HATE That I LOVE YOU -Part 2-

Part 2

 

-Annabelle Parker, Camberwell College of Art-

Hmm… aneh! Kenapa Aiden menatapku begitu? Seberapa pun kucoba untuk tak mempedulikan tingkahnya dan pura-pura berminat pada steak di hadapanku, tetap saja aku tak bisa menghilangkan rasa gugup yang kurasakan saat memikirkan dirinya menatapku seperti itu. Hal ini yang paling kubenci bila berdekatan dengan lelaki tampan seperti dirinya, mungkin inilah yang dirasakan setiap wanita hingga tak dapat menolak pesona yang ditunjukkan seorang pria dan mengabaikan akibat buruk bila sudah jatuh terlalu dalam pada pesona pria tersebut. Menyedihkan!

“Ada yang ingin kau bicarakan Mr. Lee?” Aku sudah tak tahan lagi, semakin cepat kuselesaikan makan siangku, semakin cepat pula aku bebas dari pria-Asia yang selalu berhasil membuatku sesak ini. Kalau bukan karena tadi ia memaksa dan aku tak ingin berhutang budi padanya setelah membantuku—well, walau jujur aku tak pernah memintanya—di ruang musik tadi, aku akan berpikir beribu-ribu kali untuk menerima ajakan makan siangnya kali ini.

Kulihat ia masih menatapku penuh selidik, seolah ingin menilaiku untuk memastikan bahwa aku ini benar-benar orang baik. Membuatku gugup saja! “Kau… membenci pria Asia?”

Oh… sial! Seharusnya aku sudah bisa menebaknya. Pasti hal ini yang menjadi pertanyaan besar di otaknya. Semuanya karena mulut besar si Megan Holmann itu. Yeah… tak bisa kupungkiri, walau aku dan si kurus itu tak pernah bisa akur, tapi ia banyak tau tentang keluargaku. Pasti kalian bingung mengapa bisa begitu? Hmmm… aku memang belum menceritakan tentang masa laluku dengan Megan. Bagaimana kami bisa saling mengenal hingga sekarang?

Tuan dan Nyonya Holmann, orang tua Megan, dulu adalah tetangga dekat Mom saat kami masih tinggal di Lambeth. Itulah sebabnya mengapa aku dan Megan bisa bersekolah di tempat yang sama. Kuakui, dulu kami sempat dekat saat masih di Elementary School. Tapi pada tahun kelima di sekolah itu, ada suatu kejadian yang membuat kami menjadi saling benci hingga akhirnya bermusuhan seperti saat ini. Bahkan sampai sekarang, Mom tak pernah menyerah selalu memaksaku untuk kembali menjalin hubungan baik dengan Megan, dan menasehatiku bahwa tidak baik terus bermusuhan seperti ini, apalagi ia adalah sahabat kecilku. Tentu saja selalu kutolak. Mana mungkin aku mau berteman dengan si gadis palsu itu! Kalau bukan karena perbuatannya yang memusuhiku dulu, aku tak akan terpancing untuk membalasnya seperti sekarang.

“Miss Parker?” Aiden memiringkan kepalanya dan tetap memberiku pandangan seperti tadi. Pandangan yang membuat sesuatu di dalam diriku bekerja ekstra. Sial! Memangnya kalau aku membenci pria-Asia seperti dirinya kenapa? Ada yang salah dengan itu?

“Ya, aku membenci pria Asia. Kenapa?” Kulihat ia terkejut lalu mengerutkan keningnya. Tapi entahlah, mengapa aku bisa berpikir kalau ia masih terlihat tampan dengan wajah berkerut seperti itu? Gila! Tak mungkin dalam seminggu aku sudah jatuh dalam pesonanya.

Bertopang dagu, Aiden mendekatkan wajahnya padaku, “Jadi… kau membenciku juga Miss Parker?” tanyanya lambat-lambat seolah tak percaya dengan jawaban yang akan kuberikan.

“Kalau kau tidak lupa bahwa dirimu adalah salah satunya,” balasku datar. Tak ada gunanya menutupi semua ini darinya. Bukankah dia sudah mendengar semuanya dari si mulut besar itu.

Dapat kulihat tatapan Aiden semakin intens padaku, dan sialnya hal itu membuatku semakin merasa sesak karena jantungku bekerja ekstra mengambil semua oksigen yang berhasil kuhirup. “Tapi kau juga memiliki darah Asia Miss Lee.”

What? Darimana dia tau? Hey… jangan lupa kalau kau memiliki penampilan fisik seperti gadis Asia Ann! Sekali lagi aku ingin mengutuki diri sendiri karena lebih banyak mewarisi gen dari Dad. Menyebalkan! Tapi… darimana ia tau nama tengahku? Sekalipun aku tak pernah menyebutkannya sebelumnya. “Kau…”

“Aku membaca data mahasiswamu saat pertama kali Mr. Freddickson akan mengenalkanmu padaku,” selanya seolah tau apa yang tadi kupikirkan. Seperti seorang peramal yang bisa membaca pikiran saja! Yah… seharusnya aku tau kalau si tua Freddickson yang melakukannya.

“Oh… baguslah kalau begitu, kuharap setelah ini kau tak dekat-dekat denganku lagi.”

Aku sudah berdiri ketika tiba-tiba ia bergumam, “Apakah karena Ayahmu?” Hey… bukankah dia sudah mendengar dari si mulut besar itu, kenapa dia masih bertanya? Mau pura-pura bodoh? Dasar pria aneh! “Memangnya apa yang dilakukan Ayahmu padamu? Maksudku… pada Ibumu?”

Sial! Dipikirnya siapa dia hingga aku mau menceritakan masalah pribadiku padanya. “Itu bukan urusanmu!” balasku dingin lalu pergi secepat yang kubisa sebelum ia mengejarku dengan pertanyaannya yang menyebalkan itu. Bukan siapa-siapaku saja sudah berani mencampuri urusanku, bagaimana kalau nanti aku berhubungan dengannya? Errggh… kenapa aku bisa memikirkan kemungkinan hal semacam itu? Tidak! Dia adalah salah satu tipe pria paling berbahaya. Sebisa mungkin aku harus menghindarinya. Ya, menghindarinya.

Continue reading

HATE That I LOVE YOU -Part 1-

Part 1

 

-Annabelle, Abbey Street, London-

 

“Annabelle Lee Parker!!! Wake Up Honey!” Errghh… nama itu.

“Mom, Please. Aku sudah bilang jangan sebut-sebut nama menyebalkan itu lagi!” keluhku kesal sambil mengusap mataku yang terasa sangat berat sehabis bangun tidur. Kebiasaan yang selalu Mom lakukan saat dirasanya aku menyebalkan. Dan jurus yang Mom lakukan itu kuakui cukup efektif untuk memancing emosiku. Betapa tidak, aku sangat membenci nama tengahku di sebut-sebut. Bahkan pernah suatu saat aku meminta bahkan memohon pada Mom untuk menghapus saja nama menyebalkan itu dari deretan namaku. Tapi seperti biasa, dengan alasan klise, Mom selalu menolak. Seolah pria seperti Dad pantas mendapatkan pembelaan seperti itu dari Mom setelah apa yang dilakukannya. Menyedihkan.

“Cepat bangun Honey, kalau kau tak ingin mendapat detention lagi dari Mr Freddickson!” Sial. Darimana Mom tau berita itu? Yeah… seharusnya aku tak lagi bertanya. Pasti Miss Flynn lah orang yang sengaja mengadukan hal ini pada Mom. Aku tau mereka berdua bersahabat. Tapi apa pentingnya membahas itu? Menyusahkan saja!

Masih sambil menggerutu, kuraih handuk putih yang tergantung di sebelah bufet dan masuk ke kamar mandi. Syukurlah Mom tak mengoceh lagi setelahnya. Aku tau betul ia wanita penyabar yang tak akan marah bila tak terpancing emosi yang terlalu besar. Setidaknya aku masih beruntung memiliki Mom dalam hidupku. Dan tidak akan pernah kumaafkan siapapun yang berani menyakiti hati Mom seperti yang telah dilakukan Dad di masa lalu.

———————————————–

“Hello My Gracious Beauty!”Oh… aku sial lagi. Belum juga berangkat ke kampus, aku sudah sial begini. “Good Morning Baby!”tambah orang itu lagi, membuatku ingin mencakar wajahnya yang mirip monyet itu.

“Stop!” kutahan wajah pria menyebalkan yang tadinya akan mendekatkan wajahnya padaku dengan tangan. Yeah… satu lagi pria Asia menyedihkan yang hampir setiap hari selalu membuatku jengah. Lee Jyuk-jae? Ah… entahlah, aku tak pernah bisa mengingat namanya dengan benar. Yang kutahu pria itu mengaku memiliki nama Inggris Spencer Lee. Cih… dipikirnya nama itu bagus? Tapi setidaknya lebih baik dibanding nama Korea-nya yang sangat aneh itu.

Satu lagi kebetulan yang membuatku kesal. Semua pria Asia yang terlibat dalam hidupku selalu memiliki marga ‘Lee’ dalam namanya. Dad, Spencer dan terakhir si pria Asia kemarin, Aiden. Seberapa banyak sebenarnya nama Lee yang tersebar di negara itu? Sepertinya orang-orang di sana sama sekali tak kreatif dalam memilihkan nama untuk putra dan putri mereka.

“Kau semakin cantik saja Baby!” Ugh… bisakah ia berhenti merayuku? Kurasa dia memang sudah gila. Entah mengapa Mom menerimanya bekerja di restoran kecil yang dikelolanya ini? Padahal aku sudah muak karena setiap hari harus bertemu dengan pria gila yang satu ini. Kulihat Mom hanya senyum-senyum saja melihat tingkah si Spencer gila ini.

Menyuap suapan terakhir roti selai kacangku, kuraih tas yang sengaja kuletakkan di meja. “Mom, aku berangkat!” pamitku pada Mom tanpa mempedulikan lagi pandangan kagum yang kini diperlihatkan si Spencer-Monyet itu padaku. Semoga saja Mom cepat sadar dan memberhentikannya bekerja di restoran kami.

“Jangan lupa sampaikan pesan Mom untuk Miss Flynn, Honey!” kudengar teriakan Mom sebelum kututup pintu depan restoran dan melangkah ke halte Bus. Miss Flynn? Hah… pasti aneh bukan menyebut teman baik Mom dengan sebutan Miss dan bukan Mrs. Sementara bila dilihat dari segi umur, tentu saja wanita itu tidak muda lagi sekarang. Bayangkan saja, Mom saja sudah memiliki anak sebesar ini dan usianya sekitar 40 tahunan. Wanita yang menjadi salah satu dosenku itu memang belum menikah sampai sekarang. Alasannya? Dari yang kudengar dari Mom, karena ia pernah patah hati setelah ditinggal menikah oleh kekasih yang sangat dicintainya beberapa tahun lalu. Miris. Tapi hal itu memang benar. Dan itu juga menjadi salah satu alasan mengapa aku sangat membenci makhluk bernama lelaki.

Continue reading

HATE That I LOVE YOU

PROLOG

 

Sial. Hari pertama setelah liburan musim panas, aku justru terlambat datang ke kampus. Semua gara-gara Bibi Felma yang cerewet itu hingga Mom terlambat membangunkanku pagi ini. Semoga saja si tua Freddickson tak menghukumku karena terlambat menghadiri kuliah pertamanya. Yeah, dosen satu itu memang senang sekali menghukum mahasiswanya. Tak terkecuali aku yang tentu saja sudah puluhan kali membuat kesalahan. “Annabelle Parker,” Oh… tidak. Kurasa si tua berkaca mata bulat itu bisa membaca pikiran orang lain. “Miss Parker, kau mendengarku?”

Kuputar tubuhku menghadapnya. “Hai Mr. Freddickson,” balasku sambil meringis. Sementara kudengar bisikan-bisikan lirih dari seisi kelas. Pasti mereka sedang menertawakanku sekarang.

“Kurasa kau tau apa kesalahanmu. Cepat keluar kelas!” perintahnya sambil memperbaiki letak kacamatnya yang kurasa tak terlalu cocok dengan wajahnya yang bulat itu. Errgh… aku memang sial. Si tua itu tak pernah menolerir siapapun yang datang terlambat ke kelasnya.

Well, tapi kurasa tak mengikuti mata kuliahnya bukanlah hal yang buruk. Lebih baik, daripada aku harus tertidur di kelas karena mendengarkan ocehannya yang sama sekali tak menarik itu. Sayangnya, mata kuliah ini termasuk mata kuliah wajib yang harus kuambil semester ini. Kalau tidak, tentu saja aku tak akan repot-repot mengambilnya.

“Dihukum lagi?” Suara menyebalkan itu. Sepertinya kesialanku belum berhenti sampai di sini. Lihatlah, kini aku harus bertemu si kurus Megan Holmann yang sok cantik itu. Rupanya ia belum mau berhenti menggodaku.

“Apakah itu urusanmu?” balasku ketus. Tak peduli dengan pandangan meremehkannya yang ditujukan padaku. Entah mengapa, aku selalu sial karena harus terus-terusan bertemu dengannya. Sejak masih di sekolah dasar, hingga kini aku dan dia masuk universitas yang sama. Yeah… walau jurusan yang kami ambil berbeda. Tapi tetap saja itu menyebalkan.

“Oh… ayolah Ann, kau akan lebih cepat tua kalau sering marah dan cemberut begitu honey!” Errgh… rasanya perutku mual hanya karena mendengar gaya bicaranya yang sok centil itu. Aku tau ia hanya bermaksud mengejekku. Siapa yang tak mengenal si gadis sombong yang satu ini.

“Pergilah, aku tak butuh ceramahmu!” semburku marah.

Well, aku sudah memperingatkanmu. Jangan salahkan aku kalau nanti timbul kerutan di wajahmu yang… tak seberapa cantik ini.” Apa dia bilang? Tak seberapa cantik? Rasanya kepalaku sudah penuh dengan api sekarang. Kalau dia tak segera meninggalkanku, pasti sudah kutarik hidung palsunya itu. Menyebalkan! Setidaknya aku tak pernah keluar masuk klinik kecantikan hanya untuk memperbaiki bentuk tubuhku.

  Continue reading

Pregnant…? -EunHae Couple-

Tak seperti biasanya, Donghae yang selalu menyempatkan diri untuk mampir ke dorm Super Junior selepas acara yang dihadirinya walau hanya untuk mengobrol singkat untuk melepas lelah, kini tampak sibuk mengemasi barang-barangnya dan meminta ijin untuk pulang lebih dulu.

Leeteuk yang sangat mengenal perangai Donghae dan sudah menganggapnya sebagai adik kandungnya sendiri, tentu saja merasa heran dengan sikap Donghae malam ini. Dihampirinya pria yang terpaut usia tiga tahun darinya itu lalu menepuk bahunya lembut. “Wenniriya Hae? Ada sesuatu yang tidak beres?”

Masih sibuk mengemasi barang-barangnya, Donghae menjawab, “Eunhee sakit, tadi pagi dia muntah-muntah dan tampak pucat, sepertinya masuk angin.”

“Ah… apa kau sudah membawanya ke Dokter?” tanya Leeteuk ikut khawatir.

Selesai berbenah, Donghae duduk di kursi panjang tepat di sebelah dinding dan menghela nafasnya lelah, “Belum, Eunhee bersikeras menolak saat kusarankan untuk ke Dokter,” keluhnya muram, “Dan malam ini ia malah memintaku untuk membelikannya buah Jeruk.”

Eunhyuk yang berdiri tak jauh dari sana, bergerak mendekat saat mendengar perkataan Donghae, “Jangan-jangan…” timpal Eunhyuk dengan seringai jahil di wajahnya.

“Jangan-jangan apa?” balas Donghae heran bercampur takut.

  Continue reading

[Drabble] My Special Day -EunHae Couple-

Sebenarnya ini bukan FF buatan saya, tapi buatan Dongsaeng saya yang sudah berbaik hati membuatkan FF Special ini buat saya si Eunri Park —-> yang punya alamat Blog di sini http://sjff13.wordpress.com , tapi karena ceritanya tentang “EunHae Couple” jadi saya ijin buat Post di sini juga. Selamat Membaca!!

My Special Day

Aku menatap cerminan tubuhku. Cantik. Aku jadi tidak yakin apakah ini benar-benar diriku. Kutarik nafasku pelan. Menghilangkan gugup yang tak henti menyerangku dari tadi pagi. Kupejamkan mataku. Hari ini.. hari yang sangat penting bagiku. Segalanya terasa fana dan bisa saja aku menghancurkan hari ini bahkan hanya dengan kecerobohan kecil. Bagaimana jika aku terjatuh didepan altar? Bagaimana jika kakiku tersandung mengingat keseimbangan tubuhku yang benar-benar tak stabil? Dan masih banyak resiko lainnya yang memikirkannya saja sudah membuat nyaliku ciut.

Aku bisa mendengar pintu yang terbuka kemudian berdebam pelan pertanda ditutup.

“Hai sayang. Kau gugup?” bisik sebuah suara yang sangat kukenal. Tepat ditelinga kananku. Dengan cepat aku membuka mataku. Menangkap refleksi tubuhnya dicermin besar tepat dihadapanku.

“Hm?” Aku mengangguk singkat, merasakan tangannya yang menggenggam erat tanganku. Memberikan efek hangat dan tenang keseluruh tubuhku.

“Ternyata putri appa cantik. Sangat.” Puji appa dengan nada menggoda. Aku merasakan kedua pipiku memanas dan appa yang terkekeh senang.

“Appa!” rajukku malu.

Appa berhenti tertawa dan seketika hening menyelimuti kami. Beliau berdehem pelan dan menatapku dalam lewat cermin.

“Aku tidak menyangka secepat ini Eunhee-ku beranjak dewasa dan..” Appa menghembuskan nafasnya pelan.“Aku harus melepasnya, memberikan tangannya.. Ah ani. Seluruh hidupnya pada pria yang dicintainya. Memberikannya pada pria yang akan menjaganya lebih baik dariku. Mempercayakannya untuk bahagia dengan pria pilihannya sendiri.”

Dengan cepat aku berdiri dan berhambur memeluknya.

“Kau yang terbaik,” bisikku yakin. “Appa yang terbaik.” Aku menyandarkan kepalaku didadanya. Hangat. Sudut mataku menghangat dan satu tetes air mataku turun.

“Hey..” Appa merengkuh kedua sisi wajahku. Tersenyum hangat hanya untukku.“Jangan hancurkan hari ini.” Ucapnya, menghapus air mataku dengan jemarinya. “Ja.”

Continue reading

EunHae Couple Profile

Mata itu, bagaikan sebuah magnet yang selalu menarikku untuk menatapnya…

Hidung itu, tercipta tanpa cacat dan cela…

Tarikan di bibir tipis itu, membuat kata mempesona menjadi tak bermakna…

Semua yang ada pada dirinya adalah kesempurnaan tiada tara…

Satu kata cinta takkan cukup menggambarkan sesuatu yang menggelitik jantungku saat bersamanya…

Memilikinya, merupakan anugerah Tuhan yang terindah sepanjang masa…

-EunHae-

EunHae Profil

Continue reading

RECONCILIATION

RECONCILIATION

 

Menghela nafas lega, Eunhee meletakkan Tabloid Korean News yang telah terlipat rapi ke atas meja. Senyum di bibir mungilnya tak henti terkembang. Seolah menggambarkan suasana hatinya saat ini. Perlahan, wanita cantik itu meraih remote TV yang terletak di meja kecil samping sofa tempatnya duduk dan menyalakan TV. Mengganti-ganti channel tanpa sedikit pun peduli pada acara yang ditawarkan benda berbentuk bujur sangkar itu. Cukup lama ia hanya termenung di sana, hingga suara pintu terbuka membuatnya tersadar.

Yeobo!” baru saja ia akan beranjak dari sofa untuk melihat siapa yang datang, tiba-tiba Donghae—suaminya—sudah merebahkan dirinya di sofa panjang tempat Eunhee duduk dengan posisi kepala di pangkuan sang istri, “aku lelah sekali!” keluh pria tampan itu lalu memejamkan kedua matanya.

Sejenak, Eunhee mengamati wajah tampan suaminya yang masih terpejam di pangkuannya. Melihat wajah suaminya yang damai, senyum di bibirnya kembali terbentuk sempurna, memperlihatkan aura lembut dari wajahnya yang cantik. Sudah dua hari dirinya tak melihat dan menyentuh wajah tampan itu, karena Donghae harus pergi ke Taiwan untuk mempromosikan drama terbarunya. Tapi sekuat tenaga ditahannya rasa rindunya itu. Selama beberapa saat, dibiarkannya suaminya tidur dan mengistirahatkan dirinya.

Belum membuka matanya, Donghae menunjuk-nunjuk bibirnya sendiri. Kebiasaan yang selalu dilakukannya, ketika ia menginginkan sebuah ciuman dari sang istri. Mencibir keras, Eunhee bergumam, “Bangunlah! Aku harus memasak!” tentu saja bibir Donghae langsung cemberut mendengar perintah istrinya.

“Aku tak mau bangun kalau kau belum memberikan ciuman untukku!” rengek Donghae manja.

“Kau mau kita berdua mati kelaparan karena tak ada makanan yang tersedia?” balas Eunhee tak mau kalah.

“Tapi aku akan mati kalau tak mendapat ciuman darimu!” gombal Donghae dan Eunhee mencibir mendengarnya, “lagipula, kau tak perlu memasak hari ini. Kita akan makan di luar,” katanya masih tetap di posisi semula.

“Ya sudah, kalau begitu mati saja sana!” Donghae langsung beranjak duduk mendengar sang istri mengatakan hal kasar seperti itu.

“Ya! kenapa kau bicara begitu? Kau masih marah padaku karena berita bohong beberapa hari yang lalu? atau jangan-jangan…kau memiliki pria lain yang kau sukai selain aku?” serang Donghae.

Continue reading

[DRABBLE] “Morning Kiss” -EunHae Couple-

“Morning Kiss”

Sinar mentari menelusup masuk melalui sela-sela tirai tipis transparan yang menutupi jendela besar di kamar yang didominasi warna putih dan biru itu. Sesosok pria menggeliat dari tidur nyenyaknya dan membuka mata perlahan. Hidungnya mengendus wangi makanan yang membuat perut kosongnya semakin berontak untuk diisi. Menguap. Pria tampan itu bangkit duduk, bersandar pada pangkal ranjang. Menyingkap selimut putih tebal yang menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang. Sekali lagi pria itu menguap, kali ini tangannya menutup mulutnya yang membuka karena dorongan kantuk yang masih terasa.

Tetap berdiam diri dalam posisi bersandar, pria itu mulai memejamkan matanya. Ingin sekali dirinya turun dari ranjang dan menyerbu ke tempat bau makanan yang menggugah selera itu berasal. Tapi sebagian dari dirinya menolak melakukannya. Masih ada rutinitas lain yang dinantikannya. Bahkan, sangat-sangat dinantikannya setiap pagi menjelang.

Sudut bibir pria itu tertarik ke atas begitu mendengar decit pintu terbuka. Secepat yang ia bisa, pria tampan itu kembali merebahkan tubuhnya di ranjang dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

“Lee Donghae, kau pikir aku tidak tau kalau kau sudah bangun?!” suara lembut yang sangat dinantikannya mengalun dari bibir mungil sosok wanita cantik dengan gaun putih pastel selutut yang menghampiri ranjang. Duduk di sisi ranjang tempat Donghae ‘pura-pura’ tidur, wanita berambut hitam legam itu menyingkap sedikit selimut yang menutupi wajah suaminya. “Bangunlah! Kau harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke Taiwan siang ini,” gumamnya pelan. Tak bergeming dari tempatnya, Donghae masih melanjutkan aksinya berpura-pura tidur. “Lee Donghae,” panggil wanita itu sekali lagi. Tapi Donghae tetap bergeming. “Baiklah kalau kau tidak—“ kalimat wanita itu terhenti saat tangan Donghae menahan pergelangan tangannya. Masih memejamkan kedua matanya, tangan Donghae yang bebas menunjuk bibirnya sendiri.

Mengerti apa yang dimaksud suaminya, wanita itu mendesis, “Tch…kau lupa kalau hari ini kau tidak akan mendapat jatah ciuman pagi dariku?”

Membelalak lebar, Donghae mencebikkan bibirnya. Ia ingat, kemarin dirinya telah membuat sang istri marah dengan beredarnya berita bahwa dirinya sedang menjalin hubungan spesial dengan artis wanita lain, dan itu membuatnya kehilangan jatah ciuman paginya selama beberapa hari. “Ayolah Yeobo, kau pelit sekali!” rajuknya dengan mata memelas, “bukankah selama dua hari ke depan aku akan di Taiwan?”

Menyeringai melihat tingkah suaminya yang seperti anak kecil, wanita itu beranjak dari ranjang, “Wajah memelasmu tidak akan membuatku berubah pikiran Lee Donghae,” gumamnya santai lalu berjalan pergi meninggalkan Donghae yang masih merajuk kesal.

Continue reading

PREMONITION

“If the people we love are stolen from us, the way to have them live on is to never stop loving them. Buildings burn, people die, but real love is forever.”

-The Crow (1994)-

 

-Lee Eunhee, Lee’s House-

Kutarik syal coklat tua yang kusampirkan di sekitar leher hingga menutupi sebagian wajahku lalu kulipat tanganku di depan dada. Kakiku bergerak ke sana ke mari untuk menghindari rasa dingin yang menusuk tulang. Udara malam ini benar-benar dingin. Kalau bukan karena rasa rindu yang memuncak pada ‘pangeranku’, mungkin aku lebih memilih meringkuk di atas kasurku yang hangat. Tapi sudah setengah jam berdiri di sini, ia belum juga muncul. Akhir-akhir ini kami jarang sekali memiliki waktu bertemu. Menjelang akhir tahun, kegiatan shownya di berbagai kota dan negara benar-benar penuh. Belum lagi jadwal latihannya. Hah…beginilah resikonya memiliki kekasih seorang selebritis terkenal. Tapi tak apa, asalkan bersamanya, aku tak peduli seberat apa perjalanan cinta yang harus kulalui.

Selang beberapa saat, sosok yang kunantikan muncul di ujung jalan. Walau kini ia menggunakan berbagai penyamaran—syal yang menutupi sebagian wajahnya, kacamata hitam juga topi rajut abu-abu yang menutupi kepalanya dengan manis—aku masih bisa mengenali sosok yang sangat kurindukan itu. ‘Pangeranku’ itu melambaikan tangannya padaku, ketika ia tepat berada di seberang jalan. Ia tak membawa mobilnya, karena kami memang berencana untuk jalan-jalan saja di sekitar blok ini. Kubalas lambaian tangannya penuh antusias. Dan kusembunyikan kado yang sengaja kusiapkan untuknya sebagai hadiah Natal dan tahun baru di belakang tubuhku. Syukurlah ia sudah ti…

“AWAS!!!” aku serta merta berteriak ketika melihat sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi muncul tepat pada saat kekasihku itu menyeberang jalan untuk menyusulku. Tapi terlambat. Kejadiannya begitu cepat. Tubuh orang yang sangat kukasihi itu terpental sejauh beberapa meter setelah sebelumnya menabrak mobil tadi. Darah mengucur dari tubuhnya, memberi warna merah pada salju putih di sekitarnya.

Sejenak aku hanya bisa diam. Kakiku gemetaran seolah tak sanggup lagi untuk berdiri. Dadaku sesak dan pandanganku buram oleh air mata yang mulai mendesak untuk keluar.

“D-donghae-a…” suaraku bergetar, tangisku pecah. Seakan tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi, aku hanya bisa menyebut namanya berulang kali, “Donghae-a…LEE DONGHAEEE!!!” raungku semakin keras ketika dengan sisa kekuatan yang kumiliki aku berhasil menghampiri tubuhnya yang tergeletak tak bergerak di badan jalan, “Donghae-a Irona!!!” aku berlutut di sampingnya, meraih tubuhnya, mendekapnya dalam dekapanku tak peduli darahnya mengotori mantel putihku dan mengguncang tubuhnya keras, berharap dengan begitu ia akan bergerak dan membuka matanya perlahan, “Gajima Donghae-a!!! Ga—

“Ya! Eunhee-a, ayo bangun! Kau akan terlambat kalau tidak segera bersiap-siap!” Eh? Suara Omma?

Aku mengerjap-ngerjapkan mataku, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam mataku. Kulihat Omma sedang berkacak pinggang di samping tempat tidurku. Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa aku berada di kamarku? Di mana kekasihku? Lee Donghae, di mana dia? kecelakaan itu…

“Omma tak tau apa yang kau mimpikan hingga kau berteriak-teriak seperti orang gila begitu,” komentar Omma. Mimpi? Jadi itu tadi cuma…mimpi? Jadi kekasihku masih…kulirik kado berbungkus kertas berwarna biru safir di nakas. Tuhan…syukurlah!, “tapi ini sudah jam 8 pagi, kau—“

“Jam 8?” potongku cepat lalu melirik jam weker berbentuk ikan Nemo pemberian ‘pangeranku’ itu. Astaga! Atasanku bisa marah kalau aku sampai terlambat ke Apotek. Aku segera bergegas ke kamar mandi tanpa mempedulikan omelan Omma yang hampir setiap pagi selalu kudengar jika aku sudah bangun terlambat begini. Perasaan lega karena hal yang kutakutkan itu hanya sebuah bunga tidur membuatku tak hentinya tersenyum. Mungkin karena terlalu merindukannya, aku sampai memimpikan hal semacam itu.

Setelah mematut diri di depan cermin dan kurasakan penampilanku sudah cukup rapi untuk berangkat ke Apotek tempatku bekerja, aku meraih ponsel Samsung putihku yang kuletakkan di nakas. Bibirku mengerucut kesal. Biasanya setiap pagi, ‘Pangeranku’ itu tak pernah absen mengirimiku pesan walau hanya mengucapkan ‘Selamat Pagi’. Tapi sudah dua hari ini ia tak mengirimiku pesan. Ia juga tak pernah menelponku, akhir-akhir ini. Sebegitu sibukkah pekerjaannya sampai-sampai ia melupakan kekasihnya?

Berjalan dengan langkah gontai menuruni anak tangga dari kamarku yang terletak di lantai dua, kulihat adikku, Lee Jonghee sudah berdiri tepat di depan pintu. Terlihat rapi dengan kemeja kotak-kotak biru, blue jeans juga jaket abu-abu tebal mengingat cuaca musim dingin yang sanggup membuat gigi bergemeletuk jika sekali-sekali tak menggunakan pakaian berlapis-lapis. “Noona, kau lama sekali! Ppalli, nanti aku terlambat!” pekiknya kesal.

Aku meringis, “Ne, ne, Mian,” gumamku lalu mempercepat langkahku menuruni tangga.

Setiap pagi, aku memang selalu diantar adikku ke kantor. Aku tak pernah mau belajar menyetir mobil. Karena sifat pencemasku, aku selalu merasa ketakutan untuk mengendarai kendaraan sendiri. Hah…dan sialnya lagi, kekasihku juga tak begitu pandai menyetir. Makanya aku jadi jarang sekali bepergian berdua menggunakan mobil dengannya. Tapi ia sudah berjanji padaku untuk belajar menyetir lebih giat lagi. Semoga kau tidak ingkar janji Ikanku!

Continue reading