HATE That I LOVE YOU [Part 9]

Cerita sebelumnya:

 

Ibunda Ann—Catherine Parker—ditemukan tak sadarkan diri di rumahnya dan hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa wanita paruh baya itu telah menderita kanker lambung sejak lama. Namun karena tak ingin putrinya khawatir, Catherine sengaja menyembunyikan penyakit berbahaya tersebut. Yang membuat Ann kesal adalah rencana sang Ibu untuk membujuk Ann tinggal di Korea bersama Ayah yang sangat dibencinya. Bahkan, saat itu juga Ayahnya tiba di London untuk menjemputnya. Belum cukup dengan masalah penyakit Ibunya dan juga Ayahnya, kini Ann dihadapkan oleh kenyataan yang membuatnya sakit. Kenyataan bahwa Aiden juga mengenal sosok sang Ayah, dan kenyataan itu muncul di  saat yang tidak tepat. Di saat ia telah benar-benar menyadari perasaan cintanya pada pria Asia itu.

Part 9

 

 

 

 

-Aiden Lee/Lee Donghae, Vistoria’s Cafѐ-

“Pergi kau! Aku tak butuh lelaki yang penuh dengan kepalsuan seperti dirimu. Katakan pada paman Jaesook-mu itu. Rencananya membujukku takkan pernah berhasil walau ia memakai ‘jasa’mu!”

Sial. Aku benar-benar tak bisa berpikir. Kata-kata kasar Ann saat di Tower Bridge pagi tadi masih melekat dalam benakku. Apa yang bisa kulakukan sekarang? Baru semalam hubungan kami membaik, bahkan Ann mempercayakan aku untuk mengurus semua yang menyangkut Ibunya selama di Rumah Sakit. Tapi pagi ini aku membuat semuanya hancur. Tidak, bukan aku. Karena aku sama sekali tak bersalah hanya karena aku mengenal siapa Ayahnya, hingga menimbulkan kesalahpamahan ini. Gadis itu menuduhku sebagai ‘alat’ dari Ibu dan Ayahnya, untuk dapat membujuknya tinggal bersama sang Ayah yang tidak lain adalah Jaesook Ahjussie. Ann bahkan tak mau mendengarkan penjelasanku setelahnya. Menyebalkan!

“Donghae-a!”

“Eo?” Aku terkesiap ketika mendengar panggilan Jaesook Ahjussie. Yeah, setelah dari Rumah Sakit tadi, Jaesook Ahjussie memintaku menemaninya makan. Pasti ia belum sempat makan sejak sampai di negara ini. “Ne, Ahjussie,” balasku sekedar berbasa-basi. Aku masih tidak percaya dengan kenyataan yang baru saja kuketahui pagi tadi. Jaesook Ahjussie adalah Ayah Ann. Sosok Ayah yang sangat dibenci Ann dan dipercayai gadis itu sebagai seseorang yang telah menghancurkan hidup Ibunya. Seorang Ayah yang tidak bertanggung jawab. Sungguh berbeda dengan apa yang kuketahui selama ini.

Jaesook Ahjussie adalah sahabat dekat Appa sejak masih sekolah dulu. Bahkan karena bermarga sama, keduanya menyebut diri sebagai ‘Lee Brothers’. Menurut cerita Appa, mereka memang sempat terpisah karena Jaesook Ahjussie harus melanjutkan study-nya ke luar negeri. Namun beberapa tahun terakhir, keduanya kembali dipertemukan saat tengah menjalankan bisnis yang sama. Bahkan, kabar yang baru saja kudengar—hal yang membuatku kaget setengah mati saat Kyuhyun mengabarkannya padaku beberapa saat lalu—keduanya sudah memiliki kesepakatan untuk menjalin hubungan keluarga dengan menikahkan anak-anak mereka, kesepakatan itu dibuat jauh-jauh hari sebelum Appa meninggal.

“Bagaimana hari-harimu di London?” Walau kulihat Jaesook Ahjussie tersenyum, entah mengapa aku masih bisa menangkap ekspresi sedih di wajahnya. Seolah ada beribu-ribu beban yang menghimpit pundaknya saat ini. Pagi tadi, saat aku mengabarinya bahwa Mrs Parker sakit dan tengah dirawat di Rumah sakit, Jaesook Ahjussie tampak sangat terkejut. Tadinya, kupikir Jaesook Ahjussie sudah tau tentang penyakit yang diderita Mrs Parker selama ini. Namun, rupanya Mrs Parker pun menyembunyikan penyakitnya ini dari sang mantan suami. Maka dari itu, aku berani berkata bahwa Jaesook Ahjussie bukanlah Ayah yang kejam seperti anggapan Ann selama ini. Walau sebenarnya, aku belum mendengar cerita yang sesungguhnya dari pihak Jaesook Ahjussie.

“Baik. Sangat baik Ahjussie,” jawabku sekenanya.

Jaesook Ahjussie kembali tersenyum dengan cara yang sama—menyedihkan. “Hmm… nikmatilah sebaik-baiknya. Kau tau waktumu di negara ini tidak akan lama lagi.”

Ne?” Ah, Ahjussie benar. Kyuhyun bilang….

“Eomma-mu sudah mengabarkannya padamu bukan?” Aku tersenyum kikuk mendengar pertanyaannya. Entah mengapa, ada rasa aneh dalam diriku saat mengingat kabar mengejutkan yang diberikan Kyuhyun semalam. Harusnya aku senang saat Kyuhyun mengabarkannya padaku. Tapi anehnya, rasa senang itu tak juga muncul.

“Eomma sudah menitipkan kabar itu melalui Kyuhyun temanku…,” balasku pelan. Seingatku, Eomma memang belum menelponku langsung untuk mengabarkan masalah ini padaku.

“Ah, begitu,” Jaesook Ahjussie menganggukkan kepalanya,  “Lalu… bagaimana menurutmu? Kurasa… kau dan Seora sudah begitu dekat.”

Seora. Lee Seora. Gadis itu. Gadis yang selama ini kucintai. Yeah, harusnya aku senang bukan?

 

-Annabelle Parker, Riverside Hospital-

 

Sakit. Benar-benar sakit. Begini rasanya terkhianati. Siapa yang sangka kalau dia hanya menipuku selama ini? Ada berapa kebetulan yang bisa terjadi seperti itu? Tidak! Di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan. Tiba-tiba semuanya menjadi jelas bagiku. Mengapa dia hadir? Mengapa ia mendekatiku? Hingga kedatangan si lelaki-tua-sialan itu, juga sakitnya Mom. Dadaku terasa sangat sesak hanya dengan memikirkannya.

Aku benar-benar bodoh. Mengapa aku bisa jatuh dalam perangkapnya? Perangkap yang sengaja dibuatnya untuk membujukku? Tsk, aku bahkan sempat berpikir bahwa dirinya adalah pria baik. Kau lucu sekali Ann! Kurasa aku harus mulai belajar dari kesalahan yang kuperbuat saat ini. Tidak akan ada lagi pria Asia dalam hidupku. Tidak akan!

“Ann, kau belum memakan bekal buatanku?” Spencer. Termasuk kau. Aku tak ingin melihatmu lagi. Dengan alasan apapun. “Ann?!”

“Pergilah!” Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Rasanya kepalaku berat. Air mataku pun tak bisa lagi kubendung.

“Hey, Ann. Apa dia menyakitimu? Lelaki-sialan itu…”

“Pergilah! Kalian sama saja!” bentakku frustasi. Aku lelah. Tak tau lagi harus bagaimana? Mom sedang tidur di dalam, dan aku hanya bisa memandanginya dari luar. Aku takut akan membangunkannya jika kupaksakan untuk masuk.

“Ann?!”

“Kau tidak mengerti bahasa Inggris?” Aku tau aku keterlaluan padanya setelah apa yang dilakukannya untukku selama ini. Tapi aku benar-benar tak ingin melihatnya. “Kumohon pergilah!” Aku berusaha menurunkan nada bicaraku, “Aku tak ingin membentakmu. Aku juga tak ingin kau yang menjadi sasaran kemarahanku. Jadi sebelum aku semakin kesal, pergilah sejauh mungkin. Aku sedang tak ingin diganggu.”

“Ann, aku rela kau—“

“Kumohon!” Kusela ucapannya cepat-cepat. Aku tak ingin jatuh lagi ke perangkap seorang pria Asia. Cukup Aiden saja. Tidak yang lainnya. Semakin aku lemah, semakin besar pula kemungkinan untuk tersakiti.

Kulihat Spencer menatapku dalam diam, tapi syukurlah ia akhirnya pergi—walau jelas-jelas tampak tidak rela. Benar, pergilah! Carilah duniamu sendiri. Jangan ganggu aku lagi! Aku tak butuh pria Asia lain yang hanya akan menyakitiku. Kualihkan tatapanku kembali pada Mom, setelah sebelumnya kuperhatikan sosok Spencer menghilang di balik lift.

Mom masih tampak tenang dalam tidurnya. Aku tak tau apa yang dibicarakannya tadi dengan lelaki-tua-menyebalkan itu. Kuharap, Mom mau mengerti dan tak lagi mendesakku untuk tinggal dengannya.

-Spencer Lee/Lee Hyukjae, Abbey Road-

Ann benar-benar terlihat menyedihkan. Aku ingin tau sebenarnya apa yang dibicarakannya dengan si lelaki-sialan bernama Aiden Lee itu. Sebelum mereka pergi bersama, aku memang melihat Ann menangis karena kejadian dengan sang Ayah di dalam ruangan Boss. Tapi sekembalinya ia dari luar dan melihat Aiden pergi bersama sang Ayah, Ann tampak semakin menyedihkan. Bahkan ia bersikap kasar dan mengusirku. Seingatku, pagi tadi ia sudah mulai melunak padaku. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa ia berubah dalam waktu sesingkat itu?

Aku menghentikan langkahku dan menatap sebuah kaleng pepsi kosong di hadapanku. Kepalaku menunduk, lalu tiba-tiba setetes air turun dan membasahi trotoar di bawah. Aku menangis. Akhir-akhir ini aku jadi sering sekali menangis. Ini terasa lebih menyakitkan dari melihat Ann jalan berdua dengan lelaki-sialan itu.

Buru-buru kuhapus air mata lain yang bersiap keluar dan menengadahkan kepalaku. Tidak. Aku tak boleh menangis lagi. Kutarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku harus kuat. Tak peduli Ann mengusirku, aku akan tetap di sisinya. Bukankah itu yang kulakukan selama ini? Yeah, benar! Aku sudah bersiap-siap untuk menendang kaleng pepsi di hadapanku itu ketika sebuah kaki lain menahannya.

“Jangan membahayakan orang lain lagi dengan tingkahmu itu!” Eh?? Dia…

“Setan Tomboy???!!! Aww… hey, kenapa memukulku?” Sial! Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya? Dan sialnya, setiap kali bertemu dengannya aku selalu na’as. Kuelus-elus lenganku yang masih terasa panas. Kekuatannya besar sekali.

“Namaku Marry… Marry Hathaway.” Gadis itu menegaskan. Seolah-olah aku lupa siapa dirinya. Hah… aku takkan lupa dengan seseorang yang sudah membuatku miskin mendadak malam itu.

“Oh, yeah. Marry Christmas.”

What?!!” Kujulurkan lidahku dan kabur sebelum ia sempat memukulku lagi. Dia menggemaskan sekali kalau sedang kesal. Kulit putih pucatnya memerah hingga ke telinga. Menggelikan. Bisa kudengar si Marry-Christmas masih mengutuk-ngutuk di belakangku. Dasar setan tomboy sialan! Mau sampai kapan ia mengejarku?

“Aaaarrgghh… sial!!!” Sejak kapan ia menyimpan kaleng pepsi itu? Kepala belakangku sakit sekali terkena lemparannya. Aiiishhh… “YAAKK!!!” Aku memutar tubuhku dan semakin kesal ketika melihatnya tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya.

“Hey lelaki cengeng, bagaimana rasanya kaleng pepsi yang terlempar ke kepalamu? Sakit kan?” Menyebalkan! Dia menyebutku apa? Lelaki cengeng? Errggh… sial! Tapi rasanya memang sakit sekali.

“Kalau aku sampai gegar otak, kau harus tanggung jawab!” gerutuku kesal sambil mengusap-usap kepalaku. Kini ia sudah sampai di depanku dan berkacak pinggang.

“Kau mengancamku?” balasnya masih sambil tertawa. Menyebalkan!

“Aku bukan lelaki cengeng,” koreksiku untuk pernyataannya tadi. Seenaknya saja ia menyebutku begitu.

“Benarkah?” Ia menaikkan salah satu alisnya tampak sama sekali tak percaya dengan ucapanku, “Lalu mengapa setiap kali bertemu denganmu. Kau selalu menangis?”

Oh, sial! Aku skak mat sekarang. “Kau saja yang datang pada waktu yang tidak tepat,” aku mengeluarkan argumenku. Gadis tomboy tak berperasaan seperti dirinya, mana mungkin mengerti kesedihanku? Lihat saja malam itu, saat aku memintanya menemaniku. Ia sama sekali tak membantu. Dan malah menghabiskan uangku dengan selera makannya yang sangat besar.

“Kau dicampakkan gadis pujaanmu itu lagi?” Mwo? Aiiishh… dia benar-benar menyebalkan! “Annabelle Parker, putri si pemilik restorant tempatmu bekerja. Dan lelaki itu… siapa namanya? Ah… Aiden Lee.” Aku membulatkan mataku. Dia… ternyata dia masih ingat semua yang kuceritakan malam itu. Kupikir dia hanya…

“Hey… kau—“

“Kenapa? Kau heran aku masih mengingatnya?” Gadis itu menyela ucapanku dan menatapku cuek. Aku tak menyangka, di balik sikap serampangannya, ia perhatian juga.

“Y-yeah… aku—“

“Kau ingin aku menjadi pendengarmu lagi?” Marry kembali memotong ucapanku yang tak selesai. Aku benar-benar kehilangan kata-kata sekarang. Memang benar pepatah yang mengatakan, Dont judge a book by its cover. Dia benar-benar memiliki kepribadian yang berbeda dari yang terlihat. “Aku bersedia meminjamkan telingaku untukmu,” Dia baik sekali! Oke baiklah, aku tak jadi menyebutnya setan tomboy. Dia terlalu baik untuk itu. “Tapi jangan lupa mengisi perutku dengan beberapa cangkir cokelat hangat, dan ah.. aku mau makan pizza juga. Bagaimana kalau sekarang kita—“

Mwooo???” Aiiishh… aku salah sangka. Dia tetap saja menyebalkan.

“Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan,” Tiba-tiba kurasakan tanganku ditarik dan detik itu pula aku berjalan atau lebih tepatnya terpaksa berjalan di sampingnya. “Ayo! Kebetulan aku sudah lapar!” Sial! Aku miskin lagi hari ini.

-Aiden Lee/Lee Donghae, Tabards Garden-

 

Rerumputan hijau dan pohon-pohon besar mengelilingi taman kota yang biasa disebut sebagai jantung kota London ini, tampak sangat menyegarkan. Taman ini berada di tengah-tengah bangunan bertingkat tinggi hingga menimbulkan kesan kontras yang sangat kentara. Setelah puas menyantap sarapan pagi yang disatukan dengan makan siang bersama Jaesook Ahjussie di salah satu cafѐ yang terletak di tepi sungai Thames. Kami memutuskan untuk istirahat sejenak di sini. Duduk berdua di sebuah kursi kayu panjang di bawah pohon oak yang rindang.

Selama hampir setengah jam berlalu, tapi tak ada satupun di antara kami yang mencetuskan sebuah topik pembicaraan. Kami berdua sibuk dengan pikiran masing-masing. Hanya suara gemerisik daun yang bergesekan terkena angin dan suara-suara teriakan orang di seberang yang mampir di telingaku. Kupejamkan mataku menikmati semilir angin hangat di awal musim semi ini. Menyegarkan. Aku jadi rindu rumah. Rindu saat-saat menikmati keindahan bunga sakura di Yeouido Park. Cherry Blossoms festival dan pesta kembang api. Memikirkannya saja, pikiranku terasa tenang.

“Kau tak tau betapa senangnya hatiku saat mendengar kabar bahwa Cath dan Ann masih hidup.” Eh? Itu… buru-buru kubuka mataku dan menoleh ke arah Jaesook Ahjussie. Pria paruh baya itu juga baru saja membuka matanya, tapi ia tak menatapku. Matanya memang terbuka, tapi pandangannya kosong ke depan. “Sebulan yang lalu, Cath menghubungiku,” Aku hanya bisa diam ketika ia tiba-tiba berhenti bicara untuk menghela nafasnya panjang. “Aku kaget dan sempat tak percaya bahwa yang kudengar itu suara Cath, kemudian aku ingin sekali menertawakan diri sendiri yang mempercayai sebuah berita bodoh yang membuatku frustasi bertahun-tahun lamanya.” Jaesook Ahjussie kembali melanjutkan. Jadi, selama ini ia mengira bahwa anak dan istrinya sudah mati? “Dulu, empat belas tahun silam, saat aku kembali ke Seoul untuk memenuhi panggilan Appa. Beberapa hari setelahnya, mereka mengabarkan bahwa Cath dan Annie kecilku di London meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat mereka akan menyusulku ke Seoul. Aku bahkan tak diijinkan untuk datang ke pemakamannya karena mereka bilang, mobil yang ditumpangi Cath dan Ann masuk jurang dan terbakar habis hingga mayatnya pun tak bisa ditemukan. Bisa kau bayangkan betapa sedihnya perasaanku saat itu.” Kudengar Jaesook Ahjussie terisak dan detik berikutnya kulihat tetesan bening mengalir di kedua pipinya. Ya Tuhan! Jadi begitu ceritanya? Benar dugaanku kalau Jaesook Ahjussie sama sekali tidak bersalah. Orang tuanya yang sangat berperan dalam hal itu. “Aku memang bodoh karena sama sekali tak membantah dan langsung mempercayai kabar bohong itu. Mungkin karena terlalu kalut dan saat aku mencoba menghubungi Cath lewat telepon sama sekali tak tersambung, aku jadi sangat frustasi.”

“Ahjussie…”

“Tentu saja aku senang saat sebulan yang lalu Cath menghubungiku, mengabarkan bahwa dirinya dan Annie kecilku masih hidup dan sehat-sehat saja sampai saat ini.” Mendengar semua penjelasan Jaesook Ahjussie, mendadak dadaku terasa sesak. Sebegitu tak setujukah orang tua Jaesook Ahjussie hingga memisahkan mereka dengan membuat berita konyol yang terkesan kotor itu. “Tapi aku tak menyangka… bahwa tujuan Cath memintaku membawa Ann adalah karena ia sedang sakit… aku… dia bilang… dia…” Kudengar nafas Jaesook Ahjussie mulai tersengal-sengal.

“Ahjussie!” Kusentuh pundak Jaesook Ahjussie yang kini bergetar karena isakannya yang semakin menjadi.

“Lebih baik dia menikah dengan orang lain… seperti yang dikatakannya padaku beberapa saat lalu, daripada harus… begini”

“Ahjussie… sudahlah!” Kutepuk-tepuk pelan pundaknya yang kini semakin bergetar hebat. Kasihan sekali Jaesook Ahjussie. Ia pasti sangat terpukul mendengar kabar ini. Setelah bertahun-tahun terpisah dengan anak istrinya, ia harus menerima kenyataan bahwa sang istri menderita penyakit parah yang bisa saja menrenggut nyawanya. Mungkin saat ini ia tak sanggup lagi berpura-pura tegar di hadapan anak dan istrinya, seperti pagi tadi. Ditambah lagi penolakan Ann yang sama sekali tidak tau kisah sebenarnya. Aku janji akan membantumu Ahjussie. Ann harus tau soal ini. “Aku akan membantumu Ahjussie. Aku berjanji,” putusku mantap.

-Spencer Lee/Lee Hyukjae-

Kumohon jangan lagi. Jebaaal! Ah, dia akhirnya berhenti mengunyah potongan keempat pizza besar yang tadi ‘terpaksa’ kubelikan untuknya. Saat ini si-setan-tomboy itu menatapku. “Thanks Mr Spencer, you’re awesome!” ungkapnya sambil menyunggingkan senyum manis yang jarang sekali kulihat darinya. Apakah itu artinya ia akan berhenti membuat dompetku kosong? Sejauh ini ia sudah menghabiskan 3 cangkir cokelat hangat dan seporsi besar pizza sendirian. Sebesar apa kapasitas lambungnya itu? Aku saja yang mengaku sangat suka makan, tak bisa menghabiskan makanan sebanyak itu. Apalagi untuk ukuran wanita sepertinya? Dia memang ajaib!

“Sudah berapa hari kau tak makan?” cetusku sambil mengamatinya yang tersenyum lebar.

“Hmmm… kira-kira seharian ini.” Aiiishh… apakah dia hanya makan saat bersamaku saja? Dan dia sengaja membuntutiku untuk mentraktirnya? Sial! Pantas saja aku sering bertemu dengannya.

“Sampai kapan kau akan kabur dari rumah?” Marry tersedak cokelat panasnya dan menjatuhkan cangkir itu hingga menimbulkan bunyi berdenting keras.

“Urus saja urusanmu sendiri Tuan Spencer,” jawabnya datar setelah sebelumnya tampak panik untuk sesaat. Tsk, bisa-bisanya ia bicara seperti itu padaku? Sementara ia sudah menghabiskan banyak uangku selama dua hari terakhir.

“Hey, Marry Christ—“

“Marry Hathaway,” koreksinya cepat. Hah… dasar aneh! Dia kabur dari keluarganya, tapi masih saja tak mau jika orang lain merubah nama keluarganya.

“Okay, Nona Marry,” sebutku pasrah, “Aku membawamu ke mari bukan hanya untuk makan. Tapi—“

“Aku tau!” Gadis itu menyela dan kulihat ia membersihkan mulutnya dengan lap putih yang tadi disediakan pelayan. “Menurutku, kau harus berhenti mengejar gadis itu. Kalau kau tak ingin semakin sakit hati, kau tau ia tak membalas cintamu. Jadi hentikankah! Menjauhlah darinya, dan menikah saja denganku.”

Eh?? Mwo?? Dia bilang apa tadi? Me… menikah dengannya? “Hey, kau—“

“Hahaha… kau lucu sekali kalau sedang kaget begitu. Ekspresimu itu… astaga! Tidak salah kalau gadis bernama Ann itu menyebutmu Monyet! Hahaha…” Kulihat ia tertawa sambil memegangi perutnya dan hampir saja terjungkal dari kursi yang didudukinya. Sama sekali tidak anggun.

Aiiishh… sial! Dasar Iblis! Kurasa sebutan itu lebih cocok untuknya. Berani-beraninya ia menipuku dan menyebutku monyet. Yang boleh menyebutku begitu hanya Ann. “Sudahlah, aku pergi saja. Malas sekali bicara denganmu,” sergahku lalu beranjak dari kursi yang kutempati.

“Ah, baiklah. Terima kasih banyak untuk pizzanya.” Haaashhh… kalau sudah tidak perlu lagi ia membiarkanku pergi begitu saja. Jangan coba-coba merayuku lagi untuk mentraktirnya makan kalau lain kali ia lapar lagi.

“Oh, aku punya pesan untukmu,” Aku sengaja berbalik ketika sebuah ide melintas di otakku. Yeah, kau memang jenius Lee Hyukjae. “Sebaiknya kau pulang ke rumahmu Nona Marry. Karena aku tak akan pernah mentraktirmu makan lagi.” Hahaha… memangnya cuma dia saja yang bisa mengerjaiku. Kulihat kini kulit wajahnya yang putih memerah hingga ke telinga. Pasti ia sangat kesal mendengarku berkata begitu. Eh, tapi tunggu dulu. “Hey, apa yang kau lakukan? Hey, Nona Marry. Kenapa kau memelukku begitu. Ya!!! Aiiishh…”

“Marry… kau kah itu?” Eh? Ada orang yang menyebut namanya di belakangku. Siapa dia hingga membuat si-iblis-tomboy ini belingsatan begini? Jangan-jangan…

-Annabelle Parker, Riverside Hospital-

“Makanlah satu suap lagi Mom.” Kuangsurkan sesendok bubur padanya. Mom menggeleng tegas. Ia baru makan beberapa suap saja, tapi sudah menolak untuk makan lagi. “Ayolah Mom!”

“Tidak Honey, perutku mual. Aku tak sanggup makan lagi,” keluh Mom sambil memegangi dataran perutnya yang tampak semakin tipis saja.

“Kau tidak apa-apa Mom? Apa perlu kupanggilkan dokter?” Mom menggeleng dan menatapku sayu. Aku tak sanggup lagi melihatnya seperti ini. Dia terlalu baik untuk menerima penderitaan seperti ini. Kenapa bukan si-tua-sialan itu saja yang menderita?

“Tidak usah Honey,” Kurasakan tangan lembut Mom membelai wajahku. “Aku tidak apa-apa.” Mom masih bilang tidak apa-apa. Padahal sudah jelas-jelas ia menderita. “Maafkan Mom Honey…”

“Sudahlah Mom! Jangan bicara begitu,” sergahku lalu meletakkan sendok berisi bubur itu kembali ke tempatnya. “Aku akan mengambilkan air hangat untuk membersihkan tubuhmu Mom,” Aku benar-benar tak sanggup lagi. Sebaiknya aku menyingkir untuk sejenak dari hadapannya. Air mataku sama sekali tak kenal kompromi. Selalu saja mendesak keluar di saat yang tidak tepat.

Kubuka pintu kamar mandi, menutupnya dan menyandarkan tubuhku di sana. Tanpa menunggu lama, air mata itu keluar seiring dengan meningkatnya isakanku. Kututup mulutku dengan tangan. Menahan agar isakanku tak terdengar. Ya Tuhan, sampai kapan akan seperti ini? Rasanya sakit sekali melihat seseorang yang sangat kusayangi menderita begitu. Tiga hari telah berlalu, dan kondisi Mom semakin memburuk saja. Wajah cantiknya tampak begitu pucat. Pipinya yang dulu sedikit tembam, kini tampak sangat tirus. Cekungan di matanya juga semakin dalam. Binar kecantikan itu pudar seiring dengan parahnya penyakit yang menggerogotinya.

Kulangkahkah kakiku perlahan ke arah wastafel dan menghidupkan keran airnya. Membasuh mukaku untuk menghilangkan bekas tangisanku. Mom tak boleh tau aku menangis. Aku sudah berjanji untuk tetap tegar di hadapannya. Kalau aku sedih, ia pasti juga akan sedih dan terus mendesakku untuk tinggal dengan Dad. Aku tidak mau itu terjadi. Sekalipun aku harus menderita sendirian.

Kakiku berhenti melangkah ketika kubuka pintu kamar mandi dan menemukan lelaki-tua-sialan itu sudah duduk di kursi tempatku tadi. Mengelus puncak kepala Mom seolah-olah mereka masih menjalin hubungan suami istri. Beraninya ia melangkahkan kakinya di sini lagi setelah apa yang terjadi. Memang hampir setiap hari ia datang ke mari dan setiap hari pula aku menyingkir karena malas berhadapan dengannya. “Ann, Ayahmu baru saja datang.” Tsk, Ayolah Mom! Berhenti bertingkah seolah dirinya pantas diperlakukan begitu. Aku benar-benar muak!

Aku membuang muka dan meletakkan baskom besar berisi air hangat yang tadi kuambil di meja. “Kurasa kau tak membutuhkanku sekarang Mom. Aku akan keluar—“

“Annie…” Sebutan itu. Untuk apa ia menyebutku begitu? Annie? Tsk, aku bukan anak kecil lagi. “I’m sorry…” Tch… dipikirnya permintaan maaf itu berguna untuk saat ini? Sama sekali tidak! “Tolong dengarkan penjelasan Dad!”

“Aku tidak mau ikut denganmu! Apapun alasan yang kau berikan! Aku tetap tak akan mau ikut denganmu dan meninggalkan Mom seorang diri. Tidak akan!” Aku menjerit dan berlari keluar tanpa peduli lagi suaranya yang terus memanggilku. Apa dia menyesal? Aku bisa mendengar suaranya bergetar saat memanggil namaku. Tapi itu sudah terlambat. Aku yakin itu hanya akal-akalannya saja untuk dapat membujukku. Dia benar-benar mengerikan! “Ah, hey… lepaskan aku!” Aiden? Apa-apaan dia? Kenapa begitu saja menarik lenganku? Dan sedang apa dia di sini? Apakah ini salah satu rencananya? “Hey, lepas!” Sial! Ia kuat sekali. Aku tak bisa melepaskan diri. Tanganku terasa sakit karena cekalannya begitu kuat di lenganku. Terpaksa, kuikuti ke mana ia membawaku pergi.

—————————

“Aku ingin bicara denganmu.” Ia membawaku ke atap. Kuelus-elus lenganku yang kini memerah karena cekalannya tadi. Bicara denganku? Belum cukupkah apa yang dilakukannya padaku selama ini?

“Kalau kau mau pamit, pergi saja. Tak usah menemuiku lagi!” Kupalingkan mukaku dan beralih menatap sungai Thames yang terletak di samping kiri gedung. Sinar matahari kemerahan di ufuk barat, sangat indah menghias langit sore ini.

“Ya, aku memang akan pergi.” Entah mengapa jantungku berdegup kencang mendengarnya berkata begitu. Ia akan pergi? Meninggalkanku? Seperti Dad meninggalkan aku dan Mom? Oh, sial! Bukankah itu yang kau inginkan Ann, tapi kenapa terasa begitu sesak saat kata-kata itu keluar dari mulutnya sendiri. “Tapi setidaknya, kau dengar penjelasanku dulu.”

“Aku tak butuh penjelasan apapun darimu!” sergahku kasar dan menghentak lenganku saat merasakan tangannya kembali menyentuh pergelangan tanganku.

“Sebenarnya aku tak ingin ikut campur dalam urusan ini. Tapi, aku sudah dengar semua penjelasan Jaesook—“

“Sudah kubilang aku tak mau dengar apapun!!!” Kututup telingaku dengan kedua tangan dan berjongkok tepat di hadapannya. Air mataku turun begitu saja. Aku tak peduli ia menganggapku menyedihkan. Tapi rasa sesak yang menghimpit dadaku sudah sampai di puncak. Aku tak sanggup lagi menahannya. Kumohon hentikan! Aku tak mau mendengar apapun tentangnya. Hentikan Aiden!

“Ann,” Aku bisa merasakan tengan hangat Aiden di kedua bahuku. “Aku tau kau marah, tapi tolong dengarkan penjelasanku dulu.”

“Pergilah!” sergahku kasar lalu menutup wajahku dengan tangan. Keberadaannya membuatku merasa hangat dan kesal di saat bersamaan. Dalam hati berharap ia menolak saat kuminta pergi, tapi mulutku tetap memintanya menghilang dari hadapanku. Aku benar-benar tak mengerti dengan diriku sendiri. Mungkin karena egoku yang begitu tinggi. Aku memang munafik!

“Baiklah, aku akan pergi.” Jangan! Kumohon jangan! Kau benar-benar menyedihkan Ann! “Semalam aku mendapat kabar kalau Ibuku memintaku kembali ke Seoul dan Kyuhyun lah yang akan menggantikan tempatku sebagai mahasiswa pertukaran pelajar di sini.” Jadi, dia benar-benar akan pergi? Meninggalkanku? Tidak! Jangan pergi! “Harapanmu terkabul Ann.” Demi Tuhan! Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku tak mau ia benar-benar pergi. Aku… mencintainya. Mencintai pria Asia-menyebalkan ini. “Kalau aku membuat banyak kesalahan selama di sini, aku minta maaf. Dan terima kasih karena selama ini kau mengantarku berkeliling London.” Jangan berkata begitu! Kumohon! Katakan padanya Ann. Jangan jadi pengecut! Ia kini sudah berdiri dari posisi jongkoknya, sementara aku hanya bisa membisu di hadapannya. Bodoh! “Euumm… tentang Ayahmu. Sudah kukatakan, aku sama sekali tak tau kalau sebelumnya aku mengenalnya. Semua ini hanya kebetulan saja. Dan yang bisa kukatakan padamu adalah… tolong dengarkan penjelasannya. Ia punya alasan dibalik semua sikapnya selama ini.” Aiden kumohon! “Kalau begitu aku pergi dulu. Sampaikan salamku untuk Mrs Parker. Malam nanti, aku berangkat ke Seoul.” Aku mendongak menatapnya saat tangannya menyelipkan sepucuk surat di tanganku. “Baca ini, dan kau akan mengerti semuanya.”

Tidak! Kugigit bibir bawahku menahan isakan yang kini kembali muncul saat melihatnya membalikkan tubuh dan berjalan menjauh. Haruskah aku menahannya? Haruskah aku menahan lengannya dan mengatakan untuk tidak pergi?

“Ah, satu lagi Ann,” Aku sudah berdiri ketika tiba-tiba ia memutar tubuhnya menghadapku. “Kutunggu kehadiranmu di Seoul, kuharap kau mau menginjakkan kakimu di sana. Dan ketika saat itu tiba, aku janji akan menemanimu berke—“ Aku tak sanggup lagi. Aiden menghentikan kata-katanya ketika tanpa kusadari kakiku melangkah dan masuk begitu saja dalam pelukannya. Apa aku terlihat menyedihkan? Tapi aku benar-benar tak ingin ia pergi. Tubuhnya terasa begitu hangat dan nyaman. Aku ingin terus berada di dekatnya walau mulut ini terus menolak untuk mengakui. “Apakah ini artinya kau memaafkanku? Jangan bilang ini pelukan selamat tinggal Ann.”

Buru-buru kulepaskan pelukanku dan berjalan mundur beberapa langkah. Aku tak berani menatap mata beningnya dan senyum menawannya yang selalu sukses membuat kerja jantungku tidak normal. Kuputar tubuhku membelakanginya. Pipiku terasa panas. Semoga ia tak menyadarinya. Harusnya aku tak melakukan semua ini. Ah, dasar Bodoh! Tapi aku tak bisa menahan gejolak hatiku untuk tak memeluknya. Menahan agar ia tak pergi. Hanya saja, mulutku terasa kelu untuk bicara. Sepertinya ia menganggapku gadis aneh. Menyuruhnya pergi tapi memeluknya di saat bersamaan. “Itu memang pelukan selamat tinggal.” Bagus. Teruslah berbohong Ann. Dan kau sendiri yang akan menderita. Menderita atas kekeraskepalaanmu sendiri.

“Kalau begitu, aku pergi dulu Ann. Semoga sukses dan jangan lupakan aku!” Kudengar langkah kaki Aiden menjauh. Pergilah! Kusadari cepat atau lambat ia akan pergi juga. Toh, ia hanya setahun di sini bukan? Kalau dalam waktu tiga bulan ini harus pergi, bukankah itu lebih baik? Jadi aku tak perlu masuk lebih dalam lagi pada perangkap yang dibuatnya. Well, mungkin terdengar seperti seseorang yang sedang menghibur dirinya sendiri. Tapi apa lagi yang bisa kuperbuat? Aku memang tak seharusnya jatuh cinta padanya.

Selepas kepergian Aiden, bagai orang ling-lung aku duduk di pinggir pembatas atap. Rasanya sesak itu masih ada. Aku memang munafik. Pura-pura menyuruhnya pergi, tapi dalam hati sangat berharap ia menyangkal. Tentu saja kepergiannya kali ini menjadi pukulan telak bagiku. Semuanya sudah terlambat untuk memperbaikinya. Aiden memang harus pergi. Aku pun bisa melihat ketulusannya saat mengatakan bahwa dirinya benar-benar tak tau menahu tentang rencana Mom dan Dad yang ingin membawaku ke Korea. Mungkin kebetulan itu memang ada. Dan aku sudah berburuk sangka padanya.

Teringat pada sepucuk surat yang diberikan Aiden tadi, perlahan kuberanikan diri untuk membukanya setelah sebelumnya mengisi penuh paru-paruku dengan pasokan oksigen baru.

Dear Ann…

Sebelumnya aku mau mengucapkan terima kasih padamu dan juga Ibumu yang telah membuatku betah tinggal di kota ini. Sayang sekali kebersamaan kita di London hanya sampai di sini. Semalam Ibuku menelpon dan memintaku kembali ke Seoul. Dan atas desakan Ibuku juga, terpaksa posisiku sebagai mahasiswa pergantian pelajar tahun ini digantikan oleh temanku Cho Kyuhyun. Mungkin dia tak akan sepertiku yang suka merepotkanmu. Karena dia sudah punya kekasih dan tour guide pribadi di sini. Jadi kau tak perlu khawatir akan ada pria Asia lain yang akan mengganggu hidupmu seperti apa yang kulakukan dulu.

 

Kalau boleh jujur, Mr Freddickson sama sekali tak memintamu untuk menemaniku selama itu. Ia hanya memintamu untuk menemaniku selama masa orientasi di minggu-minggu pertama aku di sini. Tapi karena aku merasa tertarik untuk berteman dengan gadis angkuh dan keras kepala seperti dirimu. Maka dari itu aku memutuskan untuk memberikan sedikit kebohongan padamu. Ah, tidak. Kurasa kau marah sekarang bukan? Karena menurutmu pasti itu bukan sedikit kebohongan kekeke. Tapi kau tak akan bisa menghukumku karena aku sudah pergi sekarang.

 

Sial! Dia menipuku! Tapi kenapa aku sama sekali tidak marah mengetahui kenyataan ini? Kuhapus air mataku yang mulai menetes membasahi kertas surat yang kupegang.

Oke, kurasa aku akan langsung ke inti permasalahannya. Mungkin kau terguncang saat mengetahui kenyataan bahwa aku mengenal Ayahmu dengan baik. Kau pasti berpikir aku ini pembohong yang sengaja masuk ke kehidupanmu dengan sebuah skenario yang dirancang khusus untuk dapat membujukmu tinggal dengan Ayahmu. Jujur, aku sama sekali tak tau tentang rencana itu. Aku juga sangat terkejut saat mengetahui bahwa Ayahmu adalah salah seorang yang kukenal. Apalagi setelah mendengar ceritamu tentangnya yang telah meninggalkanmu dan Ibumu. Menelantarkanmu hingga bertahun-tahun hanya karena takut kehilangan warisan keluarganya. Kurasa Dunia memang sempit.

 

Saat itu batinku berperang. Aku merasa mengenal sosok Ayahmu dengan baik. Dan menurutku, ia sama sekali bukanlah sosok jahat yang akan tega melakukan hal itu pada anak dan istri yang sangat dicintainya. Apalagi hanya demi harta. Oleh karenanya, pagi itu kukatakan padamu untuk memikirkannya dulu atau mungkin mendengarkan ceritanya dulu sebelum memutuskan menolak tawarannya. Walau aku sendiri pun belum tau duduk permasalahannya bagaimana. Karena dari yang kutau, Ayahmu sama sekali tidak tau kalau Ibumu sedang sakit. Ia datang kemari dengan anggapan bahwa ibumu memintanya membawamu ke Seoul karena Ibumu bilang ia akan menikah dengan lelaki lain. Tapi pada kenyataannya, Ayahmu terpukul saat tau Ibumu menderita penyakit yang sangat parah.

Benarkah itu? Benarkah apa yang dituliskannnya ini? Mendadak pandanganku kabur dan tenggorokanku terasa sakit. Kubuka lembar berikutnya surat itu dan kuputuskan untuk meneruskan membacanya.

 

Hari itu setelah makan siang, Ayahmu menceritakan semuanya padaku. Dia benar-benar terguncang dan sangat sedih. Ia sangat menyayangi istri dan anaknya. Tapi kakek-mu lah, Ayah dari Ayahmu yang telah merancang sebuah kisah palsu untuk mengelabui Ayahmu yang kala itu masih sangat muda dan labil. Dengan kekuasaannya, Tuan Lee mengatakan pada Ayahmu bahwa kau dan Ibumu sudah meninggal karena kecelakaan parah yang bahkan mayatnya pun tak bisa teridentifikasi. Mungkin kesalahan Ayahmu saat itu adalah menerima begitu saja kisah palsu yang dikabarkan padanya. Siapa yang akan tahan jika berita itu benar-benar terjadi. Mungkin kalau aku yang ada di posisinya saat itu juga akan bereaksi sama. Jadi kumohon Ann. Dengarkanlah dulu ceritanya dari mulut Ayahmu sendiri. Kuharap setelah membaca surat ini, kau mau memaafkan Ayahmu dan semua pria Asia di muka bumi ini. Terlebih bila kau mau tinggal bersama Ayahmu di Seoul.

 

Sepengetahuanku, setelah kami tinggal bersama selama tiga hari ini, Ayahmu tak lagi berharap kau mau ikut dengannya. Ia sadar akan kesalahannya. Dan niatnya di sini adalah untuk menjaga Ibumu dan kau, sama sekali tak berniat untuk memisahkan kalian berdua.

Dad… sama sekali tidak bersalah? Jadi selama ini… kakek yang… Ya Tuhan! Bodohnya aku. Air mataku kembali turun, tapi kali ini ada perasaan hangat yang menelusup ke dalam hatiku. Kenapa Mom tak mengatakannya padaku? Atau mungkin ia mau mengatakannya, tapi aku… terlalu keras kepala untuk mendengarnya. Sorry Dad… seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu.

 

Baiklah, ini sudah sangat panjang. Semoga kau tak bosan membacanya. Aku tak mau mengucapkan selamat tinggal padamu. Karena jujur, aku masih ingin bertemu lagi denganmu. Berharap suatu saat nanti kau mau menginjakkan kaki di negaraku. Korea Selatan. Aku akan dengan bangga hati mengantarmu ke tempat-tempat indah yang ada di sana.

 

 

 

                                                                                                -East Sea-

 

NB: Ah, aku lupa. Kalau kau ke Korea, jangan mencariku dengan nama Aiden Lee, karena kau tak akan menemukan pria benama itu di mana pun. Carilah aku dengan nama Lee Donghae. Maka aku yakin, seluruh gadis cantik di kota itu pasti mengenalnya. ^^

Tch… dasar pria bodoh! Bisa-bisanya ia mengatakan hal itu di akhir suratnya. Menggelikan!

Kuseka air mata dengan punggung tanganku. Terima kasih Aiden. Aku pun berharap bisa bertemu denganmu lagi… Lee Donghae!

 

TBC

Mian klo ceritanya semakin lama semakin aneh!! maklum otakku udah gila kkk
jangan kecewa ya ama ceritanya fufuufuf ><

42 thoughts on “HATE That I LOVE YOU [Part 9]

  1. Arrrgghhhh..kerennnnn..
    Ga sabar nungguin lanjutan nya..
    Eunhee-ahh cinta terpndam bs mmbuat hati bngkak
    *apacoba

    Daebakkkkk..!!

  2. apa,,,,,,,,TBC????
    hiks,,padahal lagi serius”nya baca nih saeng😦

    eh saeng,aq penasaran deh sama si marry christmas itu,ga adakah sosok yg bisa menggambarkannya????
    kan pengen liat tampangnya,abisnya peran dia cukup mencuri perhatian,,,,,
    si spencer aja bisa kalah telak klo uda berdebat ma dia,kkkkk

    lee seora???org yg d cintai aiden,trus ann gimana???
    sebenernya aiden suka ann g sih??
    aargghhh,,,,makin penasaran nih saeng!!!!!

    aduh bang ikan,klo nanya siapa lee donghae ma bukan cuma cewe cantik sekorea aja yg tau,tapi sedunia kali,*dunia bawah laut maksudnya* #plak*wkwkwk #dirajam lee eunhee

    ayo saeng,semangat bikin next partnya,,,jgn biarkan oen menunggu smpai lumutan*lebay.com*
    hwaiting🙂

    • Hoahahah…. sabar Eon!! klo gak TBC, tanganku capek ngetiknya #Plakk
      Eh? Iya lupa Eon, tadinya juga pengen aku kasih picku-nya Marry gimana? Tuh, udah kuselipin tadi barusan (?) fotonya Marry Christmas ^^

      Huahahaha… suamiku emang terkenal sedunia ikan -_____-

      Sabar Eon, mungkin bentar lagi Ending ^^

      • hhmmmm,,,,lumayan cantik si marry christmas itu tapi masih cantikan aq,bwuahahha,,,*siapin ember buat muntah*
        bule asli y saeng??kirain masih ada asia”nya dikit,,,pi gpp deh buat spencer daripada sendirian,kkkk

      • sini Eon embernya!!! wkwkkwkw :p

        eh, kagak ngenalin kah cewe ini siapa?? Dia kan yg jadi Bella di Twilight. si Kristen Stewart ^^
        Cantik yah? Si Marry emang Bule asli.

  3. Kyaaaaaa unnie ini keren sumpah *kibar kolor hae*
    sempet keluar air mata deh pas baca surat Aiden huee ;____;
    dasar Ann keras kepala n muna nya ga ilang2, sayang kan si ikan dibiarin pulang k seoul sndirian kkeke😄
    disini yg lawak MarryHyuk couple :p fufufu suka deh si spencer yg trkenal pelit di khidupan nyata (?) lngsung mskin mendadak huahaha
    kyak nya ini mau FIN ya un ? Next part ditunggu ya ^^

    • hehe… Gomawooo saeng. Iyah, emang cuma tinggal dikit lagi nih. pengen buru2 namatin biar bisa bikin epep laen. Idenya udah mendesak buat ditulis nih kkkk

      Kyakakakak… MarryHyuk emang pasangan paling aneh seluruh dunia #Plakk

  4. Aduh ampun deh jadi cuma salah paham ni?
    Jangan bilang donghae mau nikah di seoul aduh onnie…
    Udah deh ann susul si aidenmu.
    Ga sabar nunggu gimana ann bakal ikut ke seoul apa nggak.

  5. hhhmmm……pngen cpt2 liat ann dteng k korea trs ktmu hae,…
    mg2 ja hae cpt sdar ma prsaannya n g jd mnikah ma seora,hehehe
    daebak eon,lnjut trs pkoknya,,,FIGHTING!!!!!

  6. aku baca part ini ikutan galau sama kayak Ann. yah itu apa-apaan kenapa Hae-nya harus pulang ke Seoul? ninggalin Ann gitu, mau dijodohin lagi, aaaaaahhhh…
    Oooo ternyata tu ayahnya ann temen sekolahnya ayahnya Hae, dan yey terungkap kisah masa lalu ayahnya ann di sini
    lanjutannya segera ya author ^^

  7. jadi semua ini karna salah paham ya
    kasian ann uda benci bgt sama dadnya pdhl dadnya ga slah apa2
    kakeknya jahat ih
    dadnya ann uda nikah lagi ya onn??
    anaknya namanya lee seora n mw dijodohin ma hae??
    ah kirain yg ann meluk aiden dia bakal ngomong kl dia suka tp gak
    ann gengsian bgt sih jdi cwe
    cpt susulin hae ke korea sblm dia nikah sama seora
    aku sampe nangis onn baca suratnya aiden T.T
    jgn lama2 ya lanjutannya

    • iya, Dad-nya Ann dah nikah lagi fufufuu ><
      Hahaha… biasaaa cewe emang suka gitu. Klo gak cowo yg nyatain duluan, pasti gengsi mau nyatain cintanya kkkk
      Sabar saeng, ditunggu aja next Part-nya ^^

  8. hmmm…
    g sabr nunggu crita mreka di seoul nant…
    itu si kyu ke lndon dong, ktemu ma jiae donk.. mreka bkalan pcran aja tuh.. #dicekikjiae
    :’))

  9. YAA!!? Anehh???
    OMO O,o ini kereen onnie;D
    wuuaahh gg nyangka kakek’a ann bgtu kejam=o=
    td di awal part, aq bner2 udh gmana gtu pas dnger donge mau di jodoh’n sma anak’a jaesook ajusshi, tp trnyta diing ding itu bkan ann, lee seora? Kakak’a hyukjae?
    Oia.. Onnie, udh pernah jelas’n asal usul’a spencer blom?#aq lupa;p
    knpa dia bsa kenal sma keluarga parker, knpa dia bsa ikut kerja breng keluarga mreka… Apa mngkin spencer LEE jg anak jaesook ajusshi?#bnyak nnya deh gw==

    oh ya di part ini aq pling suka scene perpisahan lee sarden(?)-yg-gombal’a-gg-ilang2-smpe-london, sma ann, ahh so sweet.. Gmna ann tba2 meluk aiden. Kyyaaaa greget gmna gtuuu
    kkkkk

    trus, aq gg bnyak coment deh soal hubungan aneh spencer sma mary crhistmas itu.. Tp knpa gg psang foto emma watson ajj unn;P aq kasian sma spencer, klo dia dket2 sma mary, edward si vampir pulen(?) bkal ngamuk2 pasangan’a di embat;p
    hehe

    semoga next part proses’a lancar(?)
    hehe
    annyeong;D

    • wkwkkwkwk…. bentar deh, aku mau ngakak dulu baca komenmu wkkwwkkwkwkwk…. banyak banget istilah aneh bin ajaib yang kamu pake. Apa itu Lee Sarden?? Edward Pulen? Lu pikir nasi?? wkwkwkwkk…. pasti pas ngomen lagi laper yah? kkkkk

      Buat pertanyaanmu soal Spencer-Monyet-jelek-sok-ganteng itu *digeplak Jewels* mudah2an next part bisa diceritain, atau klo gak aku dah ada rencana buat bikin side-story-nya Marry-Hyuk Couple. So wait for it!!
      Lee Seora itu bukan kakaknya Nyuk. Dia nama salah satu Dongsaengku di FB. Aku dah janji mau masukin dia di FF ini ^^

      Oiyaa… klo aku pasang Emma watson, aku takut dikasih mantra Avada kedavra ama si Ron fufufufu

  10. AAAAAAAAAAAA
    EONNI, PART INI BENER BENER SERUUUUU, PENUH HARUUUUU :’D
    bagian awalnya bikin nyesek banget tuh eon, pas Ann salah paham ama Aiden..
    Huh, bikin hae ga tenang tau >.<
    eon awalnya bingung soal Hae mau pindah itu..
    Eh lee seora? Siapa tuh? Pasti org ketiga?
    Hae mau di jodohin ya? Aaaaaaa seru! Pasti konfliknya bakal seru bgd eon!
    AIGOO eonni, kasian bgd sih peran suamiku disini, di maki di bentak, di porotin pula uangnya T.T *HUG YEOBOHYUK*
    Hahaha
    pas ada kaleng, udah ada firasat bakal ada marry dateng. Bener kan😄
    gyaaaaaaaa eonni, kasian Hyuk knp kepalanya di lempar itu T.T
    tp knp ya bawaan nya ngakak pas baca part ini xD
    berusaha bayangin marry tu aku tp ga bisa eon T.T
    oh jadi marry tuh kabur dr rmh? Baru tau :3
    OMO EONNIIE !!
    Jadi gitu ceritanya? Pantesan Mom nya Ann fine2 aja pas dad nya dateng ke RS !!
    Aigoo eonni FF ini beneran mateng deh eon!
    Eon beneran mikirin baik2 soal ceritanya :*
    udah kuduga !!
    Si ann bakal ketemu ama dad nya, nah loh gitu kan malah tereak, aigoo betapa keras kepala dan galaknya si Ann,
    sama persis seperti author nya😄 *KABURR

    eh pas di atas gedung bayangin nya dapet bgd aku eon..
    Ya Ampun!
    Ann bener2 keras kpala,
    udah tau hae mau pergi masi aja gengsi =.=
    kyak kyak, eon tau ga pas bagian ann meluk hae?
    Aku bayangin aku meluk hae. Ya ampun hangatnya..
    AKHIRNYA !!
    masalah ini hampir selesai, lega bacanya eon..
    Tinggal nunggu konflik selanjutnya.
    Perjodohan Hae!
    Ya ampun eon nyeritain nya seakan suamiku pelit bgd ya jadam gt😄 kwkwkw
    eh ngakak pas bagian eon nyeritain marry tertawa hampir terjungkal😄
    jiah. Siapa itu?
    Eh eon aku ga paham pas akhiran nya itu..
    Marry meluk hyuk apa ga?

    • AAAAHHHH!!! komenmu selalu kutunggu saeng kkk… suka banget. super panjang plus lengkap. Gomawooo… gomawooo *hugss*
      Lee Seora adek tirinya Ann kkk ^^
      Hwahaha… sabar yah saeng. Giliranmu ama Hyuk bakal ada kok… *lirik naskah terbaru FFku* hohoho ^^
      Aiiishh… kenapa jadi kamu yg peluk Donge?😄
      gpp lah… itu artinya aku berhasil ngegambarin keadaannya ^^
      ditunggu saeng… FF buat kita juga ditunggu ajah🙂
      di akhir, Marry emang meluk Hyuk #Plakk

      • Aihh eonni, kaya nya itu kepotong deh comment nya T.T
        Kenapa ya eon, aku kalo ngoment d wp pasti kepotong T.T
        huhuhu
        aihh, ff baru kpn di share eon ?
        Iyaaa kata kata eonni tuh udah bikin nge hipnotis tau ngga >.<

      • eh?? iyakaa? woaah… kayaknya klo di WP komennya musti dibagi dua biar gak kepotong kkkk ^^
        Bentar saeng, maunya sih bikin part satunya dulu sebelum nyelesaikan ff ini. FF ini kan gak lama lagi dah end. sabar yah ^^

  11. Pertama tama,..
    AAAAAA,..
    Gila bhsa eon makin mantep ya, keren,.. d^^b

    Di part ini bru tau alasan appa ann ngehilang dri mrk,..
    tu kakek.a jahat amat ya,.. -.-

    hya, hae di jodohin,..
    cham, ini di jodohin ma soora or ann,..

    Cho Kyuhyun mengantikan Lee Donghae,..
    Omo, ini bagian yg saeng ska,..eaaa
    kyk.a bakal tambah betah ne,..

    Hyuk, kyk.a musti byk duit ya,..
    eh tpi tu cwek cantik jg, pernah lyt di film ap ya,..
    Nah loh, di ajakin nikah tu hyuk,..#lirik anggi

    Ann meluk hae,…><
    Omo kemajuan pesat eo?
    itu surat.a lucu bgd bgian trakhir, tetp ya hae cassanova.a keluar,..

    • kkkk… Gomawooo saeng *hugss*
      ama Seora say… klo ama Ann mah enak!!#Plakk

      #Eaaaa… yg lagi seneng mau jalan2 terus di London bareng Kyu. bilang makasih sono ama emaknya Hae!! kkkkk
      si Hae emang gak pernah lepas dari kata cassanova ^^

  12. eon aku gila karna ceritanya benar2 meng-galau-kan diriku ini yg sebenarnya sudah galau😦 *eaa* *ditendang*

    Sedih bacanya, huhuhu. O,ya sepertinya Lee Donghae sudah mulai beraksi(?) dengan ucapan2 romantisnya yg dengan seketika dapat membuat yeoja mimisan.. XD*apasih?*

    Ya, hahhahaaha.. Lee Hyuk-Jae kaya’nya bkal dapat masalah baru lagi gegara Marry Christmes itu. Kwkw😀 Nyet, Hwaiting yo! *dibakarmassa*

    DAEBAK! Ke-galau-annya tetap masih terasa, hihihi.. Annyeong🙂 *TING!* *menghilang*

  13. Entahlah eon, aku juga gak tau saeng termasuk spasies mahkluk apa -__-?

    Tp yg jelasnya, saeng itu termaksud makhluk yg amat-sangat mencintai-mengidolakan-mengagumi- dan (*meme apalah yg lain) seorang Cho Kyuhyun , Hiaaaa gak nyambungkan? *emang* xD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s