Posted by: eunheehae | March 30, 2013

[EunHae Moment] The Trouble Maker Daddy

The Trouble Maker Daddy

2 

 NOTE:  Sebenarnya aku ragu mau ngepost FF ini. Entah kenapa aku ngerasa ini FF datar banget. Tapi udah terlanjur dibuat, sayang banget klo dianggurin. So, jangan timpukin aku karena udah bikin FF seGaJe ini. Mudah2an kalian gak bosen baca FF-FF gajeku yah kikikikik

 

-Tra Palace Apartment-

Bila bukan karena aroma panekuk yang lezat, Donghae bisa dipastikan masih meringkuk di tempat tidur. Semalam ia baru pulang pukul setengah satu dan masih harus membantu Eunhee menjaga Haejin yang mendadak bangun tengah malam. Donghae butuh istirahat setelah konser Super Show 5 hari pertama usai. Tapi bila anak dan istri membutuhkannya, bagaimana dia bisa menolak? Pada akhirnya, Donghae baru bisa beristirahat pukul 3 pagi. Padahal esok harinya, konser hari kedua masih menunggu.

Well, dia lelah. Amat sangat lelah.

Dengan mata yang masih setengah terpejam, Donghae meraih kenop pintu. Membuka pintu kayu dari pohon ek itu dan melangkah perlahan menghampiri aroma lezat tadi berasal.

“Lapar!” katanya pada diri sendiri sambil memegangi perutnya yang hanya tertutup T-shirt tanpa lengan berwarna putih.

Senyum Donghae mengembang menangkap pemandangan punggung Eunhee yang sedang berdiri di counter dapur. Wanita itu sepertinya terlalu sibuk memasak, hingga sama sekali tak menyadari suara-suara yang ditimbulkan dari kehadiran Donghae.

Jam berapa Eunhee bangun? Donghae yakin dia juga lelah. Semalam Eunhee juga baru tidur jam 3 pagi.

“Pagi, sayang!” Donghae meraih pinggang Eunhee yang rupanya cukup terkejut dengan kehadirannya. Memeluk wanita itu dari belakang. Tanpa basa-basi, dikecupnya lembut sisi leher Eunhee.

Seringai Donghae melebar saat menyadari reaksi yang diberikan Eunhee. Wanita itu menegang dalam pelukannya. Jemarinya yang lembut meremas lengan Donghae yang kini melingkar di bagian pinggang. Hal itu membangkitkan gairah Donghae yang akhir-akhir ini—karena kesibukan—semakin jarang tersalurkan.

“Aku rindu padamu,” bisik Donghae, kali ini ia menyusuri tengkuk Eunhee. Mengecup. Membelai. Menghirup wangi vanila favoritnya. “Hee, aku—“

“Hae, aku sedang masak. Kau ingin rumah ini terbakar karena aku lalai menjaga kompor?”

Donghae tersentak mundur ketika Eunhee tiba-tiba berusaha menjauh darinya. Kontan, Donghae merengut. Seperti anak kecil yang kesenangannya baru saja direnggut paksa.

“Aiissh… kau merusak suasana!” sungut Donghae kesal. Lalu menarik kursi tinggi di sudut dapur dan duduk di sana.

Suasana mendadak sunyi. Hanya terdengar gemerisik air yang baru saja dinyalakan Eunhee dari wastafel. “Panekuknya sudah hampir siap. Bisa tolong ambilkan piring datar di rak?” Eunhee membuka suara.

Lama tak terdengar jawaban dari Donghae, ia menoleh. Kening Eunhee berkerut bingung mendapati ekspresi kesal masih tercetak jelas di wajah tampan suaminya.

“Ya ampun, Hae. Nanti kita bisa melanjutkannya lagi. Jangan memasang tampang seperti itu. Atau kau ingin aku mengusirmu seperti beberapa hari lalu?”

Dengan wajah yang masih ditekuk, Donghae beranjak dari kursi dan membuka lemari di atas counter. Diraihnya sebuah piring datar berukuran lebar dan meletakkan piring itu di counter sebelah Eunhee.

Terdengar helaan napas berat Eunhee. Sebelum Donghae sempat melangkah pergi, Eunhee meraih lengan pria itu. “Fans-mu tak akan senang bila melihat kau cemberut begini.” Eunhee mencoba membujuk dan membelaikan jari-jarinya di sisi wajah Donghae. “Kalau dipandang-pandang, penampilanmu tak terlalu buruk dengan rambut pirang begini.” Kini jari-jari Eunhee bermain-main dengan rambut pirang Donghae yang acak-acakan sehabis bangun tidur.

Seperti baru saja mendapat hadiah paling indah dalam hidupnya, bibir tipis Donghae melekuk membentuk seringai lebar. “Apa kubilang. Kau pasti menyukainya,” balas Donghae riang. Tak ada lagi ekspresi sedih di wajahnya.

Eunhee nyaris terkikik. Oh, betapa mudahnya menaikkan suasana hati Donghae!

“Yeah, kau memang tampan dengan penampilan begini.” Kini jari-jari Eunhee menelusuri lekuk leher Donghae lalu mengernyit tak suka mendapati pemandangan di depannya. “Tapi jujur, aku tak suka tatto ini,” katanya menunjuk kata rockstar di leher Donghae. “Tatto ini menutupi tahi lalat favoritku.” Donghae menyeringai mendengar kata tahi lalat yang diucapkan Eunhee. Mendadak, pikirannya melayang pada kejadian malam itu. Ah, sungguh malam yang menyenangkan! “Juga tatto yang ada di sini,” tambah Eunhee kali ini tangannya menunjuk dada Donghae.

Donghae terkekeh pelan lalu melingkarkan lengannya di pinggang Eunhee. Mendekatkan tubuh Eunhee pada tubuhnya sendiri. “Dalam seminggu—ah tidak, tiga hari lagi pasti juga akan hilang. Hanya tatto temporer!” balas Donghae tenang.

“Hmm…” Eunhee tampak menimbang-nimbang. “Kalau begitu, selama tiga hari ini. Jangan coba-coba membuka pakaianmu di depanku—“

“Yaaakk!!!” Donghae melepaskan dekapannya dan kembali memberengut. “Tapi kenapa?”

“Aku ngeri,” Eunhee begidik lalu hendak memutar tubuhnya tapi Donghae berhasil menahan dan kembali meraih Eunhee dalam dekapannya.

“Baiklah. Tapi sebagai gantinya, kau harus datang di konser sore nanti. Temani Eomma, hmm?”

Eunhee mendesah. “Bukannya aku tidak mau, Hae. Haejin dan Heejin masih terlalu kecil untuk diajak ke acara semacam itu.”

Walau kecewa, tapi Donghae menyadari ucapan Eunhee benar. Putra-putrinya terlalu kecil. Ditinggal pun sangat tidak mungkin. Bukankah dia dan Eunhee sendiri yang memutuskan untuk tak memakai jasa baby sitter? “Jadi… kau tidak mau menonton?”

“Ralat!” Eunhee melemparkan senyum penyesalan. “Aku bukannya tidak mau. Kalau boleh jujur, aku ingin, Hae. Sangat ingin menontonnya. Tapi anak-anak tidak akan bisa ditinggal seorang diri. Aku yakin kau akan mengerti. Lagi pula, masih ada SS5 Encore di Seoul kan? Aku rasa, saat encore berlangsung, Haejin dan Heejin sudah cukup besar dan mengerti jika diajak menonton bersama.”

Benar! Donghae tertawa lebar. Pada saat Encore berlangsung, usia mereka pasti sudah menginjak satu tahun, atau bahkan lebih. “Ah, baiklah. Aku mengerti.”

“Ya sudah, kalau begitu, kau mandi dulu aku akan—“

“Hey, aku belum selesai.” Donghae mengeratkan pelukannya di pinggang Eunhee yang kini sudah mulai ramping seperti semula. Setelah melahirkan putra-putri kembarnya, Eunhee nyaris tidak tidur karena menjaga mereka. Tidak heran, bila bentuk tubuhnya cepat kembali.

“Ada apa lagi?”

“Kau belum memberiku Morning Kiss hari ini.” Donghae memejamkan mata sembari menunjuk bibirnya sendiri. “Poppo!” rajuknya manja.

“Aiiisshh…” Eunhee menghela napas. Tapi tak dapat menahan diri untuk tersenyum. Dasar manja!

Eunhee berjinjit, lalu mendaratkan kecupan singkat di bibir Donghae. Begitu singkat, hingga nyaris tak terasa. “Sudah, sekarang lepaskan—“

“Belum,” potong Donghae cepat. Sebelum sempat Eunhee melepaskan diri, Donghae telah menyapukan bibirnya di bibir Eunhee. Melumatnya pelan dan dalam. Begitu nikmat dan manis hingga nyaris membuat kaki Eunhee melemas bila tak segera berpegangan pada pundak berotot Donghae.

“I love you,” bisik Donghae di sela-sela ciumannya.

“Hmm… Hae, bau apa ini?” Cepat, Eunhee melepaskan diri, ketika bau tidak sedap menusuk hidungnya. “Kau tidak kentut sembarangan lagi kan?” tanyanya penuh selidik sembari memencet hidung dengan jempol dan jari telunjuknya.

Donghae mengernyit. Bingung. Lalu menoleh ke belakang, berusaha mencari tahu bahwa pantatnya memang tidak salah kali ini. Dia memang suka kentut sembarangan. Tapi kali ini Donghae yakin dia tak bersalah. Ya, pasti—

“Oh, astaga!!! Panekuknya! Aku lupa mematikan kompor!”

***

“Hae, tolong jaga Haejin sebentar. Aku akan keluar membeli popok di minimarket sebelah—“

“Tapi…”

Eunhee menghentikan langkah di sisi foyer mendengar bantahan Donghae. “Kenapa?”

Donghae meringis lalu menggaruk bagian belakang kepalanya. “Bagaimana kalau aku yang membeli popoknya. Aku takut nanti Haejin lapar dan ingin minum—“

“Aku sudah menyediakan susunya di kulkas. Kau bisa memakainya,” Eunhee tersenyum lalu memakai wedges birunya. “Aku tidak lama. Tenanglah! Heejin baru saja tidur, dia tak akan bangun kalau tidak lapar,” tambah Eunhee ketika menangkap ekspresi khawatir di wajah Donghae.

Donghae lalu mengangguk. “Baiklah. Kau bisa mengandalkanku.”

“Ah, satu lagi,” tahan Eunhee ketika Donghae baru akan beranjak pergi. “Jangan membangunkan Eomma. Beliau baru saja tidur setelah menggantikan kita menjaga Haejin dan Heejin.”

Dengan patuh Donghae mengangguk. “Arasso. Sudah kubilang, kau bisa mengandalkanku. Bukankah aku Ayahnya?”

Eunhee mendengus pelan. “Yeah, kau memang Ayahnya. Tapi seringnya, kau lebih merepotkan dibanding mereka.”

“Yaaakkk!!!”

Eunhee menutup pintu apartemen sembari terkikik geli.

Sepeninggal Eunhee, Donghae langsung menuju kamar putra-putrinya. Dilihatnya Haejin sedang bermain sendiri di atas karpet berbulu lembut dengan bahan dasar wol yang hangat. Bayi berusia empat bulan itu tampak begitu asyik menggigiti maenan bayi berbahan dasar karet yang dipegangnya. Sesekali bayi itu mengeluarkan suara-suara yang sama sekali tak dimengerti Donghae.

Gemas melihat putranya, Donghae segera menghampiri. Setelah duduk bersila di sisi Haejin yang akan membalik tubuhnya tapi tak kunjung berhasil, Donghae meraih tubuh mungil Haejin dan mendudukkan putranya itu di paha. Lalu sembari bersenandung riang, Donghae menggerak-gerakkan pahanya hingga Haejin terkekeh-kekeh kesenangan.

“Aigoo… anak Appa sudah besar, hmm?” bisik Donghae lembut sembari menciumi pipi tembam Haejin.

Haejin berhenti tertawa, kali ini bayi itu bergerak-gerak gelisah dalam gendongan Donghae. “Nanananana…” oceh Haejin yang sepertinya tak terlalu suka digendong.

Donghae yang tak mengerti, mengernyit bingung. “Kenapa? Kau lapar? Atau… popokmu penuh?” dengan bodohnya Donghae bertanya, lalu tak sampai satu menit dia menggeleng sendiri. “Baiklah-baiklah, kau mau turun… iyakan?”

Perlahan, Donghae menurunkan Haejin di karpet. Seperti mendapat kebebasan, bocah itu bergerak-gerak gembira dan berusaha membalik tubuhnya lagi. Kali ini berhasil. Haejin diam dalam posisi menelungkup di karpet.

“Aigoo… aigoo… jadi kau ingin memamerkan pada Appa bahwa kau sudah bisa menelungkup, eo?” Donghae terkekeh bangga dan membelai punggung Haejin. “Ah, sebentar. Appa lupa, semalam Appa membawa mainan untukmu,” kata Donghae bersemangat lalu melangkah menghampiri meja di sisi jendela.

Semalam ia sampai memohon-mohon pada Ryeowook untuk memberikan padanya salah satu boneka jerapah yang dilemparkan fans saat Super Show 5 berlangsung. Walau tidak rela, akhirnya Ryeowook memperbolehkan Donghae membawanya ketika Donghae mengatakan bahwa ia akan memberikan boneka itu pada Haejin dan Heejin.

“Hallooo, namaku Ryeonggu!” Donghae berusaha membuat lucu suaranya sembari menggerak-gerakkan boneka itu di hadapan Haejin yang kini tertawa renyah. “Kamu siapa, eo? Namamu siapa?” tambah Donghae lagi, kali ini ia menyentuhkan bagian hidung boneka jerapah tadi ke hidung Haejin.

“Mamamamamah…” Haejin lagi-lagi mengoceh tak jelas sambil terkekeh. Tangan mungilnya mencoba meraih boneka jerapah tadi dan saat berhasil menyentuhnya, Haejin berteriak-teriak kegirangan.

“Aigoo…” Donghae meletakkan boneka itu lalu meraih Haejin dalam gendongannya. “Kau pasti capek menelungkup terus,” katanya lalu menciumi pipi Haejin. Lagi.

Kali ini Donghae berdiri dan berjalan pelan di sekeliling kamar. “Bagaimana kalau kita menonton TV, hmm? Kakakmu akan bangun kalau kau tertawa terlalu keras.” Sekali lagi Donghae bicara sendiri dan menggendong Haejin ke ruang tengah.

Melihat notebook Eunhee yang tergeletak sembarangan di meja rendah depan TV, Donghae mengurungkan niatnya meraih remote. Sembari menyeringai lebar—dengan Haejin yang kini masih dalam gendongannya—Donghae duduk di depan notebook itu dan menyalakannya.

“Pasti ada video-videoku di sini,” gumam Donghae antusias. “Sayang, Appa akan menunjukkan kehebatan Appa padamu, hmm?”

Donghae begitu sibuk mengutak-atik notebook Eunhee ketika ia merasakan geplakan-geplakan ringan di kepalanya.

“Ya! Ya! Kenapa kau memukul Appa? Aiiisshh… kau pasti sudah tidak sabar melihat kehebatan Appa menyanyi dan menari kan?” Donghae terkekeh lalu mengecup pipi Haejin yang masih tak berhenti memukulinya.

Tiba-tiba Donghae mendesah karena tak berhasil menemukan satupun videonya di notebook Eunhee. “Aiiisshh… sebenarnya di mana Eomma-mu menyimpannya?” keluh Donghae tak sabar. Padahal dia sudah menjelajahi hampir seluruh folder di notebook itu.

“Nanananah…” Lagi-lagi Haejin mengoceh tak jelas.

“Iya, iya. Sebentar sayang,” dengan tololnya Donghae membalas. “Ini sedang Appa cari,” tambah Donghae mendadak menyeringai ketika tak sengaja menemukan folder bertuliskan namanya.

Tanpa segan-segan, Donghae membuka folder itu. Dan Donghae menemukan dirinya kesal mendapati isinya adalah gambar ikan Nemo alih-alih fotonya sendiri. Sial!

“Apa maksudmu, Hee?” tanya Donghae sambil memencet tombol back keras-keras.

“Nanananah…” Donghae menoleh saat lagi-lagi Haejin bersuara.

“Sebentar, sayang. Eommamu benar-benar keterlaluan. Masa dia tak menyimpan satupun video-ku?” Donghae mengomel, seolah-olah memang benar Haejin ingin sekali melihat video-videonya.

Haejin yang kini setengah tiduran di sudut sofa terlihat mengangguk-angguk sambil memukul-mukulkan boneka jerapah yang sejak tadi dipegangnya.

Donghae menghela napas lalu meraih Haejin dalam gendongannya. “Sudahlah! Mari kita cari videonya di Youtube saja. Eomma-mu memang benar-benar tak menyisakan tempat untukku di notebooknya,” kata Donghae setengah tidak rela lalu mulai menghidupkan sambungan internet.

“Nah, ini dia—hey! Aiiisshh…” Donghae berjengit lalu buru-buru membersihkan mulut Haejin yang rupanya asyik bermain dengan ludah dan air liurnya sendiri. Hingga cairan kental yang sama sekali tak berbau itu menetes di notebook Eunhee. “Aigoo… Eommamu bisa marah kalau sampai tahu,” Donghae buru-buru membersihkannya sementara Haejin  malah memukulkan boneka jerapahnya pada notebook Eunhee.

“Yak! Yak!! Jangan nakal, Haejin-a! Haejin-a!” Donghae bangkit dengan Haejin yang bergerak-gerak gelisah dalam gendongannya. Bayi itu sepertinya tidak rela melewatkan kesenangannya. “Baiklah-baiklah, kita bermain yang lain saja. Sebenarnya Eommamu ke mana, hingga jam segini belum pulang juga? Padahal tadi ia bilang hanya akan keluar sebentar.”

Donghae berjalan ke kamar, tepat ketika ia akan membuka pintu suara gemeresak kantung belanjaan terdengar. Berikutnya suara langkah kaki mendekat. “Ah, Eommamu sudah datang,” kata Donghae riang lalu mengurungkan niatnya membawa Haejin ke kamar.

“Oh, Hae. Haejin tak menangis?” tanya Eunhee begitu ia melihat Donghae dan Haejin mendekat.

“Tentu saja tidak. Sudah kukatakan padamu. Aku Appa-nya. Dan aku bisa menangani jagoan kecilku yang manis ini. Iya kan, sayang?” Donghae menempelkan hidungnya di hidung Haejin. Dan menggesek-gesekkannya pelan. Namun baru beberapa detik, Donghae langsung menjauhkan wajahnya ketika merasakan sesuatu membasahi wajahnya. Haejin tampak menyeringai lebar setelah berhasil menyemburkan ludahnya ke wajah Donghae. “Aiiisshh… apa yang kau lakukan?”

Kontan Eunhee terkikik, lalu mengulurkan tangannya untuk meraih Haejin. “Mungkin itu jawabannya atas pertanyaanmu, Hae.”

Donghae menggerutu, sembari membersihkan wajahnya yang basah dengan tissu.

“Oh, Hae. Aku tadi mampir ke kedai Ddakdoritang. Karena kau tak jadi sarapan Panekuk, jadi aku membelikannya untukmu. Makanlah mumpung masih panas. Aku akan menidurkan Haejin dulu. Ini sudah masuk jam tidurnya. Dan kurasa kau juga harus segera berangkat ke stadium.”

Seringai Donghae melebar. Benar. Jam dua nanti akan diadakan Press Conference untuk Super Show 5. Dan jam sepuluh hari ini, ia dan kawan-kawannya yang lain harus sudah berkumpul untuk menjalani latihan.

“Kenapa tidak bilang dari tadi? Ah, kau memang istri yang terbaik, Hee.”

Tanpa menunggu lagi, Donghae langsung membongkar barang belanjaan Eunhee.

“Yeah, kalau begini saja. Kau pasti mengatakan aku istri yang terbaik,” gerutu Eunhee lalu melangkah meninggalkan Donghae yang mengikik pelan.

***

Haejin sudah tidur, Heejin belum bangun, sedangkan Donghae dan mertuanya sudah berangkat. Apartemen itu kembali senyap. Hanya Eunhee yang tampaknya masih sibuk membersihkan kamar.

Dengan penuh sayang, Eunhee meraih boneka jerapah yang semalam dibawa Donghae sepulang konser. Eunhee senang dengan kenyataan, Donghae masih menyempatkan waktu membawakan mainan untuk anak-anaknya. Well, walau mainan itu tidak dengan sengaja dibeli Donghae. Setidaknya, Donghae masih memikirkan Haejin dan Heejin di tengah kesibukannya yang tak kunjung habis.

Setelah merasa seluruh kamar bersih, Eunhee keluar. Ada sesuatu yang harus diselesaikannya. Belakangan, karena tak memiliki kesibukan—setelah memutuskan berhenti bekerja—Eunhee memanfaatkan waktu senggangnya dengan menulis.

Yeah, sejak kecil Eunhee memang suka menulis Diary. Dan kini, ia sedang dalam proses menyelesaikan sebuah novel. Untuk menunjang kemampuannya, akhir-akhir ini Eunhee jadi gemar membeli dan membaca Novel karya penulis-penulis ternama. Eunhee memang merahasiakan ini dari Donghae. Belum. Eunhee belum mau mengatakannya pada siapapun. Tidak sebelum novel itu diterima dan diterbitkan.

Dengan semangat meluap-luap menyadari tidak lama lagi novel itu akan rampung, Eunhee menghampiri notebooknya yang tadi dia letakkan di meja depan TV. Senyum Eunhee mendadak sirna ketika notebooknya tak mau menyala juga. Eunhee yakin, tadi pagi masih baik-baik saja. Bahkan ia sempat menyelesaikan beberapa lembar ceritanya sebelum akhirnya berhenti untuk memasak.

“Ada apa ini?” tanya Eunhee bingung sembari membenarkan letak kabel baterainya. Tapi semuanya sudah terpasang dengan benar. Lampu indikatornya pun menyala yang menandakan daya dari kabel baterainya berfungsi dengan benar. Entah mengapa, saat ia menekan tombol power, notebook itu tetap bergeming. Sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda akan hidup.

Setelah sekian menit bergelut dengan rasa bingung, akhirnya Eunhee menyerah. Gadis itu lalu merebahkan diri di sofa. Semangat yang semula berkobar, kini benar-benar mati. Sial! Siapa sebenarnya orang iseng yang berani menyentuh notebooknya?

“Sebenarnya aku ingin marah karena kau tak menyisakan sedikit pun tempat untukku di notebook-mu. Tapi karena kau membiarkanku menempati tempat terbesar di hatimu, aku bisa tetap tenang.”

Seketika itu juga Eunhee bangkit. Yeah, benar. Dia ingat betul tadi Donghae sempat mengatakan kalimat itu sebelum berangkat ke stadium. Awalnya Eunhee sempat bingung dengan maksud ucapan Donghae, tapi sekarang semuanya begitu jelas dalam benaknya.

Sial! Lee Donghae. Kapan tangannya itu berhenti membuat kekacauan? Terhitung sudah dua Televisi diganti selama dua tahun mereka menikah. Remote AC, DVD player, Microwave hingga ponsel Eunhee pun pernah menjadi korbannya. Dan sekarang, notebook-nya. Di saat ia benar-benar membutuhkan notebook itu.

“Aaaaarrgghh… Lee Donghae! Tunggu saja saat kau pulang nanti!”

***

Donghae bersenandung riang. Pertunjukannya sukses luar biasa. Dan malam ini, ia amat senang karena akhirnya mendapat waktu istirahat yang sudah lama dinantikannya. Setelah acara makan bersama dengan seluruh kru dan pengisi acara, Donghae tak membuang waktu untuk segera pulang. Tentu saja Donghae tak lupa membawa beberapa bungkus makanan untuk istri dan Ibunya. Tadi setelah konser, Ibunya pamit pulang dulu karena tidak tega membiarkan Eunhee menjaga si kembar seorang diri.

Donghae sudah menginjakkan kakinya di lantai 12 ketika ponselnya berdering. Senyum Donghae mengembang ketika membaca pesan yang dikirimkan Eunhee padanya.

“Di mana kau? Apa acaranya belum selesai? Kenapa belum pulang juga?”

Sebegitu rindunya kah Eunhee padanya? Ah, Donghae sudah tidak sabar untuk menghabiskan waktu berdua dengan Eunhee. Well, setidaknya malam ini ia punya banyak waktu untuk mengganti kegagalannya pagi tadi.

Donghae menyeringai lebar, sengaja tidak menjawab pesan Eunhee.

Aku sebentar lagi sampai Nyonya Lee, bersabarlah sedikit! Donghae membatin sembari membenarkan kemeja yang dipakainya. Padahal kemeja itu sama sekali tidak kusut.

Setelah memasukkan komposisi yang sudah dihafalnya luar kepala, Donghae membuka pintu apartemen dan melangkah masuk. Perlahan dia berjalan. Ia tak ingin Eunhee mendengarnya datang. Donghae akan memberi Eunhee kejutan. Yeah, kejutan yang menyenangkan.

Bibir Donghae melekuk begitu mendapati Eunhee sedang duduk di sofa depan TV. Suara televisi yang keras sangat disyukurinya, hingga Donghae tak perlu takut Eunhee akan mendengar kehadirannya.

Setelah meletakkan tas ranselnya di pinggir ruangan, Donghae langsung menghampiri Eunhee. Tentu saja ia masih harus berjingkat bila tak ingin Eunhee menyadari kehadirannya.

Tepat ketika Donghae tiba di belakang sofa putih yang ditempati Eunhee, terdengar suara dingin dan marah Eunhee.

“Kau sudah pulang? Tidak perlu mengendap-endap seperti itu. Kau bukan pencuri!”

Seringai jahil Donghae menghilang. Ia segera menurunkan tangannya yang sudah diangkat untuk menutupi kedua mata Eunhee. “Aku tak tahu kau memiliki sepasang mata di punggung,” gurau Donghae lalu memutari sofa dan dengan santai merebahkan kepalanya di pangkuan Eunhee.

Donghae mendengus ketika Eunhee tak mengacuhkannya. Wanita itu justru sibuk menonton acara Televisi yang menurut Donghae sama sekali tak menarik.

“Hee, aku sudah pulang. Kenapa kau malah mendiamkanku?” tanya Donghae bingung begitu ia bangkit dari posisi tidurnya. “Bukankah tadi kau bertanya kapan aku pulang? Aku di sini sekarang. Siap untuk semua…”

Donghae mendadak bungkam ketika Eunhee mengalihkan perhatian padanya. Entahlah, Donghae yakin ada aura kemarahan yang terpancar jelas di mata Eunhee. Ada apa ini? Apa dia telah berbuat kesalahan?

“Oh, Hee,” Donghae buru-buru menyela sebelum Eunhee sempat membuka mulutnya. Pasti karena aksinya dengan salah satu dancer wanita di panggung tadi. Ya, pasti. Oh, wanita dengan segala kecemburuannya!

Donghae meraih kedua tangan Eunhee, dan meremasnya. “Apa kau marah? Kau marah karena aku berdansa seksi dengan dancer saat pertunjukan berlangsung? Ah, kau tak perlu cemburu begitu, Hee. Itu hanya tuntutan pekerjaan. Kau tak usah khawatir. Kami profesio—“

Apa yang kau lakukan pada Notebookku, Lee Donghae?!

Donghae langsung melepas genggaman tangannya dan berjengit sembari menggeser tubuhnya ke sisi lain sofa. Notebook? Rusak? Kapan dia merusaknya? Donghae mengernyit bingung.

“Hee, aku—“

“Kau tahu apa yang telah kau lakukan itu merugikanku? Kau tahu betapa marahnya aku karena kau menghilangkan segalanya?”

“Ehm… oke, bisa kau jelaskan apa yang terjadi?” Donghae yang masih bingung, mencoba meminta penjelasan. “Hee, aku tak—“

“Tadi saat aku pergi, kau menghidupkan notebookku kan? Apa yang kau lakukan, Hae? Notebook itu mati total sekarang. Sama sekali tak mau hidup!”

“Hee—“

“Jangan mengelak!” potong Eunhee lalu memukulkan bantalan sofa ke tubuh Donghae. “Sialan kau! Berapa kali harus kubilang, jangan sentuh notebookku! Dasar tangan minus! Kau menghancurkan mimpiku! Nappeun!”

“Mimpi? Yak! Yak! Hee, aku tak sengaja—hey! Tunggu—aw! Bukan aku yang merusaknya. Ak, Appo!” Donghae merampas bantalan sofa di tangan Eunhee dan melemparnya sejauh mungkin.

“Biar kujelaskan dulu,” tahan Donghae sembari memegangi kedua lengan atas Eunhee. Mencegah wanita itu melakukan kekasaran lainnya. “Kau benar. Memang aku memakainya. Tapi bukan aku yang merusaknya, Hee. Tadi Haejin bermain-main dengan lu—“

“Jadi kau menyalahkan anakmu?”

“Aw!” Eunhee yang berhasil melepaskan diri kembali meraih bantalan sofa yang lain lalu memberondong Donghae dengan pukulan bertubi-tubi. Kali ini bahkan lebih keras dan cepat dari sebelumnya.

“Ayah macam apa kau ini? Dasar menyebalkan! Nappeun!”

“Hee, aw! Ya! baiklah, nanti kubelikan notebook yang baru—ya! Berhenti memukulku!”

Setelah puas menumpahkan kekesalannya, Eunhee menghentikan perbuatannya dan menatap Donghae kesal. “Aku tidak butuh yang baru,” balas Eunhee dingin.

“Lalu, apa yang kau butuhkan?” tanya Donghae penuh harap. “Kau ingin aku memperbaikinya, begitu? Baiklah, aku akan—“

“Aku ingin kau tidur di luar malam ini!”

“A-apa?!”

Dasar Notebook sialan!

***

Pagi ini Donghae bangun dengan rasa tak nyaman di leher dan punggungnya. Bagaimana tidak, semalam ia terpaksa tidur di sofa hanya dengan beralaskan bantalan sofa dan sebuah bed cover. Pada jam-jam tertentu, Donghae pun harus bangun saat mendengar rengekan-rengekan Haejin dan Heejin yang kelaparan atau sekedar mengganti popoknya yang penuh.

Sial. Donghae ingin sekali beristirahat, setelah merampungkan jadwalnya yang padat. Tapi rupanya, Eunhee benar-benar menjalankan niat menghukumnya.

Donghae menguap lebar-lebar. Matanya yang mulai terbuka menelusuri ruang tengah dan terhenti pada jam dinding besar yang tergantung di sudut ruangan. Pukul 8 pagi. Ia pasti sudah tertidur sekian lama setelah jam 4 pagi tadi terbangun untuk mengganti popok Heejin. Donghae menggeliat, lalu turun dari sofa.

Ini sudah pagi, dan Donghae berharap kemarahan Eunhee sudah benar-benar reda. Kalau tidak, ia tak akan bisa beristirahat dengan tenang. Yeah, tapi Donghae amat yakin. Eunhee tak akan bisa terlalu lama marah padanya. Well, ini bukan hal baru. Dulu dirinya juga pernah merusak ponsel terbaru Eunhee, dan tak sampai sehari Eunhee sudah memaafkan perbuatannya. Donghae yakin kali ini juga pasti begitu.

Refleks Donghae menoleh ketika mendengar suara-suara dari dapur. Pasti Eunhee!

Dengan semangat meluap-luap, Donghae menyiapkan senyum terbaiknya. Pokoknya, pagi ini ia harus bisa membujuk Eunhee agar tak marah lagi padanya. Tentu dengan jurus-jurus andalannya.

“Hee—oh, kau mau ke mana? Pagi-pagi begini sudah rapi?” Donghae tak bisa menyembunyikan keterkejutannya mendapati Eunhee tampil begitu cantik dengan gaun rajutan pendek berwarna campuran abu-abu dan hitam. Rambut hitam sepunggungnya dibiarkan terurai dan hanya diberi jepit kirstal imitasi berwarna putih untuk merapikan poni-poninya yang sudah mulai panjang.

Donghae lega karena akhirnya Eunhee tersenyum. “Kau sudah bangun? Sarapanlah dulu.” Nada ramah dalam suara Eunhee membuat Donghae semakin yakin bahwa istrinya itu telah memaafkan kesalahannya.

Tanpa menunggu disuruh dua kali, Donghae yang memang sudah lapar langsung menyambar semangkuk nasi yang sudah disiapkan di meja dan melahapnya bersama dua potong bulgogi sekaligus.

“Cau pidak machan?” tanya Donghae dengan mulut penuh makanan.

Eunhee menggeleng pelan, lalu mengangsurkan segelas air putih padanya. “Telan dulu makanannya. Aku tak mengerti apa yang kau ucapkan.”

Donghae meringis, lalu setelah menelan habis makanannya ia bertanya lagi. “Kau tidak makan?”

Eunhee sekali lagi menggeleng. “Tidak. Aku akan ke luar, hari ini.”

“Oh,” Donghae mengalihkan perhatian dari makanannya dan menatap Eunhee lurus-lurus. “Perlu kutemani?”

“Tidak usah.”

Donghae mengernyit. “Kenapa?”

“Tadi pagi Eomma sudah pulang ke Mokpo. Jadi, aku mau kau menjaga anak-anak dulu selama aku pergi.” Eunhee buru-buru menambahkan ketika Donghae mengerutkan kening. “Kemarin kau bilang aku bisa mengandalkanmu. Kau kan Ayahnya—‘

“Ah, kau mau pergi membeli popok lagi? Pasti tidak akan lama, kan?”

Cepat, Eunhee menggeleng. “Bukan, Hae.”

“Lalu—“

Pertanyaan Donghae selanjutnya terpotong dentingan bel. Berikutnya dengan gerak cepat, Eunhee beranjak dari tempatnya duduk dan memamerkan senyum lebar.

“Ah, itu pasti Mr. Hong. Aku pergi dulu.“

“Uhuk!!!” Sontak Donghae menyemburkan nasi yang belum sempat tertelan dalam mulutnya sambil terbatuk-batuk. Apa? Mr. Hong? Ada apa Eunhee bertemu dengan lelaki yang sudah bukan lagi berstatus sebagai atasannya itu? Apa yang akan mereka lakukan? Makan bersama?

“Pelan-pelan, makannya,” balas Eunhee lalu melenggang begitu saja tanpa repot-repot menoleh.

“Yaaaaaakkkhh!!! Lee Eunhee, ke mari kau! Sial!”

 

Kira-kira beginilah tampang Mr Hong ^^

Kira-kira beginilah tampang Mr Hong ^^

FIN

About these ads

Responses

  1. wkwkwkkk……lucu bgt eon,emg g jauh2 dr sifat kekanakan na hae,bnr2 deh kyk liat khidupn nyatany hae tiap bc ff na eonni :-D
    hae emg trouble maker sjati,g abz pkir gmna prasaany jd hee,tp kdng jg so sweettt,bngung dh jdiny,hehehe
    oia,trnyta itu tho mr.hong,g kaget dh kl si ikan jd mrasa trsaingi,kekeke….

    • hihiihih… si Hae emang Trouble maker. Makanya dia suka mentroublekan hatiku #ngookkss

  2. andwae…itu song seung hun ahjussi.omo .. ahjussi atau oppa ya?*mikir*

  3. Omoooo…kaget liat mahluk ganteng di pas akhir…hahah..
    Iyaaa datar alias flaaattttt bngeta…
    Saking flatnya ampe cekikikan ky kunti di pelm-pelm…hihihihihi…
    Ayo-lah lanjut ℓά̲g̲ɪ̇… :-D

    • ebusyeeeettt!!! ada Kuntiiiii >_<

  4. song seung hon….
    bkl j
    ada perang dunia nich kyk nya…
    hehe
    d tggu lanjutannya….

  5. Eonniieee *lambai2*
    aku ini fans mu loh, tp baru bisa napakin kaki disini >.<
    aku harus banyak2 terima kasih sama eonnie, baca ff ini sukses bikin galau ilang dan mood aku jadi bagus lagi. Tangan Donghae emang minus ckckckck
    eonnie-ya kenapa eonnie bisa bikin mood ku jadi bagus lagi…?

    • aduh… fans?? hahaha
      Gomawoo dah mampir yah ^^
      Alhamdulillah klo gitu dah… jadi tulisanku berguna buat orang laen :)

  6. lucu bgt eunhae momentnya ^^.. mmg tngn hae oppa separah itu ya smpe smua brg yg dia pgng psti rusak, parah bgt oppa satu ini XD..

  7. Ceritanya bgs nieh…jd ngebayangin donghae senang bgt dipuji krn rambutnya n tatoo ga dipuji…trus photo mr hong ganteng bgt hhehe. Ya wess, keep writing n dtunggu ya karya2 lainnya.

  8. yah ngegantung???!!
    Lanjutin dong

  9. Itu MR Hong ganteeeng loh haha

    Ah Hae dan Hee memang selalu lucu kalau berantem
    Pasti ada aja DongHae bikin ulah ckck

    Di tunggu yang lain nyaaa :D

    • iyah… emang ganteng dia :D

  10. Annnyeong onnieee….hehehehe
    Baru bsa komen,..

    Aduh, hae apa bener tu tangan bisa ngerusak semua yg di sentuh..*plakk
    Bner” ceroboh ya dan hebatnya kamu bisa dptin Hee yg sifatnya gtu..kekekekeke
    Onnie sekali-kali hee-nya dong yg dibuat salah, kasian amat hae terus yg kena hukuman..heheheehehe

    masalah tulisan saeng g perlu komen ya, udah mantap dh. onnie lge buat novel ya, hayo…

    wkwkwk, sekian lama akhirnya Mr. Hong muncul juga di antara mereka. Oh! Hae lo aq jd Hee onnie bakal marah besar jg..poor hae

    • iyah… aku rela kok dirusak ama Donge #ehh
      Ah, aku lebih suka nyiksa Donge #digaplokFishy

  11. Suka banget karena keunikan (?) tangannya DongHae yang selalu merusak itu ikut nimbrung di ff ini. Wkwwkwkwk….

    tapi kenapa endingnya gantung??

  12. agak teLat bacanya..
    sprti biasa kalo aku baca FF mu hee..senyum2 gaje githu… Luchu pas hee marah2 gara2 notebook‘y rusak͵Ckkk.. aura marahnya smpe kesini Lhoo.. guemezzz dehhh^^

  13. Eunhae moment yg selalu sweet :D
    baca ff ini bener” bisa ngilangin galau,liat sifat manja nya si hae sama tangan “perusak” nya yg ampuh bgt buat ngerusak apapun yg dia pegang,wkwkwk

    ff kamu tuh ringan,diksinya g berat jadi mudah dipahami,oen suka baca ff model begini,,,g bikin pusing,kan baca ff buat ngilangin stress klo baca yg belibet malah tambah stress jadinya ;)

    • hahaha… aku emang gak suka yg berat2 Eon. Puyeng sendiri mikirnya. Jadi biar enak, pake yg ringan2 ajah… yg nulis enak, yg baca juga enak hehehe

  14. ya.. ya.. itu Mr. Hong yang gantengnya ngalahin Song SeungHoon ngapain ganggu- ganggu aja!!!??? kkk
    as always so sweet,, everything about this little family is soooo sweet hohoho..
    ssaeng-i.. ga gaje kok.. yang ada akunya pengen baca kisah- kisah mereka selanjutnya.. (dari moment kemaren kayanya si Hae bikin masalah mulu ya -.-)

    • heeeeee~~
      Gomawoo Eon! udah setia nungguin kisah (?) kami #eaaaahh

  15. Oooohh ini yg kamu bilang mw ngebahas yg diucapin ryeowook ama 성민 di sukira..
    Hahaha mr. Hong kembali menjadi pengganggu di mata donge,,

    Ishishish,, makanya bang jangan suka megang megang ahh ntar jadi rusak.. #plak *ditabok donge..

    Cerita lainnya ditunggu yaa..^^

    • iyah… begitulah ^^

  16. Tangan minus? Hihi.
    Donghae emang perusak apapun ya!
    Endingnya lucu.. Mr.Hong muncul lagi~

  17. agak teLat bacanya..
    sprti biasa kalo aku baca FF mu hee..senyum2 gaje githu… Luchu pas hee marah2 gara2 notebook‘y rusak͵Ckkk.. aura marahnya smpe kesini Lhoo.. guemezzz dehhh^^

    Hae… coba tangan ajaibnya di jaga baik2 yahhh!!!!

    • hiihihih… syukurlah klo emang bisa menghiburmu Eon ^^

  18. hoakakkkkkk leeeee.. masa iya bau pancake disamain kek kentut donge?? hoakakkkk ogah banget makannya!!!
    tapi kasian nii si donge dibego2in mulu.. hoakakkkk.. emang harus kan orangtua ngajak ngomong anaknya (emang kek orang gila sih jadinya ngomong ndiri) tp pan supaya anaknya bisa cepet ngomong… pinter itu sebenernya si hae!! hahaaa

    trus, itu folder nama Donghae tapi isinya foto nemo?? hoakakkkkkk gemblung si lee mah.. ngapain jg nyimpenin foto ikan beneran *kirim foto tulang ikan

    dan tangannya hae ituhhhh ajebbbbbbbbbbbb banget!!! *tebar bawang di sekeliling rumah biar hae g bisa masuk

    lahhhh tp itu endingnya napa gantung gitu?? napa jadi kamu pegi ama si hong?? ke mana?? ngapain?? btw, lagi naksir song seunghun kah?? ehemmmm

    miannnn yak ru sempet ngomen.. bacanya maren padahal, trus sempet mati lampu, gedek sendiri aku jadinya udh setengah nulis ilang, baru inih kutulis ulang.. sampe ku tulis di notepad dulu takut ilang :p

    • pancake gosong Song, bukan bau pancakenya. hahahahah
      eh, iyaya? haha… authornya yg babbo berarti :p

      Hoakakakkkkkk…. pan itu aslinya ada cuma ikannya aja yg gak tau ada di mana tuh folder dianya *ngeles*

      Waduh… jangaaaaaaaaaaan!!!!! klo Hae gak bisa masuk aku kedinginan donk. #ehh

      Sengaja emang… aku suka yg gantung2 :p

  19. Wakakakakakakakakakkkkkk…….. hae kau emang menggemaskan(?) *cubit2*
    itukah tuang hong ?????? tampaaaaa juga bolehlah jd saingan hae :D

  20. Kocaak.. tapi tetep sweet ah moment moment mereka :):) hae kocak deh,susah diungkapkan lah.. pokoknya top nih ff

    ditunggu moment2 mereka yg lainnya…

  21. kya!!!!

    aq malah suka sama mr.hong nya

  22. baca dulu ne author ^^

  23. nyahahahah…kasian hae…si tangan minus..nahhhyaaaaa…bakalan ada perang nih sepertimya..hogogo
    penasaran gimana hae jaga si kembar wkwkkw…

  24. itu foto yg terakhir ada mr hong wuaa cakep bener :)
    mereka berdua bikin ngakak, suami istri yg bikin iri, walaupun hae oppa lebih manja sma istri’a . . .

  25. unnieeee aku suka posternya kekeke
    kalo fanficnya jangan ditanya, pasti suka

    awal baca aja udah senyum-senyum sendiri ih, manisss banget
    cara Donghae nyapa Eunhee terus skin shipnya aaaa mauu ><
    mumpung anaknya masih pada bayi ya shin ship'an mulu, ntar kalo udah gede ga bisa terang-terangan gitu dong :D
    Haejin jahil ya demen banget ngerjain appanya, Donghaenya juga koplak banget jadi appa :D
    "tangan minus" haha kocak banget poor Donghae, ngerusak apapun gara-gara tangannya

    eh eh jadi ini ya tampangnya Mr.Hong, waaah cakep banget dapat saingan baru tuh Donghae

    • hahaha… demen dah klo masalah skinship yah? :3
      Iyaps, tampan yah ^^

  26. benar2 trouble maker..ckck -_-

  27. tangannya sensitif kali ya.ckckck

  28. Rasakan itu le donghaeee hahaha waduh gmn gk cemburu mr hong nya tampan bgtu wkwk lee eunhee fighting kkk daebakkk

  29. ualaaaah pantesan ajah donge kek kebakaran jnggot pas denger mr. hong wong tampan syekaleeeh kkk~
    kyaa ada misuakuuu ryeonggu^^ tp knp bonekanya di ksh nama ryeowook -_-
    kesian donge udh badan pada pegel abis show eh di suruh tidr di luar *peluk hae.

  30. wahh , eunhee marah gara2 donghae buka2 note
    book’a .
    kira2 eunhee bakalan balas dendam lewat Mr. Hong gk yah ??

  31. Hahaha…emang tangan donghae minus banget…barang yg dipegangnya rusak…kecuali barang*nya ndri…kekeke..
    Ketwa baca ini…
    Gomawo…

  32. wkwk…..kehidupan keluarga yg lucu, Hae ga modal bgt ngasih boneka tp minta sama Wook…hah terus kadar narsisnya itu diatas rata2..

  33. Aigoo … Jadi itu Mr.Hong … Pantas saja setiap kali eunhee nyebut mananya donghae oppa langsung kaya kebakar gitu … Kekekeke … xD

  34. eunhae moment series ini keren banget sumpah makin kesini donghae makin kekanakan ga salah deh kalo eunhee bilang dia ga bisa bedain mana anak, mana bapaknya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 333 other followers

%d bloggers like this: