It’s You [Part 1]

Cast: Donghae (Aiden), Eunhee (OC), Cassia (OC), Adelle (OC), etc.

Genre: Fantasy, Romance, Family 

Lenght: Chaptered

Cinta?

Satu kata yang sangat langka di duniaku

Sekalipun nyanyian tentang Cinta tak pernah henti dilantunkan

Sekalipun Syair tentang Cinta begitu indah diungkapkan

Tak ada satupun yang benar-benar mengerti tentangnya

Cinta bagaikan sebuah dongeng pengantar tidur

Sesuatu yang tak nyata dan penuh khayalan

Namun semuanya berubah…

Kehadiranmu… memberikan arti tersendiri bagiku

Senyumanmu… menimbulkan rasa hangat yang menyenangkan

Tatapan matamu… menyejukkan hati yang panas sekalipun

Dan tarikan nafasmu, menjadi satu hal yang patut kusyukuri

Walau dunia kita berbeda,

Sejak saat itu… aku mengerti,

Apa itu Cinta?

Dan… Cinta itu adalah…

Kau! 

Donghae_

Prolog

 

Mentari mulai menampakkan dirinya di ufuk timur. Mengganti suasana kelabu menjadi keperakan. Semilir angin membelai lembut rambut hitam panjang sesosok gadis cantik yang berjalan menyusuri bibir pantai dengan bertelanjang kaki. Seulas senyum hangat terbentuk di bibir mungilnya tatkala kicauan burung bangau mampir di indera pendengarnya. Memejamkan matanya kala debur ombak yang menyenangkan tak hentinya mengalun indah. Namun senyum itu sirna seketika saat tanpa sengaja gadis itu menemukan sesosok pria terdampar di pinggir pantai.

Gurat panik tergambar jelas di wajah gadis bermata bulat itu. Kaki mungilnya bergerak cepat menghampiri sosok tadi tanpa dikomando. Terkejut, tatkala mendapati tubuh seorang pria tanpa busana tergeletak tak bergerak di hadapannya. Dilemparkannya jaket merah yang ia gunakan menutupi sebagian tubuh si pria. Gadis itu berjongkok. Meraih tubuh sang pria yang basah kuyup oleh air laut lantas mengguncangnya. “AhjusshieIrona!” seruan gadis itu tak lantas membangunkan sang pria. Khawatir pria itu tak lagi bernyawa, gadis tadi mendekatkan telinganya pada dada bidang si pria. Desah lega meluncur dari tenggorokannya kala mendengar detak lemah jantung pria itu. “Tenanglah Ahjusshie, aku akan menyelamatkanmu,” janjinya yakin tanpa peduli pria tampan yang tak sadarkan diri itu baru saja ditemuinya.

Part 1

 

 

 

-Donghae Beach-

Senja mulai menyingsing. Semburat jingga mewarnai langit sore itu yang beranjak gelap. Pantai kembali sepi seperti pagi tadi. Pengunjung yang sengaja datang berlibur di awal musim panas, satu per satu meninggalkan pantai Donghae seiring dengan tenggelamnya mentari di ufuk barat. Tak begitu dengan Lee Eunhee. Gadis bermata indah itu tak bergerak dari posisinya. Mata bulat lebarnya menatap kosong ke tengah laut, seolah dirinya sedang berbincang dengan seseorang di sana.

“Sudah gelap, apa kau akan terus di sini?” Eunhee memutar tubuhnya. Menatap lelaki yang hampir dua Minggu ini tinggal bersamanya. Lelaki yang ditemukannya tergeletak tak bergerak di bibir pantai. Lelaki tampan yang hingga kini tak diketahui identitasnya. Donghae, nama itu sengaja disematkan Eunhee karena pertemuannya di pantai ini. “Kau masih menunggu Appa-mu?” Eunhee menegang. Pembahasan tentang sosok Ayah yang hampir tiga bulan ini tak juga pulang membuat sesuatu di dalam dirinya tergetar.

Ani. Kaja! Kita pulang,” Eunhee meraih lengan kokoh Donghae dan menggandengnya erat. Gadis itu tersenyum lebar tatkala merasakan tatapan cemburu sekelompok gadis-gadis kota yang juga masih bertahan di pantai itu. “Kau tau Hae? Kurasa… gadis-gadis itu cemburu melihatku bersama lelaki tampan sepertimu,” cerocos Eunhee dan Donghae terkekeh pelan.

“Begitukah? Aku tak menyangka kalau penggemarku sudah bertambah walaupun belum genap setengah bulan aku di sini.”

“Tsk, aku menyesal mengatakan hal itu padamu.” Eunhee melepaskan gandengannya di lengan Donghae lantas berlari-lari kecil ke sebuah rumah kayu sederhana yang letaknya tak jauh dari pantai.

“Hey, sesuatu yang sudah diucapkan tak bisa ditarik kembali gadis bodoh!” Donghae menjitak puncak kepala Eunhee, hingga gadis itu mengaduh kesakitan.

“Yak! Sampai kapan kau akan terus menyakitiku?” gerutu Eunhee sembari mengelus puncak kepalanya lalu memposisikan dirinya di sebuah kursi panjang tanpa sandaran pada balkon rumah. Kembali menatap pantai yang kini semakin sepi pengunjung.

Donghae yang masih setia dengan tawanya, memilih duduk di samping gadis itu dan mengikuti arah pandangnya. “Kau merindukan Appamu!” Kalimat itu tak diucapkan Donghae dengan nada bertanya namun sebaliknya Donghae mengucapkannya dengan penuh kepastian. Seolah ingin memastikan apa yang dirasakan Eunhee saat ini.

“Anak mana yang tidak akan merindukan Appa-nya yang pergi dalam waktu cukup lama?” Eunhee bergumam dengan tak mengalihkan tatapannya dari laut.

“Aku tidak.” Kalimat itu keluar begitu saja dari mulut Donghae tanpa diproses otak lebih dulu dan tentu saja membuat kening Eunhee berkerut heran. Lelaki yang dikenal Eunhee tak mengingat masa lalu-nya sedikit pun. Hingga nama sendiri pun tak tau. Bagaimana mungkin bisa berkata begitu?

Keraguan itu kembali muncul. Keraguan yang selalu hadir mana kala Donghae memperlihatkan suatu sikap yang dianggapnya ganjil. “Hae, kau—“

“Maksudku… aku sama sekali tak mengingat masa laluku. Bahkan orang tuaku pun tidak.” Alasan lemah. Sama sekali tak memuaskan rasa penasaran Eunhee. Namun gadis itu tak jadi bertanya lebih lanjut saat tiba-tiba Donghae berdiri dari sisinya. “Aku ke anjungan dulu, pelampungku tertinggal.”

“Emmm…” Eunhee mengangguk pasrah, dan terus menatap punggung lebar pria itu hingga menghilang dari arah pandangnya. Sebenarnya… kau itu siapa Hae?

Terlalu misterius….

Aku lelah terus memikirkan siapa dirimu.

Kau yang tiba-tiba hadir dalam kehidupanku.

Meramaikan hari-hariku yang sunyi

Memberi warna cerah pada sketsa kosong hidupku

Walau terasa begitu ganjil…

Aku tak merasa perlu untuk menyelidikinya

Karena satu yang kutahu…

Aku terlalu bahagia bersamamu 

Eunhee_

Donghae mengumpat pelan. Menyadari kesalahannya yang tak pernah bisa menahan diri. Pria itu berjalan cepat tanpa mempedulikan teriakan segerombolan gadis cantik yang memuja ketampanannya. Ini kali ketiga Donghae membuat kesalahan yang sama. Setelah dua kesempatan sebelumnya berhasil lolos dari kecurigaan gadis itu. Tapi kali ini, Donghae tak yakin Eunhee melupakan kecurigaannya. Walau gadis itu diam saja menanggapi alasan lemah yang tadi diberikan, tapi Donghae yakin ada sesuatu yang mengganjal di benak Eunhee. Gadis itu terlalu pandai untuk terus dibodohi.

“Sial!” geram Donghae kesal sembari mengeratkan pegangannya pada kayu lapuk penyangga anjungan. Mata hitamnya berubah sebiru laut. Seketika awan kelabu muncul, guntur dan angin keras menandakan suasana cerah di pantai itu berganti kelabu. “Kau. Semua ini karena kau!” Donghae berteriak lantang dengan tatapan tajam tertuju pada laut lepas di depannya.

“Waktumu hanya tersisa enam belas hari lagi. Jangan sia-siakan itu!” Suara berat Pecteus—sang Ayah—yang hanya dapat didengarnya itu bagaikan eksekusi menyebalkan yang sanggup mengobarkan api amarah Donghae. Pria itu lantas mengeraskan rahang, mengeratkan kepalan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih.

Hujan dan angin keras kini menerpa pantai yang tadinya cerah seolah bisa saja melahap area sekitarnya dengan ombak besar yang bergulung-gulung. Tapi Donghae tak bergeming. Tatapan lelaki itu tetap tertuju pada laut yang seolah mengamuk di depannya. Baru saja Donghae akan membuka mulutnya untuk membalas ketika mendengar suara lembut gadis yang selama empat belas hari terakhir ini selalu mengisi hari-harinya. “Pantas saja kalau kutemukan kau terhanyut di pantai hari itu. Pasti karena kebiasaanmu yang seperti ini. Menantang maut, huh?”

Seketika mata teduh Donghae kembali. Biru itu berubah menjadi hitam saat tiba-tiba sebuah payung besar menghalangi tubuh Donghae dari rintik hujan yang terus turun. Gadis itu… selalu mampu meredam amarahnya. Sebesar apapun api yang berkobar di dalam dirinya, sirna seketika saat gadis itu hadir dengan segala bentuk kepolosannya.

“Ayo pulang! Aku tak mau merawat orang sakit lagi.” Donghae berputar, senyumnya terkembang. Menatap dalam, kecantikan alami yang terpancar dari gadis bermata bulat itu.

Gurae, kaja!” cetus Donghae sembari melingkarkan lengannya di pinggang Eunhee.

“Yak! Singkirkan tanganmu! Pakaianmu itu basah!” Donghae terkekeh pelan mendengar gerutuan Eunhee. Tapi pria tampan itu tak lantas melepaskan rangkulannya. Donghae justru semakin mengeratkan rengkuhannya di tubuh Eunhee hingga gadis itu berontak yang mengakibatkan pegangannya pada payung besar di tangannya terlepas. “Yak! Sial!” Eunhee mengumpat pelan ketika merasakan tubuhnya terbasahi oleh air hujan yang semakin deras. Gaun pantai berwarna putih yang dipakainya basah kuyup seketika hingga menampilkan lekuk-lekuk tubuh indahnya.

“Aku basah, kau juga basah.” Donghae menjulurkan lidahnya lalu berlari meninggalkan Eunhee yang mengutuk-ngutuk marah.

“Yak! Ke mari kau lelaki bodoh!”

Tertawa lebar, Donghae memutar kepalanya sambil terus berlari. “Ayo, kita balapan. Siapa yang paling akhir sampai rumah. Dia yang akan memasak untuk malam ini.”

———————————————

Langit sore mulai terbentang. Menampilkan semburat jingga keemasan yang tampak begitu indah. Eunhee merenung di teras rumahnya. Membiarkan dirinya terhanyut dalam pikiran yang berkecamuk. Hampir tiga bulan sejak kepergian sang Ayah melaut, dan hingga kini lelaki yang menjadi satu-satunya keluarga bagi gadis itu tak kunjung kembali.

Suara langkah kaki yang berasal dari dalam rumah menyentak dan menyita perhatian gadis itu. “Ah, kau… kenapa tidak beristirahat saja? Bagaimana keadaanmu? Apakah sudah baikan?”cerocosnya begitu sosok pria yang pagi tadi diselamatkannya muncul di ambang pintu.

“Aku… baik,” balas pria itu datar sembari memperhatikan penampilan Eunhee dari atas hingga bawah. “Di mana ini?”

“Kau di rumahku. Syukurlah kau tidak apa-apa. Pagi tadi kutemukan kau terdampar di pantai dengan…” Eunhee berhenti bercerita dengan semburat merah menghiasi kedua pipi pucatnya. Membayangkan kondisi pria tampan itu yang telanjang bulat membuat kedua pipinya memanas. Tatapan tajam pria di hadapannya membuat Eunhee semakin salah tingkah. “Ah, kalau boleh tau… kau siapa? Dan dari mana asalmu? Mengapa sampai tenggelam dan terdampar di pantai ini? Aku sama sekali tak menemukan kartu identitasmu. Yeah… tentu saja karena…” Eunhee menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Rona merah di pipinya semakin tampak jelas. “Emm… Tuan. Maaf, hanya ada pakaian Appa-ku yang bisa kau pakai… pagi tadi… errr… kau…” 

Lelaki itu kini terkejut dan bergumam pelan, “Jadi, kau yang—” 

“Ani…” Eunhee menyela dan menggeleng tegas. “Tadi aku minta tolong pada Jubong Ahjusshie untuk memakaikanmu baju itu. Dia juga yang membantuku membawamu ke mari. Kau tau aku tak akan kuat membawamu sendirian.” Eunhee menjelaskan cepat-cepat dan pria itu tersenyum geli menatap ekspresi panik gadis di depannya.

“Terima kasih Nona.”

“Sama-sama.” Hening. Eunhee menunduk dalam-dalam untuk menyembunyikan semburat merah di pipinya. “Kau belum menjawab pertanyaanku Tuan. Katakan saja siapa kau… mungkin tak banyak uang yang kumiliki. Tapi aku bisa membantumu kembali ke kota asalmu.”

Tatapan Eunhee mengikuti ke mana lelaki itu pergi. Duduk di pembatas teras rumah, lelaki itu mulai bergumam. “Entahlah! Aku… tidak tau  siapa diriku. Apalagi tempat asal dan apa yang terjadi padaku sebelumnya.”

“Astaga! Jangan-jangan… kau dirampok dan perampok itu sengaja menghanyutkanmu di laut!” jerit Eunhee histeris sembari menutup mulutnya dengan tangan.

“Entahlah… yang kutahu hanyalah… ketika aku terbangun, aku merasakan berada di sebuah tempat aman yang membuatku tenang. Ditambah lagi dengan kehadiran gadis secantik dan sebaik dirimu yang telah menolongku. Bahkan, aku sempat berpikir bahwa sekarang aku sudah mati dan berada di surga.”

 “Hey, kau bermaksud menggodaku?” Eunhee memprotes dan lelaki itu terkekeh pelan.

“Sekali lagi terima kasih… Nona…?” Lelaki itu sengaja menggantung kalimatnya. 

“Eunhee. Lee Eunhee.”

“Bahkan namamu secantik wajahmu.”

“Tsk, kalau kau ingin selamat. Jangan coba-coba merayuku!” Eunhee memperingatkan lalu beranjak dari posisi duduknya. “Untuk sementara, kau bisa tinggal di sini. Semoga aku masih memiliki sedikit uang untuk membawamu ke dokter.”

“Tidak perlu repot. Aku akan mencoba mencari uang sendiri.” Eunhee memutar tubuhnya dan tersenyum.

“Baiklah kalau begitu… Donghae.”

“Eh?” Lelaki tampan itu membelalakkan mata lebar-lebar. “Donghae? Kenapa—“

“Itu nama pantai ini bukan? Jadi untuk sementara… aku akan memanggilmu begitu. Setidaknya, sampai kau kembali mengingat siapa namamu.” cetus Eunhee cepat-cepat lalu meninggalkan lelaki itu sendirian di teras rumah.

 

——————————

Seulas senyum terbentuk di bibir Eunhee tatkala kenangan hari itu kembali muncul di otaknya. Hampir setengah bulan dirinya dan Donghae tinggal bersama. Dan lelaki tampan itu belum juga menunjukkan tanda-tanda mengingat kembali masa lalunya yang ‘katanya’ hilang. Eunhee yang berdiri diam di balkon kamarnya, menatap lurus ke depan. Membiarkan angin malam itu membelai rambut hitam panjangnya.

“Appa, walaupun banyak sekali keganjilan yang kurasakan dari kehadirannya dalam hidupku. Aku tak mengerti mengapa aku tak terlalu ambil pusing untuk memikirkannya. Aku bahkan pernah berharap, ia takkan pernah mengingat kembali masa lalunya. Apakah ini karena kau terlalu lama pergi hingga ada pikiran konyol semacam itu di kepalaku? Aku benar-benar kesepian. Appa, kumohon kembalilah!” Eunhee bergumam pada dirinya sendiri sambil tak mengalihkan tatapannya dari laut lepas yang terbentang di hadapannya, seolah-olah sang Ayah yang telah lama pergi bisa mendengar apa yang dikatakannya. Tangan mungilnya semakin mengeratkan genggamannya pada kristal biru safir pemberian sang Ayah beberapa waktu lalu. Didekatkannya kristal itu ke dadanya, dan Eunhee merasakan hatinya kembali tenang.

Sementara di kamar mandi, senyum Donghae terkembang begitu saja ketika mendengar gumaman Eunhee. Pria itu memiliki kemampuan mendengar yang sangat tajam. Sekalipun kini jaraknya dengan Eunhee cukup jauh, tapi Donghae bisa mendengar gumaman pelan gadis itu dengan sangat jelas. Seolah-olah, Eunhee berbicara tepat di depan matanya.

“Aku yakin kau pasti akan curiga,” gumam Donghae pelan, lalu melangkah pada bak mandi yang airnya baru setengah terisi. Lelaki itu terdiam cukup lama hingga sesosok wajah dengan mata sebiru laut dan rambut coklat panjang tergerai muncul di permukaan air yang sejak tadi dipandanginya. “Ibunda,” desis Donghae cepat-cepat ketika mengenali sosok itu.

“Apa yang kau lakukan Aidѐn? Jangan terus membuat Ayahmu marah dengan kelakuanmu ini.” Suara lembut yang sudah lama tak didengarnya mengalun dari sosok yang muncul di permukaan air.

“Ibunda… aku—“

“Cepat lakukan perintahnya. Dan jangan bermain-main dengan Neirdos itu. Kau tau bagaimana akibatnya bila Ayahmu sudah marah.” Donghae terdiam. Kata-kata—Aeneth—Ibunya memang benar. Tak ada yang bisa melawan Pecteus—Ayahnya—bila ia sudah marah. Pecteus adalah raja Aegeian kejam yang bisa melakukan apa saja untuk mendapatkan keinginannya. Bahkan menghanyutkan pulau sekalipun akan dilakukannya bila itu dianggapnya sudah mengganggu keselamatan Aegeia.

“Tapi Ibunda…”

“Jangan membantah Aidѐn. Cepat bawa pulang Merѐneia. Dan kembalilah ke Aegeia. Bila tidak, kau akan menyesal karena membuat gadis yang kau cintai beserta Neirdos di sekitar sini dalam bahaya.” Donghae menegang. Bayangan kehancuran itu terpampang jelas di hadapannya. Perjanjian yang dibuatnya dengan sang Ayah beberapa saat lalu kembali muncul dalam benak Donghae.

“Tidak… aku tak mau itu terjadi!” bantah Donghae tegas dan sosok di permukaan air itu tersenyum.

“Aku tau kau tak memiliki sifat seperti Ayahmu. Jadi, lakukan segera… jangan bermain-main lagi Aidѐn. Kalau kau tak ingin semua ini berubah menjadi bencana.” Sosok cantik bermata biru itu pun sirna setelah mengungkapkan pesan terakhirnya. Sementara Donghae masih termenung di depan bak mandi. Pikirannya berkecamuk dengan dilema berat yang kini melandanya.

“Jangan sampai terlambat dari waktu yang telah ditetapkan. Bila itu terjadi, maka aku akan turun tangan sendiri. Dan kau akan tau akibatnya.” Ancaman Pecteus hari itu terus terngiang dalam pikiran Donghae.

Merѐneia, adalah sejenis batu kristal berwarna biru safir yang biasa menghiasi mahkota raja Aegeia. Suatu hari Donghae atau yang memiliki nama asli Aidѐn dengan suatu niat tertentu sengaja ‘meminjam’ kristal berharga itu keluar istana. Namun karena kecerobohannya, Merѐneia jatuh ke tangan Neirdos—manusia—dan menyebabkannya mendapat hukuman dari Pecteus—sang Ayah. Pecteus mendaulat putra sulungnya itu untuk mengembalikan Merѐneia dalam waktu 30 hari. Bila tidak, maka Pecteus yang akan bertindak dengan caranya sendiri.

 

Aidѐn tau Ayahnya tak main-main dengan ancamannya itu dan ia juga tak memungkiri bahwa cara yang dimiliki Pecteus bukan cara yang baik—khususnya bagi Neirdos di sekitar sana. Namun, Aidѐn pun tak bisa menolak rasa cinta yang kini dirasakannya untuk gadis bermata bulat yang sialnya telah mencuri atau lebih tepatnya menyimpan kristal berharga itu. Hingga rencana yang telah disusunnya selama ini, hancur berantakan karena perasaan terlarang yang kini dirasakannya.

Apa yang harus kulakukan untuk merebut Merѐneia dari tangan Eunhee tanpa menarik kecurigaan gadis itu? batin Donghae frustasi.

Cinta memang hebat…

Menghancurkan pertahanan diri dengan begitu mudahnya

Kini aku mengerti mengapa pujangga begitu memuja cinta

Karena satu kata itu mampu menghancurkan dunia

atau bahkan membangunnya dalam waktu satu detik saja

————————–

“Merѐnia akan membantumu menemukan belahan jiwamu!” kata-kata Gethѐ penyihir hebat di Aegeia yang semalam ditemuinya terus terngiang di teliga Aidѐn. Pangeran tampan calon penerus tahta sang Ayah di Aegeia itu mulai merasa perlu menemukan seseorang sebagai pendampingnya setelah Pecteus mengutarakan bahwa tahta Aegeia akan segera diturunkan padanya. Walau sudah ada beberapa calon yang diberikan Pecteus untuknya, Aidѐn tak ingin sembarangan memilih. Karena menurutnya, suatu pernikahan itu adalah hal yang sangat suci dan tak bisa dilakukan begitu saja. Sekalipun selama ini, Aidѐn belum pernah merasakan sesuatu yang disebut cinta. 

Mengendap masuk setelah membuka sedikit pintu kamar Pecteus, Aidѐn melangkahkan kakinya perlahan sambil sesekali melirik sosok sang Ayah dan Ibunya yang tengah terlelap di tempat tidur mewah berhiaskan tirai-tirai putih transparan di sekelilingnya.

Mata biru Aidѐn tertuju pada kilau biru safir sebuah kristal cantik berukuran sedang yang tertempel pada mahkota sang Ayah. Kaki Aidѐn terus melangkah pelan menyeberangi kamar besar itu ke tempat Merѐnia berada. Senyum puas terbentuk di bibir tipis Aidѐn tatkala tangannya berhasil meraih Merѐnia dan detik itu pula diletakkannya kristal biru itu ke dalam kantung yang tadi dibawanya. Sementara untuk mengecoh sang raja dan yang lainnya, Aidѐn menempelkan kristal biru biasa yang tadi dipinjamnya dari sang adik Adѐlle pada mahkota itu.

“Selesai,” desis Aidѐn senang dengan keyakinan penuh bahwa Pecteus sang Ayah takkan pernah tau apa yang dilakukannya. “Aku pinjam sebentar Ayahanda,” tambahnya pelan seolah-olah sedang meminta ijin akan membuat kenakalan, lalu cepat-cepat keluar dari kamar besar itu.

Baru saja Aidѐn sampai di depan kamar sang Ayah dan menutup pintu besar di belakangnya, ia dikejutkan oleh gumaman seorang gadis yang tiba-tiba muncul dari sisi kiri lorong. “Apa yang kau lakukan malam-malam begini kak?” Gadis muda yang mengenakan gaun tidur putih panjang dengan rambut cokelat—seperti rambut Aeneth Ibunya—tergerai hingga punggung, menatap Aidѐn penuh selidik.

“Arggh… Adѐlle! Seharusnya aku yang bertanya mengapa kau belum tidur pada jam segini?” balas Aidѐn salah tingkah takut kalau-kalau adiknya itu menemukan apa yang baru saja dilakukannya lalu mengadukan semuanya pada yang Ayah. Mengeratkan genggamannya pada kantung berisi Merѐnia di tangan, Aidѐn lantas bergumam, “Tidurlah! Kalau tak ingin Ayah dan Ibu memarahimu. Tidak baik gadis muda sepertimu tidur terlalu larut,” dan lelaki itu melangkah cepat meninggalkan Adѐlle, sang adik, yang merutuk kesal.

Keesokan harinya, sesuai pesan Gethѐ, pagi-pagi sekali Aidѐn keluar dari Kastil. Senyum di bibir tipisnya terus tersungging, menandakan suasana hati yang kini dirasakannya. Mencari sang belahan jiwa, itulah tujuan Aidѐn kali ini. Dengan langkah riang, dan genggaman erat pada Merѐnia di tangan. Aidѐn melewati taman kastil yang di sisinya terhampar jutaan bunga Lily dan Begonia dengan beraneka ragam warna. Selasar indah berhias tanaman merambat terbentang luas hingga pintu gerbang kastil.

“Riang sekali Yang Mulia!” Suara lembut mendayu yang berasal dari gadis cantik berbaju keemasan dan rambut yang tergerai indah, menghentikan langkah Aidѐn. Lelaki itu menatap kagum pada kecantikan menipu yang terpampang di depannya. Gadis itu memang sangat cantik dengan kulit seputih kapas dan selembut beledu. Bibir mungil dan hidung mancung yang seolah terpahat sempurna bisa saja membuat lelaki di sekitarnya bertekuk lutut. Namun, sorot tajam dari bola mata berwarna hazel yang dimiliki gadis itu seolah menegaskan bagaimana sikap yang sebenarnya dimiliki.

“Cassia,” sebut Aidѐn dengan keramahan menipu pada Nymph—sang peri Laut—keturunan Nereids yang didapuk sang Raja menjadi salah satu kandidat pendampingnya kelak. Walau bisa dipastikan banyak pria tak pernah bisa menolak pesona seorang Nymph, tapi Aidѐn masih mampu bertahan dengan keyakinan teguh bahwa dirinya ingin menemukan belahan jiwanya hari ini dengan bantuan Merѐnia.

“Pagi-pagi begini, kau sudah bangun. Sepertinya ada hal besar yang akan kau lakukan Yang Mulia,” komentar Cassia masih dengan senyum menipu yang senantiasa tersungging di bibir mungilnya.

“Tentu saja.” Donghae balas tersenyum.

“Lalu, apa itu yang ada di tanganmu?” Cassia menatap Aidѐn penuh selidik dan lelaki itu dengan cepat menyembunyikan kantung kecil ke sisi belakang tubuhnya. 

“Bukan apa-apa,” sahut Aidѐn walau jelas-jelas sang Nymph sama sekali tidak percaya. “Karena aku tak punya banyak waktu, aku pamit undur diri dulu,” Aidѐn menambahkan lalu menunduk sekilas dan cepat-cepat melangkahkan kakinya menyusuri selasar. Sementara Cassia, terus menatap sosok Aidѐn hingga menghilang di balik gerbang.

“Pangeran Bodoh! Aku bisa merasakan aura Merѐnia di sekitar tubuhmu,” desah Cassia dengan seringai kejam di wajahnya.

 

 

——————————-

“Pagi-pagi sudah melamun!” Donghae tersentak dari lamunan panjangnya saat mendengar gumaman Eunhee yang entah sejak kapan sudah berdiri di sampingnya. Gadis itu sudah siap untuk bekerja di sebuah kedai kecil di pinggir pantai milik Jubong—lelaki paruh baya yang dulu pernah menolong Donghae saat ia terdampar di pinggir pantai. Gaun pantai berwarna putih yang tampak sangat pas di tubuh rampingnya, membuat Donghae tak bisa mengalihkan tatapannya dari gadis itu.

“Siapa yang melamun?!” bantah Donghae lalu menggeliatkan tubuhnya. Donghae melirik Eunhee yang berdiri diam di sampingnya. Mengagumi kecantikan alami yang tak pernah ditemukan Donghae di ‘negeri’nya sendiri. Walau tak secantik Cassia yang peri laut, Eunhee memiliki kecantikan polos yang entah mengapa selalu membuat Donghae lupa bahwa dirinya bukanlah bagian dari mereka. Lelaki itu tertegun tatkala pandangannya tertumbuk pada kilau biru safir yang terpancar dari liontin yang dikenakan Eunhee. Merѐnia, batin Donghae cepat.

“Kalau bukan melamun, lantas apa yang kau lakukan seorang diri di depan rumah begini?” tanya Eunhee mengembalikan kesadaran Donghae dan pria itu terkekeh pelan.

“Aku hanya sedang memperhatikan gadis-gadis cantik berbikini di pantai itu. Ah, benar-benar pemandangan yang—“

“Dasar mesum!” pekik Eunhee sembari memukul lengan atas Donghae hingga pria itu mengaduh.

“Yak! Itu tandanya aku normal,” bela Donghae lalu mengacak-acak rambut Eunhee gemas. Lelaki itu lantas melepas T-shirt biru muda, menyisakan celana pantai selutut berwarna merah yang digunakannya. Dada bidang dengan otot-otot lengan dan perut yang terbentuk sempurna milik Donghae terpampang jelas di depan mata Eunhee. Gadis itu bisa merasakan pipinya memanas seketika. “Jangan berpura-pura malu begitu Nona, bukankah kau sudah melihat seluruh tubuhku sebelumnya?” goda Donghae membuat semburat merah di pipi Eunhee semakin tampak jelas.

“Aku pamit bekerja dulu sebelum Jubong Ahjusshie memarahiku!” cetus gadis itu cepat-cepat untuk menyembunyikan rasa gugup yang kini melandanya, lalu tanpa berkata apapun lagi meninggalkan Donghae yang tersenyum geli menatap kepergian Eunhee.

“Hati-hati Chagia! Aku juga akan bekerja keras hari ini!” seru Donghae lantang dengan kikikan geli yang sama sekali tak berhenti sambil terus menatap punggung Eunhee.

Sepeninggal gadis itu, Donghae menghela nafasnya pelan, rencana untuk merebut kembali Merѐnia dari tangan gadis itu lagi-lagi muncul di kepalanya. Tapi rasa sayang dan cinta yang dirasakannya untuk Neirdos itu begitu mengganggu pikirannya. Ia tak ingin cepat-cepat meninggalkan Eunhee dan kembali ke Aegeia seperti yang diperintahkan Ibunya. Tapi bila tak segera dikerjakan, Donghae yakin rasa cintanya untuk Eunhee akan semakin berkembang pesat. Tidak, aku akan memanfaatkan waktuku selama sebulan ini untuk bersama gadis itu, batin Donghae mantap. Berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran menyebalkan dari otaknya, Donghae menggelengkan kepalanya pelan lantas melangkah untuk menjalani kegiatannya—sebagai live guard di pantai itu.

Baru saja Donghae duduk di ‘singgasana’ live guard yang disediakan pihak pengelola pantai, tatapan lelaki itu tertuju pada dua sosok gadis cantik yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Walau pantai Donghae kini mulai ramai dipadati pengunjung yang sengaja berlibur di awal musim panas ini, Donghae masih bisa menemukan dua gadis yang dianggapnya paling mencolok di antara pengunjung lainnya di pantai itu. Kedua gadis yang memiliki kecantikan tidak umum di dunia Neirdos itu tampak tengah menikmati suasana pantai dengan begitu nyamannya. Sama sekali tak peduli dengan terik matahari yang terasa membakar di kulit putih pucatnya.

Sementara gadis yang satunya menanggapi godaan pria-pria yang menghampirinya, gadis satu lagi menoleh dan bertemu mata dengan Donghae. Senyum lebar terpampang jelas di bibir gadis itu tatkala melihat mata Donghae membelalak lebar—terkejut karena kehadirannya.

Melompat cepat dari kursi besi setinggi satu meter yang ditempatinya, Donghae segera menghampiri kedua gadis tadi lantas berseru bingung. “Adѐlle, Cassia,  apa yang kalian lakukan di sini?”

Kedua gadis berbikini itu kini tersenyum misterius dan dengan kompak menggumamkan kata, “Bersenang-senang!”

TBC

 

 HAAAAA!!! Ini FF Fantasy Pertamaku!! Jujur, aku kagok banget! Dan sudah merepotkan beberapa orang temanku dalam pembuatan FF ini. Mudah2an bisa berkenan di hati Readers sekalian. Mohon komentarnya secara jujur, apa yang kurang dari FF ini? ><

34 thoughts on “It’s You [Part 1]

  1. Onnie keren deh.
    Ini ff genre fantasy pertamamu? Kayaknya bakal sukses.
    Aku baca ini inget film aquamarine. Keren suka deh…
    Mentang2 suamimu ikan pasti kerajaan bawah laut ni tinggalnya.
    Ekhem… Itu nemuin donghae dalam kondisi naked? Omona… Ckckckkc
    Cassia jahat ga sih?
    Penasaran. Semangat ngelanjutinnya ya onnie.

  2. jenjeng,..

    eonni, ini mah dh sukses bgd kow buat FF fantasy,.// TOP.
    Nyari istilah” tu dri buku yunani ya,..hehehehe
    keren dh,..

    saeng dh coment sparuh ya di inbox tentang awl.a,..ehm
    yg dh g suci matanya,..eaaaa

    hihihihi, Aiden kau nakal pantes di hukum gtu sma appa.a,..

    penasaran sma dua cwek tu apa lgi yg stunya-cassia- dy kyk.a ngicer hae bgd,..

    kapan kami muncul,.. ><

    • huahaha… iyakaaa??? syukur dee klo menurut saeng gitu. biasa… pemula!! jadi masih rada kagok kkkk
      MianHAE!! Jikyu belom tentu muncul di sini saeng hehe… di MoY aja yah🙂
      Klo kebanyakan cast, takut gak rampung2 ni FF ntar hehe

  3. akhirnya nongol juga part 1 nya,,,,
    ini udah keren bgt lho saeng,dan menurut oen kamu udah sukses bkin ff fantasi kaya gini🙂

    si donghae beneran pangeran dari bawah laut ya,kkkkk
    tapi tetep,,,rayuannya maut,,

    si cassie bakalan jadi pengganggu g sih buat eunhee ma hae????
    penasaran kan jadinya,,lanjut lagi ff nya y saeng,,,,

    • iyaa Eon, ini FF yg kugalauin selama beberapa hari ini kekekke
      Syukur dee klo pada sukaa… gak PeDe sebenernya hahaha😄
      ditunggu aja yah Eon, gimana yg selanjutnya🙂

  4. leeeeeeeeeeeeeeeeee bebeb, mian ru komen (tp sebenernya daa komen duluan sii ya ^^), aku kelupaan password wp-ku ndiri.. ekekkk..
    ahhh~ aku muncul!! siiiipppp nii charaku licik2 gitu, kusuka.. hohoo~
    g nyangka aku ma adelle bakal ngikut ke dunia manusia, kirain entah kapan2 ru dimunculin lagi,,
    cepet lanjot lee!!
    eh iya, btw ntar shillangkuh jd manusia apa sebangsa duyung kaya dongdong?? (hoakakkk.. sumpaa masih ngakak bayangin hae ala2 ariel XP)

    p.s : salam sukses dari minjae ^^ kekeke~

    • Husshhh!!! dilarang jerit2 di sini ekekkeke ^^
      Ah, pikunn beneran dah nii :p
      Sukaa??? sykur deee hahaha… takut aja gak sesuai gitu🙂
      Aiiisshh… kenapa jadi Ariel?? Peterpan?? #Ehhhh
      soal pasanganmu, masii misteri. Gak asyik klo diceritain di sini huakakakak *tawa setan*

  5. daebak eon!!!!!!!wlau ini ff fantasi prtma eonni, tp udh keren bngt,,,crtnya mnarik…jd snyum2 sndri byangin si aiden,,hehehehe……mg ja mrka ttp bs brstu wlaupn bda dunia…smngt eon,,!!!!q tnggu crta slnjtnya…^^

  6. OMO~ mata’a onnie udh gg suciii….
    Liat ikan tlanjang trdampar#plakkk
    gg sia2 deh onnie udh ngrepot’n tmen2’a… Nie ff udh sukses di sebut fantasy, mngkin bru part prtama jdi cerita’a msih blum ada konflik’a, msih blum menegangkan#lue kira action==
    hehe
    bca part donghae yg nglepas baju’a di dpan eunhee ehh pas jg aq lg dnger lagu sexy free & single#aaaa jdi mikir yadong;p
    oia dpt istilah2 aneh gtu di mna onn? Tiap bca ff fantasy aq pling gg bsa tuh nginget istilah2 kea gtu==

  7. omo omo ceritanya udah ada..
    saeng mian ya sbenernya aku mau comment dr mulai teaser tapi berhubung waktu itu pake ponsel dan commentnya nggak masuk jd comment skalian di sini ya (nah lo kok curhat??)

    mwo?mwo? hae jd live guard??? MAU!!!
    hah aku jadi penasaran nie sama lanjutannya
    cerita fantasy-mu ini sukses bikin aku berfantasy-fantasy-an??? (abaikan)

    intinya,ini keeeerrreennnnn
    dan aku nunggu next part-nya
    okey dongsaeng, aku pamit..
    salam sexy, free and single (6jib mode on kkk)🙂

  8. Sya suka nih crita fantasy kya gini!!
    Jaaahh sya jd byangin donge full naked, *otak yadong*
    ntu sbnr’a donge mahluk apaan sih ya?! Putra duyung kah?! Dewa laut kah?! Ato peri?! *bingung sndiri* yg jelas dy dr laut scara ikan kga jauh2 dr aer!! Jahahaha
    nama2’a jg keren!!

    yg bikin sya ngakak nih si abang kga jd manusia kga jd mahluk laen (?) ttp yee hobby’a sm yaitu ngegombal najis!!
    Kkkkk~ *d’lirik sinis sm hae*
    kabuurr aaahh…

    D’tunggu k’lanjutan’a!!

  9. Whoaaaaah… ini ff fantasy yg pertama tapi udah keren, Daebak!

    Yaak, EunHee nemuin DongHae yg naked, Whoaaaaa… *Mupeng xDD

    Btw, disini DongHae jadi Pangeran Laut Timur atau pangeran ikan? Wkwkwkw….

  10. merenia, pecteus, gethe,..
    aduh… istilah apa itu aq kagak paham. hehe
    jd.. apakah aiden semacam kayak malaikat yg sedang terkena hukuman karena kelalaiannya menjaga merenia? dan bagaimana bisa itu merenia jatuh ke tangan eunhee? hhhmmmm….

    bang hae, knp kami bisa telanjang gt.. apakah hukumanmu juga termasuk hilangnya pakaianmu? kkkk….

    oke… saya penasaran….

  11. eonni….. gila bener!!!!!
    #garoktembok

    igeo…. FF nya daebak, beneran pake banget KEREN abis…!!

    Fantasynya nyatu banget sama imajinasiku #sokkalibahasaku
    q suka nama2 aneh itu, keren halilintar dagh!
    genre yang paling q suka yah fairy tale kayak gini.. #gaknanyak

    Peri laut? Cassia >> sosok yang keren kalau aku khayalin. #beeeuhh . :3

    dia jahat kah? #nyeruputudara

    Eunhee? gimana kalau dia tahu, maksud Aiden sebenarnya.
    Bayangin Dong-dong topless #meleleh…
    kyaaaaa~ nginget pas di Hawaii….
    #sinting

    udah ah, segitu ajja, mo lanjut nih…
    oke sip!!!😀

    #kisseuaiden

    ^puasa-puasa^
    :3

  12. ahhh sekali ikan ya tetep ikan kkk
    syoook aq ternyatah!! dia ditemukan dlm keadaan selayaknya ikan kkkk nobaju haha
    sbenernya bpknya eunhee kemana seehh?

    #yokk lanjutt baca lgi kkkk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s