HATE That I LOVE YOU -Part 1-

Part 1

 

-Annabelle, Abbey Street, London-

 

“Annabelle Lee Parker!!! Wake Up Honey!” Errghh… nama itu.

“Mom, Please. Aku sudah bilang jangan sebut-sebut nama menyebalkan itu lagi!” keluhku kesal sambil mengusap mataku yang terasa sangat berat sehabis bangun tidur. Kebiasaan yang selalu Mom lakukan saat dirasanya aku menyebalkan. Dan jurus yang Mom lakukan itu kuakui cukup efektif untuk memancing emosiku. Betapa tidak, aku sangat membenci nama tengahku di sebut-sebut. Bahkan pernah suatu saat aku meminta bahkan memohon pada Mom untuk menghapus saja nama menyebalkan itu dari deretan namaku. Tapi seperti biasa, dengan alasan klise, Mom selalu menolak. Seolah pria seperti Dad pantas mendapatkan pembelaan seperti itu dari Mom setelah apa yang dilakukannya. Menyedihkan.

“Cepat bangun Honey, kalau kau tak ingin mendapat detention lagi dari Mr Freddickson!” Sial. Darimana Mom tau berita itu? Yeah… seharusnya aku tak lagi bertanya. Pasti Miss Flynn lah orang yang sengaja mengadukan hal ini pada Mom. Aku tau mereka berdua bersahabat. Tapi apa pentingnya membahas itu? Menyusahkan saja!

Masih sambil menggerutu, kuraih handuk putih yang tergantung di sebelah bufet dan masuk ke kamar mandi. Syukurlah Mom tak mengoceh lagi setelahnya. Aku tau betul ia wanita penyabar yang tak akan marah bila tak terpancing emosi yang terlalu besar. Setidaknya aku masih beruntung memiliki Mom dalam hidupku. Dan tidak akan pernah kumaafkan siapapun yang berani menyakiti hati Mom seperti yang telah dilakukan Dad di masa lalu.

———————————————–

“Hello My Gracious Beauty!”Oh… aku sial lagi. Belum juga berangkat ke kampus, aku sudah sial begini. “Good Morning Baby!”tambah orang itu lagi, membuatku ingin mencakar wajahnya yang mirip monyet itu.

“Stop!” kutahan wajah pria menyebalkan yang tadinya akan mendekatkan wajahnya padaku dengan tangan. Yeah… satu lagi pria Asia menyedihkan yang hampir setiap hari selalu membuatku jengah. Lee Jyuk-jae? Ah… entahlah, aku tak pernah bisa mengingat namanya dengan benar. Yang kutahu pria itu mengaku memiliki nama Inggris Spencer Lee. Cih… dipikirnya nama itu bagus? Tapi setidaknya lebih baik dibanding nama Korea-nya yang sangat aneh itu.

Satu lagi kebetulan yang membuatku kesal. Semua pria Asia yang terlibat dalam hidupku selalu memiliki marga ‘Lee’ dalam namanya. Dad, Spencer dan terakhir si pria Asia kemarin, Aiden. Seberapa banyak sebenarnya nama Lee yang tersebar di negara itu? Sepertinya orang-orang di sana sama sekali tak kreatif dalam memilihkan nama untuk putra dan putri mereka.

“Kau semakin cantik saja Baby!” Ugh… bisakah ia berhenti merayuku? Kurasa dia memang sudah gila. Entah mengapa Mom menerimanya bekerja di restoran kecil yang dikelolanya ini? Padahal aku sudah muak karena setiap hari harus bertemu dengan pria gila yang satu ini. Kulihat Mom hanya senyum-senyum saja melihat tingkah si Spencer gila ini.

Menyuap suapan terakhir roti selai kacangku, kuraih tas yang sengaja kuletakkan di meja. “Mom, aku berangkat!” pamitku pada Mom tanpa mempedulikan lagi pandangan kagum yang kini diperlihatkan si Spencer-Monyet itu padaku. Semoga saja Mom cepat sadar dan memberhentikannya bekerja di restoran kami.

“Jangan lupa sampaikan pesan Mom untuk Miss Flynn, Honey!” kudengar teriakan Mom sebelum kututup pintu depan restoran dan melangkah ke halte Bus. Miss Flynn? Hah… pasti aneh bukan menyebut teman baik Mom dengan sebutan Miss dan bukan Mrs. Sementara bila dilihat dari segi umur, tentu saja wanita itu tidak muda lagi sekarang. Bayangkan saja, Mom saja sudah memiliki anak sebesar ini dan usianya sekitar 40 tahunan. Wanita yang menjadi salah satu dosenku itu memang belum menikah sampai sekarang. Alasannya? Dari yang kudengar dari Mom, karena ia pernah patah hati setelah ditinggal menikah oleh kekasih yang sangat dicintainya beberapa tahun lalu. Miris. Tapi hal itu memang benar. Dan itu juga menjadi salah satu alasan mengapa aku sangat membenci makhluk bernama lelaki.

Well, persetan kalau mereka menyebutku tidak normal karena tak mau dekat-dekat dengan lelaki. Bagiku, lelaki adalah sosok yang paling berbahaya dan pandai sekali dalam mematahkan hati wanita. Aku tidak mengada-ada, aku hanya mengatakan yang sebenarnya setelah melihat kenyataan di sekelilingku. Yeah, memang tak semua lelaki brengsek, tapi setengah dari mereka dapat dikatakan seperti itu. Bahkan bisa dibilang mencari lelaki yang baik di jaman sekarang ini semakin sulit saja. Dan aku pesimis akan mendapatkan salah satu dari mereka.

Prinsipku agar terhindar dari hal bernama patah hati itu adalah:

  1. Menjauhi makhluk bernama laki-laki, apalagi laki-laki yang pandai merayu dan berwajah tampan. Dijamin 100% bahwa tipe lelaki seperti itu sangat hoby menyakiti hati wanita yang berhasil dijeratnya.
  2. Fokus pada apa yang dikerjakan saat ini, misalnya kuliah, membantu Mom di restoran dan menjauhi hal-hal yang akan menjerumuskanmu pada pergaulan dengan lelaki sialan itu. Well, intinya sama dengan poin pertama. Jangan sampai jatuh pada perangkap manis lelaki.
  3. Sebaiknya jauhi pria bermata sipit atau sebut saja pria Asia yang berkeliaran di sekitarmu. Yeah… kurasa poin terakhir ini lebih subyektif.

Ketiga poin di atas, selalu tercatat kuat di benakku. Dan tak dapat diganggu gugat oleh keadaan apapun.

-Camberwell College of Art, London-

 

Hanya membutuhkan waktu 15 menit untukku sampai di kampus, karena memang jarak rumahku tak terlalu jauh dengan tempat ini. Aku hanya perlu naik Subway melewati Tower Bridge dan Old Kent Road, maka sampailah di kampus seni yang terletak di sebelah Barat daya kota London ini. Setelah menyampaikan pesan Mom pada Miss Flynn di kantornya, dengan langkah santai—karena kulihat masih terlalu pagi untuk menghadiri kuliah Mr. James—aku naik ke lantai tiga dan memilih duduk di salah satu kursi panjang yang terletak di koridor kampus. Mengeluarkan ponsel lalu memainkan game tanpa minat. Aku sangat benci saat-saat menunggu seperti ini. Membosankan sekaligus menyebalkan. Waktu pun seolah berjalan sangat lambat saat sedang menunggu begini.

“Morning Miss Parker!” aku mendongak ketika kudengar seseorang bergumam tepat di sebelahku dengan logat bahasa Inggris yang menurutku… cukup menggelikan. Ternyata benar dugaanku, si pria Asia pemilik senyum… hmm… menawan? Yeah… aku mulai memikirkan hal yang tak seharusnya. Aiden Lee.

“Hai,” balasku singkat lalu kembali memusatkan perhatianku pada layar ponsel. Semakin lama menatap wajah tampannya itu akan membuatku semakin memikirkan hal yang aneh-aneh. Dan sungguh takkan kubiarkan hal itu terjadi padaku. Sialnya, takdir memang selalu mempermainkanku. Bagaimana bisa Tuhan menciptakan seorang pria Asia sesempurna dirinya, dengan bentuk rahang tegas dan senyum menawannya itu. Errggh… apakah Mom menurunkan suatu ‘gen’ yang tak semestinya padaku hingga aku juga memiliki kecenderungan untuk tertarik pada pria-pria Asia seperti mereka? Padahal sudah jelas-jelas aku membangun tembok tinggi dalam hatiku untuk mencegah diriku jatuh pada lubang yang sama seperti yang dialami Mom.

“Sedang santai?” bisa kurasakan kini dirinya duduk di sebelahku.

Pura-pura tertarik pada game yang kumainkan, aku hanya menjawabnya singkat, “Seperti yang kau lihat.” Kumohon pergilah! Rasanya sekelilingku mendadak panas saat ia berada di dekatku. Apakah ia membawa semacam gas yang menimbulkan aura panas atau semacamnya? Entahlah.

“Tidak ada jadwal kuliah?”

Hmmm… rasa-rasanya aku semakin kesal dengan sikapnya yang seolah ingin merecoki ketenanganku. Kalau aku memiliki jadwal kuliah, tidak mungkin aku akan duduk tenang di lorong seorang diri begini. Kecuali… yeah, aku sedang dihukum seperti kemarin. Kurasa pria ini bodoh! Atau mungkin pura-pura bodoh hanya untuk mencari-cari topik pembicaraan denganku.

“Miss Parker?” panggilnya lagi ketika aku hanya diam saja dan masih asyik bermain game di ponselku, walau kuakui game itu sama sekali tak menarik. “Kau belum menjawabku.”

Membosankan. Apa ia tak memiliki topik lain yang lebih menarik dari ini? Dasar pria-Asia-Aneh! Kutarik kembali deskripsi kesempurnaan yang baru saja kusematkan padanya. Karena mennurutku, ia sama sekali tak ada apa-apanya jika dibandingkan si Monyet-jelek yang bekerja di restoran Mom itu. Setidaknya Spencer-monyet itu memiliki kemampuan untuk merayu wanita. Oh… tapi bukan maksudku mengharapkannya merayuku! Sama sekali tak ada maksud ke sana.

“Kurasa… kau bisa melihatnya sendiri Mr… ehm… Lee,” Hah… aku benci harus menyebut nama menyebalkan itu. Sial! Semua ini gara-gara si tua Freddickson yang memerangkapku untuk berhubungan dengannya.

“Ah… kebetulan sekali, aku juga sedang tak ada kelas hari ini,” katanya senang, “Bagaimana kalau kau menemaniku berkeliling kampus Miss Parker?” tawarnya yang tentu saja membuat mataku melotot kaget tapi di saat bersamaan aku mengutuki diri sendiri ketika kepalaku mengangguk dengan sendirinya setelah melihat senyum menawan yang diperlihatkannya padaku. Apa ia benar-benar memiliki kemampuan untuk menghipnotis orang lain dengan senyumnya itu? Kau benar-benar menyedihkan Ann!

“Tapi…” ia berhenti melangkah ketika tiba-tiba aku bergumam dan memutar tubuh tegapnya menghadapku.

“Tapi?” ulangnya sambil memiringkan kepalanya dan mendekatkan wajahnya padaku. Oh… sial! Dalam jarak sedekat ini, aku bisa melihat kulit mulusnya dan hidung mancungnya yang terbentuk sempurna itu dengan sangat jelas. Errghh… bodoh!

Aku buru-buru memalingkan muka sebelum akhirnya menjawab setelah kurasa jantungku berhenti berdetak seenaknya. “Aku tak punya banyak waktu hari ini, kuliah Mr James akan dimulai satu jam lagi.”

“Ah… begitu,” ia mengangguk, “Baiklah, kurasa waktu satu jam masih cukup untuk berjalan-jalan ke perpustakaan.”

Well, yeah… kurasa dia memang pandai. Dan aku tak menyadarinya. “Baiklah,” balasku. Semakin cepat menyelesaikan tugas yang diberikan Mr Freddickson padaku akan semakin baik.

——————————————–

Dan begitulah setiap harinya. Waktu berlalu begitu cepat, hingga tak terasa sudah satu minggu lebih aku menemani pria-Asia itu berkeliling kampus di sela-sela waktu kosong kami. Ruang musik adalah tempat terakhir yang belum dikunjungi dalam beberapa hari ini. Dan itu artinya tugas-menyebalkan ini akan segera berakhir setelah aku mengantarnya melihat-lihat ruangan itu. Yeah… berakhir. Kenapa aku jadi terkesan tidak rela begini menghadapi perpisahan dengan si pria-Asia menyebalkan itu? Sial. Seharusnya aku merasa senang karena sesaat lagi hidupku yang tenang—well, sebenarnya tidak terlalu tenang—akan kembali seperti sedia kala. Tanpa ada campur tangan pria-Asia yang sukses membuatku menarik nafas saat melihat senyumnya.

Ruangan bergaya Victoria ini berdiri megah dengan pilar-pilar kokoh yang menyangga di sekelilingnya. Di depan ruangan ada sebuah panggung lebar yang dilengkapi dengan grand piano juga berbagai macam alat musik klasik lainnya. Kampus Camberwell memang merupakan salah satu perguruan tinggi seni ternama di British raya, yeah… walau tak sebesar Cambridge maupun Royal College. Tapi setidaknya, termasuk College yang cukup diperhitungkan di kalangan masyarakat London.

Kulihat Aiden mulai menuruni tangga yang menghubungkan antara tribun penonton dengan panggung. Sepertinya ia sama sekali lupa dengan keberadaanku di belakangnya. Well, tapi aku patut mensyukuri hal itu. Setidaknya, aku tak harus menahan nafasku setiap kali sosoknya mendekat ke arahku. Yang kalau boleh kuakui, aku belum pernah dekat dengan lelaki manapun sebelumnya.

“Sejak kecil aku sangat menyukai panggung,” pekiknya girang, seperti anak kecil yang baru saja mendapat mainan baru dari orang tuanya. Benar-benar menggelikan!

Duduk di salah satu kursi penonton yang cukup dekat dengan panggung, aku terus mengamati gerak-gerik Aiden. Ia masih saja berkeliling, menyentuh satu per satu alat musik yang tersedia di sana layaknya benda-benda itu sangat berharga baginya tapi anehnya ia sama sekali tak berminat memainkannya, dan akhirnya ia tiba di hadapan grand piano hitam di tengah-tengah panggung. Apakah ia akan memainkannya? Kuakui, aku sempat menarik nafas penuh antisipasi ketika melihatnya duduk di kursi di dekat piano itu. Ingin tau seberapa hebat kemampuannya dalam memainkan alat musik klasik itu. Kalau dilihat dari gayanya, sepertinya ia sudah biasa memainkan alat musik itu.

Ketika waktu berjalan beberapa menit lamanya dan tidak terdengar suara apapun yang menandakan ia memainkan grand piano itu, aku tersenyum masam karena telah menganggapnya he… oh, tidak! Komposisi terkenal dari Beethoven itu terdengar begitu indah dan sempurna dengan ketepatan nada dan tempo yang pas. Berikutnya beralih pada karya Mozart yang terkenal dengan komposisi-komposisi indah yang pas untuk pesta dansa. Rasanya aku ingin berdansa mendengar lagu seindah ini dimainkan. Yeah… walau berat mengakui bahwa orang yang kau benci memiliki kemampuan terbaik, aku tak bisa memungkirinya. Dia memang hebat.

Mataku sudah terpejam untuk menikmati nada-nada indah yang dimainkannya melalui tuts-tuts piano itu, tapi tiba-tiba ia menghentikan permainannya. Kenapa? Apa ia lupa nada selanjutnya? Cih… lucu!

Tapi dugaanku meleset. Kupikir ia akan berhenti memainkan alat musik itu, ternyata tidak. Ketika kubuka mata, kulihat ia tengah menunduk untuk mengambil sesuatu dari ranselnya… terlihat seperti… buku. Kurasa… buku itu berisi partitur lagu. Well, seorang pianis memang tak diharuskan menghafal setiap nada dari banyak lagu yang dimainkannya. Yang penting ketepatannya dalam memainkan nada-nada itu berikut temponya. Dan dengan berat hati kuakui, aku payah sekali dalam memainkan alat musik.

Setelah selama beberapa menit suasana ruang musik ini terasa hening, tiba-tiba ia memainkan sebuah lagu lagi. Kurasa… aku tak pernah mendengar lagu ini sebelumnya. Mungkin ini lagu… Oh, dia menyanyi! Suaranya… well, terdengar begitu lembut dan merdu. Aku tak menyangka ia bisa menyanyi juga. Berapa banyak lagi sesuatu yang tak kuketahui tentangnya? Errgh… semua ini membuatku gila! Walau lagu itu dalam bahasa Korea yang tak kumengerti, dan hanya di beberapa bait saja aku menangkap kata-kata Beautiful… tapi menurutku, lagu itu terdengar begitu indah dengan suara lembutnya.

………………………

 

“Coz you are so beautiful

nal sumsuiga haneun ne ibseul saranghandanmal oh

Coz you are so beautiful

nae geoteman meomulreo (keudae namanui)

My beautiful , my beautiful oh-oh

 

Shigani heulreoddo naiga deuleodo

saranghae saranghae kamsahae kamsahae

ddaeroneun datugo

geudaeyege nunmuleuljugo ibeul machumeo

 

Coz you are so beautiful

nal sumsuiga haneun ne ibseul saranghandanmal oh

Coz you are so beautiful

nae geoteman meomulreo (keudae namanui)

 

Namaneui geunyeo modeun geoljulge

yeongwonhui nan neoruel saranghae oh

Coz you are so beautiful

keudae ibsureun naman baragi

Coz you are so beautiful

ddak jabeun duson itjianheulge oh…”

Setelah lagu berakhir, tanpa sadar aku sudah berdiri dan memberikan standing applause untuknya. What? Standing applause? Errghh… aku sudah terlihat seperti seorang penggemar yang begitu terkagum-kagum terhadap idolanya. Menyebalkan! Sampai kapan aku harus terlarut dalam permainannya ini? Kurasa ini yang terakhir. Kulihat ia sudah berdiri di sisi grand piano dan menatapku, masih dengan menyunggingkan senyum yang sialnya membuat jantungku serasa ingin keluar begitu saja. “Itu tadi adalah lagu ciptaanku.”

What? Mataku sudah melotot mendengarnya berkata begitu. Jadi… komposisi yang kukira sebuah lagu milik salah satu musisi Korea itu adalah buatannya sendiri? Sial! Ternyata pria ini memang hebat! Tapi tidak, aku tak boleh tergoda dengan kehebatannya. Sehebat-hebatnya ia, tetap saja ia seorang pria-Asia yang kubenci! Bahkan sangat-sangat kubenci!

Baru saja aku hendak memutar tubuhku untuk keluar dari ruangan itu, kudengar suara pintu berdebam terbuka dan berikutnya dapat kulihat siluet sepasang pria dan wanita sedang… berciuman yang sialnya cukup panas hingga mereka tak menyadari kehadiranku dan Aiden di ruangan ini.

What? Hey…hppsss” sial! Apa-apaan kau Aiden sialan! Seenaknya saja dia menutup mataku dari belakang lalu memutar tubuhku begitu saja. Dan sekarang, tangannya yang besar itu menutup mulutku agar aku tak menjerit. Sial! Sial! Sial! Jantungku rasanya mulai hilang kendali. Aku bisa melihat leher putihnya dengan jelas kali ini, karena sialnya tinggiku tak lebih dari sebatas telinganya. Aku mengutuk diriku sendiri karena tak mewarisi ukuran tubuh Mom yang tingginya di atas rata-rata, dan malah menuruni gen dari Dad yang super-super menyebalkan itu!

“Jangan melihat kalau kau tak biasa melihat adegan seperti ini!” desisnya pelan di telingaku membuatku merinding karena merasakan desahan nafasnya yang hangat di bagian tengkukku. Hey… enak saja dia berkata begitu. Dipikirnya aku ini anak kecil yang tak pernah menonton film panas sebelumnya! Brengsek! Tapi kuakui, aku memang tak suka menonton film seperti itu. Menjijikkan! Cukup sekali saja aku menonton film seperti itu ketika secara tak sengaja, Hayley temanku semasa Junior High School tak sengaja memutar DVD milik kakaknya yang diletakkan sembarangan hingga anak kecil bisa menjangkaunya. Bagaimana mungkin mereka…

“Oh… sial! Kau terlalu banyak berontak. Mereka menyadari kehadiran kita,” desis Aiden lirih diiringi dengan lepasnya dekapannya pada tubuh dan mulutku. Well, kurasa lebih baik mereka menemukan keberadaanku daripada harus terus merasakan sakit yang menyentak-nyentak di bagian dada kiriku. Rasanya seperti tidak ada lagi oksigen yang bisa kuhirup. Sesak.

“Ann?!”

What the…? Kesialan apalagi ini? Rasanya sudah cukup dua kejadian sebelumnya yang membuatku kaget. Tak perlu harus ditambah lagi yang lainnya. Aku merasa mendengar suara yang sangat menyebalkan. Kuputar tubuhku menghadap sumber suara dan oh… benar saja. Si kurus Megan Holmann itu menatapku curiga. Geez… pantaskah dia menghakimiku setelah apa yang dilakukannya tadi dengan pria yang kini masih berdiri di sampingnya.

“Apa yang kau lakukan di sini Honey?” aku sebal setiap kali ia menggunakan nada bicara sok lembut dan mendayu-dayunya itu. Seolah-olah ia adalah gadis baik-baik yang tak pernah melakukan kesalahan apapun. Sangat bertolak belakang dari adegan yang kulihat tadi. Eh… tunggu dulu! Rasa-rasanya aku mengenal sosok pria berambut pirang yang kini berdiri di sampingnya itu. Yeah, tak salah lagi. Evan Cole, si Playboy yang sangat terkenal hingga ke seluruh penjuru kampus. Kurasa, cocok untuk Megan. Playgirl, sangat cocok berpasangan dengan sejenisnya.

“Harusnya aku yang bertanya padamu Megan, apa yang kau lakukan di tempat ini?” balasku sinis, kurasa ia mulai tampak pucat sekarang. Well, mungkin juga karena pengaruh lipstick yang dipakainya memudar karena ciuman panas tadi. Mendadak aku merasa mual mengingat adegan menjijikkan itu.

Kulihat si kurus kering itu bergerak mendekat. Apa yang ingin dilakukannya? “Kurasa… orang-orang tak akan kaget kalau mendengar apa yang kulakukan tadi. Tapi kasus ini akan menjadi berbeda bila namamu yang disebut Honey,” balasnya, masih dengan nada menyebalkannya itu.

“Yeah… kau benar, siapa yang akan kaget kalau si duo ‘brengsek’ itu melakukan adegan ciuman panas di salah satu ruangan di kampusnya, bahkan jika sekalipun dua orang itu melakukan adegan seks, tak akan ada yang heran,” balasku ketus. Rasanya ada yang mendidih dalam diriku sekarang. Dan itu membuatku tak peduli lagi harus berkata sekasar apapun.

“Oh… kau menyebutku dan Evan, apa Honey? Bisa kau ulangi?”

“Duo Brengsek!” desisku sengit. Persetan dengan pandangan marah yang ditujukan si plaboy itu padaku.

Megan kini sudah berdiri tepat di hadapanku dan sekali lagi rasanya aku ingin mengutuki diri sendiri karena merasa terintimidasi olehnya gara-gara perbedaan tinggi badan kami. “Well, kurasa kau sudah terlalu banyak bicara Honey,” aku bisa merasakan nada suaranya tak lagi mendayu-dayu seperti sebelumnya. Apa ia mulai marah? Baguslah kalau begitu, semakin cepat ia marah, semakin cepat pula pertikaian ini berakhir. Aku pun sudah tak sabar untuk menonjok hidung palsunya itu. “Oh… lihatlah! Dengan siapa si pembenci pria-Asia ini bersama? Seorang pria-Asia juga? Apa kau sudah tak peduli lagi akan dikhianati seperti yang terjadi pada Ibu—“

Plakkk!!!

Yeah… bisa kurasakan rasa panas mengaliri telapak tanganku ketika dengan kecepatan penuh kutampar pipi tirus si kurus Megan itu. Berani-beraninya ia menyebut masalah Mom di saat-saat seperti ini. Aku yakin masih bisa menahan emosi bila saja ia tak mengungkit-ungkit masalah itu. Tapi si kurus brengsek itu sudah cukup melewati batas. Dan aku pun tak dapat lagi menahan anggota tubuhku yang tiba-tiba saja melayang ke arahnya.

Kulihat Megan juga mau membalas tamparanku, ketika tiba-tiba sebuah tangan besar menahannya. “Cukup!” Aiden. Dia membelaku? Jangan senang dulu Ann. Dia pasti hanya merasa kasihan padamu yang terlihat menderita. Oh… sial! Aku paling benci bila ada seseorang yang mengasihaniku. Seolah-olah aku orang tak berdaya saja. Errghh…

TBC

30 thoughts on “HATE That I LOVE YOU -Part 1-

  1. haiii yg punya blog dan yg punya ni FF..
    aku suka deh ama cerita ini, ga ngebosenin krn pke nma barat a hae dan jg lokasi a ga dkorea jd kan bkin fresh gtu. trus jg aku brsa kya bca novel gtu, huaaaaa aku suka bgt ama ff yg cast a hae.
    salam kenal yaa😀

  2. auuuu merinding2 disco#hae bisik2 jga ddi kuping q donk
    kkkkk
    btw senyum’a lee donghae emg gg manusiawi dah..smpe buat gw lupa sma cho kyuhyun#plaakk
    ff’a ala british2 toh skrnk
    hehehe
    lumayan, tp aq ttep lebih suka (eunhae couple) kpan dilanjut lg? kan eunhee udh bunting tuh(?)

    • Ayoo goyang Disco sekalian! #Plakkk😄
      Iyah, senyumnya Lee Donghae emang gak umum. Bisa bikin kakiku lemes klo ngeliat. Apalagi dibisikin gitu… ihh… geli2 gimanaa gitu? #ngoook
      Wah…. EunHae Couple sedang ada masalah besar sekarang. Ditunggu aja yah FFnya ^^

  3. Berasa baca novel terjemahan, daebak!

    Oh, Aiden Lee, slalu sj bikin z histeris😀, sampai-sampai z selingkuh dari YeHyuk. wkwkwk…

  4. Hai.. *lambaikantangan
    new reader aulia imnida.96 line~
    wow ff.a bagus.berasa kaya baca novel terjemahan.
    Aku penasaran semoga saja nanti next part ada scene yg di korea.
    Hohoho~
    aku mau baca yg lain yaa..
    Semangat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s