HATE That I LOVE YOU [Part 3]

Cerita sebelumnya:

Ann mulai gelisah dan tak bisa berhenti memikirkan Aiden. Hal tersebut membuat Spencer yang sudah lama menyukai Ann merasa khawatir dan berusaha keras menghibur gadis itu. Namun seperti biasa, Ann selalu menolak bahkan mengomelinya. Bukan Spencer bila cepat menyerah, karena pria itu sama sekali tak gentar menghadapi kemarahan Ann. Bahkan ia rela melakukan segala cara untuk menghibur gadis yang sangat dicintainya itu, hingga akhirnya Ann dibuat terpesona dengan aksi menarinya di depan umum. Sesuatu yang lain dari diri Spencer.

Jane—teman Ann—meminta untuk dikenalkan pada Aiden. Bermaksud menghindari permintaan temannya itu, justru membuat Ann bertemu dengan Aiden yang tengah mengobrol bersama Megan Holmann. Hal itu membuat sesuatu dalam diri Ann mendidih. Sesuatu yang tidak ingin diakui Ann. Belum sempat Ann menghindar, Aiden menemukannya dan meminta Ann bertemu untuk membicarakan sesuatu.

 

Part 3

 

-Annabelle Parker, Abbey Street – London-

“Kau tak bisa menghindar dariku Miss Parker, karena tugasmu belum selesai. Tugasmu bukan hanya mengantarku berkeliling kampus, tapi juga memberiku gambaran tentang proses pembelajaran di universitas ini berikut juga gambaran budaya London pada umumnya. Hingga masa pertukaran pelajarku dalam setahun ini berakhir.”

Satu tahun? Arrghh… untuk kesekian kalinya kulempar bolpoint di tanganku. Kata-kata Aiden-si-pria-Asia-sialan siang tadi kembali merusak konsentrasiku dalam menulis tugas Essay yang diberikan Mrs. Hannah, padahal dua hari lagi Essay ini harus segera dikumpulkan. Menyebalkan! Apalagi saat kuingat bagaimana ekspresi wajahnya ketika mengatakan hal itu. Hah… sepertinya pria-Asia-menyebalkan itu memang ingin mengerjaiku. Sial! Semua ini karena Mr. Freddickson yang membuatku tak bisa lari darinya, dalam waktu beberapa hari saja si tua berkacamata itu sudah membuat hidupku yang tenang menjadi berantakan!

“Miaaww…” suara kecil Snowy terdengar dan sesaat berikutnya anak kucing persia berbulu putih itu sudah melompat ke atas meja belajar. Mengenduskan kepala mungilnya pada tanganku yang kuletakkan di sana. Hah… dia pintar sekali. Sepertinya dia tau kalau tuannya sedang sedih.

Kuelus lembut bulunya yang sehalus sutra, “Snowy, apa yang harus kulakukan? Satu tahun bersamanya? Satu Minggu saja sudah membuat resah, apalagi setahun?” gumamku, walau aku tau ia sama sekali tak mengerti apa yang kukatakan.

“Satu tahun bersama siapa?” Eh? Aku menoleh ke arah pintu dan menemukan Mom sedang berdiri di sana.

“Mom? A-apa yang kau lakukan di sini?” Ah… sial! Kenapa mendadak aku jadi gagap begini?

Kulihat Mom mendekat dan kurasakan tangannya yang hangat mengelus lembut puncak kepalaku. “Honey, What happenned? Kulihat selama beberapa hari ini kau jadi pemarah dan pemurung. Apa ada masalah yang mengganggumu?”

Kupeluk pinggang ramping Mom dan menyandarkan kepalaku di perutnya yang masih datar di usia yang sudah memasuki kepala empat. Bentuk tubuh Mom memang tak berubah, tak heran jika banyak lelaki hidung belang yang menggoda Mom dan bermaksud menjadikannya simpanan. Tapi selama masih ada aku. Jangan harap pria-pria mengerikan itu bisa mempermainkan Mom.

Ingin sekali aku menceritakan semuanya pada Mom. Tapi pasti nanti Mom hanya akan menasehatiku agar tak terlalu memikirkannya dan menjalani saja apa yang telah diperintahkan Mr. Freddickson padaku. Aku tau betul watak dan sikap Mom yang baik hati. Hah… Bagaimana ini?

Honey?!” Mom menjauhkan kepalaku dari tubuhnya, “Kau belum menjawab pertanyaanku,” desak Mom lagi lalu berjongkok hingga kini kepalaku sejajar dengan kepalanya. “Siapa yang harus kau temani selama setahun?”

“Hanya seorang teman,” balasku muram. Kalau aku tak menjawab, Mom tak akan berhenti bertanya.

“Kalau hanya teman, kenapa kau jadi murung begini? Dan kenapa sepertinya kau sangat tidak rela? Bukankah menyenangkan jika—“

“Sudahlah Mom! Jangan bahas ini lagi,” selaku sebal. Ah… ya, aku ingat sesuatu! Ternyata aku harus memuji diriku sendiri karena sangat pandai mengalihkan topik pembicaraan. “Mom, ini pesan dari Miss Flynn,” kuangsurkan sebuah amplop cokelat yang tadi dititipkan guruku itu pada Mom. Dan benar saja, Mom tak lagi mempertanyakan masalahku.

“Hmm… Ya sudah, Mom pergi dulu. Jangan tidur terlalu malam, Honey. Kalau pekerjaanmu sudah selesai, cepatlah tidur. Mom, tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk membangunkanmu besok pagi,” pesan Mom sebelum pergi sambil membawa amplop yang dititipkan Miss Flynn padaku.

-Camberwell College of Art-

 

Syukurlah aku sudah terbebas dari kepulan asap nikotin yang disebarkan orang-orang selama dalam perjalanan tadi. Rasanya kepalaku pusing hanya dengan menghirup aromanya sedikit saja. Tak sadarkah mereka bahwa asap nikotin itu sangat berbahaya bagi kesehatan? Bukan hanya kesehatan dirinya sendiri, tapi juga orang lain yang menghirupnya. Bahkan, salah satu artikel kesehatan yang pernah kubaca di salah satu situs online mengatakan bahwa perokok pasif memiliki resiko lebih besar dibandingkan perokok aktif. Hah… menyebalkan sekali. Mereka—perokok aktif—yang senang, tapi kita—perokok pasif—yang menerima akibatnya.

“Hai Miss Parker. Masih pagi begini, kenapa wajahmu sudah ditekuk begitu?” Hmmm… tidak salah lagi. Itu suara Aiden dengan logat bahasa Inggrisnya yang terasa… aneh di telingaku. Terkadang, aku ingin tertawa mendengarnya bicara dalam bahasa Inggris. Sial! Pagi-pagi begini aku sudah harus bertemu dengannya. “Kuliah pagi?” tambahnya tak mau menyerah sambil mensejajari langkahku.

Terpaksa, kusunggingkan senyum palsu padanya. “Kau bisa melihatnya Mr. Lee,” balasku datar sambil terus mempercepat langkahku menuju kelas.

“Siang nanti… kau ada acara?” Apa rencananya kali ini? Mengajakku berkencan? Tsk… menyebalkan! “Kalau tidak ada, temani aku ke toko buku. Aku butuh membeli buku-buku penunjang untuk mata kuliah Mr. Jhon…”

Ia berhenti bicara ketika kuhentikan langkahku dan menghadiahinya tatapan sedingin es. Dia mengajakku membeli buku? Dia pikir dirinya siapa, hingga aku mau repot-repot mengantarnya? “Mr. Lee, bisakah kau tak menggangguku sehari saja? Aku sibuk!” balasku ketus lalu kembali melangkah lebar-lebar.

Kulihat ia tetap mengekor di belakangku, “Itu kan tugasmu, aku juga belum terlalu hafal wilayah London. Kau harus mengantarku,” kudengar ia terus mendesak. Pria ini keras kepala sekali. Menyebalkan!

“Apa kau tak punya teman lain yang bisa mengantarmu? Bukankah kemarin kulihat kau sangat akrab dengan Megan?!” Oh… sial! Kenapa aku mengungkit masalah ini? Dan benar saja, bisa kulihat seringai Aiden yang tersembunyi di balik senyum yang sengaja disunggingkannya padaku. Kuakui, senyumnya memang selalu mampu membuat sesuatu dalam diriku bekerja lebih ekstra.

“Tapi aku ingin kau yang menemaniku Miss Parker,” bantahnya tenang, “Lagi pula, yang diberi tugas untuk membantuku adalah ka—“

“Baiklah… baiklah! Jam 1 siang nanti kutunggu di depan Aula lantai satu,” selaku cepat, kulirik arlojiku yang sudah menunjukkan pukul 08.55 pagi. Itu artinya 5 menit lagi kuliah Mr. James dimulai. Errggh… sial! Semua gara-gara dia!

Okay, see you!” balas Aiden senang lalu berputar ke arah lain. Hah… kenapa aku harus jujur padanya? Harusnya aku bisa mencari alasan lain agar tak perlu menemaninya ke toko buku hari ini. Sepertinya pengaruh senyumnya itu masih terlalu besar untuk dapat kutolak.

-The Bureau Stationary-

Di sinilah aku sekarang. Menemani Aiden mencari buku yang diperlukannya. Kuperhatikan ia tengah sibuk melihat-lihat buku yang terpajang rapi di salah satu rak. Dari belakang sini, aku bisa melihat punggung Aiden yang terbalut T-shirt abu-abu berlengan pendek tampak begitu lebar dan otot lengannya juga sangat kekar. Pasti ia senang menghabiskan waktu di gym. Melatih tubuhnya agar tampak semakin Ideal. Demi Tuhan Ann! Sekali lagi, apa yang kupikirkan? Semenjak mengenalnya, kurasa pikiranku semakin kotor saja!

 

“Ann?!”

“Ya?” Oh… sial! Kenapa aku menyahutinya?

Kini seringai Aiden tergambar jelas di wajahnya, tak seperti pagi tadi yang sengaja disembunyikannya. “Sepertinya… mulai sekarang aku akan memanggilmu Ann, karena dengan begitu, akan tampak lebih akrab,” cetusnya tanpa meminta persetujuanku.

“Hey, Mr. Lee… Apakah sikapmu memang selalu memutuskan sendiri tanpa meminta persetujuan orang lain?” protesku sengit.

Aiden tertawa lebar, “Tapi tadi kau menyahut saat aku memanggilmu begitu. Bukankah itu artinya kau setuju Ann?” Errrggh… sial! Sekali lagi aku dibuat bisu dengan ucapannya.

“Terserah padamu saja!” Kurasa tak ada gunanya berdebat dengannya. Malas meladeninya. Aku memutar tubuhku dan berpura-pura tertarik pada kumpulan buku yang terpajang di rak. Meraih salah satu buku, membuka dan pura-pura membacanya.

“Hmm… aku tak menyangka ternyata kau suka membaca Novel dewasa Ann,” What? Aku berjengit ke samping ketika merasakan kepalanya menyembul dari balik bahu kiriku. Tangan besarnya yang dengan mudah melewati bahuku menunjuk-nunjuk buku yang saat ini kupegang. Ahh… sial! Aku salah mengambil buku! Ini Novel Lisa Kleypas yang terkenal dengan karya-karya Historical Romance-nya. Dan Lisa adalah salah satu penulis Novel dewasa terkenal di London. Seringai Aiden kembali terlihat, “Mau kubelikan satu untukmu?” tawarnya santai seolah semua itu tak membuatku salah tingkah.

Buru-buru kuletakkan kembali novel itu di tempatnya. “Tidak perlu, aku sudah punya!” dustaku lalu berjalan ke rak lain. Dekat-dekat dengannya membuat dadaku sesak. “Kalau kau sudah selesai mencari buku, sebaiknya kita segera pulang Mr Lee.”

“Sebenarnya… aku ingin meminta saranmu, buku apa lagi yang sebaiknya kusiapkan untuk menunjang kuliah Mr. Jhon?” Aiden sudah kembali berdiri di sebelahku. “Hmmm… Ann, bagaimana kalau kau memanggilku Aiden saja? Kurasa… akan jauh lebih nyaman?” tawarnya sebelum sempat aku menjawab.

“Yeah, baiklah!” Kurasa itu lebih baik, daripada aku harus memanggilnya dengan nama menyebalkan itu! Nama yang selalu mengingatkanku pada sosok Dad.

Aiden tersenyum hangat, “Jadi… buku mana lagi yang harus kubeli?”

“Terserah padamu saja! aku di sini hanya mengantarmu!” balasku acuh tak acuh lalu kembali berpura-pura tertarik pada buku-buku di sekitarku. Tapi kali ini, aku lebih berhati-hati agar tak dipermalukan seperti tadi.

“Emmm… apa aku perlu membeli kamus bahasa Inggris?” Kulihat Aiden tengah memamerkan sebuah kamus Inggris-Korea berukuran sedang padaku. Mengingat bahasa Inggrisnya yang masih terasa aneh di telingaku, tanpa sadar aku mengangguk menjawab pertanyaannya. “Kalau buku ini? Apakah diperlukan juga?” Sebuah buku bersampul biru dengan judul The London Traveller, yang kuketahui berisi tentang ulasan tempat-tempat bagus untuk dikunjungi selama di London.

Aku hampir saja mengangguk, tapi untunglah aku segera tersadar kalau ternyata aku sudah larut dalam pengaruhnya. Bukankah tadi aku sudah bilang padanya bahwa aku hanya akan mengantarnya. Bukan untuk memberinya saran. “Terserah padamu!” sergahku lalu pergi begitu saja tanpa menunggunya menjawab.

Samar-samar, kudengar ia bergumam, “Hmm… sepertinya aku tak butuh buku ini, selama aku masih punya tour guide pribadi yang bisa mengantarku ke tempat-tempat menarik di kota ini.” Sial! Kalau yang dia maksud adalah aku. Jangan harap ia akan mendapatkannya.

-Abbey Street, London-

 

Selama kurang lebih satu setengah jam menemani Aiden berkeliling mencari buku, kami—aku dan Aiden—sampai juga di depan rumahku atau lebih tepatnya di depan restoran kecil yang dikelola Mom. Yeah, tadi ia memaksa mengantarku pulang walau sudah berulang kali kutolak. Tapi seperti yang kau tau, Aiden memiliki beribu macam cara membuatku membisu dan pada akhirnya aku tak bisa menolak apapun yang ditawarkannya. Aku memang menyedihkan!

Aku segera turun dari taksi yang mengantar kami. Kulihat Aiden ikut keluar bersamaku. Mau apa dia? “Pulanglah! Ini sudah sore!” usirku padanya. Sama sekali tak peduli ia akan marah padaku atau tidak. Secepat mungkin ia pergi, lebih cepat pula aku merasa tenang.

Aiden masih tak bergeming memandangi bangunan di hadapannya. Mendadak perasaanku menjadi tak nyaman. Jangan bilang ia akan mampir. Arrgghh!!! “Ann, aku lapar!”

Sial! Benar dugaanku. “Kau kan bisa beli makanan di tempat lain!” bantahku lalu buru-buru pergi meninggalkannya.

“Tapi aku ingin makan di sini. Nampaknya enak! Apakah ini restoran orang tuamu?” Arrghh!! Pria ini memiliki sopan santun atau tidak sih? Kurasakan ia sudah berdiri di sampingku. Dan saat aku menoleh ke belakang, taksi yang tadi kami tumpangi sudah lenyap. Demi Tuhan! Apa yang diinginkannya dariku? “Ayo! Masuk!” Aku tersentak saat mendengarnya bergumam dengan santainya. Menyebalkan!

“Hey… Mr… ah, maksudku Aiden!” Well, lidahku belum terbiasa memanggilnya begitu. “Sudah kubilang, kau bisa mem—“

Honey, apa yang kau lakukan di sini?” Oh Tuhan! Suara Mom! Kenapa Mom muncul di saat seperti ini?

“Selamat sore Mrs. Parker!” Aku mengernyit heran ketika kudengar Aiden menyapa Mom. Darimana ia tahu kalau yang kini berdiri di ambang pintu restoran adalah Mom? Hey, Ann! Bukankah tadi Mom memanggilku Honey? Yeah… siapa lagi yang akan memanggilku begitu? Selain Mom dan Spencer-monyet itu tentunya.

“Oh… selamat sore! Apakah kau teman Ann?” Mom membalas dengan senang hati dan kini telah menghampiri Aiden yang berdiri di sampingku. “Dari yang kutahu, selama ini Ann tak pernah bilang kalau ia memiliki teman lelaki.” Mom! Please!

“Hmm… kalau Ann menganggap begitu,” balas Aiden lirih sambil melirikku. Errgghh… pria ini memang menyebalkan! Apakah ia bermaksud mencari perhatian Mom? Semoga Mom tak begitu saja percaya pada kata-kata manisnya.

Mom menepuk pundak Aiden pelan, “Kalau begitu, masuklah! Jangan hanya berdiri di jalan begini,” tawar Mom lalu tanpa menunggu lama, si pria-Asia-menyebalkan itu mengikuti langkah Mom ke restoran.

Duduk di pojok ruangan, kulipat tanganku di depan dada. Kulihat Mom tengah mengobrol dengan si pria-Asia-menyebalkan itu di salah satu meja. Restoran sedang sepi. Hanya ada sepasang pria dan wanita yang kini tengah asyik menyantap pesanannya di sudut kanan ruangan.

Aku hampir saja menjerit kaget, saat tiba-tiba kulihat wajah si Spencer-monyet berada tepat di hadapanku. Pria itu menopangkan kepalanya pada tangannya dan menatapku dengan tatapan yang… sangat aneh! Matanya yang sipit tampak begitu sendu. Menyiratkan bahwa ia sedang atau bahkan sangat terluka. Ada apa dengannya? Kenapa ia menatapku begitu? “Kau… sakit?” tanyaku heran sambil memperhatikan wajah Spencer yang tampak sangat kusut. Biasanya ia tak pernah begini. Setiap bertemu denganku, semarah apapun aku, ia jarang sekali menampakkan wajah sedih seperti yang ditunjukkannya sekarang padaku.

“Ya, aku sakit!” balasnya lirih. Suaranya pun tampak tak bersemangat. Sungguh berbeda dari Spencer yang kukenal.

“Kalau sakit, sebaiknya pulang saja, dan katakan pada Mom—“

“Kau boleh saja mengomeliku, bicara kasar padaku, memakiku. Aku akan menahannya. Tapi bila kau bersama pria lain, aku benar-benar tidak terima.” Astaga! Jadi karena Aiden?! Jadi si Monyet ini cemburu pada Aiden? Yang benar saja. Apakah aku terlihat seperti pasangannya? “Aku tak menyangka ternyata kau…”

“Aku tak ada hubungan apa-apa dengannya!”

“—memiliki kekasih… eh? Apa kau bilang? Jadi… kau dan lelaki jelek itu tidak ada hubungan apa-apa?” wajah Spencer yang semula tampak tak bersemangat, kini kembali sumringah. Si Monyet itu pun tiba-tiba berdiri dari kursi dan melompat-lompat seperti orang gila, hingga menarik perhatian Mom, Aiden juga dua orang lainnya yang berada di tempat ini. Memalukan! Untuk apa aku membantah dan menjelaskan keadaan yang sebenarnya pada pria norak ini? Bukankah akan lebih baik kalau ia terus-terusan salah paham terhadap hubunganku dan Aiden. Dengan begitu, ia tak akan lagi menggodaku seperti sebelumnya. Arrgghh… kau memang bodoh Ann! Tapi aku benar-benar tidak sudi dituduh sebagai kekasih Aiden.

“Walau begitu, bukan berarti aku mau menjadi kekasihmu,” sergahku tanpa ampun.

Dan seperti yang sudah kuduga, si Monyet-sialan itu tetap tak peduli, “Setidaknya, aku masih memiliki kesempatan,” balasnya santai lalu berjalan menghampiri meja yang ditempati Aiden dan Mom. Oh.. Tidak! Apa yang akan dilakukannya? Ia tak akan bertingkah aneh bukan? “Hey… kau! Jangan coba-coba menggoda Ann! Dia gadisku! Kau dengar?” Kudengar bentakan Spencer pada Aiden yang tampak terkejut tiba-tiba diserang seperti itu. Sial! Apa-apaan ini?! Rasanya aku sudah gila menghadapi dua orang pria-Asia-aneh ini.

Sedangkan Mom? Seperti biasa, ia hanya tertawa melihat tingkah aneh dan ajaib Spencer. Hah… hari ini aku benar-benar sial!

——————————————–

Setelah membantu Mom membereskan restoran, aku berencana untuk tidur. Rasanya tubuhku lelah sekali setelah seharian beraktivitas. Hari ini restoran tutup lebih awal karena Mom mengeluh sakit kepala. Well, akhir-akhir ini Mom memang sering mengeluh sakit. Tapi setiap kali aku memintanya memeriksakan diri ke Dokter. Mom selalu menolak dan beralasan bahwa ia hanya kelelahan. Semoga saja memang benar tak ada yang serius dengan kondisi kesehatan Mom.

Ketika aku akan menaiki tangga menuju kamarku di lantai dua, kulihat Mom tengah duduk di kursi meja makan. “Ann, kemarilah Honey! Mom ingin mengatakan sesuatu padamu.” Menurut, aku melangkah mendekati Mom. Untuk sesaat, Mom hanya menatapku dalam diam. Seolah ada suatu hal yang sangat serius yang ingin disampaikannya padaku.

“Ada apa Mom? Jangan membuatku takut dengan memandangiku begitu?” Aku memulai pembicaraan setelah sekian lama Mom hanya diam.

Mom tersenyum. Cantik seperti biasa. “Honey, kukira kau membenci pria-pria Asia seperti Ayahmu. Tapi ternyata Mom salah. Kurasa, Aiden…”

“Stop!” selaku cepat, sebelum Mom sempat mengutarakan pendapat tak masuk akalnya tentang pria-Asia menyebalkan itu. “Kalau Mom mengira aku memiliki hubungan khusus dengan pria itu, sebaiknya Mom buang saja jauh-jauh pemikiran itu. Karena hal itu tak akan pernah terjadi. Sekali aku membenci Dad, selamanya aku akan membencinya. Berikut juga jenis-jenis pria sepertinya.”

“Ann, Honey! Sudah berapa kali Mom bilang padamu. Jangan pernah membenci Ayahmu seperti itu. Biar bagaimanapun, dia adalah Ayah kandungmu.”

Please Mom! Sampai kapan Mom akan membela Dad seperti itu? “Aku tak memiliki Ayah sepertinya. Sampai kapan pun, aku tak akan menerimanya sebagai Ayahku,” sebelum Mom sempat membela si brengsek Dad sekali lagi, aku sudah pergi meninggalkan Mom yang masih berdiam diri di ruang makan. Sorry Mom, jangan paksa aku untuk menerima kelakuan Dad yang telah menyakitimu. Selamanya orang tuaku hanya Mom. Aku tak memiliki orang tua yang menelantarkan anak dan istrinya hanya demi harta seperti Dad.

-Camberwell College of Art-

Aku patut bersyukur karena hari ini tak ada gangguan menyebalkan yang kuterima dari si pria-Asia-sialan bernama Aiden Lee itu. Well, walau kemarin ia hampir membuat kepalaku pecah dengan bertingkah semanis madu di hadapan Mom. Setidaknya, hari ini aku tak lagi terganggu dengan ulahnya. Bukan. Aku sama sekali tak merindukan gangguannya. Sama sekali tidak. “Ann, kau belum mengenalkanku pada Aiden,” Oh… Jane. Sampai kapan ia akan terus memaksa?

“Kurasa kau tak butuh bantuanku hanya untuk berkenalan dengannya Jane,” balasku lalu cepat-cepat merapikan buku di atas meja dan bergegas keluar kelas.

Baru saja beberapa langkah keluar dari kelas, kulihat di kejauhan, tepat di seberang gedung. Aiden tengah bercanda dengan seorang… hmmm… kurasa gadis Asia lain. Sepertinya aku pernah melihat gadis Asia itu sebelumnya. Tapi entah di mana. Mungkinkah ia salah seorang mahasiswa di kampus ini juga? Kupicingkan mata untuk memperjelas melihat dua sosok pria dan wanita yang saat ini tengah mengobrol dengan begitu asyiknya. Sesekali keduanya tertawa dan saling bercanda. Aku mendengus. Kalau dia memiliki teman lain? Lalu apa maksudnya mengajakku mengantarnya berkeliling selama ini? Menyebalkan! Kenapa tak mengajak gadis itu saja?

Dan yang lebih membuatku kesal adalah, sebenarnya berapa wanita yang sedang didekatinya saat ini? Aku, Megan Holmann dan sekarang si gadis Asia itu. Semakin lama, aku semakin yakin bahwa ia memang seorang Playboy yang tak jauh berbeda dari Dad. Bagaimana mungkin Mom sempat membelanya semalam? Errggh… menggelikan!

“Kau… cemburu?” Suara menyebalkan ini. Megan Holmann. Gadis kurus kering itu ternyata sudah berdiri di belakangku. Dan dengan gayanya yang sok centil itu, ia kembali bergumam, “Kau… menyukai pria itu?”

Tsk… Menyukainya? Yang benar saja! “Sama sekali tidak,” balasku datar.

“Oh… dear, jangan berpura-pura. Terlihat sekali dari wajahmu saat kau memperhatikan pria tampan itu di sana,” komentarnya sambil menunjuk ke arah Aiden berada saat ini. “Apakah kau benar-benar sudah kehilangan prinsipmu? Oh…sayang sekali Ann!” Megan menggeleng-gelengkan kepalanya, membuatku ingin menarik rambut panjangnya itu.

“Diamlah! Aku tak meminta pendapatmu!” sergahku kasar lalu melangkah pergi, tapi sialnya ia belum menyerah menggodaku.

“Kau tidak ingin tau apa yang ia bicarakan denganku kemarin? Aku tau kau ada di sana saat itu Honey!” pancingnya, dan aku tak bisa berbohong kalau hal itu membuatku berang.

Aku berhenti melangkah, dan berbalik menatapnya yang kini tersenyum puas ke arahku. “Aku tak ingin bicara denganmu Megan, dan aku sama sekali tak peduli kau dan Aiden membicarakan apa? Semua itu bukan urusanku! Kau mau berpacaran dengannya juga bukan masalah besar bagiku!” Well, mungkin juga apa yang kukatakan itu tak sepenuhnya benar. Hah…

Oh… really? Jadi, kau tidak marah kalau aku berpacaran dengannya?” Gadis ini. Kalau saja ini bukan di kampus. Sudah kutinju wajah palsunya itu.

“Harus berapa kali kubilang,” balasku ketus.

“Hmm… okay Honey! Jangan menyesal kalau nanti pria Asia tampan itu jatuh ke tanganku,” Megan menepuk pundakku pelan sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Sial! Dasar Playgirl! Rasanya ada yang terbakar dalam diriku saat ini. Sepertinya aku butuh Es batu untuk mendinginkan diriku.

Megan Holmann

Setelah kepergian Megan-sialan itu, aku meneruskan langkahku menuju kantin. Tak ada gunanya memikirkan kemungkinan hubungan yang akan terjalin antara Megan dan si playboy Asia itu. Seperti yang kukatakan tadi, semua itu bukan urusanku. Sama sekali bukan urusanku!

 ——————————

“Ann?!” Errrghh… apalagi yang diinginkannya? Bukankah aku sudah mengatakan aku tak bisa. “Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau berada di sini,” seru Jane lalu duduk di kursi di hadapanku.

Pura-pura tak peduli, kufokuskan diri memotong sirloin steak di hadapanku. “Kalau tujuanmu mencariku meminta tolong untuk—“

“Tidak, bukan itu!” Oh… syukurlah! Akhirnya ia sadar, bukan hanya Aiden pria yang dapat dipacarinya. Bahkan Aiden adalah pria yang paling berbahaya untuknya.

“Lalu apa?” tanyaku acuh tak acuh sambil terus mengunyah steak di mulutku.

Jane tersenyum, dan entah mengapa aku merasa senyumnya itu menimbulkan firasat buruk bagiku. “Ann, aku tadi sudah berkenalan dengan Aiden!” Arrrghh… sial! Ternyata dia masih tergila-gila dengan si playboy itu.

“Baguslah kalau begitu! Jadi kau tak butuh bantuanku lagi bukan?” gumamku setengah tak tertarik.

“Justru aku sangat membutuhkan bantuanmu Ann,” Astaga! Apalagi yang harus kulakukan? “Setelah berkenalan dengannya, ternyata aku semakin yakin bahwa ia memang pria yang sangat baik dan tampan. Bayangkan saja, tadi ia membantuku saat aku hampir saja terjatuh membawa berpuluh-puluh lembar Essay milik teman sekelas yang harus kukumpulkan di ruangan Mrs. Hannah. Bukankah itu sifat yang sangat baik?” Jane terus bercerita dan aku mendengus mendengar ceritanya yang kurasa sangat berlebihan itu. Dia benar-benar gadis naif yang mudah sekali tergoda dengan kebaikan seorang pria, tanpa tau pria itu berniat buruk padanya.

“Kalau kudengar dari ceritamu, sepertinya kau sudah sangat akrab dengannya. Kau tak butuh bantuanku lagi,” komentarku dingin.

“Aku belum selesai bercerita,” Tsk… apalagi yang ingin diceritakannya? Rasanya perutku sudah mual hanya dengan mendengar ceritanya tadi. “Aku dan kembaranku Jade, akan mengadakan Party di akhir Minggu ini,” mulainya, dan entah mengapa ucapannya itu membuat sesuatu dalam diriku menjadi tidak nyaman.

“Lalu?”

“Kau harus datang,” tambah Jane, “Kuperhatikan, selama ini kau tak pernah hadir di acara-acara pesta semacam itu. Ini tahun ketigamu Ann, sampai kapan kau akan menjauh dari keramaian? Kau harus bergabung dengan kami. Kau juga butuh mencari pendamping untuk dirimu sendiri.”

“Oh… ayolah Jane, kalau tujuanmu ke mari untuk memaksaku mencari pasangan. Kau tak akan berhasil!” sergahku mulai kesal.

Jane mendengus, “Kau ini normal atau tidak sih?”

“Itu bukan urusanmu!” Aku sudah mengambil tasku yang kuletakkan di samping kursi tempatku duduk dan berniat berdiri ketika tangan Jane menahan lenganku.

“Tunggu sebentar!” tahannya cepat.

Aku mendesah kesal, “Apalagi?” Pembahasan mengenai pasangan selalu saja membuatku sebal.

“Kumohon datanglah ke pestaku Ann!” Kurasa Jane benar-benar aneh. Sebenarnya untuk apa ia memaksaku datang? Sama sekali tak ada untungnya bagi Jane maupun Jade—saudara kembarnya—aku mau datang atau tidak. Bukankah pesta ulang tahun mereka akan tetap berjalan walau tanpa kehadiranku? Tak mungkin juga ia memintaku datang hanya karena ia khawatir aku tak mendapat pasangan. Memangnya apa pedulinya? “Please Ann, datanglah! Sekalian ajak juga Aiden bersamamu.”

What the…? Jadi tujuannya memaksaku adalah… sial! Rasanya perutku mual dan ingin sekali memuntahkan steak yang telah kumakan.

TBC

16 thoughts on “HATE That I LOVE YOU [Part 3]

  1. lanjut2 makin seru ceritanya
    kayanya ann mulai suka nih
    megan beneran naksir aiden ato cma mw manas2in ann doang??
    hyuk cemburu smpe segitunya deh
    kaya org sakit gt

  2. aku makin ngakak sama hyukjae hahahahah yak ampun ini ff semangat banget aku bacanyaaaaa suka deh🙂

    oiya ku ngebayangin si Megan itu….. Jessica snsd -__- omg apa yg ada di kepalakuuuuuuuuu! hahahahah

  3. Ach, Hyukkie Oppa, meskipun kau juga biasku, tapi entah mengapa aku sedikit tidak rela klo dirimu bilang lebih tampan dari Hae. kkkkkkk…
    Kau tidak tampan2 amat, tapi kau sangat sangat sangat keren *eaaaaaaaaaaaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s