SMILE :) -EunHae Moment-

-Gym Center-

Mengusap peluh yang mengucur di pelipis dan lehernya menggunakan handuk putih kecil lalu menyampirkannya di sekitar leher, Donghae meneguk banyak-banyak air mineral dari botol minumnya. Lelah setelah berlatih gym bersama teman-teman Super Junior lainnya, Leeteuk, Eunhyuk dan Yesung. Dilihatnya Leeteuk tengah memperhatikan bentuk tubuhnya yang semakin six pack melalui cermin yang ditempel di pinggiran ruangan lalu tertawa kecil melihat leader grupnya itu mengambil selca untuk dirinya sendiri. “Hyeong, kau semakin narsis saja!” godanya sambil mendekati pria itu. Leeteuk hanya terkekeh pelan menanggapi komentar Donghae.

 

“Ah… iya, bagaimana keadaan Eunhee? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya khawatir, mengingat kejadian beberapa hari lalu, saat Donghae pulang terburu-buru.

Donghae mengangguk pelan, “Yeah… dia baik,” jawabnya setengah kecewa ketika teringat keinginannya menjadi seorang Ayah tidak menjadi kenyataan.

Leeteuk merangkul pundak Donghae lembut, “Tenanglah! Masih banyak waktu yang kalian miliki,” godanya seolah mengerti apa yang dipikirkan adik kesayangannya itu.

“Mau kuajari teknik terbaik agar kau cepat dapat merealisasikannya Hae?” timpal Eunhyuk yang entah sejak kapan sudah berdiri di sebelahnya.

“Jangan dengarkan dia, nanti kau bisa menyakiti Eunhee Hae,” sambung Yesung yang sudah bersiap-siap sambil menenteng tas di bahunya dan hal itu membuat Eunhyuk merengut kesal. Baru saja Eunhyuk akan membantah, Yesung melanjutkan, “Bagaimana kalau kita makan saja. Aku lapar,” ajaknya dan yang lain pun mengangguk setuju.

-Handel & Gretel, Apgujeong-Seoul-

 

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih setengah jam, keempat pria tampan itu sampai juga di depan sebuah cafѐ milik keluarga Yesung, Handel & Gretel, di kawasan Apgujeong, Seoul. Bangunan cafѐ yang tampak mulai ramai menjelang jam makan siang itu didominasi warna kayu, hingga memberikan kesan alam yang menyenangkan. “Hyeong, kau akan mentraktir kami?!” cetus Eunhyuk girang bukan main.

“Aissh… kau ini, maunya yang gratis terus. Dasar pelit!” gerutu Yesung pura-pura marah dan Eunhyuk tertawa senang mendengarnya.

“Selama ada yang gratis, kenapa harus repot-repot membayar?” tambah Leeteuk yang juga terkenal sama pelitnya dengan Eunhyuk.

Mendengar itu, Yesung menghela nafasnya panjang, “Hah… aku salah membawa kalian kemari,” keluhnya pasrah diiringi tawa Donghae yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah ketiga temannya itu.

 

Setelah memesan makanan di counter, yang saat itu dijaga oleh Jongjin, adik lelaki Yesung. Ketiganya—kecuali Yesung yang memutuskan ke belakang menemui Ibunya—duduk di salah satu meja cafѐ yang terletak di pojok ruangan setelah sebelumnya meladeni beberapa orang fans yang meminta tanda tangan dan berfoto bersama.

“Eh… Hae, mumpung tak ada Yesung Hyeong. Kau masih mau mendengar tips hebat dariku tidak?” bisik Eunhyuk setelah makanan yang mereka pesan diantar oleh salah satu pelayan.

Donghae yang tengah menyeruput Mocca Lattѐ melalui gelasnya hampir saja tersedak mendengar gumaman sahabatnya itu. “Tidak, terima kasih. Aku tak butuh tips anehmu itu,” tolak Donghae ngeri, sembari membayangkan tips yang akan diberikan Eunhyuk padanya.

“Aisshh… kau ini, jangan percaya pada omongan Yesung Hyeong. Tips-ku benar-benar bermanfaat untukmu dan Eunhee,” Eunhyuk mengedipkan sebelah matanya memberi penawaran, sedangkan Donghae menggeleng tegas.

“Tidak perlu, toh… kalau memang kami ditakdirkan memiliki anak dalam waktu dekat ini. Pasti hal itu akan terjadi, tanpa bantuan tips darimu,” sahut Donghae bijak.

“Hmmm… tapi kan dibutuhkan usaha yang maksimal juga!” paksa Eunhyuk tak mau menyerah.

Kening Donghae berkerut lalu menatap temannya itu lurus-lurus, “Kenapa sepertinya justru kau yang ingin sekali mewujudkannya?” selidik Donghae dengan seringai lebar di bibir tipisnya.

Eunhyuk menggaruk belakang kepalanya yang sama sekali tidak gatal, “Yah… aku kan hanya ingin cepat-cepat memiliki keponakan,” Donghae langsung tertawa mendengar jawaban polos sahabatnya itu.

“Kalau kau ingin, kenapa tak buat sen—“

“Hae, lihat!” Tepukan pelan Leeteuk di lengannya menghentikan kalimat Donghae. Mengikuti arah telunjuk Leader grupnya itu, mata Donghae melebar melihat berita yang kini disiarkan di televisi yang tergantung di salah satu sudut cafѐ. Dalam berita itu disiarkan seorang aktor terkenal Jung Ilwoo tertangkap camera tengah berjalan dan makan berdua bersama seorang wanita. Dan Donghae tau betul siapa wanita itu. “Hae, aku tak bermaksud…” Leeteuk menghentikan kalimatnya ketika justru melihat Donghae tersenyum, seolah sama sekali tak terganggu dengan berita yang baru saja dilihatnya.

Non, gwaenchana?” timpal Eunhyuk khawatir.

Masih tersenyum, Donghae menjelaskan. “Mereka sahabat dekat sejak masih SMA. Jadi tak perlu dirisaukan.”

Eunhyuk dan Leeteuk mengangguk tanda mengerti, “Syukurlah kalau begitu. Aku sudah takut kau akan marah,” tambah Eunhyuk lega dan Donghae tertawa pelan mendengarnya.

“Aku iri pada kalian berdua,” celetuk Leeteuk sambil mengunyah muffin pesanannya.

“Iri? Kenapa Hyeong?” balas Donghae bingung.

Tersenyum hangat, Leeteuk mengungkapkan, “Dengan kepercayaan kalian. Kadang sulit sekali bisa meyakinkan pasangan, bila ada hal-hal semacam ini.”

Donghae terkekeh pelan, “Tidak selalu begitu Hyeong, terkadang, kami juga suka berdebat hanya karena masalah kecil. Dan itu sudah biasa dalam rumah tangga.”

“Yah… kau benar,” balas Leeteuk sembari tersenyum.

-Waiting Room-

 

Hari ini Super Junior berada di waiting room salah satu stasiun TV swasta untuk menghadiri sebuah acara musik. Selama menunggu penampilan selanjutnya, para member memanfaatkan waktu untuk mempersiapkan diri. Donghae yang sudah selesai dimake-up, membuka laptop yang dibawa Kyuhyun dan menggunakan fasilitas internet yang disediakan. Sementara member lainnya sedang sibuk dengan kegiatannya masing-masing.

“Meng-update twitter?!” Kyuhyun yang baru saja berkumur setelah menggosok giginya, bertanya pada Donghae.

“Hmm…” balas Donghae pelan, “Tenanglah! Aku tak akan merusak notebook-mu.”

Kyuhyun tertawa pelan mendengar jawaban Donghae, “Iya Hyeong. Tapi awas saja kalau nanti malam, kupakai ada sesuatu yang aneh dengan Notebookku,” katanya memperingatkan.

“Aiisshh… kau ini,” keluh Donghae pura-pura kesal, lalu melanjutkan kegiatannya berselancar di dunia maya.

“…Kau tau? Aktor Jung Ilwoo itu! Sepertinya beritanya mulai tersebar.”

Ne, aku juga merasa patah hati. Aku sangat mengidolakannya. Tapi lihatlah! Semalam ia terlihat jalan berdua lagi dengan gadis itu! Menyebalkan!”

“Hah… kalau sampai aku bertemu gadis menyebalkan itu! Pasti sudah kumaki-maki dia.”

“Kudengar… semalam mereka pergi berdua ke sebuah toko perhiasan. Mungkinkah? Arrrghh!! Tidak! Aku tidak sudi! Aku bukan hanya akan memakinya, tapi mencakarnya.”

Tangan Donghae berhenti mengetik, ketika didengarnya gumaman-gumaman para make-up artist yang saat ini tengah membantu Ryeowook dan Yesung merapikan pakaiannya. Tangannya terkepal kuat, mengetahui siapa oknum yang mereka bicarakan. Kenangan tak diundang muncul di benaknya, ketika semalam ia baru saja pulang ke apartemen dan dilihatnya sang istri justru sibuk bersiap-siap untuk keluar. Ketika ia menanyakan ‘ada perlu apa malam-malam begini keluar?’ sang istri hanya menjawab, ia sibuk dengan pekerjaannya dan ada urusan bisnis yang harus dikerjakannya malam itu.

Tanpa menaruh curiga sedikit pun, Donghae membiarkan Eunhee keluar malam itu. Tapi apa yang didengarnya hari ini dari dua orang make-up artist itu, membuat dada Donghae sesak oleh emosi. Jadi, semalam kau pergi dengan Ilwoo dan mengatakan ada urusan bisnis, Eunhee?, batinnya geram. Menyadari keanehan dari sikap Eunhee. Karena biasanya, sang istri tak akan berbohong padanya. Setiap kali ia pergi bersama sahabatnya atau pria lainnya, ia akan mengatakannya dengan sejujur-jujurnya pada Donghae. Itulah sebabnya, Donghae percaya betul sang istri tak pernah mengkhianatinya. Tapi kejadian kali ini, cukup untuk membuat Donghae meradang.

Penasaran dengan berita yang beredar luas di masyarakat tentang aktor terkenal itu dengan sang istri, Donghae sengaja mencari beritanya melalui internet.

HOT News: Jung Ilwoo memiliki kekasih?!!!

 

Aktor Jung Ilwoo kembali membuat heboh jagat infotainment dengan beredarnya foto-foto dirinya bersama seorang gadis cantik di sebuah toko perhiasan salah satu Mall terbesar di pusat kota Seoul. Setelah kemarin, keduanya tertangkap kamera sedang makan dan jalan berdua di salah satu pusat perbelanjaan ternama. Kini, keduanya terlihat sedang memilih perhiasan. Mungkinkah itu pertanda mereka akan menikah? Siapakah sebenarnya gadis beruntung itu?…..

Tak sanggup lagi membaca artikel yang membuat dadanya semakin sesak itu. Donghae mematikan Notebook dan koneksi internet. Cukup keras hingga membuat Kyuhyun si pemilik Notebook itu berdiri dan menghampirinya. “Hyeong, baru saja kau berjanji tak akan merusaknya!” protes pria yang dua tahun lebih muda darinya itu.

Tak bersemangat untuk mendebat Kyuhyun, Donghae memalingkan wajahnya dan menutupnya dengan kedua telapak tangan. “Mianhae,” balasnya pelan.

Heran, Kyuhyun mengerutkan keningnya. “Kau… baik-baik saja Hyeong?” tanyanya khawatir. Diikuti Eunhyuk yang kini sudah berjongkok di hadapan Donghae.

Sekuat tenaga menahan amarahnya, Donghae menggeleng pelan. “Ayo! Bersiap, sebentar lagi kita tampil!” Leeteuk mengumumkan setelah sebelumnya mendapat aba-aba dari asisten floor director acara tersebut.

“Ayo! Kita siap-siap!” cetus Donghae, berusaha mengesampingkan perasaannya yang terasa begitu sesak demi pekerjaannya, sementara Eunhyuk dan Kyuhyun hanya bisa saling pandang heran.

-Tra Palace, Apartement-

 

Melepas mantel hitam dan menyampirkannya sembarangan di sandaran sofa, Donghae merebahkan tubuhnya keras-keras di sofa beledu putih itu. Eunhee belum pulang, batinnya kesal. Ia menyesali keputusannya menyalakan televisi yang awalnya untuk meramaikan suasana hening di sekitarnya, tapi malah menemukan dirinya kembali terbakar emosi melihat berita yang kini disiarkan infotainment di salah satu stasiun TV tersebut. Donghae mengeraskan rahangnya, melihat gadis yang terpampang di foto itu. Memang tak begitu jelas, karena foto itu diambil dari jarak yang cukup jauh. Tapi Donghae hafal betul dengan pakaian yang semalam dipakai Eunhee. Berikut juga tas dan tatanan rambut istrinya itu.

Tak tahan lagi, ia meraih ponselnya dan mendial salah satu nama yang berada pada deretan teratas daftar panggilan cepatnya. Mendesah lega ketika didengarnya suara Eunhee di sana, “Yeoboseyo? Hae… aku sudah menyiapkan makan malam di meja makan. Makanlah sebelum dingin. Mian, aku sibuk.” Tut… tut… tut!!!

Donghae mengumpat pelan ketika ia baru saja akan membalas pernyataan Eunhee, tapi istrinya itu malah mematikan sambungan telponnya. “LEE EUNHEEEE!!! SIALL!!!!” jeritnya kesal lalu melempar bantalan sofa pada televisi yang baru saja selesai menyiarkan berita Ilwoo dan Eunhee.

Tanpa menunggu lama, Donghae beranjak dari sofa dan bergegas memakai mantel hitam yang tadi disampirkannya. “Kau bilang sedang sibuk Lee Eunhee, mari buktikan. Apakah benar kau memang sibuk di kantormu! Atau… kau sedang bersenang-senang dengan aktor terkenal itu,” gumam Donghae dengan nafas memburu dan dada naik turun karena amarah yang mulai menguasai dirinya.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Donghae mencapai basement apartement untuk menghampiri mobil Audi A5 putihnya yang kini terparkir di sana. Namun baru saja ia melangkah keluar dari lift yang mengantarnya dari lantai 12 tempat apartemennya berada, kakinya berhenti melangkah ketika dilihatnya pemandangan yang membuat amarah yang sudah menbuncah dalam dirinya semakin terpancing. Di depan sana, berjarak 10 meter darinya, Eunhee dan Ilwoo tengah berpelukan mesra.

Tanpa disadarinya, kakinya sudah melangkah lebar-lebar menghampiri sang istri dan aktor terkenal itu, lalu dengan sekali gerakan tegas, ia menarik lengan Eunhee pada pelukannya dan mendaratkan bogem mentah pada wajah tampan Ilwoo. Eunhee yang tak menyadari kehadiran Donghae di sana, menjerit kaget dan buru-buru menahan lengan Donghae yang hendak mengarahkan pukulan selanjutnya pada sahabatnya itu.

“Hae, apa yang kau lakukan?” protes Eunhee marah sekaligus takut di saat bersamaan, karena baru kali ini ia melihat wajah suaminya mengeras dan semarah itu.

“Kau… masuk!” sergah Donghae sembari menunjuk wajah Eunhee.

Menggelengkan kepalanya tegas, Eunhee menarik lengan Donghae menjauh dari Ilwoo. Takut kalau-kalau suaminya itu akan mencelakakan Ilwoo dengan amarahnya saat ini. “Aku tak mau masuk kalau kau tidak,” balas Eunhee, mencoba memberanikan diri. Menoleh pada Ilwoo yang kini berdiri di samping mobil Hyundai Silver Lake-nya, Eunhee memberi isyarat menggunakan gerakan kepalanya. Menyuruh sahabatnya itu pergi. “Ayo! Biar kujelaskan semuanya di dalam,” ajak Eunhee sekuat tenaga menyeret tubuh besar suaminya yang tampak masih berang.

Setibanya di apartemen, Eunhee kembali menjerit ketika dengan kekuatan penuh Donghae membanting pintu depan apartemen hingga menimbulkan bunyi berdebam keras. “Kau mau membangunkan tetangga kita dengan bertingkah seperti anak kecil?!” protes Eunhee kesal.

“Apakah kau masih punya hak untuk marah setelah apa yang kau lakukan tadi?” balas Donghae tak kalah keras sembari mengeraskan rahang.

“Tapi tak seharusnya kau memukul Ilwoo seperti itu! Kau tau dia sa—“

“DIAM!!!” bentak Donghae nyaring, matanya menyalang menatap Eunhee yang semakin ketakutan. Wanita itu beringsut mundur ketika dilihatnya sang suami berjalan mendekatinya dan menyudutkannya di dinding. “Kau tau Lee Eunhee? Aku hampir gila mengetahui kau bersama pria lain,” bisiknya geram, seolah dengan begitu ia bisa menghukum sang istri, “Aku sudah cukup bersabar selama ini dan menganggap bahwa kau dan Ilwoo tidak ada hubungan apa-apa…”

“Memang pada kenyataannya be—“

“Aku tidak menyuruhmu bicara!” sela Donghae dingin. Kedua tangannya mengunci tubuh Eunhee yang bersandar ketakutan di dinding. Dikepalkannya salah satu tangan dan meninju dinding di hadapannya keras-keras. Ketika dirasanya, kata-kata yang akan dikeluarkan begitu sulit untuk dimuntahkan keluar dari tenggorokannya.

“Hae, tanganmu bisa terluka—“

“Hatiku sudah jauh lebih terluka dari ini. Kau tak perlu mengkhawatirkan tanganku!” potongnya lagi, masih berusaha sekuat tenaga menahan air mata yang sudah menggenang di sudut matanya. Ia membenci dirinya sendiri yang merasa begitu cengeng sebagai seorang lelaki. Tapi rasa sakit di hatinya tak bisa dihindari. “Sampai kapan kau akan membohongiku Lee Eunhee? Selama ini aku sudah mempercayaimu dengannya. Tapi apa yang kau lakukan? Mengkhianatiku?” suara Donghae sudah tak sekeras tadi, namun nadanya yang tegas cukup untuk membuat bulu kuduk Eunhee meremang. “Kau tau Hee? Hatiku sakit!” satu tetes noktah bening meluncur turun di sudut matanya, diikuti tetesan lain yang tak lagi bisa dibendung.

“Hae, biarkan aku menjelaskannya. Aku dan Ilwoo, berita di TV dan tabloid itu. Semuanya tidak benar. Aku hmmpphh—“ Donghae membungkam kasar bibir Eunhee dengan bibirnya. Menggigit dan menjilatnya kasar, hingga wanita itu berjengit ketika merasakan sakit tak terkira di bibirnya. Tak ada lagi ciuman lembut dan bergairah seperti yang selalu diberikan suaminya. Berganti dengan ciuman ganas, kasar sekaligus menyakitkan. Sekuat tenaga Eunhee berusaha menjerit dan memukul-mukul dada bidang Donghae yang sama sekali tak bergeming di hadapannya. Air matanya meluncur turun merasakan rasa sakit yang memuncak ketika Donghae tak juga melepaskan ciumannya. “Haemmph… lepashmmp!! Kau menyakitiku!” jerit Eunhee kesal ketika tiba-tiba Donghae mengangkat wajahnya dan sekali lagi memukul dinding dengan tinjunya yang terkepal kuat dan menjerit keras-keras seolah ingin menumpahkan amarahnya pada dinding tak berdosa itu. “Sudah kukatakan aku tak ada hubungan apa-apa dengan Ilwoo, aku hanya—“

“Hanya mencintainya! Mencintai sahabatmu dan mengkhianati suamimu sendiri!”

“Aku benci padamu Hae!” jerit Eunhee histeris, isakannya semakin menjadi ketika sang suami masih saja menatapnya tajam. “Kau tak pernah mempercayaiku. Bagaimana dengan kau sendiri yang bermesraan dengan aktris bernama Eunseo itu?” balas Eunhee berang.

“Kau mengungkit masalah itu? Padahal kau tau sendiri bahwa itu hanya akting. Kau tau sendiri bahwa aku hanya mencintaimu!” Donghae meremas kedua bahu Eunhee hingga gadis itu meringis kesakitan.

“Aku pun begitu, aku hanya membantu Ilwoo. Aku hanya—“

“Lalu mengapa kau berbohong padaku? Mengapa kau mengatakan sibuk dengan urusan bisnis sementara kau sedang bersensng-senang dengan sahabatmu itu di mall. Kau tau kalau aku benci dibohongi! Aku tak suka kau tak jujur padaku!” sembur Donghae marah, “Kenapa kau tak jujur saja padaku? aku tak akan marah selama kau masih jujur, selama—“

“Ilwoo akan bertunangan, dan aku Event Organizernya.”

“—bersamanya… eh? E-event… organizer?” Donghae melepaskan cengkramannya di bahu Eunhee dan bergerak mundur beberapa langkah. Rasa lega menjalar di sudut hatinya yang mulai menghangat. Jadi… Eunhee…, batinnya lega. Ditatapnya wajah sang istri dan merasa berdosa ketika dilihatnya setitik noda merah tergambar jelas di sudut bibir sang istri.

“Aku tidak berbohong padamu! Aku memang membicarakan masalah pekerjaan dengan Ilwoo. Kau tau kesibukanku sebagai salah seorang Event Organizer, dan sekarang aku sedang membantu sahabatku mempersiapkan pertunangannya. Apakah itu… ahhh!”

“Eunhee-a!” Donghae bergegas maju dan menumpu tubuh Eunhee yang tiba-tiba limbung dan hampir saja terjatuh. Tangan wanita itu menyentuh keningnya yang tiba-tiba merasakan nyeri tak tertahankan. “Eunhee-a, gwaenchanayo?” tanya Donghae khawatir lalu membopong tubuh sang istri ke sofa terdekat. Tangannya sudah terangkat untuk mengambil ponsel di atas meja, ketika tangan Eunhee menghalangi. “Aku akan menelpon Dokter,” katanya gelisah.

Eunhee menggeleng lemah dan menyandarkan kepalanya di sofa, “Jadi… kau percaya padaku kan?”

Donghae merengkuh tubuh Eunhee ke dalam pelukannya, “Mianhaeyo! Aku…” Pria itu tak sanggup berucap sepatah katapun lagi ketika rasa sesak mulai memuncak di tenggorokannya, mengundang beberapa tetes air mata lain turun di kedua pipi pucatnya. Namun bayangan Eunhee dan Ilwoo berpelukan mesra ketika di Basement tadi membuatnya tersadar dan menjauhkan tubuh sang istri.

Seolah mengerti arah pertanyaan Donghae selanjutnya, Eunhee menjelaskan sebelum Donghae sempat bertanya, “Tadi aku pusing… dan hampir saja terjatuh. Tapi syukurlah ada Ilwoo yang membantuku berdiri.”

Rasa lega kembali melingkupi hati dan perasaan Donghae, dibelainya lembut pipi sang istri lalu mengecup keningnya pelan, “Mianhae, aku sudah menyakitimu!” bisiknya lirih.

Eunhee mengangguk lalu menangkup wajah Donghae dengan kedua tangannya, “Kau tidak bertanya kenapa aku merasa pusing?” pancingnya dengan senyum tulus walau kini dirasanya bibirnya perih akibat ciuman kasar Donghae tadi.

Wajah Donghae berubah khawatir mendengar Eunhee bertanya begitu, “Bagaimana kalau kuambilkan obat—“

“Tidak usah!” Eunhee menahan lengan Donghae yang sudah berdiri dari posisi jongkoknya dan menariknya kembali ke hadapannya. Diraihnya tangan Donghae dan digiringnya menuju dataran perutnya yang kini terbungkus blouse kerjanya. Membelaikan lembut tangan besar itu di sana. “Tidak mau memberi salam pada anakmu?”

Mata Donghae membelalak lebar, mulutnya membuka dan menutup berulang kali seolah tak mampu berkata apapun lagi. Menatap bergantian wajah cantik dan tangannya yang berada di perut sang istri. “A-anak?”

“Kau benar-benar tidak lucu kalau sedang marah begitu,” gumam Eunhee lembut, menyisirkan tangannya di sela-sela rambut coklat gelap sang suami. “Kau tau? Aku lebih suka saat kau tersenyum. Kau lebih terlihat tampan dengan senyummu itu. Dan kurasa… calon anak kita juga setuju dengan itu.” Donghae masih tak bersuara, ia hanya mampu mengucapkan kata ‘anak’ berulang kali dan menatap mata Eunhee lekat-lekat. Terlalu terkejut untuk bereaksi. “Lihatlah sayang, Appa-mu sekarang tampak seperti orang bodoh!” ejek Eunhee yang saat ini tengah menatap dan mengelus perutnya sendiri. “Bukankah… dulu dia yang sangat menginginkan kehadiranmu? Kenapa dia sekarang malah…” Eunhee menghentikan kata-katanya dan tersenyum senang ketika tiba-tiba Donghae menariknya dalam dekapan hangatnya. Membelai lembut punggung Eunhee. Wanita itu dapat merasakan tetesan hangat air mata Donghae membasahi blouse-nya. “Hey… jangan menangis! kau dulu pernah berjanji pada anakmu bahwa kau tak akan cengeng lagi setelah menjadi seorang Appa,” goda Eunhee sambil menjauhkan tubuh Donghae dan menyeka air mata bahagia yang kini mengalir di kedua pipi sang suami.

Tersenyum lebar, Donghae menangkup wajah Eunhee dengan kedua tangannya yang besar. “Mianhaeyo… Gomawoyo… Eunhee-a,” bisiknya lembut sebelum akhirnya melumat bibir Eunhee lembut, dan terkesan berhati-hati. Takut, kalau-kalau ciumannya akan mennyakiti sang istri lagi. “Aku berjanji tak akan marah-marah lagi, aku berjanji akan menjadi Appa yang baik untuk anak-anakku, dan aku berjanji akan menjadi suami terbaik untukmu,” Donghae kembali mendekap erat tubuh ramping Eunhee dan membelai puncak kepalanya lembut, berulangkali mengucapkan kata maaf dan terima kasih.

————————————————–

Eunhee terkekeh geli dan bergerak mundur beberapa langkah ketika dilihatnya wajah Donghae berantakan, berlumur tepung hingga rambut coklat gelapnya memutih. “Kau tampan sekali kalau seperti ini Lee Donghae,” guraunya masih dengan tawa geli.

Donghae menyeringai, tangannya sudah meraih tumpukan tepung di atas meja dapur untuk membalas perbuatan sang istri, “Aku memang sudah tampan dari dulu!” cetusnya narsis.

Eunhee pura-pura merengut ketika dilihatnya Donghae sudah maju untuk melakukan hal serupa padanya, “Ayolah Hae! jangan bercanda terus, kue ini tak akan selesai kalau kau bercanda terus begini?”

“Aisshh… kau dulu yang bercanda denganku Lee Eunhee! Awas kau!” Donghae berlari mengejar Eunhee yang menghindarinya, mengitari meja makan kecil di sebelah counter dapur.

Eunhee tertawa geli melihat Donghae yang mengutuk-ngutuk karena tak berhasil menangkapnya, “Sudah kubilang, berhenti Hae! kita harus cepat menyelesaikan kue ini!” keluh Eunhee yang sudah mulai lelah berlari.

Menyadari kelengahan sang istri, Donghae mengerahkan tenaganya yang sengaja ia simpan tadi dan menangkap tubuh ramping Eunhee dengan mudah. Seringai jahil tergambar jelas di wajahnya saat ini, “Kau mau terlihat cantik Lee Eunhee?” godanya dengan tangan berlumur tepung diarahkan pada wajah Eunhee. Menghindari serangan Donghae itu Eunhee menutup wajahnya dengan tangan, menundukkan wajahnya hingga Donghae kesulitan untuk melumurkan tepung di tangannya pada wajah sang istri. “Hah… baiklah… baiklah! Kau benar kita memang harus segera menyelesaikan membuat kue ini,” Donghae melepaskan rengkuhannya di tubuh Eunhee.

Perlahan, Eunhee menyingkirkan tangan di wajahnya. Namun belum sempat ia menghindar, Donghae sudah melumuri wajah Eunhee dengan tepung yang masih berada di tangannya lalu tertawa penuh kemenangan setelahnya. “Siaaal!!!” keluh Eunhee kesal, namun di saat bersamaan tak dapat menahan senyum bahagia mendengar dan melihat tawa lepas Donghae di hadapannya.

“Mau lagi?” goda Donghae yang sudah meraih segenggam tepung di meja.

Eunhee merengut, “Kau mau aku marah, he?”

Mengurungkan niatnya, Donghae meletakkan kembali tepung itu di tempatnya, “Kau jelek kalau marah! Sudahlah, kita lanjutkan saja membuat kuenya,” balas Donghae akhirnya dan kembali sibuk mencampurkan adonan yang tadi dibuatnya dengan tepung. Melangkah pelan, Eunhee memeluk Donghae dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung lebar sang suami. “Eh? Eunhee-a, apa yang kau lakukan!”

“Diamlah! Aku ingin seperti ini untuk sesaat,” gumamnya pelan, lalu memejamkan matanya menikmati hangat tubuh sang suami yang terasa begitu menenangkan baginya. Donghae tersenyum, mengelus lembut tangan Eunhee yang kini melingkar di pinggangnya. Tapi tiba-tiba Donghae terkejut mendapati Eunhee menarik tangannya kasar. “Ya! kau sengaja melumuri tanganku dengan adonan?!” gerutu Eunhee berlebihan sementara Donghae tertawa lebar melihatnya. “Aisshh… minggir-minggir! Biar aku yang mencampur adonannya!” paksa Eunhee menyingkirkan tubuh sang suami dari depan adonan.

“Lalu? Apa yang harus kulakukan?” tanya Donghae sok polos.

Eunhee terkekeh pelan, “Ambil cetakan di atas lemari kedua dari kanan itu! terserah padamu mau dibentuk seperti apa kue ini nanti.” Donghae menurut, lalu mengambil cetakan berbentuk bulat dan menyerahkannya pada Eunhee. “Bulat saja?” ejek Eunhee.

“Kemarikan!” Donghae merebut adonan di tangan Eunhee dan mulai meletakkannya di cetakan. Sebagai sentuhan akhir, ia melukiskan dua buah mata lengkap dengan lengkungan panjang membentuk wajah ‘Smile’. “Nah… kau bilang, kau suka senyumku. Jadi kubuatkan kau kue berbentuk ‘Smile’,” gumam Donghae pada Eunhee yang saat ini tengah memperhatikannya sembari tersenyum kecil. “Kau suka?”

Eunhee mengangguk mantap, “Yeah… aku suka. Tapi aku lebih suka senyummu. Karena hal itu membuat sesuatu dalam diriku bergetar dan menimbulkan sensasi menyenangkan saat melihatnya.”

Donghae tersenyum lebar mendengarnya, “Senyum seperti ini?” godanya.

Terkekeh pelan, Eunhee menyentuh pipi Donghae, “Tidak… tak perlu selebar ini. Cukup begini saja sudah cukup.”

“Hmm… baiklah! Aku janji akan terus memberimu senyum seperti ini. Kuharap, kau juga mau melakukannya untukku.” Eunhee mengangguk mantap lalu menyurukkan dirinya dalam dekapan hangat Donghae. “Hey… kau tidak takut aku akan melumuri wajahmu dengan adonan?” goda Donghae sekali lagi, memperlihatkan tangannya yang kini penuh adonan lengket.

“Aisshh… Lee Donghae! Awas kau!!”

FIN

40 thoughts on “SMILE :) -EunHae Moment-

  1. awalnya hae sempet nyantai aja tu sama gosip ilwoo n eunhee tp lama2 panas jg ya
    hae serem bgt ih marahnya
    cie akhirnya eunhae punya anak jg tu

  2. aaaaa!!!
    hore!! jadi hamil! jadi hamil!
    selamat ngidam yang banyak dan aneh-aneh ya~

    foto kue yang udah mateng gak ada ya?
    saya jadi laper liat kuenya *muka melas*

    maaf ya, saya bacanya dari yang drabble dulu
    saya lagi diburu waktu, gak sempet baca yang part *sok sibuk* #pletakk

  3. annyeong aku reader baru disini hehe ^^
    rizkia imnida ~ aku nemu blog ini dari sjff keliatannya blog baru ya? #sotoy

    btw ini sequel dari Pregnant bukan sih? aku udah baca yang Pregnant tapi komennya sekalian disini aja ya hehe
    ffnya keren chingu aku suka, akhirnya mereka bakal punya anak ^^

    • Annyeong Rizkia. Iyah emang masih baru. Baru 2 bulanan ini bikinnya ^^
      Gomawo yah, dah mau mampir di Blog yg masih belom ada apa2nya ini kkkk🙂

      Ne, ini emang sekuelnya Pregnant? ^^

  4. hae serem juga klo marah,,,,tapi tetep cengeng,kkkk
    akhirnya eunhee hamil,yee,,,,,
    chukae ya🙂
    g pernah bosen buat blg,aq suka ff kamu,konfliknya ringan g bertele-tele dlm penyelesaian mslhnya,hehe,,,

  5. Hae klo marah gitu ya? Seram amet *siap2 kabur*
    cie yg bentar lg punya appa *godain Hae* *dipelototin Eunhee*🙂

  6. Hae oppa klw marah serem juga.tapi lucu bgt ekpresinya saat eunhee bilang dia hamil bisa2 cengo gitu sempet ga ngerti arah pembicaraannya hehe…tapi chukae…akhirnya impian kyupa terwujud juga

  7. Ikan kalo marah, nyeremin juga. wkwkwkw….
    aaaaaa, suka banget moment bikin kue-nya. Lee DongHae, suami idaman akuuuuuuuuu :*

    *DipelototinYeHyuk xD

  8. wah akhirnya mereka gak marahan, ku kira nanti mereka marahan tapi ternyata enggak…
    chukae donghae oppa dan eunhee eonni atas kehadiran anaknya ya….
    saya ikut senang…
    ヽ(^。^)ノ

  9. Ampun dah, main mukul2 aja tuh si Dong Hae. Eun Hee hamil? Akhirnya hamil jg wkwkwk

    Itu, yg pas adegan terakhir… jail amat duanya2 *ketularan virus Kyu deh kayanya haha

  10. eeee ciyeee ciyeee…. yang mau jadi bapak…

    #nyiul2diataprumah

    nonton ff mu kek beneran di depan mata kejadiannya…

    senyum2 sendiri aku bacanya, Eonn….

    so sweet tiada tara lah pokoknya….
    #kecuppipikyu….😀

  11. Aigoo !!! Donghae oppa kalo lagi marah serem yah … Wahhh akhirnya eunhee hamil juga, selamat yah eunhee eonni atas kehamilannya, donghae oppa sebentar lagi kau jadi appa ..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s