MEMORIES (Oneshot)

MEMORIES

“Memory is a way of holding on to the things you love, the things you are, the things you never want to lose.” -Kevin Arnold-

Seulas senyum menghiasi bibir mungil gadis bermata bulat itu ketika setetes salju menyentuh telapak tangannya yang sengaja ia telentangkan ke udara. Kaki kecilnya melangkah perlahan, menuju sebuah bangku kayu di bawah pohon maple tepat di hadapan bangunan bercat putih tempat gadis itu berasal. Seakan tak peduli pada sensasi dingin yang ditimbulkan oleh ratusan bahkan ribuan titik-titik putih kecil yang jatuh dari langit di kulit pucatnya, gadis itu memejamkan kedua mata indahnya lalu menengadahkan kepalanya ke atas. Menikmati suasana sepi dan dingin di sekitarnya.

Agasshi, apa yang kau lakukan di sini? Masuklah, sekarang sedang hujan salju!” seorang wanita berseragam putih menarik lengan gadis itu dan membawanya kembali ke dalam gedung.

Kesal karena kesenangannya terganggu, gadis cantik itu memberengut. “Tapi aku suka hujan salju,” sungutnya sebal.

“Dokter akan marah padaku kalau kau sampai jatuh sakit!” wanita berseragam putih itu menjawab sambil menggiring sang gadis menuju sebuah kamar yang terletak tak jauh dari sana.

“Kalau aku memang tidak sakit. Lalu mengapa aku ada di sini?” si gadis memprotes, membuat wajah wanita berseragam putih yang tadi menggiringnya mengerut sedih.

Wanita paruh baya itu membelai lembut puncak kepala si gadis, lalu menyunggingkan senyum hangat sebelum akhirnya bergumam, “Kau tidak sakit sayang, hanya sedang berlibur di sini!” hiburnya. Walau bibirnya tersenyum, tapi terlihat binar kesedihan dari tatapan wanita itu. Dan si gadis menyadari hal itu.

Ahjumma tak perlu membohongiku!” komentarnya datar lalu menatap keluar jendela kamarnya tanpa mempedulikan lagi keberadaan wanita tadi.

Berpuluh-puluh menit lamanya, gadis itu hanya berdiri di samping jendela, memandang pemandangan di luar jendela dalam diam. Sesekali bibirnya tersenyum ketika melihat tingkah-tingkah lucu hewan di pekarangan gedung.

Decitan pintu terbuka, serta merta membuatnya terkesiap dan menatap waspada pada seorang pria yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. “Nuguya?” tanyanya pada pria tampan bergaris wajah tegas yang kini melangkah ke arahnya.

Pria tampan itu tersenyum. Sama seperti wanita paruh baya tadi, kesedihan di binar matanya yang bening juga tak dapat disembunyikan dibalik senyum menawan dari bibir tipisnya. “Annyeong Haseyo, Agasshi,”sapanya sopan sambil membungkukkan badan.

Kerutan di kening gadis itu makin bertambah ketika si pria melangkah semakin dekat ke arahnya, “Nu-nuguya? Apa aku mengenalmu?” tanyanya waspada dan berjengit mundur.

Melihat ketakutan pada wajah gadis di depannya, pria tadi berhenti melangkah, lalu kembali tersenyum. Senyum yang sama seperti tadi. “Ah…Mian, sepertinya aku salah masuk kamar!” jawab pria itu dengan ekspresi bingung tampak jelas di wajahnya.

Semenit dua menit berlalu, gadis itu masih diam menatap sosok si pria dari atas hingga bawah. Meneliti kalau-kalau pria itu adalah penjahat yang bisa saja menculiknya saat itu juga. Tapi si gadis tak menemukan tanda-tanda bahwa pria yang kini berdiri di hadapannya adalah orang jahat yang akan mencelakakannya. Perlahan, bibir mungilnya membuka dan bergumam, “Me-memangnya, kau mencari siapa?”

Masih setia dengan senyumnya, pria tampan itu menjawab, “Aku ingin mengunjungi temanku, tapi aku lupa di mana kamarnya!” si pria menunduk lesu, “aku juga malu harus bertanya berulang kali pada perawat yang bertugas,” tambahnya muram.

Alis gadis itu bertaut, “K-kau…lupa?” ulangnya dan pria tampan tadi mengangguk, “aku juga… sering lupa jalan menuju kamarku sendiri,” keluhnya lalu menunduk.

“Emm…kalau begitu, kita punya sifat pelupa yang sama,” hibur pria itu lalu memamerkan keranjang biru yang tadi dibawanya, “padahal aku sudah menyiapkan kimbab buatanku untuk kumakan bersama temanku di taman.”

“Ta-taman?!” ulangnya dan pria tadi mengiyakan dengan anggukan. “Emmm…” gadis itu kembali bergumam dan menempelkan telunjuknya di bibir bawahnya.

Waeyo?” tanya pria itu, ketika si gadis tak meneruskan kalimatnya, “apa kau mau membantuku mencari temanku?”

Tiba-tiba mata bulat gadis itu berbinar-binar senang. Membayangkan dirinya bisa bermain di taman tadi, menjadi sesuatu yang benar-benar dinantikannya. Walau kini, bulir-bulir salju sudah tak lagi turun dari langit.

Agasshi?!” panggil pria itu sekali lagi.

“Ah…N-ne, aku akan membantumu,” jawabnya antusias. Tapi tak berapa lama, wajah cantiknya kembali murung.

Waeyo, Agasshi?” tanya pria itu khawatir.

Gadis berusia 27 tahun itu memilin-milin ujung gaunnya sambil menunduk. Menatap lantai putih di bawahnya. “A-aku k-kan ti-tidak mengenalmu,” gumamnya terbata, “bagaimana kalau… k-kau ternyata orang jahat?” pria itu terkekeh pelan mendengar gumaman si gadis.

“Tenanglah, aku bukan orang jahat!” ia mengulurkan tangan besarnya pada gadis itu, “Namaku Lee Donghae,” katanya memperkenalkan diri.

Awalnya si gadis hanya menatap tangan besar yang terulur ke arahnya itu, tapi sedetik kemudian ia mengulurkan tangan kecilnya dan menjabat tangan pria itu.

“Nah, sekarang kita sudah berteman. Kau tak perlu takut lagi padaku!” gumam Donghae—pria itu—tenang. Senyuman yang tersungging manis dari bibir Donghae, membuat gadis itu tak dapat menahan diri untuk ikut tersenyum. “Bagaimana kalau kita mencari temanku sekarang?” tawar Donghae dan dijawab oleh anggukan tegas si gadis.

Semoga Ahjumma tidak memarahiku, gumam gadis itu dalam hati.

——————————————————

Berpuluh-puluh kamar di gedung itu mereka masuki untuk mencari ‘teman’ Donghae. Tapi tak ada satupun di antara kamar itu yang merupakan kamarnya. Merasa lelah, kedua anak manusia itu memutuskan untuk pergi ke taman dan beristirahat.

Di sebuah kursi taman tempat gadis tadi menengadah dan menikmati hujan salju, mereka berdua duduk. Keduanya masih tertawa ketika mengingat peristiwa lucu yang menimpa mereka saat si pemilik kamar yang mereka ketuk mengomel karena terganggu. “Kau masih ingat bagaimana wajah kakek tua di kamar… emm…”

“Lantai 3 bagian selatan,” cetus Donghae mengingatkan.

Si gadis tertawa, “Ah… iya, kamar itu. Demi Tuhan, dia benar-benar lucu!” cetus gadis itu sambil terkekeh geli.

Ne, kau benar!” setuju Donghae lalu menirukan ekspresi kesal si pria tua hingga tawa gadis itu semakin keras.

“Dan Oh…Ahjumma di kamar paling timur, dia berteriak dengan suara melengking tinggi,” kenang gadis itu lagi sambil tetap tertawa lebar. Kecantikan alaminya tampak sempurna saat ia tengah tertawa.

“Ya, kurasa Ahjumma tadi cocok menjadi penyanyi opera,” canda Donghae.

Setelah berhasil menghentikan tawanya, gadis itu bertanya pada Donghae. “Emmm…kau yakin temanmu itu dirawat di sini?” sambil memainkan kaki mungilnya pada tumpukan salju di bawah.

“Tentu saja, seminggu yang lalu dia masih di sini!” jawab Donghae sambil menepuk-nepuk lembut pahanya untuk menghilangkan rasa letih setelah berjalan mengelilingi gedung.

“Apa mungkin, temanmu sudah pulang?” cetus gadis itu sambil menempelkan telunjuknya di bibir bawahnya. Hal yang selalu dilakukannya ketika sedang berpikir.

Alis tebal pria bernama Donghae itu bertaut, “Yeah mungkin, dan kuharap begitu,” ia mengangguk dan melanjutkan, “karena temanku sudah lama dirawat di sini, aku pun berharap ia bisa pulang secepatnya.”

“Kau pasti sangat menyayangi temanmu itu,” gumam si gadis pelan.

Donghae menatap mata indah gadis itu lurus-lurus, “Sangat…aku sangat menyayanginya!” jawabnya serius.

“Dia sangat… beruntung memiliki teman sepertimu,” gadis cantik itu menghela napas panjang, “Mian, aku tak bisa membantumu mencarinya,” katanya murung, “malah, tadi aku membuatmu seringkali tersesat karena aku pun lupa jalan-jalan di gedung ini. Padahal aku…aku sudah lama tinggal di sini.”

Donghae menepuk lembut pundak si gadis, “Hey, kau jangan bicara begitu,” sergahnya sambil memamerkan senyum terbaiknya, “kau sudah membantuku, dan aku yakin kau lelah sekarang.”

Kepala gadis itu menggeleng, “Ani, kalau kau ingin mencari lagi, ayo kita—“

“Tidak usah!” Donghae menahan pergelangan tangan gadis itu, “sepertinya temanku memang sudah pulang,” tambahnya buru-buru saat si gadis cantik sudah membuka mulutnya untuk kembali membantah, tangan Donghae meraih keranjang biru yang tadi diletakkan di sebelah kursi taman dan memindahkan ke pangkuannya, “bagaimana kalau kita makan kimbab ini?” tawar Donghae pada gadis itu dengan senyum jenaka yang sengaja ia sunggingkan.

Tak terhibur dengan apa yang Donghae lakukan, gadis itu memalingkan wajahnya, “Secepat itukah kau melupakan temanmu?”gerutunya, “katanya kau sayang padanya.”

Donghae diam. Tangannya sudah terulur untuk menyentuh bahu gadis itu, tapi ia urungkan. “Bukan aku yang melupakannya, tapi dia yang melupakanku,” gumam Donghae lirih. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya, mendesak untuk segera dikeluarkan.

Gadis itu menoleh, dan tampak terkejut mendapati Donghae menangis, “Mi-mianhaeyo,” cetusnya merasa bersalah, “G-gwaenchanayo? K-kau…mengeluarkan air mata!”

Donghae menggeleng, lalu menghapus air matanya dengan punggung tangan, berdeham singkat untuk menetralkan suaranya dan menjawab,“Gwaenchana!”

Tanpa diperintah gadis itu merebut keranjang di pangkuan Donghae dan membukanya, “Kau bilang akan memakannya, bagaimana kalau kita makan sekarang?” ajaknya antusias.

Senyum kembali menghiasi wajah tampan Donghae melihat tingkah gadis itu, “Yeah, karena kau sudah menemaniku seharian ini, dan menjadi temanku. Maka kau berhak makan kimbab ini.”

“Teman?” ulang gadis itu senang.

“Yeah, teman. Sekarang kita berteman bukan?” Donghae kembali mengulas senyum tulusnya dan gadis itu mengangguk setuju.

Sambil mengunyah kimbab buatan Donghae yang walaupun penampilannya tak begitu apik, tapi rasanya cukup enak, gadis itu memulai pembicaraan, “Oppa, ceritakan padaku tentang temanmu itu!” pintanya, “aku jadi penasaran, mengapa kau sangat menyayanginya?”

Donghae memiringkan kepalanya menatap mata bulat bening si gadis lalu membersihkan sisa makanan yang menempel di pipi lembutnya,  “Kenapa kau ingin tau?” selidiknya.

Terkesiap dengan apa yang dilakukan Donghae tadi, gadis itu menunduk, dan kembali memilin ujung gaunnya, “Emm, aku…aku hanya…penasaran. Sebaik apa ia, sampai-sampai kau sangat menyayanginya. Mungkin, aku bisa bersikap baik juga agar kau menyayangiku sebesar kau menyayanginya,” gumamnya malu-malu, membuat semburat kemerahan muncul di kedua pipi pucatnya.

Tertawa lebar, Donghae meraih kedua bahu gadis itu, “Kau tidak perlu menjadi orang lain agar seseorang bisa menyayangimu,” nasihatnya.

Si gadis cantik tersenyum kikuk, “Begitukah?” tanyanya malu.

“Tapi kalau kau memaksa, aku akan menceritakan tentang temanku itu,” gumam Donghae akhirnya, lalu mulai bercerita, “Temanku, adalah gadis tercantik yang pernah kutemui,” gadis cantik itu mendengarkan penuh antusias, “mata hitam, bulat dan jernihnya adalah bagian tubuhnya yang paling indah menurutku. Saat mata itu menampakkan kesedihan, hatiku akan ikut merasakan sakitnya. Namun sebaliknya, saat mata itu menampakkan kebahagiaan, orang-orang di sekitarnya juga akan ikut bahagia hanya dengan melihatnya.”

“Wah…” seru gadis itu senang. Kesepuluh jarinya ia pilin menjadi satu di depan dada.

“Temanku juga seorang gadis berhati lembut yang akan ikut bersedih jika menyaksikan teman-teman di sekitarnya sedih, kecantikan batinnya melebihi kecantikan fisiknya,” kenang Donghae.

“Kurasa…gadis itu pantas memiliki teman sepertimu Oppa,” komentar si gadis cantik tulus.

“Yeah, aku juga beruntung memilikinya sebagai temanku,” setuju Donghae, matanya menatap lurus bangunan putih yang berdiri menjulang di hadapannya, “tapi…”

“Tapi apa?” ulang gadis itu penasaran.

“Tapi ia punya satu kekurangan,” kenangnya, mata bening Donghae mulai berkaca-kaca ketika ia menambahkan, “ia bodoh. Temanku itu bodoh sekali… ia… ia…” rasa sesak memenuhi tenggorokan Donghae, hingga ia tak sanggup lagi berbicara. Punggung tangan Donghae buru-buru menghapus titik bening yang kini sudah muncul tanpa diundang pada kedua ujung matanya. Kepala pria itu menengadah, menahan titik bening lain yang mendesak keluar.

Melihat Donghae seperti itu, ekspresi khawatir menghiasi wajah cantik si gadis, “O-oppa, gwaenchanayo?”

Donghae berusaha mengangguk, “Yeah, gwaenchana,” gumamnya lirih setelah dengan susah payah berhasil meredam isakannya, “sampai di mana tadi?”

Gadis itu diam. Berpikir. Berusaha mengingat apa yang Donghae ceritakan tadi, “Emm…” telunjuknya kembali ia tempelkan di bibir bawahnya, “temanmu… temanmu…” ia terus saja mengulang kata itu berkali-kali.

Donghae memalingkan wajah, menyeka air mata yang kini kembali jatuh di kedua pipinya, “Bodoh!” cetus Donghae.

Mata bulat gadis itu melebar, “Ah… ya, bodoh!” serunya senang.

“Ya, dia bodoh, karena ia sering melupakanku… padahal hampir tiap minggu aku selalu mengunjunginya ke mari. Bahkan, kalau tidak ada jadwal pekerjaan, aku bisa setiap hari datang ke tempat ini.”

Gadis itu memberanikan diri menyentuh tangan besar Donghae yang pria itu letakkan di pangkuannya, “O-oppa, kalau aku… emm… menjadi gadis itu, aku tidak akan… emm… aku tidak akan… melupakanmu.”

Donghae tersenyum penuh kasih, “Ah… aku ingin bertanya padamu,” cetusnya berusaha mengalihkan pembicaraan. Merasa pembicaraan itu hanya akan menguras air matanya lebih banyak lagi.

Mata bulat gadis itu melebar, “Aku?” tanyanya, jari telunjuknya menunjuk dirinya sendiri.

“Yeah, kurasa tak ada orang lain di sini selain kita berdua,” balas Donghae sabar.

Mengalihkan perhatiannya yang semula terpusat pada salju yang menempel di batang pohon maple, gadis itu menatap Donghae, “Apa yang ingin kau tanyakan?”

Donghae beringsut mendekat ke arah gadis itu, “Sepertinya, kau sangat menyukai salju,” katanya sambil memain-mainkan sumpit di tangannya, “kenapa kau menyukai salju? Salju itu kan dingin?” tanyanya.

Si gadis mengulas senyum terbaiknya, “Well, benda putih itu memang dingin,” katanya, “tapi salju dapat menimbulkan kebahagiaan di hati orang-orang saat… saat… ah, Natal tiba!” terang gadis itu dengan mata berbinar-binar, “warna putih pada benda itu melambangkan keanggunan juga ketulusan hati, dan aku… sangat menyukai warna itu.”

Donghae tersenyum senang mendengar penjelasan si gadis, “Oke, karena sekarang sudah larut. Sebaiknya kau kembali ke kamarmu,” tawar Donghae lalu menarik lengan gadis itu dan membawanya ke kamar.

“Oppa, gomawoyo  untuk hari ini,” ucap gadis itu tulus diikuti senyuman, entah sudah keberapa kalinya ia tersenyum hari ini.

Donghae mengangguk dan membelai lembut rambut hitam legam gadis itu, “Istirahatlah, sebelum Ahjumma memarahimu,” perintahnya.

“Kau… akan datang lagi ‘kan?” tanya gadis itu merasa berat melepas kepergian Donghae.

Mengambil sesuatu di saku celananya, Donghae bergumam sambil menyerahkan sebuah CD Super Junior pada si gadis, “Ne, aku akan datang lagi, dan ini hadiah untukmu.”

Mata bulat gadis itu berbinar bahagia sambil menerima CD dari tangan Donghae, tapi sesaat kemudian keningnya berkerut bingung, “Ini… kau bisa jelaskan ini apa? Oh… inikan fotomu!” serunya saat menyadari foto Donghae di cover CD itu.

Donghae tertawa lebar, “Ne, itu CD album kelima Super Junior,” terangnya lancar.

“Kau lucu sekali di foto ini Oppa,” ledek si gadis sembari tertawa lebar. “Eh…apa katamu tadi, Super Junior?” tanyanya terlambat menyadari, “dan CD…apa itu CD?”

Donghae mengangguk, “Yeah, Super Junior,” ia menunjuk CD di tangan gadis itu, “CD adalah suatu benda yang dapat menyimpan data, lagu, dan sebagainya,” melihat kening si gadis berkerut, Donghae kembali menjelaskan dengan sabar, “kau bisa memutar CD ini menggunakan CD player dan akan terdengar music yang menyenangkan.”

Telunjuk gadis itu menyentuh bibir bawahnya, “Ah.. music, ya, aku suka music,” cetusnya riang, “dan, emm… nama apa itu? Super Junior?”

“Ah… jadi kau belum tahu Super Junior?” si gadis menggeleng dan menatap Donghae bingung, “Super Junior adalah salah satu Boy band paling terkenal di negeri ini,” jelas Donghae bangga.

“Waah… Jinja?” tanya gadis itu antusias dan Donghae hanya menanggapinya dengan anggukan mantap. Baru menyadari sesuatu, tiba-tiba mata bulat gadis cantik itu melebar, “Jadi… kau, kau adalah sosok yang banyak dikenal orang?” tanyanya tak percaya, “Wah… kalau begitu… emm…” kerutan di kening si gadis kembali tampak.

“Tanda tangan?” cetus Donghae.

“Ah.. iya, tanda tangani benda ini untukku,” pintanya sambil menyodorkan CD itu ke tangan Donghae, “walau sekarang aku tak mengenal… Su-super Junior itu, tapi mulai hari ini, aku akan menjadi orang yang menyukai mereka, terutama kau Oppa,” janji gadis itu yakin yang tanpa disadarinya, sedari tadi Donghae kesulitan untuk menyembunyikan air matanya yang sudah mendesak untuk keluar.

“Selesai,” gumam Donghae dengan suara serak setelah menandatangani CD itu dan menyerahkannya pada si gadis. Gadis itu tersenyum lebar saat menerimanya, “aku pulang dulu,” pamit Donghae dan gadis di hadapannya mengangguk.

“Jangan lupa janjimu untuk mengunjungiku lagi,” pesan gadis itu sebelum Donghae menghilang di balik pintu.

Sepeninggal Donghae, si gadis kembali memandangi CD pemberian Donghae tadi dengan tak henti-hentinya tersenyum. Beberapa menit kemudian, pintu dibuka menampakkan wanita paruh baya yang biasa disebutnya  Ahjumma. “Agasshi, kenapa belum tidur?” tanya wanita itu sabar lalu meletakkan gelas berisi susu hangat di samping tempat tidurnya.

“Ahjumma, hari ini aku senaaang sekali!” serunya dengan ekspresi bahagia tak terkira.

Wanita paruh baya itu pun ikut tersenyum menyaksikan wajah ceria di hadapannya. Ia selalu berharap gadis cantik di hadapannya ini akan selalu menampakkan senyum seperti itu setiap harinya, ia benar-benar menyayangi gadis itu seperti putrinya sendiri, “Karena kau sudah bahagia, maka kau harus tidur,” perintah wanita itu dengan nada lembut.

Ne, aku akan tidur, Ahjumma istirahatlah,” katanya sambil merebahkan tubuhnya di tempat tidur dan masih mendekap erat CD Super Junior di dadanya. “Ah… Ahjumma,” ia kembali bangkit ketika mengingat sesuatu, “kau tahu… di mana biasanya aku meletakkan barang-barangku? Aku lupa—“

“Di sini, Agasshi,” wanita paruh baya itu membuka laci nakas yang terletak di sebelah tempat tidur si gadis. Laci itu dipenuhi oleh barang-barangnya, di antaranya sebuah Diary putih, tempatnya biasa menulis segala sesuatu yang ia alami setiap harinya, dan sebagai pengingat agar dirinya tidak lupa akan kejadian yang dialami sebelumnya. Juga, berbagai barang lainnya.

“Hah… sifat pelupa-ku semakin parah saja, Ahjumma,” gumam gadis itu dan si wanita paruh baya hanya bisa menunjukkan senyum prihatin. “Ahjumma!” wanita itu kembali menoleh ketika si gadis memanggilnya, “kau… kau tahu benda untuk… emm… memutar ini?” tanyanya sambil memamerkan CD Super Junior pemberian Donghae tadi.

Wanita itu melangkah ke tepi tempat tidur si gadis lalu mengambil sebuah portable CD player dari laci nakas, “Ini, Agasshi.”

“Oh…” gadis itu menerimanya dengan senang hati, tapi sedetik kemudian wajahnya tampak lesu, “bagaimana cara menggunakannya?” keluhnya kesal sambil membolak-balik CD player itu di tangannya.

Memandang prihatin pada gadis lugu yang sudah dianggapnya sebagai putrinya sendiri, wanita paruh baya tadi mengambil alih benda itu dan memasukkan CD Super Junior ke dalamnya lalu memencet tombol play. Dengan sabar, wanita itu juga memasangkan earphone ke telinga mungil si gadis, “Kau bisa mendengarnya sekarang?” gadis itu mengangguk senang.

Ne, Ahjumma. Gomawoyo!” gumamnya penuh syukur.

Sendiri lagi sepeninggal wanita itu, si gadis membuka laci nakas di sebelah tempat tidurnya untuk menulis kejadian membahagiakan yang ia alami hari ini ke dalam Diary mungilnya. Ketika mengeluarkan buku Diary putih kecil dari dalam laci, sebuah foto polaroid yang jatuh dari salah satu halaman buku itu membuatnya tertegun.

Foto itu menampakkan seorang pria tampan bersama seorang gadis cantik yang tidak lain adalah dirinya, tengah berpose membentuk huruf V dan tersenyum lebar di sebuah kursi taman panjang tempatnya tadi menghabiskan waktu berdua bersama Donghae. Senyum yang semula tersungging di bibir mungilnya, menghilang ketika ia mengenali sosok pria dalam foto itu. Jemari mungilnya menyentuh wajah pria tampan yang tersenyum lebar itu. Sebulir air hangat jatuh membasahi pipi lembutnya, diikuti bulir-bulir lainnya saat ia membalik foto itu dan menemukan sebuah tulisan yang berbunyi, ‘Bersama Lee Donghae, kekasihku tercinta,’ juga sebentuk hati di akhir kalimat.

Isakannya semakin hebat, kala ia membuka lembar demi lembar Diary putih di tangannya dan menemukan lebih banyak lagi bukti kenangannya bersama pria itu. “Mianhae, Lee Donghae, mianhaeyo!” isaknya pilu.

Sementara di luar kamar, seorang pria tampan terisak. Air mata yang sejak tadi ditahannya, tak lagi dapat dibendung. Tak peduli pandangan orang padanya, ia membiarkan titik-titik bening itu membanjiri kedua pipinya. Bayangan gadis lugu yang begitu dicintainya tengah melawan penyakit Alzheimer, yang secara perlahan tapi pasti akan merenggut nyawanya, membayang jelas di benak pria itu. Mungkin sekarang gadis itu melupakannya, melupakan semua memori tentang kebersamaan mereka. Suatu saat nanti, gadis itu akan melupakan segalanya. Segala yang ia butuhkan untuk menopang kehidupannya. Perlahan, gadis itu akan melupakan bagaimana cara berpakaian, bagaimana cara berjalan, bagaimana cara makan, hingga pada akhirnya ia akan melupakan bagaimana cara bernapas.

Susah  payah menggigit bibir bawahnya ketika bayangan-bayangan tersebut memenuhi otaknya, pria tampan itu bergumam pelan dengan kepedihan mendalam tampak jelas di wajah tampannya, “Tuhan, tolong kembalikan kekasihku!”

FIN

44 thoughts on “MEMORIES (Oneshot)

  1. jdi???cewek itu knp sbnrny??skit apa?aq bngung,tp critany sukses bkin aq nangis hiks

    annyeong sophie imnida. blog km msh br ya??tp udh bgus kok.maen2 k blog q jg yaa..biar qt lbh akrb, *plak*

    • Waah…Gomawo~
      seneng deh ternyata ada yg ngunjungin blogku juga.
      Maaf, maaf… FF ini belom selesai ku edit kemarin, jadi masih rada membingungkan gitu hehe… tapi skrg udah dibenerin kok.
      Okeh, nanti saia main2 ke sana ^^

  2. Woah…. T.T
    ni FF ptama yg sukses bkin aku nangis… T.T
    pilu bgt sih critanya.. kebayang bgt… nyesek bgt… T.T

    Kasian si Ikan… Dia kuat jg ya, bs sabar n akting gt d dpn pcrnya…

    Oh iya, aku reader br (?)
    nemuin blog ini di…mana ya??? lupa…
    BTW , ini FF nyindir aku bgt… -.-

    Bkin novel ga? Abs tulisannya bgs bgt… kyaaa *lebay

  3. Woah…. T.T
    ni FF ptama yg sukses bkin aku nangis… T.T
    pilu bgt sih critanya.. kebayang bgt… nyesek bgt… T.T
    aku nangis mulai di bagian ini nih
    “Senyum yang semula tersungging di bibir mungilnya, menghilang ketika ia mengenali sosok pria dalam foto itu. Jemari mungilnya menyentuh wajah pria tampan yang tersenyum lebar itu. Sebulir air hangat jatuh membasahi pipi lembutnya, diikuti bulir-bulir lainnya saat ia membalik foto itu dan menemukan sebuah tulisan yang berbunyi, ‘Bersama Lee Donghae, kekasihku tercinta,’ juga sebentuk hati di akhir kalimat.”

    Kasian si Ikan… Dia kuat jg ya, bs sabar n akting gt d dpn pcrnya…

    Oh iya, aku reader br (?)
    nemuin blog ini di…mana ya??? lupa…
    BTW , ini FF nyindir aku bgt… -.-

    Bkin novel ga? Abs tulisannya bgs bgt… kyaaa *lebay
    ergh, mian komen aku pjg bgt.

    • Waaaaa~~~
      Excited!!! aku suka banget kalau ada reader yang mau komen panjang gini. Gomawoo Nara ^^ *bener gak namanya?* kkkkk
      Hmmm… aku bingung mau bales apaan? pokoknya makasih banget yah udah mampir ke Blog-ku.

      Mian juga udah bikin kamu nangis hehe ^^
      Wah… Novel?? seandainya ada yang nawarin dari pihak Publisher #Plakkk #GakMauUsaha xixixi

      Oiyaa… salam kenal yah. Sering2 aja main dan komen panjang di sini #ngarep

  4. Woa~~~
    tau ga, aku br aja nutup blog ini stlh bc ‘memories’ ini lg tw2 udh di bls..

    ah matta!
    Nara imnida. Yoja, 22sal iyeyo. ^^
    Biasa dipanggil Kyu krn bias Kyuhyun n karakterku jahat persis ky Kyuhyun. Dr luar pendiem, tp aslinya crwet. *nih kan crewet bgt komen*😀

    no…no… no mian… -.-
    keren ^^d

    biasanya sih aku suka ngejek hyung ku krn dy bias donghae. tp knp aku mlh suka FF si Ikan ini y? -.-
    aku ksi liat akh, blog ini k hyungku😀

    • Wahaha… Salam kenal yah Nara-ssi ^^
      emmm… Kyu-ssi deh xixixiix
      Waduh… seneng punya temen cerewet #ehh

      kebetulan lagi Online nih, jadi bisa langsung bales komenmu kkkk

      Oh? Punya Hyung yg suka Onge? Aihh… jadi maluu pake rekomendasiin segala xixixi
      Salam deh buat Hyungmu yah ^^

  5. Ne~~~
    bangapta! ^0^

    wah berarti aku tmn cerewetmu yg ptama… -.-
    *ngumpet di bwh meja*
    maafkan aku~~~aku telah mencemarimu~~~ #sinetron

    haha… hyung itu cewek kok. salah satu pencetus (???) manggil aku Kyu.
    sahabatan gara2 sm2 ELF.
    aku kan dipanggil Kyu gara2 sohib2ku yg ELF itu -,- jadinya aku manggil mreka Hyung lah, sesuai bias masing2. (lah napa jd curcol)

    gpp kan, promosi, mn tw ntar nyasar k publisher #eh
    bgs bgt klo nulis novel. abs kt2nya detail bgt n meresap, visionalize gt #eaaa

    iya, ntar aku sampein. dy lg kerja d luar kota si..😦

    • Hmm… gak juga sih, temenku banyak juga yg nista #Ehh :p
      Aku emang udah tercemar dari dulu kok. Apalagi Hae yg udah mencemariku #Plakk

      Oh.. gitu toh, pantes!! tadi aku baca salah satu FFmu di blogmu. cara nulismu jg keren Chingu, aku suka. bener deh ^^
      AMIIIN!! ya ampuuun!! kapan lagi didoain orang xixixi

      Okeh… siip ^^

      • cinguuuu~
        I’m back!
        Still remember me??? -.-
        akh, notification aku macet…apa krn udh lm ga aktif ya? -____-

        makin parah, aku cm post FF atu2 aja skrg.. -.-
        aku lg ga to the lau nih.
        yg ngeview FF aku lmyn, tp comment ga ada satu pun… hiks. aplg ntar klo ada yg plagiat, tmbh nyesek lah aku. #curcol

      • HYUUUUUNGGG!!! hahaha *kenapa jadi manggil gitu?*
        Inget lah pasti… syukurlah aku gak bener2 menderita alzheimer seperti di FF ini ekekke

        Wah… sabar Chingu-yaa~~
        Mungkin ada banyak alasan Reader gak mau komen *sok bijak*

      • *gubrak!* ==”
        bknnya kebalik ya? aku kn kyu, jd akulah yg manggil km Hyung.
        tmn2 aku crita sih, mereka udh komen tp ga kluar.
        notification aku msh macet jg sih.
        apa ini pengaruh aku jarang aktif ya?

        ah aku pengin bc smua FFmu eunhee-ssi, tp skripsi msh mukul2 kepalaku… ga konsen -___-V

      • eh?? iya juga huahaha…. maklum, pikun! #Plakk
        Kayaknya gak ngaruh sih… mungkin koneksimu aja yg lagi gangguan.

        Haha… semangat aja deh ngelanjutin skripsinya ^^

  6. huuaaa walopun gg smpe bkin nangis tp cukup bkin mataq penuh kaca(?) brkaca2 mksud gw:p
    aaaa donghae si prince of tears
    saranghaeX(
    ehh tp eunhee itu tnggal’a di rumah sakit bukan??
    alzaimer bkan’a penyakut nenek2 yahh??
    kasian masih muda udh kena penyakit nenek2#plaak
    yahh se’enggakny dia dpet ttd+album’a suju
    aq jga mauuuuuO,o

    • Iyaa, emang sebagian besar menimpa usia tua. Tapi gak menutup kemungkinan penyakit itu jg nyerang usia muda. Khususnya yg punya riwayat penyakit keturunan seperti itu. ^^

  7. huwaa! Nangis T,T sangat daebak ff ini. Kata kata nya rapih banget. Apa rahasianya eon? Pake rapika? *mukapolos* #plak

    Jadi si donghae lagi nyritain eunhee ke eunheenya sendiri eon? Aduh, miris banget ya T,T si eunhee.

    Oh iya, aku reader baru eon. Salam kenal ya eon.

  8. haloooo *lambai tangan* reader baru nih🙂 , gak sengaja ngacak google, eh nemu nih blog..
    Sinar imnida, bangapta unnie *panggil unnie gak apa2 ya?*

    ff bikin nangis, ini menjadi 3 besar ff terbaik dari yg terbaik yg pernah kubaca *ff yg kubaca udah hampir 100 loh unnie* #pamer *diinjek* feelnya dapeet banget *lap ingus* eh? -,-

    Yg pling kusuka itu alurnya, sesuatu banget gitu . Hehe😄

  9. Daebakkk!! bener-bener keren
    dari tengah cerita aku udah nangis gak karuan
    yah aku kira ceweknya cuma amnesia dan akan sembuh, ternyata alzheimer
    huwaaaaa…. T_T

    eonni aku ijin reblogged full credit ^^

  10. wah kereeeeeeen bngt crt.a tapi kenapa akhirnya gak dikasih tau gmna endingnya eonni..
    padahal aku pngen mereka kembali seperti dulu…
    ahhhhhhh, pengen ada crt.a lagi…
    oya, annyeonghaseyo eonni meila imnida aku readers baru disini, salam kenal eonni….
    ヽ(^。^)ノ

  11. anyeong, reader baru, thenny imnida ^^
    ini ada sequel nya gak ?? kayaknya makin keren kalo ada sequel nya🙂

  12. Gw suka buangetttt nih epep sumpah :’D dri awal tuh bkin pnsrn n kliatan biasa aj eh trnyta pas ending bkin shock :’) smpek ngluarin air mta nih :’3 pnykit alzhaemer emg kliatan biasa tp efekx luar biasa mnyedihkn ^^ good job, ijin share nde

  13. Eonni-ya… igeo mwoya, ohk?
    Kenapa buat aku nangis seember?
    Alzhaimer? Astaga di usia mudanya dia udah mengidap Alzhaimer? Sumpah, aku gak tega lihat Eunhee begitu. Aku kasihan sama Donghae. Nyeseeeeeeek banget pas Ongek bilang “bodoh” pas di taman. Aku tahu pasti temannya itu Eunhee. Omoooo… gak bisa ngomong lagi, aku beneran mewek T___T
    Backgroundnya lagu Hyorin pulak nih. Haduh,… makin membuatku masuk ke dunia mereka. Arghhhh… somvret emang. Eonni ganti air mataku… PPALLIIII!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s