STORM -EunHae Couple- [Part 4-END]

Part 4

 

 

 

-Mokpo, Juli 2006-

“Bagaimana?” Eunhee tersentak mendengar gumaman Donghwa. Seolah baru tersadar dari mimpinya, mata bulat gadis itu membelalak lebar menyaksikan pemandangan sekitarnya. Sebuah taman yang kini disulap menjadi restoran romantis dengan sebuah meja yang sudah disiapkan khusus untuknya. Tak hanya itu, baliho besar berisi ungkapan hati Donghwa yang dipajang pada batang pohon maple di hadapannya menarik perhatian Eunhee. “Saranghae,” Donghwa berbisik seolah semua yang ia siapkan masih belum cukup untuk mengutarakan isi hatinya. “Hee?”

“Eh?” Eunhee yang memang sejak tadi sibuk dengan pikirannya tentang sikap dingin yang ditunjukkan Donghae, sama sekali tak sadar ketika Donghwa menggiringnya ke tempat itu. “Oppa…”

“Sekarang kau yakin kalau aku benar-benar menyukaimu, bukan?” Donghwa memamerkan senyum terbaiknya dan menatap Eunhee provokatif.

Eunhee terdiam cukup lama. Matanya mencari-cari binar kejujuran dalam tatapan Donghwa. Menduga bahwa ini hanya permainan Donghwa untuk menggodanya tepat di hari ulang tahunnya. Gadis itu tertegun, mendapati tatapan mata itu benar-benar jujur. Tak ada sedikit pun binar kebohongan yang tersirat di sana. “Oppa…” desisnya sekali lagi, membuat dirinya sendiri merasa bodoh karena hanya kata itu yang bisa ia ungkapkan.

“Kalau kau memang belum memiliki jawabannya sekarang, aku akan me…” Donghwa tak melanjutkan kalimatnya ketika tiba-tiba kepala Eunhee berpaling ke arah sebuah keributan berasal.

Di sana, tepat di depan pagar rumahnya Kim Hyang sook—Ibu Donghae—tengah mencegah anak keduanya yang memaksa kembali ke Seoul malam itu juga. Bukan itu yang membuat Donghwa resah, melainkan gerak-gerik Eunhee yang menunjukkan ketidakrelaannya pada kepergian Donghae, seolah-olah… apa yang susah payah disiapkannya itu, sama sekali tak berarti bagi Eunhee.

“Hee?!”

“Eo?” Sekali lagi gadis itu tersentak dan buru-buru mengalihkan perhatiannya dari asal keributan tadi pada pria tampan di hadapannya. Walau terlihat sekali bahwa ia sangat tidak rela melakukannya. 

Donghwa menghela nafasnya kasar. Mau tidak mau ia harus menyadari bahwa keberadaan Donghae lebih berarti di mata gadis itu. Tapi sekali lagi ia berusaha menyangkalnya. Rasa egoisnya kembali meninggi. “Bagaimana? Apakah kau sudah memiliki jawabannya?” desaknya sekali lagi. 

“Oppa… aku…” Eunhee menundukkan kepalanya, lalu sekali lagi menoleh ketika mendengar deru mesin mobil yang menandakan kepergian Donghae dari arah depan. Ekspresi kecewa kini tergambar jelas di wajah Eunhee. 

Kesal karena Eunhee kembali mengacuhkannya. Donghwa meraih kedua bahu Eunhee dan menghadapkan tubuh gadis itu padanya. Pria itu menatap mata Eunhee, meminta penjelasan, “Hee… kau…” ia tak melanjutkan kalimatnya ketika melihat gadis itu menganggukkan kepalanya.

“Mianhae Oppa! Aku mencintai Dong—“ 

“Cukup!” sela Donghwa cepat. Ia melepaskan cengkramannya pada bahu Eunhee lalu memutar tubuhnya membelakangi si gadis. Menyembunyikan ekspresi kecewa dari dirinya.

“Oppa!” Donghwa kembali memutar tubuhnya menghadap Eunhee, saat ia mulai berhasil menghalau rasa kecewa di lubuk hatinya ke tingkat paling rendah. Pria itu menatap Eunhee lurus-lurus.

“Apa kalian menjalin hubungan?” Eunhee membelalak kaget mendengar pertanyaan yang dilontarkan Donghwa. Tapi akhirnya gadis itu menggeleng sebagai jawaban. “Apa kau sudah mengatakan padanya, bahwa kau menyukainya?” Sekali lagi Eunhee menggeleng, “Apa Donghae pernah mengatakan bahwa ia menyukaimu?” Jawaban yang sama kembali diperlihatkan Eunhee dan hal itu membuat Donghwa tersenyum miris. “Kalau begitu, ungkapkan semuanya pada Donghae malam ini juga. Dan jika ia menolakmu, maka kau harus memberiku kesempatan membuatmu melupakannya dan mulai menatapku.”

“Oppa—“

“Aku tidak akan memberimu kesempatan untuk yang kedua ka…” Donghwa menghentikan kalimatnya ketika tiba-tiba Eunhee berlari meninggalkannya. Air mata kini benar-benar membasahi pipi pucat Donghwa, menyadari bahwa kisah cintanya benar-benar akan berakhir malam ini juga.

 

-Seoul, April 2012-

Suara debaman pintu mengalihkan perhatian Eunhee dan Donghae. Wanita itu buru-buru melepaskan diri dari rengkuhan Donghae dan tertegun mendapati kantung belanjaan yang ditinggalkan begitu saja di ambang pintu. “Oppa?!” gumamnya menyadari siapa yang baru saja berkunjung tanpa diundang. Eunhee sudah berdiri dari posisi jongkoknya ketika sebuah tangan besar dan terasa panas menahan lengan atasnya.

Gajima!” rintih Donghae serak nyaris seperti bisikan. Eunhee menoleh dan kembali tertegun mendapati tatapan memohon dari sang suami. Rasa bersalah kembali muncul dalam benaknya, menyadari sikap kasarnya selama ini pada Donghae. Tapi tak dapat dipungkiri, ia juga merasa khawatir pada Donghwa setelah apa yang dilihatnya tadi.

“Tapi—“

Gajima!” Donghae menyela bantahan Eunhee. Pria itu terbatuk dan hal itu berhasil membuat Eunhee kembali khawatir.

“Tunggulah! Aku akan mengambil obat dan air minum.”

Donghae menggeleng lemah dan tetap mencengkeram kuat lengan Eunhee, seolah-olah ia sama sekali takut kehilangan wanita itu. “Gajima!” desisnya sekali lagi dan hal itu membuat dada Eunhee kembali bergemuruh oleh rasa sesak yang mencekik tenggorokannya.

“Aku tidak akan pergi,” Eunhee menyisirkan jemarinya pada rambut coklat gelap Donghae lalu menatap mata hitam dan jernih pria tampan itu lekat-lekat. “Aku hanya akan ke dapur dan ke kotak obat sebentar,” tambahnya lirih. Tangan Eunhee yang bebas, meraih tangan Donghae dan berusaha melepaskan cekalan pria itu di lengannya.

“Hee…” Donghae hendak memprotes ketika Eunhee berhasil melepaskan diri tapi ia buru-buru bungkam saat telunjuk Eunhee menyentuh bibirnya.

“Ssshh… jangan membantah lagi,” perintah Eunhee tegas. Mata Donghae membelalak kaget ketika tanpa disangka-sangka, Eunhee mengecup bibirnya sekilas sebelum akhirnya wanita itu pergi mengambil obat dan air minum. Walau hanya ciuman singkat dan begitu ringan, namun semua itu sangatlah berarti bagi Donghae setelah apa yang dialaminya selama ini.

Apakah itu artinya… Eunhee memaafkanku?, batinnya bingung.

Tak berapa lama, Eunhee benar-benar muncul di hadapan Donghae dengan membawa segelas air dan mangkuk kecil berisi obat. Donghae buru-buru beranjak dari posisi tidurnya. Menghalau debaran keras yang kini melandanya.

“Kau tidak perlu bangun kalau masih pusing,” Eunhee kembali bergumam sebelum Donghae sempat bertanya. “Minumlah! Ini obat flu,” wanita itu mengangsurkan segelas air hangat dan obat itu padanya. Tapi Donghae bergeming. Terlalu terkejut dengan perubahan sikap Eunhee yang tiba-tiba. “Hae?!” Eunhee mengerutkan kening heran sembari mengguncang tubuh Donghae.

“Eoh… Ne,” balas Donghae setengah sadar sembari mengulurkan tangannya dan melakukan apa yang diperintahkan Eunhee.

“Sekarang kau tidur lagi saja, aku akan membuatkanmu bubur,” Eunhee mengambil gelas kosong di tangan Donghae dan beranjak dari posisinya semula. Sementara Donghae masih berusaha mencerna apa yang dialaminya saat ini.

————————

Eunhee tengah memasukkan beberapa potong daging cincang ke dalam bubur buatannya ketika tiba-tiba ia merasakan sebuah tubuh besar dan hangat merengkuhnya dari belakang. Jantungnya berdentum hebat merasakan deruan nafas hangat Donghae menyapu tengkuknya yang telanjang, membangkitkan berjuta-juta gairah yang selama ini tersimpan di dalam dirinya. “Hae… apa yang kau lakukan? Harusnya kau ti—“

Bogoshippeo!” Eunhee menegang. Aliran hangat mengaliri jantungnya. Menimbulkan sensasi menyenangkan yang sudah lama tak dirasakannya.

“Hae… kau mau menulariku dengan penyakitmu? Apa kau tidak kasihan pada anakmu?” Eunhee pura-pura marah untuk menghalau kecanggungan yang kini melandanya. Sekian lama tak bersentuhan begitu intim dengan Donghae, membuatnya kembali merasa tak nyaman setiap kali Donghae menyentuhnya. Donghae yang mendengar bentakan Eunhee itu, buru-buru melepaskan rengkuhannya pada tubuh Eunhee dan mundur beberapa langkah menjauhi sang istri.

Ani, aku… mianhae!” Pria itu menunduk lalu detik berikutnya air mata turun dari kedua matanya. “Mianhae Eunhee-a… aku… aku bukan Appa yang baik.”

Eunhee menggelengkan kepalanya, wanita itu pun tak dapat lagi menahan air mata yang kini mengaburkan bayangan Donghae di hadapannya. Setelah mematikan kompor, ia melangkah mendekati Donghae tapi pria itu terus mundur. “Aku tak bermaksud begitu Hae,” jelas Eunhee bingung, “Aku hanya ingin menggertakmu agar kau mau beristirahat,” akunya. “Kau bukan Appa yang buruk… aku yang terlalu sensitif akhir-akhir ini. Mianhae… aku sadar, aku sudah keterlaluan, hingga kau jadi sakit be—“

“Ssshh…” Donghae membungkam mulut Eunhee dengan jari telunjuknya. Persis sama seperti yang dilakukan Eunhee padanya tadi. “Aku akan beristirahat. Aku akan cepat sembuh, dan aku tak akan menyusahkanmu lagi,” janjinya lalu memutar tubuhnya dan berlalu pergi dari hadapan Eunhee. Senyum lebar tak henti tersungging di bibir tipis Donghae, mengetahui sikap sang istri sudah kembali seperti sedia kala.

——————————

Sebuah kamar yang didominasi warna putih dan biru itu tampak temaram dengan penerangan lampu kamar di kedua sisi tempat tidur. Tirai putih transparan yang menutupi jendela besar dari balkon kamar, melambai tertiup angin musim semi yang sepoi-sepoi. Donghae tengah merebahkan kepalanya pada pangkuan Eunhee sembari memencet asal-asalan tombol remote TV Plasma di kamarnya. Memejamkan matanya sejenak merasakan belaian lembut tangan Eunhee yang membelai rambutnya. “Matikan saja TVnya, aku tau kau tak menontonnya dari tadi,” gumaman Eunhee membuat Donghae buru-buru membuka kedua matanya. “Tidurlah, bukankah besok kau harus berangkat ke Jepang.”

Donghae meraih tangan Eunhee yang semula membelai rambutnya dan meletakkan tangan lembut itu di pipinya. “Aku masih ingin merasakan sentuhanmu, entah sudah berapa lama kau tak melakukannya untukku.”

Senyum miris tersungging di bibir mungil Eunhee, mengingat sikapnya yang keterlaluan beberapa hari terakhir. “Apa benar yang kau katakan tadi? Acara itu benar-benar dibatalkan?”

Donghae bangkit dari posisi tidurnya dan menatap Eunhee lurus-lurus. “Kalau aku berbohong, kau boleh menamparku!”

“Tch… aku sedang bertanya. Bukan ingin menghukummu,” sergah Eunhee. Donghae tersenyum lebar, lalu yang membuat Eunhee bingung, pria itu tiba-tiba mengulurkan tangannya. “Wenniriya?” tanya Eunhee heran.

“Cubit aku! Aku takut semua ini hanya mimpi!” Eunhee tertegun untuk beberapa saat, tapi kemudian ia menepis tangan Donghae yang diarahkan kepadanya.

“Jangan membuatku semakin merasa bersalah!” sergah Eunhee.

Mianhae… aku tak bermaksud begitu, aku hanya… hmmph” Eunhee membungkam bibir Donghae dengan bibirnya. Menumpahkan kerinduan yang selama ini tertahan dalam dadanya. Donghae yang sempat terkejut pada awalnya sama sekali tak bereaksi, namun ketika sensasi nyaman mulai membanjiri sekujur tubuhnya. Pria itu membalas ciuman Eunhee. Menjelajahi setiap centi rongga mulut sang istri dengan lidahnya. Merasakan persediaan udara yang mulai menipis, sepasang suami istri itu melepaskan tautannya. Rona merah kini menghiasi wajah cantik Eunhee.

“Apa kau sekarang yakin kalau semua ini bukan mimpi?” gumam Eunhee setelah sekian lama hening.

Donghae mengangkat kepalanya. Debaran di jantungnya masih setinggi sebelumnya. Pria itu mengulurkan tangan besarnya dan mengusapkan ujung jempolnya pada bibir Eunhee. Matanya menyapu setiap jengkal sosok wanita cantik itu. Ingin rasanya ia merengkuh tubuh sempurna yang selalu ia rindukan itu ke dalam pelukan hangatnya. Tapi ketika mengingat kehamilan sang istri, Donghae buru-buru menghalau hasrat yang sudah lama ia pendam ke tingkat paling rendah. Mengingatkan dirinya sendiri untuk tak membahayakan kondisi sang istri dan calon anaknya. “Jangan bersikap dingin lagi padaku,” gumamnya pelan, “Aku benar-benar takut akan kehilanganmu.”

Eunhee tersenyum tulus, tangannya meraih tangan besar Donghae dan menggenggamnya erat. “Mianhae, aku benar-benar telah bersikap kekanak-kanakan selama beberapa hari terakhir. Aku pun tak ingin menyalahkan calon anak kita atas semua yang telah terjadi.”

“Tidak, dia sama sekali tidak salah!” Donghae menggeleng tegas sembari menyentuhkan tangannya pada dataran perut Eunhee. “Kita berdua yang salah, dan aku berjanji tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama untuk yang kedua kali.” Eunhee mengangguk untuk mengamini perkataan Donghae. Wanita itu tak mampu lagi untuk tak menyurukkan dirinya dalam dekapan hangat Donghae. Menghirup dalam-dalam aroma maskulin yang sudah lama tak dirasakannya dan mendengarkan degup keras jantung Donghae yang terdengar seperti nyanyian selamat tidur untuknya.

Mianhaeyo…” desisnya pelan sebelum akhirnya terlelap dalam tidur panjangnya.

-COEX, Event Organizer-

From   : donghwai@ymail.com

To       : eunheelee@rocketmail.com       

Hee… Mianhaeyo! Aku tau aku egois. Sejak dulu aku sadar bahwa kau bukanlah milikku dan aku tak pernah mendapatkan hatimu. Karena yang kutau hatimu hanya untuk Donghae seorang. Kau boleh membenciku karena kebodohanku ini.

Aku benar-benar menyesal telah menyakitimu dan Donghae. Tapi satu hal yang tak pernah kusesali, adalah kenyataan bahwa aku pernah mencintaimu. Aku bangga walau hanya menjadi kakak iparmu. Setidaknya, aku turut bahagia untuk adikku. 

Saat kau membaca email ini, aku sudah di New York. Kudengar gadis-gadis di sini cantik-cantik. Doakan aku agar bisa membawa pulang satu yang seperti dirimu. Ah, iya… sampaikan salamku untuk Donghae. Katakan padanya bahwa aku tak akan pernah memaafkannya jika ia berani menyakitimu lagi. Aku juga akan menjadi orang pertama yang memukulnya. Tolong sampaikan padanya! Oke?

Ah… kurasa sekarang aku harus pergi jalan-jalan ke Manhattan. Jangan khawatirkan aku! Karena aku akan baik-baik saja. Perhatikan juga kesehatanmu. Minum vitamin yang diberikan Dokter dan rajin-rajinlah memeriksakan kandunganmu.

Sampai jumpa lagi ^^

 

                                                                       -Seseorang yang sangat mencintaimu-

Eunhee menutup email Donghwa. Rasa haru bercampur sedih menyeruak dalam relung hatinya. Membayangkan sosok Donghwa yang selama bertahun-tahun ini memberikan hatinya untuk Eunhee. Tapi ia sama sekali tak bisa membalasnya. Mianhaeyo Oppa! Aku janji akan selalu mendoakanmu mendapatkan gadis yang terbaik untukmu. Segera melupakan aku dan menikah. Menjalin kehidupan yang bahagia dengan istrimu. Mianhaeyo…, batinnya pilu.

Wanita itu memijat pelipisnya yang mendadak terasa nyeri. Disingkirkannya beberapa berkas yang bertumpuk di atas meja ketika ia merasa tak sanggup lagi berkonsentrasi menyelesaikannya. Senyum tipis terbentuk di bibir mungil Eunhee ketika membaca pesan sang suami yang baru saja masuk ke ponselnya. Sudah 4 hari suaminya pergi ke luar negeri untuk melaksanakan SS4 di Shanghai China, setelah sehari sebelumnya juga ke Jepang untuk mempromosikan single Oppa-oppa bersama Eunhyuk sang sahabat.

From: Nae Wangja

Yeobooo, nomu nomu nomu Bogoshippeo!
Cek twitterku! Ada sebuah ciuman khusus untukmu dan calon anak kita ^0^

“Tch… dasar kekanakan!” cibir Eunhee tapi senyum di bibirnya menunjukkan bahwa dirinya terhibur dengan tingkah Donghae. Selama 3 hari di luar negeri, sudah 2 kali suaminya melakukan hal yang sama.

“Eunhee-a, kalau kau lelah, sebaiknya pulang saja!” Salah seorang teman Eunhee yang mejanya berada tepat di hadapan meja kerja Eunhee bergumam ketika melihat wajah pucat wanita itu.

 

Eunhee buru-buru mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel yang kini menunjukkan foto terbaru Donghae dengan bibir mengerucut dan mata terpejam—persis sama saat pria itu tengah merengek meminta ciuman darinya—pada wajah Han soonyoung temannya. “Ne, gomawo Soonyoung-a. Kurasa, aku memang harus pulang,” balas Eunhee sembari merapikan meja kerjanya. Senyum di bibirnya tak mau hilang ketika kembali mengingat kelakuan sang suami. Teringat bahwa ia belum membalas pesan Donghae, cepat-cepat Eunhee meraih Samsung putihnya dan menarikan jemarinya di atas touchscreen ponselnya.

To: Nae Wangja

Bekerjalah! Jangan melakukan hal yang aneh. Ciumanmu tidak akan sampai kalau kau jauh. Jadi, pulanglah secepatnya.

Calon anakmu… sangat merindukanmu!

 

-Shanghai, China-

“Hae, kau gila? Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri?” celetuk Siwon melihat Donghae yang sejak tadi tak hentinya tersenyum lebar sembari menatap layar ponselnya. Saat ini anggota Super Junior sedang makan bersama di salah satu restoran Korea di Shanghai, setelah sebelumnya menjalankan rehearsal konser SS4 yang akan dilaksanakan beberapa jam lagi.

“Biarkan saja Siwonnie, dia sedang jatuh cinta lagi,” sambung Eunhyuk cuek sembari mengunyah bibimbap pesanannya.

Siwon membelalak lebar, “Mwo? Jatuh cinta lagi? Kau sudah gila? Mau kau kemanakan istrimu?”

“Aiishh… bukan jatuh cinta lagi pada wanita lain. Tapi pada istrinya,” koreksi Ryeowook yang memang sudah mendengar kabar membaiknya hubungan Eunhee dengan Donghae.

“Ahh.. begitu!” Siwon mengangguk tanda mengerti, lalu menyikut lengan Donghae yang saat ini masih asyik menarikan jemarinya untuk membalas pesan Eunhee. Nampak sama sekali tak peduli pada keadaan sekitarnya.

To: Nae Saranghaneun-Anae

Mwo? Calon anak kita saja? Lalu bagaimana denganmu? Apa kau tidak merindukanku? >,<

Tak berapa lama balasan dari Eunhee kembali muncul.

From: Nae Saranghaneun-Anae

Ani! Aku tidak merindukanmu. Tapi… sangat sangat sangat merindukanmu! ^^

Donghae tersenyum lebar. Matanya tak henti menatap layar ponselnya. Memang benar apa yang dikatakan Eunhyuk. Setelah hubungannya dengan Eunhee kembali membaik. Kini dirinya merasa seperti seorang remaja yang baru saja jatuh cinta. Begitu bersemangat bila mengingat dan membicarakan sosok sang istri. Merasakan getaran cinta yang sama seperti saat ia jatuh cinta untuk pertama kali. Dengan kata lain, cobaan itu… kembali menghangatkan rasa cintanya pada Eunhee. Dan ia benar-benar bersyukur dapat melewatinya dengan baik.

Eunhee-a! Aku akan segera pulang dan mengobati rasa rindumu!, bisiknya dalam hati.

Donghae tiba-tiba berdiri ketika sebuah ide melintas di benaknya. “Hyuk, bantu aku sebentar!” Pria itu bukan hanya meminta, tapi sudah menyeret tubuh sang sahabat mengikutinya ke bagian depan restoran.

Wenniriya Hae?” keluh Eunhyuk kesal karena acara makannya terganggu.

Donghae menyeringai lalu mengangsurkan I-phone miliknya pada Eunhyuk. “Foto aku! Ada yang ingin kutunjukkan pada Eunhee.”

“Aiishh… seorang yang sedang jatuh cinta memang menyusahkan sekali!” gerutu pria berambut pirang itu, tapi tetap menuruti permintaan sang sahabat.

Setelah berfoto dengan pose dirinya yang tengah menengadah menatap langit malam di pinggir jalan kota Shanghai, Donghae memposting foto itu di akun kakao talk milik-nya. Lalu tak lupa membalas pesan ke nomor ponsel Eunhee.

 

To: Nae saranghaneun-Anae

Kau bilang merindukanku bukan? Ah tidak, tapi sangat sangat sangat merindukanku ^^ Sekarang, tataplah langit malam ini.

Di sini aku juga sedang menatap langit yang sama denganmu (Cek akun kakao talk milikku). Kuharap dengan begini, kau merasa dekat denganku.

Saranghae :*

-Mokpo, Juli 2006-

Eunhee terengah. Menata nafasnya yang masih satu-satu sambil menyapukan pandangannya pada keramaian bandara Mokpo. Kegelisahan mulai merambati hatinya ketika melihat daftar keberangkatan pesawat menuju Seoul sudah lewat sekitar 5 menit yang lalu. Matanya mulai berair, mengaburkan pandangannya pada lingkungan sekitar. “Hae… gajima!” isaknya lirih sambil terus mengedarkan pandangannya. Berharap sosok yang dicarinya muncul begitu saja di depan matanya.

Sekitar 30 menit berlalu, tapi Eunhee belum juga menemukan sosok tampan itu. Kakinya mulai lemas. Tak ada lagi sisa kekuatan yang ia punya. Setelah mendengar pernyataan Donghwa tadi, tanpa pikir panjang Eunhee langsung menyusul Donghae ke bandara. Walau belum jelas Donghae akan menerima pernyataan cintanya, setidaknya… ia telah mengungkapkannya langsung pada pria itu. Tapi kenyataan bahwa Donghae sudah pergi, membuat dadanya terasa sesak.

“Haruskah aku menerima cinta Donghwa Oppa?,” gumamnya lirih sambil terus terisak. Gadis itu mendudukkan diri di kursi tunggu dan menyeka air mata yang mulai mengaliri kedua pipinya. “Hae… eottokkhae? Aku tak ingin menyesal—”

“Hah… berisik! Bisakah kau tak menangis di sini Nona? Aku sedang kesal karena ketinggalan pesawat. Jangan ditambah la—“

“Hae!!!” Donghae menghentikan omelannya ketika tiba-tiba Eunhee masuk dalam dekapannya. Pria itu tersenyum dalam diam, dan membelai punggung Eunhee lembut. Sebenarnya ia telah mendengar kabar bahwa Eunhee menyusulnya ke bandara setelah tadi Donghwa menelponnya.

Walau kini rasa hatinya benar-benar bahagia, Donghae mencoba menahan diri untuk tak terlihat riang di hadapan Eunhee. Pria itu menjauhkan tubuh Eunhee dari dekapannya dan menyeka air mata yang masih saja mengalir di kedua pipi gadis itu. “Apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini, he? Kau tidak takut ada orang yang menculikmu?”

Eunhee mendengus, lalu meninju dada bidang Donghae. “Tentu saja karena kau!” keluh gadis itu kesal. 

Donghae menampakkan wajah bingung yang tak sepenuhnya berhasil, “Aku? Memangnya ada apa denganku?”

“Kenapa kau pulang secepat ini? Bahkan kau belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku!” Eunhee mengerucutkan bibirnya membuat Donghae tak dapat menahan diri untuk tersenyum.

Setelah berhasil menahan tawanya, Donghae kembali bergumam, “Jadi, hanya karena itu kau menyusulku ke mari?” Ada nada tak percaya dalam ucapan Donghae. “Kalau begitu, Saengil Chukhae Eunhee-a! Kau puas? Sekarang aku akan pergi!”

“Ya!” Eunhee menahan lengan Donghae. Merasa kesal karena Donghae hanya mempermainkannya. Walau ia bisa merasakan jantungnya berdentum hebat seolah-olah akan melompat saat itu juga, Eunhee memberanikan diri menatap mata jernih Donghae. “Apa Donghwa Oppa sudah mengatakannya padamu?”

Alis Donghae bertaut bingung, pura-pura tak mengerti apa yang ditanyakan Eunhee. Walau tadi Donghwa tak mengatakan bahwa Eunhee menyukainya, tapi ia menyadarinya dari nada bicara Donghwa yang terdengar sedih juga tingkah gadis itu yang repot-repot mengejarnya ke bandara. Untuk apa lagi kalau bukan karena ia mencintaiku?, batin Donghae senang. “Mengatakan apa?”

“Tch… jangan berbohong!” sergah Eunhee kesal.

Donghae menggeleng dan berusaha menjaga ekspresinya agar tetap tenang, “Aku tidak berbohong. Aku benar-benar tak mengerti apa yang kau maksud?” Eunhee menundukkan kepalanya ketika wajah Donghae semakin mendekat ke wajahnya. Merasakan rasa panas membakar di kedua belah pipinya. Ia tak pernah membayangkan akan sesulit ini untuk menyatakan perasaan yang sesungguhnya pada Donghae. Tapi itulah yang ia rasakan sekarang. Kata-kata yang semula telah dirangkainya, hilang begitu saja saat ia sudah berhadapan langsung dengan pria tampan itu. “Apa yang ingin kau katakan, hingga kau jauh-jauh mengejarku ke mari?” selidik Donghae sekali lagi sementara Eunhee tetap menunduk untuk menyembunyikan pipinya yang mulai memerah.

“Gajima!”

Donghae mendengus, “Hanya itu? Apa tidak ada hal lainnya lagi? Aku sama sekali tak memiliki ala—”

“Saranghae…” Donghae bisa merasakan jantungnya berdegup kencang. Walau ia tau bahwa Eunhee mencintainya, tapi sama sekali tak terpikir olehnya bahwa reaksi tubuhnya akan seperti itu.

“Mwo? Bisakah kau mengatakannya lebih keras lagi?” Setelah berhasil menghalau debaran keras di jantungnya, Donghae kembali berniat menggoda Eunhee.

Kesal karena Donghae terus saja mempermainkannya, Eunhee memutar tubuhnya ke arah lain, “Tsk, tidak ada siaran ulang! Ya sudah kalau tidak dengar! Kau pergilah, aku mau pulang sa—“ Eunhee menghentikan kalimatnya ketika tiba-tiba Donghae menahan lengannya. Pria itu menarik tubuh ramping Eunhee agar lebih dekat dengannya, hingga gadis itu bisa merasakan sapuan nafas hangat Donghae di keningnya. Kedua tangan Donghae menangkup pipi lembut Eunhee dan mengangkat wajah cantik itu menghadap ke arahnya.

“Nado, saranghae…” bisik Donghae lirih, sebelum akhirnya melumat bibir mungil Eunhee. Lembut dan dalam.

-Seoul, April 2012-

Eunhee terperangah menatap bangunan di hadapannya. Wanita itu mengalihkan perhatiannya pada pria tampan di sampingnya dan bergumam dengan nada tak percaya sekaligus bingung, “Taman bermain? Non, micchiyeosseo?”

Donghae menyeringai lebar lalu mengangguk mantap. Setelah kepulangannya dari Shanghai semalam, ia memutuskan untuk membawa Eunhee bersenang-senang ke sebuah taman bermain. Selama menjalin hubungan dengan Eunhee, tak pernah sekalipun ia membawa sang istri ke tempat seperti itu. “Ne, taman bermain,” katanya tenang, “Bukankah dulu kau cemburu karena melihatku bersama artis itu sedang jalan berdua di taman bermain? Jadi sekarang, aku ingin menggantinya dengan membawamu ke mari.”

Eunhee terhenyak ketika merasakan sebuah aliran hangat mengaliri jantungnya. “Tapi… bagaimana kalau banyak fans yang mengenalimu? Kau tidak takut ada yang mengetahui hubungan kita?”

“Bukankah itu yang kau inginkan?”

Eunhee membelalak kaget mendengar pertanyaan Donghae, “Mwo? Kapan aku mengatakan padamu bahwa aku menginginkannya?” protesnya bingung.

Donghae tertawa renyah lalu meletakkan kedua tangannya di kedua bahu Eunhee, “Kau memang tak pernah mengatakannya secara langsung, tapi semua itu terlihat dari sikapmu. Kau tidak ingin aktris itu dikenal sebagai istriku di mata publik, karena seharusnya kau sebagai istri sah-ku yang dikenal publik. Jadi, bagaimana kalau sekarang kita hebohkan publik dengan berita itu?”

Mwo?” Eunhee sendiri benci mendengar ucapannya yang begitu-begitu saja sejak tadi. Tapi ia benar-benar tak tau harus mengatakan apa? Otaknya terasa kosong mendengar gagasan konyol Donghae untuk memproklamirkan hubungan mereka.

“Lagipula, aku sudah lelah harus sembunyi-sembunyi terus,” tambah Donghae, “Aku juga ingin seluruh dunia tau bahwa aku hanya mencintaimu seorang. Mencintai seorang gadis bodoh seperti Lee Eunhee. Bagaimana? Ideku cemerlang bukan?”

“Tsk… kau bilang ini cemerlang?” Eunhee memprotes. Bibirnya mengerucut marah.

Wae?” Donghae mengangkat kedua bahunya nampak tak peduli.

Andwaeyo! Aku masih ingin hidup tenang,” tolak Eunhee cepat sembari menggelengkan kepalanya tegas. “Sebaiknya kita pulang!”

Donghae menggeleng, “Shireo! Kita sudah sampai di sini. Aku tak mau pulang!”

“Tapi—“

“Kau jangan khawatir, kalau kau memang tak setuju dengan usulku. Aku akan memakai penyamaran lengkap,” potong Donghae sembari tersenyum hangat dan mulai memakai jaket, topi, kacamata hitam juga maskernya. “Otte?” Donghae mengerutkan keningnya ketika melihat Eunhee justru tertawa geli. “Wae?

“Aku akan terlihat seperti seseorang yang sedang jalan berdua dengan penculik,” Eunhee kembali terkikik ketika membayangkan dirinya jalan bersama Donghae yang memakai penyamaran lengkap di tengah taman bermain. “Kau terlihat seperti seorang buronan kalau seperti ini!”

Ya! Kalau tidak mau ya sudah… aku akan melepas pe—“

Aniyo!” Eunhee menahan tangan Donghae yang hendak melepaskan masker hitam yang dipakainya. “Kaja! Aku ingin naik bianglala,” Eunhee membuka pintu mobil dan merentangkan kedua lengannya lebar-lebar. Menutup kedua matanya, merasakan semilir angin membelai rambut panjangnya. Wanita itu membuka matanya ketika merasakan lengan Donghae melingkari pinggangnya.

Kaja! Donghae junior pasti akan senang bermain di tempat ini.”

Mwo?” Eunhee menghentikan langkahnya mendengar gumaman Donghae, “Apa katamu? Donghae… junior?”

Ne, lalu bagaimana lagi kita harus menyebut calon anak kita?”

“Tsk… ia belum mengerti apa-apa. Lagipula, usia kehamilanku baru masuk bulan kedua,” bantah Eunhee lalu kembali melangkah menuju pintu masuk taman bermain yang kini mulai ramai dipadati pengunjung.

Mengeratkan gandengannya pada tangan Eunhee, Donghae kembali bergumam lirih, “Hmm… dua bulan? Kapan jadwalmu ke tempat dokter kandungan? Mulai sekarang, aku yang akan mengantarmu! Tidak ada lagi Donghwa Hyeong!”

“Tch… tidak usah, aku akan pergi sendiri! Kau pasti sibuk dengan pekerjaanmu akhir-akhir ini,” tolak Eunhee begitu mereka melewati pintu masuk utama taman bermain itu.

Donghae mendekatkan wajahnya pada telinga Eunhee, “Kau tidak akan pergi kalau tak bersamaku,” bisiknya pelan, khawatir ada orang yang mengenali suaranya.

“Oh.. oke, baiklah! Kurasa sifat pemaksamu tak pernah hilang,” Eunhee menyerah ketika tak dapat lagi menolak permintaan Donghae, “Hae… aku mau ke istana boneka!” cetusnya ketika melihat sebuah bangunan lucu dengan beribu-ribu boneka di dalamnya.

Kaja!” Donghae menarik lengan Eunhee dan membawanya ke tempat itu.

——————————

Setelah puas mencoba berbagai wahana di taman bermain itu. Eunhee dan Donghae duduk di salah satu kursi panjang di bawah pohon sakura dan memperhatikan orang-orang yang tengah berlalu lalang di sekitarnya. “Kau senang?” Mulai Donghae sembari merentangkan lengannya di punggung kursi.

“Hmmm…” Eunhee mengangguk. Perhatiannya terfokus pada seorang bocah lelaki kecil yang sedang membawa permen kapas di tangannya.

Menyadari ketertarikan sang istri pada bocah itu, Donghae beranjak dari kursinya dan berjalan mendekati si bocah. Hal itu membuat Eunhee membelalak kaget. Kemudian yang membuat Eunhee semakin bingung, ketika tiba-tiba Donghae berjongkok untuk menyamakan tingginya dan berbisik pada si bocah sembari menunjuk dirinya. Tak berapa lama, bocah kecil yang kira-kira berusia 5 tahun itu mendekat ke arah Eunhee. “Ahjumma!”

Mwo?” Eunhee hendak memprotes ketika tiba-tiba bocah itu melanjutkan.

“Ahjussie itu mengatakan bahwa ia sangat mencintaimu,” Eunhee bisa merasakan pipinya memanas dan jantungnya berdegup kencang. Sialan kau Lee Donghae, apa yang kau katakan pada anak kecil sepertinya?, batin Eunhee malu., “Ahjussie itu juga bilang bahwa kau akan segera memiliki anak yang tak kalah lucu sepertiku. Kalau perlu, ia akan membuatkannya sebanyak mungkin. Sep—“

“Oh, hentikan!” sela Eunhee geli sekaligus kesal karena Donghae mengatakan hal yang tidak-tidak pada bocah polos itu. “Siapa namamu?” tanya Eunhee pada si bocah.

“Geumdong.”

“Ah, Ne. Geumdong-a, pergilah ke orang tuamu. Pasti mereka bingung karena kau pergi terlalu jauh,” Eunhee menggenggam tangan bocah itu, “Jangan sekali-sekali bicara pada orang asing. Itu berbahaya. Ne?”

Bocah lelaki itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah kotak kecil pada Eunhee sebelum pergi. “Ini dari Ahjussie itu!”

Eunhee tertegun. Senyumnya terkembang begitu saja lalu mengalihkan tatapannya pada sosok Donghae yang tengah berdiri di kejauhan. “Gomawo Geumdong-a, sekarang pergilah ke eomma-mu,” perintah Eunhee pada si bocah dan ia pun beranjak dari kursi panjang itu menghampiri sang suami. “Apa yang kau lakukan?” protes Eunhee pura-pura kesal begitu ia sampai di hadapan Donghae.

Donghae yang tampak tak peduli, membalas gerutuan Eunhee dengan tenang. “Bocah itu lucu ya? Aku ingin nanti anak kita seperti dia!”

“Ya! jangan mengalihkan pembicaraan!” sergah Eunhee kesal dan Donghae menyeringai lebar melihat ekspresi cemberut Eunhee.

“Apa tidak boleh seorang suami memberi hadiah pada istrinya?” tanyanya sembari meraih kotak kecil di tangan Eunhee dan membukanya. Sebuah kalung silver dengan bandul berbentuk hati dan didalamnya ada bentuk huruf HH. Donghae memakaikan kalung itu di leher Eunhee. “H pertama, berarti Hae dan H kedua berarti Hee. Hae dan Hee akan selalu berada dalam ikatan cinta,” Donghae menjelaskan makna desain kalung yang sengaja ia desain sendiri itu. “Jangan kau lepas!” pesannya. “Ah… masih ada lagi,” Donghae memasukkan tangannya di saku celana dan mengeluarkan dua tiket pesawat terbang lalu menyodorkannya pada Eunhee.

“A-apa lagi ini?” tanya Eunhee bingung bercampur haru.

“Ini tiket pesawat ke Indonesia. Tanggal 27 April nanti, kita akan mengadakan konser SS4 di negara tropis itu. Kudengar, Bali adalah salah satu surga dunia. Karena kemarin aku tak bisa mengajakmu ke Paris. Jadi, kali ini kau tak bisa menolak untuk pergi ke Bali bersamaku.”

“Tapi—“

“Tiket sudah beli! Aku tak mau ada penolakan!” potong Donghae tegas.

Eunhee menghela nafasnya pelan lalu tersenyum tulus. Jantungnya berdegup cepat hingga terasa menyakitkan. Air matanya kini turun begitu saja. Sama sekali tak menyangka bahwa Donghae telah menyiapkan semua ini untuknya. “Hae… Mian—“

“Sssshh… aku tidak mau dengar lagi kata maaf!” sela Donghae lalu menyeka air mata di pipi wanita itu. “Ehm… bagaimana? Kau mau kita memiliki sepuluh anak seperti bocah itu tadi?” celetuk Donghae untuk mengalihkan pembicaraan. Merasa topik ini akan menguras air matanya lebih banyak lagi.

Mwo? Se-sepuluh? Micchiyeosseo?” desis Eunhee kaget.

Donghae tertawa lebar, walau tawanya kini tertahan di balik masker hitamnya. “Bukankah tadi kau sangat menyukai bocah itu. Hingga kau tak mendengarkanku saat aku bicara padamu?”

“Tch…” Eunhee mendengus lalu meninju dada bidang Donghae, “Aku memperhatikan bocah itu karena tiba-tiba aku ingin permen kapas seperti yang dibawanya!”

“Heh??” Donghae membelalak kaget dan menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, “Aigooo… aku lupa kalau istriku sedang mengidam akhir-akhir ini!” pria tampan itu menggandeng lengan Eunhee, “Kaja! Aku akan membelikannya sebanyak mungkin untukmu!”

“Aiishh… aku tidak minta banyak! Yang kuinginkan hanya satu! Tapi ukurannya harus yang besar!”

“Ah… terserah padamu saja!” sergah Donghae lalu merangkulkan lengannya di pinggang Eunhee sembari berjalan menuju pedagang permen kapas di sebelah penjual es krim.

“Hae, aku capek!” Tiba-tiba Eunhee berhenti di tengah jalan. Wajahnya tampak lelah karena berjalan terlalu jauh.

Donghae ikut berhenti lalu detik berikutnya pria itu berjongkok di hadapan Eunhee. “Ayo! naik saja ke punggungku!” Tersenyum hangat, Eunhee menurut dan ia pun naik ke punggung Donghae dengan melingkarkan lengannya pada leher sang suami. Donghae kembali berdiri dan mulai berjalan lagi. Sementara Eunhee, menyandarkan kepalanya di punggung Donghae. “Hee, kau ingat seorang gadis bodoh yang malam-malam rela mengejarku hingga ke bandara karena sangat sangat mencintaiku? Awww… Ya! kenapa kau mencubitku?”

“Setidaknya aku bukan pengecut yang kabur hanya karena ada seseorang yang lebih dulu menyatakan cintanya pada orang yang kita cintai!”

Mwo? Ya! Jangan menyindirku!”

“Kau pengecut!”

“Ya! Lee Eunhee, awas kau! Mau kuturunkan hah? Tubuhmu itu berat!”

Mwo?

 

Rasa itu… Cinta itu…

Terasa semakin kuat…

Seberat apapun cobaan itu… Sekencang apapun badai itu…

Takkan pernah menghancurkannya

Hingga nyawa, terpisah dari raga

 

_Lee_Donghae

FIN

Hwaaaa…. selesai jugaa!! Awalnya mau kuselipin NC! Tapi agaknya gak bisa.. secara Eunhee lagi hamil muda kkkk😄

Donghae musti nahan diri dulu lah #Plakk
Miaaan banget klo akhirnya garing #Kriuk-kriuk dan tak sesuai harapan readers semuanya. Tapi tetap, kumohon RCLnya yaaaaa~~~ #Ngemis

82 thoughts on “STORM -EunHae Couple- [Part 4-END]

  1. kkkyyyaaaaa#guling2 di karpet
    hhaa kga tau mau comment apa–
    pdhal td pas baca awal2 udh kepikiran bakal ngmong apa, ehh nympe akhir baca lngsung blank..
    mong~~
    yg psti…. Chukkae EunHae couple!!^^
    tp td pas baca Hae nybut2 bali mataq lngsung melotot..
    Hahhaa
    kalian bdua mau ngpaen ke rumahq;p

    trus soal kalung’a boleh donk aq GR, HH=Hae,Hyun(?)
    #dibacok lee adjumm

    oia, mmpung ini part akhir, skalian mau mnta maaf sma donghwa oppa. Smpet tdk mngharapkan kehadiran’a.. Tp trnytaaa…
    Dirimu baik jg oppa:D

    ps: Lee adjumma, author yg the best dehh!! Maka dri itu buat sequel’a yahhh
    fufufufu
    kan aq dah puji2 noh:p

    segitu ajj deh, gg sabar baca karya2 ONNIE lg^^

    smpe ketemu di next project onnie
    #tuh kan, aq gg pnggil adjumma lg#harus ada sequel tuh!!
    kekeke~

    • Aiiishhh… gak panggil ahjumma lagi, tapi di FB tetep ajah #Plakk
      Hahaha… Klo sekuel pasti ada donk! FF EunHae Moment kan jalan terus kkk…

      Oh? orang bali? Waaa… boleh tuh nginep gratisan di sono yah #Gubraksss

      Maunya sih… next FF nyeritain EunHae di Bali #Eaaaa😄
      Tapi…. liat ide dulu ajah deh ^^

      • Mwo??
        Nginep?? AnDwe!!
        Ntr aq malah jdi obat nyamuk’a si EunHae couple yg cinta’a lg meluap2 kea bubur di panci(?)
        di bali kan bnyak hotel, apa si ikan kembung udh bangkrut??
        Ato buat ajj tenda ntr di pante kuta:p
        Kkkkk

        saia tunggu eunhae next story’a LEE EUNHEE ONNIE!;p#
        tuh kan gg sebut2 adjumma lg, ya kan lee adjumma??
        X(

      • wkwkkwkwk…. yah gpp lah! daripada aku dirubung nyamuk (?) #Pletak
        Si Ikan lagi Hemat Beib! buat dana lahiran Eunhee nanti #Eaaa :p
        Aiishhh… itu di paling akhir kenapa ahjumma lagii—aaaa!! >,<

  2. Huaaaaaaa,, akuuu jadi senyum2 gaje!!! Haha
    Emm agak gantung ya pas ending, aku gag dpt gregetnya pas ending,,, tapi tapi tapi suka bgt pas bagian Yg udh baikan! Ishhh gag sempet jg liat si baby,,,, hahaha Akuuu suka EunHae!

    • Haha… Tuh kan bener endingnya kurang gigit! aku tadi udah ragu gara2 Endingnya kkkk
      Tenang aja nah klo masalah si Baby… hamilnya aja masih bulan kedua… pasti nanti diceritakan #Plakk
      Gomawoo dah sukaa dan setia nungguin FF kami Ciccy #BowBarengHae

  3. huaa tamat ya akhirnya
    aku kira bakalan panjang loh partnya
    tp syukur dh masalah gk brlarut2
    senangnya mereka baikan
    kasian jg anaknya klo brantem melulu
    haha donghae jdi tkut nyakitin eunhee sma anaknya
    sabar ya hae
    haha

  4. Yahh un ko FIN..kirain TBC…pdhl ak pgn tau proses persalinan Hee ntar kkkk~ !! Eh itu mo ke Bali ne? Ahh jgn kesini deh,istri Hae di Indo bnyk ntar Hee dicekal trus ditenggelemin di pantai Kuta #plakk !! Tapi akhirny happy ending yaa EunHae couple *kibarbendera
    un bkin sequel’ny apa gmna gtu dong #maksa..at all nice story un😀

    • Klo masalah persalinannya ntar pasti diceritain kok… tenang ajah!
      ini kan yg berakhir cuma ‘BADAI’nya… tapi EunHae Couple-nya NEVER ENDING Stories #Eaaaaa
      Mwoooo?? diceburin ke lauttt?—-aaaaa!!! #SembunyiDiPunggungHae

  5. Prok prok prok
    ya permisi, aku reader baru..baca semua partnya ngebut dan langsung comment di part ini, ga papa ya…
    Pas pertengahan part 3 hampir nyerah bacanya, ga tega.. (bawaannya pengen blg ‘donghwa oppa minggir kmana kek gitu, ganggu aja!!!’) tapi untunglah eunhee ma hae oppa baikan lagi…
    Om
    oooo suka banget . (sebetulpengenminttambah

  6. Prok prok prok
    ya permisi, aku reader baru..baca semua partnya ngebut dan langsung comment di part ini, ga papa ya…
    Pas pertengahan part 3 hampir nyerah bacanya,ga tega (bawaannya pengen bilang ‘donghwa oppa minggir kmana kek gitu,ganggu aja!!) untung akhirnya eunhae baikan,kan jadi lega saya hehe-abaikan…
    Ada sequelkah??!
    kutunggu.. pokoknya ff eunhae daebak d,jd ga sabar baca cerita selanjutnya- pasang muka pengen tingkat dewa🙂

    • Woaahh… rapelan yah Chingu? haha
      Sukurr deh klo emang suka…
      Tenang aja, klo cerita EunHae pasti terus beralnjut kok. Selama mereka masih bersama, masih banyak kisah yg terjadi #Ngoookk #KeburuTidurBacaKomenku

  7. wah,akhry kluar jg pnantian slma ne…dr awl mpe akhr q g brenti2 snyum bc na eon,mrka bnr2 kyk org yg jth cnt lg,so sweettt bngt…
    jd pnsrn gmn crt mrka d bali nnt,mg ja crt slnjty g nyesek2 y eon,hehe^^

  8. a-apa ending?? O.O
    kirain mah ffnya bakal panjang eh ternyata engga ya😄

    kasian donghwa sini-sini sama aku XP
    happy ending ya asikk seneng banget pasangan ini balikan lagi ^^

  9. Horee horee horee~
    akhir na mereka baikan jugaaa yaa😀 *prokprokprok
    eon eon eon , tapi aku terharu banget pas bagian Donghwa menyatakan cinta ama hee , huhuhu T.T
    maksudna di cuekin gt ama hee , ga bisa bayangin perasaan na ..
    Aigoo aku terlalu terbawa suasana ini -.-v
    hkhkhk~
    ehh ? Aigoo ngakak pas baca bagian Hee bikin bubur, terus hae meluk d belakang dan hee nolak.. Pasti muka hae lucu bgd pas ngerasa bersalah xD
    yak! Hae bener bener gila deh eon, tuh ampe update twitt ama kakaotalk😄
    Eon idenya tuh bisa ajaa.. Aku suka itu .. Hehe
    part ini bener2 deh eon, aku bayangin na dapet bgd eon ..
    Soalna penjelasan eon yg bener2 jelas bgd jelasin situasi saat ituh🙂
    ajarin akulah eon biar kata-katanya lengkap gitu ~
    hehe *ngaco*
    seneng ahh liat mereka rukun gt eon, hae emang darah romantis na selalu mengalir ahh , buktina pas di taman bermain .. Haaaahh-.- ngiriiii *tarik hyuk*
    eunhae mau k indo? Wah apakah akan ada sequel?😀
    ahh eonni , ga bakal jumpa storm lg ?:-/
    eh padahal Hate love u ama storm tuh duluan Hate knp yg end duluan ini? Eheh.
    Eon pokokna harus
    bikin ff baru yaa.. Ayolah😀

    • Gomawoooo saeng!!!! Aduh, komentarmu emang salah satu yang kutunggu ^^
      Lengkap dan panjang! Jadi berasa dibaca bener-bener tuu FF abal kkk
      Si Hae emang romantis!! untung jantungku sehat, klo gak pasti udah mati ditempat setiap kali dy maen romantis2an gitu #Eaaaa :p

      Waduh… saeng bisa aja nih mujinya. Gomawooo banget! Mau belajar? Boleh2… saeng bikin aja FF. Trus naskahnya kirimin ke aku. Ntar aku komenin deh kurangnya apaan ^^
      Sequel?? Jangan minta sequel nah klo FF EunHae… pasti ada ituuu hahaha

      klo HTILY kan emang panjang dan sempet terbengkalai gara2 bikin Storm ini. Ntar aku mau lanjutin HTILY dulu dah… baru nyoba mikir yg baru🙂

  10. happy ending *bakar menyan*
    akhirnya eunhae ga tersiksa lg gara2 ego mrka
    daaaaan ffnya sweet bgt aku smpe senyum2 ndiri bacanya n ngebayangin eunhee itu aku *ditabok author*
    cie eunhee nyium hae duluan psti kangen bgt ma bibirnya hae #eh
    kencan ditaman kaya lg pacaran aja
    gak sabar nungguin ff mrka dibali
    ada ncnya nyempil dong #eh wkwkwk

    ah hae kurang gentle nih
    masa hrs hee duluan yg nyatain cinta pake ngejar kebandara pula
    hrsnya hae berjuang dong sampe titik darah penghabisan(?)

    • Waduh… kenapa menyan? LOL
      Hahaha… gpp lah, kamu bebas ngebayangin sosok Eunhee itu siapa! #AngelModeOn :p
      Hu’uh… tau aja nih klo aku kangen berat ama Hae, apalagi Bibirnya yg tipis dan seksi itu #Eeerrrrr *kumat dah*
      Mwoo?? NC?? Ehmm… kkkkk
      iyatuh.. nyebelin dia. Minta digetok #Plakk

  11. kyakyakyakya!!keren part ini,
    hae so sweet bgt *tepar*
    wah ditunggu sequel nya, wajib ini.. Pas di indo lo soal nya, pasti keren ntar
    hwaiting buat next ff nya..

  12. yes.. epi ending.
    untung kagak jadi cerai..
    kan kasian tuh baby na klo org tua na cerai..
    tp agak gantung2 dikit (?) sih endingnya.. hehehe..
    ada sequelnya kagak ya??

  13. tamattttt…….

    FF nya bagus chinguu…tapi dari ff sebelumnya yang ada disini juga selalu memuaskan sih ^^

    ditunggu karya selanjutnya.

  14. ending yang amat sangat memuaskan,kkkk
    akhirnya eunhae beromantis-romantis ria(?) lagi🙂
    ehem,,,kayanya bakal ada liburan yg ‘menyenangkan’ nih d bali*yadong mode on*hehe

    oen,tunggu y karya” kamu yg lebih daebak lagi!!!
    hwaiting!!!!

    • hahaha…. sukur deh klo Eon PUAASS!! *ala2 Tukul*
      Aiiisshh… eon! jangan gitu nah… aku pan jadi MUPENG :p

      Ne Eon, skrg lagi cuti nasional dulu gara2 ada SS4INA kkkk

  15. ok deh,,,oen pasti ttp setia nunggu ff kamu yg lain🙂
    iya nih,lagi pada nge-galau gr” SS4INA,hiks,,,
    saeng nonton????
    oen,pengen nonton tapi apa daya,,,,padahal pengen liat eunhyuk ma hae,,,,

    • Ne~
      Nonton Eon, tapi lewat TL Twitter kkkk #Gubraks
      Gak ada duit plus jauh Eon, apalagi sibuk kerja gak ada libur… jadilah gak bisa nonton kkkk

      Sama Eon! Haeee!!! >,<

  16. FIN?!
    Aisss.. *ngerucutin bibir* cepat amau T,T
    tatap aja ye’ si Ikan, klo udah ngeluarin jurusnya maut(?)nya bisa bikin melayang..wowowowww!!!

    Ide pencitraannya kereen abiss, SUKA BANGETTT *cubit pipi author* ck! *digolokin* -,-

    Abis baca ff ini aku sepertinya bkal jatuh pada si Ikan Mokpo itu *dipelototin Eunhee* hihihi… *nyengir setan*🙂

    cerita cinta lama di gabung dgn cerita cinta sekrg, yg begini nih tipe2 ff yg kusuka. Wajib di beri jempol *TOP-lah*

    feelnya dapet lagi, kebetulan juga akhir2 ini lagi galau tingkat akut *apadeh* , gitu dulu deh🙂
    aku cari ff yg lainya untuk di baca ..

  17. finally happy ending, masalah mereka berdua akhirnya terselesaikan dan Donghwa oppa jg menyadari kesalahannya selama ini. So sweet Eunhee and Donghae oppa. Great love story

  18. Eonni mian baru bisa RCL dipart terakhir abisnya keasikan baca >,,< tapi endingnya sesuai harapan HAPPY ENDING^^ aku sukaaaaaa.

    Akh ne lupa, aku reader baru disini eonn, setelah ngubek-ngubek (?) Digoogle ketemulah blog eonni dan diribrary eonni bauanyak banget ff dan aku nemu ff ini deh kekkeke~ akh ne kenalin ressa annisa imnida eonn..

    Aku lanjut baca karya eonni selabjutnya ne masih banyak pr buat baca ff eonni y ab g buanyak itu kekeke*ngilang bareng donghae oppa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s