HATE That I LOVE YOU [Part 4]

Cerita sebelumnya:

Annabelle Parker, menyadari dirinya tak pernah bisa menolak perangkap Aiden. Mulai dari menemaninya membeli buku, hingga ia membiarkan Aiden mengantarnya ke rumah dan berakhir pada perkenalan Aiden dengan Ibunda tercintanya. Hal tersebut tentu saja membuat Spencer cemburu, mengetahui Ann yang tak pernah membawa pria manapun sebelumnya, kini bersama pria lain.

Di kampus, Ann dibuat sebal dengan kenyataan bahwa Aiden adalah seorang Playboy seperti yang ia kira, ditambah lagi dengan kelakuan Megan Holmann yang terus saja menggodanya dengan memamerkan hubungannya dan Aiden. Sedangkan Jane—teman sekelas Ann—terus saja mendesak gadis itu agar mengenalkannya pada Aiden. Bahkan, Ann harus menelan kekecewaan yang sangat besar karena ternyata Jane memanfaatkannya dengan memintanya datang ke pesta ulang tahun gadis itu hanya agar Ann dapat membawa Aiden bersamanya.

Part 4

 

 

 

-Aiden Lee/Lee Donghae,

Camberwell College of Art, London-

Tak terasa sudah seminggu lebih aku menjalani hari-hari di London, atau lebih tepatnya 9 hari telah berlalu semenjak kedatanganku ke salah satu kota terbesar di dunia ini. Kurasa tidak salah kalau London disebut-sebut sebagai salah satu kota terbesar di dunia bersama tiga kota lainnya—Tokyo, Paris dan New York—karena seperti yang kuperhatikan, kota ini tak pernah sepi. Dalam 24 jam, sama sekali tak pernah istirahat. Kota ini selalu ramai dengan orang-orang, baik itu dari luar maupun dalam negeri. Kalau ditanya bagaimana perasaanku? Sebagai orang Korea asli, aku benar-benar merindukan saat-saat masih di negaraku. Apalagi masakan buatan Eomma yang menurutku tak ada yang dapat menandinginya di tanah kelahiran Ratu Victoria ini. Semuanya serba roti, keju dan susu. Tak ada lagi kimchi makanan favoritku. Hah… rasanya aku harus benar-benar bersabar dan mencoba bertahan untuk dapat hidup di kota ini.

Bukan hanya masalah makanan yang cukup mengganggu untuk dapat beradaptasi di sini, tapi juga kendala bahasa. Aku sadar kalau bahasa Inggrisku tak cukup lancar. Entah mengapa justru aku yang terpilih menjadi wakil kampusku sebagai mahasiswa pertukaran pelajar tahun ini. Padahal aku lebih menjagokan Kyuhyun yang berbahasa Inggris jauh lebih lancar daripada diriku sendiri. Mungkin karena aku lebih tampan dari Kyuhyun, jadi Guru Ma mempercayakanku menjadi wakil kampus. Selain itu, Shin Jiae—adik sepupuku—pasti akan sangat senang kalau si Evil itu yang terpilih. Yeah, Jiae. Hari ini aku berjanji akan menemuinya di kampus. Well, walau sudah 9 hari aku di sini, belum pernah sekalipun aku bertemu dengannya. Bukan karena tak ingin, tapi memang Jiae sedang sibuk menjalani kegiatannya di luar kampus. Dan baru hari ini kita memiliki waktu bertemu.

“Donghae Oppa!” Aku menoleh ketika mendengar suara adik sepupuku itu. Kulihat Jiae muncul di ujung lorong dengan menenteng tas hermes dan beberapa buku di tangannya. Ini tahun keduanya kuliah di sini. Aku benar-benar harus belajar darinya agar bisa mengadaptasikan diri. Dan mungkin meminta beberapa advice agar tak lagi ada keinginan ingin pulang.

Aku berdiri dan menyambutnya dengan merentangkan kedua tanganku, “Hai… Jiae-a! Kuharap kau tidak kecewa karena yang datang bukan Kyuhyun, tapi aku,” godaku dan seperti yang sudah kuduga, wajah cantik Jiae merona. Aku menjerit ketika alih-alih Jiae memelukku tapi ia justru memukul lenganku dengan buku-bukunya yang lumayan tebal itu,. “Aisshh… kau ini!” Kuacak-acak rambutnya yang kini dicat berwarna coklat keemasan, bukan lagi hitam seperti dulu. Mungkin untuk menyesuaikan diri dengan teman-temannya di sini.

“Bagaimana kabarmu Oppa? Sudah lama kita tak bertemu. Kudengar, sudah seminggu kau di sini,” mulainya sembari tersenyum.

“Bukan seminggu, tapi sudah hampir sepuluh hari aku di sini. Dan kau, baru menemuiku sekarang,” keluhku pura-pura kesal, “Tapi pasti akan berbeda bila Kyuhyun yang berada di tempatku. Pasti kau akan—“

 

“Ya! berhenti menggodaku!” potong Jiae lalu kembali memukul lengan atasku dengan bukunya yang tebal itu.

“Aisshh… appo!” Aku pura-pura menggerutu dan mengelus lengan atasku yang jujur memang terasa agak sakit. Tapi aku hanya bermaksud menggoda Jiae dengan bertingkah seperti ini.

Alih-alih meminta maaf, gadis itu malah memarahiku dengan berkata, “Salahmu sendiri, kenapa terus menggodaku?”

Aku tertawa lebar. Dia masih seperti dulu. Pemarah sekaligus naif. Ternyata London sama sekali tak merubahnya. Siapa yang tidak tau kalau dirinya sangat menyukai Kyuhyun? Tapi ia malah bertingkah seolah-olah aku yang berbuat kesalahan. “Okay… okay, baiklah. Aku minta maaf untuk itu,” cetusku menyerah “Tapi aku tau kalau semua itu benar,” tambahku buru-buru dan tentu saja hal itu membuat Jiae kembali melotot.

“Apakah bukuku kurang tebal? Mau kutambah lagi?” Jiae mulai mengambil ancang-ancang untuk memukulku lagi tapi aku buru-buru menahannya.

“Ya! baru sehari… ah tidak, bahkan belum satu jam kita bertemu. Kau sudah membuat badanku merah-merah dan sakit begini. Apalagi kalau sampai setahun aku bertemu denganmu,” Jiae merengut mendengar ucapanku yang cukup berlebihan, tapi akhirnya ia mengurungkan niatnya memukulku.

“Ya sudahlah! Asal kau tak menggodaku, aku tak akan memukulmu lagi,” cetusnya, “Ah… Oppa, apa kau sudah makan? Bagaimana kalau kita bicara di kantin saja sembari makan?”

Hmmm… Ide bagus. Aku juga sudah lapar karena pagi tadi hanya sempat memasukkan semangkuk cereal ke perutku. Tinggal sendiri, lebih sering membuat frustasi. “Okay, lets go!

“Tch… jangan sok menggunakan bahasa Inggris. Kau tau bahasa inggrismu terasa aneh,” ejek Jiae, mungkin ia ingin balas menggodaku. Sial! Sepupuku ini sudah pintar menggoda rupanya.

“Oh… I’m sorry!” Ketika memutar tubuhku, aku hampir saja menabrak seorang gadis yang tengah membawa berlembar-lembar kertas. Sepertinya kertas-kertas itu berisi tugas yang akan dikumpulkannya di ruangan dosen. “Sini, biar kubantu. Kulihat kau kesulitan sekali membawanya,” tawarku lalu tanpa menunggu persetujuannya, kuambil separuh dari tumpukan kertas itu. Tapi anehnya, gadis ini tidak merespon. Sejak tadi, ia hanya diam dan menatapku lekat-lekat seolah aku ini bukanlah makhluk yang sama dengannya. Apa ada yang aneh dengan diriku? Atau jangan-jangan… ia tak mengerti dengan bahasa Inggris yang kuucapkan? Yeah, aku sadar kalau bahasa Inggrisku agak belepotan. Tapi aku yakin, aku mengucapkannya dengan benar kali ini. “Hey Nona, kau akan membawanya ke mana?” tanyaku sekali lagi.

“A-ah… ke ruangan Mrs. Hannah!” Hmm… benar dugaanku. Kertas ini berisi tugas yang diberikan Mrs. Hannah dua hari yang lalu.

“Kalau begitu, ayo kita antar sekarang ke ruangannya,” ajakku lalu memimpin jalan setelah sebelumnya kuminta Jiae menunggu.

Ruangan Mrs. Hannah tidak jauh, hanya berjarak beberapa ruangan saja dari tempat tadi. Setelah meletakkan kertas-kertas itu di meja, kulihat gadis tadi tersenyum padaku. “Thanks a lot!” gumamnya senang.

You’re welcome,” balasku sopan. Entah hanya perasaanku saja, atau sepertinya memang gadis ini tak henti-hentinya menatapku. Semoga saja memang tak ada yang aneh dengan penampilanku.

“Kau… Aiden bukan?” Aku mengernyit heran ketika ia mulai bicara lagi. Kuanggukkan kepalaku sebagai jawaban. Aku tak tau ternyata diriku sudah seterkenal ini di kalangan gadis-gadis Inggris. “Kenalkan, aku Jane, Jane Adams,” tambahnya memperkenalkan diri.

Kubalas uluran tangannya, “Kalau begitu, aku pergi dulu Miss Adams. Sampai jumpa lagi,” pamitku sopan, lalu pergi meninggalkannya. Jiae pasti marah kalau aku terlalu lama membuatnya menunggu.

——————————

Setelah berjalan mengitari lorong dan naik ke lantai 3, kami—aku dan Jiae—sampai juga di kantin yang tampak mulai ramai menjelang jam makan siang. Beberapa bahkan kesulitan mencari tempat duduk kosong untuk ditempati. Tanpa sadar senyumku mengembang ketika melihat seorang gadis yang sangat kukenali tengah duduk di deretan meja kedua dari pojok sebelah kanan. Annabelle Parker. Yeah, gadis itu sedang asyik memotong steak di piringnya dan tentu saja untuk menyantapnya. Hmm… tiba-tiba timbul ide cemerlang di otakku untuk kembali menggodanya.

Well, selama beberapa hari ini aku mulai akrab dengan gadis itu, semenjak Mr. Freddickson menugaskannya menjadi guide-ku. Walaupun aku sempat menciptakan sedikit kebohongan padanya tentang tugas itu, dengan mengatakan bahwa ia harus membantuku hingga masa pertukaran pelajarku berakhir. Yeah… bisa juga dibilang bukan hanya sedikit kebohongan, tapi cukup banyak. Hmm… aku tau aku salah. Tapi tak bisa kupungkiri, aku suka sekali menggodanya. Melihat tingkahnya yang berubah kikuk tapi sekuat tenaga tetap berusaha mempertahankan ekspresi kesal di wajahnya, setiap kali aku menggodanya. Seperti memiliki hiburan baru yang membuat hari-hariku tak lagi membosankan. Apalagi pendapatnya mengenai pria-pria Asia. Menurutku, gadis itu sebenarnya baik. Hanya saja, sepertinya ia terlalu berlebihan menanggapi kebenciannya pada pria-pria Asia sepertiku. Apalagi saat aku tau alasannya membenci pria Asia adalah karena Ayahnya sendiri.

Jujur, aku benar-benar ingin tau alasan kebenciannya pada sang Ayah. Walau kemarin aku sempat mengobrol dengan Ibunya yang sudah berbaik hati memberiku makanan gratis. Tapi tak mungkin aku menanyakannya langsung pada sang Ibu. Bahkan, untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Aku sampai bertanya pada Megan Holmann—gadis yang sempat bertengkar dengan Ann hari itu—karena sepertinya gadis itu mengetahui sesuatu tentang keluarga Ann. Namun aku salah perhitungan, gadis yang dituduh Ann sebagai playgirl itu sama sekali tak memberiku informasi apapun tentang keluarga Ann, dia malah terkesan ingin merayuku. Hah… bodohnya aku! Sepertinya Ayah Ann memang sudah membuat kesalahan besar hingga gadis itu selalu berburuk sangka pada pria-pria Asia lainnya. Dan anehnya, aku ingin sekali membuktikan padanya bahwa tak semua pria Asia itu buruk.

“Ehm… senyummu aneh Oppa!” Aku tersadar ketika mendengar celetukan Jiae yang berdiri di sampingku. Sepupuku itu seolah penasaran dengan apa yang kupikirkan tadi. Kulihat ia ikut-ikutan melempar pandangannya pada arah pandangku. “Apakah dalam waktu 9 hari ini aku sudah ketinggalan sesuatu? Atau jangan-jangan… kau sudah menemukan seseorang yang membuatmu betah di kota ini,” godanya tak mau menyerah. Apa kubilang, dia semakin pandai menggoda kakaknya.

“Sudahlah… sebaiknya kita segera antre kalau tak ingin kehabisan makanan,” cetusku sambil menunjuk kerumunan orang yang sedang mengantre di depan counter makanan. Kalau menceritakan pada Jiae sekarang, kupastikan kami tak akan kebagian makanan dan harus pulang dalam keadaan lapar. Ah… jangan sampai hal itu terjadi! Syukurlah Jiae berhenti mendesak dan menuruti saranku. Sepertinya ia juga sudah lapar.

Cukup lama kami mengantre, hingga saat aku dan Jiae selesai mendapat makanan, tempat duduk sudah penuh, dan kami kesulitan mencari tempat kosong. Ann. Ya, kenapa aku bisa lupa? Kulirik bangku kedua dari kanan, ternyata gadis itu masih di sana dan ada beberapa tempat kosong di sana. Walau saat ini ada seorang gadis lain yang tengah duduk di hadapannya. Sepertinya aku mengenal gadis itu. Ah… ya, dia Miss Jane Adams yang tadi berkenalan denganku di ruangan Mrs. Hannah.

“… Please Ann! Datanglah ke pesta ulang tahunku akhir Minggu ini,”  samar-samar kudengar Miss Adams bergumam. Jadi ia sedang mengundang Ann ke pesta ulang tahunnya, dan kalau kulihat dari ekspresi tak peduli di wajah Ann. Kurasa gadis itu menolak habis-habisan ajakan temannya itu. Tidak heran memang melihat sikapnya selama ini. Dia memang gadis yang tidak mudah ditaklukkan dan cukup… keras kepala tentunya. “Please! Kau kan temanku yang paling baik sedunia,” Aku tersenyum mendengar pujian Miss Adams pada Ann. Kurasa, gadis itu hanya membuang-buang waktu dengan membujuk Ann datang ke pesta. “Aku tunggu kau di pestaku, okay? Jangan lupa, ajaklah Aiden juga.”

Eh? Gadis itu… aku tidak salah dengar bukan? Dia… meminta Ann mengajakku hadir bersamanya? Aku menyeringai. Sepertinya akan menyenangkan. Kupercepat langkahku dan duduk di sebelah gadis bernama Jane Adams itu. “Kau jangan khawatir, aku dan Ann pasti akan hadir ke pestamu.” Aku tak peduli dengan pelototan Ann yang ditujukannya padaku. Yang terpikir di benakku sekarang, adalah rencana seru untuk menggoda gadis itu. Entah mengapa Tuhan seolah memberikan kemudahan padaku dengan adanya pesta ini.

Miss Adams sama sekali tak menyembunyikan keterkejutannya melihat kehadiranku yang tiba-tiba itu. Aku bahkan yakin kalau ia gugup. Apakah gadis ini menyukaiku? Hmmm… entahlah! Tapi syukurlah akhirnya ia tersenyum, “Kalau begitu, aku tunggu kehadiranmu… eh, maksudku, kehadiran kalian berdua,” katanya sebelum pergi meninggalkan kami. Aku melambai padanya, sekaligus menoleh untuk meminta Jiae duduk di tempat Miss Adams tadi.

“Siapa yang menyuruhmu menjawab? Apalagi mengatasnamakan diriku! Apa hak-mu berkata begitu?” Aku buru-buru menyembunyikan seringaiku mendengar Ann mulai memprotes ucapanku tadi.

Kupasang tampang serius sebelum menjawab, “Kurasa… tak ada ruginya datang ke pesta itu. Justru menurutku, kau harusnya jangan menolak undangan yang diberikan temanmu. Dia kan sudah repot-repot mengundangmu. Kau harus menghargainya sebagai seorang teman,” terangku lancar. Walau kuakui, aku ingin sekali tertawa melihat ekspresi Ann yang tampak sangat panik. Kalau aku tidak salah tebak, ia pasti tak pernah hadir di acara-acara pesta sebelumnya. Bisa kubayangkan betapa marahnya dirinya saat ini.

Kulihat Ann sudah membuka mulutnya untuk membalas, tapi diurungkan ketika melihat kehadiran Jiae di tengah-tengah kami. “Ah… teruskan saja pembicaraan kalian,” kudengar Jiae bergumam sebelum akhirnya sepupuku itu memfokuskan diri dengan makanannya.

Kulirik kembali gadis itu yang kini semakin tampak berang, “Mr Lee—“

“Aiden!” koreksiku cepat.

Ann menggeram, “Whatever,” sergahnya kesal membuatku ingin terkikik geli, “Aku sedang tidak berminat mendengarkan kuliah kepribadianmu Profesor Aiden Lee. Dan kalau kau memang ingin hadir di pesta itu, datanglah sendiri. Jangan pernah mengajakku ikut serta. Kurasa, Jane lebih membutuhkan kehadiranmu dibandingkan aku,” Aku baru saja membuka mulut untuk membantah ketika ia menambahkan, “Atau… kau juga bisa membawa kekasihmu ke pesta itu!”

Eh? Kekasih? Sejak kapan aku punya… kulihat ia melirik Jiae sebelum berdiri dari kursinya. Jadi, ia mengira Jiae kekasihku? Oh, ayolah! “Hey, Ann!” Kutahan lengannya sebelum ia sempat pergi, “Sayangnya aku tak memiliki kekasih untuk kubawa bersamaku,” dapat kudengar gadis itu mendengus keras.

“Terserah! Aku tak peduli bagaimana kau menyebutnya. Kekasihmu atau selingkuhanmu, atau juga teman dekatmu, terserah padamu!” Sungguh. Aku benar-benar tak sanggup lagi menahan tawaku. Tapi tidak, aku harus tetap tampak tenang di hadapannya. Dia tak boleh tau kalau aku ingin menggodanya.

“Kalau yang kau maksud Jiae, dia sepupuku,” Entah aku salah lihat atau tidak, tapi bisa kurasakan ekspresi marahnya memudar sedikit demi sedikit. Hentakan tangannya yang kucengkeram pun tak sekuat tadi. Apa yang terjadi dengannya? Apa ia cemburu melihatku bersama Jiae? Jadi sekarang ia merasa lega karena ternyata Jiae bukan siapa-siapaku? Tch… pikiranmu sudah semakin jauh Lee Donghae! “Kujemput jam 7 di rumahmu Sabtu malam nanti,” tambahku ketika kulihat ia hanya diam.

Dan seperti yang sudah kuduga, kata-kataku itu kembali menyulut emosinya. Terbukti, ia langsung menghentakkan lengannya dan pergi begitu saja tanpa menjawab pernyataanku. Aku memandang punggungnya hingga menghilang di balik pintu kantin. “Kurasa kau keterlalulan Oppa!” komentar Jiae sesaat setelah aku kembali duduk di kursiku.

“Keterlaluan bagaimana?” tanyaku pura-pura tak mengerti, padahal dalam hati aku pun merasa tak enak pada Ann. Sepertinya dia benar-benar marah padaku.

“Kau keterlaluan pada gadis itu. Aku tau kalau kau hanya bermaksud mempermainkannya,” tegur Jiae. Mempermainkannya? Kurasa Jiae terlalu melebih-lebihkan. Aku sama sekali tak bermaksud mempermainkannya. Aku hanya ingin menggodanya. Itu saja. Dan kuakui, hari ini aku memang keterlaluan. Tapi sejujurnya, aku sama sekali tak bermaksud menyakiti hatinya.

“Aku bukan ingin mempermainkannya Jiae-a, aku hanya ingin bercanda dengannya. Itu saja!” bantahku berusaha menjelaskan. Aku tak menyangka ternyata sesama wanita memiliki ikatan yang kuat. Apa mungkin karena watak mereka yang nyaris sama? Mungkin akan berbeda bila aku berhadapan dengan gadis seperti Megan Holmann ataupun Jane Adams.

“Tapi bercandamu sama sekali tidak lucu Oppa!” Jiae kembali memprotes. Lama-lama aku terlihat seperti seorang terdakwa yang baru saja membuat kesalahan besar. Sial! “Kau tidak lihat bagaimana ekspresi kesal gadis itu tadi?”

“Ah… oke, baiklah! Aku minta maaf kalau seandainya aku membuat kesalahan,” Aku menyerah. Tak ada gunanya bertengkar dengan Jiae di saat seperti ini. Walau aku tak yakin ia akan berpendapat sama jika aku menjelaskan letak permasalahan yang sebenarnya.

Jiae kembali sibuk mengunyah makanannya, “Bukan padaku kau harus meminta maaf, tapi pada gadis tadi,” katanya terus terang.

Hah… sebenarnya mereka ini saling kenal atau bagaimana sih? Kenapa bisa saling membela begitu? “Oke, fine! Aku akan meminta maaf padanya. Kau puas?” sergahku pasrah, aku tak menyangka kalau candaanku justru menjadi boomerang bagi diriku sendiri, “Sebaiknya kita tak membahas masalah ini lagi!” kuraih soda kaleng yang tadi kubeli dan meneguk isinya banyak-banyak, rasanya tenggorokanku kering hanya dengan memikirkan masalah ini.

“Sebaiknya begitu, kalau kau memang tidak ingin terkena akibatnya, “ Jiae meneruskan komentarnya, “Aku hanya tak ingin kau menyesal saat kau benar-benar jatuh pada perangkapmu sendiri Oppa.” Hmm… sepertinya dia semakin jauh memikirkan hal ini. Tapi apa maksudnya dengan jatuh terhadap perangkapku sendiri? Ketika aku melayangkan tatapan bertanya padanya, ia menjelaskan maksud perkataannya. “Jangan bermain-main dengan wanita Oppa, kalau kau tidak ingin semua itu menjadi boomerang untuk dirimu sendiri, dan pada akhirnya kau yang akan jatuh pada perangkap cinta yang kau buat sendiri.”

Aku merasakan soda yang kuminum masuk ke kerongkongan dan naik ke hidung. Sial! Aku tersedak. Jiae menepuk-nepuk pundakku pelan untuk membantuku meredakan batuk yang kini menyerangku. Cinta? Apa maksudnya?

“Pelan-pelan kalau minum!” Jiae memperingatkan seolah sama sekali tak menyadari bahwa kata-katanya itu yang membuatku tersedak.

Memikirkan aku akan jatuh cinta pada gadis itu? Yang benar saja. Hal itu tak mungkin terjadi. Aku adalah tipe pria setia. Sekali jatuh hati pada seseorang, maka aku akan mempertahankannya. Dan Jiae tau kalau hatiku sudah memilih belahan jiwanya sendiri. Walaupun gadis yang kucintai belum memberikan jawaban pasti padaku.

-Abbey Street, London-

 

Aneh memang. Tapi di sini aku sekarang. Tepat di depan restoran keluarga Ann. Semalaman aku berpikir. Kurasa memang benar apa yang dikatakan Jiae. Aku memang harus meminta maaf pada Ann. Tapi aku tetap tak setuju dengan pernyataan Jiae tentang aku yang mempermainkan gadis itu. Sudah kubilang, aku hanya ingin bercanda dengannya. Tidak lebih dari itu.

Suara berdenting yang berasal dari bel yang digantung dibelakang pintu, terdengar saat aku membuka pintu kaca tersebut. Kulihat Mrs Parker—Ibunda Ann—sedang sibuk melayani tamu yang tengah menyempatkan waktunya makan di restoran ini. Di bagian kasir, kulihat pria Asia yang beberapa hari sebelumnya mengaku sebagai kekasih Ann. Pria itu melayangkan tatapan tak bersahabat padaku. Walau begitu, aku tetap berusaha tersenyum padanya.

“Oh… bukankah kau Aiden?!” sapa Mrs Parker ramah ketika melihat kehadiranku.

Aku menunduk dan tersenyum padanya. Wanita ini tetap terlihat cantik di usianya yang sudah tak muda lagi. Kurasa memang keterlaluan jika Ayah Ann sampai menyia-nyiakan wanita sebaik dan secantik dirinya. “Selamat Sore Mrs Parker!” balasku sopan.

“Kau mencari Ann? Dia sedang mencuci piring di belakang,” jelasnya lalu ia melirik pada pria di meja kasir itu, “Spencer, panggil Ann ke mari. Katakan padanya Aiden mencarinya,” perintahnya pada si pegawai.

Walau aku sempat menangkap ekspresi terpaksa di wajah pria bernama Spencer itu, tapi ia tetap menuruti perintah Mrs Parker. “Tunggulah di sini. Ann akan keluar sebentar lagi,” katanya padaku lalu mempersilakanku duduk di meja di dekat meja kasir.

Tak berapa lama, pria itu keluar, “Ann tidak mau menemuimu! Sebaiknya kau katakan padaku saja apa yang kau inginkan dari kekasihku.” Pria itu bicara padaku dengan nada yang sama sekali tak bersahabat. Ia berkacak pinggang di hadapanku. Ann kekasihnya? Yang benar saja. Tak mungkin ia berpacaran dengan pria Asia sepertinya, sementara aku tau kalau gadis itu sangat membenci pria Asia.

Melihat tingkahnya itu, membuatku ingin tertawa. “Aku hanya akan menyampaikannya pada Ann. Bukan padamu,” balasku santai, kulihat dia tampak tak terima dengan jawabanku itu.

“Aku sudah bilang Ann tak mau menemuimu. Apa kau tidak mengerti bahasa manusia?” Ia membalas dengan setengah membentak. Dan kini bukan lagi bahasa inggris yang digunakannya, melainkan bahasa Korea. Yeah, harusnya aku tau kalau pria yang kini berdiri di hadapanku berasal dari negara yang sama denganku.

“Kalau begitu, biar aku yang menemuinya!” Aku hendak melangkah ke dalam, tapi ia menghalangi dengan tubuhnya.

“ANDWAE!!! Kau tidak boleh masuk!” cegahnya cepat. Aisshh… semakin lama tingkah pria ini semakin menyebalkan saja. Aku kemari untuk meminta maaf, bukannya ingin bertengkar. Kalau begini terus, rasanya aku ingin memberi pelajaran padanya.

“Apa-apaan ini?” Syukurlah Mrs Parker menengahi. “Spencer, kau sudah memanggil Ann?” tanyanya pada pria itu.

“Ann tidak mau menemuinya Boss,” lapornya, “Tapi orang ini malah memaksa masuk.”

Mrs Parker mendesah panjang, “Biarkan saja dia masuk, tidak seharusnya Ann menolak tamu seperti ini.”

Aku tersenyum penuh kemenangan. Mrs Parker memang yang terbaik. “Thanks Mrs Parker,” balasku senang, kulirik Spencer yang tampak begitu kesal. Kurasa dia sangat cemburu. Baru seperti ini saja ia sudah secemburu itu, apalagi kalau ia sampai melihatku ke pesta bersama Ann. Sepertinya akan sangat menyenangkan.

“Baiklah! Kau boleh masuk, tapi aku tak akan membiarkan kalian berduaan di dalam,” tambahnya tak mau kalah. Sungguh. Kalau tidak ada Mrs Parker, aku sudah tertawa mendengar kata-katanya itu.

Detik berikutnya, ia memimpinku masuk ke dalam rumah. Setelah melewati sebuah ruangan kecil yang menghubungkan antara bagian depan restoran dengan bagian dalam rumah, akhirnya kami sampai di dapur. Ann tengah berdiri membelakangi kami. Gadis itu hanya mengenakan T-shirt putih berlengan pendek dan hot pant biru muda yang membungkus kaki mulusnya hingga sebatas paha. Sementara rambut hitam panjangnya, ia ikat acak-acakan hingga ke atas kepalanya. Kulihat Ann sedang sibuk mencuci piring-piring kotor di wastafel dapur hingga sama sekali tak menyadari kehadiran kami.

Honey, aku sudah memintanya pergi. Tapi Boss malah menyuruhnya masuk,” Spencer mengumumkan kedatangan kami.

Tak menunggu lama, Ann memutar tubuhnya. Tatapan gadis itu sama sekali tak terbaca. “Kau. Ada urusan apa lagi? Aku sibuk,” balasnya datar. Walau begitu, aku tau ia sedang menahan amarahnya.

“Bisakah kita bicara berdua saja?” Aku melirik Spencer yang berdiri di antara kami, berharap agar ia mau keluar.

“Katakan saja apa yang ingin kau katakan, kurasa Spencer tak akan mengganggu,” Tch… tak akan mengganggu? Taukah ia bahwa sejak tadi pria itu sudah mengangguku?

“Tapi ini urusan kita berdua Ann,” bantahku.

“Kau tidak dengar apa yang kekasihku katakan?!” timpal pria itu. Kulihat ia sangat senang karena mendapat pembelaan langsung dari Ann.

“Aku bukan kekasihmu Spencer,” Ann buru-buru mengoreksi dan hal itu membuatku tak tahan untuk tak mengeluarkan seringaiku. “Katakan apa yang kau inginkan dariku?” Gadis itu bertanya padaku.

Oke, kurasa aku tak perlu membuang waktu lagi. Aku berdeham pelan untuk melegakan tenggorokanku yang terasa kering sebelum menjelaskan, “Maksudku datang ke mari adalah untuk meminta maaf padamu,” Ann tetap tak bergeming di tempanya, “Aku tau, kemarin aku telah bertingkah keterlaluan,” lanjutku, kali ini aku bisa merasakan tatapan tajam Spencer. Kurasa ia memikirkan sesuatu yang buruk tentangku. Tapi aku tak peduli, yang penting sekarang aku akan mengungkapkan semuanya pada Ann. “Ann, kau memaafkanku bukan?”

Hening. Ann sama sekali tak menjawab. “Kalau sudah selesai, keluarlah!” katanya setelah sekian lama hanya diam. Hey… hanya itu?

“Ann, kau belum menjawab pertanyaanku,” protesku cepat, tapi kurasakan sebuah tangan mendorong tubuhku keluar. Tangan Spencer.

“Kau tidak dengar apa yang dikatakannya?” gumam pria itu, sambil terus mendorongku. Isshh… apa kubilang. Pria ini memang mengganggu.

“Tapi Ann, kau belum menjawabku. Aku tak akan pergi sebelum kau memaafkanku!” sekuat tenaga kutahan kekuatan Spencer yang terus saja mendorongku keluar dari ruangan itu.

“Baiklah, aku memaafkanmu. Sekarang kau bisa keluar. Dan jangan ganggu aku lagi!” Yeah, seperti yang sudah kuduga. Ia tak akan bisa menolak permintaanku. Haha… aku memang hebat. Sudah kubilang, ia sebenarnya gadis yang baik. Hanya saja ia terlalu gengsi untuk mengungkapkannya secara terang-terangan hanya karena aku ini pria Asia yang dibencinya. Tapi aku berjanji akan merubah persepsinya itu. Aku melirik Spencer yang kini tak lagi mendorongku, tapi tatapannya berubah menjadi sekeras batu. Kutepuk bahu pria itu pelan. Sebaiknya ia menghentikan apa yang dirasakannya untuk Ann. Pasti akan sulit sekali baginya untuk mendapatkan perhatian gadis itu.

-Camberwell College of Art-

 

Hari ini tak banyak jadwal di kampus. Hanya ada satu jam kuliah Mr Jhon dan itu sudah berakhir beberapa menit yang lalu. Kini aku duduk di salah satu kursi panjang di koridor kampus. Aku sedang menunggu. Bukan menunggu Jiae, karena hari ini adik sepupuku itu sedang sibuk dengan kegiatannya sendiri. Nah, gadis yang kutunggu sudah datang. Seperti biasa, seringaiku muncul begitu melihat sosoknya yang langsung melotot mengenali kehadiranku.  Ia kelihatan imut sekali dengan wajah marahnya itu. “Hai Ann!” sapaku seramah mungkin. Yeah, aku memang sedang menunggu gadis blasteran Korea-Inggris itu. Hari ini, aku akan melancarkan rencana yang sudah kupikirkan sejak semalam. “Aku butuh bantuanmu,” mulaiku ketika ia tak juga menjawab.

“Bantuan apa lagi?” tanyanya dengan ekspresi yang sama sekali tak tertarik.

Aku tersenyum semanis mungkin, dan kulihat ia berjengit mundur ketika aku mendekatkan diriku padanya. Hal yang selalu dilakukannya jika aku mendekatinya. Sepertinya dia anti sekali dekat-dekat denganku. “Aku tak punya pakaian yang cocok untuk kugunakan ke pesta Miss Adams, maukah kau mengantarku berkeliling—“

“Kenapa tak kau ajak sepupumu itu?” potongnya cepat lalu mulai berjalan menjauhiku.

Aisshh… aku harus mencari alasan apa? “Dia sedang sibuk dengan kegiatannya.” Alasan lemah memang, tapi hanya itu yang terpikir olehku saat ini.

“Kalau begitu, pergi saja sendiri!” balasnya ketus.

Arrggh… sifat keras kepalanya memang sudah tak tertolong. Kutarik lengannya agar berhenti berjalan. “Tapi kau tau aku belum mengenal tempat ini,” paksaku tak mau menyerah.

Gadis itu mendengus, “Tapi kemarin kau sudah bisa ke rumahku sendiri Mr Lee,” ia mengingatkan. Well, tentu saja aku bisa ke sana, karena aku pernah mampir sebelumnya. Walau sebenarnya, aku bisa menemukan sendiri toko-toko yang menjual pakaian di kota ini. Sudah kubilang, aku hanya ingin menggodanya.

“Ann, kau lupa tugas yang diberikan Mr Freddickson padamu?” Hmm… aku mulai mengungkit tugas palsu yang kukarang untuknya itu. Tapi sepertinya berhasil. Gadis itu tampak bingung dan kerutan di wajah cantiknya mulai tampak. Aku tersenyum senang melihatnya seperti itu, “Ayo! Temani aku! Aku tau kau tak ada kegiatan lagi setelah ini,” kugamit lengan Ann cepat tanpa menunggu persetujuannya, “Kau pasti tak mau kan kalau pasanganmu ini tampil sembarangan di pesta itu.”

Aku buru-buru menyembunyikan seringaiku ketika tiba-tiba Ann menyentakkan lengannya keras. Rencanaku berhasil. “Apa kau bilang? Pasanganmu?”

Kuputar tubuhku menghadapnya, “Iya,” balasku setenang mungkin, dengan menunjukkan wajah tanpa dosa.

Ann mendengus, “Lalu apa maksudmu meminta maaf kemarin?” Sudah kuduga, ia pasti akan marah dan mengungkit masalah itu. Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan jawaban yang aku yakin tak akan bisa dibantahnya.

“Aku memang meminta maaf padamu untuk sikapku yang keterlaluan,” ungkapku lancar, “Tapi aku tak pernah membatalkan janji yang sudah kita buat pada Miss Adams tentang pesta itu.”

“Aku tak berjanji apapun, kau yang berjanji padanya. Bukan aku! Jadi tolong jangan libatkan aku!” Ia terus membantah.

Dia memang benar. Tapi aku benar-benar ingin ia ikut ke pesta itu. “Aku tau. Tapi pernyataan itu sudah diucapkan. Kau tidak mau kan kalau kau dianggap sebagai orang yang tak bisa menepati janji.” Aku senang karena ternyata diriku pandai sekali bermain kata-kata. Kulihat ekspresi bingung mulai tergambar di wajah Ann. “Sudahlah Ann, tak ada gunanya kau menolak terus. Datang saja. Pasti akan menyenangkan!” bujukku semanis madu.

Ia berpaling, “Terserah kau mau bilang apa, aku tetap tidak mau!”

Aisshh… kupikir ia sudah menyerah. Tapi ternyata aku salah. “Kalau kendalamu hanya karena tak memiliki gaun untuk kau pakai ke pesta itu. Jangan khawatir, kita akan membelinya hari ini. Masalah uang—“

“Kau pikir masalahnya hanya sesederhana itu?” potong Ann cepat, gadis itu menatapku tajam membuat sesuatu dalam diriku terasa sakit. Aku tak pernah melihat ekspresi Ann yang seperti ini sebelumnya. Sepertinya ia benar-benar marah. “Kehadiranku tak dibutuhkan di sana!” Ann menggertakkan giginya, “Gadis itu hanya memanfaatkanku untuk dapat lebih dekat denganmu! Jadi kau tak perlu membawaku lagi jika kau memang ingin datang ke acara itu secara suka rela. Sekalian saja kau pacari gadis itu agar ia tak menggangguku lagi!”

Ya Tuhan! Jadi karena itu? Jadi benar Miss Adams menyukaiku? Harusnya aku sudah menyadarinya sejak awal. Pantas saja Ann begitu marah padaku. Ternyata aku memang sudah keterlaluan padanya. Hah… Apa yang harus kulakukan sekarang? Pasti sakit sekali mengetahui bahwa temanmu hanya berniat memanfaatkanmu saja. Dan sialnya, aku berperan dalam hal itu. Aissshh… posisiku menjadi serba salah saat ini. Sial!

 

TBC

18 thoughts on “HATE That I LOVE YOU [Part 4]

  1. ann agak cemburu gt ya liat hae sama sepupunya
    kasian ann cma dimanfaatin temennya biar dia bsa dket hae
    lanjutannya ditunggu ya

  2. Eiii~ siapa blg lee donghae lbih tampan dari cho kyuhyun???#gg terima
    ;p
    ketampanan cho kyuhyun itu gg manusiawi tau! Gg ad yg bsa nglah’n#pemuja sesat(?) cho kyuhyun#==

    kea’a donghae udh pnya yeoja yg di suka’n ya? Trus2 dia kga nyadar klo dia udh suka sma ann.#kea’a sih gtu
    kkkk

  3. huaa,,,knp tbc????
    sumpah deh,makin ksni ceritanya makin menarik,,,
    ann cemburu tuh ma jane,kkkk
    penasaran nih ma yeoja yg d sukain hae,,,
    lnjt bc part 5 dlu!!!!

  4. Ann dilandah kecemburuan -,- ayolah ngakuh aja *maksa*😄

    Hae jaim banget -,- tega ya banget boongin Ann . Ckc!
    Hae, kamu bodoh atau pura2 bodoh sih, gak sdar apa Ann lg cemburu *tabokHae* X)

  5. T______T
    donghae oppa kejam ah =3=
    umm eh eonni ttg percakapan dg jiae dan hae ttg cwe..jd ada cwe yg suka i hae skrg? = =a
    lanjut ke part selanjutny aja ah…

  6. Ternyata Aiden cuma nge-godain Ann, kirain dia suka. Tapi ujung-ujungnya jg pasti suka.

    Spencer, berhentilah berbuat konyol yang membuatku semakin mencintaimu. *eaaaaaaaaaa
    Wkwkwkw….

  7. Aiden?????
    ahhh…. -_-
    cuma mau godain aja??

    apaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa??
    #kaget

    ikan lele… kau kejaaaaammmm!!!
    #nangesdiatapmobil

    ah udahlah,,, terlalu penasaran q..
    next ke chap 5😥

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s