STORM -EunHae Couple- [Part 3]

Part 3

 

 

 

 

-Tra Palace Apartment-

“Aku… atau Donghwa Hyeong?” Donghae sendiri merasa bodoh mengapa ia menanyakan hal semacam itu pada Eunhee, padahal sudah jelas Eunhee adalah istrinya dan ia memiliki hak penuh atas wanita itu. Namun melihat ekspresi Eunhee yang tampak tak peduli terhadap pertengkarannya dengan Donghwa tadi, membuatnya tak bisa menahan pertanyaan itu di tenggorokan saja.

Eunhee sendiri cukup terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan Donghae, hingga untuk beberapa saat ekspresi datarnya pecah. Tapi sekali lagi, ia mampu mengembalikan ekspresinya kembali tenang. “Jadi, sekarang kau membebaskanku untuk memilih, Donghae-sshi?” Eunhee menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyum getir.

“Bukankah itu yang kau inginkan?” Donghae membalas pertanyaan Eunhee dengan menantangnya. Ia sendiri sadar kalau pertanyaannya itu akan semakin memperkeruh suasana, namun sekali lagi, emosinya sudah terpancing. Hingga Donghae tak sanggup lagi menahan ucapan yang akan ia lontarkan.

“Ya, memang itu yang kuinginkan Donghae-sshi. Syukurlah kau akhirnya sadar,” Eunhee berbohong. Wanita itu berusaha menarik sudut bibirnya membentuk senyuman, walau kini keadaan hatinya jauh dari kata senang. “Kurasa kau sudah tau siapa pilihanku.” Wanita itu melanjutkan, masih dengan nada datar seperti sebelumnya. Walau kini hatinya terasa sakit bagai diremas kuat, Donghae hanya bisa diam, menanti jawaban apa yang akan diberikan Eunhee. “Aku tidak akan memberatkanmu Donghae-sshi, kalau kau memang ingin lepas dariku. Aku tidak akan—“

“Aku menyuruhmu memilih. Bukan berarti aku ingin menyingkirkanmu!” sela Donghae cepat, merasa Eunhee mulai salah paham terhadap maksudnya.

Eunhee tertawa hambar lalu menantang tatapan mata Donghae dengan pandangan meremehkan. “Kalau begitu, kenapa kau masih bertanya Lee Donghae-sshi? Bukankah itu artinya, kau tak ingin ada yang mengganggu hubunganmu dengan Son Eun—“

“Jangan memutarbalikkan pembicaraan!!!” Donghae kembali memotong kalimat Eunhee kedua tangannya kini mencengkram kuat kedua bahu Eunhee dan mengguncang tubuh wanita itu sedikit keras, “Saat ini kita sedang membahas tentang Donghwa Hyeong. Itu sama sekali tak ada hubungannya dengan Eunseo.”

“KAU EGOIS!!!” Eunhee menjerit frustasi, wanita itu meninju dada bidang Donghae bertubi-tubi. Pertahanannya pecah mendengar cara Donghae menyebut nama wanita itu. Entah mengapa Eunhee merasa cara Donghae menyebut nama aktris itu terdengar begitu akrab dan istimewa. Hal itu mengundang air mata Eunhee yang memang sudah mendesak untuk dikeluarkan. “Kalau kau boleh menuntut tentang Donghwa Oppa, lalu kenapa aku tak boleh menuntut tentang wanita itu?” balas Eunhee berang, “Sekarang bagaimana kalau aku yang memintamu memilih antara aku dan wanita itu?”

Dengan kecepatan yang tak terbayangkan Donghae menarik tubuh Eunhee ke dalam pelukannya. Mendekap tubuh ramping itu dengan posesif. “Tentu saja aku akan memilihmu. Kau sudah tau itu,” desis Donghae pelan.

Eunhee menegang. Aliran hangat terasa begitu nyata di sudut hatinya. Namun egonya masih begitu kuat ketika mengingat adegan kemesraan Donghae dengan sang aktris, hingga detik berikutnya wanita itu kembali mendorong tubuh Donghae menjauh. “Kalau memang begitu, kenapa kau mengikuti acara konyol semacam itu?”

“Eunhee-a, aku sudah bilang padamu. Aku tak bisa menolaknya. Kau—“

“Dulu kau bilang semua kabar burung yang menyatakan bahwa kau akan mengikuti acara itu tidak benar. Kau juga bilang bahwa kau akan meminta ijinku dulu sebelum bermain di acara tersebut. Tapi kenapa? Kenapa kau tak mengatakannya padaku? Kau tau Lee Donghae-sshi? Aku merasa dikhianati. Kau…” Eunhee tak sanggup lagi melanjutkan kalimatnya, karena kini rasa sesak kembali melandanya. Tenggorokannya tercekat seolah ada yang akan meledak jika terpancing dengan satu sentuhan pelan. “Aku menyesal tak memilih Donghwa Oppa!” tambahnya lirih sebelum akhirnya membalik tubuh dan menutup pintu kamar dengan bunyi berdebam keras.

Donghae terhenyak. Jantungnya berdenyut sakit. Rasa bersalah sekaligus penyesalan menguasai dirinya. Ucapan Eunhee di akhir kalimatnya membuat rasa sesak menguasai dirinya hingga Donghae tak kuasa menahan air matanya yang mulai menganak sungai. “Jadi… apakah itu artinya kau lebih memilih Donghwa Hyeong?” lirih Donghae lebih pada dirinya sendiri sambil mengacak rambutnya frustasi, “Harusnya aku tak pernah mengikuti acara semacam ini!” keluhnya penuh penyesalan. Dialihkannya tatapannya pada pintu kamar yang tertutup rapat dan menggedornya kuat-kuat, “Hee… kumohon buka pintunya!” tapi tetap tak ada jawaban dari dalam.

 

——————————–

Donghae terbangun ketika mendengar suara Eunhee di kamar mandi. Wanita itu terdengar sedang muntah-muntah dan berikutnya ada bunyi keran air yang diputar. Donghae tertidur di sofa ruang kerja yang terletak tepat di depan kamarnya dan Eunhee, setelah hampir semalaman ia menangis dan menyesali perbuatannya. Buru-buru ia bangun dari posisi setengah tidurnya dan melangkah cepat ke depan pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Samar-samar, ia masih bisa mendengar suara Eunhee yang sedang muntah di dalam. Ekspresi khawatir tergambar jelas di wajahnya yang kusut. “Hee, gwaen—“

Ting Tong!!!

Suara bel memotong kalimat Donghae. Setengah enggan, ia melangkah menjauh dari depan pintu kamar mandi untuk melihat siapa tamu yang datang sepagi ini. Namun langkahnya terhenti di depan layar monitor yang menunjukkan seseorang yang begitu akrab sedang berdiri di depan pintu apartemennya.

“D-donghwa Hyeong!” Sebut Donghae tak percaya. Setelah apa yang mereka alami semalam. Pastilah Donghae merasa heran mendapati kakaknya itu masih berani menunjukkan diri di apartemennya. “Mungkinkah Eunhee…” Ia tersentak saat tiba-tiba sebuah tangan menyentuh layar monitor yang berfungsi untuk membuka pintu apartemen secara otomatis dan terhenyak mendapati wanita yang sangat dicintainya itu telah melangkah untuk menyambut kehadiran Donghwa. Dengan gerakan cepat, Donghae menahan lengan Eunhee yang hendak melangkah keluar. “Odigayo?” desis Donghae setengah tercekat. Emosi yang semalam berhasil dihalaunya, kembali meninggi.

Tanpa menjawab pertanyaan Donghae, Eunhee berusaha menepis cekalan tangan Donghae di lengannya. Namun sayangnya tak berhasil, justru cekalan itu semakin menguat. “Lepaskan aku!” jerit Eunhee tertahan.

“Kau tidak dengar apa yang dikatakan Eunhee?” Donghwa yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelah mereka ikut menimpali.

“Jangan ikut campur urusan kami!” sergah Donghae marah, ia kembali melempar tatapan tajamnya pada Eunhee dan bergumam tegas. “Aku tidak akan melepaskanmu!”

Eunhee mendengus keras, “Bukankah semalam kau menyuruhku memilih antara kau dan Donghwa Oppa. Lalu kenapa sekarang kau tak mau melepaskanku?” Walau merasa perih dengan ucapannya sendiri, Eunhee mencoba untuk menjaga nada bicaranya terdengar sedatar mungkin.

Sekali lagi Donghae terhenyak. Cekalan tangannya di lengan Eunhee seketika mengendur, seolah-olah tenaganya menguap begitu saja. Air mata yang sedari tadi ditahannya, kini mulai mengaburkan pandangannya. “Jadi… kau lebih memilih dia… daripada aku?” racau Donghae pilu. Hatinya benar-benar hancur. Tak ada lagi sisa kekuatan yang ia miliki, hingga dirinya harus berpegangan pada dinding di sebelahnya hanya untuk sekedar menyangga berat tubuhnya. Terlebih saat Eunhee memilih mengikuti egonya, meninggalkan Donghae dan memilih pergi bersama Donghwa.

Sementara di luar ruangan, hal yang sama terjadi pada Eunhee. Wanita itu menyentuh dada kirinya yang mendadak terasa nyeri karena jantungnya yang berdentum kuat. Pandangannya kabur, lalu sebutir air hangat mulai turun di pipi lembutnya. Eunhee menutup mulutnya dengan tangan untuk menyamarkan isakannya. Menghalau rasa sesak yang kini dirasakannya.

Sebenarnya ia meminta Donghwa datang pagi-pagi sekali untuk menemaninya memeriksakan diri ke Dokter kandungan. Tentu saja karena tak mungkin dirinya meminta Donghae menemani. Ia pun sama sekali tak bermaksud menyakiti hati Donghae, karena dipikirnya, Donghae belum bangun pada jam sepagi itu. Namun sekali lagi, setiap kali dirinya mengingat acara itu, emosinya muncul tiba-tiba, hingga membuat Eunhee tak bisa mengontrol ucapannya. “Hee… gwaenchanayo?” Eunhee bisa merasakan tepukan hangat Donghwa di bahu kanannya.

Eunhee menganggukkan kepalanya, walau kini dirinya jelas-jelas jauh dari kata baik-baik saja. Sekuat tenaga Eunhee menahan isakannya dengan menggigit kuat bibir bawahnya. Tapi sama sekali tak berhasil. Air hangat itu masih saja keluar dengan derasnya tanpa bisa ditahan. Melihat keadaan Eunhee begitu, Donghwa menarik tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Hatinya juga terasa perih mendapati seseorang yang sampai saat ini masih menempati tempat terbesar di hatinya itu terlihat menyedihkan. Tangan besarnya membelai punggung Eunhee lembut. Membiarkan wanita itu menumpahkan emosinya dengan menangis.

“Menangislah! Kalau hal itu membuatmu tenang,” bisik Donghwa lembut sambil memperkuat dekapannya pada tubuh Eunhee.

-SMent Building-

 

Donghae melangkah gontai memasuki lobby gedung SM Entertainment. Semangatnya seolah menguap bersama pertengkarannya dengan Eunhee pagi tadi. Tapi ia tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan yang sama sekali tak berujung. Kedatangannya ke gedung SM untuk mencari pengalihan dari semua masalah yang melandanya, walau hari ini ia sama sekali tak ada jadwal pekerjaan. “Hae, cepat kemarilah!” Donghae tersentak saat mendengar teriakan Leeteuk dari sisi kanan lobby. Leader Super Junior itu tampak panik dan melambai ke arah Donghae.

Khawatir terjadi sesuatu pada ‘Hyeong’nya itu, Donghae buru-buru berlari menghampirinya. “Wenniriya?” tanyanya bingung.

“Hyukkie…” Leeteuk tak melanjutkan kata-katanya, karena kini ia menutup mulutnya seolah tak sanggup mengatakan sesuatu yang begitu menyakitkan.

Ekspresi bingung sekaligus resah tergambar jelas di wajah Donghae. “Ada apa dengan Eunhyuk?” Donghae bertanya khawatir. Ia sama sekali tak ingin mendengar kabar buruk lain hari ini. Cukup sudah dengan memburuknya hubungannya dengan Eunhee, tak perlu ditambah lagi dengan hal buruk yang menyangkut sahabatnya itu. “Hyeong!” Donghae mengguncang tubuh Leeteuk khawatir. Air mata sudah kembali menggenangi sudut matanya ketika Leeteuk tak juga bersuara, tapi malah menutup seluruh wajahnya dengan tangan. “Hyeo—“

“APRIL MOP!!!”

Donghae terkejut lalu detik berikutnya ia memutar tubuhnya ke arah suara Eunhyuk juga Kyuhyun yang terkikik geli di belakangnya. “Terkejut, heh?” goda Eunhyuk sembari memamerkan senyum jenaka andalannya.

Donghae kembali memutar tubuhnya menghadap sang Leader, dan kini ia mendapati pria itu tengah menahan tawanya. “Sial!” desis Donghae sementara yang lainnya tertawa terbahak-bahak.

Mendengar tawa sahabat-sahabatnya, membuat hati Donghae menghangat. Tanpa sadar, senyumnya terbentuk dan detik berikutnya ia sudah memeluk sahabat-sahabatnya itu satu per satu, hingga ketiga orang itu berhenti tertawa seketika.

Seandainya… pertengkaranku dengan Eunhee pagi tadi hanya permainan April Mop saja, batin Donghae pilu.

——————————–

“Kau bertengkar dengan Eunhee lagi?” Eunhyuk mengulang kata-kata Donghae sekali lagi untuk meyakinkan apa yang didengarnya. Donghae telah menceritakan semua yang dialaminya pagi tadi pada ketiga sahabatnya itu. “Hyeong, apa tidak ada cara untuk menghentikan acara itu?” Eunhyuk bertanya pada Leeteuk yang sejak tadi hanya diam mendengarkan.

Pria itu menggeleng lemah, “Kesepakatan sudah dibuat, kontrak juga sudah ditandatangani,” jawab Leeteuk pasrah. “Aku pun tak menyangka kalau masalahnya akan serumit ini.”

“Kenapa Eunhee mendadak egois begitu?” Sambung Kyuhyun heran, lebih pada dirinya sendiri.

“Mungkinkah ini ada hubungannya dengan kehamilan Eunhee?” Leeteuk mencoba berargumen.

“Hmm… bisa jadi, karena setahuku. Wanita yang sedang hamil akan menjadi lebih sensitif. Emosinya labil karena pengaruh hormonal yang tidak menentu,” Kyuhyun mengamini pendapat Leeteuk dengan menyertakan analisisnya.

Eunhyuk menganggukkan kepalanya setuju sementara Donghae hanya menyimak sambil sesekali menyapukan tissue pada hidungnya yang kembali berair. Sejak bangun tidur tadi ia merasa ada yang salah dengan tenggorokannya, dan kini hidungnya mulai berair setelah sebelumnya bersin berturut-turut. Ia terkena flu karena tidur di sofa semalaman dan tidak mengenakan selimut. “Hatchiii!!!”

“Ya! cepat pakai maskermu! Aku tidak ingin tertular penyakitmu itu,” Eunhyuk mengangsurkan masker hitam yang tadi dipakai Donghae, “Sebentar lagi kita akan berlibur ke Paris, mana mau aku terkena penyakitmu itu,” tambahnya, “Hah… darimana sebenarnya kau mendapat penyakit itu?”

Leeteuk menjitak kepala Eunhyuk yang terus mengomel hingga pria berambut pirang itu mengaduh kesakitan. “Tenanglah Hae, aku akan mencoba bicara pada manajer Hyeong,” ungkap Leeteuk dan Donghae tersenyum miris mendengarnya.

“Harusnya mereka memilihku, dan bukannya Donghae sebagai pasangan Eunseo,” tiba-tiba Eunhyuk kembali bersuara.

“Kau ingin Yeonrin memakimu? Atau bahkan lebih parah lagi… meninggalkanmu?” celetuk Kyuhyun dengan seringai lebar di mulutnya.

“Aiishh… sialan kau!” Maki Eunhyuk kesal.

“Ah… sial!” Makian Leeteuk, mengalihkan perhatian ketiga orang itu.

Wenniriya Hyeong?” tanya Eunhyuk heran, mendapati Leeteuk memandangi ponselnya frustasi. Sejak tadi ia memang mendengar ponsel pria berlesung pipi itu tak hentinya berdering.

“Ponselku mati karena terlalu banyak panggilan dan pesan yang masuk.”

“HUH??!!” Eunhyuk, Kyuhyun dan Donghae berseru kompak.

-Tra Palace Apartment-

 

Dua hari berlalu semenjak pertengkaran itu terjadi dan dua hari pula suasana apartemen Donghae dan Eunhee terasa sunyi. Keduanya sibuk dengan dunianya masing-masing, seolah mereka adalah dua orang yang tinggal bersama tapi merasa asing satu sama lainnya. Kesibukan Donghae mempersiapkan SS4 Paris juga kesibukan Eunhee mempersiapkan pesta pertunangan sang sahabat semakin memutuskan komunikasi kedua anak manusia tersebut.

Pagi itu Eunhee bangun terlalu cepat. Hari ini ia harus berangkat lebih awal untuk mempersiapkan pesta pertunangan Ilwoo yang akan dihelat sore nanti. Melangkah cepat ke kamar mandi ketika dirinya merasakan desakan mual yang hampir setiap pagi selalu melanda. Dokter kandungannya memang memberi Eunhee beberapa macam obat dan vitamin untuk membantunya mengatasi serangan Morning Sick yang dialaminya. Namun, sama sekali tak bisa mencegah rasa mual yang selalu timbul setiap pagi menjelang.

Setelah memuntahkan hasratnya di wastafel, Eunhee keluar dari kamar mandi dengan maksud mengambil air minum di dapur. Tapi suara batuk yang samar-samar terdengar dari kamar lain di apartemen itu menghentikan langkah Eunhee. Sudah 3 hari ini mereka tak tidur satu kamar lagi. Eunhee tidur di kamar mereka, sementara Donghae di kamar lainnya yang diketahui Eunhee tak memiliki ranjang. Hanya sebuah mantrass tipis yang biasa digunakan Donghae untuk berolah raga di pagi hari. Sama sekali tak layak untuk dijadikan tempat tidur.

Rasa khawatir menyeruak di relung hati Eunhee. Walau kini hubungannya dengan Donghae tak seperti dulu, tapi rasa cintanya pada sang suami sama sekali tak berubah. Eunhee baru saja hendak melangkah menuju kamar yang ditempati Donghae ketika ponselnya berdering dan mengurungkan niatnya.

———————————–

Donghae terbatuk keras, ia menggulingkan tubuhnya ke sisi kanan ketika merasakan hidung sebelah kirinya terasa buntu. Flu yang melanda Donghae semakin parah, terlebih karena ia tidur di tempat yang tidak layak. Namun ia sama sekali tak ingin membuat Eunhee marah dengan memilih tidur di sisi sang istri. Karena sesuai saran teman-temannya, untuk sementara waktu, ia berusaha tak memancing amarah Eunhee. Mendiamkannya hingga amarah sang istri mereda. Berharap setelah itu, ia kembali dapat merasakan kasih sayang Eunhee seperti sedia kala.

Donghae bangkit duduk ketika melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. Hari ini ia akan bertolak ke Paris untuk melaksanakan konser SS4 di kota Mode tersebut. Walau ia ingin sekali mengajak Eunhee turut serta, tapi mengingat keadaannya saat ini, sudah barang tentu istrinya itu akan menolak permintaannya. Sial!, makinya dalam hati.

Merasa tenggorokannya serak, Donghae melangkah ke dapur untuk mengambil minuman guna melegakan tenggorokannya. Seperti biasa, ketika ia bangun suasana apartemen sudah sepi. Ia yakin bahwa Eunhee sudah pergi sejak pagi tadi. Pria tampan itu mendesah berat lalu mendudukkan dirinya di kursi meja makan tanpa semangat. Matanya menjelajah seluruh isi apartemen mungil itu, seolah tengah menyaksikan bayangan kemesraannya bersama Eunhee selama setahun mereka bersama sebagai pasangan suami istri.

Senyum terbentuk di sudut bibirnya ketika sebuah kenangan manis terlintas di kepalanya. Namun detik berikutnya senyum itu sirna ketika bayangan Donghwa muncul dan merebut paksa Eunhee dari dirinya. “Sial!” desisnya frustasi sembari meninju meja makan di hadapannya. Matanya menatap nanar melalui celah besar yang membatasi ruang makan dengan dapur. Dapur adalah tempat di mana Eunhee sering menghabiskan waktu senggangnya, dan di dapur itu pula banyak sekali kenangan kebersamaannya bersama sang istri. Tapi kini dapur itu seolah kehilangan pesonanya di mata Donghae. Tak ada lagi sosok sang istri di sana. Hanya sebuah surat kecil yang biasa tertempel di pintu lemari es yang hampir setiap hari membuat Donghae jengah karena kabar yang disampaikannya. Malas berdiam diri di tempat itu, Donghae memilih untuk bersiap-siap sebelum sang manajer menelponnya untuk mengingatkan keberangkatannya ke Paris.

T-shirt V-neck putih favoritnya, celana olah raga hitam dilengkapi dengan jaket biru pekat dan ransel Prada berwarna beige, menyempurnakan penampilan Donghae hari ini. Tak lupa sebuah masker hitam yang hampir beberapa hari ini selalu menghiasi setiap penampilannya. Ia tak ingin menulari teman-teman maupun rekan kerjanya dengan flu yang dideritanya.

Ketika mampir ke dapur untuk meminum segelas air dari botol minuman, mata Donghae tak sengaja menangkap kata yang tertulis pada kertas yang tertempel di sisi lemari es.

Minumlah sari lemon bercampur ginseng hangat yang sudah kusiapkan di meja makan. Minuman itu cukup untuk meningkatkan daya tahan dan menyembuhkan flu yang kau derita.

 

                                                                                                Eunhee

Donghae tertegun untuk sesaat. Hatinya menghangat mengetahui sang istri masih memberikan perhatian lebih padanya. Tanpa menunggu lama, ia menyingkap penutup meja makan dan menemukan segelas minuman berwarna kuning pekat, walau kini minuman itu tak lagi hangat seperti sedia kala. Senyum kembali terbentuk di bibir tipis Donghae. Diraihnya gelas itu dan menyapukan jemarinya di sepanjang permukaan gelas seolah-olah benda itu adalah sesuatu yang sangat berharga baginya.

Selama beberapa menit, Donghae hanya memandangi gelas itu. Tak ada niat sama sekali untuk meminum isinya. Kenyataan bahwa sang istri masih begitu perhatian padanya, terasa lebih berharga bagi dirinya saat ini. Sebuah panggilan di ponselnya, akhirnya membuyarkan lamunan panjang Donghae.

“Ne, Hyeong. Aku akan berangkat sesaat lagi,” balasnya pada suara sang manajer di seberang. Setelah menutup sambungan telepon, dengan sekali gerakan tegas, Donghae meneguk isi gelas itu hingga tandas.

 

-Incheon Airport-

Donghae mengumpat kesal. Sudah tak terhitung dirinya berusaha menghubungi ponsel Eunhee sejak berangkat tadi. Telepon itu memang tersambung pada ponsel Eunhee, tapi yang membuat Donghae kesal, Eunhee sama sekali tak mengangkat teleponnya. Senyum yang semula terbentuk di bibirnya, kembali hilang menyadari sang istri sama sekali tak mempedulikan teleponnya.

“Hee, kumohon angkatlah! Sebentar lagi pesawat akan take off,” desis Donghae kesal sembari melirik arloji hitam yang melingkari pergelangan tangannya.

 

“Hae, ayo cepat!” Eunhyuk melambaikan tangannya meminta Donghae untuk segera mengantre di depan gerbang pemeriksaan tiket dan paspor ke terminal keberangkatan.

 

-Oakwood Premier Coex Center-

Beberapa orang tengah sibuk berlalu-lalang mempersiapkan ruangan pertemuan di Coex center itu menjadi tempat pesta pertunangan yang indah. Dinding yang didominasi korden berwarna pastel dengan campuran coklat pekat. Menimbulkan kesan lembut sekaligus megah. Beberapa buket bunga diletakkan di sudut ruangan, untuk memperindah tatanan ruang berluas 300 meter persegi itu.

Eunhee yang tiba-tiba merasa lelah dan pusing memutuskan untuk mengistirahatkan diri untuk sejenak di kursi yang terletak di dekat jendela besar yang menampilkan pemandangan siang hari kota Seoul yang cukup padat. Wanita cantik itu meraih tas tangannya dan tertegun saat mendapati beberapa panggilan tak terjawab dari nomor ponsel sang suami. “Apa yang terjadi padanya hingga menelponku berulangkali seperti ini?” gumam Eunhee bingung, apalagi saat mengingat hubungannya dengan Donghae akhir-akhir ini, yang sama sekali tak menunjukkan perbaikan.

 

Baru saja ia akan meletakkan ponsel itu di tas tangannya, ketika sebuah panggilan lain masuk. Eunhee menatap ragu ponselnya selama beberapa saat. Keinginan untuk mengangkat telepon itu begitu besar, namun pertahanan dirinya pun tak kalah tinggi. Hingga selama beberapa menit, Eunhee hanya terdiam memandangi layar ponselnya sampai deringan itu tak terdengar lagi. “Minum?”

Eunhee tersentak dan buru-buru mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel ke asal suara di hadapannya. “Eoh… Ilwoo-a, aku tak minum kopi untuk saat ini,” tolaknya sopan sembari memaksakan senyum terbaiknya untuk sang sahabat.

Ilwoo tersenyum prihatin. Sadar, akan isi hati Eunhee yang sampai saat ini masih saja diliputi awan mendung. “Baiklah, sepertinya kopi memang tak terlalu baik untuk seorang Ibu hamil,” gurau Ilwoo mencoba mencairkan suasana.

“Yeah, kau benar,” Eunhee melemparkan pandangannya pada jalanan padat kota Seoul di jendela besar itu. Matanya menerawang jauh. Memikirkan nasib pernikahannya yang sedang di ujung tanduk.

-Paris, Perancis-

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam menggunakan pesawat, rombongan Super Junior yang terdiri dari Eunhyuk, Leeteuk, Yesung dan Donghae sampai di kota Mode terkenal di dunia itu. Keempat member Suju beserta para kru yang menemani, langsung menuju sebuah hotel bintang lima tempat mereka menginap selama beberapa hari ke depan.

Donghae yang sekamar dengan sahabatnya, Eunhyuk, langsung merebahkan tubuhnya saat mendapati kasur empuk di hadapannya. Sejak perjalanan tadi, Donghae hanya diam dan sesekali mengikuti saran Eunhyuk mengambil selca untuk dishare melalui akun twitternya. “Ya! berhenti bersedih!” tegur Eunhyuk yang tiba-tiba muncul di sebelah Donghae. “Aku lapar, bagaimana kalau kita makan?”

Donghae mendesah lelah, ia sama sekali tak memiliki semangat hanya untuk membuka mulutnya dan membalas ajakan Eunhyuk. “Kau pergi saja, aku tidak lapar,” tolaknya lirih.

“Aiishh… bukankah pagi tadi kau bilang, kalau Eunhee tak benar-benar marah padamu. Lalu kenapa sekarang kau tampak sedih begini?” keluh Eunhyuk kesal.

Mengacak rambutnya frustasi, Donghae bangkit dari posisi tidurnya. “Aku tak bisa menghubunginya. Ia tak mengangkat telponku sejak tadi,” gerutu Donghae.

“Bisa saja karena dia sibuk,” Eunhyuk mencoba menghibur Donghae. “Ayolah Hae, Teukie Hyeong dan Yesung Hyeong sudah menunggu kita di bawah.” Setengah terpaksa, akhirnya Donghae mengikuti saran Eunhyuk untuk makan malam bersama mereka.

—————————–

“Hae, ada kabar baik!” Donghae tersentak saat mendengar gumaman Leeteuk di sela-sela rehearsal konser mereka.

Kerutan di kening Donghae terbentuk sempurna menyaksikan ekspresi wajah Leeteuk di sampingnya. “Kabar baik?” ulangnya bingung.

Leeteuk mengambil posisi duduk di samping Donghae dan mulai mengungkapkan berita yang baru saja didapatnya dari sang manajer. “Sebenarnya ini berita yang buruk untukku, tapi baik untukmu,” kerutan di kening Donghae semakin bertambah mendengar ucapan sang leader grup itu.

“Jangan membuatku semakin bingung Hyeong,” sergah Donghae.

Leeteuk tersenyum, lalu menyentuh bahu Donghae lembut. “Manajer Hyeong bilang, kalau untuk sementara waktu penayangan reality Show yang kita mainkan itu akan tertunda. Atau bahkan mungkin, terancam tak bisa berlanjut karena terbentur perselisihan antara pihak penyelenggara dengan pihak stasiun TV. Bahkan, pihak stasiun TV sudah me…”

Donghae tak lagi mendengarkan penjelasan Leeteuk, karena kini ia telah beranjak dari posisi duduknya dan buru-buru menghampiri sang manajer untuk memastikan kabar yang diberitakan Leeteuk tadi. Bukan karena ia tak percaya pada perkataan Leeteuk, tapi ia hanya ingin memastikan kabar itu hingga benar-benar yakin.

-Tra Palace Apartment-

“Hee, sepertinya kalau ditambah beberapa iris tomat akan terasa lebih segar?” Eunhee mengalihkan perhatiannya dari masakan buatannya pada wajah tampan Donghwa.

Seperti biasa, hari ini Donghwa kembali mengunjungi apartemen Eunhee. Semenjak kepergian Donghae ke Paris dua hari yang lalu, Donghwa memang tak pernah absen mengunjungi Eunhee setiap harinya. Walau hanya untuk memasak dan makan bersama. “Hmm… sepertinya begitu,” setuju Eunhee lalu membuka kulkas untuk mengambil beberapa buah tomat segar. “Ah, sebentar. Aku ke kamar mandi dulu,” Eunhee melepas celemeknya ketika merasakan dorongan buang air kecil.

 

“Biar aku yang memotong tomatnya,” tawar Donghwa lalu meraih pisau di counter yang tadi diletakkan Eunhee.

Sepeninggal wanita itu, Donghwa yang sudah terbiasa memasak sendiri, asyik memotong tomat-toman itu menjadi potongan kecil sambil bersenandung kecil. Tapi tiba-tiba ia terganggu oleh deringan ponsel Eunhee yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri. Penasaran karena tampaknya deringan ponsel itu tak mau berhenti sejak tadi, Donghwa melangkah cepat menghampiri benda persegi panjang itu berada. Pria itu tertegun untuk sejenak ketika membaca nama yang tertera di layar ponsel Eunhee.

Nae Wangja?!” Senyum getir terbentuk di bibir Donghwa ketika menyadari sebutan itu adalah sebutan yang dilayangkan Eunhee untuk sang suami. Tanpa menunggu lama, Donghwa meraih ponsel samsung putih itu dan menekan tombol hijau. Perlahan, ia mendekatkan ponsel itu ke telinganya.

“Hee? aku punya kabar gembira untukmu. Tapi kenapa kau tak segera mengangkat telponku. Bahkan sebelum berangkat ke Paris beberapa hari yang lalu, aku beberapa kali menelponmu. Tapi kau malah tak mengangkatnya,” cerocos Donghae tanpa jeda dari seberang. “Hee? Kau masih di sana?” tanyanya ketika tak mendengar jawaban apapun.

“Eunhee sedang di kamar mandi, kalau kau ingin me—“

“Hyeong?!” potong Donghae cepat sebelum sempat Donghwa menyelesaikan kalimatnya lalu detik berikutnya, sambungan telpon terputus.

-Paris, Perancis-

Donghae melempar ponselnya ke tempat tidur dan menggeram kesal hingga mengagetkan Eunhyuk yang baru saja masuk ke kamar setelah sebelumnya mengantar Yeonrin ke kamarnya. Sang istri sengaja menyusul Eunhyuk tepat di hari ulang tahunnya—sengaja memberikan kejutan. Wanita cantik itu jauh-jauh datang ditemani Jiae, untuk merayakan ulang tahun sang suami yang jatuh pada tanggal 4 April beberapa hari yang lalu.

Wenniriya Hae?” Eunhyuk buru-buru menghampiri Donghae khawatir lalu menepuk pundak temannya itu. Donghae mendudukkan diri di tempat tidur, menarik rambut lalu menutup wajahnya dengan tangan. Menggeram tertahan dan mulai menangis. Melihat tingkah Donghae, Eunhyuk menjadi semakin khawatir. Pria berambut pirang itu berjongkok di depan Donghae lalu mengguncang tubuh sang sahabat. “Hae?!”

“Semuanya berakhir, semuanya tak berguna lagi, usahaku sia-sia,” racau Donghae frustasi.

Eunhyuk semakin bingung. Ia meraih pundak Donghae dan bergumam pelan, “Jelaskan padaku ada apa? Bukankah semua masalahmu sudah ada titik terangnya?”

Donghae tersenyum masam lalu menatap nanar pada dinding kosong di depannya. “Titik terang? Apa gunanya semua itu kalau Eunhee sudah menentukan pilihannya pada orang lain?”

“Apa maksudmu Hae?” Eunhyuk yang memang tak mengerti arah pembicaraan Donghae, mengerutkan kening heran.

“Pergilah! Kau tak akan pernah mengerti!” usir Donghae kesal lalu menenggelamkan dirinya di balik tumpukan bantal dan selimut tebal.

-Seoul, 8 April 2012-

Hari ini rombongan Super Junior baru saja pulang dari konsernya di Paris pada tanggal 6-7 April lalu. Donghae yang hampir semalaman tak bisa tidur, tampak sangat kusut dengan kantung mata yang jelas terlihat di bawah mata indahnya. Pria itu tampak sama sekali tak bersemangat. Selain karena masalah yang kini membebani pikirannya, kondisi kesehatan pria tampan itu juga kembali memburuk. “Hae, kau yakin tak ingin kuantar?” Lee seunghwan, sang manajer Super Junior kembali menawarkan bantuan pada Donghae.

 

“Tidak usah Hyeong, aku akan naik taksi ke apartemen,” balas Donghae lirih lalu melambaikan tangannya pada pria yang hanya beberapa tahun lebih tua darinya itu.

——————————–

Eunhee menguap lebar-lebar dan berjalan dengan langkah terhuyung karena kantuk yang masih dirasakannya. Namun, karena dorongan keinginan memakan ddeokbokki, ia memilih menuruti hasratnya memasak makanan yang selama beberapa hari ini selalu ingin ia santap. Ketika hendak melangkah ke dapur, Eunhee tertegun mendapati sosok sang suami tengah tertidur di sofa ruang tengah dengan pakaian lengkap dan ransel yang dilempar sembarangan.

Ekspresi khawatir di wajah Eunhee semakin tampak jelas, ketika detik berikutnya dirinya mendengar Donghae terbatuk keras. Perlahan, dilangkahkannya kedua kakinya menuju sofa di mana Donghae berada. Menatap bisu wajah pucat Donghae yang tengah tertidur pulas dengan nafas teratur di hadapannya. Melihat cekungan hitam di bawah mata pria itu, membuat rasa sakit bercampur rasa bersalah menyeruak di relung hati Eunhee. “Apa ini karena aku?” lirihnya pilu lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh kening Donghae lembut. Setetes noktah bening muncul begitu saja saat merasakan suhu tubuh Donghae yang terasa menyengat di pori-pori kulitnya. “H-hae…” Eunhee mengguncang tubuh Donghae, rasa sesak kembali menyelimuti dirinya, seolah-olah tak ada lagi pasokan oksigen yang masuk ke dalam paru-parunya. “Hae… Irona!” desisnya sambil terus mengguncang tubuh Donghae keras dan semakin keras. “Mianhaeyo… Hae, mian—“

Eunhee menghentikan kalimatnya ketika melihat Donghae membuka sedikit kelopak matanya. Senyum di bibir tipis Donghae terbentuk sempurna ketika mendapati wajah cantik Eunhee berada tepat di depan matanya. Karena dorongan rasa rindu yang membuncah di sudut hatinya, detik berikutnya, pria tampan itu meraih tubuh Eunhee dan mendekapnya erat. Hingga kini, posisi Eunhee berada tepat di atas tubuhnya. Wanita itu menegang, namun detik berikutnya, tangisnya kembali pecah ketika mendengar racauan lirih Donghae yang menggumamkan, “Kalau ini hanya mimpi… aku berharap takkan pernah terbangun.”

Donghwa yang selama beberapa hari terakhir selalu rajin berkunjung dan akhirnya menghafal komposisi pin pintu apartemen Eunhee, menyesali keputusannya masuk tanpa seijin wanita itu. Jantungnya bagai diremas kuat ketika mendapati pemandangan menyakitkan di hadapannya. Sekelebat kisah masa lalu yang begitu memilukan, kembali timbul dalam ingatannya. Terputar dengan jelas di memori otaknya. Karena kini, rasa hati Donghwa mengalami semua itu untuk yang kedua kali. Atau bahkan mungkin, tak lagi terhitung jumlahnya.

TBC

Mianhae!!! klo hasilnya jelek dan gak sesuai harapan! Semoga gak ada yg kecewa yah… Jangan lupa tinggalkan komen kalian ^^

55 thoughts on “STORM -EunHae Couple- [Part 3]

  1. ehm, ehm,..

    yg lagi seneng,. hihihihi
    Bru tdi sore saeng dgr berita WGM tu ternyta langsung di msk.in di strom,..keren!
    acara konyol tu memang harus di musnahkan,..#plakk

    back to story,..

    Aigu satu kata yg tepat buat hae ‘poor’,..
    nyesek bgd pastinya,..
    hee lma” jahat jg, ego.a tinggi,..
    klian tu pasangan yg ska menitihkan air mata ya,..#eaaaa

    hohohoho, eonni masukin yeonrin n jiae lagi, bgs bgs,..#plakk

    kirain qta bakal melancong di paris dlu ternyata di lompat ma eonni,.. ~,~

    adgan trakhir sungguh dramatis,..
    “Kalau ini hanya mimpi… aku berharap takkan pernah terbangun.” eaaaaa

    dh dlu ya eon, ngantuk bgd, niat lanjutin SAL malah keasikan nyari fto kyu,..#plakk

    • hahaha… begitulah! aku denger berita itu dari 2 hari yg lalu. Pas pagi2 buka tweet. Langsung deh dapet pencerahan buat Storm. Apalagi emang aku mau bikin mereka baikan di Part ini. Makin kuat deh alesannya ihiiyy… Itulah JODOH! #Plakkk

      Mian, aku gak sempet ngejelasin jalan2 kalian di Paris kkkk… Moment-nya belum pas sih… ntar deh klo ada waktu, aku bikin acara liburan member Suju beserta istri tercinta #Eaaaa :p

  2. ini namanya sama2 nyiksa diri dan saling menyakiti
    baikan aja lah kan wgm jg uda putus kontrak tuh :p
    donghwa ttp aja cari kesempatan dlm kesempitan
    kasian bgt hae jdi terlantar gt
    sini sini sama aku aja deh *ditabok eunhee*
    kayanya bakal baikan deh nih
    kasian donghwa makin sakit hati aja tuh dia

  3. kyyyyaaaaaaaaaaa#stresss
    pling benci tuh sma tulisan TBC
    hah akhir’a nama tuh adjumma sarap disebut jg, dasar bawa sial ajj tuh ==
    hohoho jdi itu alasan’a hae pke masker, hae sakit’a bareng’n yah sma aq, oppa aq jg lg flu#gg nnya:p#

    semoga eunhae cpet baikan.. Nyesek tau liat hae gtu, ego’a hee harus di minimalisir.. Lgian itu acara laknat udh tewas.. Berkat doa dri smw orang yg merasa di sakiti(?)
    donghwa oppa jg gg usah dateng2 lg dehh..
    kkkkk

    #eeteuk oppa sms aq masuk kga
    fufufufu
    lgian siapa sruh nyebar2 no hp
    ajusshi payahh+,+

    next part tmbah piku2 hae’a ya:D
    annyeong

    • klo gak TBC, ntar gak seruu dong! #Slapped
      Errr… BTW, aku jg Flu nih ehm… :p

      Waduh… kasian Donghwa gak boleh dateng lagi. Dy kan sebenernya baik kkkkk #DilirikHae

      Tambah lagi? emang yg sekarang kurang banyak yah picku-nya? O.o

  4. Oh noooo ikan ku disiksa yaowohh😥 udah tkanan batin,,flu berat pula *usapin ingus hae* :p ngenes banget yak suami terlantar !! Duh eunhee bkin esmosi juga yaa,ego ibu2 hamil emang parahh !! Itu donghwa oppa gausa maen ke apartmen lg deh,gih cri istri sono #dibacok😀 Tapi keren loh bisa nyambung2in kejadian yg baru n yg nyataa..ikut hepih acara terkutuk itu ga dilanjutin asekkk *ciumhae kkk~

  5. Hueee!!!! Pas awalnya aku dah nyerah mw baca ni FF lagi! Eunhee nyebelin! *Plak* tapii pas akhir2nya ternyata Sweet🙂 ahha bagus koq! Suka bgt mudah2an mereka baikan beneran!

    • wkwkkwkwwk… awal2nya emang nyesek! aku yg bikin aja ampe nyesek sendiri. Tapi gk mungkinlah kubikin berkepanjangan. Udah bosen marahan terus. Kangen berat ama Hae #Eaaaa :p

  6. Galau galau u,u mwahahaha kasian Donghwa hyuuung sabarlah~~ daan kayaknya ini nggak bakal sad end yaaa? #plak secara saling nyiksa gitu iiiiiiiiiiiiiiiih gengsinya tebel amat udahlah kambek kambeeek!!!

    • hwahaha… begitulah San. Namanya juga FF Galau #Plakk
      Hmm… gak tau deh, tapi kayaknya klo sad end gak deh… secara ni FF EunHae Couple. Klo dibikin sad end, ntar aku gak bisa bikin FF EunHae Moment lagi donk #Alesan :p

  7. aku suka bgtttttt😀
    kasian donghwa, tp lebih kasian donghae😦
    hmmm balikin lagi rumah tangga mereka seperti dulu.. gak tega liat donghae selalu salah…😦

    aku tunggu onni lanjutannya🙂

  8. Hua ceritanya keren banget lah.. Aku suka marriage life story eh pa lg cast nya hae, terus rada angst gto, keren pokoknya!
    Hee eunhee jangan egois donk, kasian kan oppaku,
    ditunggu kelanjutan nya
    hwaiting!

  9. yak kenapa tbc??
    padahal tadi aku udah senyum-senyum lo ngeliat eunhee gitu sama donghae *penting gitu?😄
    kasian banget donghaenya unnie sampe sakit gitu, tidur di sofa lagi
    sini-sini tidur dikamar aku aja😀 *digantung eunhee
    oia si donghwa nyebelin ih ><

    gak mau tau pokoknya balikin EunHae couple kayak dulu lagi yah yah *kedipkedip mata
    oke ditunggu part selanjutnya ^^

  10. parahhhh….

    rasanya jadi sebel banget sama donghwa, padahal yaa…calon kakak ipar sendiri…#plakk

    ditunggu lanjutannya ^^

  11. haahhh,,,tarik napas dulu,,,nyesek deh liat tingkah hae ma eunhee sm” krs kepala,sm” egois,g da yg mau ngalah,,,,

    daebak deh saeng,kamu bner” bisa bikin emosi unnie naik turun bacanya🙂
    lanjut lagi,ke next part!!!

  12. hiaaaa, awalnya bikin nyesek setengah pingsan *eh?*, kata2 Hae bikin meleleh😄 *Kyu: mati dong!* #plakk

    si ajjushi itu, dia yg share no. Dia juga yg marah… *biasalah, ajjushi2 emang gitu* #evilsmirk *ditendangTeukkie*😄

    part ini benar2 nguras air mata airnya ya -,- *eh?* nih airnya udah seember *lebay deh*

    gitu dulu deh komen-nya, mau lanjut baca dulu. Hehe🙂

  13. imajinasi ku yg terlalu tinggi atau gimana ya ? Ini ff sperti ksah nyata bgt ! Sumfah, feel nya dpt bgt ! Deg deg an aku baca’a ! Nice ff🙂 tinggalin jejak dulu yah~

  14. Konfliknya benar2 nyata, di satu sisi sedih melihat keadaan Eunhee tapi Donghae oppa jg bergitu tersiksa dgn keadaan yg terjadi saat ini. Sebetulnya mereka berdua masih sangat2 saling mencintai, namun ego yg menutupinya. Please Donghwa oppa mundur ya, kan kasihan sebetulnya Donghae oppa dan Eunhee masing saling mencintai, drpd ia merasa tersakiti seperti dulu lagi sebaiknya ia mundur. Great love story.

  15. Hee egois bgt kasian hae oppa,apa wanita hamil sesesitif ini?apa salahnya singkirkan keegoisan dan apa ga bisa bicara baik2,toh semuanya bisa diselesaikan baik2.kasian hae oppa sampai sakit kaya gitu

  16. hy
    salam kenal
    aq pmbaca baru nih

    malu deh baru tau
    btw writernya sukses bkin aq nangis
    jdi kecanduan baca ff di blog ini deh

    ganbate deh bwt writernya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s