HATE That I LOVE YOU [Part 5]

Cerita sebelumnya:

Ann sangat marah saat tiba-tiba Aiden muncul di hadapannya dan Jane Adams, lalu seenaknya saja menyatakan bahwa dirinya setuju menghadiri pesta ulang tahun gadis itu bersama Ann. Namun sayangnya, Aiden hanya berniat menggoda Ann saja. Pria itu beranggapan bahwa Ann adalah gadis yang menarik karena kebenciannya pada pria-pria Asia seperti dirinya. Dan pria itu berniat untuk merubah persepsi Ann terhadap pria Asia. Namun sayang, niatnya menggoda Ann justru membuatnya merasa bersalah saat mengetahui Jane Adams hanya memanfaatkan gadis itu agar dapat lebih mengenal dirinya.


Part 5

 

 

-Annabelle Parker, Camberwell College of Art-

 

Hari ini jam kuliah Mr. Freddickson berakhir lebih awal. Pria bertubuh gempal itu terpaksa menyelesaikan kuliahnya 15 menit lebih awal karena akan menghadiri rapat dosen awal semester yang akan dilaksanakan 5 menit lagi. Seperti yang sudah diduga, teman-teman sangat senang karena sesaat lagi mereka bebas berkeliaran di penghujung Minggu ini. Yeah, sekarang hari Jumat. Diskon waktu 15 menit pun sangat berarti bagi mereka yang merencanakan liburan akhir Minggu bersama orang spesial masing-masing.

Ketika tengah memasukkan beberapa buku ke dalam tas, aku dikejutkan dengan tepukan pelan di bahu kiriku. Jane Adams. Pasti ia berniat mengingatkanku lagi tentang pesta itu. Dan sialnya hal itu cukup untuk menimbulkan kembali amarahku pada perbuatan Aiden dua hari yang lalu. Well, walau aku sempat terkejut saat kemarin ia datang ke rumahku untuk meminta maaf. “Jangan lupa besok!” tukasnya senang sembari mengangsurkan sebuah undangan berwarna pastel padaku.

Tsk, dipikirnya aku akan datang. Biarkan saja si pangeran berkuda putihnya itu yang datang sendiri. Pasti ia akan lebih senang tanpa kehadiranku. “Kau berikan saja undangan itu pada Aiden,” balasku ketus lalu pergi begitu saja tanpa mempedulikannya yang terus memanggilku.

Oh… sial! Baru saja bebas dari desakan Jane Adams, kini bisa kulihat sosok Aiden tengah duduk di kursi panjang tepat di samping kelasku. Apa yang dilakukannya di sini? Tidak mungkin ia menungguku. Ada perlu apalagi sebenarnya? “Hai Ann!” tanpa repot-repot menoleh kuhentikan langkahku tepat di hadapannya, “Aku butuh bantuanmu.” Hmm… benar dugaanku. Ia di sini untuk meminta bantuan. Apalagi yang diinginkannya kalau bukan itu?

“Bantuan apa lagi?” balasku setengah tak tertarik. Walau kemarin aku bilang telah memaafkannya. Tapi tetap saja perbuatannya itu membuatku kesal.

Aku beringsut mundur saat tiba-tiba ia maju selangkah ke arahku. Apa yang sebenarnya diinginkan pria-Asia sialan ini? Oh… Tuhan! Dia kembali memamerkan senyumnya yang selalu membuat sesuatu dalam diriku bergetar hebat. Sial! Sepertinya dia sudah sangat paham dengan kelemahanku ini. “Aku tak punya pakaian yang cocok untuk kugunakan ke pesta Miss Adams, maukah kau mengantarku berkeliling—“

“Kenapa tak kau ajak sepupumu itu?” Kupotong ucapannya cepat. Rasanya aku jengah hanya karena ia terlalu menggantungkan diri padaku. Sudah lebih dari satu Minggu ia tinggal di negara ini. Kenapa masih saja menggangguku dengan hal-hal semacam ini? Menyebalkan! Bukankah ia punya saudara yang bisa mengantarnya? Kenapa ia harus selalu merepotkanku?

Kulihat ia memutar bola matanya cepat. Sepertinya ia sibuk mencari alasan tepat untuk meyakinkanku. Menyedihkan! “Dia sedang sibuk dengan kegiatannya.”

“Kalau begitu, pergi saja sendiri!” balasku ketus lalu melangkah pergi meninggalkannya. Lama-lama di sini, membuat dadaku sesak. Tapi sialnya, baru beberapa langkah aku berjalan. Tangannya yang besar itu menahan lenganku.

“Tapi kau tau aku belum mengenal tempat ini,” bantahnya cepat. Alasan!

Aku mendengus kesal, “Tapi kemarin kau sudah bisa ke rumahku sendiri Mr Lee!” aku mencoba mengingatkan.

“Ann, kau lupa tugas yang diberikan Mr Freddickson padamu?” Sial! Kenapa ia mengungkit-ungkit masalah tugas itu? Ia bahkan tau kalau keperluannya kali ini sama sekali tak ada hubungannya dengan kuliah. Pria ini benar-benar pembujuk yang tak kenal lelah. “Ayo! Temani aku! Aku tau kau tak ada kegiatan lagi setelah ini,” Hey… darimana ia tau? Dan seperti yang selalu dilakukannya, tanpa menunggu persetujuanku ia menarik lenganku agar ikut bersamanya, “Kau pasti tak mau kan kalau pasanganmu ini tampil sembarangan di pesta itu.”

What the…? Hey… apa maksudnya itu? Bukankah kemarin ia telah menyatakan bahwa dirinya menyesal dan meminta maaf padaku. Tapi kenapa? Kuhentikan langkah kakiku dan menghentakkan lenganku kasar. “Apa kau bilang? Pasanganmu?” semburku marah. Kelakuannya benar-benar membuatku tak tahan untuk menamparnya.

“Iya,” balasnya tenang seolah-olah semua itu tak membuatku marah. Bahkan aku bisa melihat seringainya yang tersembunyi di balik wajah tenangnya itu. Demi Tuhan, lelaki seperti apa yang sedang kuhadapi saat ini?

“Lalu apa maksudmu meminta maaf kemarin?” dengusku kesal.

“Aku memang meminta maaf padamu untuk sikapku yang keterlaluan,” jelasnya lancar, “Tapi aku tak pernah membatalkan janji yang sudah kita buat pada Miss Adams tentang pesta itu.” Janji? Sejak kapan aku menyatakan janji itu? Darahku benar-benar mendidih saat ini. Kalau saja ini bukan di kampus, sudah kutendang kakinya itu.

“Aku tak berjanji apapun, kau yang berjanji padanya. Bukan aku! Jadi tolong jangan libatkan aku!” bantahku cepat.

“Aku tau. Tapi pernyataan itu sudah diucapkan. Kau tidak mau kan kalau kau dianggap sebagai orang yang tak bisa menepati janji.” Errrghh… pria ini! Apa yang harus kulakukan sekarang. Dia benar-benar pemaksa sekali! Belum pernah aku berhadapan dengan pria seperti dirinya. “Sudahlah Ann, tak ada gunanya kau menolak terus. Datang saja. Pasti akan menyenangkan!” Ia kembali membujuk dengan senyuman semanis madu. Sial!

Tidak. Aku tak boleh tergoda dengan senjata ampuhnya itu kali ini. Kupalingkan wajahku untuk menghalau debaran keras di jantungku dan mulai bergumam,“Terserah kau mau bilang apa, aku tetap tidak mau!”

“Kalau kendalamu hanya karena tak memiliki gaun untuk kau pakai ke pesta itu. Jangan khawatir, kita akan membelinya hari ini. Masalah uang—“

 

“Kau pikir masalahnya hanya sesederhana itu?” potongku cepat yang kusadari bahwa nada bicaraku mulai naik setengah oktaf. Dia sudah keterlaluan! Dipikirnya aku tak punya uang hanya untuk membayar gaun yang harus kukenakan ke pesta itu. Tak terpikirkah olehnya kalau Jane hanya ingin memanfaatkanku? “Kehadiranku tak dibutuhkan di sana! Gadis itu hanya memanfaatkanku untuk dapat lebih dekat denganmu! Jadi kau tak perlu membawaku lagi jika kau memang ingin datang ke acara itu secara suka rela,” kulihat wajah Aiden tampak terkejut mendengar omelanku. Ia tidak sedang berpura-pura tak menyadarinya kan? “Sekalian saja kau pacari gadis itu agar ia tak menggangguku lagi!” suruhku sebal dan berniat meninggalkannya namun niat itu sia-sia saat ia kembali mencekal lenganku. Menyebalkan!

“Memanfaatkanmu?” ulangnya tak percaya. Entah ia benar-benar tak tau atau hanya pura-pura tak tau tentang hal itu. Padahal sudah jelas-jelas gadis itu menunjukkan ketertarikan yang sangat besar padanya hari itu.

Kuhentakkan lenganku kasar lalu menatapnya tajam, “Kau tidak tau?” tanyaku tak percaya, kulihat ia menggeleng pelan menjawab pertanyaanku. Entah mengapa, aku bisa merasakan ekspresi bersalah di wajah Aiden saat ini. Ataukah hal itu hanya halusinasiku saja? Atau mungkin, karena aku yang terlalu berharap hal itu benar. “Kalau begitu, syukurlah sekarang kau sudah tau. Jadi kau tak perlu memaksaku lagi untuk datang ke pesta itu bersamamu.”

Alih-alih membalas pernyataanku, Aiden hanya diam sekaku patung ketika aku melangkah pergi meninggalkannya. Apakah ia benar-benar merasa bersalah padaku? Kenapa tiba-tiba sikapnya berubah begitu? Errgghh… dan mengapa aku harus peduli padanya setelah apa yang dilakukannya padaku tadi? sial! Sebaiknya aku segera pergi dari sini. Sebelum aku berubah pikiran karena ide konyol yang mulai melintas di otakku.

-Abbey Street, London-

 

Aku masih agak kesal karena Mom membangunkanku sepagi ini di hari Sabtu. Padahal Mom tau kalau hari Sabtu itu libur. Tapi Mom selalu beralasan bahwa seorang anak gadis tidak pantas jika tidur di pagi hari. Teori dari mana itu? Dan sialnya, pagi hari adalah waktu yang sangat nyaman untuk terus berada di dunia mimpi.

Kubasuh mukaku untuk menghilangkan kantuk yang masih terasa. Setelah mengeringkan wajahku, aku turun ke lantai bawah. Kulihat Mom sedang sibuk memasak di counter dapur. “Ah… Honey, Jalan-jalanlah! Ini hari Sabtu. Sepertinya kau butuh refreshing agar tak selalu mendekam di kamarmu saja,” saran Mom yang aku tau untuk kebaikanku. Tapi aku sedang malas keluar. Kepalaku pening karena beberapa masalah yang mengganggu pikiranku akhir-akhir ini.

“Aku lelah Mom,” keluhku lalu mendudukkan diri di kursi meja makan tanpa semangat, lalu mencuil sedikit omelet buatan Mom di atas meja.

“Mau kutemani?” Aku terlonjak kaget saat tiba-tiba sebuah wajah muncul tepat di hadapanku. Buru-buru kudorong dahi Spencer sebelum ia semakin mendekatkan wajahnya yang mirip monyet itu padaku. Dan seperti biasa, ia hanya tersenyum menanggapi perbuatanku.

“Spencer benar, pergilah bersamanya.” Oh… Mom! Please!

Mendengar persetujuan Mom, tentu saja membuat wajah Spencer semakin cerah. Ia sudah melepaskan celemek hitamnya lalu mengulurkan lengannya padaku. “C’mon Honey! Kita jalan-jalan ke Tower Bridge! Atau… kau mau kita jalan-jalan ke Hyde Park, Kennington Park, British Museum?” Tsk… kutepis uluran tangannya kasar.

“Bekerjalah! Kurasa pelanggan akan mulai berdatangan beberapa saat lagi,” tolakku ketus. Sebenarnya bukan itu alasan utama aku menolak ajakannya. Tapi alasan itu juga cukup masuk akal mengingat Mom akan bekerja sendiri jika si Monyet itu lebih memilih menemaniku jalan-jalan.

“Sepertinya kau butuh karyawan satu lagi Boss!” Aku mengernyit ketika tiba-tiba Spencer memberi usul. Jadi, maksudnya meminta Mom mencari pegawai baru agar ia bisa dengan leluasa mendekatiku? Sial!

Kulihat Mom hanya tertawa kecil mendengar saran dari Spencer itu. “Aku akan mempertimbangkannya Spencer.” What?

“Mom!” seruku tak terima, “Kalau Mom mencari pegawai baru, sebaiknya pecat saja si aneh ini.”

Mom mendekatiku dan duduk di kursi di hadapanku, “Jangan bicara begitu Honey,” bela Mom, “Sebenarnya aku sudah mempertimbangkan kemungkinan mencari pegawai baru untuk membantu Spencer mengurus restoran ini. Karena seperti yang kau tau, restoran kita semakin ramai, dan kondisi kesehatanku mulai memburuk akhir-akhir ini. Aku tak ingin pelanggan mulai malas datang ke mari hanya karena restoran ini sering tutup lebih awal.”

“Kenapa bicaramu seperti seseorang yang akan pergi selamanya Mom?” tanyaku ngeri lalu menatap mata biru Mom lurus-lurus, “Jangan membuatku takut!” tambahku cepat. Entah mengapa sepertinya ada yang disembunyikan Mom dariku.

Mom tersenyum, lalu membelai puncak kepalaku lembut. “Tidak ada yang akan meninggalkanmu Honey.” Yeah… semoga saja! Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi selain Mom di dunia ini.

“Emmm… bagaimana? Apakah kita jadi pergi?” Celetukan Spencer memecah suasana hening yang sempat tercipta beberapa saat lalu. Malas menanggapi pertanyaan Spencer, aku memilih berdiri dan membuka kulkas untuk mengambil minuman. “Lee—“

Suara bel yang menandakan datangnya pelanggan berbunyi, menyela perkataan Spencer yang tak terselesaikan. Detik berikutnya kudengar langkah kakinya menjauh. Syukurlah! Aku lelah selalu menolaknya. “Honey, jangan bersikap keterlaluan pada Spencer. Pria itu baik. Kau hanya perlu mengenalnya lebih dalam lagi. Agar kau tau bagaimana sifatnya.” Aku mendengus ketika mendengar Mom berkata begitu.

“Sudahlah Mom! Jangan memaksakan sesuatu yang tidak kuinginkan!” Aku kesal setiap kali Mom membela pria-pria Asia itu. Sepertinya Mom memang sangat memuja pria-pria dengan tipikal kulit putih dan bermata sipit seperti mereka.

“Lee, ada kiriman untukmu!” Aku buru-buru menoleh ketika mendengar suara Spencer dan mengernyit bingung mendapati sebuah kotak biru pekat di tangan si Monyet itu.

“Eh? Honey… apakah dari kekasihmu?” Tsk… yang benar saja Mom! Sejak kapan aku memiliki kekasih? Bisa kulihat ekspresi tak suka di wajah Spencer saat ini.

Kurebut kotak seukuran buku-buku tebal milikku itu, lalu membukanya. “Gaun?” seru Mom dan Spencer hampir bersamaan yang tanpa kusadari keduanya sudah berdiri di sebelahku. Errrghh… kedua orang ini! Kuraih amplop berisi surat yang diletakkan di tengah-tengah gaun berwarna hitam itu dan membukanya pelan.

Hai Ann, aku benar-benar menyesal telah membuatmu marah. Aku sadar, aku salah telah memaksamu datang ke pesta itu. Aku sama sekali tak menyangka ada maksud tersembunyi dari temanmu—Jane Adams—mengajakku ke pestanya. Terserah kau mau menganggapku pria bodoh atau bagaimana? Tapi jujur, aku benar-benar tak menyadarinya. Kuharap, kali ini kau benar-benar memaafkanku.

Memang menyakitkan jika seorang teman yang kita kenal baik hanya berniat memanfaatkan kita. Hubungan pertemanan ada untuk saling mengerti. Seorang teman sejati bukan hanya ada saat ia membutuhkan kita, tapi saat kita membutuhkannya ia juga akan selalu ada. Bila seorang teman hanya ada di saat ia membutuhkan kita, yang seperti itu bukanlah teman… tapi musuh yang tersembunyi dalam kedok yang bernama teman.

Aku minta maaf karena menjadi alasan temanmu itu memanfaatkanmu. Tapi sejujurnya, aku tak pernah secara sengaja melakukan hal itu. Aku tak pernah meminta temanmu menyukaiku. Jadi kuharap, kau mau memaafkanku untuk kali ini.

Gaun ini, kuberikan padamu. Berikut juga undangan pesta ulang tahun Miss Adams yang kemarin ia berikan padaku. Pasti kau heran mengapa aku masih memberikan semua ini padamu, padahal kau tau aku sudah meminta maaf. Kuharap jangan marah dulu. Alasanku memberimu semua ini adalah agar kau bisa membalas perbuatan gadis yang mengaku sebagai temanmu itu. Kau tentu saja tidak sudi kalau seseorang yang sudah memanfaatkanmu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah. 

Dengan ini, aku ingin menawarkan bantuan padamu. Datanglah ke pesta itu bersamaku. Dan buat gadis itu menyadari bahwa rencananya memanfaatkanmu untuk lebih dekat denganku tidaklah semudah yang ia kira. Aku tidak lagi ingin memaksamu. Aku hanya memberi penawaran padamu. Kalau kau setuju, pakailah pakaian ini dan datanglah bersamaku. Tapi bila tak setuju, simpan saja pakaian ini sebagai hadiah permintaan maaf dariku.

                                                                                          -East Sea-

NB: Semoga kau suka gaun ini. Semalam aku memaksa sepupuku Jiae memilihkannya untukmu. Kau jangan khawatir, dia kuliah di jurusan Desain. Jadi kau tak perlu meragukan pilihannya ^^

Aku diam dengan kertas surat di tangan. Tak tau harus melakukan apa setelah membaca habis surat yang lumayan panjang ini. Walau dalam surat ini tak tertulis secara jelas nama pengirimnya. Tapi aku tau betul siapa yang telah repot-repot mengirimkan semua ini padaku. Anehnya, aku tak merasa semarah tadi mengetahui ia mengirimkan gaun hitam ini padaku. Apakah aku sudah gila? Atau aku memang setuju dengan ide konyolnya yang kemarin juga sempat terlintas di benakku. Aku tak menyangka, bahwa ia juga memiliki pemikiran yang sama denganku.

“Ada undangannya juga Ann!” Aku mengangkat kepalaku dan mengalihkan perhatian dari surat yang ditulis Aiden pada undangan berwarna pastel di tangan Mom. Itu undangan yang kemarin akan diberikan Jane padaku. Sebelum sempat aku mengambil surat itu, Mom sudah membuka dan membaca isinya. “Kau diundang ke pesta ulang tahun?” tanya Mom yang sama sekali tak membutuhkan jawabanku. “Datanglah Honey! Tidak baik menolak undangan teman. Lagipula, sepertinya… ada yang telah berbaik hati mengirimimu gaun ini untuk kau gunakan malam nanti.”

Aku mendegus mendengar gumaman Mom. Kalau sudah Mom yang mengatakannya, mana mungkin aku bisa menolak? Sial! Aku hampir saja menjerit saat tiba-tiba surat yang kupegang ditarik paksa dari tanganku. Spencer? “Hey… apa yang kau lakukan? Kembalikan!” kutarik kembali surat itu dari tangannya.

Wajah Spencer tampak murung dan berkerut tak suka. “Jelek!” komentarnya meremehkan lalu pergi begitu saja saat melihat gaun hitam berbahan chiffon dengan halter neck dan warna putih di bagian bawahnya yang mekar membentuk aksen bunga, juga hiasan pita di bagian pinggang belakang, diangkat oleh Mom.

“Cantik sekali!” puji Mom sambil terus memperhatikan cocktail dress itu. “Cobalah! Kau pasti cocok memakai gaun ini,” Mom bukan hanya memberi saran, tapi sudah mengangsurkan gaun itu ke tanganku. Tsk… tidak! Aku memang sudah setuju untuk menghadiri pesta itu. Tapi jangan harap aku mau memakai gaun ini.

 

“Aku masih punya gaun yang bisa kugunakan!” tolakku lalu meletakkan kembali gaun itu ke dalam kotak. Yeah, aku ingat. Aku masih punya sebuah gaun yang dulu kupakai untuk menghadiri pernikahan kedua Bibi Felma—adik bungsu Mom.

“Tapi Honey, kau harus menghargai temanmu yang sudah mengirimimu gaun ini,” bantah Mom dan aku menggeleng tegas. “Bukankah gaun terakhir yang kau beli itu sudah sejak dua tahun yang lalu? Apa kau yakin akan memakai gaun itu? Apakah gaun itu masih cukup?” cecar Mom.

“Tentu saja Mom! Tubuhku tak banyak berubah selama dua tahun ini,” balasku sambil menutup kembali kotak hadiah itu. Aku berencana mengembalikannya pada Aiden malam ini.

“Apakah kau butuh pendamping untuk malam ini?” Aku menoleh dan baru menyadari keberadaan Spencer di ujung ruangan. Kupikir ia sudah pergi sejak tadi.

“Tidak,” balasku singkat lalu meraih kotak itu dan naik ke kamarku di lantai dua. Semoga saja keputusanku tidak salah, menerima tawaran Aiden.

———————————————-

06.35 pm. Kudapati angka itu saat melirik jam weker di nakas. Aku sudah selesai bersiap dengan gaun lamaku. Walau jujur, sepertinya gaun ini terasa semakin pendek. Ah… kurasa tubuhku yang bertambah tinggi dibandingkan dua tahun yang lalu. Dan kotak pemberian Aiden tadi masih berada di atas ranjang. Jam 7 malam nanti ia akan menjemputku. Aku sengaja tak mengabarinya bahwa akhirnya aku menerima tawarannya itu. Aku tau ia akan tetap datang walau aku menolak. Kulangkahkan kakiku keluar kamar dan mendapati Mom baru saja keluar dari kamar mandi yang terletak di ujung lorong. Ia tampak pucat dengan sebuah handuk di tangan. Ada apa sebenarnya dengan Mom? “Mom?!” panggilku ia pun menoleh menatapku.

“Oh? Honey! Kau sudah siap?” Aneh! Ia menanyakan hal yang tak perlu, seperti seseorang yang sedang menutupi sesuatu.

“Mom, What happenned? Apakah kau sakit lagi?” tanyaku khawatir sambil mendekati Mom dan memperhatikan wajah pucatnya lekat-lekat.

Seperti dugaanku, Mom menggeleng pelan. “Hanya kelelahan Honey,” bantahnya, “Ah… kenapa kau tak menggunakan aksesoris apapun?” tanya Mom yang aku yakini untuk mengalihkan topik pembicaraan, lalu tanpa menunggu persetujuanku, Mom menarikku ke dalam kamarnya. Mom meraih bandana dengan manik-manik berwarna kuning keemasan yang berhias kristal-kristal kecil di laci bufet, lalu memakaikannya di kepalaku. Juga sebuah gelang dengan warna senada untuk kupakai di pergelangan tanganku. “Nah… kau tampak semakin berkilau dengan hiasan ini. Walau menurutku, dengan pakaian apapun, putriku ini tetap akan terlihat cantik,” puji Mom berlebihan sambil menyentuh kedua bahuku.

Aku mencibir, lalu memeluk Mom. Rasa khawatirku sama sekali tak mau hilang merasa Mom menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi aku tak bisa memaksa Mom untuk mengatakannya. Walau dirinya baik, tapi tak kupungkiri, Mom juga sama keras kepalanya denganku. Tak akan mudah mengorek sesuatu yang ingin disembunyikan Mom dari orang lain. Seperti dulu, saat tiba-tiba saja Dad pergi tanpa pamit dalam waktu lama. Ketika kutanya ada apa dengan Dad? Mom hanya menjawab bahwa Dad pergi untuk bekerja, mencari uang untuk keluarga kami. Hingga akhirnya, beberapa tahun terakhir kuketahui bahwa Dad sudah menikah lagi di negara asalnya. Bahkan sekarang, Dad sudah memiliki keturunan lain dari wanita yang dinikahinya itu. Itulah awal kebencianku pada sosok Dad. Entah mengapa sampai sekarang Mom masih terkesan sangat mencintai pria yang telah menyakiti hatinya itu. Menyedihkan! “Kalau kau lelah, sebaiknya tutup saja restoran lebih awal dan istrirahatlah Mom!” pesanku padanya.

Mom menganguk lalu tangannya menyingkirkan anak rambut yang mencuat di dahi kiriku. “Yeah, sepertinya ide bagus. Aku yakin Spencer akan senang mendapat jatah libur di malam Minggu begini.” Hmm… benar. Spencer. Asal ia tak menggangguku saja! “Bagaimana kalau kita turun? Mungkin temanmu sudah datang,” Mom mengingatkan dan aku pun menurut.

Sesampainya di bawah, aku hanya bisa terdiam di ambang pintu yang menghubungkan bagian dalam dengan bagian depan restoran. Di sana, berdiri di tengah-tengah ruangan. Spencer dan… Aiden. Kedua pria itu saling menatap penuh kebencian. Sial! Ada apa dengan dua orang ini?

“Aiden?!” gumaman Mom yang berdiri tepat di belakangku memecah suasana menegangkan itu, “Jadi… kau yang mengirimkan gaun itu pada Ann?” Mom sudah berjalan mendekat ke arah pria itu.

Yeah… dengan berat hati kuakui, Aiden tampak sangat mempesona dengan setelan jas hitamnya. T-shirt V neck putih dan sneaker berwarna hitam, seolah mempertahankan kesan casual di balik penampilan resmi Aiden malam ini. Pria itu tersenyum pada Mom lalu detik berikutnya beralih menatapku yang masih mematung di ambang pintu. Kulihat keningnya berkerut sesaat sebelum akhirnya menunjukkan senyum menawannya padaku. Mungkin ia kecewa karena aku tak memakai gaun pemberiannya.

“Yeah, begitulah Mrs Parker,” Aiden menjawab pertanyaan Mom dengan anggukan pelan, “Tapi sepertinya, gaun itu tak cukup bagus untuk digunakan,” tambahnya sambil melirikku sekilas.

Aku tersenyum masam. Hmmm… hal itu mengingatkan aku pada kotak yang tadi kuletakkan di kamar. Aku tak akan membuatmu sangat senang dengan begitu saja menerima gaun itu juga tawaranmu secara bersamaan, Aiden. Sebagai seorang gadis, aku masih punya harga diri! Aku bergegas naik ke kamar untuk mengambil kotak yang tadi sempat terlupakan.

Dengan nafas terengah, kuangsurkan kotak berwarna biru pekat itu pada Aiden. Pria itu mengerutkan keningnya sambil menatapku dan kotak pemberiannya bergantian. “Aku tak butuh gaun ini,” gumamku datar.

“Apakah gaun itu jelek? Kau tak suka?” tanyanya heran.

Aku menggeleng, sambil terus menyodorkan kotak itu padanya, “Tidak. Tapi aku tak butuh benda ini!.”

Kulihat Aiden tersenyum kecil, “Tapi aku tak pernah mengambil kembali apa yang sudah kuberikan,” bantahnya dengan nada pelan namun terdengar cukup tegas, “Ambillah!”

Aku menggeleng sekali lagi, lalu meletakkan kotak biru itu di atas meja. “Terserah mau kau ambil atau tidak, yang jelas, aku tak akan pernah menerimanya.”

Honey, biar aku yang menemanimu ke pesta,” Aku buru-buru menoleh ketika tiba-tiba Spencer sudah berdiri tepat di sampingku. Entah sejak kapan ia berada di sini. Yang jelas sekarang, kedua pria-Asia itu kembali saling menatap tajam. Mereka benar-benar menggelikan! Kalau bukan karena rencanaku membalas perbuatan Jane, aku tak akan repot-repot menerima tawaran Aiden menghadiri pesta itu.

“Pulanglah Spencer! Kau tak perlu menemaniku,” tolakku dan dibalas rengutan Spencer.

“Tapi—“

“Kalau sudah siap, sebaiknya kita berangkat sekarang saja,” Aiden memotong ucapan Spencer dengan tak lupa memberikan senyum kemenangan pada pria itu.

Spencer mendengus keras, “Ann, kau tidak takut pria ini akan berbuat macam-macam padamu? Kau kan baru mengenalnya,” Spencer menahan lenganku saat aku baru akan melangkah ke luar ruangan. Sial! Dipikirnya aku ini anak kecil yang tak bisa menjaga diriku sendiri.

“Aku sudah dewasa Spencer, kau tak perlu mengkhawatirkanku,” bantahku kesal sambil menepis cekalannya di lenganku.

Aiden kembali tersenyum, dan entah mengapa senyumnya itu membuatku merasa resah. “Ayo! Kita pergi sekarang, sebelum terlambat.”

Samar-samar sebelum pergi kudengar seruan Spencer yang memintaku agar tak pulang terlalu malam. Hah… si Monyet itu benar-benar menyebalkan!

-New Kent Road, London-

 

Syukurlah rumah keluarga Adams tak jauh dari restoran Mom, hingga aku tak perlu berlama-lama berada satu mobil dengan pria-Asia yang selalu berhasil membuatku sesak ini. Hanya menempuh beberapa menit perjalanan, kami sudah sampai di depan rumah yang didominasi warna putih itu. Rumah bergaya country itu tampak asri dengan tanaman menjalar dan bunga-bunga yang ditanam rapi di bagian depan rumah. Area kebun yang cukup lebar dengan adanya sebuah gazebo di pojok taman, menjadikan pesta kebun sebagai pilihan terbaik untuk mengadakan pesta.

Keluarga Adams memang termasuk keluarga terpandang di area ini. Tuan Adams adalah seorang pengusaha tekstil sukses yang sudah memiliki banyak cabang di berbagai kota di Inggris. Bahkan, aku sempat mendengar kabar kalau Nyonya Adams masih memiliki hubungan kekerabatan dengan bangsawan Inggris. Tidak heran jika disebut-sebut keluarga Adams memiliki berhektar-hektar tanah di kawasan Hampshire.

Ketika tiba di sana, tempat itu sudah dipenuhi dengan tamu-tamu undangan. Sebagian besar terdiri dari teman sekelas Jane yang sudah banyak kukenali, juga Jade—saudara kembar Jane—yang kuliah di tempat yang berbeda dari kembarannya. Wajar saja, jika banyak wajah baru yang tak kukenali hadir di pesta ini. Dekorasinya terkesan simple, hanya ada sebuah banner besar bertuliskan ‘Happy Birthday Jane & Jade’ ditempel di bagian depan rumah. Lampu-lampu kecil berwarna-warni, menambah kesan indah dekorasi pesta kebun tersebut.

Aku bersyukur karena Aiden membantuku keluar dari mobil yang entah sejak kapan dimilikinya. Aku memang tak terbiasa menggunakan sepatu ber-hak setinggi ini. Rasanya tubuhku sama sekali tidak imbang, limbung ke kanan dan ke kiri. Menyedihkan! Mungkin aku tak pantas disebut sebagai wanita.

Bisa kulihat senyuman Aiden tersungging manis di wajahnya. Apakah ia bermaksud menertawakanku? Sial! Entah mengapa sejak bertemu tadi, ia memang tak berhenti tersenyum saat menatapku. Seolah-olah aku adalah objek paling lucu untuk ditertawakan. Apa aku benar-benar terlihat aneh dengan pakaian seperti ini? Errrghh… sudahlah Ann! Untuk apa kau peduli bagaimana pendapatnya tentang penampilanmu.

Aiden mengulurkan tangannya padaku. “Kau tidak ingin jatuh bukan?” Tsk… sial! Tidak akan pernah lagi aku datang ke acara seperti ini. Dengan sangat terpaksa—karena aku benar-benar tak ingin dipermalukan dengan jatuh tersungkur di acara seperti ini—kuterima uluran tangan Aiden dan bisa kurasakan darahku berdesir dengan kerasnya saat tiba-tiba ia menarik tanganku agar lenganku bisa melingkar pada lengannya yang kekar.

“Oh? Akhirnya kalian datang juga,” Aku yang masih sibuk memperhatikan tautan lengan kami, tersentak kaget ketika mendengar gumaman Jane Adams. Gadis itu tampak anggun dengan balutan gaun strapless berwarna merah dengan hiasan sebuah pita hitam di bagian pinggang. Walau ia tersenyum padaku dan Aiden, tapi bisa kurasakan tatapan kesal Jane saat melihat tautan lengan kami. Seringai senang tak dapat lagi kusembunyikan melihatnya seperti itu. Dia sendiri yang memintaku datang bersama Aiden. Seandainya saja ia memiliki keberanian untuk mengundang Aiden secara langsung dan tak memiliki niat memanfaatkanku, tak akan begini jadinya, bukan?

 

“Happy Birthday Miss Adams,” cetus Aiden sopan dan hal itu mengingatkanku untuk mengutarakan hal yang sama.

“Yeah, Happy Birthday Jane,” sambungku.

Jane hanya tersenyum simpul, “Thanks, masuklah! Nikmati saja pestanya,” katanya mempersilakan kami. “Ann, boleh aku bicara denganmu sebentar?” Hmmm… ia pasti tak tahan melihatku berdekatan dengan Aiden terus. Baiklah! Akan kuikuti permainanmu. Aku akhirnya mengangguk dan mengikuti Jane berjalan beberapa langkah menjauhi Aiden.

“Ada perlu apa? Eh… aku lupa. Di mana Jade? Aku belum mengucapkan selamat padanya,” gumamku pura-pura tak sadar pada ekspresi wajah Jane yang berubah kesal. “Ah… maaf, aku tak membawa hadiah untukmu. Sebenarnya tadi aku tak mau datang, tapi Aiden terus memaksa. Bahkan ia membelikanku gaun untuk bisa datang ke pestamu ini,” Aku kembali menyeringai saat melihat ekspresi kesal di wajah Jane semakin bertambah. Aku sadar, ucapanku memang terlalu berlebihan. Tapi toh semua itu benar, walau aku pada akhirnya tak memakai gaun pemberian Aiden. Sepertinya memang tepat jika aku memberinya sedikit pelajaran, agar ia tak sembarangan lagi memanfaatkan seseorang.

“Ann!” jerit Jane kesal dan hal itu cukup untuk membuat tamu-tamu yang hadir menoleh untuk sekedar mencari tau apa yang terjadi.

“Kau mau membuat kita malu di hadapan para tamu?” tanyaku pura-pura bodoh.

Jane merengut, tapi akhirnya berusaha tersenyum pada tamu-tamunya untuk menunjukkan bahwa tidak ada apa-apa di antara kami. Jane menarikku menjauh dari keramaian lalu kembali bergumam, “Ann, bukankah kau tau aku sangat menyukai Aiden. Lalu kenapa kau terlihat mesra sekali dengannya?” Hah… benar bukan? Pasti itu yang menjadi pertanyaannya. “Kau sendiri yang bilang tak tertarik pada Aiden dan bahkan menolak permintaanku untuk hadir bersamanya di pestaku ini. Tapi mengapa sekarang kau begitu akrab dengannya? Bahkan kemarin kau tak menerima undangan dariku, kenapa sekarang kalian hadir bersama?” cecarnya tanpa jeda.

Aku tersenyum masam, “Sudah kubilang, Aiden yang memaksaku. Setelah kupikirkan, sepertinya tak ada salahnya menerima tawaran itu. Dan kurasa, Aiden adalah pria yang cukup tampan dan baik untuk disia-siakan.” Aku yakin, aku tak akan berani mengungkapkan hal ini jika Aiden berada di dekatku saat ini. Tsk, kata-kataku benar-benar tak dapat dipercaya! Aku sudah berubah menjadi pribadi pembohong sekarang! “Sudahlah Jane, kasihan Aiden kalau ditinggalkan terlalu lama. Ia kan tak banyak mengenal teman-teman di sini.” Rasakanlah! Kau pikir menyenangkan memiliki teman yang hanya bisa memanfaatkanmu untuk kepentingannya sendiri. Semakin lama, aku semakin ahli melakukan hal ini.

Jane tak menjawab pernyataanku dan langsung pergi meninggalkanku sendiri. Sepertinya ia kecewa denganku. Tch… benar-benar menggelikan! Harusnya aku yang marah padamu!

“Annabelle Parker!” Suara melengking dan medayu-dayu yang sangat familiar di telingaku, cukup untuk membuat darahku mendidih. Megan Holmann.

 

-Lee Donghae/Aiden Lee-

Pesta ulang tahun Jane Adams terlihat begitu meriah dengan kehadiran tamu-tamu yang mulai memadati halaman rumahnya. Setelah beberapa saat lalu aku dan Ann tiba di tempat ini, kami langsung disambut oleh gadis berambut pirang itu. Walau aku yakin, aku sempat melihat ekpresi tak suka Miss Adams ketika melihatku dekat dengan Ann. Aku ikut senang ketika tak sengaja kulihat ekspresi senang tersungging di wajah Ann. Pasti ia puas sekali karena berhasil membalas perbuatan temannya itu.

Dan kini, aku hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri setelah kepergian Ann bersama Jane Adams. Menyedihkan! Aku sama sekali tak mengenal orang-orang di sini. Walau sebagian besar mahasiswa yang hadir berasal dari kampus yang sama denganku. Tapi karena masih baru, aku belum banyak mengenal mereka. Kulirik kembali sosok Ann yang saat ini masih asyik mengobrol dengan si tuan rumah. Aku tau gadis itu berniat membalas perbuatan temannya. Ternyata caraku bisa dibilang sukses. Beberapa saat bergaul dengannya, membuatku mengenal lebih banyak bagaimana watak dan sifat Ann. Ia tak akan mau jika dirinya disepelekan begitu saja. Oleh karena itu, ideku mengiriminya surat cukup berhasil meluluhkan pertahanan diri gadis itu.

Kuakui, malam ini ia tampak sangat cantik menggunakan gaun berwarna broken white dengan model renda yang menimbulkan efek bertumpuk dari bagian atas hingga bawah. Walau gaun tanpa lengan itu tampak jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan gaun yang kuberikan padanya kemarin, tapi kurasa, gaun itu memang lebih cocok dengan kepribadian Ann yang terkesan simple. Jujur, aku tak bisa mengalihkan pandanganku darinya malam ini. Terdengar terlalu picisan memang. Tapi entahlah, semua itu memang terjadi. Mungkin karena aku tak pernah melihat Ann berpenampilan seperti itu sebelumnya.

 

“Annabelle Parker!” Aku mengernyit ketika samar-samar kudengar suara seorang gadis menyebut nama Ann. Oh… bukankah itu Miss Holmann? Sedang apa dia di sini? Tapi kalau mengingat cerita Ann. Sepertinya memang tidak mengherankan kalau gadis itu menghadiri semua pesta yang diadakan oleh teman sekampusnya.

Gadis Inggris itu tampak spektakuler dengan One-sided shoulder dress berwarna hitam yang panjangnya hampir menyentuh tanah, namun belahannya di bagian depan mencapai sebatas paha. Kulirik Ann yang terlihat sebal melihat kehadiran gadis itu. Sepertinya Ann membutuhkan bantuanku. Entah mengapa saat melihat Ann bersama gadis itu, aku merasa perlu untuk membela Ann. Aku melangkah mendekati Ann dan Megan Holmann yang sepertinya tengah terlibat perdebatan sengit.

“… model lama. Kau tak ada gaun lain yang bisa digunakan?” Kudengar kalimat Miss Holmann yang kini memberikan tatapan menilai pada Ann. Seolah-olah gadis itu tidak pantas untuk datang ke pesta ini. Aku heran dengan gadis ini, kenapa ia senang sekali menggoda Ann? Sebenarnya ada apa dengan masa lalu mereka?

“Itu bukan urusanmu! Aku sama sekali tak peduli jika pakaianku bukanlah mode terkenal saat ini. Karena aku sama sekali tak berniat menarik perhatian pria-pria hidung belang untuk menggodaku,” balas Ann sengit.

“Oh… benarkah? Sampai kapan kau akan—“

“Ann sudah memilikiku, jadi ia tak butuh pria lain di sampingnya,” kusela perkataan Miss Holmann itu dan entah sejak kapan tanganku sudah melingkar di bahu Ann. Mendekatkannya dengan posesif. Bisa kurasakan ketegangan Ann melalui gerakan tubuhnya. Tapi entah mengapa, ia sama sekali tak memberikan penolakan saat kulakukan itu.

“Mr Lee?!” seru Megan Holmann. Gadis itu tampak terkejut dengan apa yang kukatakan tadi. Semoga dengan begini, ia bisa berhenti menggoda Ann.

 

TBC

19 thoughts on “HATE That I LOVE YOU [Part 5]

  1. Lanjutannya buruan!!!
    demia apa!!
    aku senang yang ini!!
    mian kalau dirangkum dari part 1- 5..
    habis kalau satu satu bingung~
    he3x
    aku sebenarnya rada aneh ama Ann..kan dia akui sendiri, g semua org yang bernama cowo itu ‘bermasalah’ nah kenapa sikapnya masih kaya gitu aja..
    dan Ya Spancer! apa maksudmu mengatakan oppaku jelek??*jitak*
    lanjutannya di tunggu secepatnya yah!!
    ok??
    Hwaiting!!^^b

    • Kayaknya lanjutannya bakal agak lama, lagi sibuk! kkkk
      Tapi kuusahain akhir minggu ini bisa ngelanjutin ^^
      Itu kan khusus cowo-cowo sebangsa dia.Gak berlaku buat cowo Asia yg dia benci hehe

  2. keren thorr. .
    wahai annabelle, bisa2nya kau menolah oppaku yg satu itu. .#plakk
    walaupun baru bisa komen di ff yg ini, soalnya saia masih baru. .hehe
    nice ff

  3. akhirnya ann mau jg diajak kepesta tp mesti dikomporin(?) dulu ya baru mau
    ah knp ga make baju dr aiden aja sih??
    kan lebih bagus tuh
    jane jdi kesel ya ma ann gara2 dia akhirnya dtg ma aiden
    aiden jadi dewa penolong nih
    dasar megan si nenek lampir nih ah ngerusuh aja taunya
    lanjutannya jgn lama2 ya thor ^^

    • kompornya Aiden berhasil yah kkkkk😄
      Kan si Ann gengsinya gede :p
      Ne, mudah2an akhir minggu ini bisa bikin lanjutannya. Tapi gak janji juga, secara lagi bikin STORM ^^

  4. Bagusss!!
    Skinship’a udh lumayan keliatan. Ada prkembangan nih hubungan mreka
    kkkkk
    lanjut…lanjut…!:D
    tp sayang gg ada foto’a hae yg pas dteng k pesta’a adams tuh

  5. setelah membaca beberapa part, akhirnya aku komen juga
    aku suka part ini, udah mulai jelas ceritanya *walau masih bingung*
    keren thorr ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s