STORM -EunHae Couple- [Part 2]

Part 2

 

 

 

-Mokpo, Desember 2005-

“Myoci, hey… kau mau ke mana?” Seorang gadis dengan rambut acak-acakan sehabis bangun tidur berlari-lari kecil mengejar seekor kucing berwarna coklat dengan belang-belang hitam di hadapannya. Tapi tiba-tiba gadis itu tampak gelisah saat tak menemukan keberadaan kucing kesayangannya tadi, karena si kucing berlari dengan gesitnya masuk ke dalam semak-semak taman samping rumahnya. “Aiishh… dasar nakal! Awas nanti kalau ketemu,” gerutu gadis itu kesal.

Ia terus mencari ke sana ke mari, tapi tak juga menemukan hasil. Dan hal itu cukup untuk membuat emosinya semakin memuncak. “Kau mencari apa?” sebuah suara yang berasal dari sebelah kanannya mengusik perhatian gadis itu.

“Oh, Donghae-a… apa kau melihat kucingku?” tanya gadis itu saat mengenali sosok pria yang memanggilnya. 

Pria bernama Donghae itu berdiri dari posisi jongkoknya dengan menggendong seekor kucing yang tadi dicari si gadis, “Kucing ini?” 

Desah lega terdengar dari mulut gadis itu dan detik berikutnya, kucing coklat itu sudah berpindah dalam pelukannya. “Aiishh… dia memang nakal! Menyusahkan saja! Gomawoyo Donghae-a,” gumam si gadis penuh syukur. 

“Ya! usiaku lebih tua darimu, kenapa kau tidak sopan begitu padaku, he?” protes Donghae sembari menggerutu.

Gadis itu tertawa lebar, “Ah, kau ini. Kita sama-sama adik Donghwa Oppa, itu artinya… tak masalah bagiku memanggil namamu.”

“Aiiisshh… kau diskriminatif sekali. Atas dasar apa kau membuat teori seperti itu?” Donghae berusaha menampakkan wajah kesal untuk menggoda gadis cantik di hadapannya.

“Atas dasar fakta yang menyatakan bahwa kau adalah anak manja,” Gadis itu menjulurkan lidahnya dan berlari menghindari Donghae yang mulai mengutuk-ngutuk marah hendak memukul gadis itu.

“Ya! Eunhee-a, awas kau!” serunya lantang sambil terus mengejar si gadis yang terus saja berlari menghindar. “Jangan percayai apa kata Donghwa Hyeong, dia hanya berbohong soal sifat manjaku,” ungkap Donghae sembari terengah dan berusaha mengatur nafasnya yang masih satu-satu. 

Eunhee yang masih berlari sambil tertawa tak begitu awas dengan kondisi sekitarnya, hingga ia hampir saja tertabrak pick-up yang tengah melintas di jalanan depan rumahnya. Beruntung Donghae dengan sigap menarik lengan Eunhee dan detik berikutnya gadis itu sudah berada dalam dekapan Donghae. Kucing yang tadi digendongnya melompat begitu saja hingga menyisakan dirinya dan Donghae yang kini berdiri tanpa jarak apapun kecuali pakaian yang mereka gunakan saat ini.

Tanpa bisa dicegah, jantung Eunhee berdentum keras. Memompa darah lebih cepat hingga menimbulkan desiran hangat di sudut hatinya. Eunhee bisa merasakan deruan nafas hangat Donghae menyapu keningnya juga aroma parfum bercampur bau keringat pria itu menusuk indera penciumannya. Sadar akan posisinya yang terlalu intim dengan pria tampan itu, Eunhee buru-buru melepaskan dekapan Donghae. Eunhee menunduk, berusaha menyembunyikan pipinya yang memerah karena malu. Baru kali ini dirinya mendapat perlakuan seperti itu dari seorang pria dan hal itu membuatnya kelimpungan. “Go-gomawoyo Donghae-a,” gumamnya lirih sembari membungkuk. Namun belum sempat Donghae membalas ucapannya, Eunhee sudah berlari menuju rumah, meninggalkan Donghae seorang diri.

 

 

-Tra Palace Apartment, Maret 2012-

 

Eunhee membiarkan semilir angin malam membelai rambut hitam panjangnya. Wanita itu menghela nafas berat secara dramatis ketika kejadian pagi tadi kembali melintas dalam benaknya. Kejadian yang membuat dada Eunhee sesak dan hampir saja melimbungkan pertahanannya yang sekuat tenaga ia jaga selama beberapa hari terakhir.

————————————-

“Apa yang kau lakukan dengan Donghwa Hyeong?” desis Donghae tajam setelah menarik tubuh ramping Eunhee masuk ke basement gedung kantornya. “Pagi-pagi sekali kau keluar dari apartemen untuk menemuinya?” tuduhnya tanpa ampun.

Eunhee tersenyum masam, walau sebenarnya hatinya benar-benar hancur. Ia sadar bahwa Donghae telah dikuasai amarah kali ini, namun ia sama sekali tak ada niat untuk mengoreksi tuduhan suaminya itu, “Kau cemburu padanya Lee Donghae-sshi?”

“Apa kau masih perlu bertanya?” sembur Donghae marah. Ia meremas kedua bahu Eunhee hingga wanita itu tak dapat lagi melepaskan diri. “Aku tidak suka melihatmu pergi berdua bersamanya. Tidak, bukan hanya tak suka, tapi sangat-sangat membenci kenyataan itu.”

“Tapi dia kakakmu!” bantah Eunhee, “Kakak iparku juga.”

“Bukan begitu cara seorang kakak ipar memandang adik iparnya,” Donghae mulai berargumen, “Aku sangat mengenal kakakku, dan aku sangat yakin kalau dia masih menyimpan perasaan padamu.”

“Terserah!” sergah Eunhee lalu berusaha menepis cengkraman tangan Donghae di bahunya. “Lepaskan aku Donghae-sshi, atasanku akan marah kalau aku tak segera muncul di kantor.” Donghae bergeming dan menatap lurus mata Eunhee hingga gadis itu tak sanggup lagi melawan tatapan mata Donghae yang begitu tajam. “Donghae-sshi,” desis Eunhee sekali lagi.

“Hae,” koreksi Donghae.

“Donghae-sshi—“

“Hae!”

“Dong—“

“HAE!!!” jerit Donghae frustasi membuat Eunhee bungkam dan hanya bisa menundukkan kepalanya. “Kau istriku, bukan seorang wanita atau rekan kerjaku yang baru saja kukenal. Jadi berhenti memanggilku begitu.”

Eunhee mendengus, “Aku bukan istrimu. Berhati-hatilah kalau bicara. Bisa saja ada yang menguping pembicaraan kita.”

Donghae tertegun. Setidaknya ia merasa ada kebenaran dalam kata-kata Eunhee. Ini bukan di rumah mereka, hingga ia tak bisa dengan leluasa mengakui Eunhee sebagai istrinya. Belum lagi kalau sampai ada wartawan yang memergoki mereka. “Hee—“ 

“Lepaskan aku!” Eunhee kembali menepis cengkraman Donghae dan kali ini berhasil karena Donghae sudah mulai mengendurkan cengkramannya. 

“Sekali lagi kuperingatkan Hee, aku tak ingin melihatmu berduaan lagi dengan Donghwa Hyeong. Kalau dulu, mungkin aku akan mencoba merelakan kalian. Tapi sekarang keadaannya lain. Kau istriku, dan kau adalah milikku. Aku tak akan mungkin merelakanmu untuk orang lain,” Donghae mengancam dengan nada yang cukup tegas.

“Kalau begitu, kau pikir aku rela kau bersama wanita lain? Kau pikir aku rela kau menyematkan status istri pada wanita lain? Kau pikir aku rela kau bermesraan dan menunjukkan kemesraanmu dengan gadis lain di mata publik?” Kali ini pertahanan diri Eunhee benar-benar hancur. Segala sesuatu yang selama beberapa hari ini ia pendam dalam-dalam di lubuk hatinya, keluar begitu saja seiring dengan meningkatnya amarah di dalam dirinya.

Melihat Eunhee menangis, Donghae tak dapat lagi menahan diri untuk tak memeluknya. Ditariknya tubuh ramping Eunhee ke dalam pelukan hangatnya, walau wanita itu masih berusaha sekuat tenaga untuk berontak terhadap perlakuan Donghae. “Ya, menangislah Hee. Marahilah aku, kalau perlu pukul saja aku kalau itu bisa memuaskan kekesalanmu padaku,” Donghae mulai meracau sambil terus mendekap erat tubuh Eunhee yang terus berontak. 

Mendengar racauan Donghae itu, Eunhee buru-buru menghentikan tangisnya. Kembali lagi ia berusaha menyembunyikan perasaannya yang hancur lebur demi harga diri yang ia jaga selama ini. Dihalaunya emosinya ke tingkat paling rendah dan mulai bergumam pelan, “Tidak, aku tak akan melakukan semua itu. Aku tak akan bertingkah sebagai istri tak tau diri dengan memarahimu atau memukulmu. Aku sadar kalau kau bukan milikku seorang. Karena kau adalah Idola publik yang harus menjaga imej kehidupanmu demi kebaikan karirmu. Aku tidak akan marah karena kau mengikuti acara itu. Aku tidak ingin menjadi istri yang membatasimu melakukan kegiatanmu sebagai idola. Tapi kau pun tak bisa melarangku untuk bersikap sesuai mauku.”

Donghae melepaskan dekapannya dan menatap Eunhee bingung, “M-maksudmu… aku harus merelakanmu bersikap kaku padaku?” desis Donghae tak percaya, “Kau gila?” 

Eunhee menyeka air mata dengan punggung tangannya lalu sekuat tenaga menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis yang tak sepenuhnya berhasil, “Sampai jumpa lagi, Donghae-sshi.”

“Eunhee-a! Ya!” Donghae memukulkan tinjunya pada pilar besar yang berada di sebelahnya. Tak peduli pada rasa sakit yang menusuk di tulang jarinya. Karena kini, sakit di hatinya terasa lebih dominan dari sekedar luka yang mungkin ditimbulkan dari aksinya tadi.

————————-

“Hee,” Eunhee tersentak dari lamunannya ketika mendengar suara Donghae di balik punggungnya dan sebelum sempat wanita itu memutar tubuh, Donghae telah melingkarkan lengannya pada pinggang ramping Eunhee lalu menumpukan kepalanya yang berat pada bahu kanan Eunhee.

Wanita itu tertegun, tak dapat lagi menghalau debaran keras di dadanya ketika hangat dan aroma tubuh seseorang yang sangat ia rindukan kembali terasa olehnya. Walau Donghae sudah pulang sejak beberapa hari yang lalu dari konsernya di Bangkok. Tapi tak pernah sekalipun Eunhee merasakan kehangatan semacam ini semenjak ia memutuskan untuk menjauh dari Donghae. Sekuat tenaga menahan keinginannya untuk membalas dekapan Donghae, Eunhee bergumam dengan nada yang dibuatnya sedatar mungkin, “Aku akan menghangatkan makan malam, kau ganti pakaian dulu.” Tak ada jawaban dari Donghae, hanya dekapan pria itu yang semakin erat yang dapat dirasakan Eunhee. “Lee Donghae—“

“Aku tidak menginginkan makanan itu,” potong Donghae lirih, “Yang kuinginkan adalah dirimu.” Eunhee menegang. Sekali lagi jantungnya tak mau berkompromi dengan keinginan akalnya. Kata-kata pria itu memang selalu mampu meruntuhkan pertahanan diri Eunhee. Sekuat apapun ia mencoba membentengi diri untuk tak jatuh terlalu dalam, tapi tetap saja hal itu tak membuahkan hasil.

“Donghae-sshi,” jerit Eunhee tertahan ketika dengan kecepatan tak terduga, Donghae memutar tubuhnya hingga berdiri berhadapan dengan suaminya itu.

“Aku merindukanmu…” bisik Donghae lalu menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipi lembut Eunhee. Wanita itu memejamkan mata penuh antisipasi saat Donghae mendekatkan wajahnya dan membungkam bibir Eunhee lembut dengan bibirnya. Eunhee bisa merasakan kerja organ tubuhnya kembali bekerja tidak normal, namun sekuat tenaga ia menahan diri untuk tak membalas ciuman Donghae. Hingga selama beberapa detik, bibir mereka hanya menempel tanpa melakukan apapun.

Setelah beberapa saat, Donghae melepaskan ciumannya. Ada ekspresi kecewa di wajahnya ketika menatap mata Eunhee. Istrinya hanya menanggapi perlakuannya dengan dingin. Seolah hanya dirinya yang menginginkan semua itu, dan hal tersebut memadamkan gejolak membara yang tadi dirasakannya.

“Aku akan menghangatkan makanan.” Merasakan dekapan suaminya melemah, Eunhee memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi dari hadapan Donghae. Ia sudah tak sanggup lagi menahan diri untuk tak menyurukkan diri dalam dekapan hangat sang suami. Betapapun rasa marah yang bersarang dalam dadanya, tetap saja ia tak akan mampu mengurangi kadar cinta yang ia rasakan untuk Donghae.

-Practice Room, SM Building-

 

Donghae meneguk air dalam botol minumnya hingga isinya tinggal separuh. Seharian ini ia dan teman-teman Super Junior berlatih untuk mempersiapkan SS4 Paris yang akan dilaksanakan beberapa hari yang akan datang. Untuk sejenak ia lupa akan masalah rumah tangganya dengan Eunhee. Namun saat istirahat begini, masalah itu kembali muncul dalam benaknya.

Setelah semalam berlalu dengan suasana sunyi seperti beberapa malam sebelumnya. Pagi tadi pun terasa begitu datar dan kaku. Ketika bangun tidur, Donghae hanya menemukan beberapa mangkuk makanan di meja makan. Lagi-lagi ia harus makan sendiri tanpa kehadiran sang istri. Tentu saja hal itu membuat Donghae malas untuk sekedar mencicipi masakan buatan Eunhee. Alhasil, kini perutnya berbunyi meminta untuk segera diisi. “Kau tidak sempat sarapan?” Eunhyuk yang tak sengaja mendengar nyanyian perut Donghae berkomentar dan Donghae hanya menggeleng mendengar pertanyaan Eunhyuk.

“Tumben sekali istrimu tidak… aww! Ya! kenapa kau mencubitku Hyuk?” Protes Shindong yang ikut menimpali pembicaraan mereka.

Eunhyuk tau masalah yang kini menimpa Donghae, karena sahabatnya itu tak pernah lupa untuk selalu mencurahkan isi hatinya pada Eunhyuk. “Bagaimana kalau kita makan di kantin saja. Yeonrin juga lupa tak membuatkanku bekal hari ini,” Eunhyuk mencoba berkelakar dengan tujuan menghibur Donghae. Tapi sahabatnya itu tetap bergeming, sibuk dengan pikirannya sendiri.

Shindong yang tak mengerti apa-apa, menyikut pinggang Eunhyuk meminta penjelasan. “Hai, kalian tidak ingin makan bekal yang dibawa Kyuhyun?” Terdengar teriakan Ryeowook dari salah satu sudut ruangan. Member yang terkenal jahil itu berusaha merebut kotak bekal milik Kyuhyun yang hari ini sengaja dibuatkan sang istri—Shin Jiae—untuknya.

“Yak! kembalikan!” desis Kyuhyun dengan tatapan Evilnya, sementara Ryeowook semakin jadi menggodanya, hingga beberapa member—Leeteuk, Sungmin dan Siwon—yang melihat kejadian itu ikut-ikutan membantu Ryeowook dalam rangka menggoda Kyuhyun.

Mencoba menarik perhatian Donghae, Eunhyuk menendang kaki pria yang sampai saat ini masih sibuk melamun seolah tak peduli dengan keributan di sekitarnya itu. “Ya! Hae, ayo kita rebut kotak itu juga,” cetusnya tapi Donghae hanya meliriknya sekilas—sama sekali tak tertarik—lalu kembali sibuk dengan pikirannya. Melihat tingkah sahabatnya itu, Eunhyuk menghela nafas frustasi.

“Sebaiknya diamkan saja, dia memang seperti itu kalau ada masalah,” komentar Yesung yang kini sudah berdiri hendak bergabung dengan beberapa member yang saling berebut di salah satu sisi ruangan.

Merasa komentar Yesung ada benarnya, Eunhyuk pun memilih tak ambil pusing dan ikut bergabung bersama teman-teman lainnya setelah sebelumnya menepuk pundak Donghae pelan, “Baiklah! Semoga masalahmu cepat selesai.”

Donghae bukannya tak tau dengan kekhawatiran temannya itu. Bahkan Leeteuk sudah berulang kali berusaha menghiburnya dan meminta Donghae bersabar. Tapi kali ini ia benar-benar sedang malas berinteraksi dengan siapa pun. Tak ada tenaga sedikit pun untuk sekedar menampilkan senyum di bibirnya, apalagi untuk bercanda bersama teman-temannya itu.

 

-COEX Event Organizer-

 

“Eonnie!” Eunhee meletakkan berkas-berkas susunan acara pernikahan dalam beberapa minggu ke depan di atas meja dan mendongakkan kepalanya ketika mendengar suara seorang gadis yang sangat dikenalnya.

“Jiae-a, ada perlu apa kau ke mari?” tanya Eunhee sembari berdiri dari duduknya.

Wanita yang dipanggil Jiae itu menghampiri meja kerja Eunhee, “Aku mengantar temanku yang sedang sibuk mempersiapkan acara pembukaan butik barunya. Kebetulan menggunakan jasa EO COEX.”

“Ah, begitu,” Eunhee mengangguk tanda mengerti.

“Kau sedang sibuk Eonnie?” tanya Jiae sambil memposisikan dirinya di kursi di depan meja Eunhee. “Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” tawarnya semangat.

Eunhee hanya tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Mianhae Jiae-a, banyak berkas-berkas yang harus kuselesaikan hari ini,” Ia beralasan. Walau alasan sebenarnya adalah ia malas membahas masalah suaminya yang sudah barang tentu akan dibicarakan setiap kali ia bertemu Jiae yang juga istri seorang Cho Kyuhyun, teman dekat suaminya.

Jiae menatap Eunhee menyelidik, tapi buru-buru mengurungkan niatnya bertanya karena tau isi hati wanita di depannya kini sedang tidak baik. “Ehm… sebentar lagi SS4 Paris. Apa kau akan ikut ke sana?”

Eunhee tertawa tanpa rasa humor, lalu menatap Jiae lekat-lekat. “Jiae-a, bisakah kau tak membahas masalah ini?” Alih-alih menjawab pertanyaan Jiae, Eunhee justru balik memberikan pertanyaan pada gadis itu.

“Oke, baiklah! Maafkan aku. Aku tak bermaksud membuatmu marah,” tukas Jiae buru-buru lalu berdiri dari kursinya. “Kalau begitu, aku ke tempat—“

“Hee?!” Ucapan Jiae terpotong ketika terdengar suara orang lain dari ambang pintu. “Ah, mianhae. Kupikir tak ada orang lain di sini,” gumam pria yang kini berdiri di ambang pintu itu.

Jiae menunduk sopan pada pria yang ia kenali sebagai aktor terkenal Jung Ilwoo di hadapannya, “Gwaenchana, aku juga sudah mau pergi,” katanya lalu kembali menatap Eunhee yang masih berdiri diam di belakang meja. “Eonnie, aku pergi dulu.” Eunhee hanya mengangguk kecil menjawab pernyataan Jiae.

Sepeninggal Jiae, Eunhee sibuk membicarakan rencana acara pertunangan sahabatnya itu yang akan dilaksanakan pada tanggal 3 April nanti. Tepat saat Donghae harus meninggalkan Korea menuju Paris.

“Kau sedang ada masalah Hee? Kulihat sejak tadi bicaramu irit sekali, sungguh tidak seperti biasanya,” ungkap Ilwoo mengutarakan keheranannya. Eunhee memang tak menceritakan tentang masalah rumah tangganya pada sang sahabat. Karena ia tak ingin merusak suasana hati Ilwoo yang tengah berbahagia menanti saat-saat pertunangannya tiba.

“Eopseo!” balas Eunhee singkat lalu kembali menyibukkan diri dengan rencana anggaran di tangannya.

Ilwoo menghela nafasnya berat, tapi ia sama sekali tak ingin memaksa sahabatnya untuk menceritakan masalah apa yang dialaminya. “Hee, bagaimana kalau kita sudahi sampai di sini pembicaraan kita? Aku lapar. Kau mau menemaniku makan?”

“Eh? Tapi—“

“Aku tidak menerima penolakan!” potong Ilwoo cepat sebelum Eunhee sempat menolak, lalu buru-buru menarik lengan Eunhee bersamanya.

-Hangang Park-

 

Eunhee menatap Ilwoo bingung, lalu kembali memperhatikan pengunjung yang lalu lalang di taman kota terbesar di Seoul itu. “Kau bilang mau makan, tapi kenapa membawaku ke sini?” tanya Eunhee bingung.

Ilwoo tersenyum lebar, namun senyumnya itu tersembunyi di balik masker yang ia gunakan sebagai penyamaran. “Kita akan makan di sini, sambil memperhatikan bunga sakura yang sudah mulai bermekaran di sana,” katanya menunjuk jejeran pohon sakura yang mulai menampakkan bunganya di awal musim semi ini.

“Tch… kau tidak takut ada orang yang mengenalimu?” balas Eunhee sambil merapikan rambutnya yang terbang tertiup angin.

“Tidak akan, aku sudah memakai penyamaran lengkap,” tukas Ilwoo sangat yakin, “Kau tunggu di sini saja. Aku akan membeli beberapa bungkus makanan,” tambah pria itu, lalu tanpa menunggu persetujuan Eunhee, Ilwoo sudah berlalu menuju stand makanan di pinggir jalan.

“Aiiishh… ada apa dengannya hari ini?” gumam Eunhee lebih pada dirinya sendiri. Tapi ia akhirnya bersyukur karena ide Ilwoo mengajaknya ke tempat ini membuatnya melupakan sejenak rasa gundah yang selama beberapa hari ini dirasakannya.

Sembari menatap air tenang sungai Han yang terletak tak jauh dari tempatnya berdiri, Eunhee memejamkan matanya sejenak lalu menarik nafas dalam dan menghembuskannya perlahan. Mengisi ruang di paru-parunya dengan pasokan oksigen baru.

“… Yeah, kurasa mereka cocok sekali.”

“Ah, tidak. Aku tak sependapat denganmu. Lee Donghae terlalu muda untuknya.”

Mendengar nama suaminya disebut oleh dua orang Ibu-ibu yang tengah duduk di salah satu kursi taman tak jauh dari tempatnya berdiri, Eunhee menajamkan pendengarannya. Apakah mereka menbicarakan acara itu?, batin Eunhee sebal.

“Iya, aku tau. Tapi Son Eunseo hanya lebih tua beberapa bulan darinya. Kurasa masih cocok-cocok saja. Apalagi gadis itu cantik,” bantah wanita berpakaian abu-abu dan berbadan gempal yang tampaknya setuju dengan pasangan baru acara tersebut.

“Tapi tetap saja ia terlihat lebih tua dari Lee Donghae. Kurasa, masih banyak artis wanita lain yang jauh lebih muda dan bisa dipasangkan dengannya,” bantah wanita satu lagi.

“Ah, kau tak melihat saja. Mereka itu sangat serasi. Apalagi waktu berdansa itu. Cocok sekali. si pria sangat tampan dan si gadis juga cantik. Aku yakin pasangan itu akan banyak diterima masyarakat.”

“Terserah padamu saja. Aku tetap tidak suka Lee Donghae dipasangkan dengan gadis itu.”

“Kau ini. Kalau sudah maunya tidak bisa dibelokkan lagi. Lee Dong…”

Eunhee tak lagi mendengar pembicaraan kedua wanita itu ketika tiba-tiba telinganya tertutup headset besar yang tadi dipakai Ilwoo. “Tidak perlu mendengarkan semua itu,” bisiknya lalu menarik lengan Eunhee menjauh dari sana.

——————————-

“Kau cemburu karena suamimu bermain acara itu?” Ilwoo bertanya setelah akhirnya Eunhee mau bercerita tentang masalah yang kini menimpa rumah tangganya.

“Kau masih bertanya?” balas Eunhee sembari memasukkan sepotong kue beras dalam mulutnya.

“Ya! Kalian bukanlah pasangan yang baru sebulan dua bulan menikah. Bahkan kau sekarang sedang mengandung anaknya. Kupikir, kau sudah harus terbiasa dengan ritme kehidupan seorang idola.”

Eunhee mendengus, “Yeah, seorang Idola. Seharusnya aku tak memilih menikah dengan seorang Idola sepertinya.”

“Tch…” Ilwoo menepuk kepala Eunhee pelan hingga gadis itu buru-buru menggeser tubuhnya ke samping dan memegangi kepalanya. “Jangan menyesali yang sudah terjadi. Kau mencintainya, dan dia juga mencintaimu. Apa ada alasan untuk kalian tak saling bersama?” Nasihat Ilwoo bijak. “Ah, sepertinya bicaraku sudah mulai seperti seorang Appa yang memberi nasihat pada anaknya,” kelakarnya dan hal itu membuat Eunhee tertawa.

“Yeah… kau benar!” setuju Eunhee lalu melarikan tatapannya pada pengunjung yang mulai memadati Hangang Park, menikmati suasana sore di taman itu.

“Benar apanya? Aku seperti seorang Appa?” Ilwoo mulai protes.

Senyum tipis terbentuk di bibir mungil Eunhee, “Salah satunya itu.”

“Lalu satunya lagi?”

Eunhee mengalihkan tatapannya dari dedaunan kering yang terbang terbawa angin pada wajah pria tampan di depannya. “Aku merasa agak sensitif akhir-akhir ini. Aku tau, aku sudah keterlaluan pada Donghae. Tapi aku tetap tak bisa menahan diriku ketika mengingat acara itu kembali. Apalagi ketika mendengar komentar orang-orang tentang kecocokan mereka.”

Ilwoo menghela nafas berat, “Yeah, memang tidak mudah,” setuju Ilwoo, “Kau hanya perlu menutup telingamu seperti yang kulakukan tadi. Tutup juga matamu dari segala sesuatu yang berbau acara itu. Dan sibukkan dirimu dengan pekerjaan yang tidak memungkinkanmu mengingatnya kembali.”

“Hmm… sekarang aku merasa bodoh karena seseorang yang belum menikah sepertimu, menasehatiku,” komentar Eunhee dengan maksud bercanda.

“Aiishh… kau ini!” Ilwoo merapikan beberapa bungkus makanan di pangkuannya dan membuangnya ke tempat sampah. “Bagaimana kalau kuantar pulang?”

-Mokpo, Juli 2006-

Donghwa menyiapkan semuanya dengan matang. Sejak tadi bibirnya tak henti tersenyum menatap hasil karyanya itu. Taman belakang rumahnya kini ia sulap menjadi sebuah restoran romantis dengan dua buah kursi dan sebuah meja bundar dengan lilin di atasnya. Pria itu sudah menetapkan keputusannya untuk menyatakan cintanya pada Eunhee tepat di hari ulang tahun gadis itu yang jatuh pada pertengahan bulan ini. Kini hari itu tiba, dan ia mulai gugup menantikannya.

Donghae yang sengaja menyempatkan diri untuk pulang mengingat hari ini adalah ulang tahun Eunhee, hanya bisa mematung di balik pintu kaca yang menghubungkan antara ruang tengah dengan taman belakang rumahnya. Menatap bisu pada kesibukan sang kakak dari kejauhan. Ia sama sekali tak menyangka kalau kepulangannya kali ini akan disambut dengan drama penembakan sang kakak pada gadis yang juga dicintainya. Namun sudah terlambat baginya untuk kembali pulang. Karena cepat atau lambat, sang Ibu akan menemukan keberadaannya di rumah ini.

“Hae?!” Baru saja ia memikirkan Ibunya. Suara wanita tua itu sudah terdengar di balik punggungnya. Namun Donghae menyesal telah memutar tubuhnya, karena kini bukan hanya wanita tua itu yang didapatinya. Tapi juga seorang gadis cantik yang selama beberapa bulan terakhir membuat Donghae tak bisa tidur karena dibayangi rasa rindu bertemu dengannya. Gadis itu tampak cantik menggunakan gaun santai selutut dengan motif bunga-bunga kecil berwarna biru tua. Sama seperti Donghae, gadis itu juga tampak terkejut mendapati keberadaan Donghae di sana. 

“Hae-a,” sebut gadis itu tak percaya. Lalu mulai melangkah mendekati Donghae yang masih diam di tempatnya. “Bogoshippeo!” jerit si gadis senang sambil menyurukkan diri dalam pelukan hangat Donghae. Pria tampan itu tertegun. Jantungnya berdegup kencang mengetahui gadis yang sejak berbulan-bulan lalu hanya bisa dilihatnya melalui sebuah foto, kini benar-benar nyata dalam pelukannya. Ingin rasanya ia membawa gadis itu menjauh dari sana sekarang juga. Menyimpannya untuk dirinya sendiri. Namun bayang wajah kakaknya yang telah bersusah payah menyiapkan segala sesuatu di taman belakang tadi menyurutkan niat Donghae. Bahkan untuk sekedar membalas pelukan hangat si gadis. “Kau datang ke mari untuk merayakan ulang tahunku?” komentar gadis itu senang sambil terus mengeratkan pelukannya pada tubuh Donghae.

Alih-alih membalas pelukan gadis itu, Donghae justru menjauhkan tubuh si gadis dan berujar dengan nada sedatar mungkin. “Kau ulang tahun? Aku bahkan tak tau itu,” dustanya membuat wajah gadis itu dilingkupi rasa kecewa. Ia pun melangkah meninggalkan si gadis tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi.

“Kau jahat Lee Donghae!” rutuk gadis itu kesal sambil mengerucutkan bibirnya.

“Hee? Kau sudah di sini?” Suara Donghwa yang baru saja selesai menyiapkan segala sesuatunya terdengar riang. “Eomma, apa Donghae datang?” tanya pria itu pada sang Ibu yang kini hendak menyusul Donghae ke kamarnya. 

“Ne, kau temani Eunhee. Eomma akan ke kamar Donghae. Sepertinya dia masih lelah setelah perjalanan panjang tadi.”

Donghwa mengangguk antusias lalu merangkul pundak Eunhee yang masih berdiri syok di sampingnya. “Ayo Nona cantik! Ada yang ingin kutunjukkan padamu,” ungkap Donghwa riang yang tanpa disadarinya, Eunhee tengah menahan kesal akibat perlakuan Donghae tadi.

Sementara di sisi lain, Donghae membiarkan air matanya jatuh dan merutuki dirinya sendiri karena telah menyakiti hati gadis yang sangat dicintainya. Ia juga tak ingin mengecewakan sang kakak yang sangat mencintai gadis itu. “Mianhae Eunhee-a, aku hanya takut kau tak membalas perasaanku,” gumamnya lirih sembari meremas bungkusan kecil yang tadi disiapkannya sebagai hadiah ulang tahun untuk Eunhee.

 

-Tra Palace Apartment, 2012-

Donghwa tersenyum masam ketika kenangan pahit masa lalunya melintas begitu saja. Kata-kata penolakan dari Eunhee yang sudah lama berusaha dilupakannya, kini kembali membayang saat kemarin gadis itu memeluknya secara tiba-tiba. Kenangan masa lalunya itu tak dapat benar-benar ia lupakan, karena bagaimana pun, gadis itu adalah cinta pertamanya. Cinta yang ia harapkan berakhir dengan bahagia. Namun ia harus menerima kekecewaan yang sangat dalam ketika mengetahui gadis yang dicintainya tak membalas cintanya dan justru menyatakan diri kalau ia mencintai adiknya sendiri.

“Oppa?” Donghwa memutar tubuhnya dan tersenyum lebar mendapati sosok Eunhee yang baru saja keluar dari pintu lift. Hampir setengah jam ia berdiri di depan pintu apartemen adiknya itu. Namun tak ada jawaban dari dalam. “Ada perlu apa ke mari?”

“Aku hanya ingin mengontrol keadaan pasienku,” guraunya sembari memamerkan sekeranjang belanjaan yang tadi sengaja dibelinya untuk dimasak bersama Eunhee.

“Wah, kebetulan! Aku tadi belum sempat berbelanja,” sambut Eunhee senang lalu mengambil barang belanjaan di tangan Donghwa. “Kau baik sekali Uisanim. Apakah kau melakukan ini juga untuk semua pasienmu?”

“Oh, tidak. Hanya pasien spesial saja,” Semburat merah muncul di kedua pipi Eunhee ketika mendengar Donghwa berkata begitu.

“Sebaiknya kita masuk saja,” gumam Eunhee untuk menyembunyikan kegugupannya lalu memasukkan beberapa komposisi di panel pintu apartemennya.

——————————

Suara tawa Eunhee kembali menyambut kepulangan Donghae malam ini, berikut juga suara berat kakaknya. Donghae mengepalkan tangannya kuat-kuat mengetahui sang istri kini kembali bercanda dengan sang kakak lalu melangkah cepat menghampiri Eunhee yang kini tengah sibuk memotong daun bawang di counter dapur. Tentu saja hal itu membuat Eunhee dan Donghwa terkejut. “Apa yang kau lakukan Hae?” protes Donghwa ketika melihat Donghae menyeret Eunhee seenaknya.

“Aku tidak ingin bertengkar denganmu Hyeong, jadi tolong jangan ikut campur urusan kami,” desis Donghae marah.

“Aku tidak akan tinggal diam kalau ini menyangkut kebahagiaan Eunhee,” Donghwa meraih lengan Eunhee yang lain, “Dulu aku membiarkanmu memilikinya karena aku yakin kau akan membahagiakannya, dan aku pun sudah berpesan padamu agar kau berhati-hati menjaganya. Namun melihat bagaimana Eunhee saat ini. Aku tidak akan membiarkan kau menyakitinya.”

“Tsk, lalu? Apa yang akan kau lakukan? Merebutnya dariku?” Donghae kembali menarik lengan Eunhee namun Donghwa menahannya di arah berlawanan.

“Kalau kau—“

“Hentikan!” jerit Eunhee keras, “Kalian pikir aku mainan yang bisa diperebutkan begitu saja?” Wanita itu menyentakkan kedua lengannya hingga cengkraman kedua pria itu lepas kemudian berlalu pergi ke dalam kamar dengan membanting pintunya keras-keras.

Donghae dan Donghwa tertegun. Berdiri saling menatap satu sama lain. Tak ada kata yang terucap selama beberapa menit berlalu, hingga hanya deru nafas mereka yang terdengar sebagai musik pengiring drama kehidupan yang sedang mereka lalui.

“Jangan sampai aku mendengar Eunhee menangis lagi,” cetus Donghwa akhirnya, lalu beranjak dari tempatnya, meraih jaket yang tersampir di pinggiran sofa dan keluar dari apartemen itu.

Donghae melempar tas ranselnya sembarangan lalu meninju dinding tak berdosa di sampingnya berulang kali sembari menjerit frustasi. Menumpahkan segala emosi yang tertahan di dalam dirinya. Air mata yang sejak tadi menggenang dan mengaburkan pandangannya, kini keluar begitu saja, membasahi kedua pipi pucatnya. “Aku tidak akan membiarkanmu merebut Eunhee dariku!” desis Donghae tajam.

TBC

Ah… akhirnya jadi juga. Mian banget kalau hasilnya gak sesuai harapan. Kepalaku udah suntuk seharian ini #AlesanAjaNiAuthor
Jangan lupa tinggalkan komen kalian yah. Karena hanya Reader yg bisa nilai ini FF bagus apa enggak. Thanks ^^

61 thoughts on “STORM -EunHae Couple- [Part 2]

  1. huhuh
    Makin complicated
    Hae udh dibutakan sma rsa cemburu
    Tp entah knp aku suka
    Hahaha
    Itu eunhee jg coba tekan egonya kan bagus
    Kasian anaknya T.T

  2. akhirnya eunhee ngeluarin unek2nya jg
    tp lbh bagus kl dia ngajar hae #sadis
    kayanya donghwa cinta bgt sama eunhee
    tp jgn rebut bini org dong bang
    dia itu istri adikmu n mrka slg mencintai
    aduh eunhee pdhl kangen jg tu skinship sama si abang tp karna gengsi jdi ttp kekeuh ngambek
    ayo baikan dong kasian babynya loh
    eh itu wookie mendadak jdi evil ya wkwk

    • Belom saatnya ngeHajar Hae… tapi ngehajar dalam bentuk tekanan batin udah lumayan bikin Hae sakit kkkk #EvilSmile
      Hahaha… si Abang emang cinta banget ama Eunhee #Maunya :p
      Eh? jangan salah… si Ryeowook itu terkenal member paling jahil lho! nomer 2-nya Kyu dia mah kkkk

  3. Kya!
    mau ngomong ap dlu ya…

    Eon dh bgs kow, ap.a yg kurang, emosinya dh dpt n frustasix hae keliatan,..
    ah saeng tau ap yg kurang,..
    ehm,KURANG PANJANG,..#di jitak

    Saeng paling ska kalimat ‘Member yang terkenal jahil itu berusaha merebut kotak bekal milik Kyuhyun yang hari ini sengaja dibuatkan sang istri—Shin Jiae—untuknya.’😄
    Sigu romantisx JiKyu. tapi ya! knp pd mau ngambil bekal yg saeng buat utk kyu,..#eaaa
    Eon dh ksi peran nih, ehm giliran saeng kykx yg msukin EunHae lge di FF JiKyu,..

    Haduh, saeng lma” kasian jg ma Eunhee n geregetan, ya ampun pinter bgd ngndali.in emosi,..
    Hae harus kerja ekstra buat hee maafin dy,..

    SS4 Paris, mari melancong,..#plakk

    Cie, ad Yeonrin jg nih disini,..#lirik banana saeng

    • Aiishh… selalu aja kurang PANJANG!! padahal udah bertapa nih buat nyelesaikan ni FF #Slapped
      Oh? udah bagus yah? abisnya tadi pas baca ulang ngerasa ada yg kurang pas aja. Tapi syukur deh klo reader dah bilang bagus kkkkk

      woahahah… aku udah nepatin janji kan? Nah, skrg giliran Jiae noh kkk
      Iyah, si Yeonrin dimasukin juga. Abisnya dy setia banget baca n komen panjang di FFku ^^

      Eh? Paris? gak tau dee… jadi melancong atau malah enggak :p

      • Brpa page nih eon,..
        iya sih, lo dh mentok ya gpp kow sampe sini,..hehehehe
        saeng ngerti bgd,..

        eo, dh bgs kow saeng dpt emosinya,..cieile

        ehm, ysh dh, saeng ge nulis dikit nih FF bru ntar dh post,..#plakk

        hihihi, lo maslah komen panjang si banana saeng memang juara dri dlu,..

        ayolah, qta melancong di paris, dh lma g ke paris stelah di FF LA,..

      • kkkkk… cuma 11 page lebih dikit #Plakk
        Susah ni bikin Part ini. Dari kemarin progress-nya lambaaat banget #Eaaa :p
        lagi males bergalau-galau ria kkkkk

        eh? FF baru?? FF apaan lagi? wadohh… O.o
        iyaa, komennya panjang banget ampe kyk kereta api kkkk #dicekek
        Kan Eunhee gi hamil, jadi gak bisa melancong sembarangan :p

  4. 11? pantes berasa pendek,.#plakk
    hahaha, lo g mau galau jgan bikiin galau dong FF.a,..

    wkwkwk, ne FF Secret tu eon,.hehehehe
    terinspirasi aj sma sparkyu yg stu neh,..

    hahah, bner spanjang kereta tpi ska sih,..

  5. Yah un,mian baru coment!! Jiah berhentinya pas klimaks , bkin tmbah penasaran >< peran eunsoo nya ga dimunculin un?? Next part ditunggu^^

  6. Ya ya gausa aja deh,nenek lampir eunsoo ke laut aje *lho..tapi part ini daebak buat eunhee,bisa nahan diri! Gengsinya eunhee T.O.P dahh bkin si ikan tkanan batinn u.u !! *sukurin😀

  7. Eiiii gg ada foto2’a ToT
    eunhae jg msih berantem ajj. Jgn2 bneran eunhee emg lbih suka donghwa oppa dri pda ikan nemo itu.
    Andweeee
    ntr malah jdi eunhwa couple lg. Eunhee~ya, maaf’n ajj donghae’a ya:D
    gg usah di dnger noh omongan ajumma2 gila!
    Next part harus ada ya foto2’a haeX(
    oia.. Knpa akhir2 ini hae hobi pke mask???#prtnyaan aq yg ini belom di jawab#kkkk
    kamsahanida:)

    • hoahahah… kan ada foto apartemen ama Hangang Park-nya #Plakkk
      Maunya tadi tuh mau selipin foto Donghwa yg lagi masak. Tapi lupa blom diupload :p

      Iyayah? kayaknya seru juga tuh… Eunhwa Couple #DicekekHAE
      Masker? ntar aku jelasin, tapi gak di sini :p

      • Yahhhh== bkin penasaran ajj ToT

        ada sih foto apartement’a, tp kan gg ada bagus2’a klo di pandang:p lah beda klo ada donghae’a#pllak
        next part harus ada!!#maksa

  8. taram taram #suaraapaitu -__-
    saya datang😄 baru aja selasai baca yang part 2

    makin RUWEEETT😦
    pake acara rebut-rebutan eunhee lagi, eunhee ga boleh direbut donghwa, eunhee punya donghae! #ngotot😄
    aku suka unnie sama kata-katanya ilwoo oppa bijak banget haha

    yaudah segini aja ya komennya, lanjut ke part 3~~🙂

    • hahaha… gpp direbut 2 cowo cakep kan asyik! #Genit #DikekekHae😄
      Iya, aku juga suka tuh… gak tau si Ilwoo kena kesambet apaan? ampe bisa ngomong gitu dy #Plakk

  9. aarrgghh,,,,kesel ma donghwa,ngapain sih ngerecokin eunhae mulu????

    gregetan pgn bca lanjutannya,go to next part dulu y🙂

  10. NICE FF ! Mian aku baru bisa koment di part ini. Buat lbh bnyak ff dgn cast eunhae !😀 aku gemeteran baca ni ff ! Sumfah ane gak boong ^^ wkwkwks😀

  11. Waw Donghae oppa sepertinya benar2 marah dgn Donghwa oppa krn ia seperti terang2an ingin mendekati Eunhee lagi dan kenangan akan masa lalu membuat Donghwa oppa semakin ingin selalu dekat dgn Eunhee dan ingin selalu menghiburnya. Dan Donghae oppa terang2an kurang menyukai hal tsb. Good story. Saatnya baca part selanjutnya

  12. Rumit bgt yah,2 saudara kandung yg mencintai wanita yg sama aigo…kasian juga ma donghwa oppa tapi mau gimana lagi eunhee kan udah jadi istrinya hae oppa.hae oppa jangan sedih aku kan jadi ikutan sedih…

  13. pernikahan masih seumur Jagung udah banyak masalah,
    Donghwa juga, jangan dulu deh, munculin diri disekitar Keluarga Hae-Hee
    lama lama ,sebel juga sama sicouple itu, kaga bisa yah 1hari kaga berantem ,
    haha, lanjjutt

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s