HATE That I LOVE YOU -Part 2-

Part 2

 

-Annabelle Parker, Camberwell College of Art-

Hmm… aneh! Kenapa Aiden menatapku begitu? Seberapa pun kucoba untuk tak mempedulikan tingkahnya dan pura-pura berminat pada steak di hadapanku, tetap saja aku tak bisa menghilangkan rasa gugup yang kurasakan saat memikirkan dirinya menatapku seperti itu. Hal ini yang paling kubenci bila berdekatan dengan lelaki tampan seperti dirinya, mungkin inilah yang dirasakan setiap wanita hingga tak dapat menolak pesona yang ditunjukkan seorang pria dan mengabaikan akibat buruk bila sudah jatuh terlalu dalam pada pesona pria tersebut. Menyedihkan!

“Ada yang ingin kau bicarakan Mr. Lee?” Aku sudah tak tahan lagi, semakin cepat kuselesaikan makan siangku, semakin cepat pula aku bebas dari pria-Asia yang selalu berhasil membuatku sesak ini. Kalau bukan karena tadi ia memaksa dan aku tak ingin berhutang budi padanya setelah membantuku—well, walau jujur aku tak pernah memintanya—di ruang musik tadi, aku akan berpikir beribu-ribu kali untuk menerima ajakan makan siangnya kali ini.

Kulihat ia masih menatapku penuh selidik, seolah ingin menilaiku untuk memastikan bahwa aku ini benar-benar orang baik. Membuatku gugup saja! “Kau… membenci pria Asia?”

Oh… sial! Seharusnya aku sudah bisa menebaknya. Pasti hal ini yang menjadi pertanyaan besar di otaknya. Semuanya karena mulut besar si Megan Holmann itu. Yeah… tak bisa kupungkiri, walau aku dan si kurus itu tak pernah bisa akur, tapi ia banyak tau tentang keluargaku. Pasti kalian bingung mengapa bisa begitu? Hmmm… aku memang belum menceritakan tentang masa laluku dengan Megan. Bagaimana kami bisa saling mengenal hingga sekarang?

Tuan dan Nyonya Holmann, orang tua Megan, dulu adalah tetangga dekat Mom saat kami masih tinggal di Lambeth. Itulah sebabnya mengapa aku dan Megan bisa bersekolah di tempat yang sama. Kuakui, dulu kami sempat dekat saat masih di Elementary School. Tapi pada tahun kelima di sekolah itu, ada suatu kejadian yang membuat kami menjadi saling benci hingga akhirnya bermusuhan seperti saat ini. Bahkan sampai sekarang, Mom tak pernah menyerah selalu memaksaku untuk kembali menjalin hubungan baik dengan Megan, dan menasehatiku bahwa tidak baik terus bermusuhan seperti ini, apalagi ia adalah sahabat kecilku. Tentu saja selalu kutolak. Mana mungkin aku mau berteman dengan si gadis palsu itu! Kalau bukan karena perbuatannya yang memusuhiku dulu, aku tak akan terpancing untuk membalasnya seperti sekarang.

“Miss Parker?” Aiden memiringkan kepalanya dan tetap memberiku pandangan seperti tadi. Pandangan yang membuat sesuatu di dalam diriku bekerja ekstra. Sial! Memangnya kalau aku membenci pria-Asia seperti dirinya kenapa? Ada yang salah dengan itu?

“Ya, aku membenci pria Asia. Kenapa?” Kulihat ia terkejut lalu mengerutkan keningnya. Tapi entahlah, mengapa aku bisa berpikir kalau ia masih terlihat tampan dengan wajah berkerut seperti itu? Gila! Tak mungkin dalam seminggu aku sudah jatuh dalam pesonanya.

Bertopang dagu, Aiden mendekatkan wajahnya padaku, “Jadi… kau membenciku juga Miss Parker?” tanyanya lambat-lambat seolah tak percaya dengan jawaban yang akan kuberikan.

“Kalau kau tidak lupa bahwa dirimu adalah salah satunya,” balasku datar. Tak ada gunanya menutupi semua ini darinya. Bukankah dia sudah mendengar semuanya dari si mulut besar itu.

Dapat kulihat tatapan Aiden semakin intens padaku, dan sialnya hal itu membuatku semakin merasa sesak karena jantungku bekerja ekstra mengambil semua oksigen yang berhasil kuhirup. “Tapi kau juga memiliki darah Asia Miss Lee.”

What? Darimana dia tau? Hey… jangan lupa kalau kau memiliki penampilan fisik seperti gadis Asia Ann! Sekali lagi aku ingin mengutuki diri sendiri karena lebih banyak mewarisi gen dari Dad. Menyebalkan! Tapi… darimana ia tau nama tengahku? Sekalipun aku tak pernah menyebutkannya sebelumnya. “Kau…”

“Aku membaca data mahasiswamu saat pertama kali Mr. Freddickson akan mengenalkanmu padaku,” selanya seolah tau apa yang tadi kupikirkan. Seperti seorang peramal yang bisa membaca pikiran saja! Yah… seharusnya aku tau kalau si tua Freddickson yang melakukannya.

“Oh… baguslah kalau begitu, kuharap setelah ini kau tak dekat-dekat denganku lagi.”

Aku sudah berdiri ketika tiba-tiba ia bergumam, “Apakah karena Ayahmu?” Hey… bukankah dia sudah mendengar dari si mulut besar itu, kenapa dia masih bertanya? Mau pura-pura bodoh? Dasar pria aneh! “Memangnya apa yang dilakukan Ayahmu padamu? Maksudku… pada Ibumu?”

Sial! Dipikirnya siapa dia hingga aku mau menceritakan masalah pribadiku padanya. “Itu bukan urusanmu!” balasku dingin lalu pergi secepat yang kubisa sebelum ia mengejarku dengan pertanyaannya yang menyebalkan itu. Bukan siapa-siapaku saja sudah berani mencampuri urusanku, bagaimana kalau nanti aku berhubungan dengannya? Errggh… kenapa aku bisa memikirkan kemungkinan hal semacam itu? Tidak! Dia adalah salah satu tipe pria paling berbahaya. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya. Ya, menghindarinya.

-Abbey Street, London-

“Ada yang mengganggumu Baby?” untuk kesekian kalinya kudengar si Spencer-monyet itu bertanya khawatir, tapi entah mengapa sejak tadi aku seolah tak memiliki kekuatan hanya untuk membalas pertanyaannya. Rasanya kepalaku penuh oleh bayangan si pria-Asia menyebalkan itu. Sepertinya aku tak butuh cafein untuk tetap terjaga malam ini. Bahkan mungkin aku membutuhkan sedikit Aspirin untuk menghilangkan rasa nyeri di kepalaku karena terus memikirkannya juga sedikit Valium agar tak timbul cekungan hitam di bawah mataku karena tak bisa tidur semalaman. Sial! Untunglah besok hari Minggu, jadi aku tak perlu takut harus bangun kesiangan. “Baby, kau bahkan belum makan apapun malam ini. Ayolah! Makan saja walau hanya sedikit, jangan membuatku khawatir!” desaknya sambil terus menyodorkan sepiring omelet padaku. “Atau… kau mau makan yang lain? Pizza mungkin? Mau kupesankan?” tawarnya dengan wajah memelas persis seperti seorang anak yang memohon pada orang tuanya, kalau sudah begini aku tak bisa tak merasa kasihan padanya. Biar bagaimana pun si Monyet ini sudah baik padaku selama ini.

“Tidak usah, kau bantu Mom saja!” tolakku tak bersemangat lalu pura-pura menerima piring berisi omelet dan menyuapnya sesendok sebelum akhirnya ia pergi membantu Mom membereskan restoran yang baru saja tutup dengan satu helaan nafas panjang yang menandakan ia tidak rela meninggalkanku sendirian. Sorry Spencer! Malam ini pikiranku sedang kacau. Kalau ia tetap menggangguku, aku tak berjanji bisa menahan diri untuk tak membentaknya.

Tanpa semangat sedikit pun kuletakkan piring omelet itu di wastafel lalu membuang isinya ke tempat sampah, kalau tidak pasti Snowy akan memakannya dan itu tak akan baik untuk kesehatan pencernaannya. Yeah… Snowy, lebih baik aku bermain dengannya untuk menghilangkan bayangan pria itu dari kepalaku. Kulirik anak kucing persia berbulu seputih salju yang kini sedang tidur melingkar di atas sofa. Hadiah ulang tahun dari Mom beberapa bulan yang lalu.

-Tower Bridge, London-

Saat suasana hati sedang buruk begini, aku hampir selalu menghabiskan waktu duduk-duduk di tepi sungai Thames tepat di sebelah Tower Bridge atau biasa disebut London Bridge oleh kebanyakan masyarakat London ataupun dari seluruh pelosok dunia. Aku lebih suka ke mari saat pagi hari, selain karena sinar matahari yang tak terlalu panas, tempat ini juga masih sepi pengunjung. Jembatan yang di bangun pada abad ke 18 ini memang menjadi salah satu tujuan wisata turis-turis yang berasal dari luar maupun dalam negeri. Tak mengherankan kalau banyak turis memenuhi tempat ini pada jam-jam tertentu.

Aku duduk di pinggiran kolam melingkar dengan air mancur berbentuk lumba-lumba dan menatap jauh ke sungai Thames dengan air tenangnya. Tak banyak orang yang berlalu-lalang di jam segini. Hanya ada segelintir orang yang sepertinya sudah sejak pagi tadi menikmati keindahan pemandangan kota London dari atas Tower Bridge itu. Yeah, dari atas sana kita memang bisa menangkap hampir keseluruhan kota London yang tampak indah dengan lampu-lampu yang berkelap-kelip. Tidak salah kalau Tower Bridge disebut sebagai jantung kota London. Dan juga ungkapan yang mengatakan bahwa belum lengkap rasanya berkunjung ke kota London tanpa mengunjungi Tower Bridge.

 

“Sepertinya kau masih sedih Baby!” aku hampir saja melompat kaget dari tempatku duduk saat ini ketika tiba-tiba sebuah suara terdengar tepat di sebelahku. Spencer?! Well, tak mengherankan memang. Pasti ia membuntutiku lagi, seperti yang selalu dilakukannya setiap kali aku ke mari. Menyebalkan!

“Kenapa kau selalu menguntitku? Aku bukan kekasihmu!” keluhku kesal lalu pergi meninggalkannya yang terlihat seperti… orang bodoh dengan tampang polosnya itu. Aku tau omelanku itu tak lantas dapat menghentikan kebiasaan buruknya itu. Karena seperti yang sudah-sudah, ia pasti akan  tetap mengikuti dan merayuku walau hampir selalu kubentak dengan kata-kata kasar. Seperti orang tak punya telinga saja!

“Aku tidak menguntitmu Honey, aku sudah hafal ke mana perginya My Future Wife kalau sedang dalam kondisi tak baik seperti sekarang ini,” Ia mencoba membela diri dengan masih memasang tampang dungunya itu. Apa yang ia katakan tadi? My Future Wife? Sial! Kata-katanya semakin tidak benar saja. Jangan harap aku akan sudi menjadi istrimu!

Aku berputar menghadap Spencer dan sengaja memasang tampang garang yang kurasa tak sepenuhnya berhasil karena kulihat ia sama sekali tak bergeming dari tempatnya, “Jangan campuri urusanku! Dan dengar baik-baik Spencer, berhenti menyebutku Baby, Honey atau… My Future Wife? Kau pikir aku ini siapamu? Kekasihmu?” sungutku berang. Jangan salahkan aku kalau kutumpahkan kekesalanku padanya. Salah dia sendiri tak mau menghindariku di saat seperti ini.

“Ya, marahlah. Keluarkan semua kekesalanmu padaku Honey!” What? Dasar orang aneh! Dia justru memintaku memarahinya. Pria ini benar-benar menggelikan! “Atau… kau mau aku menghiburmu?” tawarnya lalu menyerahkan anak anjing berbulu coklat—yang entah sejak kapan berada dalam gendongannya—ke pelukanku. Aku tak tau ia memelihara anjing juga. Tapi kurasa anak anjing ini lucu dengan mata bulat dan bulu coklat keemasannya. “Aku akan menari untukmu,” katanya mengalihkan perhatianku dari anak anjing itu padanya yang kulihat sudah berdiri agak jauh dariku, tepat di tengah-tengah trotoar melingkar di sebelah kolam. Hey… dia tak akan mempermalukanku dengan bertingkah konyol di depan umum kan?

Detik berikutnya tanpa bisa kucegah, ia sudah bergerak lincah memperlihatkan tarian berirama RnB lengkap dengan topi dan celana kedodorannya, membuat orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya berhenti untuk melihat aksi Spencer yang sialnya… terlihat sangat keren menurutku! Ugh… apa ini Ann? Satu lagi pria Asia yang berhasil membuatmu melongo dengan kemampuannya yang tak terduga. Ternyata di balik sikap konyol dan terkesan dungunya, Spencer memiliki sisi lain yang dapat membuat orang-orang berdecak kagum dengan keahliannya.

Kudengar tepuk tangan dan sorak-sorai dari orang-orang yang tanpa kusadari sudah mengitarinya. Tampak sangat memuja penampilannya tadi. Spencer terlihat malu-malu menerima perlakuan orang-orang itu. “One more time!” seru orang-orang itu antusias ketika Spencer hanya diam saja dan menunduk malu-malu. Sedangkan aku? Yeah… tentu saja aku hanya bisa diam menantikan aksi apa lagi yang akan ditunjukkannya. Tak kupungkiri, aku pun ingin melihat sejauh apa kemampuannya dalam menari.

Tak berapa lama, setelah mengeluarkan ponselnya—yang tadi ia gunakan untuk memutar musik—dan sepertinya ia sedang memilih lagu baru untuk dipertontonkan padaku dan orang-orang lainnya yang sudah menanti penuh harap. Ia menatapku lekat-lekat. “Lee, lagu ini kupersembahkan untukmu. Jangan marah lagi. Saranghae!” Pria itu mengumumkan sambil menunjukku dan diakhiri dengan kedua tangan dilingkarkan di atas kepalanya membentuk sebuah hati. Memalukan! Apa-apaan dia? Menyebutku Lee dan mengatakan kata-kata menyedihkan itu! Sial! Kulihat orang-orang itu mengalihkan perhatiannya padaku untuk sesaat dan memberi tepuk tangan meriah sebelum akhirnya kembali terhanyut dalam aksi Spencer yang kedua dengan lagu This Love dari Maroon 5. Dan kali ini lengkap dengan nyanyiannya.

I was so high, I did not recognize

The fire burning in her eyes

The chaos that controlled my mind

Whispered goodbye as she got on a plane

Never to return again

But always in my heart

 

This love has taken it’s toll on me

She said goodbye too many times before

And her heart is breaking in front of me

I have no choice ’cause I won’t say goodbye anymore

 

I tried my best to feed her appetite

Keep her coming every night

So hard to keep her satisfied

Kept playing love like it was just a game

Pretending to feel the same

Then turn around and leave again

 

This love has taken it’s toll on me

She said goodbye too many times before

And her heart is breaking in front of me

I have no choice ’cause I won’t say goodbye anymore

 

I’ll fix these broken things

Repair your broken wings

And make sure everything is alright

My pressure on your hips

Sinking my fingertips

Into every inch of you

‘Cause I know that’s what you want me to do

 

This love has taken it’s toll on me

She said goodbye too many times before

And her heart is breaking in front of me

I have no choice ’cause I won’t say goodbye anymore

“Bagaimana Lee, kau suka?” bisiknya senang setelah kerumunan orang itu bubar dan kini tinggal aku berdua lagi dengan si Bodoh itu. Kulihat ia masih tertawa lebar mempelihatkan deretan gusi yang dianggapnya menawan itu dan sesekali ia menggaruk belakang kepalanya. Kalau sudah begini, ia kembali tampak seperti orang dungu.

Aku menatapnya tajam sebelum menjawab dengan nada ketus, “Sudah berapa kali kubilang, aku tak suka kau memanggilku Lee!”

“Lalu, aku harus memanggilmu apa? Kau tak mau kusebut Baby, Honey atau My Future Wife. Dan sekarang kau tak memperbolehkanku memanggilmu Lee,” protesnya lengkap dengan wajah sok bodohnya itu, “Lagi pula, aku senang memanggilmu Lee, karena ternyata Tuhan memang baik padaku, menunjukkan bahwa nama calon istriku sudah memiliki nama yang sama denganku. Jadi, aku tak perlu lagi mengganti namamu—“

“Aku tidak akan menikah denganmu Spencer!” potongku cepat lalu menyerahkan anak anjing coklat miliknya yang belakangan kuketahui bernama Choco ke pelukannya. “Aku mau pulang! Jangan ganggu aku lagi!”

Samar-samar kudengar gumamannya di belakangku, “Lee, tunggu! Kita pulang bersama!”

-Camberwell College of Art-

“Ann, kudengar kau dekat dengan pria Korea baru itu ya? Please, kenalkan aku padanya! Dia tampan sekali,” Jane—teman sekelasku—sekali lagi memohon dan tentu saja hal itu membuatku muak. Dia ingin berkenalan dengan Aiden? Menggelikan!

“Kalau ingin berkenalan dengannya, lakukan saja sendiri! Jangan meminta bantuanku!” balasku dingin sambil tetap memfokuskan diri pada materi yang diberikan Ms. Flynn di depan kelas, walau kuakui tak ada satupun yang melekat di kepalaku. Kulihat seisi kelas pun begitu, tampak tak kondusif sama sekali. Yah… setidaknya bukan hanya aku yang merasa bosan dengan cara mengajar Ms Flynn yang terbilang cukup… membosankan.

“Kau jahat sekali,” keluh Jane kesal sambil mengerucutkan bibirnya hingga terlihat seperti pantat Ayam yang akan mengeluarkan telurnya. “Ayolah Ann, kau kan mengenalnya!” desaknya tak putus asa. Baru saja aku membuka mulut untuk menolak, tiba-tiba bel pergantian jam berbunyi dan itu artinya jam  kuliah Ms Flynn berakhir. Tanpa menunggu lama, kulihat seisi kelas sudah kosong. Kasihan sekali Ms Flynn, padahal ia juga belum keluar dari kelas, tapi mahasiswanya sudah kabur saja. “Ann, please!” aku menoleh ketika kudengar suara Jane masih di sampingku. Sial. Dia keras kepala sekali. Aku tak mau lagi berurusan dengan orang Korea itu. Cukup sudah waktu satu Minggu menemaninya berkeliling, tak perlu ditambah lagi dengan gagasan konyol menjadi cupid si Jane dan pria bernama Aiden itu.

“Parker, ikut aku ke ruanganku!” Ah… Ms Flynn, kau penyelamatku! Aku mengangguk dan bergegas mengikutinya setelah sebelumnya menoleh sebentar lalu melayangkan tatapan menyesal pada Jane yang saat ini terlihat sangat kecewa dengan wajahnya yang mengerut kesal. Sorry Jane, aku tak bisa membantumu!

Setelah menemui Ms Flynn di ruangannya, yang sudah kuduga pasti ada hubungannya dengan Mom, mengingat pertemanan mereka. Aku memutuskan untuk ke perpustakaan saja sambil menunggu jam kuliah berikutnya dimulai, sekaligus menghindari desakan Jane yang memintaku diperkenalkan dengan Aiden. Walau kuakui, kini perutku sudah melilit meminta diisi. Menyusahkan sekali orang itu!

Apa bagusnya ia hingga temanku Jane memintaku mengenalkannya pada pria itu? Yeah… selain senyumnya yang kurasa… sangat menawan itu. Dia tak lebih dari pria-Asia dengan jenis yang paling mengerikan dan harus atau bahkan wajib dihindari. Kalau dihitung-hitung… dia memenuhi semua kriteria pria yang tak boleh dekat denganku. Tampan, pandai memenangkan hati wanita, dan seorang pria-Asia. Tidak jauh dari jenis pria seperti Dad. Bila sudah jatuh di tangan, maka akan dibuang begitu saja. Apalagi bila wanita itu sudah tak berguna baginya. Aku heran, mengapa Tuhan masih menciptakan jenis pria semacam itu? Bahkan bisa dibilang, tidak sedikit pria yang seperti itu saat ini. Evan Cole dan Aiden salah satunya. Walau Evan bukan pria-Asia yang kubenci, tapi predikat sebagai Playboy kelas kakap kurasa sudah sangat melekat di belakang namanya. Tapi anehnya, gadis-gadis itu masih saja tertipu oleh pesonanya. Atau jangan-jangan, memang itu yang mereka inginkan. Menggelikan!

Oh… sial! Baru saja melangkahkan kaki di koridor lantai 2, aku sudah dibuat kesal oleh kehadiran Aiden yang saat ini sedang berdiri di ujung tangga melingkar menuju lantai 3 bersama… What? Megan Holmann? Aku… tidak salah lihat kan? Kupicingkan mataku untuk memperjelas melihat sosok wanita tinggi kurus yang kini berdiri di sebelah Aiden. Benar. Tak salah lagi. Itu… si Holmann palsu! Apa yang sedang mereka lakukan di sana? Dan kenapa mendadak aku ingin tau dan merasa perlu mencari tau tentang apa yang mereka lakukan. Bukankah semua itu bukan urusanku? Kau semakin aneh saja Ann!

Sebaiknya aku mengurungkan niatku ke perpustakaan, karena mau tidak mau aku harus melewati mereka berdua untuk menuju ke perpustakaan yang terletak di lantai 3 gedung ini. Akan lebih baik bagiku jika tak mencari masalah dengan mereka. Tapi tak bisa kupungkiri, ada sedikit rasa tidak nyaman melihat keduanya mengobrol akrab seperti itu, seolah mereka sama sekali tak mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di ruang musik. Saat Aiden menahan lengan si Holmann ketika akan menamparku. Apakah kejadian itu hanya dianggap sebagai angin lalu begi mereka? Padahal saat itu, kulihat Aiden sangat marah pada Megan. Aneh!

Erggh… apa yang kupikirkan? Sudahlah Ann! Kau sudah memutuskan untuk menjauhi mereka. Tak ada gunanya…

“Miss Parker?!” Oh Tuhan! Aku tak salah dengar bukan? Tak mungkin ia melihat kehadiranku. “Aku ingin bicara denganmu!” Sh*t! tidak salah lagi, karena kini kurasakan suara Aiden sudah berada dekat di belakangku. Tak seperti tadi yang masih terdengar samar.

Aku memutar tubuhku menghadapnya. Ia tampak sangat sempurna walau hanya mengenakan kemeja sederhana berwarna putih—warna favoritku—yang kancingnya terbuka hingga dada, memperlihatkan T-shirt V-neck hitam yang digunakannya. Lengannya dilipat sebatas siku, menimbulkan kesan berantakan namun tampak begitu seksi. Arrgh!! Apa yang kupikirkan? Jeans dan sneaker putih menyempurnakan penampilannya.

Kutarik nafasku dalam-dalam, untuk mengantisipasi kemungkinan sesak yang akan timbul jika berdiri dekat-dekat dengannya. “Oh… Mr Lee, ada perlu apa? Aku tak punya banyak waktu,” balasku sok sibuk.

Kulihat ia tersenyum simpul, dan aku mengumpat dalam hati mengetahui senyum itu membuat sesuatu dalam diriku bekerja tidak normal. “Jangan berbohong Ms Parker, aku tadi melihatmu akan ke sana, tapi sepertinya kau mengurungkan niatmu dan berbalik kembali,” gumamnya tenang seolah semua itu tak membuatku geram sama sekali, “Apakah karena ada aku, jadi kau mengurungkan niatmu Ms Parker?” What the…? Hey… dia semakin menyebalkan saja! Tapi… darimana ia tau jalan pikiranku? Kurasa ia memang memiliki kemampuan membaca pikiran seseorang. Ah… sepertinya kau terlalu sering menonton film fantasy Ann!

“Yeah… seperti yang kau ketahui, bahwa aku membenci pria-Asia sepertimu!” Well, tak ada gunanya berbohong kan? Kurasa, kejujuran di saat-saat seperti ini sangat diperlukan. Tak peduli ia akan tersinggung atau bagaimana.

Ia terkekeh pelan mendengar jawabanku, “Apa kau tak takut aku menganggapmu pengecut saat kau mengungkapkan pengakuanmu itu padaku Ms Parker?”

“Tch…” Benar kan dugaanku? Semakin lama ia semakin menyebalkan! “Untuk apa aku takut? Aku tak pernah takut pada apapun selama aku masih bisa bicara jujur.”

“Lalu… kenapa kau mengurungkan niatmu saat melihatku di sana? Apa itu tak bisa dianggap sebagai pengecut?” Sial! Sial! Sial! Apa yang dikatakannya benar. Arrghh… apa yang harus kukatakan sekarang? Kau… menyedihkan Ann!

“Yeah… kau benar! Aku memang pengecut. Tapi kurasa… tak ada satu pun pengecut yang mau mengakui kesalahannya,” balasku datar, kurasa ia masih belum puas dengan jawabanku. Namun sebelum ia sempat membalas dengan memperpanjang membahas masalah tak penting ini, aku lebih baik mencari topik lain, “Sebenarnya apa yang ingin kau bicarakan? Aku yakin tujuanmu memanggilku bukan hanya untuk membahas masalah diriku seorang pengecut atau bukan.”

Ia mengangguk kecil lalu berdeham singkat menyiratkan bahwa ia tau aku sedang mengalihkan topik pembicaraan, “Sebaiknya kita tak membicarakannya di sini. Bagaimana kalau kita bicara di cafetaria saja?” tawarnya sambil menaikkan salah satu alisnya. Provokatif. Semoga ini bukan salah satu permainannya agar dapat mengajakku makan bersamanya lagi.

“Aku sudah bilang, aku tak punya banyak wak—“

“Kurasa waktumu masih satu jam lagi Ms Parker,” selanya santai sambil melirik arloji silver di pergelangan tangannya.

“Hey… tunggu!” kutarik kemejanya untuk menahannya, “dari mana kau tau? Aku—“

“Aku juga ikut kuliah Mrs Hannah nanti,” balasnya enteng sambil mengedikkan bahu. Sial! Pria ini selalu sukses membuatku kehilangan kata-kata. Apa dulu Mom juga begini saat menghadapi rayuan Dad? Semoga aku masih bisa mempertahankan diri agar tak jatuh ke lubang yang sama dengannya.

“Tapi Mr. Lee,” tahanku lagi. Aku tak boleh kalah darinya. Ia memutar tubuhnya kembali, dan menatapku, sengaja tak berkata apapun seolah memintaku melanjutkan, “Aku sebenarnya akan ke perpustakaan, ada buku yang harus kupinjam. Kalau tidak keberatan, sebaiknya kau katakan keperluanmu di sini. Lagi pula… aku masih belum…” Aaaarghh… sial! Kenapa perutku berbunyi di saat seperti ini? Ternyata benar teori yang menyatakan semakin kau memikirkan makanan, maka rasa lapar di perutmu akan semakin terasa. Menyebalkan!

Senyum kembali terbentuk di bibir Aiden dan aku yakin pasti senyum itu untuk menertawakan kebodohanku. Kau memang memalukan Ann! “Sebaiknya kau ikuti aku saja!” kemudian yang membuatku kaget bukan main, ia seenaknya saja menarik lenganku tanpa memberiku kesempatan untuk menolak. Sial!

TBC

25 thoughts on “HATE That I LOVE YOU -Part 2-

  1. yah yahhh ko penyakit tebece a kumat si, hueeee..
    suka ama penggambaran krkter a si Ann, judes ketus gmn gtu.. ayo dong dpertahankan judes a yaa, hahaha tp jgn kbangetan jg si ntar abang ikan a kaburrr lg. ehh tp kesian si spencer yaa pd hal tuh monyet dah melakukan yg swet buat si Ann..
    Hayooo atuh dlanjut ya, PALLI PALLIì

    • hihihi… si Ann emang judes! tapi si Hyuk gak kapok2 gitu godain dy.
      Ditunggu aja yah… akhir2 ini masih sibuk jadi belum sempet ngetik lagi. Makasih dah komen ^^

  2. choco ikut eksiss eaaaa:D
    kasian dispencer opps mksud q spencer :p di bntak2 mulu sma ann==
    knpa tuh ann gg suka liat aiden dket2 sma megan fox(?) jgan2 dia mulai suka sma hae. udh deh ann ngaku ajj#maksa

    smbil nunggu eunhee couple terbit baca ff ini deh dlu
    kkkk

  3. mian,aq baru komen lagi d part 2 ini,,,
    sejauh yg aq baca,ceritanya bnr” seru g bkin bosen sama sekali🙂
    penasaran,nnt hae bisa menaklukkan si ann g?
    unyuk oppa,aq mau jadi ‘your future wife’*plak*kkkk

  4. chinguuuuuuuuuuuuuuuuya~ aku ngakak sama Hyukjae LOLOLOL =)) dia lucu bangeeeeeeeet hahahahah :p
    aaaaah suka sama Ann.. sama Aiden? CINTA MATEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEK😀

  5. specer bkin ngakak *guling2 gaje* kekekk xD, sih choco numpakng eksis lagi. Anak dan bpk sama saja, gokilnya gak ketulungan *ditendangHyuk*

    benci tapi suka, huawaa.. Ann naif banget ya *plakk*🙂

  6. Kyaaaaa~
    paling ga suka klo Hyukie-ku dibilang Monyet! tapi kadang-kadang dia terlihat mirip siCh >,<
    *diGorokJewels

    Aduh Ann, bilang ajj suka! Ga usah Muna. Wkwkwk..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s