Memories of Youth -Book Two-

Book 2

-Something inside-

 

 

Author: EunheeHAE / @Diah8876

Male Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Kibum, Park Jungsoo, Kim Youngwoon, Kim Jongwoon, Kim Ryeowook, Shin Donghee, Lee Sungmin, Tan Hangeng, Kim Heechul and others.

Female Cast: Lee Eunhee, Shin Jiae, Hwang Yeonrin, Han Haerin, Cho Saehyun, Lee Jihyeon, Lee Hyunsun and others.

Leght: Chaptered

Genre: Romance, Friendship, Family, Fluff.

 

 

-Shin’s House-

Melemparkan tas sekolahnya sembarangan, Jiae menghempaskan dirinya pada ranjang empuk berhias sprei biru di belakangnya. Untuk sesaat, matanya menatap kosong pada langit-langit kamar berhias lukisan awan biru yang berderet-deret indah. “Cho Kyuhyun…” desis gadis itu pelan lalu menelungkupkan kepalanya di bawah bantal.

————————-

“Aku suka warna langit. Rasanya menenangkan bila melihatnya. Seperti sedang terbang di tengah cakrawala,” kenang Jiae dengan senyum lebar terbentuk di bibirnya. Mata coklatnya menatap lurus ke langit cerah siang itu. 

“Terlalu kekanakan!” desis Kyuhyun dengan seringai mengejek. 

“Hey, apa kau merasa sudah dewasa? Lihatlah seragam SMP yang kau pakai!” balas Jiae lantas menjulurkan lidahnya dan meraih tas sekolah di sampingnya. Beranjak dari tempatnya duduk di rerumputan luas belakang sekolah, gadis itu berjalan pelan meninggalkan Kyuhyun yang masih sibuk mengemasi barang-barangnya sembari bersenandung kecil.

Jiae dan Kyuhyun bersahabat sejak keduanya masih duduk di bangku sekolah dasar. Rumah mereka bertetangga. Dan setiap kali berangkat ke sekolah, keduanya selalu bersama. Bahkan saat pelajaran usai, Jiae dan Kyuhyun seringkali mampir ke padang rumput di belakang sekolah hanya untuk sekedar bersantai dan berbagi cerita. 

“Kyu! Cepatlah! Aku lapar!” jerit Jiae saat didapatinya Kyuhyun masih saja berkutat dengan barang-barangnya.

“Kau duluan saja! Masih banyak yang harus kulakukan.” Jiae merengut. Lalu tanpa berkata apapun lagi, gadis itu melangkahkan kakinya lebar-lebar meninggalkan Kyuhyun seorang diri. 

Dua hari kemudian, Jiae terperangah mendapati lukisan langit biru dengan awan-awan putih yang menghiasi langit-langit kamarnya. Detik berikutnya, gadis itu berlari cepat menuruni anak tangga ke lantai bawah, menuju rumah Kyuhyun yang terletak di seberang rumahnya setelah menemukan sepucuk surat yang ditinggalkan di atas meja belajarnya.

“Langit Biru. Kau senang sekarang?”

Walau tak disertakan nama pengirim. Jiae tau pasti siapa yang telah repot-repot melakukan semua itu untuknya. Cho Kyuhyun, terima kasih, batin Jiae riang. 

——————————

 

 Dering ponsel yang berasal dari tas sekolah yang tergeletak di sampingnya, menyadarkan Jiae dan mengembalikan perhatian gadis itu ke masa kini. Diarihnya tas hitam bertuliskan SM High school di bagian depan, mencari ponsel flipnya lalu mendekatkan ponsel canggih itu ke telinganya. “Wenniriya?” tanya gadis itu langsung tanpa salam sebelumnya ketika melihat nama Haerin yang terpampang di layar.

Aigooo… kenapa ketus begitu?” gerutu Haerin di seberang, “Aku hanya ingin mengingatkan. Sore nanti kita jadi keluar bukan?” Jiae mengangguk pelan tanpa menyadari bahwa si penelepon tak bisa melihatnya. “Ya! Jiae-a, kau mende—“

Ne, arasso!” sela Jiae cepat lalu menutup flip ponselnya. Detik berikutnya, gadis cantik bermata coklat itu kembali tenggelam dalam lamunan panjangnya.

-Handѐl and Grѐtel-

Cafѐ milik keluarga Yesung itu tampak sedikit ramai di malam hari. Banyak pasangan kekasih dan juga keluarga yang menyempatkan diri makan di sana. Yesung yang hari itu sedang tidak sibuk. Terlihat membantu Ibunya berjaga di meja kasir. Sesekali lelaki itu tersenyum pada pelanggan yang baru saja selesai makan dan membayar.

Setelah lelah jalan-jalan di Myeongdong sesorean itu, Eunhee, Haerin, Jiae dan Yeonrin menyempatkan diri mampir di Handѐl and Grѐtel, untuk mengisi perut mereka.

 

Haerin tersedak cokelat panas yang diminumnya ketika mendengar pertanyaan Yeonrin yang diucapkannya dengan volume keras, “Bagaimana makan siangmu dengan Tuan Choi?”

“Hey, ssshh… kau mau membuatku malu atau bagaimana?” desis Haerin sembari meletakkan telunjuknya di bibir, sementara seluruh wajahnya memerah karena malu. Beberapa orang yang berada di cafѐ itu, termasuk Yesung, menatap heran ke meja mereka.

Yeonrin terkekeh pelan. “Ah, biasa saja. Semua orang juga tak akan kaget kalau banyak gadis yang tergila-gila pada seorang Choi Siwon. Termasuk dirimu!” balas Yeonrin geli.

Seketika ekspresi Haerin memucat. Apa yang dikatakan Yeonrin tadi sangat beralasan. Siapa yang tak mengenal dan tak mengagumi sosok Siwon. Siswa SM High School yang terkenal sempurna dalam segala bidang. Mungkin hanya gadis bodoh yang sama sekali tak menyadarinya, batin Haerin. Ada rasa sedih sekaligus bangga di hatinya. Bangga karena seseorang yang diidolakan atau bahkan dicintainya adalah seorang pria sempurna yang banyak digilai gadis-gadis. Namun tak dipungkiri rasa sedih juga menghinggapi benak Haerin, karena bukan tak mungkin Siwon hanya menganggapnya tak ada seperti fans-fans wanita lainnya. Sama sekali tak istimewa bagi Siwon.

“Kurasa tidak. Buktinya aku tak tertarik padanya,” komentar Eunhee santai sembari melahap pancake di piringnya yang tinggal setengah dan Jiae terkekeh pelan mendengarnya. Jiae tau maksud Eunhee. Gadis itu tak ingin Haerin patah semangat dan menganggap dirinya tak berarti di mata Siwon. Padahal, ia sama sekali belum sedikit pun mencoba mendekati lelaki itu.

“Aku setuju dengan Eunhee,” sambung Jiae dengan senyum tulus, “Haerin-a, sudahlah! Kau tak perlu khawatir.” Jiae menyentuh tangan Haerin yang diletakkan gadis itu di atas meja.

“Yeah, kenapa aku harus sedih?” Tak ingin teman-temannya resah, Haerin sengaja menyunggingkan senyum lebar dan berpura-pura tak pernah ada hal yang mengganggunya. “Ngomong-ngomong, kenapa siang tadi kau ketus sekali padaku?”

Seketika semua mata tertuju pada Jiae. Gadis itu terlihat salah tingkah. Membersihkan bibirnya dengan serbet putih yang disediakan, Jiae meminum Americano miliknya beberapa teguk. “Kau marah pada Haerin? Ada apa?” Yeonrin ikut bertanya saat Jiae tak juga menjawab.

“Tidak. Aku tak marah pada siapa pun. Hanya saja…”

“Karena perbuatan Youngwoon tadi?” Eunhee menimpali, namun wajahnya tetap datar seperti sebelumnya.

“Tidak. Tentu saja tidak. Untuk apa aku terlalu memikirkan soal kecil semacam itu,” bantah Jiae cepat, terlalu cepat bahkan hingga menimbulkan kesan sebaliknya.

“Baiklah. Kurasa memang tak ada yang mau berbicara jujur di sini,” Eunhee berkomentar pelan tanpa menatap ketiga temannya. Gadis itu lantas mengalihkan tatapannya pada jam tangan putih yang melingkar di pergelangan tangannya. “Aku pulang dulu. Appa memintaku menjemputnya karena ia tak membawa mobil,” Eunhee cepat-cepat berdiri dari kursinya walau ketiga temannya belum mengiyakan.

“Yak! Baru jam segini kau sudah mau pergi?” protes Yeonrin. “Lalu bagaimana denganku? Rumahku kan dekat rumahmu? Aku akan menumpang siapa?”

“Telepon saja kekasihmu itu,” balas Eunhee santai lalu melangkah pergi setelah meninggalkan beberapa lembar won di meja.

“Dasar gadis menyebalkan…” gerutu Yeonrin kesal.

-Ka Night Club and Bar, Hongdae-

Gemerisik musik keras yang terdengar hingga luar ruangan. Muda-mudi yang berbondong-bondong masuk dan keluar. Menghiasi suasana malam di depan gedung bertuliskan Ka Night Club and Bar itu. Eunhee menghentak-hentakkan kakinya kesal di samping Hyundai putihnya karena sang Ayah tak juga muncul. Sore tadi, Lee Jaehee pergi bersama temannya tanpa membawa mobil, dan kini pria paruh baya itu meminta putri semata wayangnya menjemput. Walau sebenarnya, Eunhee bisa saja masuk ke bar itu dengan hak priogritasnya sebagai putri sang pemilik Bar. Tapi gadis itu tak suka dengan suasana bising di dalam sana, hingga ia memilih menunggu saja di luar.

Kesal karena tak juga berhasil menghubungi ponsel Ayahnya, Eunhee akhirnya memutuskan masuk ke dalam. Setelah sebelumnya meunjukkan kartu identitasnya pada dua security yang berjaga di depan pintu. Kerasnya musik, lampu yang berkelap-kelip, juga kerumunan orang yang tengah berdansa dan menikmati minuman keras menyambut kedatangan Eunhee di bar itu. Walau bukan kali pertama dirinya masuk ke bar milik Ayahnya itu, Eunhee tak pernah mendapati suasana ini sebelumnya. Karena ia selalu datang di saat Bar itu baru saja buka di sore hari dan tentu saja pengunjung belum datang meramaikan bar.

“Hai Eric,” Eunhee menyapa Bartender yang tengah sibuk melayani beberapa pemabuk di depannya. Lelaki berdarah Korea-Amerika itu terkejut melihat kehadiran Eunhee di sana.

“Oh? Hee… aku tak menyangka kau akan datang di jam segini,” sambut Eric ramah.

Eunhee hanya tersenyum tipis lalu bertanya, “Di mana Appa? Tadi dia memintaku menjemput di sini.”

“Ah, Tuan Lee masih ada pertemuan penting dengan beberapa tamu di dalam.” Eric memberi informasi, “Duduklah dulu. Kau mau minum?” tawar lelaki itu santai.

“Tsk, apa di sini ada Coke? Tentu saja tidak bukan?” tanya Eunhee yang langsung dijawabnya sendiri lalu menarik salah satu kursi dan mulai mengalihkan perhatiannya pada lantai dansa yang kini dipenuhi orang-orang yang tengah menari lincah.

“Aku akan meminta Jaerim membuatkan jus untukmu.”

“Tidak usah,” balas Eunhee tanpa mengalihkan perhatiannya dari sosok DJ yang tengah memainkan piringan hitam di atas sana dengan sangat lihai. “Katakan saja pada Appa agar cepat menyelesaikan pertemuannya. Aku tak bisa lama-lama di sini. Besok aku harus sekolah,” pesan gadis itu sebelum Eric masuk.

Eunhee memicingkan matanya saat merasa mengenali sang DJ yang masih sibuk beraksi di atas sana. Tapi gadis itu buru-buru menggeleng pelan untuk membantah dugaan-dugaan yang kini berkelebat di otaknya. Tidak mungkin, itu bukan dia! Lelaki itu pemalas dan bodoh, mana mungkin bisa sekeren ini! batin Eunhee yakin.

“Apa yang kau lihat? Dia DJ baru, menggantikan Henry yang harus pulang keluar negeri beberapa saat lalu,” Eunhee tersentak mendengar gumaman Eric yang baru saja muncul dengan membawa segelas Jus jeruk dan mengangsurkannya pada gadis itu. “Ini, Jaerim berbaik hati membuatkannya untukmu. Jangan khawatir, tak ada campuran minuman keras apapun di sana!”

Eunhee terkekeh pelan, “Yeah, coba saja kau lakukan itu. Maka kau akan kuadukan pada Appa,” balas Eunhee lalu menyeruput pelan jus jeruk di hadapannya.

“Ah, kalau kau tau rasanya. Aku yakin kau tak akan mengadukanku pada siapapun,” goda Eric geli.

“Tsk, layani saja pelangganmu, kalau tak ingin dipecat!” balas Eunhee acuh lalu kembali menatap lantai dansa, khususnya sang DJ yang sejak tadi menarik perhatiannya. Dia, aku yakin. Aku mengenalnya. Tapi apa mungkin…

“Jangan hanya dipandangi terus, hampiri saja. Dan berkenalanlah. Donghae bukan lelaki jahat.”

Seketika Eunhee membelalakkan mata dan buru-buru memutar kepalanya cepat pada sosok Eric yang masih setia dengan senyumnya. “Mwo? Donghae katamu?”

-SM High School-

Suasana kelas pagi itu mulai ramai. Beberapa orang siswa bercanda di bangku belakang dan beberapa lagi sibuk mendengarkan musik dan bermain game. Saehyun merutuk kesal karena Youngwoon tak mau menerima permintaannya berganti tempat duduk. Setelah insiden di perpustakaan kemarin, gadis itu merasa malu harus duduk bersebelahan dengan Kibum dan membuatnya harus bertemu muka terus dengan lelaki misterius itu. Lelaki yang hanya akan tersenyum di saat lelaki lainnya sudah bercerita panjang lebar.

Melihat kehadiran Jiae, Senyum Saehyun terkembang. “Eonnie!” panggilnya pada gadis yang juga tetangganya itu. “Kau mau bertukar tempat denganku?” tawar Saehyun tanpa tedeng aling-aling.

“Maksudmu?” Jiae mengerutkan keningnya bingung.

“Iya, kau duduk di pojok sana!” bujuk Saehyun manis sembari menunjuk bangkunya sendiri di sisi kanan.

“Tapi, kenapa tiba-tiba—“

“Ayolah Eonnie! Kau kan baik. Toh, kau juga masih di deretan depan bukan?”

“Kenapa harus memaksa seseorang yang tidak mau.” Jiae dan Saehyun buru-buru mengalihkan perhatiannya pada Kyuhyun yang tiba-tiba berkomentar. Lelaki yang duduk tepat di belakang Jiae itu tampak sama sekali tak peduli dengan perhatian penuh tertuju pada PSP putih di tangannya. Jiae mendengus keras.

“Oppa! Itu bukan urusanmu,” gerutu Saehyun kesal. “Bagaimana Eonnie? Kau mau kan?” Saehyun kembali menoleh ke arah bangkunya, tapi untuk sesaat gadis itu mematung saat bertemu mata dengan Kibum yang baru saja tiba. Lelaki tampan berkacamata itu tersenyum kecil pada Saehyun, lalu menempati bangkunya.

“Baiklah… aku—“

“Tidak jadi Eonnie!” potong Saehyun cepat dan Jiae tercengang.

“Eh?”

“Gomawo Eonnie. Kapan-kapan saja ya,” tambahnya seolah-olah Jiae-lah yang memaksa Saehyun untuk bertukar tempat duduk. Walau heran, Jiae memilih tetap diam dan tersenyum pada gadis itu.

Tidak. Aku tak boleh pindah tempat. Bagaimana kalau dia menganggapku pengecut, batin Saehyun berubah pikiran sembari berjalan melintasi meja Kibum dan duduk di bangkunya sendiri.

Masih setia dengan senyumnya, Kibum mengangsurkan sebuah buku yang baru saja dikeluarkannya dari dalam tas. “Sudah membaca ini? Pelajarilah!” katanya santai, seolah-olah hal itu tidak membuat Saehyun kaget setengah mati.

—————————

Jam pelajaran olah raga berlangsung. Siswa-siswa II.E sudah berkumpul di tengah lapangan dengan kaus olah raga berwarna biru safir. Setelah melakukan pemanasan dengan berlari keliling lapangan, Siwon, Hangeng, Donghae, Hyukjae, Leeteuk dan Youngwoon bertanding basket. Beberapa gadis dari kelas lain yang tak sengaja lewat terdengar menjeritkan antusiasmenya saat melihat Siwon tengah bertanding sengit memasukkan bola ke dalam ring.

Haerin yang kini duduk di pinggir lapangan bersama siswi lainnya, tak henti menatap sosok Siwon di sana. Tampan, batin Haerin kagum.

“Apa aku perlu menyiapkan ember besar untukmu,” komentar Eunhee santai lalu meneguk air dari botol minumnya. Tapi Haerin tak peduli, gadis itu terus saja memperhatikan Siwon. Baginya, lelaki itu tampak semakin tampan dalam kondisi rambut dan tubuh basah oleh keringat seperti itu.

Yeonrin yang tak sengaja mendengar gumaman Eunhee, tak kuasa menahan kikikan gelinya. “Aku akan membantumu mengambilnya di ruang kebersihan,” timpal gadis itu keras.

“Yak! Kalian mengganggu saja,” gerutu Haerin pelan lalu memeluk kedua lututnya dan kembali fokus menatap pertandingan sengit itu.

“Eh, Hyukjae itu hebat juga,” komentar Jiae tanpa maksud apa-apa, ketika melihat Hyukjae berhasil merebut bola dari tangan Siwon dan juga berhasil melemparnya ke ring.

“Semua orang punya kehebatan masing-masing yang tak kita ketahui,” sambung Eunhee dengan maksud lain. Untuk sesaat, dirinya terus menatap Donghae yang kini berhasil merebut bola dari tangan Leeteuk dan hendak menembakkannya ke ring. Tapi sayang, tembakannya meleset.

Ketiga temannya menatap Eunhee bingung. Tak biasanya gadis itu bicara benar, begitu batin mereka. “Hey, ada yang salah dengan otakmu?” balas Yeonrin sembari menyentuhkan tangannya di kening Eunhee.

“Kurasa memang begitu,” balas Eunhee acuh lalu menghampiri sosok Hyunsun yang kini sedang asyik mengobrol dengan Heechul di pinggir lapangan. “Hyunsun-sshi, apa kau membawa Novel yang kau janjikan kemarin?”

Hyunsun mengalihkan perhatiannya dari Heechul yang sedang bercerita tentang liburannya ke Paris beberapa waktu lalu, pada sosok Eunhee. “Ah, Mianhae. Aku lupa,” ringis Hyunsun bersalah.

“Hmm… baiklah. Tidak apa-apa,” balas Eunhee lalu mengalihkan perhatiannya cepat ketika dilihatnya Donghae yang baru saja selesai bermain basket menghampiri Jihyeon yang duduk tak jauh dari sana. Keduanya tampak sedang mengobrol akrab dan sesekali tertawa lebar. Entah apa yang sedang dibicarakan, Eunhee sama sekali tak tau. Tapi anehnya, hal itu membuat sesuatu di dalam dirinya menjerit tak rela.

Eunhee bukannya tak tau kalau kedua orang itu berhubungan dekat. Dari beberapa percakapan yang tak sengaja didengarnya—karena letak bangku Eunhee yang berada tepat di depan bangku Jihyeon. Eunhee bisa menyimpulkan bahwa dua orang itu memang memiliki hubungan yang bisa dibilang cukup dekat.  Apakah, mereka memiliki hubungan khusus?, sebuah pemikiran yang membuat Eunhee jengah, muncul tiba-tiba. “Dan mengapa aku harus peduli?” gumam Eunhee tak jelas, lalu memilih pergi dari tempat itu.

———————————–

Yeonrin tengah merapikan gelungan rambutnya yang sengaja ia ikat tinggi-tinggi untuk mengurangi gerah saat pelajaran olah raga berlangsung. Gadis itu terdiam menatap sosok Hyukjae yang tiba-tiba muncul di hadapannya dengan sebotol air dingin di tangan. Entah kapan lelaki itu membelinya, karena seingat Yeonrin. Hyukjae baru saja selesai bertanding basket bersama teman-teman lainnya. “Untukmu,” gumam pria pemilik ‘gummy smile’ itu.

“Terima kasih. Tapi aku sudah membawa air,” tolak Yeonrin lalu kembali melangkah melewati Hyukjae.

“Ah, kalau begitu. Kau pasti mau roti ini. Setelah berolah raga, pasti kau lapar bukan?” Hyukjae mengangsurkan sebungkus roti bakar berukuran sedang pada Yeonrin dan gadis itu mendesah frustasi.

“Ya! Bukankah kau tau aku sudah memiliki kekasih? Lantas mengapa kau masih saja menggangguku?” gerutu gadis itu kesal.

“Kalian bukan suami istri, jadi aku masih memiliki kesempatan untuk mendapatkanmu.”

Deg… mendadak jantung Yeonrin berdetak cepat. Menatap ekspresi serius di wajah Hyukjae membuat gadis itu semakin resah. “Jangan keras kepala Hyukjae-sshi. Aku sangat mencintai Minho, jadi aku tak ingin menyakitimu jika kau terus memaksa mengejarku,” ungkap Yeonrin lalu tanpa berkata apapun lagi, gadis cantik itu pergi meninggalkan Hyukjae seorang diri.

“Tidak apa-apa. Mungkin sekarang kau memang mencintai Minho. Tapi suatu saat kau akan tau, bahwa ada orang lain yang sejak dulu sudah mencintaimu melebihi Minho,” gumam Hyukjae lirih.

——————————

“Aiiishh… dasar preman sialan! Berani-beraninya dia memeras anak kecil tak bersalah sepertiku,” gerutu Hyukjae sembari berjalan gontai menyusuri jalan-jalan menuju rumahnya. Uangnya habis dipalak beberapa orang kakak kelasnya di kelas 6 saat ia akan pulang. Dan kini, Hyukjae terpaksa berjalan kaki, walau kompleks rumahnya cukup jauh dari sana. Sesekali tangan kecil Hyukjae memegangi perutnya yang terasa melilit dan menjerit meminta diisi. “Aduh… aku lapar. Eomma!” keluh Hyukjae pilu lalu berjongkok menahan perih di perutnya. 

“Hei, kau tidak apa-apa?” Suara nyaring yang berasal dari gadis kecil di sampingnya membuat Hyukjae mau tak mau mengangkat wajahnya. Gadis kecil dengan rambut lurus sebahu itu menatap Hyukjae prihatin. Mata bulat beningnya tampak begitu cantik dan peduli. 

“Aku lapar. Kakak kelasku mengambil semua uangku,” keluh pria kecil itu dengan air mata yang meleleh di kedua pipinya. 

Gadis kecil tadi terlihat mengambil sesuatu dari tas ranselnya lalu ikut berjongkok di hadapan Hyukjae ketika menemukan sebuah roti yang masih utuh juga setengah botol air. “Makanlah ini. Aku sudah makan tadi.”

Mata sipit Hyukjae bebinar senang. Malu-malu, pria kecil itu meraih roti di tangan gadis tadi dan memakannya cepat. “Terima kasih banyak,” gumam Hyukjae penuh syukur dengan mulut penuh makanan. 

“Ah, Eomma-ku sudah menjemput,” Gadis itu berdiri lalu mengangsurkan setengah botol air ke tangan Hyukjae. “Pelan-pelan makannya. Aku pergi dulu!”

“Eh, tunggu dulu!” Hyukjae berdiri, gadis itu berhenti bejalan dan membalik tubuhnya. “Aku belum tau siapa namamu. Bagaimana aku bisa mengembalikan—“

“Hwang Yeonrin!” potong gadis cantik itu lalu pergi meninggalkan Hyukjae menghampiri sang Ibu yang datang menjemput.

———————————–

“Kebetulan, aku sedang lapar.” Hyukjae tersentak saat tiba-tiba merasakan seseorang mengambil roti di tangannya. “Terima kasih Bro,” tambah Shindong riang sambil berlalu dari hadapan Hyukjae.

“Aiiishh… roti itu kan untuk Yeonrin?,” gerutu Hyukjae kesal sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Setelah selama bertahun-tahun mencari, akhirnya Hyukjae berhasil menemukan kembali gadis di masa kecilnya. “Mungkin kau sudah lupa. Tapi aku janji akan menggantinya Yeonrin-a, bahkan dengan sepenuh hatiku,” janji Hyukjae mantap.

————————————

Bel pulang sekolah berbunyi, seisi kelas II.E tampak menghela nafasnya lega karena terbebas dari palajaran matematika yang membuat kepala mereka pusing. Bebagai rumus limit dan turunan terpampang jelas di papan tulis, tapi semua itu tak lantas membuat siswa-siswa mengerti. Hanya Kyuhyun, Saehyun, Kibum, Jiae dan Siwon yang tampaknya tak ada masalah dengan rumus-rumus itu.

“Hee-a, antar aku. Jebal! Jiyoung Oppa tak bisa menjemput karena ada suatu kepentingan,” Jiae memohon pada Eunhee yang baru akan keluar kelas.

“Ah, Mianhae Ae-a! Ada sesuatu yang haru kulakukan,” balas gadis itu cepat lalu buru-buru pergi ketika dilihatnya sosok Jihyeon dan Donghae mulai jauh di depan.

“Arrghh… sial!” rutuk Jiae kesal lalu melangkah gontai meninggalkan kelas. Gadis itu tak suka naik kendaraan umum. Karena suatu saat, ia pernah kecopetan dan bersumpah tak lagi mau menggunakannya.

“Eonnie, pulang bersama kami saja,” Jiae menoleh cepat ketika didengarnya gumaman Saehyun. Jantung Jiae mendadak berpacu dengan waktu. Sosok Kyuhyun yang berdiri acuh di belakang Saehyun membuat Jiae kembali membuang muka.

“Tidak usah, aku naik bus saja,” tolak Jiae lalu kembali melangkah.

“Kau yakin Eon?” Paksa Saehyun ketika dilihatnya Jiae masih terus berjalan cepat. Tapi langkah Jiae terhenti ketika didengarnya Kyuhyun bergumam.

“Sudahlah! Mungkin dia ingin dicopet lagi.”

Seketika Jiae memutar tubuhnya dan berkacak pinggang, “Apa katamu? Dicopet?” geram gadis itu kesal sementara Kyuhyun masih memasang wajah datarnya.

————————————————

Siwon terdiam di depan lockernya. Senyum pria itu mengembang mendapati sebatang coklat yang sangat digemarinya kembali bertengger di dalam sana. Entah sudah berapa lama gadis yang biasa memberinya coklat itu tak lagi meninggalkan makanan kesukaannya itu di sana. Namun hari ini, coklat itu kembali. Dan hal itu tak ayal membuat Siwon merasa bahagia. Diraihnya kartu yang tertempel di bungkus coklat itu dan membacanya.

Untukmu. Lama tak memberimu coklat. Membuatku rindu pada saat-saat aku harus mengendap untuk memasukkan coklat ini di lockermu. Semoga kau menyukainya!

 

                                                                                    -Secret Admirer H-

Senyum berhias lesung pipinya kembali terkembang membaca pesan sang penggemar rahasia yang entah sejak kapan juga dirindukannya. Aku juga Nona H, batin Siwon senang lalu menutup pintu locker setelah sebelumnya mengambil Bexley hitam-nya di dalam.

Sementara di balik dinding. Haerin tersenyum senang menatap sosok Siwon yang menjauh. Kupikir kau tidak suka coklat itu. Tapi melihat ekspresi sumringahmu, aku jadi yakin. Mulai hari ini, aku tak akan absent lagi memberimu coklat, batin gadis itu riang.

——————————

Eunhee menghentikan mobilnya tak jauh dari sebuah rumah sederhana yang tadi dimasuki Donghae dan Jihyeon. Karena diliputi rasa penasaran terhadap sosok Donghae yang dianggapnya lelaki pemalas yang hanya suka tidur di kelas, namun ternyata memiliki sisi lain sebagai seorang DJ hebat di bar Ayahnya. Eunhee tak bisa berhenti berpikir, bagaimana kehidupan pria muda itu, hingga mengharuskannya bekerja di tempat yang seharusnya tak dimasuki seorang siswa SMA sepertinya.

Mata bulat gadis itu membelalak lebar mendapati keduanya masuk di rumah yang sama. “Mereka… tinggal bersama?” gumam Eunhee heran bercampur kesal. “Tidak. Mana mungkin mereka bersaudara? Keduanya sama sekali tidak mirip!” Eunhee kembali bergumam pada dirinya sendiri sembari menerka-nerka hubungan apa yang mungkin dimiliki Donghae dan Jihyeon. “Tapi keduanya memiliki marga yang sama…” Sekali lagi gadis itu bergumam pelan sembari menempelkan jemarinya di dagu.

Seolah baru tersadar, Eunhee tiba-tiba menepuk keningya sendiri. “Dan kenapa kau harus peduli Lee Eunhee? Buang-buang waktu saja!”

 

TBC

Ah, MianHAE!!! Pasti ceritanya makin GaJe. Jujur, aku nulis FF ini tanpa persiapan apapun sebelumnya haha…😄
Bikinnya juga ngebut karena kejar setoran *ditendang*
MianHAE, Jiae-a, Yeonrin-a, Haerin-a, Saehyun-a!! *banyak banget*
Mian klo hasilnya makin jelek. Mudah2an gak bosen. Yang baca juga gak bosen hehe🙂

Mian juga Part ini pendek ajah. (Dari tadi berapa kali nyebut kata Mian? Kkkkk)

16 thoughts on “Memories of Youth -Book Two-

  1. cool eonn,,,,jd pnsran gmn crtnya kyu ma jiae,alsn mrka jd jauh….g sbr jg pngn tw klnjtn hbungnnya haehee…knp mrka g dket2 eon,,???hee udh mlae pnsran n cmbru ma hae,,tp hae blm da respon,mg ja d crt slnjtnya udh da chemistry deh antra mrka,hehehehe…….eonni FIGHTING!!!!!

  2. Hah? kyu pernah semanis itu sm jiae? Wow.
    Donghae jadi DJ? Ga kebayang kalo beneran sekeren apa coba?
    Nah hlo tinggal serumah? Eum…
    Cie eunhee… Stalkerin hae..
    Onnie idenya lagi lancar ya.
    Suka deh jadi sering ngelahirin anak(read:ff). Hahahahhaa

  3. sukasukasuka… tp sebetulnya Saehyun itu dodol matematika… hehehehe

    knp Kyuhyun jd jauh ma Jiae? mereka kan bertetangga…. penasaran tingkat akut…

    Eunhee,, mulai tersepona ma Donghae… hahaha… keren nih jd DJ.. tiap mlm ajeb ajeb.. terus ada hubungan apa Hae ma Jihyeon?

    Oh… Si Hyuk punya hutang roti ma Yeonrin? hihihihi…. digantinya pas SMA tp rada di tolak gitu.. jgn menyerah Hyuk-ah! hwaiting!

    Jadi, Siwon seneng ma cokelat yg dikasih Haerin? wah… kesempatan terbuka lebar untukmu, Haerin-ah…

    Saehyun kok ambisius bgt sih? mana Kibum serasa ngejek bgt lg… mau di taruh mana, tuh muka? menyebalkan….. >,<

  4. jenjeng,..
    saeng dtg,…

    eonnie, hya saeng jd pembuka,.. ><
    tenang eon, kau jg pux bagian bgs di FF fantasy saeng yg bru,..kekekeke

    Omo, itu ternyata Jiae pernah deket bgd ma kyu, pke di gambarin langit" gtu,..
    Kyu kau cuek tpi perhatian, sumpah saeng ska bgd bagian JiKyu eon,..

    Woa, Donghae jd DJ? bayangin MV super girl SUJU M, hayo hee mulai tertarik ne,..
    ngapin cba ngintai org smpe kermh,.

    Bumie sma Saehyun pasangan kocak, mau bersaing n g mau ngalah satu sama lain,..
    senyum misterius,.. *0*

    Haerin, geregetan…. Asli, mereka tu hum..apa ya,..
    Ah, pokonya lanjut aj dh pengemar rahasi, ska bgd di kasi coklat tu abang siwon,..

    Jiah, Hyuk kau harus berusaha lebih keras, ternyta kejadian masa lalu yg buat kmu cinta mati sma Yeon,..ehm

    Keren eon, lanjut trs pokonya, saeng tgu..
    Hihihi, pke cover yg saeng buat ya, kpn" saeng buatin cover yg lebih pas dh eon,..^^

    • Hahaha… iyaaa, aku dah baca FFmu!! Sukaaaaa banget ama karakter Eunhee yg cuek2 gimanaa gitu? ekekek
      suka yah ama bagian Jikyu? Syukur dehh *tarik napas lega*
      Okee… ditunggu covernya saeng :p

  5. aahhh,,,mianhae ya saeng,oen baru baca,,,,
    sepertinya oen tertarik ma ff school life saeng yg ini🙂
    kya,,,,hae jadi DJ,sumpah pasti keren bangeeeeetttt klo beneran*histeris*
    cie,,,cie,,,,hee udah mulai ksih perhatian nih ma donghae

    oen setuju ma saeng,,pertama kali liat suju oen g pernah terpesona ma ketampanan siwon,malah lgsung terpikat ma hae n kyu,kkkk
    padahal byk yg blg siwon member paling tampan d suju,,,#terutama buat haerim,hehe….

    saehyun-kibum,,,mikirin pelajaran mulu nih🙂
    kyu-jiae,,,bkin penasaran,ada ‘something’ sprtinya ma mereka,,,
    yeorin-hyuk,,,cinta segitiga yg manis….

    lanjut saeng,,,oen penasaran!!!!

  6. Bagus kok chingu….bikin penasaran. Hahahahaa
    Donghaenya dikit banget, sampe2 suaranya ga kedengeran sama sekali ><
    Part selanjutnya eunhaenya banyakin yaaa….ㅋㅋㅋㅋㅋㅋ
    *banyak maunya*
    Keep writing…hwaiting (•`O´•)9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s