HATE That I LOVE YOU [Part 7]

Cerita sebelumnya:

Akibat pernyataan Aiden di pesta Jane Adams tempo hari, menimbulkan gosip tentang hubungan Ann dengan pria Asia itu di kalangan teman-temannya. Dan hal itu tentu saja membuat Ann kesal. Namun anehnya, semua itu semakin mengeratkan hubungan pertemanannya dengan Aiden. Bahkan, Minggu itu, keduanya pergi berdua ke Buckingham Palace untuk berlibur. Sedangkan Spencer, semakin kecewa atas kenyataan Aiden semakin dekat dengan gadis yang telah lama diincarnya. Jane Adams yang semula tak mau memaafkan Ann, tiba-tiba berubah baik dan ‘mengundang dirinya sendiri’ berkunjung ke rumah Ann. Setibanya di rumah, Ann tau apa yang menyebabkan berubahnya sikap Jane padanya. Dan hal itu lagi-lagi karena pria bernama Aiden Lee.


Part 7

 

 

 

-Annabelle Parker, Abbey Street London-

 

Bertopang dagu, aku duduk sendirian di meja restoran yang terletak di dekat jendela besar yang memperlihatkan halaman depan restoran yang masih agak sepi. Yeah, hari ini tak ada kuliah karena Mr Kent sedang sibuk dengan rapat tengah tahun pertama. Jadilah aku membantu Mom sejak pagi tadi. Mulai dari membersihkan restoran hingga memasak. “Boss, apa aku boleh meminta sesuatu padamu?” Aku memutar kepalaku ketika mendengar gumaman Spencer dari sudut kiri. Si-monyet itu berdiri di sebelah Mom yang sedang sibuk menghitung uang di meja kasir.

“Oh, Spencer ada apa?” Mom membalas tapi perhatiannya masih tertuju pada beberapa lembar poundsterling di tangannya.

“Emmm… bisakah Boss…” Aku mengerutkan kening. Tak biasanya ia terlihat sangat ragu-ragu dan serius seperti ini. Ada apa dengannya? “Boss… aku…”

Mungkin karena tak sabar, akhirnya Mom memberikan perhatian penuh pada sosok Spencer yang kali ini berdiri semakin ketakutan di sampingnya. Seolah-olah ia baru saja membuat kesalahan besar yang akan membuat Mom marah jika mengetahuinya. “Ada apa? Kenapa kau tak langsung mengatakannya padaku?” desak Mom.

“Emmm… itu Boss! Masalah… pegawai baru—“

“Ah, Aiden!” potong Mom sembari tersenyum. Hmm… kenapa aku pura-pura lupa pada kenyataan yang baru saja terjadi kemarin. Yeah, kenyataan bahwa kini Aiden bekerja paruh waktu di sini. “Kenapa Spencer? Bukankah dulu kau juga sangat setuju kalau aku mencari pegawai baru? Bahkan seingatku, kau juga yang mengusulkannya padaku.”

Kuperhatikan kini ekspresi kecewa tergambar jelas di wajah Spencer. “Yeah, aku tau Boss. Tapi…”

“Tapi?” ulang Mom sabar sambil tetap tak menyembunyikan senyum manisnya yang aku yakini masih bisa membuat pria-pria di sekitarnya bertekuk lutut. “Kau tak menyukainya?” Spencer mengangguk mantap dengan tatapan mengiba yang menurutku sangat menggelikan. “Alasanmu? Bisakah kau memberikan alasanmu padaku? Kalau alasanmu masuk akal, mungkin aku bisa mempertimbangkannya.”

Skak Mat! Spencer menundukkan kepalanya tanpa mengatakan apapun, Mom menang akan perdebatan itu dengan mudah, sepertinya ia tak lagi dapat membantah keputusan Mom. Yeah, jangankan dia. Aku putrinya sendiri pun tak bisa membantahnya. “Good Morning!” Suara berat itu? Kenapa ia datang sepagi ini?

“Ah Aiden, masuklah!” Mom melempar senyum lalu mengalihkan perhatiannya kembali pada Spencer yang kini masih berdiri di sampingnya dengan tatapan pasrah, “Lanjutkan saja pekerjaanmu Spencer!” Perintahnya pada si-monyet yang kini semakin tampak lesu. Kasian sekali dia! Ah, tidak. Kenapa aku harus kasihan padanya? Kalau diriku sendiri pun sangat pantas untuk dikasihani.

“Tidak kuliah?” Eh? Demi Tuhan! Jantungku!

“Bisakah kau tak mengagetkanku?” keluhku kesal lalu beranjak dari posisiku semula. Sepertinya hari ini aku akan mengurung diri seharian di dalam kamar. Sial!

“Ann, kau tau kenapa aku datang pagi-pagi sekali untuk bekerja? Padahal aku hanya bekerja setengah hari di tempat ini.” Tsk, kenapa ia bertanya padaku? Dan kenapa aku harus peduli pada alasannya?

Kuputar tubuhku menghadapnya, kulihat ia masih memamerkan senyum menawan yang selalu sukses membuat kerja jantungku tak karuan. “Apakah aku seharusnya tau segalanya tentangmu?”

Aiden tertawa lebar, dan suara tawanya itu berhasil menggelitik area perutku. Membangunkan kupu-kupu yang bersemayam di sana, hingga beterbangan dengan bebasnya. “Aku berencana memintamu menemaniku melihat pemandangan kota London dari atas Tower Bridge malam ini. Dari yang kudengar, pemandangan saat malam di sana adalah yang terbaik.” Ck, dipikirnya aku mau menemaninya? Kali ini aku harus tegas.

“Maaf Aiden, aku tak bisa menemanimu malam ini. Ada banyak tugas yang harus kukerjakan.”

“Tugas dari Mr. Henry itu kan? Menciptakan sebuah lagu. Hmmm… kurasa aku bisa membantumu,” Sial! Darimana ia tau tentang tugas itu? Apa ia memata-mataiku? “Jane Adams yang mengatakannya padaku.” Ia menambahkan walau aku sama sekali tak bertanya. Yeah, harusnya aku tak melupakan Jane.

“Oh, syukurlah kalau sekarang hubungan kalian semakin dekat.” Ah, bodoh! Kenapa aku harus berkata begitu?

Aku berjengit mundur ketika tiba-tiba Aiden mendekat. Apa yang diinginkannya? Tidakkah ia melihat keberadaan Mom di ujung sana? “Apa kau cemburu?” Ia berbisik tepat di depan wajahku dan sialnya aku tak dapat bereaksi apa-apa selain melotot. “Ah, sudahlah!” Ia akhirnya mundur, dan mengibaskan tangannya dengan gerakan mengusir lalat, “Nanti sore aku akan membantumu membuat tugas, karena pekerjaanku hanya sampai jam 3 sore ini. Jadi, malam harinya… kau bisa menemaniku jalan. Bye!

Hey… What the? Bisakah ia berhenti bersikap seenaknya? Menyebalkan!

 

-Spencer Lee/ Lee Hyukjae-

Sial! Apa yang dimilikinya hingga dua orang wanita di rumah ini sama sekali tak bisa menolak kehadirannya? Tidak! Aku tak boleh menyerah secepat ini. Ann harus jadi milikku. Persetan dengan keberadaan lelaki-sialan itu. Aku sama sekali tidak boleh gentar ataupun takut. Yeah, seorang Lee Hyukjae tak boleh menyerah sebelum berjuang. Sepertinya aku harus berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan Ann.

“Hai,” Tsk, dia menyapaku? Dia pikir aku mau berteman dengannya? Kupalingkan wajahku ke arah lain dan berpura-pura sibuk memotong sossis di hadapanku. Padahal di dalam bayanganku, aku membayangkan dirinya yang sedang kucincang-cincang dengan pisau yang tengah kupegang ini. Tanpa sadar aku tertawa sendiri saat membayangkan eksprsi ketakutannya dan jeritan histerisnya ketika akan kucincang-cincang. “Apa ada yang lucu? Kenapa kau tertawa sendiri?” Aiishh… sial!

“Itu bukan urusanmu!” balasku sedingin mungkin.

“Ah, maaf kalau begitu,” Ia meneruskan, walau jelas-jelas aku tak menanggapinya. Membalikkan tubuhku saja tidak. “Apakah kau sudah lama bekerja di sini?” Dia sepertinya sengaja menggunakan bahasa Korea agar aku tertarik berbicara dengannya. Tsk, lucu! “Kau pernah pulang ke Korea?” Lagi-lagi dia bertanya, padahal pertanyaan sebelumnya saja belum kujawab. “Hey, aku bicara denganmu!”

Aku serta merta memutar tubuhku ketika tiba-tiba ia menepuk punggungku. Dasar sok akrab! “Bukankah kau lihat aku tak mau bicara denganmu?” balasku, “Jadi berhenti mengganggu—“

“Apa karena Ann?” Ia menyela, “Kau mencintainya?”

“Kenapa masih bertanya? Bukankah dulu aku pernah memperingatkanmu?” Rasanya aku tak dapat lagi menahan emosiku. Dia pura-pura tidak tau atau sedang berpura-pura bodoh? Ah, kurasa keduanya sama saja! “Dengar ya, Ann milikku! Dan aku tak akan membiarkanmu merebutnya dariku. Sekuat apapun perjuanganmu untuk mendapatkannya.”

Hey… kenapa dia malah tertawa? Apa aku terlihat lucu? Aku ini sedang marah! “Oke, maaf kalau aku membuatmu kesal,” Ia bergumam sambil sesekali tersenyum geli seolah-olah aku ini tontonan yang sangat asyik dipermainkan. “Aku hanya merasa kasihan padamu Spencer-sshi.” Mwo? Kasihan? Dia mengejekku? Ingin kubunuh? “Berhentilah memaksakan cintamu pada Ann. Dia sama sekali tak membalasmu. Sebagai sesama lelaki, aku juga bisa merasakan apa yang kau rasakan. Mencintai dalam satu pihak. Rasanya sakit. Benar-benar menyakitkan.” Tsk, dia menasehatiku? Menggelikan! “Sebaiknya kau mulai mencari gadis lain yang bisa mencintamu dengan tulus.”

“Oh, yeah. Lalu setelah itu kau bisa dengan leluasa merebut Ann dariku. Tch… siasat kuno!”

“Tidak. Aku sama sekali—“

“Ann!” Senyumku terkembang saat tiba-tiba kutangkap kehadiran Ann di ambang pintu. Yeah, sepertinya Ann datang di saat yang tepat. Aku malas mendengar nasihatnya yang sok bijak itu. Kulihat gadis itu terkejut dan terdiam selama beberapa saat sambil memperhatikan kami—aku dan si Aiden-sialan itu—bergantian. “Kau tidak bosan? Bagaimana kalau kita pergi jalan-jalan?” Aku melangkah mendekatinya.

Kudengar Ann mendengus cukup keras. “Kalian berdua ingin mempermainkanku? Tadi dia yang mengajakku. Dan sekarang kau,” tuduh Ann berang. Oh, sial! Jadi si lelaki-sialan itu lebih dulu mengajak Ann? “Sebaiknya kalian bekerja! Jangan coba-coba menggangguku!”

“Hey Ann,” Kutahan lengannya sebelum ia sempat pergi. “Bukankah dulu kau menolak ajakanku karena di sini tak ada yang membantu Boss. Nah, karena sekarang sudah ada pegawai baru. Jadi, kita bisa pergi bukan?”

“Tsk…” Kudengar Ann mendesis, “Aku menolak bukan karena itu. Tapi karena aku memang malas pergi denganmu!”

“Tapi kalau bersamanya kau tidak malas?” Sepertinya ucapanku kali ini tepat sasaran. Kulihat mata bulat Ann melotot dan menatapku kesal.

“Apa kau tidak malu pada si penonton?” Aiishhh… sial! Harusnya aku tidak lupa pada keberadaan si lelaki-sialan itu. “Sudahlah! Aku tak mau berdebat denganmu. Lakukan saja tugasmu!”

“Hey.. Ann!” Sial, sial sial!

“Kalau dia tidak mau jangan dipaksa.” Mwo? Aku memutar tubuhku menghadapnya dan kini kudapati lelaki-sialan itu menatapku dengan tatapan sudah-kubilang-bukan-kau-tidak-percaya-sih. Menyebalkan!

-Aiden Lee/Lee Donghae-

Entah mengapa aku langsung menerima tawaran Mrs Parker untuk bekerja paruh waktu di sini tanpa pikir panjang lebih dulu. Sedangkan kalau dilihat dari segi upah, tak terlalu berarti untuk ukuran pekerja paruh waktu seperti diriku. Kurasa uang memang bukanlah masalah utamaku karena kiriman dari Seoul tak pernah datang terlambat. Untuk alasan yang tak ingin kupikirkan, aku pun merasa senang karena semua ini membuat hubungan pertemananku dengan Ann semakin dekat. Well, walaupun gadis itu masih tetap memasang gengsi tingginya untuk mengakui hubungan pertemanan kami. Tapi setidaknya, ia tak pernah bisa menolak setiap kali aku meminta bantuannya.

Ah, sudah hampir jam 3 sore. Itu artinya jam kerjaku akan segera usai. Setelah menyelesaikan mencuci piring terakhir, aku akan mengganti pakaian dan membantu Ann dengan tugasnya. Karena aku sudah tidak sabar ingin menyaksikan pemandangan malam kota London dari atas Tower Bridge.

“Hey, kau mau ke mana?” Aku menghentikan kegiatanku melepaskan celemek ketika mendengar suara si Spencer. Mau apa lagi dia? Sejak tadi ia selalu memerintah ini dan itu padaku. Sepertinya ia sedang menghalangiku untuk mengajak Ann pergi. Hah… dasar pengganggu!

“Sudah jam 3 sore. Jam kerjaku sudah habis.” Aku menunjuk jam dinding silver yang tergantung di sudut ruangan.

“Tidak bisa! Kau harus membersihkan meja di depan! Menjelang sore hari, akan banyak pengunjung yang datang.” Tsk, sial! Dia benar-benar tak mau menyerah rupanya. Padahal sudah kukatakan padanya untuk berhenti mengharapkan Ann.

Kuserahkan kain lap yang tergantung di sisi dinding padanya, “Kenapa tidak kau saja? Aku hanya part timer di sini. Aku tak akan mengambil pekerjaanmu begitu saja senior.” Aku tak dapat menahan seringaiku ketika kulihat lelaki itu melotot sebal. “Selamat bekerja! Fighting!” tambahku dan berlalu pergi sebelum sempat ia melihatku terkekeh geli. Ekspresinya itu benar-benar lucu saat sedang marah. Aku heran kenapa Ann masih bisa menahan diri untuk tak tertawa saat harus berhadapan dengannya.

Ah, ya. Ann. Kurasa aku harus segera menemuinya sebelum ia sempat mencari alasan lain untuk menolak tawaranku. Tapi di mana dia? Sejak pertengkarannya pagi tadi dengan  Spencer, aku tak lagi melihat batang hidungnya. “Mrs Parker, kalau boleh tau, di mana aku bisa menemukan Ann?” Aku sengaja menghampiri Mrs Parker di meja kasir.

Wanita paruh baya yang masih cantik itu buru-buru menoleh dan menjawab pertanyaanku. “Mungkin di kamarnya. Naik saja, kamar paling ujung di lantai dua.”

“Ah, baiklah! Thanks,” Tanpa menunggu lagi aku bergegas ke sana. Jadi sesiangan ini dia sengaja mengurung diri di kamar. Hah… sampai kapan ia akan terus menghindariku? Seolah-olah aku ini penderita penyakit menular yang dapat membahayakannya. Padahal aku kan hanya ingin berteman.

Setibanya di lantai dua, aku sempat tertegun ketika menatap sebuah pigura foto besar yang tergantung di dinding samping lorong. Di foto itu Ann dan Mrs Parker sedang tersenyum lebar. Kurasa senyum Ann persis sama dengan senyum Ibunya. Cantik, dan membuat orang yang melihatnya akan ikut tersenyum. Sayangnya Ann jarang sekali menunjukkan senyum tulus itu. Setidaknya, saat ia bersamaku. Aku jadi teringat lagi pada masa lalu keluarga Ann. Tapi sayang ia belum mau bercerita soal itu. Ah, sudahlah! Suatu saat nanti ia pasti mau menceritakannya.

Aku melanjutkan langkahku dan berhenti di depan pintu kamar berwarna baby blue yang terletak di ujung lorong. Kalau tidak salah, begitulah instruksi yang diberikan Mrs Parker tadi. Kamar di ujung lorong. Setelah berkali-kali kuketuk, tapi pintu itu tak juga terbuka, aku mulai tidak sabar. “Ann, kau di dalam?” Tetap tak ada jawaban. Sebenarnya ke mana dia? “Ann?!” Eh? Pintunya tak terkunci? Perlahan, kudorong pintu itu dan… oh! Astaga!

“AAAAAA!!! Apa yang kau lakukan?”

“Aww!” Belum sempat aku menutup pintu. Sebuah bantal melayang dan telak mengenai wajahku. Ya Tuhan. Apa yang kulihat tadi? Aiisshh… sial kau Lee Donghae! Sampai sekarang aku masih bisa merasakan hentakan keras di jantungku, walau pintu di belakangku sudah kembali tertutup rapat. Gadis itu hanya mengenakan handuk. Kulit putih mulusnya… Aaahh, kenapa ia tak mengunci pintunya?

“Hey, apa yang kau lakukan di sana? Kenapa Ann menjerit?” Oh… rasanya aku sudah bosan mendengar pertanyaan semacam itu. “Kau tidak melakukan sesuatu yang jahat pada kekasihku kan?” Spencer tiba-tiba mendorongku dan mengetuk keras-keras pintu kamar Ann yang kini tertutup rapat. Aku yakin ia pasti sangat marah padaku. Apa yang telah kulakukan? Kau membuat masalah besar Lee Donghae!

-Annabelle Parker-

Segar sekali. Sepertinya setelah mandi aku akan bisa berkonsentrasi membuat tugas lagi. Hah… aku benar-benar tak berbakat menciptakan komposisi lagu. Kenapa harus ada materi seperti itu? Aku kan lebih su—

“AAAAAA!!! Apa yang kau lakukan?” Tanganku reflek meraih bantal di tempat tidur dan melempar benda itu padanya. Demi Tuhan. Apa yang dilakukannya di sini? Kenapa ia seenaknya saja membuka pintu tanpa mengetuknya lebih dulu? Aaarrgghh… sial, sial, sial! Untung saja yang berada di dekatku benda lunak seperti bantal. Kalau tidak, aku tak bisa menjamin keselamatannya jika yang kulempar benda apapun yang berhasil kuraih.

Aku buru-buru melompat ke depan lemari pakaian dan meraih apapun yang ada di sana. Sungguh, pipiku masih terasa panas, jantungku pun masih berdegup dengan begitu kencangnya. Oh, Tuhan. Bagaimana ini? Aku benar-benar tak memiliki muka untuk bertemu dengannya lagi? Rasanya ingin menenggelamkan diri di dasar samudera agar tak ada yang dapat menemukanku lagi.

—————————-

Seminggu telah berlalu semenjak kejadian itu. Seminggu pula aku dan Aiden bersikap canggung dan seringkali salah tingkah saat bertemu. Kami lebih sering menghindar satu sama lain dan hanya berbicara jika ada perlu saja. Kurasa ia merasa bersalah karena hari itu seenaknya membuka pintu kamarku. Tapi kurasa aku juga salah karena tak menguncinya. Kenapa tiba-tiba aku jadi merindukan sikap seenaknya yang dulu sering ia tunjukkan saat menghadapiku? Ough… otakku mulai tidak beres lagi.

“Ann, ada pelanggan di meja nomor sebelas. Kenapa kau hanya diam saja?” tegur Mom.

“Oh… sorry Mom! Eh?”

“Biar aku saja!” Aiden? Tanpa kata aku langsung memutar tubuhku. Jantungku rasanya baru saja jatuh ke dasar perut. Menggelitik dengan cara yang menyenangkan. Tapi juga terasa begitu sesak karena kerjanya yang tidak normal. Sampai kapan aku akan seperti ini?

“Baby, kau lelah? Bagaimana kalau kau istirahat saja?” Kududukkan diri di kursi meja makan. Sama sekali tak bersemangat untuk membalas kata-kata Spencer. Sudah satu minggu. Tapi mengapa rasanya masih tetap sama? “Baby?”

“Pergilah! Aku tidak ingin kau ganggu!” Kusurukkan kepalaku ke lipatan tangan di atas meja. Aku harus bagaimana untuk mengembalikan hubungan kami seperti semula? Adakah yang bisa membantuku?

“Maaf.” Oh? Suara itu? Buru-buru kuangkat kepalaku dan benar saja. Dia. Aiden sedang berdiri di ambang pintu dapur. “Mungkin terlalu lambat, tapi aku benar-benar minta maaf. Hari itu—“

“Cukup! Jangan dibahas lagi!” Ya Tuhan! Kenapa dengan membahas ini saja rasanya pipiku seperti terbakar?

“Apa itu artinya… kau memaafkanku?” Ia mendekat dan detik itu pula aku berdiri waspada.

“Aku memintamu untuk tak membahasnya lagi. Anggap saja kau tak melihat apa-apa hari itu!” sergahku dengan eksprsi bingung. Sial! Aku bicara begitu, seolah-olah aku sendiri sudah melupakan apa yang terjadi sebelumnya. Padahal sebenarnya tidak.

“Emm… kalau begitu, sebagai permintaan maaf dariku, aku memberimu ini.”  Tiba-tiba yang membuatku kaget, tangannya terulur dengan dua buah tiket di sana. Aku mengernyit heran dengan tak hentinya menatap bergantian wajah tampan Aiden dan tiket itu. “Ini tiket drama musical. Kebetulan aku mendapatkannya cuma-cuma dari sepupuku Shin Jiae yang bertanggung jawab pada kostum pemainnya. Bagaimana kalau kau datang denganku?” Ia menjelaskan dengan begitu lancarnya seolah-olah semua itu tak membuatku gugup sama sekali.

Menonton berdua dengannya? Tidakkah itu artinya kita berkencan? “Apa aku bisa menolaknya?” Sial! Pertanyaan macam apa itu? Tapi otakku benar-benar kosong. Tak ada kata lain yang bisa kupikirkan.

Dan senyum itu. Senyum itu menjelaskan jawabannya. “Tentu saja tidak.”

-Royal Opera House-

 

Gedung opera berarsitektur Inggris kuno yang dibangun pada tahun 1732 berdiri megah di hadapanku. Sebuah patung pebalet terkenal Enzo Plazotta juga berdiri kokoh menghiasi halaman depan gedung pertunjukan yang sudah berdiri berabad-abad lamanya. Rupanya pertunjukan ini bukan pertunjukan sembarangan karena diadakan di tempat bersejarah seperti ini. Kulirik Aiden yang kini berdiri di sampingku. Sekali lagi aku menarik nafas panjang dan menelan ludahku dengan susah payah. Karena kuakui, penampilannya begitu sempurna dengan jas hitam resmi juga rambut yang tertata rapi. Kalau begini, ia tampak seperti seorang eksekutif muda tampan dengan segala kesempurnaan yang melekatinya.

 

Aku terlonjak kaget ketika tiba-tiba lengannya terulur di depan tubuhku. Apa maksudnya? “Kau sudah bisa jalan sendiri?” Oh, sial! Dia masih ingat kalau aku masih belum terbiasa memakai sepatu berhak tinggi. Sebenarnya tadi aku tak mau memakai sepatu ini. Tapi Mom bersikeras memaksaku dengan alasan busana resmi lebih cocok menggunakan high heels. Yeah, apa boleh buat? Aku pun terpaksa membeli sebuah gaun untuk kugunakan hari ini. Tentu saja dengan alasan tak ingin memakai gaun yang dulu dihadiahkan Aiden padaku. Syukurlah karena akhirnya aku menemukan gaun putih sederhana yang tak begitu mencolok. “Hey, kau ingin kita ketinggalan pertunjukannya?”

 

Oh? Sampai kapan aku akan mempermalukan diriku sendiri di depannya. Walau enggan, kuulurkan tanganku pada lengannya. Detik itu juga, aku bisa merasakan desiran hangat darahku yang terpompa dengan begitu kerasnya. Kurasa tubuhnya memiliki kemampuan untuk membangkitkan arus listrik.

Setelahnya, kami berjalan beriringan. Bak sepasang kekasih yang menghadiri acara pesta besar. Beberapa pasang mata seolah-olah sedang mengamati kami. Ringan dan ingin terbang. Rasanya aku tak dapat lagi merasakan tubuhku. Hanya sentuhan hangat lengan Aiden yang bisa mempertahankan tubuhku untuk tetap menjejak bumi.

“Jiae-a!” Aku buru-buru menoleh ketika mendengar teriakan Aiden. Yeah, aku masih ingat. Gadis yang kini berdiri di sudut lorong itu adalah saudara sepupunya.

“Oppa!” Kudengar gadis itu berseru. Tampaknya ia senang melihat kehadiran kami. “Ternyata kau datang juga. Kukira kau tak mau hadir.” Gadis itu sudah berdiri di depan kami. Walau aku tak mengerti apa yang dikatakannya dalam bahasa Korea itu. Tapi aku tau ia sedang senang.

“Aku tak akan melewatkan acara ini,” Aiden membalas dan kurasa ia kini melirikku. Jujur. Aku tak berani menatap ke arahnya.

“Oh, hai Miss Parker. Senang bertemu denganmu lagi,” Kutarik sudut bibirku membentuk senyuman.

“Yeah… aku juga,” balasku berbasa-basi.

“Emm… dimana si Evil? Kudengar ia sengaja datang ke mari demi memberikan dukungan padamu?” Oh… bisakah mereka berhenti memakai bahasa aneh ini? Tapi tunggu dulu, kurasa aku tak salah lihat. Wajah gadis itu kini memerah dengan cara yang sangat lucu. Apa sebenarnya yang sedang mereka bicarakan?

“Dia ke toi—“

“Hyeong!” Seorang pemuda Asia lain? Kurasa aku belum pernah melihatnya sebelumnya. Pemuda itu juga tampan dengan suara berat khas miliknya. Dan kini, aku terjebak di antara obrolan bahasa konyol yang sama sekali tak kumengerti. Rasanya seperti tersesat di sebuah planet asing. Dari tingkahnya, kurasa ia kekasih gadis bernama Jiae itu. Mungkinkah ia baru saja datang ke mari untuk memberi dukungan pada kekasihnya? Dan itukah yang membuat wajah gadis ini merona? “Hai, namaku Cho Kyuhyun. Atau panggil saja Marcus Cho.”

Eh? Dia bicara padaku? “Ann Parker.”

Nice to meet you!

Nice to meet you too.” Kurasa bahasa inggrisnya tak seburuk Aiden. Sekilas aku melirik Aiden dengan ekor mataku. Entah hanya khayalanku saja, atau memang kenyataan. Pria itu tampak linglung dan tertegun dengan cara yang aneh menurutku. Apakah ada diantara obrolan mereka tadi yang menyebabkannya bertingkah begitu?

“Bagaimana kalau kita masuk sekarang? Pertunjukannya akan segera dimulai.” Aku buru-buru berpaling saat mendengar sepupu Aiden itu mengumumkan.

————————————————

Selama pertunjukan berlangsung, Aiden sama sekali tak bersuara. Ia diam seribu bahasa seolah-olah baru mendapat kabar mengejutkan yang membuatnya khawatir. “Ehm… Ada masalah?” Entah mendapatkan keberanian dari mana, aku bertanya padanya.

“Eh? Tidak, tidak ada apa-apa.” Aku mengutuki diriku sendiri karena kembali bereaksi seenaknya ketika melihat senyum itu tersungging di bibir tipisnya. Aku memutuskan untuk diam, walau aku tau ia tak sepenuhnya berkata jujur. Tapi aku tak ingin dianggap sebagai seseorang yang terlalu ingin tau. Lagi pula, siapa aku hingga harus merasa khawatir padanya? “Ann, kau tidak bosan?”

Aku tidak salah dengar bukan? Dia bertanya padaku? “Ya?”

“Bagaimana kalau kita pergi dari sini? Aku bosan!” Aku begidik ketika tiba-tiba ia berbisik. Desahan nafasnya yang hangat menimbulkan sensasi aneh yang membuat bulu kudukku merinding.

“Tapi—“

“Kalau kau masih ingin menonton ya sudah… tidak apa-apa.” Ia kembali mengalihkan tatapannya lurus ke depan. Walau aku yakin, ia sama sekali tak tertarik pada cerita yang sedang dimainkan para aktor di atas panggung.

“Baiklah! Ayo kita pergi!” Demi Tuhan! Apa yang kulakukan?

-Tower Bridge, London-

 

“Woaah… indahnya!” Aku mundur beberapa langkah ketika tiba-tiba Aiden merentangkan kedua tangannya. Sesuai keinginannya tempo hari, ia mengajakku ke Tower Bridge untuk menikmati suasana malam kota London dari atas sini. “Thanks Ann, kau sudah menepati janjimu menemaniku ke tempat ini.”

Entah sudah yang keberapa kalinya malam ini. Sensasi aneh yang menyenangkan itu kembali hadir mendengar Aiden berkata begitu. “Yeah, anggap saja hutangku lunas.”

Aiden tertawa mendengar jawabanku. “Ayo! Kita naik ke atas sana! Kudengar pemandangan dari sana tampak lebih indah!” Sepertinya aku mulai terbiasa dengan irama jantungku yang naik turun karena kebiasaan Aiden yang tiba-tiba menarik lenganku ini.

Angin malam terasa lebih dingin dari atas sini. Tapi memang tak terbayar dengan keindahan alam yang tampak. Bebagai lampu kota dari gedung-gedung pencakar langit, kota yang terbelah oleh aliran sungai Thames menjadi dua bagian, tampak begitu indah bagaikan ribuan mutiara yang berkerlap-kerlip dengan caranya sendiri. Beribu-ribu kilauan lampu yang terpantul pada air tenang Sungai Thames semakin menambah keindahan pemandangan itu.

Aku tersentak saat tiba-tiba Aiden memakaikan jas hitam yang tadi dipakainya pada pundakku. “Kau pasti kedinginan.” Rasanya jantungku kembali ingin melompat. Aku tak tau harus bagaimana lagi. Merasakan aroma parfum bercampur bau tubuh Aiden yang masih menempel di jas ini, membuatku merasa lengkap. Berbagai macam rasa timbul dan tenggelam di hatiku. Sensasi aneh dan menyenangkan itu kembali hadir di sudut hatiku. Aku benar-benar tak mengerti mengapa bisa begini? “London dan Seoul memiliki beberapa persamaan.” Aku menoleh ketika tiba-tiba ia bergumam. Aiden memang tak menatapku saat berbicara, pandangannya lurus ke depan. Memperhatikan pemandangan indah yang terhampar di sekitar sini. Mungkinkah ia sedang merindukan kota asalnya itu?

“Persamaan?” Tanpa bisa kucegah, kata-kata itu meluncur dari mulutku.

“Yeah… persamaan.” Aku diam, menanti ia melanjutkan. “Jika di sini ada sungai Thames yang membagi kota London menjadi dua bagian. Di Seoul ada sungai Han yang juga membagi ibu kota negaraku dengan cara yang sama.” Aku mengangguk-anggukkan kepalaku. Yah, aku memang pernah mendengar soal itu dari pelajaran geografi yang pernah kupelajari di bangku sekolah dulu. “Seperti di istana Buckingham, di istana Gyeongbok juga ada prosesi pergantian pengawal penjaga istana setiap harinya. Bedanya, di Gyeongbok, prosesi itu dilakukan setiap jam sekali.”

“Ah, begitu.” Hello Ann! Hanya itu yang bisa kau ucapkan? Mendengar ceritanya tentang Seoul. Kenapa mendadak aku ingin berkunjung ke tempat itu?

“Kuharap suatu saat nanti aku bisa membalas perbuatanmu selama di sini dengan mengajakmu berkunjung ke tempat itu.” Oh sial! Jantungku!

-Spencer Lee/Lee Hyukjae, Saint James Park-

 

Arrgghh! Menyebalkan! Aku melemparkan sebuah kerikil pada danau besar yang menghiasi taman bernuansa alam di belakang istana Buckingham ini. Berharap dengan begitu kekesalanku akan segera berkurang. Kepalaku sakit ketika memikirkan gadis yang mengisi hatiku sedang pergi bersama pria lain.

Sepertinya aku sudah lama tak menangis. Tapi kini aku kembali mengalaminya. Mengalami saat-saat dimana penglihatanku buram karena air mata yang bertumpuk dan akhirnya jatuh membasahi pipiku. Kenapa rasanya sesakit ini? Benarkah apa yang dikatakan lelaki-sialan itu beberapa waktu yang lalu? Haruskah aku mulai melupakan Ann dan mencari gadis lain yang bisa memberikan sepenuh hatinya untukku? Tapi bagaimana caranya? Pesona Ann begitu kuat menggenggam hatiku, hingga aku tak bisa untuk sekedar melirik gadis lain di sekitarku.

“Aaaarrrgghhhh!!!!”

“Hey, you! Bisakah kau tak mengganggu tidurku? Suaramu itu berisik!”

Eh? “K-kau?” Aku mengusap-usap mataku untuk memperjelas siapa yang kulihat di depan sana. Seorang gadis yang baru saja bangun dari sebuah kursi kayu panjang di tepi danau. Gadis itu? Gadis tomboy yang waktu itu? Bagaimana dia…

“Kau?” Kulihat ia sama terkejutnya denganku. Oh, sial! Mau apa lagi dia? Tak cukupkah dengan menendang kakiku waktu itu? Dan anehnya, kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?

“Hey, kenapa kau tertawa? Kau meledekku?” semburku kesal saat tiba-tiba kudengar ia tertawa terbahak-bahak.

“Kau menangis? Menangis? Huahahaha…” Sial!

“Hey, berhenti tertawa! Suara tawamu lebih mengerikan daripada hantu yang mungkin timbul di tempat ini,” protesku kesal sambil memajukan bibirku beberapa centi ke depan.

“Apa kau bilang? Hantu?” Gadis itu berdiri dari tempatnya. Hoodie yang dipakainya terlepas memperlihatkan kecantikan wajahnya dibalik gaya tomboy yang kental diperlihatkannya. Kurasa tak ada salahnya mengobrol dengannya di saat seperti ini. “Kau itu hantunya!”

-S&M Cafe-

 

“Jadi kau diputuskan kekasihmu? Ah tidak… maksudku, kau dicampakkan gadis yang kau cintai?” Gadis itu berbicara dengan mulut penuh makanan, membuatku sendiri merasa mual melihatnya makan dengan cara seperti itu. Seperti orang kelaparan saja.

Yeah, aku dan gadis tomboy itu akhirnya memutuskan untuk mengobrol berdua. Walau akhirnya aku mengorbankan uangku untuk mentraktirnya makan. Itu pun terpaksa, karena pasti kau tau bagaimana akibatnya jika aku menolak tawarannya. Gadis itu mengaku bernama Marry, kudengar dari ceritanya, ia kabur dari rumah karena tak suka terlalu dikekang oleh orang tuanya yang terlalu kolot karena masih berkaitan dengan silsilah bangsawan Inggris. Kurasa wajar jika orang tuanya mengekangnya, mengingat bagaimana cara ia makan saat ini. Menjijikkan!

“Hey, satu donat lagi dan segelas Mocca latte.” Aiiishh… sial! Gajiku bisa habis percuma.

“Kau ini lapar atau rakus?” keluhku kesal. Ya Tuhan! Selamatkanlah uang dalam dompetku.

Mulutnya meruncing menandakan kalau ia marah, “Kau sudah berjanji akan mentraktirku makan kalau aku mau mendengarkan ceritamu. Kenapa sekarang kau protes?”

“Tapi kau lebih sering makan daripada mendengarkan ceritaku?” Aku menggerutu. Rasanya aku menyesal membuat kesepakatan dengannya. Ia sama sekali tak membantu. Justru membuatku miskin mendadak dengan selera makannya yang terlalu besar itu.

“Oh, ayolah! Kau bisa bercerita tanpa aku harus berhenti makan.” Ia melanjutkan makannya tanpa peduli bagaimana ekspresi wajahku saat ini. Sial!

“Oke, ini donat terakhir yang kau makan. Juga kopi terakhir. Kalau kau masih meminta lagi. Aku tak akan membayar si—“

“Wooyy… pelayan! Sat… hhmmppphhh”

“Sudah kubilang berhenti!” desis frustasi sambil membekap mulutnya yang kini masih sibuk mengunyah donat pesanannya. Hah… dia pikir aku takut padanya. Dasar setan tomboy!

TBC

29 thoughts on “HATE That I LOVE YOU [Part 7]

  1. seru seru…..
    wah pasangannya Jiae unnie so sweet bgt jauh2 dtg k London…

    Aiden, kau membuat Ann deg-deg dgn sikapmu itu…. hahahaha

    udahlah Spencer, Ann memang lbh milih Aiden. km sama setan tomboy aja… hiiihihihihii

    mau donk di selipin dikit si Saehyun disini… *maunya* wkwkwkwkwkwk

  2. g sia” bolak balik k blog ini,akhirnya nongol juga nih HTILY nya,,,,
    kangen deh ma eunhae couplenya,,,

    suka bgt sama karakternya donghae dsini,jadi dapet feelnya baca nih ff🙂

    unyuk,,,ah bukan cuma ann dan ibunya yg g bisa menolak hae,aq juga g bisa menolak kehadirannya di hati aq*plak*kkkkk

    lucu deh liat hae ma unyuk berantem mulu,biasanya kan mesra”an(?)hehe,,,

    • Waduh Eon, gak capek bolak-balik? kkkkk😄
      Mian yah… lama ru lanjut. Sibuk banget! *sok sibuk* #Plakk
      Donghae emang menawan #Errrr *dikissu ama Hae*
      Woaah… mesra2an kkkkk

  3. jantungnya ann deg-degan mulu ya
    itu tanda2 lg jatuh cinta ann
    udah lah ga usah bohong kl emg uda naksir aiden
    tp aiden tu sbnernya suka gak sih ma ann??
    spencer ttp kekeuh ngejar ann
    mndg kamu sama si tomboy aja deh
    so sweet bgt yg disamperin ayangnya dr korea haha
    eh, ann itu gak bisa bhs korea ya onn??
    les sama aiden aja gih :p

  4. eonni,..>< #narik" tangan eon
    aigu, kyu kau dtg dmi aq ke inggris,..ehm

    kembali ke EunHae,..
    cie yg lge di atas jembatan, berasa pacaran aj tu,..
    lyt jembatan tu inget jembatan dongho, lo jiKyu sering nongkrong disna,..eh?

    hyuk, patah hati nih kyk.a,..
    malang.a nasibmu, tpi dh ad pengantinya tuh, walaupun nguras dompet,..wkwkwkwkwk
    mangka.a jgan pelit" hyukah,..

    cukup,..#plakk

    • kow kepotong ya coment saeng,..
      padahal dh panjang tdi,.. =.=

      tambahin dikit dh,..

      cie yg dh di liat pke handuk sma hae,..#toel”
      mangka.a sering” g usa kunci pintu,..#plakk

      • hahaha… seneng kan disamperin kyu? kkkk😄
        Aiiisshhh… mnalah disuruu gak ngunci pintu sih? ckckck *geleng2* Kenapa gak sekalian aja suru si Hae sering2 masuk ke kamarku #Bletakk

  5. wewwww.. part ini penuh dgn nuansa romance yg bkin ngiriii;D
    auuuu gg nahan deh liat donge#nunjuk2 piku d’atas apalgi rmbut’a
    kkkyyaa><
    ann jg keliatan pas bgd sma gaun +heels'a,
    bner2 psangan yg bkin hati'a bang spencer nelangsa, dtmbah lg bule brnama marry yg udh siap bkin monyet ter-imut sekorea itu bokek
    wkwkwkwk
    whaitiing onnie;))

    ps: kyu selingkuh dri aq huueeeToT

  6. Yuhuuuuuuuuuuu~~
    Eonni >…<
    Buahahahahahahhahahaha suamiku pelit nya ketahuaaan😄 wkwkwk
    Eonni ada ajaaa ya idenya bikin diaaa ketahuan raja pelit banget😄 wkwkwk
    Udah gituuu si marry nya malah pengen nambah muluu bawaannyaaa😄 hahahahha ngakak abisss amaa suamiku yg sexy ituuu *ehh

    Loh? Kok TBC eon ? eon sakit TBC yaaa ? *plaaaakkk
    Baruuuu mulai bacaaa, knapa udah TBC ? *ditabok*😄 kkkkkkkk~
    Jadi kapan nih lanjutannya ?
    Apa mau ngepost ff kerajaan duluu? Udah penasaran tingkat akuuut ini eon😄 eheheheh x]]]]
    Udah aahhh gossipp nya , akuh mau donlod mv operaaa dulu ya eon ..
    Annyeong *cipok Hae*
    *sereeet HYUK-KUUUUUU!!!!*

  7. maaf eon , kepotong ..

    Yuhuuuuuuuuuuu~~
    Eonni >…<
    Buahahahahahahhahahaha suamiku pelit nya ketahuaaan😄 wkwkwk
    Eonni ada ajaaa ya idenya bikin diaaa ketahuan raja pelit banget😄 wkwkwk
    Udah gituuu si marry nya malah pengen nambah muluu bawaannyaaa😄 hahahahha ngakak abisss amaa suamiku yg sexy ituuu *ehh

    Loh? Kok TBC eon ? eon sakit TBC yaaa ? *plaaaakkk
    Baruuuu mulai bacaaa, knapa udah TBC ? *ditabok*😄 kkkkkkkk~
    Jadi kapan nih lanjutannya ?
    Apa mau ngepost ff kerajaan duluu? Udah penasaran tingkat akuuut ini eon😄 eheheheh x]]]]
    Udah aahhh gossipp nya , akuh mau donlod mv operaaa dulu ya eon ..
    Annyeong *cipok Hae*
    *sereeet HYUK-KUUUUUU!!!!*

  8. couple Ann-Aiden makin cucooo bow .. , tapi Hae kok masih nganggap Ann temannya ya,? walau gak dipungkiri Hae sebenarnya udah punya rasa suka sama Ann , Sedangkan Ann seperti udah gak bisa tahan sama debaran jantungnya . Kkekekk~

    oiy, aku juga penasan dgn masa lalu-percintaan-nya Hae. Sepertinya cinta Hae bertepuk sebelah tangan di masa lalu *asal nebak*

    spencer-marry , ini pasangan aneh2 aja ye’ . Setiap ketemu pasti awal2nya kedua sejoli ini ngoceh mulu. Hyukkie, sikat aje tuh Marry, lupain Ann. Gue dukung lo kok *apadeh*😄🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s