Memories of Youth (SM High School) -Book One-

Author: EunheeHAE / @Diah8876

Male Cast: Lee Donghae, Lee Hyukjae, Cho Kyuhyun, Choi Siwon, Kim Kibum, Park Jungsoo, Kim Youngwoon, Kim Jongwoon, Kim Ryeowook, Shin Donghee, Lee Sungmin, Tan Hangeng, Kim Heechul and others.

Female Cast: Lee Eunhee, Shin Jiae, Hwang Yeonrin, Han Haerin, Cho Saehyun, Lee Jihyeon, Lee Hyunsun and others.

Leght: Chaptered

Genre: Romance, Friendship, Family, Fluff.

Prolog

Seulas senyum hangat menghiasi bibir mungil Eunhee ketika tangannya membuka lembar demi lembar buku kenangan yang sejak dulu tersimpan rapi di nakas. Sebuah foto yang menunjukkan kebersamaannya dengan teman-teman semasa SMAnya di SM High School beberapa tahun yang lalu menarik perhatian gadis bermata bulat itu. Senyum di bibirnya semakin lebar ketika kedua bola mata Eunhee menemukan sosok pria tampan yang tengah berdiri di deretan kedua dari kanan. Refleks, tangannya menyentuh foto itu dengan tatapan mata yang sama sekali tak henti menatap wajah tampan sang pria. Detik berikutnya tanpa bisa dicegah, kelebatan-kelebatan kisah indah masa lalunya di SM High School mulai bermunculan dalam benaknya.

Friendship, Love and Happiness

Book One  

-First Day of Spring-

 

 

 

 

-SM High School, Maret 2006-

Udara hangat di awal musim semi mewarnai hari pertama tahun ajaran baru di SM High School. Siswa-siswi SMA berseragam putih dengan dasi hitam tampak memenuhi halaman utama sekolah berstandar internasional tersebut. Ini adalah tahun kedua bagi Eunhee belajar di SM dan dirinya pun sudah tak sabar ingin tau siapakah teman-teman barunya yang akan menghabiskan waktu bersama selama satu tahun ke depan.

Kakinya baru saja melangkah ke depan papan pengumuman ketika tiba-tiba bahunya ditepuk dengan kerasnya. “YA!!! Lee Eunhee, kita sekelas lagiii!!!” Seorang gadis dengan suara cemprengnya yang khas berseru tepat di hadapannya. Uniknya, Eunhee sama sekali tak terkejut. Gadis cantik itu hanya diam dan menatap temannya yang ia kenali bernama Hwang Yeonrin dengan ekspresi datar andalannya. “YAKK!! Kenapa ekspresimu sedatar itu? Kau tak senang kita satu kelas lagi? Ah, bayangkan. Tahun ini bukan hanya kita berdua yang sekelas, tapi guru Ma telah berbaik hati membuat aku, kau, Haerin dan Jiae berada di kelas yang sama. Bukankah itu berita baik?” cerocos Yeonrin dengan semangat berapi-api.

“Hmm… yeah,” balas Eunhee masih sama datarnya seperti tadi lalu melipat tangan di depan dada dan berjalan menuju ke kelas II.E yang menjadi kelasnya kali ini.

“Aiiishh… kau menyebalkan sekali Lee Eunhee,” keluh Yeonrin berusaha mensejajari langkah Eunhee di hadapannya.

Eunhee berhenti berjalan lalu menyeringai kecil, “Kalau aku menyebalkan, lalu mengapa kau mau berteman denganku?”

“YAAKK!!!”

 

———————————

Suasana kelas II.E tampak begitu gaduh saat kedua gadis cantik itu masuk. Lee Hyukjae dan Shin Donghee—murid lelaki bertubuh gempal—tengah mempertontonkan kemampuan mereka menari di depan kelas, membuat teman-teman sekelasnya terkagum-kagum dengan gerakan-gerakan keren yang ditunjukkan keduanya. Tepuk tangan bergema di seluruh kelas yang hanya dihuni oleh 20 orang siswa itu.

“Ya! Lee Donghae, ayo bergabung!” paksa Hyukjae pada salah seorang siswa lelaki yang kini tengah duduk atau lebih tepatnya tidur sendirian di bangku paling belakang.

“Arrrghh… aku mengantuk! Teruskan saja,” tolak Donghae lalu kembali menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan di atas meja. Tampak sama sekali tak peduli dengan kegaduhan yang terjadi.

“Aiiishh… kau menyebalkan!” keluh Hyukjae lalu kembali bergabung bersama Shindong di depan kelas. Langkahnya terhenti ketika hampir saja ia menabrak Yeonrin yang baru saja tiba di kelas.

Kyuhyun yang sejak tadi sibuk dengan PSPnya, tiba-tiba menimpali dengan senyuman misterius miliknya. “Mau kubantu membangunkannya?” tawarnya santai. Tanpa menunggu persetujuan temannya, Kyuhyun pun melangkah ke belakang membawa sebotol air di tangan dan dengan santainya menyiramkan botol itu hingga Donghae terkejut dan terbangun saat itu juga dengan kondisi kepala basah kuyup.

Melihat itu, seisi kelas langsung dipenuhi suara tawa dari seluruh siswa yang ada di sana. Kecuali Kibum yang hanya menoleh sebentar, membenarkan letak kacamatanya, dan kembali melanjutkan kegiatannya membaca buku pelajaran di bangku paling depan.

Suasana masih sama gaduhnya saat Choi Siwon yang terkenal sebagai salah seorang siswa paling tertib di sekolah itu, masuk. Sesuai dengan sifatnya, lelaki bertubuh tinggi dan berlesung pipi itu tampak tidak suka dengan kegaduhan yang dibuat teman-teman sekelasnya. “Hei, sebentar lagi jam pelajaran akan segera dimulai. Tolong jangan ribut!” gumamnya dengan nada pelan namun terdengar cukup tegas. Suara tawa pun terhenti, namun hanya bertahan dalam waktu 2 menit saja karena pada menit berikutnya suara-suara gaduh itu kembali bermunculan.

Lain halnya dengan Haerin, gadis cantik berambut hitam sebahu yang sebelumnya tengah asyik mengobrol bersama ketiga orang temannya—Jiae, Yeonrin dan Eunhee—mematung melihat kehadiran Siwon di sana. Ia sama sekali tak menyangka bahwa pria yang selama ini diidolakannya atau bahkan dicintainya secara diam-diam, berada satu kelas dengannya. Dan kegembiraan di wajah cantiknya sama sekali tak bisa disembunyikan ketika menyadari bahwa dirinya akan melewati waktu satu tahun berada di kelas yang sama dengan pria itu.

“Ehm… kurasa ada yang sedang senang di sini,” celetuk Yeonrin sambil menyikut lengan Haerin yang duduk di sampingnya.

Sadar telah terpaku cukup lama, Haerin berdeham sambil melirik teman-temannya salah tingkah. “Kau masih sangat menyukainya?” Jiae bertanya dengan suara pelan dan Haerin hanya mengangguk kecil sambil sesekali melirik—kagum—sosok Siwon yang kini tengah membersihkan papan tulis di depan kelas.

“Aku tak menyangka kalau aku akan sekelas dengannya tahun ini,” gumam Haerin lirih tak lebih dari sekedar bisikan yang ditujukan untuk dirinya sendiri, namun ketiga temannya masih dapat mendengar gumaman itu dengan jelas.

“Mau kubantu mendekatinyahmmpph—” Yeonrin memberikan penawaran dengan suara yang cukup keras hingga detik itu juga Haerin menutup mulut gadis itu dengan tangan.

Micchieosseo?” jerit Haerin frustasi, “Bisakah sedikit saja kau mengecilkan volume suaramu?” protesnya kesal lalu melepaskan Yeonrin yang menggerutu  sebal dengan menggumamkan ‘aku kan hanya ingin membantumu’.

Tak berapa lama, suasana gaduh di kelas II.E menjadi sunyi ketika seorang pria berkemeja biru muda masuk dan membawa seorang siswa lelaki lain bersamanya. “Selamat pagi semuanya,” sapa pria itu dengan nada tegas yang membuat siswa-siswanya terpana. “Aku Kang Jihwan, guru Matematika sekaligus wali kelas kalian,” katanya memperkenalkan diri, “dan ini adalah Tan Hangeng, seorang murid pindahan dari China. Hangeng akan berada satu kelas dengan kalian. Silakan Hangeng, perkenalkan dirimu!”

Siswa yang tadi masuk bersama Kang Jihwan maju selangkah dan mulai memperkenalkan dirinya dengan bahasa Korea yang terdengar agak aneh. “Annyeong Haseyo, namaku Tan Hangeng. Murid pindahan dari China. Aku pindah ke Seoul karena ikut Ayahku yang bekerja sebagai seorang Dubes China di Korea. Mohon bantuannya!” Hangeng membungkukkan badannya 90 derajat.

Youngwoon yang duduk di bangku ketiga dari kanan sempat terkikik mendengar gaya bicara Hangeng yang tidak biasa. “Ya! Jangan tertawa!” Heechul yang duduk di sebelah Youngwoon mengingatkan. “Hangeng-sshi, duduklah di sini!” tambah Heechul sambil menunjuk bangku kosong yang terletak tepat di sampingnya. Hangeng mengangguk senang dan menempati bangku kosong tersebut.

“Baiklah! Di hari pertama ini, aku hanya ingin mengatur tempat duduk kalian,” Kang Jihwan mengumumkan kepada seluruh muridnya hingga menimbulkan gerutuan tak setuju dari seluruh penghuni kelas. “Aku minta Siwon membuatkan lembaran kertas berisi nomor urut bangku, dan satu per satu dari kalian akan mengambilnya. Urutan itu menunjukkan tempat duduk kalian. Bangku pertama dari pintu adalah bangku nomor satu di sebelah kananya nomor dua dan seterusnya,” jelas Jihwan tegas tak terbantahkan membuat murid-muridnya kembali menggerutu tak jelas. Selang lima belas menit berlalu, Siwon telah menyiapkan kertas-kertas itu di meja guru. “Kertasnya sudah jadi,” Kang Jihwan mengumumkan, “Kau… yang duduk di paling belakang, cepat ke mari dan ambil kertasnya!” tunjuk Jihwan pada Donghae yang masih terlihat kaget sekaligus bingung setelah bangun tidur.

Dengan berat hati, Donghae melangkah ke depan kelas dan mengambil salah satu kertas di meja itu dengan perasaan was-was. Ketika membaca angka 3 yang tertera pada kertas itu Donghae menunduk lesu. “Aiiishh… kenapa aku harus di deretan depan?” keluhnya kesal tapi cukup lirih untuk dapat di dengar teman-temannya.

“Ayo yang lainnya cepat maju untuk mengambil kertas di mejaku,” Jihwan kembali memerintah, dan detik berikutnya suasana kelas kembali gaduh. Satu per satu siswa maju ke depan dan mengambil kertas yang akan menentukan posisi duduk mereka. Ada yang senang karena mendapat tempat yang sesuai, namun ada juga yang kesal karena mendapatkan posisi yang tidak sesuai keinginan.

“Hey, kalau tak salah dengar. Kau tak mau duduk di deretan depan,” Kibum yang baru saja mendapat nomor bangku ke 20 menghampiri Donghae yang kini terlihat lesu di bangkunya.

“Ne,” balasnya lirih, sama sekali tak bersemangat.

“Bagaimana kalau kita bertukar tempat? Mataku minus, jadi aku tak bisa duduk di belakang.”

Bagaikan mendapat angin surga, Donghae yang sebelumnya tampak acuh, buru-buru berdiri dan tanpa basa-basi mengambil kertas di tangan Kibum. “Tentu saja, silakan!” gumamnya senang sembari bergaya ala pelayan yang mempersilakan temannya itu duduk. “Nikmati saja bangku VIP ini,” gurau Donghae lalu melangkah ke belakang dengan siulan pelan yang menggambarkan kegembiraannya saat ini.

Sekitar 30 menit berlalu, seluruh siswa sudah mendapatkan tempat duduknya masing-masing dan suasana kelas pun kembali tertib dan sunyi. Ada yang bertukar tempat seperti Donghae dan Kibum tadi, dan ada pula yang pasrah menerima nasibnya.

Di deretan bangku paling depan ditempati  Jiae, Siwon, Kibum dan Saehyun. Keempat murid ini memang terkenal rajin dan jarang sekali membuat masalah. Terlebih lagi Kibum yang terkenal sebagai salah seorang murid jenius SM High School dan saingan abadi Cho Saehyun—saudara kembar namun tak identik dari Cho Kyuhyun. Pada deret bangku kedua, ditempati oleh si jenius matematika Kyuhyun, Haerin, Heechul dan Hyunsun. Ryeowook, Youngwoon, Hangeng dan Leeteuk di deret ketiga. Sementara Yeonrin, Hyukjae, Eunhee dan Jongwoon alias Yesung pada deretan keempat dan di deret terakhir ada Shindong, Sungmin, Jihyeon dan Donghae. Kedua puluh siswa kelas II.E itu, tengah sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, hingga Kang Jihwan sang guru kelas mulai berbicara lagi.

“Kalau begitu, sekarang kita memilih ketua kelas!” perintahnya tegas, “Pilihlah calon-calon yang menurut kalian pantas mendapatkan jabatan itu!”

————————————-

Bel pergantian jam berbunyi, dan kini kelas II.E sudah menentukan Park Jungsoo atau yang biasa dikenal dengan nama Leeteuk sebagai ketua kelas mereka. Jungsoo dipilih karena ia terkenal bertanggung jawab dalam mengerjakan segala hal. Sebenarnya Choi Siwon bisa saja menjadi saingan terberat Jungsoo, namun karena Siwon mencalonkan diri sebagai presiden badan Siswa tahun ini, ia tak bisa menjabat sebagai ketua di kelasnya.

Sepeninggal Kang Jihwan, kelas kembali gaduh. Kyuhyun mengeluarkan benda kesayangannya—PSP—dan sekali lagi tenggelam dalam ‘dunia’nya sendiri. Yeonrin menghampiri bangku Haerin dan memulai acara bergosipnya. Heechul, Ryeowook, Shindong, Jungsoo, Hyukjae dan Sungmin memulai acara perkenalannya dengan Hangeng yang kini merasa bersyukur memiliki teman-teman seperti mereka. Eunhee tenggelam dalam dunia novel dari pengarang favoritnya. Hyunsun asyik dengan peralatan ‘salon’ yang sengaja dibawanya. Sedangkan Yesung mengeluarkan kura-kura peliharaannya dari dalam tas dan mulai berbicara sendiri dengan hewan kecil itu seolah-olah si kura-kura bisa mendengar apa yang dikatakannya. Dan di deret bangku paling belakang, Jihyeon bersenandung kecil dengan earphone di telinganya dan Donghae kembali melanjutkan tidurnya yang sempat tertunda karena perbuatan usil Kyuhyun tadi pagi.

Sementara siswa-siswa di bagian belakang mulai gaduh, keempat siswa di bagian depan tetap bergelut dengan buku-bukunya. Jiae dengan buku sastra yang sangat digemarinya dan kini gadis itu tengah asyik menulis puisi yang menjadi hobby-nya sejak masih di sekolah dasar dulu. Siwon dengan buku bahasa Inggrisnya, sementara Saehyun terus saja melirik Kibum dan mempelajari materi apa saja yang Kibum pelajari. Gadis itu tak ingin sedikitpun kalah langkah dengan pria yang dianggapnya sebagai saingan terberatnya sejakk masih kelas satu dulu.

“Asshh… sial! Salah lagi,” gerutu Jiae, sekali lagi mencoret apa yang telah ditulisnya ketika merasa puisi buatannya tidak menarik. Perasaan hatinya sedang resah setelah mengetahui seseorang dari masa lalunya kini berada satu kelas dengannya.

“Woaaah… pujangga kita beraksi,” Youngwoon yang sejak tadi tertarik dengan tingkah Jiae mengambil kertas di hadapan gadis itu dan membacanya dengan suara keras. “Eksistensimu… memberiku alasan untuk hidup,” baca Youngwoon membuat perhatian seisi kelas tertuju padanya.

“Yak!!! Kembalikan!” jerit Jiae kesal, rona merah benar-benar menghiasi wajahnya ketika Youngwoon terus saja melanjutkan aksinya dan justru semakin mempermalukan gadis itu dengan suaranya yang dibuat semakin lantang.

“Nafasmu… adalah segala hal yang—”

“Yak!!! hentikan!” Jiae kembali menjerit dan terus berusaha merebut kertas di tangan Youngwoon tapi tubuh besarnya jelas lebih berkuasa dibandingkan tubuh ramping Jiae yang hanya sebatas telinga Youngwoon.

“Apakah puisi ini ditujukan untuk Cho Kyuhyun?” Youngwoon—yang merupakan salah satu teman Jiae semasa SD dan SMP dulu—sengaja meledek dan detik itu pula si empunya nama mengalihkan perhatiannya dari sang benda kesayangan dengan mata membelalak kaget.

“KIM YOUNGWOON!!! CEPAT KEMBALIKAN!!!” Mendadak suasana kelas menjadi sunyi. Melihat ekspresi Jiae yang benar-benar kesal, Youngwoon buru-buru menyerahkan kembali kertas itu ke tangan Jiae.

“Ji, kau marah?” Merasa seluruh kelas mengintimidasinya, Youngwoon berinisiatif menghampiri meja gadis itu untuk meminta maaf dan menampakkan ekspresi menyesal yang jarang sekali diperlihatkan si jagoan sekolah itu. Tapi usahanya tak berhasil, Jiae benar-benar hilang kesabaran dan memilih tetap bungkam. “Ji, aku hanya—“

“Youngwoon kembali ke tempatmu!” Suara tegas dan agak serak seorang wanita menyela kalimat Youngwoon dan detik itu pula, ia kembali ke tempat duduknya. “Selamat siang semua!” tambah wanita dengan blazer coklat tua dan berkacamata tebal itu sembari menatap murid-muridnya satu per satu. “Sekarang, keluarkan kertas masing-masing!”

Mwo?!” Tanpa sadar, Heechul yang tengah asyik menata peralatan make-upnya berseru lantang.

“Ada yang mengganggumu Kim Heechul?” Wanita berwajah bengis itu membalas. “Masukkan semua mainanmu itu!” perintahnya tegas.

A… animnida sonsengnim,” balas Heechul sembari memukul-mukul bibirnya sendiri dan buru-buru memasukkan peralatan make up-nya ke dalam tas. Tak ada yang berani mencari masalah dengan membantah Song Mija—sekalipun itu murid yang banyak ditakuti teman-temannya seperti Kim Heechul—Guru Bahasa Inggris yang terkenal killer dan sanggup membuat seluruh siswa di kelasnya bungkam hanya dengan melihat kehadirannya.

“Baiklah! Sekarang, buat karangan dalam bahasa inggris sepanjang 1000 kata!”

——————————

Bel istirahat berbunyi, siswa-siswa mendesah lega karena artinya jam pelajaran sang guru killer berakhir. Donghae merentangkan kedua tangannya yang terasa penat setelah mencoba menekuni kertas yang tetap kosong di atas mejanya. “Ya! Jihyeon-a, apa kau berhasil membuat karangan itu?” tanya Donghae pada Jihyeon yang duduk di sampingnya.

Jihyeon yang tengah merapikan mejanya menjawab, “Yeah, tinggal sedikit lagi. Mungkin beberapa kalimat lagi selesai.”

“Hmmm… apa aku boleh memintamu membuatkannya untukku?” Donghae mencoba membujuk Jihyeon yang kini mencibir kesal dengan melemparkan tatapan memohon andalannya.

“Aiiishh… kalau pekerjaanmu hanya meminta tolong padaku. Lalu bagaimana kau bisa pintar?” Jihyeon berdiri dari tempat duduknya, “berusahalah Oppa! Kau pasti bisa! Hwaiting!”

“Yak! Lee Jihyeon! Aku tak akan membelikan baju seperti yang kau ingin—“

“Hey, bisakah kau pelankan suaramu?” Eunhee yang tengah asyik berkutat dengan novel favoritnya menyela dingin. Mata bulat gadis itu menatap tajam Donghae yang kini terlihat salah tingkah.

“Asshh…” Tanpa menjawab, Donghae menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, lalu kembali ke bangkunya dan mengerang kesal menatap kertas kosong di hadapannya. Ia selalu kesulitan menyerap pelajaran bahasa Inggris, padahal pada materi pelajaran lain, Donghae merasa dirinya cukup mampu mengikuti walau sadar dirinya tak sebanding dengan siswa-siswa di deret bangku terdepan. Apa yang harus kulakukan dengan karangan ini?, pikirnya bingung.

“Eunhee-a, ayo kita ke kantin!” Suara gadis lain yang terdengar begitu nyaring, menarik perhatian Donghae. Gadis cantik berambut panjang sepinggang itu tampak tengah menarik-narik lengan gadis yang tadi sempat menegurnya. “Ayolah! Jiae dan Haerin sudah menunggumu!” gadis itu terus memaksa walau temannya jelas tidak tertarik.

“Tanggung. Kalian duluan saja!” Gadis bernama Eunhee itu menjawab acuh tak acuh dengan perhatian yang terus tertuju pada novel yang dibacanya.

“Yak! Kau menyebalkan!” Gadis itu menjerit frustasi lalu mengerucutkan bibirnya marah.

“Sudah kubilang, jangan berteman denganku kalau aku menyebalkan!” Donghae hampir terkikik mendengar jawaban santai gadis bernama Eunhee itu, tapi tak jadi ketika detik berikutnya gadis itu melirik ke arahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.

————————–

Kesal karena Eunhee terus menolak ajakannya, Yeonrin berjalan dengan langkah yang sengaja dihentakkan dan bibir mengerucut kesal. “Awas kau Lee Eunhee. Teman macam apa itu? Diajak makan bersama tidak mau, dibilang kita sekelas juga tidak suka,” gerutunya sambil terus berjalan, sama sekali tak sadar ada sosok pria yang tengah mengawasinya dengan senyum mengembang.

“Hey Nona, aku khawatir kecantikanmu akan hilang karena cemberut begitu!” Yeonrin buru-buru menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pria itu tajam.

“Kau bicara denganku?” Yeonrin membalas dengan nada ketus pada pria yang ia kenali bernama Lee Hyukjae teman sekelasnya yang baru.

Hyukjae menoleh ke kanan dan ke kiri lalu kembali menatap Yeonrin di hadapannya dengan senyum terkembang, “Kalau kau lihat ada orang lain di sini,” balasnya santai.

“Tapi aku—“

“Chagia, aku mencarimu ke mana-mana?” Suara seorang pria bertubuh tinggi atletis yang kini tengah berjalan mendekat ke arah Yeonrin dan Hyukjae menghentikan kalimat gadis itu.

“Minho Oppa!” seru Yeonrin senang mendapati sang kekasih—Choi Minho dari kelas II.B—kini telah berada di sampingnya dan memeluk pinggangnya seolah ingin menunjukkan kepemilikannya atas gadis cantik itu. Emosi yang semula menguasai hati Yeonrin, sirna begitu saja ketika melihat senyum manis pria tampan yang sudah 6 bulan ini menjadi kekasihnya.

“Kau sudah makan?” Yeonrin menggeleng tegas, “Bagaimana kalau kita makan bersama saja? Tadi Eomma menyiapkan bekal yang cukup banyak untukku.” tawar Minho sembari memindahkan tangannya ke pundak Yeonrin.

Tanpa menjawab pertanyaan Minho, Yeonrin melirik Hyukjae yang kini menatap mereka dengan pandangan kesal sekaligus iri. “Kalau kau ada perlu denganku, bicarakan nanti saja di kelas,” gumam Yeonrin santai dengan seringai lebar di bibirnya dan melangkah meninggalkan Hyukjae yang kini tampak merana di ujung lorong.

“Kau menyukainya?” Hyukjae terlonjak kaget saat mendengar seseorang bergumam tepat di belakangnya.

“Kau…?” gumaman Hyukjae terhenti begitu saja saat melihat seringai lebar yang ditunjukkan gadis cantik di hadapannya.

Gadis itu tampak mengamati penampilan Hyukjae dari atas hingga bawah, memutarinya dari depan hingga belakang layaknya seorang stylish yang tengah mengamati penampilan modelnya. Sembari melipat tangannya di depan dada dan meletakkan telunjuknya di dagu gadis itu berkomentar dengan santainya, “Hmm… kurasa, kau memiliki tubuh yang cukup atletis,” mendengar komentar gadis itu, senyum Hyukjae terkembang begitu saja memperlihatkan deretan gusi yang dianggapnya menawan. “Tapi…”

“Tapi apa?” desak Hyukjae cepat-cepat. Senyum yang semula terkembang di bibirnya menghilang, berganti dengan ekspresi cemas yang membuat wajahnya tampak semakin lucu.

“Tapi kurasa… wajahmu bukan salah satu selera Yeon.”

Mwo?” Hyukjae membelalakkan mata sipitnya pada gadis yang dikenalnya bernama Eunhee itu sembari berkacak pinggang.

Dengan santainya, Eunhee menepuk-nepuk pundak Hyukjae prihatin, “Sebaiknya lupakan saja dia, Yeon sudah punya Minho,” bisiknya sebelum melenggang pergi dengan senandung kecil dari mulutnya.

“Aiiishh… dasar gadis aneh!” gerutu Hyukjae pelan.

“Ya, dia memang aneh!” Untuk kedua kalinya Hyukjae terlonjak kaget saat mendengar gumaman persetujuan Donghae yang entah sejak kapan berdiri di belakangnya—tengah menatap sosok Eunhee hingga menghilang di balik dinding sekolah.

“Yak!!! Untung saja aku tak punya penyakit jantung,” pekik Hyukjae kesal sementara Donghae hanya tersenyum kecil sembari menggaruk belakang kepalanya.

———————–

Kantin itu tampak begitu ramai di jam istirahat begini, hingga beberapa orang siswa harus rela mengantre tempat karena kini seluruh kursi sudah penuh terisi. Youngwoon yang sejak tadi membuntuti Jiae dan berharap gadis itu memaafkan kesalahannya saat di kelas tadi, terus saja mendesak Jiae yang sama sekali tak mengacuhkannya. “Ji, Jebal!” mohonnya sembari menatap Jiae penuh sesal. Siswa-siswa lainnya yang mengenal sosok Youngwoon sebagai siswa jagoan dan pemberani di sekolah itu, tampak sangat heran dengan tingkah laku Youngwoon kali ini.

“Sebaiknya kau maafkan saja dia Ji,” Haerin yang merasa tak tega turut berkomentar dan Youngwoon mengangguk-angguk senang mendengar komentar Haerin itu.

Jiae menghela nafasnya berat dan menatap Youngwoon tajam, “Sudah kubilang aku tak suka kau menyinggung soal itu. Sudah lama kita tak jadi teman sekelas sejak masa SMP dulu, tapi kau malah mengungkit-ungkit masa lalu yang sangat menyebalkan itu!”

“Kau pikir aku juga senang mendengar hal itu?” Reflek Jiae menoleh mendengar suara berat yang sangat familiar di telinganya dan untuk sesaat gadis itu merasa dunianya runtuh mendapati tatapan tajam Cho Kyuhyun yang seolah mengintimidasinya. Mulutnya tanpa sadar terbuka dalam waktu yang cukup lama. Sial!, batin Jiae kesal lalu melarikan tatapannya ke arah lain sesaat setelah ia tersadar. Kyuhyun mendengus, lalu beralih menatap Youngwoon yang duduk di depan Jiae. “Youngwoon-a, jangan sekali-sekali kau menyinggung masalah itu lagi,” gumamnya memperingatkan lalu pergi meninggalkan meja mereka.

Sepeninggal Kyuhyun, Jiae yang sejak tadi mengepalkan tangannya mengerang kesal. Gadis itu memukul meja hingga Youngwoon dan Haerin terkejut dan memusatkan perhatiannya kembali pada Jiae, “Itu karena kau! Sudah kubilang aku tak mau telibat lagi dengan lelaki menyebalkan itu!” sungut Jiae marah, menumpahkan segala emosinya pada Youngwoon yang hanya diam di hadapannya.

Mianhae, aku tak menyangka kalau masalah ini membuat hubungan kalian jadi sangat buruk,” balas Youngwoon penuh sesal. “Setahuku, dulu kalian—“

“Sudahlah! Jangan bahas itu lagi,” potong Jiae cepat-cepat tak ingin lagi mendengar kisah masa lalu yang membuatnya gusar, lalu menatap Haerin dan mencoba mengalihkan topik dengan bertanya, “Sebenarnya di mana Yeonrin? Bukankah tadi ia bilang hanya akan menjemput Eunhee?”

“Yeon sedang berkencan dengan kekasihnya!” Hampir saja Jiae tersedak teh yang diminumnya saat tiba-tiba Eunhee muncul dari arah belakang lalu dengan seenaknya menarik lengan Youngwoon agar menyingkir dan ia sendiri menempati tempat duduknya. “Apa kalian sudah memesankan makanan untukku?” Sekali lagi dengan seenaknya gadis itu meraih jus strawberry milik Haerin dan menyesapnya sedikit. Keningnya berkerut ketika rasa asam strawberry itu mampir di lidahnya, “Ah, aku tak pernah suka buah strawberry,” komentar Eunhee santai lalu kembali mendorong gelas berisi jus strawberry ke hadapan Haerin yang sudah tidak merasa asing lagi dengan sikap aneh sahabatnya itu.

“Dengan Minho?” Haerin bertanya dan hanya dijawab kedikan bahu oleh Eunhee. “Hah… dasar tak setia kawan!”

“Sudahlah biarkan saja!” Jiae bergumam sembari melanjutkan kegiatannya menyantap Jjajangmyun yang kini tinggal separuh di mangkuknya. Matanya terus mencuri pandang ke arah Kyuhyun yang tengah mengobrol bersama teman-temannya di meja lain. Hari ini aku benar-benar sial, batinnya kesal.

“Siwon-sshi!” Mendadak Haerin menegang mendengar seruan Eunhee dan sama sekali tak berani mengangkat wajahnya sampai ia kembali mendengar Eunhee bergumam, “Duduklah di sini. Kau akan berdiri lama karena tak ada tempat kosong,” Haerin bisa merasakan jantungnya berdentum hebat, keringat mulai membasahi telapak tangannya yang terasa dingin. Haerin ingin mengutuki dirinya sendiri karena selalu bereaksi seperti itu setiap kali Siwon berada di dekatnya. Hal itulah yang membuatnya tak pernah bisa bicara dengan benar di hadapan Siwon, hingga dirinya tak bisa menjalin hubungan pertemanan seperti siswa-siswa lainnya. Padahal dari yang ia dengar, Siwon bukanlah siswa yang sok eksklusif dan mudah sekali bergaul dengan teman-teman baru.

“Bagaimana denganmu Nona Lee?” Haerin bisa mendengar suara Siwon yang terdengar sangat merdu di telinganya.

“Emm… kau lihat aku sedang tidak makan apa-apa,” Eunhee membalas, “Dan kurasa… teman-temanku juga tak akan keberatan. Benar bukan, Ji? Haerin-a?” Eunhee menyembunyikan seringainya ketika melihat ekspresi Haerin yang tampak gugup seolah ingin mencekik leher Eunhee saat itu juga.

Sebelum menjawab, Jiae menatap Haerin sebentar lalu kembali menatap Siwon dan Eunhee bergantian. “Yeah, silakan!” setujunya.

Haerin menelan ludahnya susah payah saat Siwon menatapnya lalu tersenyum dan mengangguk pelan pada pria itu. “Terima kasih banyak kalau begitu,” sambut Siwon senang lalu duduk di bangku yang tadi di tempati Eunhee, sementara gadis itu pergi sembari menyeringai dan menatap Haerin dengan tatapan yang menyiratkan selamat-menikmati-makan-siangmu-bersama-sang-pangeran.

————————-

Berbeda dengan kantin, suasana perpustakaan besar itu tampak sangat sunyi. Hanya ada beberapa gelintir orang yang rela menghabiskan waktu istirahatnya dengan menenggelamkan diri di lautan buku-buku tebal dan membosankan itu. Entah sudah kali ke berapa Saehyun melirik ke arah Kibum yang duduk tak jauh dari tempatnya. Gadis itu terus memata-matai ‘saingan terberat’nya yang tampak sama sekali tak peduli dengan lingkungan sekitarnya itu. Aku tak boleh kalah dengannya, tekad Saehyun yang merasa terkalahkan setelah semester lalu Kibum berhasil meraih juara umum, menggeser dirinya ke posisi kedua.

Saehyun buru-buru menutupi wajahnya dengan buku Sejarah Korea yang tadi dipegangnya ketika tiba-tiba Kibum menolehkan kepala ke kiri dan ke kanan. Kibum merasa lelah setelah membaca seharian. Ia pun memutuskan berdiri dari kursinya dan beranjak pergi. Tanpa sepengetahuan Saehyun, Kibum menyeringai kecil mendapati sosok Saehyun yang kini bersembunyi di balik buku tebal di hadapannya. Buku yang persis sama dengan buku yang tadi dibacanya. Kau pikir aku tak tau kau membuntutiku Nona Cho, batin Kibum geli. Namun memutuskan untuk diam saja dan keluar dari ruangan itu.

Saehyun menurunkan buku di hadapannya pelan-pelan lalu melongokkan kepalanya ke balik rak buku di belakangnya untuk memastikan Kibum benar-benar sudah pergi dari hadapannya. Gadis itu mendesah lega lalu tersenyum lebar ketika mendapati Kibum sudah tak di sana dan dirinya selamat. “Hah… syukurlah!” gumam Saehyun senang lalu merapikan buku-buku yang tadi dibacanya dan berdiri. Kau tak akan kubiarkan menang dengan mudah untuk kali ini Tuan Kim Kibum, batin Saehyun riang. “Cho Saehyun! Hwaiting!” Gadis itu melangkah riang ke rak-rak buku di bagian dalam dan meraih salah satu buku Kimia—pelajaran favoritnya—di rak paling pojok dan berniat membawanya pulang. Tapi langkahnya terhenti saat melihat sosok Kibum—yang dipikirnya sudah pergi—tengah bersandar pada rak buku di depannya.

“Kau menikmati permainan detektifmu Nona Cho?!” Seolah ingin mengubur dirinya hidup-hidup, begitulah yang dirasakan Saehyun saat ini.

TBC

 

KYAAAA!!! Aku memberanikan diri bikin FF dengan banyak Couple. Berharap FF ini gak macet di tengah jalan *digaplok Readers*
Ayoo… jangan lupa berikan komentar kalian untuk Part perkenalan FF baruku ini. Klo menurut kalian jelek, bilang jelek ajah. Okay? Jujur, aku gak PeDe ngerilis-nya! *sembunyi di balik punggung Hae*
Terutama buat Cast-nya, aku bilang MianHAE karna Ffnya jelek! *bungkuk bareng Hae*

17 thoughts on “Memories of Youth (SM High School) -Book One-

  1. Hahahahaha masih belum bisa ngasih comment yg detail sih onn, habis masih prolog ini belum tau alurnya. Tapi bikin penasaran sih terutama si abang kibum itu.

  2. ini ff baru yg kamu bilang pengen cepet”d tulis itu y saeng????
    akhirnya rilis juga🙂

    emmm,,,buat komennya,,
    ini temanya school life terus mpe akhir apa g saeng??
    soalnya oen,lebih seneng baca ff yg genrenya d luar skolah yah min d tingkat university gitu,hehe*lbh seneng lagi yg adult* #plak,,,maaf oen uda ketularan virus si kunyuk,kkkk

    untuk jalan cerita,oen suka
    tapi oen akui,g gampang loh bikin ff dengan byk couple n kamu daebak bgt berani bikin ff yg kaya gini🙂
    semoga lancar terus nullisnya smpe ending y saeng,,,
    fighting😉

    • iya Eon kkk
      selingan dulu sebelum masuk bagian akhir HTILY haha #digaplok
      oh? Eon gak suka School life yah? kkk ^^
      Baru kali ini si Eon bikin yg begini.
      ah, sebenernya takut sih bikin banyak Couple. Tapi klo gak dicoba gak bakal tau rasanya. Mudah2an berhasil sampe ending Eon ^^

  3. ini keren eon!! *sumpah*
    walau masih prolog tapi bisa bikin melongo yg baca..

    Pertamanya sih sempat bingung, tapi maki kesini(?) udah agak ngerti..

    Hwaiting ya eon buat per-partnya🙂

  4. wah lanjut onnie😀
    hihihihi penasaran… keren satu kelas namja2 tampan (bias aku ada disitu semua)…😀 *bayangin*

  5. Bagus eonn, jelek dibagian mananya? haha
    aku suka sama couplenya, semua bias aku ada disnni :p *lirik KyuBumHae
    awalnya aku agak bingung, tapi makin kebawah aku jadi ngerti🙂
    ditunggu part selanjutnya🙂

  6. *ikut nimbrung yaaa..
    baru sempet baca..
    bagusss.. chapter pertama g ngebosenin mlh bkin penasaran!
    suke karakter Eunhee dsni..
    apalagi ya, bingung.. udah ahh pkoknya gw suka ceritanya..
    married life g ada yg bgnian jg jdi deh…:D
    oia, part ini flash back ya..??
    chapternya jgn bnyk2 ya, biar cpt tamat..🙂

  7. oen ff mu selalu DAEBAK … apalagi cashnya abang ikan trus aku suka banget sama eunhae couple pasangan yang sangat serasi dan romantis..

    sekali lagi kata buat eonni DAEBAK BANGET

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s