aku gak bisa jawab di sini *sok misterius*
      sabar Eon, sabar… Hae sama Hee masih akan kembali lagi kok #eaaaa

  7. Syubidubidu~~ TraLeeLeeLeeLeeLee~~~ *peyuk Lee pake tangan dongdong (maunya dy ini sih)
    DAEBAKKKKK!!! bukan cuma ceritanya, tapi penulisannya juga bagus!!!
    jauh beda bgt perkembangan nulismu dari jaman dulu #yaeyalah XP

    aku ngakak pas baca adegan pembuka hae si ikan duyung ngobrol2 ama ikan laen.. hahaha..
    trus pas aku sekongkol ama hae pura2 jadi Park Daera, aku tiba2 keinget kisah persahabatanku ma hae di OS.. hoakakkk.. jadi kangen masa2 itu *mengenang keharmonisanku ma siwon oppa*

    aku juga suka banget klo hae ama adelle mw berubah jadi mahluk goib itu.. hoakakkkkk.. kesannya misterius2 gimana gitu,,
    tapi lee, kok kamu pake belagak takut ma adelle, bukannya sesama siluman sama seremnya?? hoakakkkk #nyarimasalah

    trus, trus, trus… WOAAAAAAAAAAAAAAAAA!!! Lee bebehhh, pertemuanku ama siwon oppa sukaaaaaaaaa!!! kristalnya mempertemukanku dgn belahan jiwa~ emang kudu ogah dulu.. hohoo.. namanya juga nymph yg berjiwa bebas~ asal tetep deket2 aja ma siwon oppa.. ekekkkkk
    btw, tu malem2, di hotel berduaan, akankah kejadian di lt 17 terulang di mari?? hoaaaa #ngarep

    tapitapitapiii… itu efek samping ketagihan trus sekarat itu cuma ke manusia,pan?? klo ke nymph cantik macem aku g ngaruh kan?? O-em-geh, jgn ampe aku metong n ninggalin siwon oppa yg udah stres akut itu makin parah trus bunuh diri XP

    komen terakhir *nyadar udah kepanjangan*
    awalnya kukira eunhee emg ada penyakit, ternyata gara2 batu.. ide bagus.. tapi.. hahahaa~ kamu sii jodoh ama si donge dongdong… namanya aja udh dongdong, g tw kan klo tu batu bahaya klo lama2 dipake manusia.. ckckckckck~
    saran buat donge, CEKEK AJA TUH ADELLE, CEKEK!! CEKEK mpe mw ngasih tau penawarnya!!! (yg jadi adelle rika kan?? gpp berarti, tinggal kasih kyu, g bakal marah dy klo baca komenku #sokyakin)

    yasudlaa, sekian n terima kasih ^^

    • Aigoooo… ini komen apa lanjutan FFnya?? hahaha
      GamsaHAE Park Daera saiyoooongg!!! *hugss*
      Aduh… jadi malu-malu mau dibilang begitu ama Author Hebat #ehmm

      YAAAAKKKK!!!! apaan nyebut-nyebut aku Siluman?? grrrrrrrrr ><
      Awas aja klo gak ngembaliin Merenia. kubejek-bejek ntar #plakplok

      Si Rika kagak bakal baca komenmu di sini Park. Jadi percuma hahahaha

  8. Kyakyakya#efek-kim-ryeowook;p
    onnie aq mau ijinngtawain laki mu bleh tak???
    Wkwkwkwkwkwkwk
    gg bsa byang’n deh donge yg telanjang dada trus pke ekor ikan trus sirip’a ngepak2 gtu trus smbil cipika cipiki gtu sma temen2’a dilaut sana
    puahahahaahhaahaha#colaps
    sumpah deh prlu imajinasi tinggi buat bayang’n itu scene;D
    bnyak’n ketawa nih gw, lngsung ke cerita dehh
    hehehe^V^
    smpet shock pas tau kekuatan krystal itu bkal bkin eunhee mati, lbih shock lg liat reaksi donge… Aaa so sweet bgd dah,,, dri dlu aq menteng’n ff onnie, gaya nulis onnie jg udh lebih dewasa gtu, bnyak kata2 romantis’a, kata2’a itu pas ajj gg bkin eneg(?) pko’a klop ajj deh#susah jelas’n boo;p
    trus trus tmben nih bang siwon nongol d ff onnie#ehh btw, itu kuda tmbah gelap ajj ye skrnk#ratu gosip;p
    hahaha
    next, mau coment’ adelle nih, dia itu sbner’a jahat yak??
    Ko kea gg suka gtu abang’a jatuh cinta sma manusia?
    Oia mau coment’a nama daera jg onn, aq salah baca terus, yg aq baca malah DORA#gg pnting jg kalee
    kkkkkk
    (bisik2)okee next part skinship eunHae donkkk:D
    aq bner2 kangen ff eunhae moment’a ;(

    • Haiiiishh…. Utjimaaaa!!!! dilarang ketawa!!! -________-
      waaa…. gomawooo Saeng. Mudah2an sampai nanti juga bisa mengalami peningkatan yah🙂
      gpp, sekali2 keluarin si Kuda juga ^^
      Adelle?? liat nanti bagaimana perkembangannya #plakplok
      Hwakakakka… DORA?? hwakakakkak *ngakak gulung2 sambil lirik2 orangnya*

      waduh… Eunhae Moment yah.. aku usahain deh yaa🙂

  9. huaaa…mkin bagus aja…tambah penasaran aku…
    dewa laut yah?? ada spongebob gk d sna?? hihi /plakk/abaikan😀

    mkin complicated nih masalahnya,,Merenia ada di Cassie a.k.a Park Daera~ssi..
    trus tuh Merenia udh nyerap kekuatan.y Eunhee,,eotthokhae??
    Donghae jg bkal ngapain tuh?? bimbang,,,bimbang deh bang hihihi..
    si Adelle #kyk.nama.penyanyi# galak amat hihi .__.V hampir aja dia ngebocorin rahasia
    kkekeke..

    ehh,,bang kuda ikutan eksis ternyata,,smpe ngajak orng yg bru dia knal nginap di hotel hahah..#maksud.y kn baik hihi😀

    aaaaaa…penasaran tngkat dewa sm next part.y
    d tnggu eonn..😀
    mian bru komen skrng hihi

  10. Waduuhh ane lom komeng trnyata!! *plaakk*
    pdhal bca’a dh dr kpan tau -_-” *lupa yg d’sngaja*
    #jedeerr
    waw trnyata onge putra duyung tah, trjwblah sudah rasa pnasarn sya!!
    Tp agak aneh jg ya bayangin’a *sambil ngayal*
    jahahaha donge brsirip!!

    Yasudhlah sya tunggu k’lanjutan’a…

  11. Eonni.
    Yah akhirnya saya punya waktu baca ini.
    Ya ya ya pasti itu cara nyelamatin eunhee bahaya kan?
    Ayo bang ikan.. Selamatkan belahan jiwamu
    #plak
    ini apa coba

  12. wuuuaaa… makin seru aja.. jd itu merenia bs membawa ketemu dgn belahan jiwa? jd pgn pnya. haha. tp kalo energinya keserap n bs meninggal, g jadi pengen deh. hehe

    yg msh penasaran adalah klo aiden g bs membawa itu merenia pulang, maka ayahandanya akan menghancurkan kerajaannya sendr? dan juga bumi kah? aduh… bahaya juga ya….
    aduh aiden… kamu harus berkorban…

  13. kyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa~
    #histeris

    tiap baca kalimat demi kalimat, jantungku berdetak kencang #beuhhhh…apaini?

    Demi dewa neptunus, suka…sukaa… dan sekali lagi suka bgt sama FF ini….
    Eunhee? Apa yg akan terjadi cobak?
    apa cassia nanti mau ngembaliin tuh batu safir?
    #gigitdengkul

    Aiden, pasti sgt frustasi. Siapa cobak yang akan diutamakannya??
    #akuuuuuuu
    #gubraaakk
    ^abaikan^

    Pectus, pasti sgt teramat kejam. gimana, kalau aiden memilih Eunhee? Apa yg akan Pectus lakukan sama Eunhee???
    #unjukgigi

    kyaknya udah jadi Ficlet ni komen ku…
    #ngumpetdilaot

    Next~~~~~~~~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s